Disclaimer : TADATOSHI FUJIMAKI

Autor : Yuukikiraina (hanya meminjam character Kuroko No Basuke)

Genre : Drama/Hurt/Comfort dengan sedikit humor

Rated : T semi M

Pairing : [Akashi Seijuurou x Momoi Satsuki]

Warning : typo, alur cepat,AU OC, OOC, RnR, dll

Happy Reading…..

"Akashi-Kun aku minta maaf karena aku merepotkanmu dan menyusahkanmu" Lanjutnya dengan tetap terisak.

"hn, tidak mengapa. Apakah kepalamu pusing Momoi? Kenapa kau menangis? Ataukah lukamu terasa sakit sekali?" sedikit kekhawatiran cukup jelas terlihat dari wajahnya. Sedangkan sang gadis hanya menggelengkan kepala yang menunduk menatap lantai ruang kesehatan itu. Hanya terdengar isakan di rungan itu dan sang pria berambut merah hanya bisa mematung dan menunggu gadis itu berhenti menangis.

Akashi POV

"Hiks.. hiks… hiks..." suara itu membuatku bingung harus berbuat apa. Ingin rasanya aku memeluknya untuk menenangkannya tapi aku terlalu takut berbuat sejauh itu. Satsuki hanya mencintai Tetsuya dan aku tak mau karena tindakan cerobohku Satsuki malah menjauhiku. Dekat dengannya sebagai teman saja sudah cukupmembuatku bahagia.

"Akashi-kun… Aku ingin pulang"

Satsuki ingin pulang.

"Aku akan mengantarkanmu, tunggu sebentar aku akan membawa tasku dan barangku terlebih dahulu"

Aku melihatnya mangangguk dan tanpa menunggu lama lagi aku segera keluar dari ruangan itu untuk mengambil semua barangku.

Sepanjang jalan aku memikirkan apa yang menyebabkan Satsuki menangis, apakah dia terlalu pusing karena demamnya atau dia terkejut karena jersey yang dia pakai adalah punyaku dan dia malu karena aku yang makaikannya?

Aku terlalu pusing dengan berbagai spekulasi yang belum tentu benar. Yang jelas jika dia menangis karena aku melihat tubuhnya aku akan sedikit berbohong yang makaikan pakaian itu bukan aku.

Wanita memang manusia terumit yang tak pernah bisa aku membaca pikirannya dan masa depannya.

Dengan segera aku kembali ke ruangan itu setelah mengantongi buku novel yang minggu-minggu ini ku baca dan mengantongi buku diary tempatku mencurahkan keluh kesah dan suka cita keseharian yang telah kulewatkan.

Aku pun tak lupa membawa mantel yang tadi pagi aku pakai.

Aku sedikit berlari agar Satsuki tidak menunggunya lama. Aku melihatnya melamun dengan memegang dada kirinya. Pandangannya sayu.

"Momoi ayo aku antar kau pulang"

Sepertinya perkataanku sukses membangunkannya dari lamunannya dan dia mengangguk setuju.

End Akashi POV

Akashi membantu momoi membereskan baju basah dan celanannya yang juga basah. Momoi memandang Akashi yang sedang memasukan baju basah momoi kedalam tas Akashi. Akashi salah tingkah ketika dia sadar sedang membereskan baju Momoi yang basah.

"ah, ja-jangan salah sangka Momoi yang mengganti bajumu tadi adalah …. Ak..a-adik kelas yang tak sengaja lewat yang kumintai tolong" wajah Akashi sudah semerah rambutnya. Dalam hatinya merutuki kegagapannya dan keharusannya berbohong pada Momoi.

Momoi hanya tersenyum getir namun Akashi mengartikan senyum itu sama seperti senyum biasa yang mengartikan 'ya aku mengerti'.

Setelah semua beres, Akashi pun membantu Momoi turun dari tempat tidur. "naiklah ke punggungku Momoi" Akashi berjongkok memunggungi Momoi. Perintah Akashi itu Mutlak, seperti biasa Momoi tidak bisa menolak dan hanya menuruti perintah Akashi. Kondisi pun sedang memojokannya karena kakinya memang terluka dan tak mampu berjalan sampai ke rumahnya. Momoi pun menerima perintah Akashi.

Sesaat setelah Momoi menaiki punggung Akashi, Akashi merasakan benda lembut menekan punggungnya. Akashi merutuki dirinya yang seorang lelaki normal, pikiran liarnya mulai muncul di otaknya. Akashi menggeleng-gelengkan kepalanya untuk menghilangkan pikiran liarnya. Pikiran liar itu pun hilang berkat bantuan angina dingin yang melewati mereka. "Momoi pakai mantel ini" Akashi menyerahkan mantelnya pada Momoi agar Momoi merasa lebih hangat di cuaca yang dingin ini.

