Kim Jongin PoV

"Kyaaa!"

Bruk

"Ugh!"

"Uggh!" sialan! Kenapa aku sial sekali hari ini sih? Sudah dikejar-kejar para fans menyebalkan itu, sekarang jatuh pula.

Aish! Menyebalkan!

Dengan perlahan, aku membuka kedua mataku. Sinar matahari musim panas sempat membuat pandanganku agak kabur, makanya aku mengedip-kedipkan mataku beberapa kali untuk bisa beradaptasi.

Begitu pandanganku sudah jelas dan aku bisa melihat siapa gerangan yang ada di sekitarku, sontak aku membelalakkan mataku ketika aku menyadari aku mendarat di mana.

Astaga! Sudah jatuh tertimpa tangga pula!

"Ya! Apa yang kau lakukan, huh?!"

Sialan! Kenapa aku harus mendarat di atas Unicorn-sunbae sialan ini sih?

Sontak, aku langsung menarik diriku dari atas tubuhnya. Sementara dia langsung bangkit duduk, aku pun langsung bergeser. Jaga jarak darinya.

Aigo... kenapa siang-siang begini, saat perutku sedang lapar, aku harus bertemu dengannya? Aku 'kan tidak punya energi untuk bertengkar dengannya...

Oh... nasibku, kenapa dirimu selalu saja malang sih? Ugh...

Sialan... menyebalakan!

"Ya! Kim Jongin, aku sedang bertanya padamu." Aku tersentak kaget ketika tiba-tiba seseorang menepuk pundakku. Sontak, aku pun langsung melonjak kebelakang beberapa meter. Sukses membuat orang tersebut –Lay-sunbae- ikut terkejut juga.

"Hng?" ia mengangkat sebelah alisnya. Dan aku membeku di tempat.

"A-aaa..." aku dapat merasakan wajahku memanas seketika ketika ia memandangku dengan geli dan um... bagaimana ya? Mengatakannya... pandangannya itu benar-benar menyebalkan.

Ish! Benar-benar menyebalkan!

"Astaga, Kim Jongin. Apa barusan kau melamun, hm?" ujarnya dengan nada menggoda. Sukses membuat pelipisku berdenyut.

"S-siapa yang melamun?! Aku tidak melamun!" seruku seraya bangkit dari tempatku duduk. Dia hanya menatapku dengan sebelah alis naik, wajahnya masih menunjukkan ekspresi menyebalkan itu.

Aish... membuat kesal saja!

"Te-terserah!" ujarku –mungkin lebih tepat teriakku- kemudian langsung berjalan meninggalkan tempat itu. Dengan amat sangat cepat.

Aisssshhhh! Menyebalkan! Kenapa aku harus terlibat hal memalukan seperti itu dengannya sih?!

Dan ini kenapa lagi?! Kenapa jantungku berdebar kencang?! Kenapa pipiku terasa panas sekali?!

Aish! Menyebalkan!

.

.

.

Petals Rains

Present

.

.

.

17 vs 24

Tell me it's just a dream

Disclaimer (c) God and Them self –I can't say its SM's because there will be other company's Idols-

Pairing: Just like usual, LayKai –its obvious right who is the seme. And another pair

Warning: au, boys love/YAOI/boyxboy, inspirasi dari drama 18 vs 29, typo(s), bunny time line alias time line lompat-lompat, aneh, gaje, gak nyambung sama dramanya, pair tidak main stream, umpatan, penyebutan nama panggilan yang didasarkan (?) pada hewan jadi sangat aneh –seperti Unicorn-sunbae sialan, Kitty pabo, Kodok menyebalkan, Naga-sunbae kesasar, Panda ajaib, Rusa-sunbae sok kecakepan, Puppy-hitam, singa setengah-setengah, de el el

Rate: T or PG 15 (soalnya banyak banget umpatannya)

Genre : Romance, (Hopefuly) comedy and humor.

Enjoy

.

.

17 vs 24

.

.

.

Chapter Two dot one

Youngin and the real family

.

.

.

Flashback mode: off

.

