PRESENT

.

.

.

My Monster Sister

Cast:

. Byun Baekhyun Exo - Baekhyun (Yeoja)

. Do Kyungsoo Exo - Kyungsoo (Yeoja)

. Kim Jongin Exo - Jongin (Namja)

. Park Chanyeol - Chanyeol (Namja)

. Kris Exo - Wu Yifan (Namja)

. Suho Exo - Joonmeyon (Namja)

Rated T

Genre: Family, Hurt/Comfort

Warning: GS (Genderswitch),Typos,alur absurd,Penyusunan kata yang tidak sesuai dengan EYD,Cerita murni dari pikiran si penulis. :D

-Happy Reading XoXo-

Summary: Baekhyun dan Kyungsoo adalah saudara kandung yang saling bertentangan, mereka tidak bisa akur satu sama lain. Hingga suatu ketika, datang seorang malaikat yang akan menyatukan mereka. Tapi bagaimana jika kedua gadis itu mencintai Malaikat itu? Akankah hubungan mereka sebagai saudara kandung akan semakin renggang?

It's Chanbaek, Kaisoo, KrisBaek (Slight), Krissoo (Slight), Chansoo (Slight).

.

.

.

Kyungsoo kini tengah meringkukan tubuhnya di atas ranjang. Tubuhnya penuh dengan memar dan luka lebam. Matanya begitu sembab, hingga siapa saja yang melihat Kyungsoo akan merasa pangling.

Saat ini hanya satu yang dia tanyakan dalam hati, "Mengapa Baekhyun membencinya?". Itu saja..

Sementara Baekhyun, ia juga menghabiskan waktu dikamarnya. Meski amarahnya sudah meredam, tapi suasana hatinya masih kacau. Pikirannya terus tertuju pada kejadian tadi siang, mengingat Wu Yifan sama saja mengingat Kyungsoo. Karena semua berawal dari kehadiran Kyungsoo.

Tiba-tiba ponselnya berbunyi, ia melirik ke arah layar ponselnya, sebuah nomor asing. Baekhyun sengaja tak mengangkatnya, pasti itu hanyalah sesuatu yang tidak penting pikirnya.

Panggilan itu sempat terhenti, namun tak lama kemudian panggilan itu kembali. Baekhyun mulai merasa kesal, siapa nomor asing yang sudah berani-beraninya mengganggunya disaat keadaan hatinya sedang kacau ini.

Dengan kasar ia akhirnya mengangkat telpon itu, ia bersumpah jika itu adalah sesuatu yang tidak penting maka ia tak segan-segan akan memaki orang tsb.

"Ya, Byun Baekhyun disini. Siapa disana?" Sapa Baekhyun dengan ketus dan nada tinggi.

"..."

Tak ada jawaban dari seberang sana. Baekhyun menjauhkan ponselnya dari telinga dan memeriksa kembali nomor asing itu. Ia meng-Loudspeaker-kan ponselnya, menunggu jawaban dari orang itu.

Sekitar satu menit lamanya ia membiarkan panggilan itu tetap tersambung, Baekhyun merasa penasaran siapa sebenarnya yang sedang menghubunginya. Kenapa tak ada suara sedikitpun?

"Dengar! Kau salah besar jika ingin mengerjaiku apalagi menggodaku. Aku adalah Byun Baekhyun wanita berusia 35 tahun dan belum menikah, dengan kata lain aku adalah perawan tua. Jadi ku harap siapapun disana setelah mendengar penjelasanku, akan berpikir ulang untuk mengg..."

"Kalau begitu tepat sekali, aku juga seorang bujang tua. Bagaimana jika kita bertemu, apa kau ada waktu,hem?"

DEG!

Suara berat itu... Baekhyun tau persis siapa pemiliknya. Mendengar suara itu, ingatan akan masalalu secara otomatis terputar lagi. Mata sipit itu membesar, bibir tipisnya yang selama ini sibuk untuk memaki, mengumpat dan merutuk pun terbuka cukup besar.

"EHEM.. Apa kau masih disana?"

Lagi lagi suara itu terdengar, tangan Baekhyun gemetaran. Mendadak lidahnya menjadi keluh.

"Jawab aku Baek.. Aku tau kau masih disana."

Baekhyun tersadar dari keterkejutannya, ia pun mulai mengatur posisi duduknya dan berdeham membasahi tenggorokan yang hampir kering.

"Y-Yifan..." Sahut Baekhyun singkat.

"Ah syukurlah kau mau menjawab, kau sedang apa,hem? Apa aku menganggumu?"

Suara itu masih sama seperti 15 tahun yang lalu. Suara berat namun bernada pelan mampu membuat seorang gadis pemarah seperti Baekhyun menjadi tenang.

"Pasti Joonmyeon yang memberitahu nomor ponsel ku kan?"

"Hahahaha... Benar sekali. Tadi siang, saat kau pergi begitu saja. Aku merasa sangat sedih, kenapa kau seperti itu."

Baekhyun menjadi tidak enak, jika dipikir-pikir kenapa ia harus pergi? Padahal sebagai wanita yang tau attitude ia harusnya menyambut Wu Yifan, bukan malah bertingkah kekanakan seperti itu.

"Maafkan aku Yifan, aku hanya..."

"Tak percaya kita bertemu lagi?" Potong Yifan. "Aku juga, aku benar-benar terkejut, dari sekian jutaan manusia di dunia ini, mengapa kita harus dipertemukan lagi." Yifan terkekeh.