"Tapi Akashi-kun itu mantelmu dan kau pasti akan kedingan dengan menggunakan pakasian baseket itu" Momoi memberikan penolakan. Namun setelah Akashi meliriknya kebelakang Momoi menurutinya dan mengambil mantel itu dan mengenakannya.

Mereka menelusuri lorong sekolah yang sepi, hanya derap langkah kaki Akashi memecah keheningan sepanjang lorong. "Momoi maaf aku tidak membawa mobil atau pun motor, rumahmu juga tidak sejauh rumahku"

"Ya Akashi-kun semua terserah padamu, karena perkataanmu itu mutlak"Momoi sedikit mengejek kapten basket sekolahnya itu.

Akashi sedikit mendecih tapi selang beberapa detik Momoi tertawa, Akashi yang tak terlihat wajahnya oleh Momoi di gendongannya pun tersenyum mendengarkan Momoi sudah dapat tertawa kembali.

Udara di luar lebih menusuk dan Momoi secara naluriah mencari kehangatan lebih dengan mengeratkan tubuhnya di gendongan Akashi. Tangannya yang tadinya hanya memegang pundak Akashi pun berpindah menjadi memeluk leher Akashi, kepalanya di sandarkan di pundak sebelah kanannya sehingga nafas hangat Momoi terasa di sekitar telinga Akashi. Akashi sedikit kaget dengan perlakuan Momoi.

"Akashi-kun udaranya dingin, dan aku jadi mengantuk. Jadi aku ingin tidur, bangunkan aku setelah sampai di depan rumahku" Momoi sedikit jahil dengan memerintah pada Akashi. Momoi berharap di balas dengan nada sedikit marahnya agar suasana hening di antaranya menjadi hangat seperti tubuhnya yang sudah mendapatkan kehangatan lebih. Namun Akashi tidak menanggapi candaan Momoi. Momoi yang benar-benar tidak ditanggapi memilih untuk menutup mulutnya dan mencoba benar-benar tertidur di gendongan Akashi.

000

Di kediaman Momoi tepatnya di depan pintu rumah Keluarga Momoi seorang pemuda tampan berambut merah yang sedang menggendong seorang gadis cantik berambut peach terlihat sedang menekan berulang kali bell rumah itu, bell yang terletak di sisi pintu rumah itu.

Gadis berambut peach yang berada dalam gendongan pemuda itu masih tertidur dengan pulas bahkan sampai mengigau 'Tetsu-kun, emm Testu' hingga terdengar oleh pemuda yang menggendongnya.

Cukup lama pemuda itu mencoba menekan bell dan menunggu seseorang yang akan membukakan pintu rumah tersebut. Di rasanya tidak ada seorang pun dalam rumah tersebut. Pemuda berambut merah itu mencoba membangunkan gadis dalam gendongannya.

"Momoi…Momoi…bangun!" dengan sebelah tangannya pemuda berambut merah itu mencoba menentuh atau menepuk-tepuk kepala gadis yang di topang pundak pemuda itu.

Momoi merasa ada yang menepuk kepalanya pun mencoba membuka matanya, "Huaaahh" mulutnya terbuka lebar karena menguap. Momoi mengucek-ngucek matanya dan betapa kagetnya dia menguap di pundak Akashi dengan Akashi yang membulatkan matanya tidak percaya gadis yang ada di gendongannya menguap lebar seperti kudanil.

"Ehehe" Momoi tertawa canggung karena malu telah menguap lebar di depan mata Akashi. "Kita sudah sampai ya, hehe" Momoi malu karena benar tertidur pulas sampai tiba di depan rumahnya dengan tersenyum lebar sampai memamerkan deretan gigi putih nan rapih.

"Sudah dari 15 menit yang lalu, rumahmu sepi" Jawab Akashi dengan meluruskan kepalanya menghindari terlihatnya seburat warna merah di pipi ketika melihat senyum lebar Momoi.

"Orang tuaku memang sedang tidak di rumah untuk 3 hari kedepan, ah ini kuncinya" Momoi menyerahkan kunci rumahnya agar Akashi membuka pintu rumahnya. Akashi pun menerima kunci itu dan membuka pintu rumah Momoi. "Ayo masuk Akashi-kun" Akashi yang masih menggendong Momoi di punggungnya pun melangkahkan kaki memasuki rumah.

Saat akan menurunkan Momoi di atas kursi tiba-tiba terdengar suara aneh "Kruyuk…kruyuk…" Akashi mengernyitkan dahinya ketika mendengarkan bunyi aneh itu, sedangkan Momoi membelakan matanya.

