Title : Bestfriend Part 2 of 2
Author : Arhazhar Arha
Genre : Friendship
Lenght : TwoShoot(Part2 of 2)
Cast : No Minwoo
Jo Kwangmin
Jo Youngmin
Kim Taehee (OC)
Choi Rara (OC)
Kim Donghyun
HAPPY READING!
CUUUUEEE!
Kwangmin POV
Pagi itu cukup menyebalkan karena Youngmin hyung meninggalkanku dan berjalan berdua dengan Taehee. Aku tahu jika Youngmin hyung menyukainya. Tapi kan tidak perlu mengabaikanku juga. Aku benar-benar benci diabaikan seperti ini.
Kulihat seseorang dengan seragam yang sama denganku. Aku baru pertama kali melihatnya. Apa dia murid baru?
"Hei kau, cepat kemari!" seruku memanggilnya. Ia mendongkakkan kepalanya.
"Kau tak juga kemari? Hah, dasar idiot! Kau tak mendengarku hah?" teriakku. Ia menoleh ke kanan dan kiri. Ck. Dia ini bodoh. Sudah jelas kan kalau aku memanggilnya.
Pletak
Aku memukul kepalanya keras. Siapa suruh bertindak bodoh seperti itu.
"Bodoh! Kau tak mendengarku?" ucapku tepat di depan wajahnya. Ia menutup matanya, takut mungkin. Padahal kan aku belum berbuat apa-apa.
"Kau punya uang?" tanyaku. Ia merogoh saku celananya. Kenapa dia mau saja menurutiku? Bocah bodoh. Harusnya dia melawankan?
"Cih, sedikit sekali. Baiklah. Mana bekalmu? Aku yakin anak kecil sepertimu pasti membawa bekal ke sekolah," aku menadahkan tanganku. Ia memberikan bekalnya padaku. Anak ini benar-benar lemah. Dia tidak sedikitpun melawanku.
"Jo Kwangmin!" seru suara yang sangat ku hapal. Youngmin hyung. Kenapa dia bisa ada disini? Aku pasti dimarahinya lagi.
"Bodoh! Kenapa kau selalu melakukan ini hah?" Youngmin hyung menarik telingaku. Argh, sakit sekali. Ini KDRT namanya. Mana ada seorang kakak menindas adiknya. Apalagi jika adiknya setampan aku!
"Ya hyung! Appo!" aku memukul-mukul tangan Youngmin hyung agar melepaskan tangannya dari telingaku.
"Kembalikan bekalnya!" suruh Youngmin hyung. Ah, tidak seru. Aku kan hanya bercanda saja. Salahkan bocah itu karena tidak mengenalku.
"Andwe! Ini sarapanku hyung! Aku lupa bawa tadi," tolakku seraya menyembunyikan kotak bekal milik bocah itu.
"Aku sudah bawa kotak bekalmu. Sekarang kembalikan kotak bekalnya dan uangnya juga," serunya. Dengan kesal, aku mengembalikan uang dan bekalnya.
"Jeongseonghamnida. Maafkan dongsaengku ya? Dia memang kadang suka bersikap kekanakan seperti ini," ucap Youngmin hyung seraya membungkuk.
"Kau, minta maaf!" titahnya.
"Maaf," ketusku.
"Yang sopan!"
"Jeongseonghamnida!" ucapku lagi seraya membungkukkan badanku. Meski terpaksa karena lengan hyung yang mendorong kepalaku untuk membungkuk. Kenapa hyung malah membela anak itu sih?
"Ne, gwenchana," ucapnya. Hyung lalu menarikku pergi.
Aku berjalan ke kelas setelah mendengar nasihat-nasihat yang Youngmin hyung ucapkan. Huh, dasar hyung. Ia terlalu baik pada orang lain. Apa dia tidak tahu kalau bisa saja dibalik wajah polosnya itu ternyata dia seorang psikopat atau yang lainnya. Bisa saja bukan?!
"Kursi itu milik Kwangmin. Kau bisa mati juga mendudukinya," Ku dengar suara Taehee dari dalam kelas. Aku mengintip melalui jendela.
"Begitu yah? Kalau begitu, maukah beritahu kursi mana yang masih kosong?" Itu kan bocah yang Youngmin hyung tolong tadi. Jadi benar dia murid baru.
"Kau duduk di sampingku saja. Aku duduk sendiri," ucap Taehee. Ck. Kenapa semua orang baik pada bocah itu sih?