"..."

"Dengar Baek, aku ingin kita melupakan apa yang terjadi dimasalalu. Mungkin tuhan merencanakan sesuatu dibalik pertemuan kita kali ini. Jadi, maukah kau berteman denganku?" Pinta Yifan..

"Berteman?" Tanya Baekhyun.

"Ya berteman, memangnya kau mau kita menjalin kasih lagi,hem?"

Keduanya terkekeh. Baekhyun merasa malu.

"Tidak.. bukan begitu maksudku Yifan.."

"Baek, biarkan semua berjalan seiring waktu berjalan, siapa tau Tuhan menginginkan kita lebih dari sekedar teman nanti."

BLUSH~

Baekhyun kini tersipu, pipinya memerah dan raut senyum tergambar jelas diwajahnya. Benar-benar berbeda dengan Baekhyun tadi sore, kecantikan wanita itu seperti kembali seperti semula.

Mereka pun melanjutkan perbincangan mereka di telepon, banyak sekali yang mereka bahas, bahkan mereka membuat janji untuk memperbaiki pertemuan yang sempat kacau itu. Tapi kali ini hanya mereka berdua, tanpa Joonmyeon.

.

.

.

Kyungsoo merasa lapar, semalaman tidurnya tidak begitu nyenyak karena menahan beberapa luka di tubuhnya. Ia bangkit dari ranjangnya dan pergi menuju dapur, barangkali kakaknya yang kejam itu masih memiliki sifat kemanusiawian yaitu membuat sarapan.

Namun itu hanyalah sebuah khayalan, jika ia mengharapkan Baekhyun membuatkan makanan untuk Kyungsoo. Sejak usia 11 tahun saat Kyungsoo duduk di bangku SMP, Baekhyun memberhentikan pelayan dirumah dengan tujuan membiarkan Kyungsoo yang mengerjakan tugas dirumah. Baekhyun hanya akan menyimpan stock makanan seminggu dan uang jajan yang begitu pas-pasan pada adiknya. Karena Kyungsoo harus di didik sesuai aturan Baekhyun.

Entah kali ini apa yang di rencanakan Baekhyun, saat Kyungsoo menemukan beberapa lembar uang di atas meja makan dan memo kecil yang berisikan..

"Persediaan makanan sudah habis, kali ini aku ingin kau yang membelinya. Nanti malam, aku akan memeriksa semuanya."

Setelah membaca memo, Kyungsoo langsung meremas kertas itu hingga menjadi gumpalan kecil. Bagaimana mungkin Kyungsoo harus keluar rumah dalam keadaan wajahnya yang seperti ini? Ujar Kyungsoo dalam hati.

.

.

.

"Dia pasti akan merasa malu..."

Ucapan penuh kelicikan itu terdengar oleh Joonmyeon yang sedang makan siang bersama Baekhyun di cafetaria kantornya.

"Siapa?" Tanya Joonmyeon.

Baekhyun menaikkan sebelah alisnya,

"Bukan siapa-siapa.. Ah, ada yang ingin aku tanyakan padamu.." Baekhyun mengalihkan pembicaraan karena ia tau sahabatnya itu hanya akan memberikan pidato panjang padanya, dan itu sangat membosankan bagi Baekhyun.

"Soal apa?"

"Soal Yifan..."

Joonmyeon yang sedang focus dengan makanannya pun terhenti, ia merasa tertarik dengan pertanyaan Baekhyun kali ini.

"Kenapa dia? Apa ia sudah menghubungimu?"

Jika dilihat dari wajah Baekhyun hari ini, ia sedikit berbeda. Sejak pagi, Baekhyun tak henti-henti tersenyum. Bahkan tak ada keluhan soal adik yang ia benci itu.

Diamnya Baekhyun membuat Joonmyeon mengartikan bahwa Wu Yifan benar sudah menghubunginya.

"Wahhh.. Hebat!"

"Apanya yang hebat?" Baekhyun sesekali meminum milkshake green tea berukuran sedang itu.

"Gerakan kalian begitu cepat ternyata, tak ku sangka. Hahahaha.." Goda Joonmyeon.

"Jadi benar kau yang memberikannya no ponsel ku?"

Joonmyeon melanjutkan makannya, ia hanya mengangguk.

"Kalau begitu, aku harus berterima kasih padamu. Karena yang kau lakukan adalah benar.

Keduanya pun terkekeh. Joonmyeon berharap kali ini Baekhyun benar-benar akan menjatuhkan pilihannya, ia begitu khawatir akan kehidupan asmara sahabatnya. Ya semoga saja~

.

.

.

Kyungsoo kini sedang berada di swalayan yang tak jauh dari rumahnya. Benar-benar butuh perjuangan, karena hampir sepanjang jalan menuju swalayan ia terpaksa harus menjadi pusat perhatian orang-orang. Semua karena Baekhyun yang menghajar sebagian wajahnya, pasti bagi siapa saja yang melihat keadaan Kyungsoo saat ini akan merasa miris.

Kyungsoo memakai hot pants dan Hoodie, ia sengaja memasangkan kupluknya di kepala agar wajahnya tidak terlalu terlihat. Kini ia sibuk mencari-cari apa saja yang harus dibelinya.

"Astaga!"

Kyungsoo menoleh ke arah sosok yang ada disampingnya itu, sosok itu terkejut melihat wajah Kyungsoo dari tampak samping.

