Gelap. Kedua bola mata Johnny tidak menangkap cahaya apapun. Dia tidak bisa melihat sekelilingnya. Sejuk terasa menembus epidermis. Keringat bersuhu rendah perlahan turun di sisi pelipis. Nafas terasa memburu disaat jantung terasa seperti sedang melakukan lari marathon.

"Aku dimana..."

Tangan besarnya perlahan meraba lantai dingin tempat ia berbaring sekarang. Johnny terus bertanya dimana dia berada tapi jawaban tak kunjung datang. Semua benar-benar gelap.

Pelan-pelan, pemuda itu mencoba untuk berdiri. Mulai berjalan ragu dan penuh kehati-hatian untuk mencari saklar lampu. Ia benar-benar tidak tahan dengan suasana pengap ini. kedua tungkai kaki panjangnya bergerak hingga dinding mulai terasa oleh telapak tangan.

Johnny kembali mengandalkan sel sarafnya. Terus berjalan mengikuti implus yang dendritnya tangkap dan terkirim ke pusat.

"Ah ini dia." Hatinya puas sekali saat merasakan saklar lampu telah jarinya sentuh.

Clek—

Lampu menyala. Johnny lega dan rasa itu tidak bertahan lebih dari dua detik saat ia sadar bahwa cahaya sangat redup dibanding biasanya. Dia berbalik dan mengamati ruangan sekitar empat kali empat dengan warna putih bermandikan sinar lampu tunggal yang remang.

Pupil Johnny mengecil seketika. Sebuah ranjang di tengah ruangan itu membuat dirinya cukup kaget. Ranjangnya tidak asing baginya. Sebuah ranjang...operasi. Detik berikutnya, jantung Johnny serasa dipukul keras oleh sesuatu.

"T..Tae...Taeil?"

Suaranya yang berat terdengar gugup.

Ada seseorang yang berbaring di atas ranjang itu. menggunakan baju pasien berwarna hijau pudar dengan sebuah selang oksigen tersemat di lubang hidungnya. Tubuhnya ramping, berbahu sempit dan berkulit pucat.

Johnny merasa sangat takut. Keringat dingin semakin mengalir deras. Matanya bergetar ngeri. Kaki-kakinya yang terlihat rapuh perlahan mundur dengan begitu gugup. Semakin parah saat ia melihat kepala orang di atas ranjang itu tampak mengeluarkan darah. Begitu juga dengan bagian perutnya.

Nafas Johnny semakin putus-putus saat wajah itu perlahan menoleh ke arahnya. Menatap mata pemuda tinggi itu dengan pandangan sayu. Bibirnya yang pucat tampak bergetar saat ia berusaha mengucapkan sesuatu pada Johnny.

"T...Taeil..." air mata Johnny turun perlahan tanpa dia sadari.

"Johnny..."

Johnny bisa merasakan tubuhnya bergetar hebat saat bibir pucat itu memanggil namanya.

"Uhuk..."

Sesuatu yang lebih buruk terjadi. Pria di ranjang itu tiba-tiba terbatuk. Mengeluarkan darah yang banyak dari dalam mulutnya. Johnny kalang kabut. Sembari mengucapkan nama yang sama, dia bergerak untuk mendekati tubuh ringkih itu.

Namun, tiba-tiba saja ruangan menjadi hitam. Gelap. Semua terasa sangat sesak bagi Johnny. Ia tidak bisa bernafas dengan baik. Jiwanya semakin panik dengan debar jantung yang semakin tidak karuan.

"Tae..Tae...TAEIL!"

Nineteen Days With You in Europe

[CHAPTER 2 : Johnny Seo]

"TAEIL!"

Suara berat khas seorang pria dewasa menggema disebuah kamar. Nafasnya memburu. Pelipisnya basah akan keringat dingin yang tampak cukup banyak. Piyama abu-abu dengan garis-garis hitamnya tampak basah di bagian bahu dan punggungnya. Benar-benar seperti seseorang yang baru saja berlari. Padahal ia baru saja menyibak selimut dengan kasar dan terbangun dari tidurnya.

"Aku bermimpi lagi."