Mentari sudah hampir sampai di peraduannya ketika Yixing memasuki kamar Jongin. Membuat sang empunya kamar yang sedari tadi melamun langsung mengalihkan perhatiannya pada pintu yang terbuka.

Tanpa sengaja, kedua pandangan mereka bertemu. Jade cerah Jongin bertemu dengan deep caramel milik Yixing.

Di beberapa detik itu, Jongin langsung bisa merasakan aura kesedihan yang teramat dari pancaran manik itu. Cukup untuk memukul hatinya dengan telak.

Sulit dijelaskan, tapi rasanya Jongin ingin sekali memeluk namja yang kini tengah berjalan ke arahnya tanpa melepaskan pandangan mereka. Memeluknya erat dan menenangkannya. Mencoba menghilangkan pancaran kesedihan itu dari matanya.

Sayangnya, ia tidak bisa. Tidak dengan kondisinya yang seperti ini.

Meskipun Sungyeol sudah menjelaskannya dengan baik, tentang kondisinya dan kemungkinan penyebab terjadinya semua itu, Jongin masih tidak bisa mengerti apapun.

Saat ini, ia lebih merasa berada di dalam mimpi. Mimpi aneh yang dirinya –yang dulu?- mungkin katagorikan sebagai mimpi buruk level maksimum.

Ketika Yixing mengambil kursi untuk duduk di sampingnya, Jongin menolehkan kepalanya ke arah ujung kakinya yang tertutup selimut.

Yixing sendiri menghela nafas kecil ketika Jongin akhirnya memutus kontak mata mereka.

Setelah bunyi yang menandakan Yixing sudah menduduki kursinya, suasana kamar itu kembali sunyi.

Manik jade Jongin bergerak ke kiri ke kanan. Mulutnya sibuk mengigiti ibu jarinya. Kepalanya menunduk dan tangannya yang lain meremas-remas selimut yang menutupi sebagian tubuhnya.

Melihat itu, Yixing langsung tau kalau namja di hadapannya itu sedang super gugup.

Tangan kanan Yixing terulur, meraih tangan kiri Jongin yang kuku ibu jarinya jadi korban kegugupan sang empunya. Menarik tangan itu perlahan. Membuat Jongin tersetak kaget dan menoleh ke arah Yixing.

"Tidak usah takut. Aku tidak akan memaksakan apapun padamu." Ucapan itu diucapkan dengan nada lembut dan penuh dengan kasih sayang.

Tapi, entah bagaimana caranya, hati Jongin kembali mendapat hantaman yang keras.

"Kau tau," Yixing kembali berucap dengan nada dan efek yang sama. "melihatmu kembali sadar sudah lebih dari cukup untukku." Yixing pun mengecup punggung tangan kiri Jongin yang digenggamnya dengan lembut. Semburat kemerahan tipis menjalar di pipi Jongin.

Refleks, Jongin menarik tangannya dari genggaman Yixing.

Dan Yixing sendiri lagi-lagi hanya bisa menghela nafasnya pelan. Kepalanya tanpa sadar ditundukan, membuat matanya tertutup surai hitamnnya.

Meskipun ia berkata demikian, ia tau dengan baik bahwa ada bagian besar hatinya yang sama sekali tidak menerima kenyataan yang sekarang terjadi. Mencoba terus menghindar dan membuat sugesti bahwa semua ini hanyalah sebuah mimpi buruk yang akan segera berakhir jika ia bangun.

Namun, sugesti negatif sisi kecil hatinya berkata, itu kalau ia bisa bangun. Jika tidak, ia akan selamanya terjebak dalam mimpi buruk ini.

Bagaimana kalau mimpi ini tidak pernah berakhir? Bagaimana kalau ini permanen? Apa yang akan terjadi pada hubungan mereka? Bagaimana dengan nasib sang malaikat kecil mereka? bagaimana –

"...-sunbae..." cicitan kecil yang hampir tidak terdengar itu sukses membuat Yixing tersadar dari lamunan negatifnya. Namja itu lantas menengadah, bertemu pandang dengan sang jade cerah yang tampak khawatir.

Ketika manik deep caramel itu bertemu dengannya, Jongin tidak lagi bisa menahan dirinya untuk tidak mengulurkan tangannya dan membungkukkan badannya. Melawan rasa sakit guna menarik namja itu kedalam pelukkannya.