Sosok itu.. Tinggi, memakai setelan jas yang sangat rapih dan juga tampan.

"Maaf! Apa kau sedang mengucapkan 'astaga' kepadaku?" Kyungsoo memastikan.

Sosok itu kini semakin jelas melihat wajah gadis mungil yang ada disampingnya. Ia sedikit meringis begitu melihat wajah Kyungsoo.

Merasa tak mendapat jawaban, Kyungsoo berbalik dan berniat ke tempat lain saja.

"Tunggu!" Ujar sosok itu. Langkah mungil itu pun terhenti. Kyungsoo menoleh ke arah pria itu.

"A-ada a-apa?"

Pria itu berjalan ke arahnya. Semakin dekat, hingga terlihat begitu jelas perbedaan tinggi badan mereka. Kyungsoo hanya setinggi dadanya saja.

"Maaf, Wajahmu~" lirih pria itu.

Kyungsoo mengerti, mungkin ia tadi terkejut karena melihat luka memar yang ada diwajahnya saat ini. Ia tersenyum miris..

"Oh ini, ini tidak seperti yang kau pikirkan. Kemarin saat aku bangun tidur, aku terjatuh dari tangga. Ini salahku, karena aku tidak berhati-hati."

Pria itu terdiam, seperti percaya tidak percaya.

"Apa sudah jelas?" Tanya Kyungsoo.

"Siapa namamu?" Pria itu malah berbalik tanya.

Kyungsoo merasa ia hanyalah pria dewasa asing yang entah darimana asalnya dan apa tujuannya menanyakan kondisinya.

"Maaf aku harus pergi, tuan."

"Wu Yifan... Namaku Wu yifan." Seru pria itu.

Mata Kyungsoo membulat saat ia mendengar pria itu malah menyebutkan namanya. Entahlah, ia merasa Wu Yifan adalah pria aneh yang ia temui hari ini.

Kyungsoo memutuskan untuk meninggalkan Yifan, ia harus segera menyelesaikan belanjaannya. Karena ia tidak ingin bertambah banyak pasang mata yang melihat terkejut ke arahnya, sama seperti Wu Yifan tadi.

.

.

.

"Gadis itu... Kenapa ia begitu menderita? Siapa yang membuatnya seperti itu.."

Wu Yifan yang sedang menuju ke arah apartmentnya, ia duduk di bangku penumpang. Sementara sang supir hanya sesekali melihat ke arahnya dari kaca spion dalam sebagai tanda bahwa ia sedang mendengarkan tuannya.

Ada rasa penasaran yang hinggap dalam pikiran Wu Yifan, sebagai pria yang pernah kehilangan adik satu-satunya ia merasa selalu tak tega jika melihat gadis belia yang menderita seperti Kyungsoo. Pasalnya dulu, adiknya meninggal karena kekerasan yang dilakukan oleh ibu tirinya di kanada dulu.

.

.

.

Kini Kyungsoo duduk di taman bersama Jongin. Jongin datang dengan mengenakan pakaian seragamnya dan juga Sepeda yang selalu setia menemani pria Tan itu.

"Perihal kemarin, aku sungguh minta maaf, Soo." Sesal Jongin.

Kyungsoo tersenyum, "Sudahlah, itu bukan salahmu kkamjong! Itu semua salah dia karena hidupnya tidak bahagia. Semua salah dimatanya." Tambahnya.

"Apa Luka itu sakit?" Jongin melihat ke arah wajah Kyungsoo dengan tatapan nanarnya.

"Jangan khawatir, beberapa hari lagi semua akan pulih. Sudahlah~"

Kim Jongin tersenyum miris, ia tau gadis itu hanya sedang berusaha agar tak membuatnya khawatir.

"Kenapa kau berpakaian seperti ini?" Tanya Kyungsoo.

"Oh, semalam ayah dan ibuku tiba dirumah. Mereka belum tau soal Skors itu, karena waktu itu aku menyewa seorang ahjumma untuk berpura-pura sebagai ibuku."

"Apa?" Kyungsoo terkejut.

"Astaga! Lihat mata itu.. Matamu hampir saja keluar, soo." Jongin menunjuk ke arah mata bulat milik Kyungsoo.

"Bodoh! Apa yang kau lakukan.. Aku tidak tau lagi bagaimana jika orang tuamu mengetahui semuanya."

"Percuma saja, tidak ada yang lebih penting dan menarik perhatian orang tuaku selain daripada uang dan bisnis."

Jongin menunduk, Kyungsoo menjadi tak enak hati. Ia tau bagaimana perasaan Jongin saat ia menceritakan soal orang tuanya yang selalu sibuk.

Kyungsoo menyentuh tangan Jongin dan itu berhasil membuat Jongin terkejut dan gugup.

"Jangan pernah merasa sendiri, karena masih ada aku. Kita saling membutuhkan. Bukankah begitu, Kkamjong!"

BLUSH~

Kyaaa~ lagi-lagi Jongin hampir dibuat mati mendadak oleh Kyungsoo, gadis itu begitu baik dan manis. Bahkan Jongin tak menyangka jika Kyungsoo akan mengeluarkan pernyataann seperti itu. Pernyataan yang terekam dengan baik di otak Kim Jongin, bahkan sampai matipun Jongin tidak akan melupakannya.

Senyum kembali merekah di wajah Jongin, ia mengangguk percaya pada Kyungsoo. Melihat respon itu, Kyungsoo merasa senang. Meskipun baru 6 bulan kenal, tapi ia yakin bahwa Jongin adalah sahabatnya yang baik.