Detik selanjutnya, pintu kamarnya yang berwarna abu-abu terang terbuka dengan sangat cepat. Menampakan seorang wanita cantik bertubuh ramping dengan rambut hitamnya yang panjang bergelombang. Wajahnya terlihat benar-benar cemas.

"Are you okay?" tanya wanita itu dengan suara yang sedikit serak.

Pemuda itu, Johnny—dengan nama lengkap Seo Johnny—tampak menghela nafas pelan sebelum menjawab.

"I'm okay."

"Tiffany Noona, kenapa kau bisa di apartement ku?" ia balik bertanya pada wanita yang baru saja membuka pintu kamarnya dengan kasar.

"Aku datang untuk membuatkan mu sarapan yang lebih berkualitas." Tiffany mendekati pemuda Seo yang masih duduk di atas ranjangnya.

Johnny mendengus.

"Aku bukan anak kecil yang masih harus kau buatkan sarapan. Demi apapun aku sudah dua puluh delapan tahun."

"Kau memang bukan anak kecil lagi. Kau benar-benar terlihat seperti seorang pria dewasa dengan tubuh bongsor mu. Tapi tetap saja. Aku tidak bisa melihat satu-satunya adik ku hanya sarapan dengan nasi telur atau cuman roti dengan selai kacang. Ayah dan Ibu di Amerika bisa stress kalau tahu kau terus seperti ini."

"Noona, kau mulai lagi ngomelnya."

"Iya, dan itu karna kau, Seo Johnny!" Jawab Tiffany dengan cepat dan tegas. Ia tampak melipat tangan di dada.

Johnny menghela nafas lagi.

"Aku tadi mendengar mu berteriak. Nama dia lagi." Ucapan wanita tiga puluh tahun itu sukses membuat sang adik menunduk.

Kali ini giliran Tiffany yang menghela nafas. Ia meluruskan tangannya dan mendudukan diri di tepi ranjang.

"Apa mimpinya masih sama?"

Johnny mengangguk. Tatapan matanya sudah redup sejak tadi.

"Aku tidak mengerti." Suaranya terdegar rendah. Membuat Tiffany semakin memandangnya cemas. Ia tahu betul tentang kondisi adiknya yang satu ini.

"Itu karena kau masih terjebak masa lalu mu." Tiffany buka suara dan Johnny tetap dalam kebisuannya.

"Aku tahu ini sulit. Kau sudah mendengar aku entah untuk keberapa kalinya berbicara seperti ini. Ikhlaskan Taeil. Ini sudah dua tahun berlalu dan kau bahkan masih saja seperti ini."

Johnny masih diam. Ia bahkan tidak mengangkat wajahnya sama sekali.

"Berhenti seperti ini. Jangan mengurung dirimu di apartement terus. Kembali ke pola makan mu yang baik. Berhenti minum-minum di bar atau dimanapun itu. Kau seorang dokter bedah dan aku yakin kau tahu bagaimana buruknya itu untuk tubuh mu."

Hening sejenak.

"Ya, aku dokter. Dokter yang bodoh. Dokter yang gagal menyelamatkan kekasihnya hingga ia mati. Aku gagal menyelamatkan Taeil. Aku...membunuhnya."

Tiffany menghela nafas. Dia benar-benar tidak suka kalau situasinya sudah seperti ini.

"Dengarkan aku, Young Ho. Pertama, kau bukan dokter yang bodoh. Demi apapun, kau adalah dokter bedah terbaik yang rumah sakit itu punya. Bahkan mereka masih terus menawarkan mu untuk kembali sejak kau resign dua tahun lalu. Kedua, aku tidak mengelak. Kau memang gagal menyelamatkan Taeil..."

Johnny sempat tertegun mendengar ucapan kakaknya. Hatinya kembali merasakan sakit saat ia menyadari—walaupun dia sudah sadar dari dulu—akan kenyataan di poin nomor dua.

Tiffany melanjutkan setelah menghela nafas.

