Tampaknya laki-laki tinggi itu tengah bersenang hati, ia tak berhenti bersiul sejak tadi. Membiarkan helai ash gray nya koyak tak tertata, menanggalkan jubah hitam yang sejujurnya tak seberapa disukainya. Berbalut pakaian serba hitam yang memperlihatkan dada bidang dan punggung lebarnya.

Sepasang iris abu-abu gelap itu beriak bahagia. Berkutat dengan ruangan tak terpakai yang telah disulapnya sebagai sebuah kamar bernuansa kelabu, yang sebagian besar dilakukannya tanpa tenaga, sebenarnya.

Benda-benda itu bergerak di udara, menata dirinya masing-masing dengan posisi yang akurat. Sebuah kamar dengan box bayi bercat hitam dan berkelambu senada, dibagian atasnya terdapat seekor gagak dengan matanya yang menyala merah.

"Aku membawa boneka, menurutmu Lisa suka yang mana?" pemuda bermata hijau yang indah bertanya, berdiri didepan kamar dengan 2 boneka berbeda bentuk di kedua tangannya.

Laki-laki berkulit pucat itu menoleh, mendekap sebuah guling mini berbentuk naga yang lucu. Dahinya berkerut samar, meneliti 2 boneka yang dibawanya oleh putranya.

Sebuah boneka porselen cantik bertaring dengan rambut putih panjang dan sebuah boneka beruang dengan mata semerah darah.

"Entahlah, menurud mu? Kalau aku, aku akan pilih boneka beruang itu" ucapnya, meletakkan guling yang dibawanya ke dalam box bayi yang cukup besar.

"Aku juga berpikir begitu. Tapi boneka porselen ini cocok untuknya, lihatlah, mereka memiliki warna mata yang sama" Chanyeol kembali mengamati kedua bonekanya.

"Apakah Sehun belum kembali?" menegapkan punggungnya, ia menggulung lengan kemeja hingga se siku.

"Aku belum melihatnya. Aku akan kembali untuk melihat boneka yang lain, banyak sekali yang memberi hadiah boneka" kata Chanyeol sambil lalu.

Kris kembali mengecek kelambu box bayinya, tersenyum melihat jika tempat tidur bayinya telah siap, ia membalikkan badan, yang dihadapkan oleh kemunculan Putra keduanya yang terlihat sedikit agak kacau dengan bekas ranting kecil pohon dan dedaunan yang tersangkut di pakaiannya.

Putra yang juga mewarisi ketampanannya, namun kulitnya lebih pucat, irisnya gelap seperti milik istrinya.

"Kau terlihat berantakan, son"

Sehun mendengus, meletakkan sebuah keranjang anyaman di lantai yang penuh dengan mawar berwarna hitam. Kemudian menepuk-nepuk pakaiannya yang kotor, dahinya mengernyit tak suka saat mencabut ranting kurus yang membuat penampilannya buruk.

Kris beranjak mengambil keranjang bunga itu, mengambil setangkai, tapi dalam hitungan per mili second, bunga itu lenyap menjadi abu tak bersisa di tangannya.

"Sarung tangan dad, kau lupa sarung tanganmu" ucapnya sibuk sendiri. "Aku akan membantu Chanyeol memilah-milah hadiah"

"Ya, bereskan secepatnya. Sebentar lagi kita akan menjemput Ibu dan adik kalian"

Sehun mengangguk, terliat sangat antusias di mata gelapnya. Pemuda itu beranjak meninggalkan sang Raja yang kini tengah memakai sepasang sarung tangan untuk menata mawar yang telah dipetik putranya.

Tak lagi ada benda melayang dan bergerak tanpa sentuhan, hanya terdengar nada bersiul dari sang Raja yang tengah berbahagia.

Ia dan kedua putranya, oh! Dan tak lupa seluruh penghuni alam Dunia Bawah saat ini sedang bersuka cita karena kelahiran putri pertama mereka. Yang kabarnya sudah tersebar ke seluruh alam, bahkan kemarin setelah proses kelahiran itu usai, ia menerima kunjungan dari Raja Dark Elf yang dikenal tak pernah menampakkan dirinya dimanapun.

Tampaknya Kris memiliki bakat untuk mendekorasi sebuah ruangan, ia tak membutuhkan pertolongan siapapun saat mengerjakannya. Saat sebuah foto berbingkai diletakkan disebuah meja bundar kecil, seorang pelayan datang memberitahu jika waktunya akan segera tiba.

Raja kelima underwolrd itu menatap puas kamar buatannya, tak lupa memerintah 2 penjaga di depan kamar bayinya. Kris beranjak untuk berganti pakaian dan membenahi diri, melewati jubah hitamnya yang cukup berat. Warna hitam yang kelam memang sangat cocok di kulitnya, tapi warna yang berbeda

Chanyeol dan Sehun juga mengganti pakaian mereka. 3 ekor cerberus mengikuti dengan jinak. Para pelayan Raja menunduk memberi hormat.

*

*

Belah bibir layaknya persik itu terbuka untuk menghembuskan nafas samar, tak tertarik untuk mengangkat dagu sekedar melihat bayangan dirinya di cermin. Lebih memilih untuk mengamati sepatu yang menjadi alas kakinya ketika 2 orang pelayan menata pakaian dan rambut hitamnya.

"Apa anda tidak menyukai pakaian ini, Yang Mulia?" pelayan wanita bertubuh kurus bertanya cemas.