.

.

.

Baekhyun sibuk memberantaki lemarinya, pasalnya saat ini ia sedang dilanda rasa bingung. Ya, ia merasa bingung tidak tau harus mengenakan pakaian apa untuk datang ke acara makan malam di Apartment Wu Yifan. Pria itu begitu mendadak, ia mengundang Baekhyun tadi siang saat mereka bertemu di kantor Joonmyeon. Hal itulah yang menyebabkan Baekhyun kelimpungan, sudah cukup lumayan lama Baekhyun tak berkencan dengan seorang pria, terakhir mungkin sudah 3-4 tahun lalu.

"Astaga! Aku tidak mempunyai pakaian sexy. Semua hanya pakaian kantorku saja. Bagaimana ini? Pasti Yifan akan berpikir aku adalah wanita yang membosankan."

Ia sibuk merutuki dirinya sendiri.

Kyungsoo yang sedang makan malam tak sengaja mendengar teriakan-teriakan frustasi Baekhyun. Dahinya berkerut, apa yang terjadi pada kakaknya saat ini. Jika diingat-ingat hari ini Kyungsoo tak melakukan kesalahan apapun, bahkan ia mengerjakan tugasnya dengan baik. Kyungsoo pun melanjutkan makannya, ia mencoba untuk tak peduli.

Setelah selesai makan malam, ia memutuskan untuk langsung masuk ke kamarnya saja. Karena ia tau saat ini keadaan kakaknya sedang tidak baik, ia begitu malas untuk menjadi bahan pelampiasannya malam ini.

Kyungsoo melewati kamar Baekhyun yang ternyata sedikit terbuka, tak sengaja ia melihat dari celah kecil itu dan mendapati pakaian yang berantakan serta Baekhyun yang tengah duduk di depan meja riasnya sambil menangis. Kyungsoo tergerak untuk mendekati pintu itu, diLihatnya wanita kejam itu nampak frustasi. Ada apa? Apa yang membuat wanita kejam itu menangis? Batin Kyungsoo.

"Waktunya tinggal 20 menit, sebaiknya aku bergegas menghubunginya dan meminta maaf bahwa aku tidak bisa datang kesana..." Lirih Baekhyun.

Kyungsoo mendengar itu, ia bisa menyimpulkan bahwa Baekhyun sedang ingin pergi berkencan dengan seorang pria. Ah syukurlah, paling tidak dihati wanita itu masih ada rasa cinta. Pikir gadis mungil itu. Tapi apa yang membuat wanita itu menangis? Bukankah seharusnya saat ini Baekhyun bahagia.

Saat Kyungsoo beranjak dari depan pintu kamar Baekhyun, tak sengaja ia menyenggol pintu tsb, hingga pintu itu terbuka semakin lebar.

KREEEEKKKK~

EH!

"Mati aku!" Batin Kyungsoo.

Baekhyun yang sedang menangispun akhirnya terhenti kala mendengar pintunya terbuka. Ia melirik dari bayangan cerminnya, memastikan ada siapa disana. Benar saja, ia memergoki adiknya tengah berdiri dengan wajah paniknya. Ada yang lebih penting ketimbang memarahi gadis bermata besar itu, Baekhyun memilih untuk melanjutkan tangisnya.

Kyungsoo merasa aneh, ini bukan Baekhyun yang ia kenal. Karena seorang Byun Baekhyun tak akan segan-segan memakinya jika memergoki Kyungsoo berada diwilayah kekuasaannya (kamar Baekhyun). Biar bagaimanapun, sebenci apapun Kyungsoo pada kakaknya tetap saja ia tak bisa memungkiri jika ada darah Baekhyun yang mengalir ditubuhnya. Ikatan batin seorang adik tak terelakan. Ia memberanikan diri masuk ke dalam 'Kandang Singa' itu.

Kreekkkk...

Baekhyun tak bergeming, ia masih dengan tangisannya itu.

Perlahan Kyungsoo berjalan ke arah Baekhyun. Ia mengedarkan pandangannya ke atas ranjang, begitu banyak pakaian yang dihambur-hamburkan Baekhyun.

"Kau pasti bertanya-tanya kenapa aku menangis kan?"

Kyungsoo menghentikan langkahnya. Ia diam tak menjawab pertanyaan Baekhyun. Tiba-tiba Baekhyun menoleh ke arahnya sambil tersenyum sinis.

"Hahahahaha~ apakah aku wanita yang membosankan?" Tanya Baekhyun lagi.

Kyungsoo mundur 2 langkah, ia merasakan hal buruk akan terjadi jika ia tetap berada disana.

"Maaf aku sudah lancang, aku harus pergi." Jawab Kyungsoo berjalan ke arah pintu.

"Tunggu!"

Kyungsoo berhenti lagi, kali ini apa yang akan dilakukan oleh gadis mungil bermata sipit itu?.

"Aku benci mengatakan ini, tapi aku rasa kali ini aku membutuhkan bantuanmu, gadis bodoh." Ujar Baekhyun.

Kyungsoo terkejut dengan pernyataan kakaknya. Ia penasaran ada apa gerangan. Ia berbalik dan menatap mata sipit itu dalam-dalam.

.

.

.