"Tapi demi apapun, kau tidak membunuhnya. Itu bahkan bukan pembunuhan dan bahkan bukan salah mu. Aku tahu ini sangat berat saat kau tidak berhasil menyelamatkan kekasih mu. Sangat wajar jika kau sedih, marah dan kecewa seperti rasanya kau ingin mati saja. But John, it doesnt mean that your has ended. Ini sudah terlalu kelewatan jika kau bilang ini sebagai bentuk belasungkawa untuk kematian kekasih mu."

Wanita itu kembali memberi jeda agar Johnny bisa menyerna semua ucapannya dengan baik.

"Kau bahkan sampai berhenti menjadi dokter di rumah sakit. Tidak melakukan aktivitas yang berarti sejak dua tahun lalu. Kau tidak pernah keluar bermain basket atau pergi jalan dengan Sehun dan teman-teman mu yang lain."

"Noona, kau hanya tidak tahu bagaimana rasanya."

Tiffany siap untuk melempar lemari pakaian untuk ia lemparkan ke kepala adiknya ini supaya sadar atas apa yang sudah lelaki bongsor itu katakan—itupun kalau wanita ini mampu juga.

"Aku harap kau sadar atas perkataan mu Seo Johnny. Sungguh. Itulah kenapa kau selalu di hantui oleh mimpi yang sama tiap minggunya. Karna kau masi belum bisa ikhlas atas kepergian Taeil. Aku yakin, dia belum bisa tenang di alam sana karna kekasih super lemahnya ini belum bisa melepasnya. Mungkin itulah kenapa Tuhan lebih dulu memanggil Taeil untuk pulang. Dia tidak ingin melihat Taeil hidup dengan lelaki lemah seperti mu. Kau bisa bilang aku tidak berperasaan atau bagaimana. Tapi kau lihat, orang tua Taeil bahkan sudah ikhlas sejak setahun lalu untuk takdir putera mereka. Tuan dan nyonya Moon tahu betul kalau mereka terus bersedih, Taeil tidak akan bisa beristirahat dengan tenang. Tinggal kau saja."

Bahu sempit Tiffany terlihat naik turun dengan pelan karna sudah berbicara panjang lebar untuk membuka pikiran adik raksasanya ini. benar-benar melelahkan.

"Jadi...aku harus bagaimana?" Johnny mengangkat wajahnya. Menatap sang kakak dengan mata yang sarat akan rasa sedih yang tak kunjung reda.

Tiffany menghela nafas—lagi.

"kembali jalani hidup mu dengan benar. Terima tawaran dari pihak rumah sakit. Masih banyak orang-orang di luar sana yang butuh bantuan dari otak encer mu. Ingat itu." Wanita itu tahu adiknya ini sudah cukup tua untuk bisa menyerna semua ucapannya. Jadi, dengan segenap rasa penat yang mendadak mampir di pundaknya pagi ini, dia bangkit dari posisi duduknya, berjalan pelan menuju pintu.

Namun, tepat sebelum dia memutar knop pintu. Tiffany kembali berbalik untuk menatap adiknya.

"Tapi sebelum itu semua, kau butuh liburan."

Johhny mengangkat sebelah alisnya saat mendengar ucapan Tiffany.

"Kau harus pergi melihat dunia luar untuk merefresh diri. Aku akan mengurus semuanya untuk liburan mu."

"T—tunggu, noona! Beberapa hari lagi hari peringatan untuk Taeil. Bagaimana bisa aku malah pergi liburan?"

Tiffany membuka pintu dan berjalan keluar. Masih berdiri di depan pintu, ia berkata "Kau akan pergi satu bulan setelah hari peringatan. Semuanya akan aku urus dengan baik. So, jadilah adik yang penurut, jangan protes atau apapun itu karna aku tidak akan menerimanya."

Setelah itu, pintu tertutup rapat. Menyisakan Johnny sendirian di dalam kamarnya dengan segenap hal yang berkecamuk di dalam otaknya.

...

Angin musim salju di bulan Januari terasa lebih dingin di banding bulan-bulan lainnya. Biasanya, bulan satu memang menjadi periode dengan suhu terendah kota Seoul dibanding bulan-bulan lainnya.

Akan tetapi, itu tidak menyurutkan sedikit 'pun niat Seo Young Ho—lebih kita kenal dengan nama Johnny—untuk mengunjungi makam kekasih—masa lalunya—setidaknya sekali seminggu.