"Taehee. Kim Taehee," Taehee mengulurkan tangannya.
"No Minwoo. Kau bisa memanggilku Minwoo,"
Jadi namanya Minwoo? Pokoknya aku tidak peduli siapa namanya. Dia tidak boleh macam-macam selama aku masih di sekolah ini. Sepertinya aku harus memberikan banyak peringatan padanya.
*BESTFRIEND*
"Pika! Kau lihat Winnie tidak?" tanya Taehee padaku. Aku hanya menggelengkan kepalaku dan meneruskan langkahku yang sempat tertunda karena panggilannya.
"Tadi aku cari di sekolah tidak ada. Kira-kira dia kemana ya?" tanyanya lagi.
"Molla. Aku tidak melihatnya hari ini," jawabku. Aku memang tidak melihatnya seharian ini. Mungkin dia sedang sibuk dengan kegiatannya yang mengurusi acara-acara di sekolah atau apalah itu namanya aku tidak tahu.
"Ya sudah. Aku pulang denganmu saja," Taehee melingkarkan lengannya di lenganku. Ck. Yeoja ini. Kalau Youngmin hyung lihat dan cemburu padaku bagaimana?
"Kwangmin, aku ingin mengaku sesuatu padamu,"
"Apa?"
"Aku rasa aku menyukai anak baru di kelas kita itu. Dia lucu sekali," ucapnya. Mwo? Dia menyukai bocah itu? Lalu bagaimana dengan Youngmin hyung. Aku harus menjauhkan mereka.
"Dia tidak lucu sama sekali, Minnie. Dia mengerikan menurutku," ya. Dia mengerikan. Dibalik wajah polosnya itu dia menyimpan banyak senjata yang bisa melumpuhkan siapa saja dalam waktu singkat. Huh.
*BESRFRIEND*
"Kwangmin, kau tahu? Rara pindah kemari hari ini!" seru Donghyun hyung antusias. Kami baru saja bermain basket.
"Jinja? Baguslah kalau begitu. Jadi hyung bisa bertemu dengannya setiap hari dan tidak terus mengeluh padaku. Haha,"
"Kau ini. Sudah ya. Aku mau ganti baju. Aku mau menyambut kedatangan yeojachinguku. Kau! Cepatlah punya yeojachingu! haha"
Huh. Donghyun hyung menyebalkan. Aku kan bukannya tidak laku. Banyak kok yeoja yang menyatakan cintanya padaku. Hanya saja orang yang kusuka sudah di rebut olehmu. Awas saja kalau kau sampai menyakitinya. Aku akan merebutnya darimu.
Aku mengganti bajuku dan berjalan menuju kelas. Seperti biasa, duduk di kelasku dan mencoba untuk tidur.
"Hey! Lihat itu Rara eonni. Dia cantik sekali ya?" suara yeoja-yeoja di kelas membuatku membuka mataku. Kulihat Rara noona sedang mencubit pipi bocah bodoh itu. Mwo? Bagaimana bisa? Pasti bocah itu yang menggoda noona duluan. Aku harus memberinya peringatan sekali lagi.
*BESRFRIEND*
"Hei kau anak baru!" panggilku seraya menepuk pundaknya.
"Annyeong!" sapanya seraya membungkukkan badan padaku. Ck. Ia pasti pura-pura baik di depanku. Aku tidak bodoh seperti mereka bocah.
"Apa aku belum bilang padamu kemarin? Jauhi Taehee! Ah, satu lagi Jangan berdekatan dengan Rara noona! Kau mengerti?" ketusku.
Ia mengangguk. Dia penakut sekali. Ia bahkan tidak mau melihatku.
"Ada lagi. Jangan bicara apapun pada hyungku. Atau kau akan tahu sendiri akibatnya," aku meremas bahunya kuat. Aku yakin bahunya sudah merah. Aku tidak salah kok. Aku sudah memperingatkannya dari awal.
*BESRFRIEND*
Ku tendang-tendang punggungnya. Satu. Dua. Tiga. Empat kali. Aku kesal sekali. Kemarin Youngmin hyung melihatku sedang mengancamnya. Hyung memarahiku habis-habisan kemarin. Hyung tidak tahu apa kalau aku sedang menolongnya? Selain itu bocah itu malah pulang bersama Rara noona. Dia benar-benar cari mati!
Selama istirahat aku tidak melihatnya. Kemana bocah itu? Apa dia akan mengadu pada Youngmin hyung?
"Pika, kau tahu tidak?" Taehee membuyarkan lamunanku.