Wu Yifan menikmati malam itu dengan segelas wine, sudah 20 menit ia menunggu Baekhyun. Bahkan di atas mejanya pun sudah tertata rapih beberapa macam makanan yang ia pesan di restaurant seberang apartmentnya. Malam itu Yifan mengenakan kemeja berwarna cokelat nude dan celana bahan hitam. Sungguh pria dewasa yang tampan. Beberapa kali ia melirik ke arah ponselnya, tak ada tanda-tanda Baekhyun yang akan menghubunginya. Mulai timbul perasaan cemas dihatinya, apakah Baekhyun tidak akan datang? Batin Yifan.

Ting.. Tong..

Reflek Yifan berdiri dari duduknya, akhirnya bel itu berbunyi. Ia tau, Baekhyun tidak akan membatalkan janjinya. Segera Yifan menuju ke pintu untuk membukakan pintu.

Ceklekkk...

Benar saja, kini ada seorang gadis cantik yang mengenakan mini dress hitam nan anggun berdiri di depannya.

"Kau sangat cantik, Baek." Terlontar dari mulut Yifan begitu saja.

Mendengar itu, Baekhyun sungguh senang dan terkesima. Sudah lama ia tidak mendapatkan pujian dari seorang pria.

"Bolehkah aku masuk?" Tanya Baekhyun.

"Ah maaf, tentu silahkan. Melihat penampilanmu malam ini, aku jadi lupa menyuruhmu masuk." Jawab Yifan menarik tangan Baekhyun ke dalam apartmentnya.

Melihat perlakuan Yifan sungguh membuat hati Baekhyun berdegup kencang, itu sungguh mengingatkan akan masa-masa dimana dulu mereka masih menjalin kasih.

Yifan mempersilahkan Baekhyun duduk di meja makan, ia menuangkan wine ke dalam gelas kosong yang disediakan untuk Baekhyun. Suasana malam itu begitu romantis, terdengar musik jazz yang lembut, lilin-lilin kecil di atas meja tak lupa setangkai mawar merah di samping gelas Baekhyun.

"Terima kasih." Ucap Baekhyun tersenyum pada Yifan.

"Untuk apa?"

"Atas jamuanmu malam ini."

"Kau suka?"

"Sangat. Seleramu sungguh bagus."

"Hehehehe.. Semua untukmu, Baek."

Yifan mengajak Baekhyun untuk bersulang, setelah itu mereka mulai makan malam.

.

.

.

Kyungsoo kini sedang membaca sebuah komik di kamarnya, sejenak ia menghentikan kegiatannya. Pandangan gadis itu ke arah langit-langit kamarnya, sebuah lengkungan ke atas membentuk di heartlips gadis itu.

"Semoga semua berjalan baik." Ucapnya.

*flashback On

Akhirnya, Baekhyun meminta tolong Kyungsoo untuk memilihkan pakaian yang pantas untuk pergi makan malam bersama Yifan, meski Kyungsoo penasaran siapa pria yang berhasil merebut hati wanita seperti Baekhyun, namun rasa penasaran itu ia urungkan. Karena ia berharap semoga saja sikap menyeramkan Baekhyun akan memudar seiring waktu berjalan.

Kyungsoo tak sengaja melihat ke arah lemari kakaknya, terdapat sebuah mini dress hitam tergantung rapih disana. Baekhyun tau kemana arah tatapan adiknya.

"Tidak, tidak mungkin gadis bodoh!" Ucap Baekhyun.

"Kenapa?" Kyungsoo berjalan ke arah lemari dan segera mengambilnya. "Ini sangat cantik, aku yakin kau akan terlihat sempurna dengan ini." Tambahnya.

"Apa kau sudah gila? Itu terlalu pendek. Aku tidak mau." Tegas Baekhyun.

"Kau ingin berkencan, tentu saja para pria menginginkan wanitanya berpenampilan sexy. Kau mau tau jawabanku atas pertanyaanmu tadi?"

Baekhyun melirik tajam.

"Kau.. Sangat.. Membosankan dan..."

"Apa?" Potong Baekhyun dengan penasaran.

"Kejam!" Timpal Kyungsoo.

Mendengar itu sontak membuat darah Baekhyun naik, rasanya saat itu ia ingin sekali melempar gadis bodoh yang sok tahu itu dengan sisir yang sedang ia pegang.

"Sudahlah, aku tau kau sedang menahan emosimu. Tapi aku rasa waktumu akan terbuang sia-sia jika kau menggunakannya untuk menghukumku. Jadi, cepatlah bersiap. Karena pria mu itu pasti sudah menunggu." Kata Kyungsoo seraya meletakkan mini dress itu di atas tumpukan pakaian Baekhyun yang berantakan di ranjang.

Baekhyun hanya terdiam melihat kepergian Kyungsoo dari kamarnya. Untuk kali ini yang di ucapkan Kyungsoo ada benarnya, mungkin Baekhyun harus cepat bersiap karena Yifan sudah menanti kedatangannya.

*flashback off

.

.

"Jadi selama ini kau sudah berapa kali mengencani wanita dan tak ada yang bisa menggantikan aku? Oh ayolah Yifan itu adalah omong kosong." Ujar Baekhyun sambil menyesap gelas wine, kini mereka berada di depan Tv yang menyala.

"Kau tak percaya?" Tanya Yifan. Kancing kemeja pria itu sudah terlepas 2 akibat suhu tubuhnya mulai memanas karena hampir 1 botol mereka habiskan.