"Suara apa itu Momoi?" Akashi mendudukan Momoi di kursi sedangkan dirinya berdiri di depan Momoi meminta jawaban yang terlintas di pikiran Akashi. 'Bunyi perut keroncongan' pikir si jenius Akashi.

Momoi memamerkan giginya yang putih dan rapih itu "Hehe, aku lapar Akashi-kun itu bunyi perutku" Namun Akashi semakin mengernyitkan dahinya seakan bertanya 'Kau belum sarapan?'

Momoi menundukan kepalanya "Ano, aku dari pagi belum sarapan karena masakanku gagal, hehe" tawanya canggung karena malu dia tidak pernah berhasil memasak sebuah makanan bahkan menggoreng saja malah mebuat apa yang di gorengnya hangus dan membuat kepulan asap di dapurnya.

Seakan mengerti Akashi pun menganggukan kepalanya "oh jadi begitu. Momoi apakah masih ada bahan makanan di dapurmu?"

"A-Ada Akashi-kun, ada beberapa sayuran dan daging di kulkas" Momoi masih canggung dan meerasa heran kenapa Akashi menanyakan bahan makanan di rumahnya.

"Bisa tunjukan jalan ke dapur? Mungkin aku bisa membuat beberapa makanan agar kau tidak kelaparan seperti itu Momoi" Momoi pun mengangguk. Akashi pun berjongkok memunggungi Momoi "Ayo naik!"perintahnya pada Momoi agar kembali di gendongnya.

"Tidak, Aku bisa berjalan sendiri"Akashi dan Momoi pun berjalan menuju dapur rumah Momoi. Momoi berjalan dengan sedikit tertatih-tatih karena luka di lututnya masih terasa perih.

"Apa kau tidak mengapa jika setelahku buatkan makanan aku segera pulang?" tanya Akashi memecah keheningan di antara mereka.

"Tidak mengapa, Dai-Chan sudah dimintai tolong oleh orang tuaku untuk menemaniku selama mereka tidak di rumah" jawab Momoi.

Akashi pun mulai memasak makanan, tanganya begitu terampil membuat sebuah karya yang sangat lezat. Hingga beberapa piring dengan berbagai menu tersaji di meja makan yang membuat Momoi tercengang sekaligus meneteskan air liur karena begitu harum bau masakan Akashi terlebih lagi tampilan makanannya sangat menggugah selera.

"Sugoi, Akashi-kun memang pandai di berbagai bidang" Puji Momoi kepada Akashi yang telah beres menghidangkan makanan yang begitu luar biasa. Tanpa menunggu waktu lagi Momoi mulai menyantap makanan yang tersaji dengan rakus. Semua hidangan tandas, berpindah ke perut Momoi. Akashi pun mulai membereskan piring di meja makan untuk di cuci. Momoi mengelus-ngelus perutnya yang terasa sangat penuh dengan makanan.

"Satsuki… Oi Satsuki kau ada di mana?" Suara seorang lelaki terdengar memenuhi seluruh ruangan di rumah Momoi.

Momoi yang mengetahui siapa yang memanggil-manggil namanya dengan bertriak-triak dan memasuki rumahnya tanpa menekan bell atau pun mengetuk pintu. "Dapur… Di Dapur Dai-chan" Momoi berteriak memberitahukan keberadaanya pada teman atau sahabat masa kecilnya.

Seorang laki-laki berkulit tan dengan rambut dark blue tiba-tiba muncul di dapur. Betapa terkejutnya lelaki itu ketika memandangi seseorang yang sedang mencuci piring.

"Satsuki apa aku masih bermimpi? Aku melihat Akashi mencuci piring, dia seperti pembantu di rumahku saja" Lelaki berkulit tan itu berusaha meyakinkan dirinya bahwa yang di lihatnya hanya mimpi belaka pada sang sahabat.

Seseorang yang di samakan dengan pembantu itu menghentikan sesaat kegiatan mencuci piringnya. Matanya berkedut dengan kerutan di dahinya, pandangannya menajam pada bak cuci piring.

Momoi yang menyadari situasi mencekam pun langsung menyadarkan sahabat kecilnya itu "Dai-Chan tutup mulutmu jangan bicara sembarangan. I-itu A-a-Akashi-Kun" Momoi tergagap karena suasan dalam dapur itu seperti neraka yang kapan pun bisa membakarnya.

Aomine membelakan matanya, dengan susah payah Aomine menelan ludahnya. Keringat mulai membasahi dahinya bahkan keringat itu mulai berjatuhan melewati pelipisnya.

