Orange's Caramel Presents My Lady, Hinata

.

.

Warning : AU, Typo, OOC, Dan masih banyak lainnya.

.

.

Fict ini dibuat hanya untuk kesenangan pribadi dan tidak lebih.

.

.

Semua Character pinjam sama Om Masashi.

.

.

Don't Like, Don't Read.

.

.

Pagi ini Hinata terbangun dengan badan yang cukup segar tetapi, dia merasa ada sesuatu yang aneh. Pikirannya kembali kepada saat kemarin malam dimana saat dirinya ingin mandi dan tiba-tiba lampu dalam kamar mandi mati lalu semuanya menjadi gelap. Ya, Hinata ingat. Seharusnya sekarang dia masih berada di dalam kamar mandi atau ada yang menolongnya? Tetapi Siapa?

Hinata juga melihat pakaiannya telah berganti dengan piyama, seharusnya dia masih memakai pakaian dalam. Hinata mencoba berpikir lagi, siapa yang menolongnya kemarin malam. Tetapi Hinata tetap tidak dapat mengingatnya.

Saat Hinata hendak turun dari ranjang, tiba-tiba matanya melotot karena melihat ada seorang pria ikut tidur di lantai kamarnya. Hinata mengambil bantal diam-diam dan begitu ingin melemparnya. Dia menyadari sesuatu. Dia mengenali pria ini? Rambut ini?

'Kenapa dia berani-beraninya tidur disini? Dia sudah siap mati rupanya.' Rutuk Hinata dalam hati.

"Hei.. Bangun pelayan malas.." Hinata menendang kaki Sasuke.

"Ngg… 10 menit lagi.." Ucap Sasuke kemudian berganti posisi.

"Bagus sekali ya.." Ucap Hinata disertai senyuman.

"BANGUN SEKARANG ATAU AKU AKAN MEMBUNUHMU PELAYAN BODOH..!" Teriak Hinata di telinga Sasuke.

Sasuke segera terduduk dan memegang telinganya yang terasa sakit dan mendengung akibat teriakan Hinata.

"Berisik sekali… Kamu tidak tahu aku sedang tidur?" Ujar Sasuke kesal.

"Tidur? Kamu sadar tidur dimana, hah..?!" Hinata terlihat sangat kesal.

"Ya, Tentu saja.. Ini kamar Hinata-Sama.." Jawab Sasuke polos.

"Kenapa kamu bisa tidur disini, hah..?!"

"Hinata-Sama sendiri yang memintaku untuk menemanimu tidur." Sasuke menguap karena masih mengantuk.

"A-Apa? A-Aku? Kenapa bisa?" Tanya Hinata tidak percaya.

"Semalam aku menolongmu dari dalam kamar mandi dan saat aku ingin keluar dari kamar, Hi-"

"Tu-Tunggu.. Menolong?" Hinata berkeringat dingin.

Sasuke hanya menganggukan kepalanya dan kembali menguap. Dia benar-benar lelah. Setidaknya dia masih memiliki waktu satu jam untuk jatah tidur.

"Ka-Kamar mandi, menolong, ja-jadi... Kamu melihat aku telanjang da-dan kamu yang memakaikan piyama ini?" Hinata menjambak rambutnya sendiri dan menatap horror Sasuke.

Sasuke hanya mengangguk lagi.

Tubuh Hinata terasa sangat lemas, kini dia jatuh terduduk dihadapan Sasuke dan mulai menangis. "Aku telah ternoda olehmu.. hiks.."

"Tenanglah.. Aku tidak berbuat macam-macam kepadamu." Sasuke menjadi merasa bersalah juga.

"Te-Tenang katamu? Kamu telah melihatku telanjang dan dan.." Hinata merasa tidak sanggup untuk melanjutkan kata-katanya.

"Sudah kubilang, aku tidak melakukan hal yang membuatmu dapat ternoda. Aku masih tahu diri sebagai seorang pelayan dan aku tidak tertarik akan tubuhmu." Ucap Sasuke memalingkan wajahnya menutupi wajahnya yang sedikit merah.

Sasuke terpaksa harus berbohong mengenai 'tidak tertarik akan tubuh Hinata'.

"Keluar." Ucap Hinata pelan.

"Hei.. Kamu mendengarkan ucapanku kan?" Sungguh Sasuke masih membutuhkan pekerjaan ini.