Mata Yixing membelalak, terkejut. Sama sekali tidak menyangka bahwa Jongin akan melakukan sesuatu yang seperti ini padanya.

"Aku jujur tidak tau kenapa," Jongin memendamkan kepalanya di ceruk leher Yixing secara refleks, sedikit mengejutkan dirinya sendiri. "Tapi, hatiku sakit melihatmu seperti ini."

Detik itu, rasanya jantung Yixing berhenti berdetak untuk beberapa saat.

Kedua tangan Yixing terangkat perlahan. Setengah ragu-ragu, kedua tangan itu merengkuh tubuh Jongin dengan erat.

"Mianhae..."

Saat itu juga, Yixing tau bahwa apapun yang terjadi padanya, Jongin tetaplah Jongin.

.

.

Tuk tuk tuk

Suara jemari beradu dengan permukaan kayu terdengar nyaring memenuhi ruangan sepi itu. Menarik perhatian namja yang duduk di sofa yang ada di ruangan penuh rak buku tersebut.

"Kau tau, Sungyeol," ia berucap seraya menutup bukunya yang sejak 10 menit lalu tak jua beralih halaman. "kalau kau tidak mau mengatakan apapun yang mengganggumu, aku jamin aku akan memaksamu mengeluarkannya." namja itu mengalihkan perhatiannya pada namja lain yang ada di belakang meja kerjanya.

Seolah tak mendengar apapun, Sungyeol masih tetap pada posisinya. Bertopang dagu seraya memerhatikan sebuah kertas berisi data-data. Tangannya yang lain masih mengetuk-ketuk meja berirama.

Diabaikan seperti itu cukup untuk membuat seorang Kim Myungsoo menghela nafas, kehabisan kesabarannya.

Diletakkannya buku yang berusaha ia baca di atas meja kaca di hadapannya seraya bangkit dari tempat duduknya. Kemudian ia berjalan menuju Sungyeol yang masih begitu terpaku dengan apapun itu yang sedang ia baca.

Begitu ia sudah berdiri di samping Sungyeol, dengan sedikit kasar, ia memutar kursi yang diduduki Sungyeol. Membuat namja yang duduk di atasnya tersentak kaget.

"Ya! Kim Myungsoo! Jangan mengagetkanku seperti itu! Bahaya tau!" seru Sungyeol terkejut. Salah satu tangannya memegangi dadanya, sementara tangan yang lain berada di atas perut buncitnya. Matanya sedikit membulat.

Untuk sesaat itu, Myungsoo merasa seperti manusia paling jahat di muka bumi.

"Siapa suruh juga mengabaikanku. Aku sudah bilang berjuta kali padamu bahwa aku tidak suka diabaikan." Kilah Myungsoo seraya menurunkan tubuhnya, berlutut di depan Sungyeol yang menatapnya dengan death glare yang tak pernah sekalipun mempan padanya.

"Tapi tetap saja bahaya! Minta maaf!" serunya seraya menunjuk pada perut buncitnya. Myungsoo mendengus kecil, kemudian tersenyum.

Kedua tangan Myungsoo lantas langsung mendarat di perut buncit Sungyeol. Dielusnya dengan sayang perut itu. Kemudian dikecupnya dengan penuh kasih sayang.

"Maafkan Appa, ne, uri cheonsa?" ucapnya dengan nada lembut. Tangannya masih mengelus-elus perut Sungyeol, membuat sang empunya tersenyum lembut.

"Ne, Appa. Tapi jangan di ulangi lagi, ne? Bahaya." Sungyeol berucap dengan nada lembut seraya mengelus rambut hitam Myungsoo. Membuatnya menengadahkan kepala menatap istri-nya.

Kedua manik caramel itu saling berpandangan. Penuh dengan kasih sayang dan cinta.

Untuk sesaat, ruang kerja Myungsoo itu kembali sunyi.

"Ah ya," Myungsoo berucap setelah ia akhirnya kembali mengingat maksudnya tadi. Sungyeol memiringkan kepalanya.

