O0o.*.o0O

WHISPER

ONE PIECE © EIICHIRO ODA

SANJI x NAMI x ZORO

TEEN

oOoO0o.*.o0OoOo

CHAPTER II

.

.

"Apa kau yakin dengan apa yang baru saja kau ucapkan?"

"Aku tidak punya pilihan lain. Saat ingatannya kembali semuanya akan tetap berakhir, Ayah!"

"Aku tahu bagaimana keras kepalanya putriku, tapi yakinlah dalam lubuk hatinya dia tidak menginginkan perceraian ini. Pikirkan sekali lagi sebelum kau menandatangani surat perceraian itu…"

==Flashback==

"Apa lagi yang kita tunggu? Jika tidak cepat kita bisa terlambat datang ke konser Dylan!"

Sanji melirik arlojinya untuk yang kesekian kali, "Kumohon… kita tunggu beberapa menit lagi ya?"

"Percuma kita menunggunya, dia tidak akan datang!" sahut Usopp dari dalam mobil.

"Dia?" Nami menatap Usopp lalu beralih menatap Sanji, memincing. "Sebenarnya siapa yang sedang kita tunggu?"

"Hmmm… kita sedang menunggu…" Sanji menggantung kalimatnya. Bingung harus menjawab apa. Jika Nami tahu bahwa mereka sedang menunggu Zoro, emosinya pasti langsung meledak seperti bom atom. Bagaimana tidak, pria berkelapa hijau itu adalah musuh bebuyutannya.

Tidak ada yang tahu pasti alasan mereka bisa saling membenci. Yang jelas mereka sudah seperti itu sejak pertama kali bertemu. Layaknya seekor anjing dan seekor kucing, mereka selalu punya alasan untuk bertengkar. Sanji—sebagai orang terdekat mereka—sampai bingung harus bersikap bagaimana.

Sebagai seorang kekasih sekaligus seorang sahabat dia sudah menghalalkan segala cara untuk mendamaikan keduanya. Tapi apa daya, baru lima menit baikan mereka sudah bertengkar lagi.

"Sudahlah! Aku tidak peduli siapa orang yang sedang kau tunggu. Jika kau masih mau menunggunya, silahkan! Aku akan berangkat sendiri dengan kereta!"

Sanji meraih tangan Nami dan menahannya pergi. "Baiklah, kita berangkat sekarang!"

Di tempat lain.

Di pinggiran pantai, tempat Zoro berada.

"Kenapa kau masih ada disini? Sekarang sudah bukan jam kerjamu lagi…" sahut Franky.

Zoro menengok sebentar lalu kembali menatap pesisir pantai.

"Tadi Sanji meneleponku beberapa kali, dia terus menanyakan keberadaanmu. Bocah itu pasti sangat ingin kau melihat konser Dylan malam ini."

Zoro menenggak minuman kalengnya, "Aku tidak akan pergi kesana."

"Sudah kuduga kau akan berkata seperti itu," sahut Franky lalu duduk di samping Zoro. Dia merogoh saku bajunya, mengambil ponsel dan melihat jam di layar ponselnya itu.

Jam 11 lewat 53 malam.

"Mungkin terlalu cepat, tapi aku ingin segera mengucapkannya…"

Zoro mengangkat alis kirinya, melirik Franky. "…?"

"Selamat ulang tahun, Zoro!" sahut pria berambut nyentrik ala Ace Ventura itu sambil meletakan telapak tangannya yang besar ke kepala hijau Zoro. "Lima tahun hidup dalam asuhanku, kurasa belum ada satupun hal baik yang kau terima dariku. Karena itu, saat proyek kapal impian ini berhasil, akan kukirim kau kesana—ke tempat impianmu berada."

.

.

"Lagu yang Dylan nyanyikan diakhir konser benar-benar membuatku terharu, huhuhu~" sahut Nami sambil mengusapkan tisu, menyeka air matanya.

"Kami juga terharu," sahut Usopp dan Chopper bersamaan. Muncul air mata komikal yang bergelayutan di mata mereka.