"Ku bilang keluar….!" Kali ini suara Hinata meninggi.

Sasuke menghela nafasnya dan berdiri.

"Maaf Hinata-Sama." Sasuke pun melangkah keluar.

Sebelum benar menutup pintu, Sasuke kembali melihat Hinata yang memungguginya. Dia tahu Hinata menangis.

'Arghh.. Seharusnya aku tidak menemaninya semalam.' Sasuke benar-benar menyesal.

.

.

.

Sasuke kini telah rapi dengan seragamnya. Dia menjambak rambutnya kasar. Dirinya berpikir mungkin sebentar lagi akan meninggalkan kediaman Hyuuga dan segala fasilitas mewah yang tidak mungkin dia dapatkan sebelumnya. Mungkin dia harus kembali menyewa rumah susun bobrok saat sebelum pindah ke kediaman Hyuuga.

Tok.. Tok.. Tok..

"Heii pelayan bodoh.. Cepat keluar dan antarkan aku ke suatu tempat." Hinata berdiri di depan pintu kamar Sasuke.

Sasuke menelan ludahnya dan berpikir mungkin dia akan segera dibunuh dan tidak perlu menyewa kembali rumah susun bobrok itu.

Sasuke segera membuka pintu dan menemukan Hinata berdiri memandangnya.

Sesaat pandangan mata mereka berdua bertemu dan dengan cepat juga keduanya memalingkan wajah karena malu.

"Ce-Cepatlah.. Aku akan menunggu di dalam mobil." Hinata tiba-tiba menjadi gugup dan berjalan mendahului Sasuke.

Sasuke juga segera menyusul Hinata dengan gerakan sedikit kikuk. Dia segera memasuki mobil dan menyalakan mesinnya.

"Mau kemana kita, Hinata-Sama." Tanya Sasuke dan melirik ke arah Hinata melalui spion tengah.

"Antarkan aku ke toko bunga." Jawab Hinata acuh.

"Baik."

Sasuke pun menjalankan mobilnya menuju sebuah toko bunga.

Sesampainya, Hinata meminta Sasuke untuk menunggu sebentar dan dia turun kemudian memasuki toko bunga.

Sasuke menghela nafasnya. Dia bersyukur Hinata tidak mengungkit kembali masalah tadi pagi. Sungguh dia sangat bersyukur.

Tidak lama kemudian, Hinata telah keluar membawa karangan bunga lily dan krisan.

"Sekarang kita pergi ke pemakaman Tama." Ucap Hinata setelah memasuki mobil.

"Baik." Sasuke segera menyalakan GPS yang terpasang dalam mobil dan kembali menjalankan mobilnya menuju pemakaman Tama.

Dalam perjalanan ini, tidak ada interaksi sama sekali antara Sasuke dan Hinata. Sesekali Sasuke melirik ke belakang melalui kaca spion tengah. Dia melihat Hinata yang termenung dan pandangannya terus melihat keluar jendela.

.

.

.

Perjalanan memerlukan waktu sekitar satu setengah jam untuk sampai di pemakaman Tama. Hinata meminta Sasuke untuk turun dan menemaninya mengunjungi sebuah makam.

Masih sama-sama terdiam dan tiba-tiba Hinata berhenti pada sebuah nisan bernamakan Uchiha Itachi. Ada sebuah perasaan tidak jelas saat Sasuke melihat nama itu. Sasuke tidak mengerti kenapa.

Hinata meletakkan karangan bunganya dan memanjatkan doa dengan hikmat.

Sasuke sendiri memikirkan perasaan aneh tidak jelas yang tiba-tiba menyerangnya.

.

.

.

Kini mereka dalam perjalanan pulang menuju kediaman Hyuuga.

"Dia adalah calon tunanganku dulu." Hinata memecahkan keheningan yang ada.

"Hm?" Sasuke sedikit terkejut karena Hinata tiba-tiba bersuara.

"Setahun lalu.. Di hari itu kami bertengkar, di hari itu juga dia harus pergi dinas ke luar negeri dan pesawat yang dia tumpangi jatuh ke dalam laut karena terserang badai. Banyak penumpang yang hilang dan meninggal, termasuk dirinya ikut menghilang. Keluarga Uchiha dan Hyuuga bekerja sama mengerahkan tim terbaik dalam pelacakan dan hasilnya kosong. Pada akhirnya kami semua sepakat untuk menyatakan dia telah meninggal dunia." Hinata menangis saat membuka kembali masa kelam itu.

