Whaah...Sambutannya lumayan bagus untuk nie fict...

Padahal banyak banget Tipo...

Hihi...Ini emang cerita yang mungkin agak sedikit berat...

Tapi Noe hargai sekali kalau Minna mau baca...

Hati-hati Minna karena untuk Chapter ini sedikit down banget...

Klow Baper sih gk masalah...

Selamat Membaca Minna~Chan...

"SWEAT AND TEARS IN A BELL" © Noeruhi Karachou

Disclaimer : Naruto Punyanya Masashi Kishimoto-san

Seperti biasa saya cuma numpang obrak-abrik hehe...

: ) ( digebuki fansx Naru...)

Pairing : Hinata H x Sasuke U

Rate : T-M

Warning : AU,AT,OOC,Longshoot,Gaje,Miss Tipo,Ejaan tidak Sesuai EYD,

Blood,Lime/Lemon .

Anak kecil Silahkan tekan Kembali , Hanya Untuk 18+...

Uchiha Sasuke : 21 Thn

Hyuuga Hinata : 20 Thn

Uchiha Itachi : 25 thn

Hatake Kakashi : 25 Thn

.

.

.

Chapter 2 : When Bell Open a Destiny

Gadis indigo itu termenung diatas kasur, dibeberapa bagian wajahnya tampak menempel perban terutama yg paling ketara adalah dipelipisnya. Ia hanya memandang jendela yg terbuka lebar dengan tatapan kosong, tapi kemudian mata indigo itu meneteskan air mata. Sudah ia coba lupakan, Tapi masih terasa menyesakkan. Terlalu sakit, sudut bibir Hinata Hyuuga itu tersenyum miris ia mencoba tidak menghiraukan segala cibiran pedas dan makian kasar.

Hinata Hyuuga...

Hyuuga...

Tiba-tiba ia menyesal dengan marga yg ia miliki, jika itu hanya membuat Nii~sannya dan Ibu angkatnya semakin memandang kotor padanya. Terkadang saat ia akan tidur, Hinata mengharap semuanya hanya bunga beracun ditidurnya yg akan lenyap saat ia terbangun di keesokan paginya. Tapi harapan itu tidak pernah jadi kenyataan, Hinata hanyalah sebuah batu sandungan dan duri yg tajam.

Tes...

Tes...

Tes...

Akhirnya bulir-bulir bening itu semakin deras berjatuhan. Tangan rapuh itu menyentuh dadanya yg terasa sakit, tidak ada satu isakanpun yg terdengar. Mulutnya tertutup rapat meredam tangis yg keluar seolah karena isakan itu bisa menghancurkan apapun.

Sebuah nama lolos dari sana bersama sesenggukan yg tertahan...

"Ibu", setelahnyakepala itu menggeleng-geleng dan mengusap air matanya cepat-cepat...

"Hinata harus kuat" Peringatnya,

"Hinata tidak boleh lemah"

"Hinata..." perkataannya justru membuat tangis itu pecah, bahu itu bergetar hebat bersama kedua tangannya yg membungkam erat mulutnya. Tidak ada seorangpun, untuk sehari saja ia ingin meluapkan rasa takut dan bebannya yg sudah tak tertahankan hanya untuk dia sendiri.

Ayahnya, Hiasi, sedang dalam perjalanan bisnis, Ibu tirinya sengaja keluar entah kemana karena Neji sendiri sedang mengurusi perusahaannya diluar kota. Nyonya Hyuuga itu pasti menginap di Mansion lain sampai Neji pulang, betapa indahnya hidup Hinata.

Bibir Hinata mengering seketika, gadis itu mengambil remot dan mengarahkan pada pemutar musik disudut ruangan dan Play...sebuah bulir lain jatuh dari matanya...

Lagu itu berjudul Awake dari Bts, mulai mengalun sangat dalam. Hinata memeluk kakinya bersama selimut di ranjangnya, menyandarkan kepalanya disana. Isakannya tiba-tiba menjadi semakin keras, 'Sasuke, Bagaimana kabarmu ?'

'Apa kau baik-baik saja sekarang ?'

Hinata tiba-tiba sangat merindukan pemuda itu, Karena pemuda itulah Hinata tetap bertahan...Hinata selalu berdoa agar pemuda itu tetap sehat meski ia tak bisa menyemangatinya langsung. Sudah dua belas tahun ia mengamati pemuda itu, Hinata selalu tersenyum saat melihat wajah pemuda itu, seolah pemuda itu adalah oksigen yg membuat ia tetap hidup.