Dua tahun berlalu sudah. Perasaannya masih sama. Baik rasa cintanya ataupun rasa sedih, kecewa dan frustasi yang terus menggerogoti bagian dalam hatinya. Ini rasanya sangat berat untuk Johnny lalui. Ia inginkan Taeil. Lebih benar bahwa ia membutuhkan Moon Taeilnya. Dia tidak terbiasa tanpa Taeil. Sungguh.

Sembari menatap nisan kekasihnnya, Johnny bertanya dengan suara parau. Tidak peduli walaupun hanya suara angin yang dia dapat.

"Apa yang harus aku lakukan?"

Hening.

"Apa Tiffany Noona benar?"

Johnny tanpa sadar terisak. Tidak peduli jika ia terlihat lemah sebagai seorang pria. Toh tidak ada orang lain disini.

"Aku tidak terbiasa tanpa kamu. Sungguh. Saat tahu bahwa kamu meninggalkan ku sendirian di sini, rasanya aku ingin mati saja."

Dia terus berbicara walaupun pemuda itu tahu betul tidak akan ada yang menjawabnya.

"Apa kamu belum tenang karena kecengengan ku ini?"

"Apa aku harus menuruti saran Tiffany Noona?"

Sejenak, Johnny terdiam. Otaknya kembali memutar waktu. Seolah membawa dirinya kembali ke saat-saat dua tahun silam. Saat ia dan Taeil masih makhluk yang sama. Saat mereka hanyalah sepasang kekasih bahagia yang melewati malam-malam penuh cinta dan menyambut pagi dengan senyuman secerah mentari. Menguak kembali tiap pembicaraan yang pernah terucap.

Tanpa Johnny sadari, kedua kepalan tangannya mengerat.

"Apa aku harus mengikuti perkataan mu waktu itu?"

...

"Hyung!"

Johnny hampir saja terlonjak kaget jika saja ia tidak cepat mengendalikan diri. Dengan rasa jengkel setengah mati, dia meletakan cangkir tehnya. Bangkit dari kursi makan dan berbalik untuk berjalan ke ruang tengah. Mendapati seorang remaja tanggung dengan badan yang belum terlalu tinggi menatapnya penuh binar.

"Hyung!"

Suara tadi kembali memanggilnya dengan penuh semangat. Hanya saja lebih pelan. Johnny 'pun membalas tatapannya dengan wajah yang sama cerahnya.

"Hi Bro!"

Johnny langsung mendekati anak lelaki itu dan memeluknya cukup erat.

"Mark, kapan kau sampai Korea? Apa kabar mu? Wah, adik hyung tampak lebih tinggi sekarang."

"Ok, one by one, hyung. Aku baru sampai pagi ini. Kabar ku baik-baik saja. As you see, tapi tidak lebih tinggi dari mu. Tapi aku akan segera menyusul nanti. So, who are you?"

"Same as you. I'm completely fine." Johnny tidak yakin ini jawaban yang sesuai atau tidak. Tapi tetap saja, ini Mark. Adik sepupu kesayangannya. Pemuda Seo itu tidak ingin melihat wajah adiknya ini berubah sedih jika tau kakaknya masih tidak baik-baik saja sejak dua tahun terlewatkan.

"Mark, kau tidak main-main saat bilang bahwa barang bawaan mu banyak." Mark dan Johnny menoleh pada sumber suara. Tampak Tiffany tengah berjalan membawa sebuah koper.

Ngomong-ngomong, Johnny baru sadar kalau Mark sudah membawa dua koper—yang satu hitam yang satu biru dongker—dengan ukuran yang cukup besar. Ditambah Tiffany yang membantu membawakan sebuah koper lagi warna merah dengan ukuran yang tak kalah besar.

"Maaf merepotkan mu, Tiffany Noona. hehehe." Tawa Mark canggung.

"Kau bawa banyak sekali, Mark?" tanya Johnny heran.

"Kan sudah ku bilang kalau dia pindah SMA ke Korea. Bagaimana kau bisa lupa sih? Dia akan tinggal dengan mu karna kamar di rumah ku sudah penuh." tanya Tiffany heran.