Sasuke hanya dapat diam mendengarkan. Inilah yang terbaik. Sasuke sendiri juga merasakan perasaan aneh saat melihat makam itu, padahal dia tidak mengetahui siapa Uchiha Itachi itu.

Kini Hinata dan Sasuke hanya larut dalam kebisuan yang menimbulkan udara kepedihan, kesedihan, kebingungan dan penyesalan.

.

.

.

Sekelebat bayangan itu muncul meski pun samar-samar, menimbulkan sebuah potongan-potongan pertunjukkan tidak jelas karena gambar dan suara yang samar. Hanya sebuah nama yang dia ingat, tetapi dia juga tidak mengenalinya. 'Hinata.'

"Kuro-Kun.. Kamu melamun lagi?" Tanya seorang gadis manis berambut kuning.

"Ino-San.." Kuro terkejut karena Ino tiba-tiba muncul dihadapannya.

"Tidak, hanya saja aku seperti melihat sesuatu." Kuro tampak tengah berpikir.

"Benarkah?" Ino terlihat senang.

"Apakah ingatanmu sudah kembali? Atau kamu mengingat sesuatu?" Ino tampak penasaran.

"Hinata." Ucap Kuro lemah sambil memegangi kepalanya yang sedikit berdenyut sakit.

"Hinata? Siapa dia?" Seketika Ino menampilkan wajah sedih.

Kuro hanya menggeleng lemah. Dia hanya tahu nama itu, tanpa mengetahui siapa dia.

"Pelan-pelan saja.. Mengembalikan ingatan itu memang butuh proses." Ino tersenyum menyemangati.

"Hm.. Terima kasih Ino-San." Kuro tersenyum lemah.

Kuro adalah sebuah nama yang diberikan oleh keluarga Yamanaka. Inoichi Yamanaka, sang kepala keluarga menemukan Kuro dalam keadaan terluka dan terapung di atas laut saat sedang berlayar menangkap ikan. Tidak ada data diri yang menempel pada kuro saat itu.

Keluarga Yamanaka merawat Kuro yang masih pingsan selama 3 hari lamanya. Hingga pada akhirnya Kuro tersadar dan dia mengalami hilang ingatan. Keluarga Yamanaka hanya bekerja sebagai nelayan dan petani.

Mereka tidak memiliki uang yang banyak untuk membawa Kuro ke daerah perkotaan dan memeriksakan keadaannya kepada dokter ahli. Mereka mengandalkan seorang dukun ahli pengobatan dari desa mereka dan dukun itu memberikan ramuan herbal sebagai alternatifnya. Dukun itu hanya mengatakan Kuro mengalami hilang ingatan akibat benturan keras dikepalanya, mungkin suatu saat ingatan Kuro akan kembali. Akan tetapi jika ada sesuatu hal dari masa lalunya ikut membantu maka, proses pengembalian ingatan Kuro akan semakin cepat.

Pada akhirnya keluarga Yamanaka setuju untuk merawat Kuro sampai ingatannya kembali. Sebagai tanda terima kasih, Kuro ikut membantu pekerjaan Yamanaka dimulai membantu Inouchi untuk menangkap ikan atau membantu Ino dan Yuka mengurus ladang. Tidak terasa sudah satu tahun lamanya Kuro menumpang dan masih belum dapat menemukan jati dirinya.

Kuro adalah pemberian nama oleh Ino, karena dia melihat rambut hitam dan mata hitam kelam.

Seperti saat ini, Kuro mendapat bagian untuk membantu Ino memetik beberapa sayuran dan menjualnya ke pasar.

Dalam perjalanan menuju pasar, Kuro dan Ino terlihat sangat serasi. Mereka berbincang mengenai banyak hal, seperti kenapa bumi itu bulat? Kenapa gigi bolong bisa sakit? Dan lain sebagainya.

Diam-diam Ino juga menyimpan rasa terhadap Kuro. Dia memiliki sebuah ketakutan, jika suatu saat ingatan Kuro kembali. Tetapi, Ino juga menginginkan ingatan Kuro kembali. Jadi, biarkan dulu mereka menikmati hari bersama.

.

.