Ia tau Sasuke tidak akan mungkin melihat kearahnya, ia siapa ? dia hanya Hinata dengan marga yg tidak diakui. Semua wanita yg dekat dengan pemuda itu adalah wanita populer dengan paras cantik dan tubuh yg menggoda. Semua terasa sangat sesak, sama seperti saat ia melihat Sasuke bercinta dengan wanita berambut pink dimalam itu...

Lelehan itu makin deras, bahkan sampai sekarang ia tidak tau Sasuke itu sebuah kebahagiaan atau sebuah kesedihan. Hinata berdiri diantara keduanya, ia ingin memilih kebahagiaan tapi saat Sasuke menyentuh wanita lain Hinata selalu tidak bisa membendung tangisnya.

Tapi, ia memutuskan menolong Sasuke malam itu. Ia tidak bisa melihat Sasuke terluka, ia menggunakan tubuhnya untuk tameng sang Uchiha. Ia berusaha melawan para orang-orang jahat itu, ia memang terluka dan sangat sakit tapi hatinya lebih sakit saat Sasuke yg berlumuran darah tidak bergerak sama sekali. Nafasnya tersendat-sendat seakan Sasuke benar-benar Oksigen baginya, ia tidak melepaskan tangan Sasuke hingga pemuda itu masuk ke ruang operasi.

"Tetaplah hidup Sasuke, tetaplah Hidup"

Ia tak memperdulikan apapun, bahkan ia menolak saat para perawat akan menjahit lukanya. Hinata bersikeras untuk ada disana dan menunggu...

Hingga ia melihat ibu Mikotonya...

Iya Ibu, Hinata dulu selalu memanggil begitu...

Rasanya ia ingin menghambur kearah wanita paruh baya itu, tapi apa Mikoto masih mengingatnya. Hinata mengurungkan dirinya, saat Mikoto hendak kearahnya ia tergopoh-gopoh bersembunyi. Tapi karena terlalu terburu-buru ia menabrak pengunjung lain dan terjatuh. Hinata segera menunduk dan meminta maaf pada orang yg ia tabrak.

Setelah orang yg ia tabrak memaafkannya. Hinata mencoba melirik kearah Mikoto, pupilnya melebar saat wanita itu juga menatapnya. Saat wanita itu hendak memanggilnya Hinata pura-pura tidak mendengarnya dan berlari sekencang mungkin.

Jujur Hinata takut Mikoto menanyakan ibunya, karena keduannya adalah sahabat lama. Mereka mulai lost contact saat Hinata dan ibunya pindah ke Australia. Hinata bahkan masih ingat ia dengan nekatnya mengecup pipi Sasuke diairport saat itu. Sasuke hanya tersenyum tipis padanya dan mengecup pipi Hinata balik sambil berbisik...

"Jangan lupakan aku ya Hinata"

Pipi Hinata bersemu, kepalanya mengangguk-ngangguk patuh menyanggupi permintaan Sasuke.

Keduanya saling melambai saat pesawat sudah akan terbang, saat itu Hinata bahkan meneriakkan sesuatu yg membuat Hinata sendiri terkejut,

"Aku mencintai Sasuke~Nii"

Hinata tersenyum tipis, ingatan akan kejadian bahagia dimasa lalu membuat ia bisa tenang untuk sesaat.

'Andai saja Sasuke disini'

Krincing...Krincing...

Gelang yg ditaruh Hinata di meja tiba-tiba bergerak sendiri, Hinata menatap ke arah gelang yg tertiup angin itu. Ia mengambilnya dan memasang gelang itu di pergelangan tangannya...gelang itu menjadi saksi malam berdarah bersama Sasuke tentu ia akan menjaganya baik-baik...

Tiba-tiba seorang pelayan mengetuk pintu kamarnya, Tok tok tok...

"Nona Hyuuga, Bisa anda turun sebentar ?" Tanya pelayan itu lembut.

Hinata cepat-cepat mengusap air matanya dan bergegas membuka pintu,

"Ada apa ?" tanya Hinata saat ia sudah membuka pintu dan melihat pelayan itu berdiri dengan kepala menunduk didepannya.

"Maaf Hinata~sama, ada tamu yg datang dan dia mencari anda"

"Mencariku ? Siapa ?" Tanya Hinata bingung tidak ada yg pernah datang untuk menemuinya, paling biasanya mencari Neji maupun mencari Ibunya.

