Hai. Namaku Lee Jihoon. Umur 23 tahun. Disini aku ingin membagi kisahku pada kalian yang membaca ini. Ku harap kalian sudi membacanya sampai selesai.
Kisahku ini berawal dari delapan tahun silam. Tepatnya saat aku berusia 15 tahun. Malam itu aku di rumah sendirian. Ayah dan ibuku pergi ke luar kota sedangkan kakakku pergi ke rumah temannya. Seperti malam-malam sebelumnya, suasana rumah masih biasa saja. Akupun tidak merasakan sesuatu yang mencurigakan saat sedang menonton ataupun makan malam sendirian.
Namun, ketika tepat jam 10.10 malam, aku yang berencana begadang--maraton drama--, tiba-tiba merasakan hawa yang tidak biasa. Seperti ada yang sedang memperhatikanku, tapi mustahil sebab hanya ada aku di rumah ini. Akupun hanya mengendikkan bahu, tidak peduli.
Satu jam berlalu, dan aku masih merasakannya walaupun sudah berusaha mengabaikannya. Namun, kali ini sepertinya aku tidak bisa lagi untuk mengabaikannya sebab kini aku merasakan seperti ada orang yang memelukku dari belakang. Aku mencoba tenang, seolah-olah tidak merasakan apa-apa. Padahal saat itu aku merasakan sensasi dingin yang menyentuh leher dan tengkuk ku.
Sedari kecil aku memang sudah tertarik dengan hal-hal yang tak kasat mata, bahkan pernah berpikir untuk membuka mata batinku, tapi tidak pernah tersampai. Maka dari itu, aku bersikap biasa saja karena memang aku tidak merasa takut. Hanya suasananya saja yang membuatku tidak nyaman.
Karena sudah tidak tahan akan rasa penasaran yang sudah satu jam lalu kupendam, aku memberanikan diri untuk mengungkapkannya.
"Siapa kau?"
Tanyaku dengan nada tenang. Karena jika aku gugup, 'makhluk itu' akan merasa senang dan semakin menggangguku. Aku menunggu beberapa detik, tidak ada jawaban. Dan tak lama kemudian, suasana kembali normal serta tidak ada lagi yang memeluk dan menciumi leherku. Benar kan kataku? Jika kau tenang, 'dia' tidak akan menggangumu.
Dan karena situasi yang sudah tidak memungkinkan untuk begadang, akupun merebahkan tubuhku untuk tidur.
Ghost
Keesokan harinya, aku terbangun dengan leher yang kaku dan punggung yang terasa pegal. Mungkin saat tidur aku salah posisi, pikirku waktu itu. Tapi saat ingin mandi, aku melihat pantulan tubuhku di cermin. Dan seketika aku terpaku, di sekitar leherku, terdapat seperti ruam yang bewarna merah. Walaupun saat itu aku masih berusia 15 tahun, tapi aku sudah sangat tau apa nama ruam di leherku. Kissmark.
Dan aku mencoba tak ambil pusing untuk itu. Sebab tadi malam aku sudah menduganya. Sensasi dingin di leher dan tengkukku tadi malam pasti bibir dari 'dia' yang membuat tanda ini. Huft, terpaksa hari itu aku harus memakai baju turtle neck. Padahal langit sedang cerah.
Keputusanku untuk menanyainya kemarin malam ternyata salah besar. Sebab malam itu, 'dia' menunjukkan wujud aslinya. Tertanggal 17, hari jumat, aku masih mengingatnya dengan baik.
Dan seperti kemarin, suasana di kamarku seketika berubah tepat jam 10.10 malam. Dan saat itulah untuk pertama kalinya aku menyesal pernah ingin membuka mata batinku. Apa kalian tau? Wujudnya sungguh membuatku ingin mengeluarkan isi perutku saat itu.
Aku tidak begitu ingat bagaimana ekspresi wajahku ketika melihatnya saat itu, aku hanya ingat jika aku sangat mual. Dan selang beberapa detik, 'dia' menghilang. Mungkin tersinggung dengan ekspresiku saat melihatnya, entahlah. Aku tidak peduli dan cepat-cepat menggulung tubuhku dengan selimut untuk tidur. Mencoba melupakan apa yang malam itu aku lihat.
Malam selanjutnya, aku tidur lebih awal sebab tubuhku sangat lelah. Dan entah pada pukul berapa, aku terbangun karena dekapan hangat. Sebelum membuka mata, aku terdiam terlebih dahulu. 'Siapa?'. Tidak mungkin kakakku atau orangtuaku sebab lengan kekar yang mendekapku ini bukanlah milik ayahku ataupun kakakku.
'Apa mungkin dia? Tapi bukankah seharusnya terasa dingin?' aku masih berdebat dengan hatiku. Dan akhirnya kuputuskan untuk membuka mata, jika memang benar 'dia' dan wujud aslinya, aku akan berteriak agar dia pergi.