"Lagu itu pasti diciptakan dengan sepenuh hati, sampai aku bisa merasakan kerinduan yang Dylan rasakan."

"Zoro pasti menyesal karena tidak datang ke konser ini!" sahut Chopper, masih menangis komikal.

"Zoro?" Nami langsung melirik Sanji saat sadar bahwa orang yang hampir membuatnya terlambat ke konser adalah laki-laki yang paling dia benci di dunia ini. "Jadi cowok barbar itu yang kau tunggu?!"

"Ma-Maafkan aku, aku tidak mengatakannya padamu karena aku takut kau akan marah," sahut Sanji salah tingkah. "Hari ini adalah hari ulang tahunnya jadi aku mengajaknya, karena aku tahu dia juga sangat mengidolakan Dylan."

"Jangan bercanda! Mana mungkin cowok kasar seperti dia mengidolakan kelembutan suara Dylan. Aku tahu kau hanya mencari-cari alasan agar bisa bersamanya?"

"Bersamanya?"

Nami berbalik membelakangi Sanji. "Sebenarnya siapa kekasihmu? Aku atau cowok barbar itu?" sahutnya sambil mendramatisir keadaan.

Aku ini laki-laki normal, batin Sanji. Sweatdrop.

"Aku dan Marimo berteman sejak kecil, dia sudah seperti saudaraku sendiri. Jadi kau jangan salah mengartikan hubungan kami…"

"Tapi itu membuatku cemburu!" Nami merapatkan mata lalu meninju Sanji. Geregetan.

BUAGH~!

==Flashback End==

Sanji terpental akibat tinju Zoro yang menghantam pipinya. Dia segera bangkit dan balas meninju Zoro.

BRAAKK!

Sanji menarik kerah Zoro, "Kau anggap apa aku ini, sampai kau bisa mengambil keputusan seenaknya!"

"Teman!" Zoro meninju Sanji lagi.

BUGGH!

Sanji merapat ketembok dan berusaha bangkit berdiri.

"Hanya teman?" Sanji terkikih sebentar lalu membalas tinju Zoro. "TAPI BAGIKU KAU LEBIH DARI SEKEDAR TEMAN!"

"…!" Zoro.

"Tidak akan kubiarkan kau bertindak seenaknya!" sahut Sanji lalu mengambil map yang berisi surat gugatan cerai Nami dan beranjak pergi.

"Jika kau memang menganggapku lebih dari sekedar teman, kau harus melakukan apa yang telah kukatakan!"

"…" Sanji menggeretakan gigi—menahan geram.

"Karena itu terbaik…"

"Terbaik untukmu, tapi tidak untukku…" sahut Sanji tanpa menoleh.

Zoro menatap punggung Sanji yang mulai menjauh dan menghilang dari pandangannya. Dia tertunduk dan menghela putus asa. "Tidak hanya untukku, tapi inilah yang terbaik untuk kita semua. Aho!"

.

.

Jika kau memang menganggapku lebih dari sekedar teman, kau harus melakukan apa yang telah kukatakan!

"Sial! Kenapa kata-kata itu terus terngiang di kepalaku?" Sanji memukul-mukul ringan keningnya. Dia mengambil cincin dalam saku jasnya, "Apa yang harus aku lakukan sekarang?"

"Sanji! Disini kau rupanya…"

"Usopp…"

"Nami terus mencarimu, sebaiknya kau segera menemuinya sebelum dia menghancurkan semua barang yang ada."

"Baiklah! Setelah membereskan ini aku akan menemuinya," sahut Sanji sambil berpura-pura menata dokumen di atas meja kerjanya.

Setelah Usopp pergi dia terduduk lemas dalam kursinya.

Beberapa menit kemudian…

Sanji berdiri di depan kamar Nami dirawat. Sekali lagi dia memandangi cicin yang membuatnya dilema berat. Setelah ini aku benar-benar tidak tahu harus meminta maaf atau mencacimu. Tapi aku berharap kau tahu, aku tidak pernah berniat menghianatimu, Marimo! Sanji bergumam lalu memasukan cincin itu ke jari manisnya.

"Sanji-kun!" Nami tiba-tiba membuka pintu.