"Iya Hinata~sama, nyonya itu mencari anda. Saya tidak bertanya siapa namanya tapi dia ingin bertemu dengan anda sekarang"

Hinata menghela nafas, "Baiklah, aku akan turun 10 menit lagi" Ucap Hinata.

"Kalau begitu akan saya sampaikan" pelayan itu undur diri, meninggalkan Hinata yg masih mengira-ngira siapa yg datang.

'Nyonya ?, Siapa ?'

Hinata segera mandi dan berganti baju ia tidak mungkin membiarkan tamunya menunggu lama.

Tapi siapa kira-kira ? Ada yg bisa menebak ?

Semoga bukan pembunuh bayaran Sakura...

.

=======**o**=======

Sasuke mulai mengerjakan pekerjaan kantornya. Mata tajamnya menganalisa beberapa laporan perusahaan yg terpaksa tidak periksa karena ibunya tidak mengijinkan Sasuke menyentuh pekerjaan apapun hampir dua minggu lamanya. Tentu ia tidak bisa membantah maupun menolak, Yah, bagaimana lagi ibunya itu pasti masih shock dengan kejadian itu.

Untung saja ia punya tangan kanan yg sangat ahli sehingga ia tidak perlu memeriksa terlalu banyak.

'Akhirnya selesai juga' Hela Sasuke sudah hampir 4 jam ia memeriksa berkas-berkas itu. Ia menaruh bulpen yg sejak tadi menemaninya, lalu menyandarkan tubuhnya disandaran kursi.

Sejujurnya perut Sasuke masih mual, untuk beberapa hari setelah operasi ia bahkan tidak bisa mencium aroma nasi. Menu makannya bahkan hanya daging-dagingan dan juga roti, terkadang Sasuke juga masih berkeringat dingin.

Tapi sungguh bukan itu yg paling membebani pikiran sang Uchiha.

Sasuke memejamkan matanya, menyandar senyaman mungkin.

"Kau ada dimana, gadis lonceng" Bisik Sasuke...

Ia selalu menjadi tidak tenang dan merindukan sosok itu, ditambah lagi Itachi belum mendapat titik terang keberadaannya.

Cklek...Kriiett...

Seorang berambut perak tampak memasuki ruangan.

"Sasuke rapat akan diadakan 2 jam lagi, Kau..." orang itu mengernyit.

"Kau merasa tidak enak badan Sasuke ?" Tanya pria itu.

Sasuke menegakkan tubuhnya, dan menatap sosok didepannya.

"Aku baik-baik saja, Kakashi"

"Jadi perwakilan Gaara benar-benar akan datang ?" Tanya Sasuke.

"Dia benar-benar ingin menyiksaku dengan rapat tidak berguna itu" Sasuke memijit pelipisnya.

Kakashi tersenyum, lalu duduk di depan Sasuke.

"Bukan perwakilan Sabaku Company yg datang tapi pimpinannya sendiri dan sepertinya dia ingin melihat kondisimu secara langsung"

Sasuke menatap Kakashi sejenak, lalu memutar matanya bosan.

"Bagus, Dia benar-benar ingin aku mati duduk dalam rapat"

"Dia ingin menjengukmu kemarin, tapi kau tau sendiri dia adalah tuan rumah dipesta itu. Aku sendiri tidak tau kau kabur dari sana" Kakashi tampak menatap tajam Sasuke, "Ibumu nyaris membunuhku saat dia melihatmu dirumah sakit"

"Hah...Sepertinya banyak orang yg akan dibunuh jika aku benar-benar mati atau melakukan hal bodoh" Raut Sasuke semakin kusut.

"Kau ada masalah Sasuke ?" Tanya Kakashi mulai menelisik ekspresi kurang bersahabat itu.

Sasuke terlihat tidak ingin menceritakan apapun,

"Baiklah, soal permintaanmu dengan sekertaris baru, aku sudah mendapatkannya"

Sasuke hanya mengangguk, "Sudah kau periksa latar belakangnya ?".

"Soal itu...Kau lihat saja sendiri" Kakashi tampak memberikan berkas tentang seseorang kepada Sasuke.

Sasuke membuka portofolio itu dan langsung terfokus pada sebuah nama serta marga yg tertera disana.

"Hyuuga Hinata" entah kenapa ia seperti familiar dengan nama belakang itu.

Kakashi memasang ekspresi yg aneh bercampur curiga,

"Benar, Hyuuga, Tadinya aku juga tidak percaya tapi ternyata dia benar-benar Hyuuga"

"Mereka mencoba mengirim penyusup ke kantorku" Desis Sasuke.