"Daiki" kata-kata itu keluar dari mulut Akashi yang sedang menyelesaikan lagi mencuci piring. "Momoi apa kau memiliki gunting?" Akashi menatap tajam Aomine. Sedangkan yang di tatap, tubuhnya sudah gemetaran dengan keringat membanjiri seluruh tubuhnya.

'Tamat sudah riwayatku sekarang' Aomine merutuki kesalahannya.

"Aku lupa menyimpannya di mana, Untuk apa gunting itu?" Momoi mencoba menjauhkan malapetaka yang akan menghampiri lelaki berkulit tan yang wajahnya sudah memucat.

"Untuk membersihkannya" hening sesaat ketika Akashi menjawabnya. Aomine semakin pucat dan sudah pasrah untuk akhir hidupnya di tangan Akashi "Untuk membuka sabun pencuci tangan, akan lebih rapi membukanya dengan gunting" Akashi melanjutkan jawabannya yang ambigu.

Aomine menghela nafas panjang, bersyukur ternyata gunting itu bukan untuk mencabik-cabiknaya. Tak beberapa lama kemudian Akashi pun selesai dengan kegiatan mencuci piring dan tangannya telah bersih. Akashi mulai merjalan mendekati Aomine yang masih mematung dengan sisa-sisa ketakutannya.

"Besok hukuman menanti, pastikan tubuhmu tahan banting!" Akashi memperingatkan pada Aomine ketika berpapasan langsung dengannya. "Ah Momoi sepertinya sekarang aku sudah bisa pulang" mereka semua keluar dari dapur kecuali Aomine yang masih mencerna kata demi kata yang tadi terucap dari mulut Akashi. Tidak lama teriakan terdengar di dalam dapur Momoi.

"TIDAK"

Di ruang tamu rumah Momoi, Momoi mengekori Akashi "Ah Momoi ini bajumu, kalau begitu aku pamit pulang" Akashi mengeluarkan baju Momoi dari tasnya, di letakan baju basah itu di meja ruang tamu. Akashi melangkahkan kakinya keluar dari rumah Momoi. Momoi mengantarkan Akashi sampai gerbang rumahnya.

"Arigato Akashi-kun sudah mengantarkanku dan membuatkan aku makanan yang lezat" Momoi membungkukan tubuhnya berterimakasih pada Akashi.

"Hn, aku pulang dulu" Akashi berjalan menjauhi rumah Momoi dan Momoi melambaikan langannya hingga punggug Akashi hilang di belokan itu.

Momoi pun memasuki rumahnya dengan kaki yang sedikit diseret karena lukanya masih terasa sakit. Sesampainya di ruang tamu Momoi mengambil baju basahnya. Dirasakan ada benda keras di lipatan baju basah yang setengah mengering, baju itu hanya terasa dingin di tangan. Penasaran dengan benda kaku dank eras si belik bajunya ada sebuah buku kecil sekilas seperti SketchBook besampul coklat tua bergambar sebuah dahan pohon yang mongering berwarna hitam. Tertulis sebuah nama di pojok kanan atas 'Akashi Seijuro' menandakan buku itu milik Akashi. Momoi yang penasaran dengan isinya pun mulai membuka buku itu. Momoi membelakan matanya.

"T-ti-tidak mungkin Ak-Akashi-kun" Momoi menggelengkan kepala menepis semua pemikirannya ketika melihat sebuah lukisan dari pensil di halaman pertama buku itu.

TBC

Maaf readers Fanfic PMWY baru update sekarang, yuuki masih sibuk dengan kehidupan nyata. Tapi yuuki selalu usahakan untuk menulis kelanjutannya biar fanfic ini selalu update. Mohon reader review fanfic ini agar yuuki memiliki semangat lebih untuk menulis fanfic ini. Terimakasih.

Balas Review

Ruihan : Iya ni main pair akamomo, Sei-kun pemeran utama hehe. Terimakasih atas pujiannya, semoga ceritanya beneran keren dan tidak membuat bosan. Maaf baru update lagi. Keep reading, Ruihan-san

Hasubatsu : iya main pair akamomo. Maaf baru update lagi. Keep reading, Hasubatsu-san

Kenji Law : wah makasih atas pujiannya, maaf bang kenji sepertinya tetep di rate T, yuuki belajar menulis tanpa bahasa kasar dan tanpa lime. Tapi T+ berate masih di baca sama remaja seumuran yuuki. Maaf baru update lagi. Keep reading, bang kenji

Yukineee : wah namanya samaan hehe, iya ini lanjut. Maaf baru update lagi. Keep reading, yukineee-san

Sorana Yuki : yuuki panggil Sorana-san saja ya namanya sama hehe. Iya ini baru lanjut. Maaf baru update lagi. Keep reading, Sorana-san

SEE YOU NEXT CHAPTERS