"Apa?" tanyaku.
"Semalam aku jadian sama Winnie. Ah, senangnya," jawabnya girang. Jadian dengan Youngmin hyung?
"Bukannya kau bilang kau suka anak baru itu?" tanyaku memastikan. Aku kan juga tidak mau hyungku dipermainkan oleh yeoja ini.
"Tentu saja aku menyukainya. Untuk pertama kalinya aku punya teman untuk bicara masalah Mickey Mouse. Aku rasa aku akan berteman baik dengannya," jawabnya.
"Jadi kau menyukainya karana dia suka Mickey Mouse? Bukan karena kau mencintainya?" tanyaku lagi.
"Iya. Kau kan tahu sejak dulu yang kusukai itu hyungmu. Ah, rasanya aku senang sekali," ucapnya. "Ini juga berkat Mickey kau tahu. Ia bilang, jika aku menyukai seseorang, bilang saja. Sebelum aku menyesal karena tak sempat menyatakan perasaanku. Lalu semalam aku mengaku. Dan Winnie menerimaku!" tambahnya.
Jadi aku salah paham pada bocah bodoh itu. Ah, tidak. Dia juga mendekati Rara noona. Dia harus membayar untuk itu.
"Eh, kau tahu tidak? Ternyata Mickey itu sepupunya Rara eonni lho?!" bisik Taehee. Mwo? Sepupu Rara noona? Jadi mereka dekat kemarin karena bocah itu sepupu Rara noona? Jadi aku benar-benar salah begitu?
Apa aku harus minta maaf pada bocah bodoh itu? Tidak, tidak. Siapa suruh dia tidak memberitahuku? Dia juga menuruti semua perintahku. Harusnya kan dia melawan saja.
"Jo Kwangmin! Aku kecewa padamu!"
Deg
Youngmin hyung.
Apa dia tahu aku menendang punggung Minwoo?! Andwe!
"Hyung," lirihku.
"Apa yang kau lakukan? Kau menyakiti Minwoo, Jo Kwangmin!" suara Youngmin hyung terdengar berat. Sepertinya ia sedang menahan tangisnya. Mianhe hyung.
"Bisakah kau bersikap biasa saja? Dia tidak tahu apa-apa Pika-ah,"
"Mianhe hyung,"
"Kau harusnya minta maaf padanya, bukan padaku,"
Youngmin hyung pergi meninggalkanku. Ya. Ini semua memang salahku. Aku yang selalu berpikir negatif dan membuat semua orang pergi dariku.
"Pika, aku yakin Winnie tidak benar-benar marah padamu. Kau tenang saja," Taehee memelukku dan mengusap punggungku. Semoga saja begitu.
*BESRFRIEND*
Aku mencari keberadaan Minwoo karena sejak istirahat ia tidak kembali ke kelas. Apa dia sudah pulang? Ku tendang kerikil yang berserakan di jalan. Sebenarnya aku masih bingung antara minta maaf padanya atau tidak. Yang pasti aku harus bertemu dengannya segera.
Ku lihat seorang namja sedang menyebrang jalan. Itu sepertinya Minwoo. Ah itu benar dia. Aku harus menyusulnya.
Bruk
Ku dorong tubuhnya ketika aku melihat sebuah mobil melintas dengan cepat.
Brak
Argh!
Kwangmin POV End
Minwoo POV
Brak
Ku lihat tubuh seseorang tertabrak mobil. Ya Tuhan, itu Kwangmin. Bagaimana bisa dia ada disini?
Aku segera menghampirinya Kwangmin yang terbaring di jalanan.
"Kwangmin-ah, ireona!" teriakku. Ku rogoh saku celanaku dan memanggil ambulance. Tak lupa ku hubungi Rara noona. Sungguh, aku takut sekali. Padahal tadi jelas-jelas tidak ada kendaraan melintas. Kenapa tiba-tiba saja?
Aku menunggu di luar ruang operasi. Apa Kwangmin baik-baik saja? Kenapa ia tidak mengabaikanku saja? Bukankah ia membenciku? Ia baru saja menendang punggungku tadi pagi. Tapi sekarang dia mengorbankan nyawanya untukku. Tuhan, tolonglah ia.
"Minwoo-ah, Kwangmin baik-baik saja?" tanya Youngmin dengan napas yang memburu. Aku yakin ia berlari menuju kesini. Kulihat ada Taehee juga di belakangnya.
"Molla. Dokter masih belum keluar," jawabku. Aku takut. Ini semua terjadi karena aku.