"Entahlah, tapi jika itu benar, Neji tidak akan mungkin terang-terangan memasang marganya pada gadis ini" Ucapan Kakashi terdengar tidak yakin.

Tiba-tiba Sasuke memasang serigai,

"Pilihanmu sudah benar, mereka ingin mengujiku jadi terima saja gadis itu"

Kakashi juga balas menyerigai, "Kau benar-benar tau cara bermain-main Uchiha Sasuke"

Sasuke memberi ekspresi meremehkan sambil memandang keluar jendela...

'Baiklah cobalah Neji, cobalah untuk menembus pertahananku maka dengan begitu akupun bisa menghancurkan gadis itu'

Banyak yg mengatakan gunakan logika tapi terkadang logika itu juga bisa salah...

"Aku sudah tidak sabar melihat kemampuan gadis itu"

Namun jika persepsi awal sudah salah maka orang lainlah yg jadi korban...

"Aku akan membuat dia mengaku dan mempermalukannya"

Dunia begitu jahat, mungkinkan karena banyak orang bilang hanya orang yg kuat yg akan hidup...lalu bagaimana dengan yg lemah bukankah mereka harus dilindungi...?

Semoga Sasuke tidak menyesal dikemudian hari...

.

.

=======**oo**=======

Hinata menatap bimbang sosoknya dicermin. Ia tiba-tiba ragu tapi kemudian ia tersenyum malu-malu dan terlihat tersipu,

'Aku akan bertemu Sasuke hari ini'

'Apa dia masih mengingatku ?'

Hah, ia terlalu antusias untuk hari ini. Ia ingin terlihat cantik dihadapan Sasuke hingga ia tidak bisa tidur. Satu hal yg disayangkan oleh Hinata adalah perban dipelipisnya yg sedikit mengganggu tampilannya ditambah lagi lebam yg masih terlihat samar.

"Apa Sasuke tidak takut melihat wajahku yg seperti ini ?"

Hinata menghela nafas...

Ia sebenarnya hanya iseng menaruh lamaran kerja di perusahaan Sasuke tapi saat kemarin ada yg memberitahu dia akan segera di interview, Hinata hampir tidak percaya mungkinkah ia sedang bermimpi dan akan jatuh kemudian.

Sejujurnya sampai sekarang ia masih tidak percaya juga bahagia disaat yg bersamaa...

Flashback...

Hinata turun dari kamarnya untuk menemui seorang nyonya...

Saat ia sampai ruang tamu berdirilah seorang wanita yg sudah mulai renta dengan sebuah tongkat ditangannya.

"Maaf, saya agak lama" Ucap Hinata Sopan.

Nenek itu tersenyum,

"Tidak apa-apa"

Hinata mempersilahkan orang itu duduk, ia juga menyuruh seorang pelayan untuk membuatkan minuman.

Nenek itu berdehem sejenak,

"Ku pikir langsung saja, saya Akasuna Chiyo, utusan dari perusahaan Uchiha Corp. Selamat anda dipanggil untuk interview diperusahaan kami" Ucap Nenek itu lembut.

APA...?

'Aku...diterima'

Hinata nyaris melongo dan tidak bisa bicara, ia terlalu terkejut.

"Tapi saya memasukkan lamaran itu sudah setengah tahun yang lalu bagaimana mungkin ?"

"Kami sangat meminta maaf atas kelambatan ini tapi melihat kualifikasi anda, andalah yg paling cocok untuk menempati jabatan tersebut"

"Oh...Benarkah ?" Hinata mulai tersenyum cerah.

"Dan kami meminta kehadiran anda untuk interview besok" sorot mata nenek itu begitu berwibawa dan juga tegas pada saat bersamaan.

Hinata berpikir sejenak...

"Baiklah saya akan mencobanya"

"Pilihan bagus nona Hyuuga, semoga anda betah diperusahaan kami"

Hinata terlihat menunduk malu,

"Terima kasih Akasuna~San" (Kenapa aku jadi inget Sasori kalow Hinata manggil gitu ya ?)

Nenek itu terlihat melihat jam ditangannya,

"Saya tidak bisa terlalu lama, Tapi kami benar-benar mengharapkan kedatangan anda"

Terlihat memastikan sesuatu...

Hinata terlihat mengangguk-ngangguk menyanggupi...

"Baiklah saya pasti datang"

"Interviewnya pukul 10 pagi dan Tuan muda Uchiha Sasuke sendiri yg akan menanyai anda"

CGLUK...