Perlahan aku membuka mataku, dan yang pertama kali kulihat adalah dada seorang pria yang sangat bidang. Seketika aku panik sebab 'dia' memiliki dada yang berlubang--seperti tertembak. Jika bukan 'dia' lalu siapa yang memelukku?. Kuberanikan diriku untuk mendongak. Dan netraku langsung bersitatap dengan mata minimalis yang juga sedang menatapku. Seketika rasa panik ku menguap.
Jujur, saat itu aku tidak bisa membuka mulutku untuk bertanya. Sebab yang sedang kulihat saat itu adalah wajah pria yang sangat tampan. Aku pria dan aku mengakui jika pria ini sangat tampan. Dia mempunyai alis tegas, mata sipit sangat seksi ketika menatapku, pipi yang tembam, dan bibir semi tebal yang menggoda. Ugh, astaga Lee Jihoon, apa yang kau pikirkan?
Aku mengerjapkan mataku cepat. Sebab situasinya sangat membingungkan. Aku ingin berontak melepaskan dekapan hangat itu tapi tubuhku tidak sejalan dengan otakku. Ingin mengeluarkan suara untuk bertanya pun tak sanggup apalagi berteriak, ugh. Ada apa ini sebenarnya? Aku hanya diam mematung memandangi wajah itu entah berapa lama, sampai tidak sadar keesokan harinya aku sudah terbangun dengan bibir yang bengkak.
Sial, aku bahkan harus menahan malu saat teman-teman menggodaku, berkata bahwa semalam aku berciuman panas dengan seseorang hingga membengkak keesokan harinya. Ciuman pantatku, aku bahkan tidak merasakan apa-apa malam itu. Eh? Tidak. Tidak. Aku tidak berharap, oke? Aku hanya mengungkapkan apa yang kurasakan saat itu.
Ghost
Apa kalian sudah bosan? Hei, aku bahkan baru menulis awal mulanya saja, belum malam selanjutnya hingga terhitung delapan tahun lamanya.
Baiklah, karena kalian sudah bosan, aku akan melanjutkan ceritaku. Tapi hanya kejadian yang menurutku paling berkesan saja. Jika kalian tidak mau melanjutkan membacanya, tak apa, kalian tinggal menekan tombol back dan mencari cerita yang lebih menarik.
Sudah tiga tahun lamanya sejak malam itu, dan aku sudah sangat terbiasa dengan kehadiran dirinya. Dia akan datang tepat pukul 10.10 malam, seperti biasa. Kadang berwujud asli, kadang berwujud pria tampan, yang sudah kuketahui bahwa wajah tampannya itu adalah wajahnya saat masih hidup dan wujud aslinya adalah keadaan saat dia meninggal.
Aku pernah bertanya di suatu malam, bagaimana bisa dia semengerikan itu, tapi dia tidak mau menjawab, hanya diam lalu mengalihkan pembicaraan. Aku tahu, dia tidak mau berbagi kisahnya, dan aku menghargainya. Akupun tak ambil pusing dan tetap melanjutkan obrolan sampai kantuk menyerangku.
Dan terbangun dengan keadaan tubuh yang tak sama seperti semalam. Yah, aku juga sudah tau jika dia sangat suka menjamah tubuhku ketika aku tidur. Seperti memberi kissmark, mencium bibirku, atau mendekapku semalaman. Dia mengakuinya sendiri. Dan aku tak masalah, jika masih dalam hal wajar.
Dan karena sudah sangat terbiasa, akupun tidak risih jika dia menciumku, memelukku, bahkan menyentuhku. Aku menjadi sering begadang untuk mengobrol atau saling menyentuh dengannya. Awalnya aku tidak percaya, tapi lambat laun, aku memang bisa menyentuhnya. Hal yang mustahil memang, mengingat dia yang hanya jiwa, sedangkan diriku adalah raga dan jiwa. Tapi lagi-lagi aku tak ambil pusing dan tetap menikmati waktu kita berdua.
Bahkan sampai detik ini, saat aku menulis cerita pendek ini, dia masih bersamaku. Dia sekarang memelukku dari belakang dan menumpukan dagunya di bahuku, sesekali mengecup leherku.
Hoaammm, mataku sudah memberat. Sampai disini dulu aku bercerita. Mungkin akan ku lanjutkan di waktu yang akan datang. Terimakasih sudah membaca.
"Soonyoung... Aku sudah mengantuk, peluk aku sampai tidur ya"
Ujarku pada pria tampan di sampingku ini yang hanya bisa kulihat sendiri.
End
Oxa's note:
Ini terinspirasi dari kisah nyataku yang lalu kukembangin loh pemirsa. Banyak ngayalnya sih sbenernya hehe :")
(Oxa¥11.03.18)
Omake
Setelah memastikan Jihoon terlelap, perawat ber name tag Jeon Wonwoo itupun mengunci pintu ruang pengawas lalu melangkah keluar dari gedung tinggi yang berlabel RUMAH SAKIT JIWA DIAMOND untuk pulang ke rumahnya.