"Kau pikir aku gadis kecil yang bisa kau bodohi, huh?" Jawab Baekhyun yang mulai menyenderkan kepalanya di sandaran sofa empuk berwarna Biru Navy itu. Kepalanya mulai terasa berat, pipinya merona merah akibat wine.

"Lantas, apa yang harus aku lakukan agar kau percaya Baek." Yifan mengusap bibir tipis milik Baekhyun lembut.

"Aku tau, kau sedang menggodaku kan? Dasar Licikkkk!" Baekhyun menyingkirkan tangan Yifan dari wajahnya. Ia bangkit dari duduknya.

"Kau mau kemana?" Tanya Yifan.

"Aku mau pulang, ini sudah malam. Adikku seorang diri dirumah."

Yifan mengkerutkan dahinya, "Adik? Apakah..." Dalam hati Yifan.

Baekhyun merapihkan pakaian dan rambutnya yang setengah acak-acakkan itu, dengan berjalan sempoyongan ia menuju pintu keluar.

"Tunggu Baek! Kau tidak ingin menginap disini?" Tanya Yifan beranjak dari duduknya.

Baekhyun menghentikan langkahnya, ia tersenyum sinis dan menoleh ke arah sosok tampan bertubuh tinggi itu.

"Kita ini berteman, dan teman itu tidak tidur bersama Yifan." Jawab Baekhyun membuat Yifan membuat tersadar betapa kerasnya sifat Baekhyun.

Baekhyun melanjutkan langkahnya.

"Baek, biar ku antar." Teriak Yifan akhirnya memutuskan untuk mengantar pulang Baekhyun.

.

.

.

"Baek apa kau membawa kunci?" Tanya Yifan sambil membantu Baekhyun berjalan ke arah pintu rumahnya.

"Ahh Yifan, sepertinya aku lupa. Kau tekan saja belnya. Adikku akan membukakannya." Jawab Baekhyun yang sudah sangat mabuk itu.

Tanpa pikir panjang Yifan menekan Bel rumah keluarga Byun, saat itu sudah pukul 1 malam. Suasana diluarpun sudah sangat sepi, angin malam begitu dingin menusuk hingga ke sela-sela tulang.

Ting.. Tong..

Tak ada jawaban, Yifan sadar pasti adik Baekhyun sudah tidur dan ia sadar ini cukup mengganggu siapa saja yang mendengar bunyian Bel tsb.

"Lama sekali... Tekan lagi belnya, Yifan." Ujar Baekhyun.

"Aku rasa adikmu sudah tidur, Baek. Ia pasti tidak mendengar suara belnya. Bagaimana ini? Apa kau mau kembali ke apartmentku? Atau kita tidur saja di mobilku, aku akan menemanimu hingga pagi." Usul Yifan, kali ini ia tidak ada maksud apa-apa. Ia hanya kasihan melihat Baekhyun yang sudah lelah, butuh istirahat.

"Tapi besok aku harus ke kantor. Tidak mungkin jika aku menginap ditempatmu. Pakaianku semua ada didalam."

"Benar juga... Yasudah kalau begitu kita tidur saja di mobilku, bagaimana?"

"Terserah kau saja, karena aku sungguh... Ah aku ingin muntah..."

Baekhyun menundukkan tubuhnya dan mengeluarkan segala isi perutnya.

"Huweksss... Huweksss..."

Yifan memijat tengkuk Baekhyun agar ia merasa lebih baik.

"Kau minum terlalu banyak."

.

.

.

Baekhyun dan Yifan berakhir didalam mobil yang terparkir persis didepan rumah Baekhyun. Baiklah, ini sedikit canggung ketika Yifan harus melihat gadis itu tengah tertidur pulas di sampingnya. Wajah itu tidak berubah, tetap awet muda meski usianya sudah 35 tahun. Perlahan Yifan memajukan wajahnya mendekati Baekhyun, hingga bibirnya menempel di bibir gadis yang pernah menjadi kekasihnya itu. Ada rasa yang berbeda di ciuman sepihak ini, selama ciuman itu berlangsung otak Yifan kembali mengingat memori tentang masalalu mereka. Tapi yang teringat hanyalah segala kenangan buruk yang pernah mereka alami, padahal Yifan sangat sadar Baekhyun adalah gadis yang baik. Segera Yifan melepaskan ciumannya.

"Aku.. Aku tidak bisa.." Lirih Yifan.

Yifan begitu hancur saat dimana ia berpisah dengan Baekhyun. Gadis baik yang ia kenal seketika berubah menjadi monster. Yifan tidak sanggup harus menghadapi gadis sekeras Baekhyun, dengan berat hati ia meninggalkan Baekhyun.

Yifan akhirnya menyandarkan kepalanya disandaran bangku kemudi, tak dipungkiri bahwa ia juga merasakan lelah. Ia pun tertidur..

.

.

.

Hari sudah pagi menunjukkan pukul 7 pagi. Kyungsoo bangun dari tidurnya, ia sangat nyenyak semalam, dan pagi ini ia tersenyum karena semalam ia mimpi indah. Jongin hadir ke dalam mimpinya, mereka bermain dipantai dengan bahagianya. Di sela-sela aksi mereka, Kyungsoo melihat sosok ayah dan ibunya tengah melambaikan tangannya ke arah mereka. Meskipun Kyungsoo tidak pernah melihat secara langsung bagaimana wajah asli orang tuanya, tapi Kyungsoo bisa mengenalinya dari photo-photo yang ada diruang tengah rumahnya. Mimpi itu begitu nyata, tak heran jika saat ini ada air mata bahagia yang keluar dari sudut mata Kyungsoo.