"Uchiha Sasuke ?" Tanya Hinata antara gugup dan senang.

Nenek itu mengangguk dan bersiap undur diri...

"Saya pamit, terima kasih atas minumannya"

Hinata ikut berdiri dan membungkukkan badannya dalam...

"Sama-sama, Hati-hati dijalan"

Ia mengantarkan nenek itu sampai mobilnya menghilang...

Dan didepan pintu itu untuk pertama kalinya senyum Hinata merekah cerah...

"Sasuke, Uchiha Sasuke aku tidak sabar bertemu denganmu"

Flashback Off...

Hinata turun dari kamarnya ke lantai satu, ia terlihat sangat cantik dengan kemeja putih dengan motif bunga dipundak kirinya, ia juga memakai rok yg sedikit mengembang tapi bagian pinggulnya agak ketat, rok itu menjuntai sampai bawah lututnya. Ia baru akan mengambil roti didapur saat Ibu tiriya memandangi penampilannya dengan aneh, Hinata berusaha tidak perduli dengan tatapan itu ia melewati begitu saja sang nyonya Hyuuga.

Wanita itu terdengar mendengus, "Kau ingin menggoda pria kaya seperti ibumu ya ? Memuakkan" desisnya yg berhasil membuat langkah si Indigo terhenti.

"Aku mendapat panggilan kerja, dan aku tidak pernah terpikir untuk menggoda pria kaya" Ujar Hinata dingin, sangat berbeda jauh dengan hatinya yg menjerit.

"Kau itu keturunan seorang wanita jalang, tidak akan ada seorang priapun yg menganggap serius hubungan denganmu" Perkataan wanita itu mulai menusuk bagai sebuah belatih yg langsung menghujam ulung hati Hinata.

Sudut bibir Hinata tersenyum, "Ibu Hyuugalah yg paling terhormat dan pantas bersanding dengan ayah Hyuuga" Ia menggigit bibir bawahnya, "Tapi Ibuku adalah seorang ibu yg terbaik didunia, aku tidak menyesal dilahirkan oleh beliau" suara Hinata hampir hilang.

"Kami~samalah yg berhak menentukan jalan takdir seorang anak bernama Hinata, karena gadis itu sudah cukup menjadi duri dan luka" setetes air mata meluncur dipipi Hinata namun dengan segera ia usap kasar.

Ia sangat menyayangi ibu Neji "Selamat pagi Nyonya Hyuuga!" Hinata melempar tatapan lembut pada wanita yg memandang hina dirinya.

Wanita itu tidak mungkin dan tidak akan menjawab salam Hinata, ia memandang lebih jijik pada Hinata dengan perkataannya yg sok suci menurutnya...

"Heh, Cepatlah pergi dari sini jika kau sudah berkerja nanti" kepala wanita itu mulai berdenyut muak,

"Aku tidak sudi tinggal denganmu lebih lama lagi"

Hinata tertegun, ia memandang kosong kesekelilingnya.

"Aku pergi dulu Nyonya Hyuuga" ia mengurungkan sarapannya dan segera berjalan ke pintu keluar mencoba menyingkirkan perkataan Ibu tirinya yg sangat mengharapkan dia pergi dari kehidupannya.

Setelah sampai di gerbang luar Hinata menghentikan langkahnya sejenak lalu berbalik menatap mansion Hyuuga dari kejauhan. Itu memang bukan rumah bagi Hinata, Hanya sebuah tempat untuk tidur tidak ada kehangatan sebuah keluarga semua yg tinggal didalamnya hanya memperdulikan dirinya sendiri. Hinata hanyalah beban, tangannya mulai bergetar mengingat tidak ada seorangpun yg bisa ia anggap keluarga. Perasaan terbuang dan tidak diinginkan, selalu menghantui Hinata disetiap langkahnya yg memang sudah rapuh.

"Aku akan secepatnya keluar dari rumah ini" Gadis itu bertekat sembari menggenggam tasnya yg berisi berkas data dirinya.

"Aku akan membuat ibu bangga" pandangannya mulai berkaca-kaca lagi, "Aku bukan anak wanita jalang, Ibuku seorang desainer ruangan dan dia wanita terhormat, akan ku buktikan itu Nyonya Hyuuga" memetik sebuah tekat dan harapan adalah awal untuk Hinata...

Bagaimanapun juga ia harus mendapatkan pekerjaan itu apapun yg terjadi...

"Hinata harus semangat" Gadis itu mengulangi kata-kata ibunya dulu.