"Sebenarnya ada apa sih? Sepertinya sejak aku jemput tadi pikiranmu kemana-mana." Mendengar penuturan itu, eskpresi wajah Sungyeol lantas langsung berubah. Membuat Myungsoo menaikan sebelah alisnya.

"Ada apa?" pertanyaan itu kembali keluar. Tapi Sungyeol sepertinya tidak ingin menjawabnya. Manik matanya mengerling ke arah lain, menghindari kontak mata dengan suaminya.

Kening Myungsoo mengerut. Kalau sudah seperti ini, Myungsoo tau kalau ada sesuatu yang benar-benar mengganggu istri-nya dan itu pasti masalah besar.

Pertanyaannya adalah, apa masalah itu –

–Ah...

"Ada sesuatu yang terjadi dengan Jongin?"

Bingo!

Myungsoo lantas menghela nafasnya ketika ekspresi terkejut muncul di wajah Sungyeol. Ah... harusnya ia tau sejak tadi kalau masalah ini yang mengganggu istri-nya.

Masalah ini sudahlah menjadi masalah istri-nya seminggu ini. sejak sahabat baik istri-nya itu masuk rumah sakit karena kecelakaan, Sungyeol tidak bisa tenang barang sedikitpun.

Meskipun di rumah sakit istri-nya itu adalah dokter yang tenang dan santai, jika ia sudah keluar dari sana, kekhawatiran yang sudah bertumpuk-tumpuk akan langsung meluap memenuhi istri-nya.

Jika sudah begitu, istri-nya itu akan mulai jatuh diam. Mengetuk-ketukkan jarinya kemeja seraya membaca data pasiennya sembari berfikir jalan keluar untuk masalah tersebut. Mengabaikan segala hal yang ada di sekelilingnya termasuk Myungsoo.

Ah... sepertinya ia melupakan hal itu saking sibuknya dengan kasus koruptor yang sedang ditanganinya.

Kembali menghela nafasnya, Myungsoo mengulurkan tangannya, menggenggam tangan Sungyeol. Membuat istri-nya itu akhirnya menatap ke arahnya.

"Sebagai seorang dokter, kau disumpah untuk tidak membeberkan masalah pasienmu pada siapapun kecuali orang-orang yang berhak menerima informasi. Karena itu, aku tidak akan bertanya apa yang terjadi pada Jongin." Myungsoo mengecup punggung tangan Sungyeol.

"Tapi, Sungyeol, apapun yang terjadi pada Jongin, aku yakin kau akan menemukan jalan untuk membantunya sembuh. Kau dokter yang baik." Myungsoo mengakhiri ucapannya dengan mengelus pipi kemerahan Sungyeol yang kini mengulas senyum kecil di bibirnya.

Sikap Myungsoo yang seperti ini adalah salah satu sikapnya yang membuat Sungyeol head over heel padanya. Sangat pengertian dan tau batas mana saja yang tidak bisa dilewatinya. Sikap yang tidak pernah berubah sejak jamannya mereka jadi cat and dog dulu.

Ah... waktu itu...

Melihat sunyeol yang tiba-tiba tertawa kecil, Myungsoo ikut tersenyum. Ia tau jelas bahwa dalam kepala istri-nya yang cantik itu sedang berputar memori tentang mereka berdua 7 tahun yang lalu. Masa-masa dimana ia terlalu tsundere untuk menyatakan cinta pada namja yang usianya lebih tua satu tahun darinya itu.

Kemudian, ruangan itu kembali jatuh dalam kesunyian. Hanya saja, kali ini kesunyian itu adalah kesunyian yang sangat nyaman.

.

.

.

Keesokan harinya

Pintu kamar putih itu dibuka perlahan. Menampakkan sesosok namja paruh baya yang tampak begitu cantik. Kedua tangan namja itu masing-masing membawa sebuah kantung plastik dan sebuket bunga segar.

Langkahnya memasuki ruangan itu perlahan dan begitu berhati-hati. Manik silvernya terpaku pada sepasang namja yang tampaknya tertidur di atas ranjang rawat yang sebesar kasur queen size itu.

Senyum sedih melengkung di bibirnya.