Johnny awalnya tertawa canggung dan menggaruk tengkuknya. "Mianhae. Aku banyak pikiran akhir-akhir ini." tampaknya semua hal yang berkecamuk di otak Johnny benar-benar membuatnya tidak bisa fokus dengan baik. Bagaimana bisa dia lupa perihal kepindahan Mark ke Korea?

"Baguslah kau tinggal disini, Mark. Aku kesepian semenjak Tiffany Noona sudah berkeluarga."

Mark tersenyum. "Aku akan jadi anak baik, hyung. Aku berjanji tidak akan menyusahkan mu. Hehehe."

"Well, glad to hear that." Ujar Johnny sembari menepuk bahu adik sepupunya dan tertawa.

"Oh ya, John. Aku sudah mengurus soal liburan mu."

Mood Johnny tiba-tiba saja agak meredup saat mendengar ucapan kakaknya. Ia tidak menyangka kalau Tiffany benar-benar serius untuk menyiapkan perihal liburan itu. Ingin menolak tapi bukan pilihan yang baik—sepertinya. Wanita itu sudah benar-benar bulat dengan keputusan yang sudah dia buat. Ditambah lagi ia benar-benar tidak tahan dengan Johnny yang masih saja seperti individu yang kehilangan jati dirinya sejak dua tahun lamanya. Tiffany benar-benar jenuh dan aku rasa Johnny sudah mengetahuinya lebih baik dari pada kita semua. So, dari pada cari masalah, Johnny hanya menjawab kakaknya dengan pertanyaan.

"Jadi, bagaimana?"

Tiffany bergerak untuk mengeluarkan sebuah map kertas cokelat muda dan memberikannya pada Johnny. Sang adik menerimanya dengan baik dan menelaah tampilan map itu dengan pandangan bingung. Dia kembali menatap kakaknya untuk meminta penjelasan.

"Untuk lengkapnya, kau bisa lihat di situ nanti. Intinya, kau akan liburan ke Eropa. Tidak hanya ke satu negara. Kau akan pergi ke berbagai negara untuk mengelilingi benua itu dalam waktu sembilan belas hari. Aku sudah memberi rute negaranya, daftar hotel, kereta dan lain-lainnya. Pokoknya kau baca saja nanti di dalam map itu. Kau akan terbang ke Roma pertengahan februari."

"Apa ini tidak belebihan? Maksud ku, sungguh ini keliling Eropa?" tanya Johnny sedikit tidak menyangka. Kakaknya sampai sejauh ini menyiapkan liburan skala besar ini untuknya.

"Tidak. Memang itu yang kau perlukan. Kau harus benar-benar untuk menjernihkan pikiran mu."

Mark benar-benar jadi satu-satunya makhluk yang tidak mengerti perkara yang ada di antara dua kakak beradik itu.

"So, bisa kalian tunjukan dimana kamar ku?"

...

Sesuai yang sudah Tiffany katakan. Johnny akan terbang ke Roma sebagai destinasi pertamanya untuk keliling Eropa pada pertengahan bulan februari—ya walaupun ini sudah memasuki tanggal dua puluhan.

Oleh karena itu, Johnny sekarang sedang berdiri di tengah ruang tunggu bagi penumpang yang sudah melalui prosedur check-in. Untuk airport stylenya, Johnny mengenakan kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku, jeans hitam, sniker putih dan sebuah tas selempang abu-abu di bahu kanannya. Wajahnya tampak lebih tampan dan segar dengan rambut cokelat gelapnya yang bergaya spike. Pemuda Seo ini sukses menarik perhatian gadis-gadis di ruang tunggu. Ditambah lagi dia berdiri dengan tungkai kakinya yang panjang. Tinggi, tampan, hottie.

Ngomong-ngomong, Johnny tidak hanya diam mematung di titik ia berdiri sekarang. Sebuah buku catatan berwarna hitam yang tengah dia pegang di tangan kiri disaat tangan kanannya menggenggam segelas espresso. Membaca tiap lamannya dengan santai. Hanya mengamati daftar kota yang akan ia kunjungi di Eropa nanti. Tidak lupa daftar wisata yang harus dia kunjungi nanti di tiap pemberhentian.