Hinata menapakkan kakinya menuju halte bis, ia memang tidak pernah menggunakan fasilitas dari ayahnya berlebihan, hanya akan digunakan secukupnya. Jika ada yg bertanya apa Hinata punya mobil ? yah,dia punya. Lalu kenapa dia jalan kaki dan menggunakan bus untuk berpergian ? Jawabannya karena Hinata sendiri merasa tidak punya hak apapun dirumah itu. Ia berusaha mandiri dan tidak merepotkan ayahnya untuk menguras kantongnya meski Hyuuga adalah sebuah kerajaan bisnis dengan tender ratusan miliar.

Mendengar Hiasi menyebut namanya saja sudah cukup bagi Hinata, meski itu sangat jarang. Atau mungkin juga Hiasi tidak mau sering-sering melihat wajah Hinata...

Ia menatap kosong jalanan di luar bus yg ia tumpangi, Hinata selalu berakhir seperti ini saat dia menangkapi kata-kata wanita itu. Kepala indigonya menggeleng cepat, ia memasang wajah seceria mungkin,

'Aku tidak boleh terlihat sedih dihadapan Sasuke'

Hatinya benar-benar membuncah saat pikiran melihat Sasuke dari dekat dan berbicara dengannya terlintas.

'Aku benar-benar merindukan Sasuke'

Ia merabah gelang ditangannya, bibir Hinata tersenyum manis.

Krincing...

Krincing...

"Sasuke" bisiknya lirih sembari memandangi gelang itu...

"Kita akan bertemu dengan kedua mata kita secara langsung"

Deru bus itu mengisi setiap angan-angan Hinata akan Sasuke.

Sebuah takdir yg memiliki banyak tangan, tak tau siapa yg akan memegang kendali.

Benarkah tidak ada yg menuntun gadis itu ke arah Sasuke ?

Atau benarkah itu sebuah kebetulan ?

Seseorang di tempat lain juga sedang memikirkan nasib Hinata yg malang, siapakah dia ?

Semoga dia bisa membantu Hinata dalam kesedihannya meski tidak secara langsung...

=======**ooo**=======

UCHIHA Corp Pukul 09:30,

"Itachi !" panggil Kakashi yg melihat Uchiha Sulung itu keluar dari ruangan Sasuke dengan muka menahan tawa...

"Hai, Kakashi" Balas Itachi menghentikan langkahnya, "Kau dari mana saja hum ?" seorang wanita berambut oranye gelap panjang tampak mengikuti Itachi beberapa langkah dibelakangnya.

"Aku dari rapat, Sasuke beberapa hari ini sangat sensitif. Dia tidak membiarkan aku istirahat sedikitpun" Desis Kakashi aneh, tapi kemudian menatap sosok di belakang Itachi.

"Mungkin si Sasuke itu sedang kedatangan marah bulanannya" Ucap Itachi enteng, meski ia tau hal yg membuat adiknya itu tidak bisa memikirkan hal lainnya.

"Dia ?" Kakashi menunjuk seorang dibelakang Itachi yg dari tadi hanya diam dan menunduk dalam.

Gadis itu yg merasa ditunjuk hanya gelagapan dan melempar pandangan sekilas pada Itachi.

"Dia Mei Terumi, Sekertaris pribadiku" Ucap Itachi.

Kakashi hanya mengangguk, "Ada apa kau datang kesini ? Ada tender baru ?"

"Ahh Tidak, Aku datang untuk melihat keadaan Sasuke. Sudah dua hari ini dia pindah kembali ke apartemennya, Ibuku jadi agak tidak tenang setelah kejadian itu dan disinilah aku sekarang" Itachi memasang wajah bosan.

Kakashi hanya tersenyum tipis ia baru akan berbincang kembali saat seorang wanita berrambut kuning panjang menghampirinya dan membisikkan sesuatu ketelinganya. Serta-merta serigai Kakashi langsung terpasang, "Sepertinya aku tidak bisa lama, ada urusan lain yg harus ku lakukan" Ucapnya pada Itachi.

Itachi mengangguk maklum dan segera jalan kembali diikuti sekertaris pribadinya ke dalam lift.

"Jaga Sasuke baik-baik" Ucap Itachi sebelum menghilang.

Lift itu membawa keduanya ke lobi. Saat lift terbuka Itachi bergegas keluar dan melangkah agak cepat, ia hanya mengedarkan pandangannya sejenak lalu tiba-tiba ia menghentikan langkahnya. Ke dua matanya memicing ke arah seorang gadis berambut indigo yg sedang duduk ditempat tunggu.