"…?" Sanji terkejut karena belum siap menghadapi Nami.

Wanita berambut orange itu langsung beringsut ke pelukannya, "Apa aku telah melakukan sesuatu yang membuatmu marah sampai kau terus menghindariku?"

Sanji mengusap kepala Nami dengan tangannya yang gemetar, "Maaf, disaat kau membutuhkanku, aku malah sibuk memikirkan pekerjaan."

Nami melepas pelukannya. "Kau tidak perlu meminta maaf, aku bisa mengerti. Lihat sekarang kau sudah menjadi seorang dokter. Akulah yang seharusnya meminta maaf karena aku tidak bisa mengingat saat-saat indah kita!"

"Nami-san…"

Nami meraih tangan kiri Sanji dan tersenyum menatap cincin yang melingkar di jari manis pria itu. "Meski tidak bisa mengingat saat-saat bahagia di hari pernikahan kita, aku lega karena kaulah pria yang akhirnya kunikahi. Aku mencintai…" ungkap Nami lalu meraih wajah Sanji dan menciumnya.

Sanji terbelalak karena tiba-tiba Nami menciumnya. Dan kedua bola matanya semakin terbelalak saat menyadari bahwa Zoro sedang berdiri diujung koridor memandanginya yang sedang berciuman. Marimo?! Ini tak seperti yang kau pikirkan, serunya dalam hati.

"Kau baik-baik saja?" tanya Franky

"Ya!" sahut Zoro lirih. Dia mengurungkan niatnya untuk menjenguk Nami dan berbalik pergi.

Diluar rumah sakit.

Franky meraih pundak Zoro dan menghentikan laju kaki pria penggila pedang itu. "Jika kau baik-baik saja, tidak seharusnya kau melarikan diri seperti seorang pecundang! Aku tahu kau tidak baik-baik saja. Tapi inilah buah dari keputusan yang telah kau ambil!"

"Aku sedang malas membahas ini, beri aku waktu untuk sendiri!"

Drrrrt~! Drrrrt~! Drrrrt! Ponsel Zoro bergetar. Ada panggilan masuk dari nomor yang tidak dia kenal.

"Siapa?" sahut Zoro setelah menekan tombol hijau di ponselnya.

Terdengar suara wanita menjawab.

Wajah Zoro yang awalnya adem ayem berubah jadi mengerikan. "Baiklah aku mengerti, aku akan segera kesana!"

"Apa terjadi sesuatu?" tanya Franky setelah Zoro mengakhiri percakapannya di telepon.

"Hanya masalah kecil, akan segera kuselesaikan!" jawab Zoro lalu masuk ke mobilnya dan melesat pergi.

Kembali ke kamar Nami dirawat.

"Kapan aku diperbolehkan pulang?"

"Mungkin dua atau tiga hari lagi,"

"Aku tidak sabar kembali ke rumah kita, beritahu aku bagaimana suasana rumah kita!"

"Seperti yang kau inginkan selama ini, rumah kita mungil bercat putih dan tumbuh beberapa pohon jeruk di sekelilingnya."

"Pasti sangat indah…"

"Pikirkan itu nanti, yang terpenting sekarang adalah kesembuhanmu!" sahut Sanji sambil mengusap lembut kepala Nami.

"Maaf, apa kami mengganggu kemesraan kalian?" sahut seorang wanita berambut ungu.

"NOJIKOOOO~!" teriak Nami senang.

"Kupikir kau tidak akan ingat padaku," sahut Nojiko dengan nada candaan.

"Mana mungkin aku bisa melupakan kakak kesayanganku ini!" Nami memeluk Nojiko. "Aku merindukanmu…"

"Aku juga, satu minggu kau tak sadarkan diri. Apa kau tahu betapa khawatirnya aku?"

"Maaf! Hmm, siapa dia?"

"Ini Luca putraku,"

"Bukan, yang kumaksud adalah pria aneh yang ada di belakangmu itu!"

"Dia Franky, paman Zoro. Kau tidak ingat padanya? Dia yang membuat dekorasi taman di pernikahanmu!"