"Tidak buruk. Mungkin memang ini yang harus aku dapatkan."

Johnny memasukan bukunya ke dalam tas. Kemudian meraih ponsel yang tersemat di saku. Sembari menyesap minumannya, Johnny mengecek jam dan beberapa pesan dari kakaknya.

Pertama, dia akan pass boarding sekitar dua puluh menit lagi. Masih banyak waktu. Kedua, pesan-pesan dari kakaknya banyak sekali. Seperti jangan lupa makan dengan baik, hati-hati disana, dan masih banyak lagi. Johnny seolah merasa bahwa dia sudah berubah kembali ke seorang anak berumur empat belas tahun yang akan pergi study tour. Nah, ternyata ada pesan lain dari ayah dan ibunya.

"Awh!"

"Uhuk-uhuk!" Johnny benar-benar terkejut saat tiba-tiba saja dia merasa punggungnya ditabrak oleh seseorang. Menjadi lebih buruk karna dia tersedak minumannya. Tubuhnya segikit terguncang dan tangannya yang penuh membuat ia tidak siap. Cipratan espresso hangat sukses menodai kemeja putihnya. Kemeja putih kesayangannya. KESAYANGANYA.

Dengan segenap rasa kesal yang siap ia tumpahkan pada siapapun itu yang tidak menggunakan matanya dengan baik saat berjalan hingga bisa-bisanya menabrak tubuh bongsornya, Johnny perlahan membalik badan. Lalu, yang ia dapatkan adalah seorang pemuda dengan tubuh ramping dan lebih kecil darinya, berkulit putih, hidung bangir, mulutnya sedikit terbuka menampakan gigi kelinci yang lucu dan kedua matanya...

"Mianhamnida! Omona jeongmal mianhamnida!"

Johnny agak kaget saat melihat pemuda bunny di depannya ini tiba-tiba saja mengatupkan kedua tangannya. Meminta maaf berkali-kali dan memandangnya dengan mata kelinci yang sangat lucu dan penuh binar. Johnny tidak tahu mengapa. Harusnya dia marah karena pemuda asing tersebut sudah menabraknya hingga membuat kemejanya kotor. Tapi, tanpa dapat dia kendalikan, mata kelinci itu sukses membuat hatinya luluh seketika.

"Aku tadi sedang buru-buru dan tidak fokus di jalan. Ditambah lagi sebentar lagi aku akan check in pesawat. Maafkan aku. Aku tidak bermaksud membuat kemeja mu jadi kotor atau menabrak mu. Mian..."

Suaranya terdengar lucu. Johnny suka mendengarnya hingga membuat dia mengulas senyum tipis.

"Iya, tidak apa-apa. Kau 'kan tidak sengaja dan ini hanya kecelakaan. Lebih baik kau bergerak cepat untuk check in mu." Ujarnya pelan. Tidak enak juga membuat makhluk imut ini tampak kalang kabut.

"Ah terima kasih dan sekali lagi aku minta maaf." Johnny melihat pemuda itu mengeluarkan sebuah dompet dari dalam tasnya. Oh, Johnny tahu akan seperti apa selanjutnya.

"Ini untuk mengganti kemeja mu ya—"

"Ah tidak perlu, tidak perlu." Tangan besar Seo Johnny dengan cepat mendorong tangan Doyoung pelan untuk menolak pemberiannya.

"Tapi—"

"Sudahlah, tidak apa-apa. Ini masih bisa aku bersihkan nanti." bukannya apa, sekalipun si bunny ini berniat mengganti kemejanya. Johnny tidak yakin dia bisa. For your information, ini bukan kemeja sembarangan.

"Penerbangan ku..."

Johnny melihat pemuda asing itu tampak berujar pelan saat mendengar pengumuman dari pusat tentang sebuah jadwal penerbangan. Sepertinya sudah giliran lelaki ini untuk segera bergegas check-in ke pesawatnya.

"Lebih baik kau bergegas." Ujar Johnny dengan senyum tampan yang tersemat di bibirnya. Pemuda kelinci itu tampak membalas senyumnya dengan sedikit rona yang muncul di pipinya. Dengan mata berbinar, dia kembali mengucapkan kata maaf dan terima kasih. Lalu pergi meninggalkan Johnny disana.