Mei yg ada dibelakangnya hampir menabrak punggung bosnya itu. Mulutnya hampir menanyakan sesuatu tapi ia urungkan saat Itachi seperti tertegun menatap ke arah resepsionis. Gadis itu jadi penasaran juga dengan sesuatu yg menarik Itachi ia ikut menengok ke arah yg sama dan mencari tujuan Onix itu.

"Dia..." hanya itu yg terucap dari mulut Itachi detik berikutnya ia mulai berjalan dengan tergopoh ke arah si gadis Indigo. Langkahnya tinggal beberapa meter saat gadis yg membisiki Kakashi tadi menghampiri si gadis Indigo dan gadis itu terlihat mengangguk dan mengikuti si pirang menuju lift paling ujung.

Mulut Itachi hampir memanggil si gadis Indigo tapi terlambat lift itu sudah tertutup rapat.

Mei yg baru menghampiri Itachi tampak aneh dengan raut pria itu,

"Itachi~sama ?" ia coba menyadarkan Itachi dari lamunannya.

"Kita harus kembali ke atas" Itachi sudah akan melangkah lagi ke arah lift tapi ia lagi-lagi harus menghentikan langkahnya saat handphonenya berdering, ia langsung menyambarnya.

"Ya, ada apa ?"

"Uchiha~sama datang ke sini Itachi~sama" Terdengar nada panik diseberang...

Itachi menghela nafas kasar,

"Baiklah aku akan segera kesana"

'Ada apa lagi sekarang ?' ia melempar handphone itu ke dekapan Mei dan bergegas ke pintu keluar.

Mei pun hanya mengikuti tanpa mengatakan apapun.

=======**oooo**=======

"Silahkan masuk Hyuuga~san, Uchiha~sama sudah menunggu anda" wanita pirang itu melempar senyum ramah kearah Hinata.

"Terima kasih, Yamanaka~san" Hinata mengangguk dan dengan debaran kencang di dadanya ia mulai berjalan kearah pintu besar yg ada beberapa meter di depannya...

Krincing...

Krincing...

Ia terdiam sejenak, dan menatap gelang ditangannya.

'Sasuke akan terganggu dengan suara gemerincing ini' perlahan ia melepas gelang itu dan menyimpannya di saku bajunya.

Hinata menghirup udara sebanyak-banyaknya dan menghembuskannya perlahan mencoba mengurangi kegugupannya. Ia mulai membuka pintu itu,

"Permisi Uchiha~san"

Hinata agak terperangah dengan ruangan yg sangat luas itu, terlalu luas bahkan untuk hanya sebuah ruangan kerja. Ia tertegun di depan pintu itu, kemudia tatapannya tertuju pada meja disebelah kiri tempat si pemilik duduk.

"Hn, duduklah Hyuuga!" suara barinton berat itu menginterupsi...

Hinata tidak melihat Sasuke karena pemuda itu duduk membelakanginya tapi mendengar suaranya saja sudah mampu membuah perut Hinata melilit. Ia mencoba menahan senyum kebahagiaannya dengan susah payah.

Hinata duduk di seberang Sasuke duduk, ia telihat menanti wajah itu melihat kearahnya.

"Te-rima kasih karena anda memberikan kesempatan kepada saya" Ucap Hinata sopan dengan debaran yg semakin menjadi-jadi saat kursi itu mulai memutar dan menampakkan sosok maskulin dan tampan yg berbalut kemeja putih bersih dengan lambang Uchiha di saku kirinya.

Hinata mendapati dirinya tertegun untuk beberapa lama,

Sementara Sasuke juga tampak terdiam ia seperti familiar dengan wajah si Hyuuga bersama kepolosan ragawi gadis itu. Tatapannya langsung tertuju pada perban dipelipis gadis itu, dan sebisa mungkin ia mengontrol ekspresi dinginnya untuk tetap terpasang. Kenapa gadis yg dikirim Neji seperti ini ? Sasuke bahkan melihat sesuatu kepedihan dimata gadis itu.

Atau... Neji sengaja membuat dia jadi kasihan dan jatuh keperangkap gadis ini...

'Jangan bermimpi!' Pikir Sasuke mulai memasang ekspresi dingin menusuk.

"Nona Hyuuga anda akan berkerja dibawah perintahku dan aku tidak suka kesalahan sekecil apapun"

Hinata sadar dari ketertegunannya, kepalanya cepat-cepat mengangguk-ngangguk patuh.