Rasanya menyakitkan melihat menantunya seperti ini. terbaring di samping istri tercintanya yang entah kapan akan kembali memamerkan manik jade cerahnya pada dunia. Memeluk namja itu dengan penuh kasih sayang yang mungkin tak berujung, tak peduli dengan kemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi.

Hush! Sebagai seorang ibu, ia tidak boleh memikirkan hal itu.

Mengeleng-gelengkan kepalanya, namja itu meletakkan barang bawaannya di atas meja besar di pojok ruangan. Kemudian ia mengambil vas bunga yang ada di samping tempat tidur. Manik silver-nya jelas sekali berusaha menghindar dari pemandangan yang harusnya sangat romantis itu.

Setelah vas itu berada di atas meja di samping buket bunga yang baru saja dibelinya, dengan telaten, namja itu membuka plastik yang melindungi sang buket bunga. Kemudian mengganti bunga-bunga putih itu dengan bunga warna-warni yang baru saja dibelinya.

Ditatanya bunga-bunga dalam vas itu dengan penuh perhatian dan kasih sayang. Seolah sedang mengurus seorang bayi yang begitu rapuh. Dalam kepalanya, terbayang kenanga-kenangan singkat antara dirinya dan sang putra yang kini terbaring tak sadarkan diri di atas tempat tidur.

Tangannya lantas berhenti ketika pemikiran sesaat itu muncul di kepalanya.

Meskipun setiap dokter mengatakan bahwa putra dan cucunya baik-baik saja, ia masih tidak bisa tenang. Rasa bersalah kembali menghampiri dirinya. Membuatnya kesulitan bernafas.

Namja itu mengambil nafas dalam-dalam, kemudian mengeluarkannya perlahan, mencoba menenangkan dirinya sebelum ia kembali tenggelam dalam kesedihan yang seolah tak berujung ini.

Setelah dirasanya dirinya sudah tengang, namja itu pun lantas membereskan bunga-bunga putih yang sudah hampir layu tersebut. Memasukkannya kedalam kantung plastik dan membuangnya ke dalam tempat sampah yang ada di pojok ruangan dekat pintu masuk.

Saat ia mengmbalika tempatnya ke meja nakas di samping tempat tidur, ia tak bisa menghindar untuk tak menatap kedua namja yang masih memejamkan mata. Tak sadarkan diri dan terlelap dalam tidur.

Seolah tertarik oleh grafitasi keduanya, namja itu pun duduk di tepi tempat tidur. Memerhatikan wajah keduanya yang tampak damai tanpa beban sedikit pun.

Tangan kanannya terulur,dengan gerakan perlahan dan penuh kasih sayang, ia mengelus surai kecoklatan milik putranya. wajahnya yang semula sedih, tampak semakin terbebani.

"Kapan kau akan bangun, Jongin-ah?" nada suaranya yang lembut dan pelan mungkin cukup untuk membuat siapapun yang mendengarnya tersayat hatinya.

Pertanyaan itu selalu saja terucap setiap saat ia melihat putranya itu. Seperti sebuah mantra yang bisa membangunkan putranya dari tidur panjangnya.

Kedua manik silver itu mulai berkaca-kaca.

"Ngh..."

Lenguhan kecil itu membuat namja itu tersentak dari lamunannya. Sontak harapannya kembali naik.

Sayangnya, seperti biasanya, ia harus jatuh membentur tanah lagi ketika bukan manik jade cerah yang menatapnya.

Ah, ia pikir putranya...

Perlahan, Yixing membuka kedua matanya. manik deep caramelnya pun lantas disambut dengan silver hangat yang begitu familiar dengan dirinya.

"Aku membangunkanmu, Yixing?" pertanyaan lembut itu terlontar dari namja paruh baya yang masih sangat cantik itu. Yixing menggelengkan kepalanya kecil.

"Tidak, Ommoni." Jawabnya suara khas orang yang baru saja bangun dari tidurnya seraya mendudukkan dirinya di atas tempat tidur.

"Kapan Ommoni datang?" seraya menyandarkan tubuhnya ke head board, ia bertanya.

"Baru saja." Manik silver itu beralih memandang Jongin yang masih tak jua membuka matanya.