"Minwoo, kau juga terluka!" pekik Taehee. Aku melihat tubuhku. Blazerku sedikit terkoyak dan celana yang ku kenakan berlubang. Mungkin karena benturan diaspal tadi.
"Minwoo kau baik-baik saja?" ku dengar suara Rara noona dari belakang.
"Omo! Chagi, cepat obati lukamu!" serunya ketika melihatku.
Ia memapahku menuju Dokter umum. Suster membersihkan lukaku dan membalutnya dengan plester. Banyak luka kecil di tubuhku. Suster memintaku untuk membuka bajuku juga, memeriksa apa ada luka lain.
"Apa kau baru saja bertengkar?" tanyanya padaku. Aku menggeleng.
"Tapi ada luka memar di tubuhmu," ucapnya.
"Mungkin karena tadi punggungku menabrak trotoar," bohongku.
"Ya sudah," ia lalu mengobati lukaku.
Aku mengenakan pakaian rumah sakit sekarang karena bajuku yang tidak layak pakai menurutnya. Rara noona meminta suster menyiapkan kamar rawat untukku meski ku bilang aku baik-baik saja. Ia juga sedikit marah padaku karena aku berbohong kemarin mengenai bahuku. Juga punggungku yang kini memar.
Aku berjalan bolak-balik mengelilingi kamar rawatku. Aku masih khawatir dengan keadaan Kwangmin. Rara noona tidak membiarkan aku keluar dan menemuinya sedangkan ia sendiri sedang pergi kesana bersama Donghyun hyung. Noona-ku itu menyebalkan sekali.
"Mickey, kau baik-baik saja?" tanya Taehee setelah masuk ke kamarku. Aku mengangguk dan duduk di kasur rumah sakit.
"Pikamin baik-baik saja. Ia sudah dipindahkan ke kamar sebelah," terangnya -mungkin karena tahu kegelisahanku.
"Dia seperti ini karena menolongku," aku-ku.
"Aku tahu. Pika tidak mungkin terluka jika bukan untuk menolong orang lain," ucapnya. Aku mengerti itu. Kwangmin tidak mungkin membiarkan orang-orang yang ia sayangi terluka. Tapi ini beda. Aku adalah orang yang ditolongnya. Aku tidak termasuk orang yang ia sayangi. Ia bahkan membenciku.
"Pikamin tidak membencimu. Dia hanya tak ingin sayang pada lebih banyak orang karena ia takut akan kehilanganmu juga," tambahnya, seakan ia bisa membaca pikiranku.
"Aku juga mengerti kenapa kau pindah tempat duduk. Kau tak perlu melakukan itu lagi nanti. Kita teman Mickey. Tak peduli yang ia katakan padamu untuk melindungi dirinya sendiri, kita tetap teman," ucapnya lagi.
"Gomawo,"
"Untuk?"
"Tidak meninggalkanku karena keegoisanku sendiri,"
"Gwenchana. Bukankah kau korban bullying sekolah? Apa aku bisa menyalahkanmu juga. Haha," candanya lalu merangkul pundakku.
"Kita teman, arra! Jadi kau harus beritahu aku semuanya," serunya.
"Ku rasa aku harus melihatnya sekarang,"
Tak sabar melihat keadaan Kwangmin dengan mata kepalaku sendiri, aku –diikuti oleh Taehee- pergi ke kamar sebelah. Ku lihat Youngmin duduk di sampingnya. Tak ku lihat Rara noona dan Donghyun hyung disana? Kemana mereka?
Aku mendekati Youngmin dan duduk di sebelahnya. Ku lihat kepala dan kaki Kwangmin yang dibalut perban. Sebelah tangannya juga. Dia pantas untuk membenciku setelah semua ini.
"Kau baik-baik saja?" tanya Youngmin ketika melihatku duduk di sampingnya.
"Ne. Aku baik-baik saja," jawabku seraya tersenyum.
"Bagus kalau begitu. Terima kasih sudah menolongnya," ujarnya.
"Seharusnya aku yang berterima kasih. Dia seperti ini karena menolongku," ucapku.
"Kwangmin seperti ini karena dirinya sendiri. Itu keputusannya untuk menolongmu dan dia pasti tahu konsekuensinya sebelum menyelamatkanmu,"
"Tetap saja. Ini semua karena aku yang tidak hati-hati,"
"Sudahlah. Aku rasa Kwangmin akan baik-baik saja setelah bangun nanti,"
Ku anggukan kepalaku mengiyakan lalu kembali ke kamarku.