"Paman Zoro…" Nami natap wajah Franky dengan seksama. Muncul bayang-bayang buram kejadian masa lalu di kepalanya. Seperti cuplikan film yang terpotong-potong yang terputar cepat dan saling bertumpang tindih.

Meski aku tak rela gadis secantik dirimu menikah dengan pria idiot seperti dia, aku tetap berdoa agar kalian selalu bahagia…

Awww SUPEEER! Benarkah aku akan menjadi seorang kakek?!

Dia tidak akan menghianatimu, karena aku tahu betapa dia sangat mencintaimu…"

"ARGGGH~!" Nami tiba-tiba menjerit sambil memegangi kepalanya.

"Nami-san!" seru Sanji panik.

"Nami, apa kau baik-baik saja?!" sahut Nojiko sama paniknya

"Aku akan memanggil dokter!"

"Nami-san, apa yang kau rasakan?"

"Kepalaku… Kepalaku sakit sekali…" Nami merintih.

"Tahan sebentar, Franky sedang memanggil Law kemari!"

"Sanji ada apa dengan Nami?"

"Ada trauma di kepalanya, mungkin itu yang membuatnya kesakitan seperti ini!"

Aku mencintaimu, aku sangat mencintaimu…

Kita sudah sejauh ini mana boleh kita menyerah…

Kau tidak boleh mati! Demi aku kumohon bertahanlah…

Muncul bayang-bayang lain di kepala Nami.

Bukankah itu aku?! Tapi siapa pria yang sedang kuajak bicara? Dan kenapa aku menangis?

.

.

Di sebuah restoran.

Zoro berjalan menghampiri seorang wanita berambut hitam cantik yang sedang duduk sendirian.

"Apa kau yang bernama Boa Hancock?" sahut Zoro saat ada di depan wanita cantik itu.

"Ya! Aku Boa Hancock!" jawab wanita itu dengan pandangan tak menyenangkan. "Duduklah!"

"…" Zoro.

"Aku tidak punya banyak waktu, jadi langsung saja keintinya. Beritahu aku dimana kau menyembunyikan Luffyku?"

"Apa maksudmu dengan menyembunyikan?"

"Apa kau terlalu bodoh sampai tidak tahu arti dari kata me-nyem-bu-nyi-kan?! Ace dan Sabo bilang padaku kalau kau satu-satunya orang yang tahu dimana Luffy sekarang,jadi kau tidak perlu berpura-pura lagi!"

"Ace dan Sabo?"

"Berapa uang yang harus kubayar agar kau mau membuka mulutmu?"

Zoro menarik nafas dalam, menahan emosi. "Aku tidak tahu dimana si bodoh itu! Jadi kita akhiri saja pertemuan ini!" sahut Zoro lalu berdiri.

"Tunggu! Aku tidak terima kau menyebut kekasihku dengan sebutan bodoh! Memang siapa kau?"

"Kau ingin tahu siapa aku? Aku kakak dari si bodoh itu!" ketus Zoro lalu pergi.

Hancock memegangi kedua pipinya yang merona. "Kakak iparrrku…"

"Apa-apaan wanita itu, menyebalkan sekali!" zoro berjalan sambil menggerutu.

"Kakak Ipar! Tunggu, kau tidak boleh pergi begitu saja!" seru Hancock.

Tahu bahwa Hancock mengejarnya, Zoro semakin mempercepat langkahnya. "Dia lagi! Sudah kubilang aku tidak tahu dimana Luffy, dia masih saja mengejarku? Keras kepala sekali…"

Merasa diabaikan, Hancock langsung berteriak, "AKU SEDANG HAMIL JADI KAU HARUS MEMBERITAHUKU DIMANA LUFFY BERADA SEKARANG!"

Zoro membatu seketika. Dan seperti robot rusak dia berbalik, "Ka-Ka-Kau HAMIL?!"

Sesaat kemudian…

Zoro mondar-mandir di depan Hancock. Kebingungan.

"Kakak ipar, duduklah. Kepalaku pusing melihatmu mondar-mandir!"

"Maaf," sahut Zoro langsung duduk diam.