.

Hinata segera turun dari dalam mobil dan memasuki kediaman Hyuuga sedangkan, Sasuke masih memilih untuk berdiam di dalam mobil.

"Hahh.." Sasuke menghela nafas panjang dan kembali bersandar. Sasuke melamun.

Bzztt… CRETAR….

Bunyi petir yang kencang menyadarkan Sasuke. Hujan sepertinya akan segera turun. Awan hitam semakin menutupi langit. Sasuke bergegas memarkirkan mobilnya dan kembali ke kediaman Hyuuga.

.

.

.

"Permisi Hinata-Sama." Sasuke memasuki kamar Hinata dengan tangga besi dan beberapa peralatan.

"Apa yang akan kamu lakukan dengan itu?" Hinata terlihat terkejut dengan berbagai peralatan yang Sasuke bawa ke kamarnya.

"Saya ingin memasang lampu baru di kamar mandi anda."

"Oh.. Baiklah." Hinata mempersilahkan Sasuke dan kembali dengan aktifitas sebelumnya, mengerjakan tugas kuliah yang hampir deadline.

Sasuke sudah terampil dengan berbagai hal seperti ini. Katakan saja ini keterampilan dia saat masih bekerja serabutan. Dia cukup senang dengan hasil kerjanya yang rapi dan cepat. Sasuke segera membereskan peralatannya.

CRETARRRR…

Petir terlihat menyambar kencang ke arah genset listrik milik kediaman Hyuuga dan menyebabkan semua listrik di kediaman Hyuuga mati total. Termasuk di dalam kamar Hinata.

Hinata menutup telinga dan badannya bergetar hebat. Phobia gelapnya kambuh.

Sasuke yang menyadari hal itu segera menghampiri Hinata.

"Hinata-Sama.. Anda tidak apa-apa?" Tanya Sasuke khawatir sambil mengguncang bahu Hinata.

Tiba-tiba saja Hinata langsung memeluk Sasuke. "A-Aku takut… Ku mohon jangan tinggalkan aku." Hinata mencengkram erat seragam Sasuke.

Sasuke memberanikan diri untuk mengelus punggung Hinata, berusaha memberikan sedikit ketenangan.

Bzzt.. Zing….

Lampu kembali menyala. Nampaknya teknisi ahli telah mengembalikan aliran listrik di kediaman Hyuuga.

Hinata segera tersadar bahwa dirinya tengah memeluk seseorang. Dia cukup terkejut saat mendongakkan kepalanya.

Hinata melepas paksa pelukan itu.

Wajahnya merah padam, malu dan kesal bercampur satu.

"Ka-Kamu.. Be-Berani sekali memelukku?"

"Heh.. Bukankah anda yang terlebih dahulu memelukku?" Jawab Sasuke tidak terima dirinya disalahkan.

"A-Apa…" Hinata sendiri tidak percaya telah memeluk pelayan bodohnya.

Dia memalingkan wajahnya yang memerah karena malu.

'Kenapa phobia ini harus kambuh disaat ada dia. Sudah 2 kali dia memanfaatkanku disaat seperti ini.' Hinata merutuk dirinya sendiri.

"Se-Sekarang kamu boleh pergi." Hinata kembali duduk dan berusaha menutupi rona merah di wajahnya, berharap Sasuke tidak melihatnya. Bisa turun pamor dia.

"Baik.. Sebelum itu, adakah hal lain yang bisa saya bantu?" Tanya Sasuke memastikan.

"Tidak ada.. Kamu boleh pergi."

"Baik." Sasuke membungkuk sebelum pergi dan kembali mengambil peralatan yang dibawanya.

.

.

.

Sasuke beruntung hari ini tidak ada perintah-perintah aneh yang Hinata berikan. Bahkan, dirinya dapat bersantai dikamar karena Hinata terlihat sedang sibuk. Berpikir dua kali, mungkin ada baiknya dia mengantarkan teh ginseng hangat kepada Hinata. Udara sekitar juga menjadi dingin akibat hujan deras di depan.

Tok.. Tok.. Tok..

"Hinata-Sama, Saya membawakan teh ginseng hangat untuk anda."

"Masuk dan letakkan saja di atas meja."