"Menggemaskan sekali.." ujar Johnny pelan masih dengan senyumnya. Ia pun masih mengamati punggung pemuda itu yang semakin menjauh hingga lenyap di balik pintu. Bergabung dengan para penumpang lainnya.

"Nah, sekarang, bagaiamana kita mengurus kemeja ini?" Johnny bertanya bingung. Ia kemudian mengecek tasnya dan bersyukur masih menyimpan selembar kaos hitam disana. Mengecek ponselnya. Masih ada waktu yang lebih dari cukup untuk mengganti pakaian di toilet. Maka dari itu, Johnny dengan cepat berjalan menuju toilet. Masuk ke salah satu bilik dan mengganti pakaian.

"Nah, lebih baik sekarang." tetap saja. Walaupun hanya menggunakan kaos hitam biasa, Seo Young Ho tetap terlihat tampan. Ia melihat penampilannya di cermin. Kemudian memasukan kemeja putihnya itu ke dalam tas.

"Tunggu..."

Dia akan segera pergi dari sana jika saja sebuah buku berukuran sedang yang tergeletak di sebuah wastafel itu tidak terlihat oleh Johnny. Lengkap dengan selembar peta kecil benua eropa yang titik-titik kotanya diberi tanda dengan spidol.

"Ini buku siapa?"

Tangan besarnya membolak-balik buku itu dan mengamati bagian cover. Mewanti-wanti apa dia harus membuka bukunya atau tidak.

"Tapi kalau tidak dibuka, aku tidak akan tahu siapa pemiliknya."

Jadi, setelah menimang-nimang, Seo Johnny memilih untuk membuka buku itu. Isinya ada banyak catatan. Ada beberapa halaman bertuliskan jadwal penerbangan ke Roma lengkap dengan nama maskapai, daftar kota-kota di Eropa, nama stasiun, hotel dan profil tempat-tempat wisata. Johnny terus membuka buku itu hingga di salah satu halaman, ada sebuah profil.

"Kim Doyoung...satu februari..."

Mata Johnny agak melebar saat ia melihat sebuah foto selfie yang dicetak ukuran tiga kali empat dan tertempel di bagian kanan atas halaman. Buku ini milik pemuda kelinci yang menabraknya tadi!

Johnny kembali menyelipkan peta kecil tadi di dalam buku tersebut. Menggenggamnya dan dengan cepat keluar dari toilet menuju ruang tunggu tempat mereka bertemu tadi. Ia melihat ke arah papan elektronik tempat daftar penerbangan menuju Roma yang sesuai dengan tulisan di buku pemuda kelinci itu.

"Sudah lepas landas tenyata."

Tangan besar Johnny tergerak untuk menggaruk tengkuknya. Ia terlambat untuk mengembalikan buku ini.

"Pesawat ku." Johnny berujar saat ia mendengar pengumuman yang kali ini memberitahukannya untuk bersiap masuk ke dalam pesawat. Dia kemudian kembali menatap buku di tangan kanannya ini. Dia teringat akan sesuatu.

"Tujuan kami sama-sama ke Roma walaupun beda maskapai."

Pemuda jangkung itu terdiam sesaat.

"Kim Doyoung ya..."

TBC

Akhirnya aku up date juga ff ini ya readers.

Satu : maafkan segala macam typo, eror grammar dan sebagainya. Aku ga sempat buat baca-baca ulang. Hehehe. Kejar target update ff de paris sama lucid dream juga soalnya. Ehehehe. Mian yaa

Dua : makasihhhhh banget ya buat yang udah review di chapter-chapter sebelumnya. Makasih juga udah follow favvorit. Kalian selalu bikin ak semangat buat lanjutin ini ff. Terimaa kasih *bowbarengjohndo*

Tiga : review lagi ya di chapter ini. supaya aku semangat buat ngetik nextchap nya. Hehehe. Kalau bisa jangan sidder dong. Agak gimana gitu aku kalau ngeliat sidder. Ehehehe.

Empat : see u next chapter yaa *tebar confeti bentuk love*