"Kakak Ipar, apa kau benar-benar tidak tahu dimana Luffyku sekarang?"

"Kalau aku tahu, sudah dari tadi kupenggal kepalanya!" jawab Zoro emosi. "Ohya berapa usia kandunganmu sekarang?"

"Ini sudah yang kelima kalinya kau bertanya, apa harus kujawab lagi?"

"Tidak!"

Zoro mengambil ponselnya dan menekan tombol call untuk memanggil nomor ayahnya.

"Nomor yang Anda hubungi sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan servis area. Cobalah beberapa saat lagi!"

"Tidak aktif!" Zoro mengerutkan dahi lalu beralih memanggil nomor telepon rumahnya.

"Haloo, siapa ini?"

"Ini aku Kakek!"

"Ohh kau, Zoro!"

"Apa Kakek tahu dimana Luffy sekarang?"

"Tidak! Sudah satu minggu ini dia kabur dari rumah…"

"Lalu dimana ayah?"

"Ayahmu baru saja berangkat ke Madrid, apa ada masalah?"

"Sedikit! Aa~ mungkin besar! Argg! Entahlah, akan kuberitahu setelah aku berhasil menemukan Luffy!"

"Oo baiklah! Zoro kudengar…"

"Kakek salah dengar!" sahut Zoro lalu mengakhiri panggilannya.

"…?" Hancock.

"Setelah ini dimana kau akan tinggal?"

"Sementara aku tinggal dirumah bibiku,"

"Baiklah! Aku harus pergi ke suatu tempat, jika aku menemukan Luffy aku akan menghubungimu!"

.

.

"Bagaimana keadaan Nami?"

"Dia terlalu memaksakan diri untuk mengingat masa lalunya karena itu muncul efek sakit pada kepalanya. Sebaiknya jangan paksakan dia berpikir terlalu keras, biarkan ingatannya kembali secara perlahan…"

"…" Sanji melihat Nami yang terpejam.

=Flashback=

"Nami-san tunggu! Aku bisa menjelaskannya!" Sanji mencoba meraih tangan Nami tapi gadis itu menepisnya.

"Apa lagi yang ingin kau jelaskan? Aku tidak menyangka ternyata kau bisa sekejam ini padaku!"

"Wanita itu menjebakku! Dia memasukan sesuatu pada minuman, sehingga aku ter… terangsang dan…"

"Cukup! Aku tidak mau mendengar apapun lagi! Kumohon jangan buat aku semakin membencimu…"

"Nami-san…"

=Flashback End=

"Sanji! HOII SANJI!"

"HE?" Sanji terkejut. Suara cempreng Franky telah menendangnya keluar dari alam bawah sadarnya. "Apa?"

"Menyingkirlah! Biarkan suster cantik ini merawat Nami!"

"Maaf…" sahut Sanji lalu menggeser tubuhnya.

"Untuk sementara biarkan dia beristirahat!" sahut Law sebelum meninggalkan kamar Nami.

"Sanji, Franky! Aku harus menebus obat, tolong jaga Nami sebentar aku tidak akan lama!"

"Tanpa kau mintapun aku akan menjaganya!" sahut Franky.

Setelah Nojiko pergi, tinggal Sanji, dan Franky dan Nami yang tak sadarkan diri.

Sanji menatap Nami, "Franky! Coba kau katakan dengan jujur apakah aku masih layak untuk menerima maaf mereka?"

"NG?" Franky.

Sanji menggenggam tangan Nami, "Dulu aku menghianatimu dengan meniduri wanita lain, dan sekarang aku menghianati Marimo dengan menciummu."

Meniduri wanita lain? Sanji-kun benarkah kau tega melakukan hal itu?

Dan apa maksudmu dengan mengianati Zoro dengan ciumku?

Aku tidak mengerti! Aku benar-benar tidak mengerti!

.

.

BERSAMBUNG


beginilah jadinya kalo kebut-kebutan, semoga tidak terlalu mengecewakan.

dan semoga dari chapter ini kalian tahu siapa suami Nami, ckikikie~

yah akhir kata see U in the NEXT chapter :)