Pemuda itu mengerjap, otomatis mengangkat kepalanya dan melihat wajah si pelayan yang tampak takut. Buru-buru ia menggelengkan kepala.

"Tidak, pakaian ini bagus"

"Tapi mengapa Yang Mulia terlihat mendung? Apa ada yang mengganggu anda?"

Tao tersenyum, melengkungkan belah persiknya yang terbelah sejak awal. Senyum yang disukai oleh semua penghuni Dunia Bawah.

"Aku tidak memikirkan apapun, aku hanya sedikit cemas jika pesta perayaan itu benar-benar diadakan"

Pelayan lain baru saja selesai menata rambutnya ーponi dan aksesoris telinga berbentuk tengkorak sangat manis untuknyaー kemudian memasangkan sebuah kalung ketat di lehernya.

"Anda hanya terlalu cemas Yang Mulia. Ini adalah kelahiran ketiga dan seorang Putri telah hadir, semua penghuni underworld sangat senang"

Tao menggigit bibirnya yang basah, kemudian tersenyum saat melihat keyakinan di mata kedua pelayannya. Mereka kembali bekerja, kini mempercantik wajahnya dengan riasan tipis yang sanggup membuat siapa saja terpana. Tak terkecuali, bahkan kedua putranya sendiri.

Dan semuanya selesai tepat waktu, ia ditinggalkan seorang diri di ruangan itu. Dan sebuah ketukan terdengar mengalihkan agensinya.

Jantungnya berdetak cepat, mengawasi pintu yang perlahan terbuka, dan sosok tinggi tegap Chanyeol juga Sehun membuatnya semakin cemas.

Kedua Pangeran tampan itu bergerak ke samping, memberi jalan pada sang Raja yang membawa sebuah buntelan berbalut kain merah darah di dadanya. Berjalan mendekat dengan terkaman iris yang medamba, membuat hatinya bergetar.

Dan sang Raja berlutut di hadapannya dengan satu kaki tertekuk dan lutut yang menyentuh lantai.

"Lalisa, putri cantik kita Taozi" senyum memikat itu tersemat. Meletakkan buntelan yang cukup besar itu diatas pangkuannya.

Darahnya berdesir, jantungnya meletup-letup ketika sepasang iris indah berwarna ruby menatapnya lugu dengan senyum lebar khas bayi.

Sangat cantik.

Hidung dang bibirnya adalah warisan darinya, sementara rambut dan matanya adalah milik sang Raja. Ia akan tumbuh menjadi putri yang sangat cantik di seantero Dark World.

"Sangat mirip dengan kita" mengusap tangan mungil yang menggengam erat jari telunjuknya, Kris mengecup dahi bayinya.

"Ya, putri yang cantik" Tao berkata lirih, suaranya agak bergetar.

Kris tersenyum, mengusap pipi istrinya.

"Kau masih yang tercantik, Taozi"

Pemuda itu tertawa kecil, memukul bahu sang Raja main-main. Menerima kecupan di bibirnya yang merah, yang kemudian berubah menjadi ciuman dalam yang berhasrat.

"Jika kalian lupa kita berdua masih berada disini" Sehun berkata lantang.

Tao mendorong bahu suaminya segera, melihat ke arah pintu dimaba kedua putranya yang masih berdiri menjulang disana. Ia memerah malu, karena ciuman tadi disaksikan oleh kedua putranya.

"Warna merah sangat cocok untuk mu" Chanyeol meraih tangan kanan Tao dan mengecup punggung tangannya.

"Apakah kita membuat tema? Seingat ku tidak ada peraturan semacam jika kita semua harus berpakaian warna merah" Sehun berceletuk, memperhatikan pakaian ketiga keluarganya. Dan anggota keempat baru mereka yang berada di pangkuan.

"Boleh aku menggendong Lisa?" si sulung bertanya penuh minat. Mata hijaunya berbinar menatap adiknya yang masih bayi. Tao mengangguk.

"Tentu saja, Lisa adikmu. Hati-hati menggendongnya"

Chanyeol harus merendahkan tubuhnya sejajar dengan Tao yang masih duduk, mengambil Lisa yang sangat tenang ke dalam gendongannya. Berdua bersama Sehun menyapa adik mereka yang baru berusia 3 hari namun dengan ukuran tubuh seperti bayi berusia 2 bulan.

"Apa kau merasa baik saat ini?" mengusap punggung sang istri, ia bertanya lembut. Membuat keping kelam Tao teruju padanya.

Ia mengangguk. "Sangat baik. Kau?"

"Tidak ada yang lebih baik daripada melihat istri ku yang kembali sehat" senyum memikat itu kembali terulas.

Merekatkan bibir lagi, Kris mencengkram pinggang sempit Tao. Menuntut agar pemuda itu mengikuti permainan lidahnya, memperdalam ciuman. Dan masa bodoh ketika kedua putra mereka memprotes, karena ciuman kali ini benar-benar tidak tahu tempat.

Tao melenguh saat berhasil meloloskan diri dari terkaman bibir tebal Kris. Wajahnya memerah, menatap Chanyeol dan Sehun dengan pandangan minta maaf. Meski begitu berusaha mendorong bahu lebar sang Raja karena kini lelaki tampan itu berusaha menandai lehernya.

"Kau tidak berencana membuat anak keempat di depan kami 'kan, Yang Mulia?"