Lamunan Kyungsoo dikejutkan oleh suara bel yang berbunyi, siapa tamu yang datang sepagi ini pikir gadis itu dan kenapa Baekhyun tak membukakan pintunya. Diliriknya jam di atas nakas, pasti Baekhyun sudah pergi kekantor. Ia pun turun untuk melihat siapa yang datang, Bel itu terus saja berbunyi seolah-olah tidak sabar untuk dibukakan pintunya.

"Yaa tunggu sebentar." Teriak Kyungsoo berlari kecil.

CEKLEK!

BRUMMM...

Ternyata Baekhyun yang berdiri di depan pintu sedang melambaikan tangan ke arah mobil sedan merah yang baru saja pergi itu. Kyungsoo heran, kenapa Baekhyun yang datang.

"Kau! Kenapa lama sekali membukanya?" Tanya Baekhyun sambil melewati Kyungsoo begitu saja.

"Aku baru saja bangun.. Kau menginap?" Tanya Kyungsoo mengikuti Baekhyun dari belakang.

"Buatkan aku susu hangat! Kepala ku sungguh pusing." Titah Baekhyun sibuk memijit-mijit kepalanya, ia terduduk lemas di sofa depan Tv. Wajahnya sungguh kacau efek dari mabuk semalam.

Kyungsoo menuju dapur, ia membuatkan kakaknya susu hangat dan roti panggang untuk sarapan. 15 menit kemudian Kyungsoo kembali dengan membawakan 2 potong roti dan segelas susu hangat.

"Sarapanlah.. Susu hangat bagus untukmu daripada kopi." Ujar Kyungsoo dingin, Baekhyun meraih itu tanpa menoleh ke arah Kyungsoo.

"Sepertinya aku harus menghubungi Suho, aku meminta izin hari ini." Lirih Baekhyun, matanya begitu sayu.

Kyungsoo pergi meninggalkan Baekhyun, ia pergi ke halaman depan dan memutuskan untuk membersihkan halaman. Ia yakin hari ini akan terasa membosankan, karena si monster itu ada dirumah.

.

.

.

Seharian Baekhyun menghabiskan waktu di kamar. Kyungsoo pun demikian, mereka hanya keluar kamar jika mereka merasa lapar. Itu sungguh membosankan menurut Kyungsoo. Tiba-tiba..

PLUK!

PLUK!

Kyungsoo terkejut siapa yang sudah melempar jendela kamarnya dengan batu, ia merasa kesal dan menuju jendelanya untuk melihat siapa pelaku itu.

"Yak!" Kyungsoo teriak, tapi seketika matanya membulat saat ia mendapati Jongin adalah pelakunya.

"Kau! Apa yang kau lakukan?" Tanya Kyungsoo.

"Ssssttttt.. Jangan berisik, apa kakakmu sudah pulang kerja?" Tanya Jongin berbisik.

"Ia sedang sakit dan tidak bekerja. Ada apa?"

"Turunlah, temani aku ke taman."

"Kau gila? Ini sudah pukul 8 malam, aku tidak boleh keluar. Dia akan menghukumku jika mengetahuinya."

"Apa kau tidak bosan? Disana ada perkumpulan anak-anak basket. Apa kau tidak ingin melihat pria-pria tampan?" Ucap Kkamjong menaikturunkan alisnya.

Kyungsoo mulai tergoda, ia pikir tak ada salahnya jika pergi kesana secara diam-diam. Toh, Baekhyun sedang sakit pasti dia sudah tidur dan tidak akan mengetahui jika Kyungsoo pergi.

"Baiklah, tunggu sebentar."

Kim Jongin senang karena Kyungsoo bersedia untuk menemaninya malam ini, ia akan merasa bangga karena bisa membawa gadis semanis Kyungsoo dan yang pastinya akan ia pamerkan nanti pada teman-temannya.

Tak lama Kyungsoo sudah ada di hadapannya, gadis bergaya santai itupun kini tersenyum padanya. Malam ini, Kyungsoo memakai celana jeans dan crop top bergambar pororo membuatnya semakin imut. Ia biarkan rambutnya di kuncir tinggi, tak lupa juga kalung Coker yang bertengger di leher jenjangnya.

"Ayo, aku sudah siap." Ujar Kyungsoo.

"kakakmu sedang apa?"

"Ia sudah tidur. Semalam ia pergi berkencan, tadi pagi ia pulang dalam keadaan kacau, aku rasa ia mabuk. Ya, kau pasti tau kencan orang dewasa itu seperti apa."

"Ahh yasudah, cepat naik. Kita sudah terlambat."

Kyungsoo naik ke sepeda Jongin, kali ini ia berdiri di pedal yang berada di belakang. Mereka pun menuju Taman yang tak jauh dari rumah mereka.

.

.

.

Suasana Taman itu begitu ramai, terdapat 30 orang. Itu adalah perkumpulan dari club basket Jongin. Para anggota terdiri dari anak-anak, para remaja dan usia 20-an, semuanya adalah laki-laki. Ada yang sedang bermain gitar dan bernyanyi, ada yang berlatih basket ada juga yang sekedar berbincang.

"Wahhh suasananya seru sekali, kkamjong." Ucap Kyungsoo turun dari sepeda Jongin. Pandangannya tak lepas dari orang-orang yang ada disana.