*BESRFRIEND*
Sudah seminggu ini aku dan Kwangmin dirawat. Kwangmin masih diam padaku. Marah, mungkin. Sejak siuman tiga hari yang lalu, ia tidak mau bicara padaku meskipun aku sudah minta maaf padanya. Melihat tubuhnya penuh dengan perban, aku benar-benar merasa bersalah. Lebih baik aku yang menjalani itu semua karena ini adalah kecerobohanku. Ini lebih sakit dibandingkan dengan penindasan yang pernah kualami selama ini.
Aku keluar dari kamar rawat Kwangmin karena ia menarik selimutnya dan menutup seluruh tubuhnya dengan benda itu. Kurasa ia sedang mengusirku. Aku lebih senang Kwangmin menindasku dibanding mendiamiku seperti ini. Entah kenapa aku merasa ingin bersahabat dengannya.
Minwoo POV End
Kwangmin POV
Sudah seminggu aku berada dirumah sakit karena bertindak sok pahlawan dengan menyelamatkan bocah bodoh itu. Dan seminggu itu pula ia terus minta maaf dan diam di kamarku. Benar-benar menyebalkan. Apa dia tidak tahu kalau sampai detik ini aku masih belum siap bertemu dengannya. Meskipun awalnya aku ingin minta maaf karena sudah menindasnya selama di sekolah, tapi melihat wajahnya membuat aku malu. Bagaimana bisa aku menindas bocah penakut macam dia? Juga mencurigai wajahnya yang benar-benar polos.
Jika dibandingkan dengannya, aku jauh lebih bodoh. Jauh lebih penakut. Kenapa aku masih terus membuat orang lain menjauhiku? Membuatku tak punya teman apalagi sahabat. Kalau bukan karena kami bersaudara, Youngmin hyung juga mungkin akan menghindariku karena kalakuanku yang seperti preman. Belum lagi perilakuku membuatnya dijauhi oleh teman-temannya. Benar-benar beruntung karena Taehee dan Donghyun hyung tidak menjauhi dan tetap menyayangiku. Apa aku harus minta maaf pada Minwoo seperti yang dikatakan Youngmin hyung?
"Kau baik-baik saja?" ku dengar suara Youngmin hyung dari luar. Dia bicara dengan siapa?
"Aku baik-baik saja Youngmin-ah," ah, dia bicara dengan bocah penakut itu.
"Tak usah dipedulikan. Aku rasa Kwangmin hanya malu bertemu denganmu," ucap Youngmin hyung. Hyung, kau benar-benar saudara kembarku!
"Malu untuk apa? Dia membenciku, Youngmin. Aku membuatnya tertabrak dan harus tinggal di rumah sakit. Dia pasti membenciku,"
"Kau tahu, kami ditinggal oleh eomma saat masih kecil. Kwangmin terus menyalahkan dirinya atas kejadian itu. Padahal itu seharusnya kesalahanku,"
"Kenapa begitu?"
"Karena aku meninggalkannya sendirian di Seoul. Seandainya aku tidak meninggalkannya, ia tidak akan meminta appa menyewa penjaga untuknya. Tidak akan melihat bagaimana appa berselingkuh dengan wanita itu. Tidak akan menyakiti eomma dan membiarkannya bunuh diri. Itu salahku karena egois tidak memperbolehkan Kwangmin ikut ke Amerika. Padahal saat itu Kwangmin merengek ingin ikut," itu bukan salahmu hyung. Eomma ...
"Apa karena itu, Kwangmin menghindari dirinya dari orang lain? Karena dia takut melukai mereka?"
"Aku rasa begitu. Kwangmin namja yang baik sebelum kematian eomma. Aku rasa ia tak ingin kehilangan siapapun lagi. Karena itu ia memusuhi orang lain. Mungkin baginya membenci takkan membuatmu sedih jika kehilangan mereka,"
Aku menutup mataku dan mencoba tidur. Aku tidak ingin mendengar suara Youngmin hyung ataupun bocah bodoh itu. Aku merasa seperti ditelanjangi oleh mereka. Begitu mudah dilihat. Begitu rapuh. Aku kan preman sekolah. Mana ada preman yang bersikap bodoh karena hal sepele seperti itu?
Kwangmin POV End
Minwoo POV
Hari ini Kwangmin mulai masuk sekolah. Ia sudah datang sejak tadi. Anehnya, ia hanya duduk dan menelungkupkan kepalanya di meja. Taehee sudah mencoba mengajaknya bicara, tapi ia tetap diam.