"Bagaimana kabar putri tidur kita hari ini?" Yixing bisa mendengar dengan jelas nada sedih itu. Meskipun berusaha di tutupi, sepertinya usaha itu malah membuat pertanyaan sederhana itu menjadi sangat menyakitkan.

Yixing tersenyum kecil.

"Jongin sudah bangun, Ommoni."

Jawaban itu bukanlah jawaban yang seperti biasanya. Membuat namja itu lantas membeku ditempatnya.

"N-ne?"

"Jongin sudah bangun, Ommoni. Sekarang ini dia sedang istirahat."

Meskipun kembali diucapkan, namja itu masih tidak bisa mengerti.

"Y-Yixing, jangan seperti itu..." namja itu berucap dengan kepala yang tertunduk. Rambutnya jatuh menutupi matanya yang kembali berkaca-kaca.

Yixing lantas langsung kelabakan ketika melihat ibu mertuanya itu tiba-tiba seperti itu. Secara refleks ia turun dari tempat tidur dan langsung menghampirinya. Berlutut di hadapannya

"Ommoni, aku tidak bercanda." Ujarnya setengah panik. Tapi ibu dari istri-nya itu sepertinya tidak bisa percaya. Membuatnya semakin panik.

"O-Ommoni, aku bersungguh-sungguh." Kedua tangan Yixing meraih tangan ibu mertuanya itu. "Apa anda ingin aku panggilkan Sunyeol? Bertanya langsung pada –"

"Ommoni, Jongin sungguh sudah bangun." Suara itu memutus ucapan panik terlalu cepat dari Yixing. Membuat Yixing lantas menolehkan kepalanya ke arah sumber suara itu.

Dari pintu yang terbuka sedikit, sosok Sungyeol dapat terlihat. Wajah tenangnya tampak berseri-seri hari ini. entah apa yang terjadi.

Namja itu dengan perlahan berjalan menuju mereka berdua. Kemudian ia mendudukkan di kasur tempat tidur, tepat di samping ibu Jongin.

Dengan lembut, namja bersurai kecoklatan itu meraih tangan ibu sahabatnya yang tidak di pegang oleh Yixing. Membuat namja di sebelahnya itu menoleh ke padanya. Manik berkaca-kacanya bertemu dengan deep caramel miliknya.

"Ommoni, Jongin sudah bangun kemarin sore." Sungyeol berucap dengan nada lembut. Berusaha untuk menyakinkan namja paruh baya di hadapannya itu. "Sungguh sudah bangun."

Setetes air mata lantas meluncur turun dari sudut mata namja itu, membasahi kedua pipinya yang berubah kemerahan. Ekspresi wajahnya sulit sekali di jelaskan, perasaan bahagia dan bersyukur menyatu padu. Menciptakan ekspresi baru tak bernama.

Sungyeol hanya bisa tersenyum. Dengan perlahan menarik namja itu kedalam pelukkannya.

Sementara Yixing bangkit berdiri dalam diam. Ekspresi wajahnya yang bahagia itu ternoda dengan kesedihannya.

Ia sungguh tak tega untuk mengatakan bahwa Jongin kehilangan memorinya 7 tahun belakangan ini. yang mengartikan bahwa ia masihlah menganggap bahwa namja yang kini tengah menangis bahagia di bahu Sungyeol itu, mungkin, tak lebih dari sekedar ibu sahabat baiknya.

Maaf heechul-Ommoni. Ia membatin seraya berperang untuk tak meluncurkan air mata lagi.

.

.

Matahari sudah bersinar dengan terang sekali ketika Jongin bangun dari tidurnya. Kedua kelopak matanya mengerjap, berusaha menyesuaikan diri dengan cahaya terang matahari yang mengisi kamarnya.

Ketika kedua matanya sudah bisa dengan jelas memandang, hal pertama yang dilihatnya adalah Yixing. Berdiri di depan kasurnya seraya menimang-nimang seorang bayi.

Bayi...

Mendengar suara grasak-grusuk, Yixing pun mengalihkan perhatiannya pada Jongin yang kini tampak berusaha mendudukkan dirinya di atas tempat tidur. Melihat itu pun ia lantas langsung berjalan menuju tempat tidur. Mendudukan dirinya, kemudian dengan satu tangan membantu Jongin untuk duduk.