"Baik Uchiha~san"

Sasuke beranjak dari tempat duduknya dan menuangkan wine ke dua gelas...lalu menyodorkannya pada Hinata.

Hinata menatap gelas itu dan menerimanya ragu.

"Saya tidak bisa meminum alkohol, maaf Uchiha~san"

Sasuke terlihat menyerigai mengejek kata-kata polos Hinata, dia berjalan kearah Hinata dengan pandangan remeh. Lalu berdiri dibelakang Hinata yg duduk terdiam ditempatnya, saat ia sadar Sasuke ada dibelakangnya.

Hinata akan berdiri tapi Sasuke menahan pundaknya dan menekannya seolah menyuruh dia duduk kembali. Hinata sampai menahan nafas saat tangan besar Sasuke tidak segera beranjak dari pundaknya malah mengelus pundaknya itu dengan tekanan lembut. Tubuhnya lebih menegang saat kepala Sasuke berada tepat disamping kepalanya dan membisikkan sesuatu dengan erotis.

"Kau memiliki bau yg menggairahkan"

Otak Hinata bukan tersanjung dengan kata-kata itu,

'Apa dia benar-benar Sasukeku dulu'

Gadis itu malah kecewa, kata-kata Sasuke seperti berkata secara langsung dia adalah seorang pelacur yg menjajahkan tubuhnya.

Sudut mata Hinata meneteskan air mata, apa kata-kata wanita itu benar dia tidak pantas memiliki hubungan dengan seorangpun...Tangannya mengepal dengan segala kekecewaan yg ada...

Sasuke tidak sepenuhnya berbohong saat ia mengatakannya, ia juga tergoda oleh bau gadis itu dan kembali ia merasakan familiar lain namun dengan cepat ditepisnya.

"Berapa yg harus kubayar agar kau menjadi milikku ?"

Hinata langsung berontak saat kata-kata laknat itu keluar dari mulut orang yg sangat dia cintai melebihi nyawanya sendiri,

Mulutnya ingin menjeritkan sesuatu tapi dia sudah terlanjur kecewa...

'Apa kau tidak mengingatku Sasuke ? Kenapa kau memperlakukanku seperti wanita jalang ?'

Sasuke yg melihat ekspresi itu entah kenapa merasa bersalah, tapi logikanya selalu lebih kuat.

Hinata sudah mulai berlari kepintu keluar, lututnya benar-benar bergetar. Ia bahkan hampir terjatuh tapi langkahnya terhenti saat Sasuke lagi-lagi mendesiskan kata-kata laknat lain,

"Tawaran bekerja dikantorku akan berlaku 3 hari dan jika kau tertarik maka kau juga harus mengikuti aturan mainku, Hyuuga Hinata"

Sasuke mendekat kearah Hinata dan mengelus lengannya hingga ke jemari gadis itu dan menggenggam tangan Hinata.

"Aku tunggu jawabanmu Hyuuga Hinata" Bisik Sasuke.

Hati Hinata langsung hancur berkeping-keping, dia terjepit diantara dua jurang yg siap membuatnya mati.

Mata keperakan itu menatap mata Sasuke lurus-lurus, dia mundur beberapa langkah saat mata itu bukan menyinarkan kehangatan seperti dulu.

"Sasuke" Bisiknya sangat lirih, Hinata langsung berlari keluar dengan air mata kepedihan yg dalam.

'Dia bukan Sasukeku yg dulu'

'Dia...'

'Iblis'

Tubuh itu menabraki orang dijalan, tapi Hinata tidak perduli...

"Aku bukan pelacur" Tubuh Hinata menggigil ditangga darurat gedung itu.

Air mata yg mengantarkan keperihan atas suatu takdir...

Krincing...

Krincing...

Krincing...

...Tapi tidakkah kalian dengar suara yg mengiringi tangis itu...

.

.

.

.

.

========*T*B*C*========

Saiya sendiri hampir nangis saat menempatkan Hinata pada posisi itu...

Sesuai janji saya, saya lanjutkan dengan Chapter yg kelewat panjang...

Saya tunggu review minna untuk Chap ini...

Hah, Saiya masih nyesek dengan kondisi Hina~Chan...

Tiba-tiba Sasu muncul #Semangat Thor...dielus-elus...

Hoah...Tumben Sasu~Chan baik...

Hihihi...Ok lah SEMANGAT Noe...

Untuk Minna semua, Saya Ucapkan...

Arigato Gozaimasu...

Dan jumpa lagi di Up selanjutnya...

Read And Review masih ditampung... ;) :-*