Sasuke melihat kini Hinata tengah serius dengan laptopnya. Sesekali Hinata tampak tengah berpikir keras untuk mengerjakan entah apa itu. Sasuke tersenyum kecil karena melihat tingkah Hinata yang sedikit aneh dan lucu.

"Apakah anda mengalami kesulitan?" Tanya Sasuke saat meletakkan teh ginseng hangat dihadapan Hinata.

"Ini menyebalkan." Hinata berujar kesal.

"Boleh saya lihat?" Tawar Sasuke.

Hinata menaikkan satu alisnya.

"Boleh saja, jika kamu mengerti." Hinata mengambil teh hangat dan meminumnya perlahan.

Sasuke mengambil ahli laptop milik Hinata dan menatap serius beberapa soal yang belum Hinata kerjakan. Tiba-tiba Sasuke tersenyum kecil.

'Ini mudah.' Sasuke mulai mengetikkan jawaban yang ada di otaknya dibawah soal yang belum terjawab.

"Hei-hei.. Apa yang kamu lakukan.. Nanti data-dataku hilang." Hinata mencoba untuk memisahkan Sasuke dengan laptopnya.

"Tenanglah Hinata-Sama.. Aku sedang membantumu mengerjakan soal-soal itu." Sasuke menatap serius Hinata.

"Tch.. Yang benar saja.. Hahaha.. Jangan membuatku tertawa, kamu itu bahkan hanya lulusan SMP." Hinata mengejek.

"Kita lihat saja nanti." Sasuke kembali merebut laptop Hinata dan mengerjakan soal-soal yang belum terjawab.

Hinata hanya bisa diam dan membiarkan Sasuke mengerjakannya. Dia ingin melihat sejauh mana kemampuan Sasuke.

"Selesai.." Ucap Sasuke bangga.

Hinata terkejut lagi, tidak sampai 10 menit Sasuke mengerjakan soal-soal itu. Dia segera mengambil laptopnya dan mengecek semua jawaban dari Sasuke. Sungguh tidak dapat dipercaya, semua jawabannya benar.

Hinata juga mengecek kembali jawaban Sasuke dengan bantuan buku dan beberapa sumber melalui internet.

"Mustahil."

"Jawaban saya benar semuakan?" Sasuke membanggakan dirinya.

"Ba-Bagaimana mungkin?" Hinata menatap Sasuke tidak percaya.

"Saat di panti asuhan dulu, saya sering membaca berbagai buku yang diberikan sebagai sumbangan. Topikmu itu ada dalam buku yang dulu pernah ku baca." Sasuke menjelaskan.

"Kamu hanya beruntung." Ucap Hinata melirik sini ke Sasuke.

Sasuke hanya mengangkat kedua bahunya sebagai jawaban.

"Tetapi, terima kasih." Hinata mulai mengakui kemampuan Sasuke.

"Sudah menjadi tugasku untuk selalu membantu dan melayani anda." Sasuke meletakkan tangan kanannya di perut dan membungkuk, sebuah khas tanda hormat seorang butler profesional.

Hinata hanya tersenyum tipis melihat tingkah Sasuke. Dirinya kembali berpikir bahwa Sasuke satu-satunya pelayan pribadi yang dapat tahan dengan semua perintah tidak masuk akalnya, meskipun dia juga sering berbuat kurang ajar.

Bukankah itu tandanya Hinata mulai menyukai kehadiran Sasuke?

.

.

.

TBC

..

Saya mau balas beberapa riviw buat Fict yang berjudul 'My Sassy Girl'. Ada yang bilang, aku terkesan buru-buru buat endingnya, ada yang mungkin juga berpendapat kurang greget.

Dalam hal ini, memang akan seperti itu endingnya, banyak sebenarnya ide jahat dalam otak saya untuk Sakura dan Gaara, tetapi takut jatuhnya nanti kaya sinetron RC**. Haha..

Jadi, Intinya tidak akan ada konflik berat alias bagai angin sepoi-sepoi. Lalu, untuk yang Side story, itu adalah lanjutan mimpi Hinata. Dari awalkan dia memang suka mimpi tentang pangeran kodok dan bola emas. Hahaha.. Kirain bakal ada yang nyadar.. ;A;

Baiklah sekian cuap-cuap saya.

Terima Kasih bagi yang sudah mau baca, review, fave dan follow. :*

Sekali lagi Selamat menunaikan Ibadah Puasa bagi umat yang menjalankan.

^^/