Seonsaeng keluar dari kelas setelah member tugas pada kami. Hari ini ada rapat guru jadi ia tidak bisa mengajar penuh. Aku melirik Kwangmin yang ada di belakangku. Ia masih menelungkupka kepalanya. Apa ia masih sakit?
"Kwangmin-ssi,"
"…"
"Kau baik-baik saja?"
Kwangmin tetap diam. Aku menengok kea rah Taehee saat ia menepuk bahuku pelan. Ia menggelengkan kepalanya.
"Biarkan saja. Aku rasa ia butuh waktu,"
Aku menganggukan kepalaku dan kembali pada soal yang seonsaeng berikan.
*BESRFRIEND*
"Kau! Ikut aku!"
Akhirnya Kwangmin bicara setelah entah berapa lama ia mendiamiku. Aku mengekor di belakangnya. Aku rasa ia akan membawaku ke atap sekolah. Aku tidak peduli jika ia akan memukulku lagi atau yang lebih parah dari itu. Aku akan minta maaf sekali lagi dan memintanya jadi temanku!
Minwoo POV End
Author POV
"Maaf," Kwangmin berucap lirih. Minwoo mendongkakkan kepala yang sedari tadi menunduk.
"Kau tak mendengarku?" nada suara Kwangmin meninggi. Ia terlihat kesal dan malu disaat bersamaan. Minwoo hanya diam saja. Wajahnya seakan masih terperangah mendengar kata maaf yang ducapkan Kwangmin barusan.
"Shit! Ya No Minwoo! Kau tuli hah?" kini Kwangmin benar-benar kesal. Minwoo yang tersadar dari keterkejutannya kembali menunduk.
"Mian. Aku.."
"Maaf Minwoo. Kau dengar aku kan? Aku takkan mengatakannya lagi," Kwangmin melemah. Ia tahu jika selama ini ia yang salah. Tidak seharusnya Minwoo yang terus mengucapkan maaf padanya.
"Gomawo," Minwoo tersenyum. Kwangmin menatapnya aneh. Ia beranggapan, seharusnya Minwoo mengatakan, "Ya, aku memaafkanmu" atau "Tidak. Kau kejam sekali padaku". Tapi yang didengarnya,
"Terima kasih Kwangmin," Minwoo berkata lebih keras.
"…"
"Terima kasih untuk permintaan maafmu. Aku senang. Kau tidak lagi membenciku kan? Kau mau jadi temanku?"
Minwoo berujar penuh harap. Ia menatap Kwangmin lekat.
"Paboo!"
Kwangmin tersenyum kecil. Ini berbeda dari perkiraannya. Minwoo jadi ikut tersenyum.
"Ya, kita teman," kata Kwangmin pelan.
Minwoo memeluk Kwangmin sebagai tanda terima kasih. Kwangmin baru akan membalas pelukan itu ketika melihat 2 pasangan bodoh sedang mengintipnya dibalik tembok. Ia melepaskan pelukan Minwoo dan menghampiri keempat orang itu.
"Sepertinya ada yang butuh olah raga,"
Kwangmin mengepalkan tangannya sedangkan Youngmin, Taehee, Donghyun dan Rara berlari sekencang mungkin.
Dan Minwoo?
Dia sedang tertawa melihat ekspresi kelima sahabatnya. Ya, kelima teman baiknya.
END
Side Story
Taehee berlari menuju kelas Youngmin melihat Kwangmin pergi diekori oleh Minwoo.
"Youngmin-ah, Minwoo dibawa kabur Pikamin!"
"Mwo?"
Donghyun dan Rara yang entah kenapa berada di sekitar situ langsung berlari ke atap disusul Youngmin dan Taehee.
Mereka mengendap di balik tembok karena tak mendengar suara dari dua orang yang mereka lihat.
"Aku bertaruh uang jajanku sebulan, Kwangmin pasti minta maaf," suara Youngmin memecah konsentrasi 3 orang lainnya.
"Mengingat ego Kwangmin, aku bertaruh Minwoo pasti minta maaf duluan," suara Donghyun kali ini.
"Atu tidak ikutan. Traktirannya saja siapapun yang menang," ucap Raradiangguki Taehee.
"Maaf," ujar Kwangmin lirih.
"Sepertinya kita akan makan enak," Youngmin tersenyum evil sedang Donghyun mendesah pasrah.
End Of Side Story