"Tentu, itulah tujuan kami bergabung di club ini. Selain menyalurkan hobi, kami juga bersosialisasi, Kyung. Ayoo, kita kesana, aku akan mengenalkanmu pada mereka."

Jongin jalan bersampingan dengan Kyungsoo. Beberapa dari mereka memperhatikan kedatangan Jongin dan Kyungsoo. Gadis itu menunduk malu, karena beberapa kali ia tak sengaja melihat para pria itu mengedipkan mata ke arahnya. Mereka menggoda Kyungsoo.

"Siapa yang kau bawa itu, kai?" Tanya ketua club.

"Kai? Kau mengubah namamu?" Bisik Kyungsoo.

"Tak ada yang mengetahui nama asliku disini, mereka memanggilku Kai. Bukankah itu lebih keren." Jawab Jongin.

"Ini kenalkan, Byun Kyungsoo. Ia adalah sahabatku." Jawab Jongin pada Ketua Clubnya.

"Perkenalkan, aku Byun Kyungsoo. Kalian bisa memanggilku Kyungsoo." Kyungsoo memperkenalkan dirinya sambil membungkuk berkali-kali dengan sopan.

"Selamat datang, ku harap kau bisa mendapatkan teman baru disini." Sahut ketua club.

"Senang bertemu denganmu."

Akhirnya Kyungsoo pun mulai bergabung dengan teman-teman Jongin, ia sangat senang mempunyai teman baru. Jongin juga ikut merasakan kebahagiaan yang ada pada Kyungsoo, ia melihat mata itu begitu berbinar. Wajar saja, Kyungsoo tidak seperti remaja pada umumnya, jauh dibalik keceriaannya malam ini, ia memiliki tekanan batin. Jongin sedih jika harus mengingat hal itu.

"Hai Kai, bagaimana jika kita bertanding. Aku sudah lama tidak bertanding denganmu." Ucap Minho salah satu anggota disana.

"Baiklah, mari kita bertanding kita lihat apakah kini kau sudah bisa mengalahkanku atau tidak." Jawab Jongin sambil terkekeh.

"Nona Kyungsoo, bolehkah aku meminjam Kai-mu sebentar?" Izin Minho.

"Tentu, bertandinglah." Jawab Kyungsoo.

"Fighting kkamjong!" Kyungsoo memberikan semangat.

Pertandingan Jongin dengan Minho cukup menarik perhatian para anggota, seketika mereka semua menghentikan kegiatannya dan mulai berdiri di samping arena lapangan, mereka memberikan semangat dan dukungan untuk dua pria tampan itu.

Kyungsoo merasa sedikit kesal karena tubuhnya yang pendek itu harus terhalang oleh beberapa pemuda yang bertubuh lebih tinggi darinya. Ia berusaha keluar dari kerumunan itu, dan memutuskan untuk duduk saja di salah satu bangku yang ada di Taman. Saat ia membalikkan tubuhnya, matanya tak sengaja mendapati sosok yang sedang menyendiri di bangku yang sedikit jauh dari tempat ia berdiri sekarang. Kyungsoo merasa tak asing dengan sosok itu, Kakinya melangkah dengan sendirinya menuju ke arah sosok itu. Ia terus memutar otak untuk mengingat siapa sosok tak asing itu.

Setelah setengah perjalanan ia baru ingat jika sosok itu adalah... Oh astaga! Benarkah sosok itu adalah pria yang dimaksud?

TBC

.

.

.

Haiiiii... Ketemu lagi sama aku di Chapt. 2 ya, gak nyangka banget kalau ternyata debut Ff ku bisa dapet feedback dari kalian. Walaupun Reviewnya cuma sedikit, tapi it's okaylah. Namanya juga Author baru. Hhe

Btw, maaf ya kalau mungkin di Chapt. 2 ini agak sedikit ngebosenin atau ada gak nyambungnya. Tapi semuanya pasti akan ada penjelasannya kok di chapt selanjutnya.

Awal-awal mungkin memang masih terfokus sama Kaisoo moment ya, karena kan Chanyeol datengnya di pertengahan. Kaya inspektur Vijay :D , jadi yg udah gak sabar mau liat Chanbaek moment mohon tingkat kesabarannya ditingkatkan lagi. Ehh *dikeplak..

Oh ya aku mau balesin Reviewnya dari para temen-temennya sekaligus aja aku jabarin ya, semoga pertanyaan kalian terjawabkan.

Disini aku sengaja buat karakter Jongin yg gak begitu kuat tapi gak lemah juga sih, apa daya bukan dia gak Gentle tapi kan dia masih anak-anak, dia jadi gak bisa berbuat banyak. Kira-kira siapa ya si Malaikat itu? Yifan apa Chanyeol? Rahasiaa.. Dan kenapa aku buat Baeksoo disini adik kakak? Karena aku bosen ngeliat mereka sahabatan mulu. Sekali-kali kan gak apa, apalagi kalau diperhatiin cocok banget Baekhyun jadi cewek cerewet yg galak, sedangkan Kyungsoo pendiam, jutek dan misterius. Mungkin di awal-awal Kyungsoo akan menderita, tapi semoga aja semua penderitaan dia akan berakhir bahagia. Amiiinn.. Dan masalah penulisan aku, mohon maaf jika masih ada yang kurang. makasih kritikannya, aku bakal berusaha bikin yang lebih rapih lagi ya penulisannya.

Gimana? Lanjut atau enggak nih? Review, please!

Pai-pai :D