"Jangan memaksakan dirimu kalau kau tidak bisa bangun." Ujarnya masih mencoba membantu dengan sebelah tangannya. Jongin menggeleng pelan. Kemudian menghela nafas setelah ia akhirnya duduk.

Manik jade Jongin lantas lansung menuju pada bayi yang digendong Yixing. Kepalanya miring sedikit guna melihat bayi itu dengan baik.

Wajah bayi itu begitu tenang dan damai. Kedua pipinya yang chubby berwarna kemerahan, begitu kontras dengan milky skin-nya. Meskipun ia masih sedikit berkeriput, wajahnya tampak begitu manis.

Tanpa disadarinya, senyum terulas di bibir Jongin. Perasaan tenang dan damai menghampirinya.

Melihatnya, Yixing tertegun sesaat. Ia pun lantas langsung mengalihkan pandangannya ke arah Youngin yang masih tertidur dengan lelapnya.

"Kau... mau menggendongnya?" pertanyaan itu direspon Jongin dengan membelalakkan matanya. tersadar dari sihir kecil sang malaikat. Kedua tangannya lantas terangkan di depan dadanya. Mengibas-kibas menolak.

"A-aku tidak pandai dengan bayi. Nanti aku melukainya..." gumamnya sedikit kelabakan dengan tawaran Yixing.

Meskipun ia sering disebut sebagai children magnet, ia benar-benar tidak pandai dengan mereka. Ia senang melihat mereka, bermain dengan mereka. Tapi kalau sudah berurusan dengan menangani mereka secara langsung, seperti menggendong atau semacamnya, Jongin angkat tangan.

Yixing menghela nafasnya. Wajahnya yang tenang sedikit mengalami perubahan.

"Tapi, kau ibunya..." Yixing bergumam kecil. Kepalanya menunduk, rambutnya menutupi kedua matanya.

Jongin membelalakkan matanya. Perkataan itu menghantamnya telak di hatinya.

Jongin pun lantas turut menundukkan kepalanya.

Dan suasana ruangan itu langsung senyap.

Tangan kanan Jongin lantas meremas spreinya. Jantungnya yang berdebar dengan begitu kencang membuatnya serasa hampir ingin menangis. Entah apa yang terjadi, ia benar-benar merasa sangat bersalah.

Jujur ia masih tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi sekarang. Semua informasi yang ia dapat dalam kurun waktu kurang dari 24 jam ini membuat kepalanya sakit dan serba salah.

Sementara Jongin ternggelam dalam rasa aneh yang melingkupinya, Yixing hanya bisa memandang wajah Renxing yang masih tenang dalam tidurnya. Perasaan bersalah yang amat besar terpancar dari kedua belah deep caramel-nya.

Bayinya ini, malaikat tak berdosa yang usianya baru 7 hari, baru saja merasakan hal paling buruk seurmur hidupnya.

Dilupakan oleh ibunya sendiri.

Rasanya saat ini, Yixing benar-benar ingin sekali memutar waktu. Meski itu harus dibayar dengan nyawanya.

Renxing tidak berhak sama sekali mendapat perlakuan seperti ini. ditimpa begitu banyak kesulitan bahkan sejak ia lahir.

Semua ini terlalu menyedihkan untuk malaikatnya.

Ketika Yixing tiba-tiba bangkit dari tempat tidur, Jongin tersentak dari lamunannya. Kepalanya menengadah memandang punggung Yixing.

"Aku akan mengembalikan Renxing ke ruangannya. Nanti aku kembali." Jongin kembali tersentak ketika ucapan dingin yang sama sekali tak pernah ia dengar terucap dari bibir Yixing. Kepalanya langsung tertunduk.

Tentu saja dia menyalahkanku. Jongin membatin. Kedua pipinya memerah menahan rasa sedih. Sudut matanya akhirnya basah dengan air mata. Kedua tangannya semakin erat menggenggam selimutnya.

Ia tidak mengerti apapun, tapi rasanya sangat sakit.

Tak mendapat respon apapun dari Jongin, Yixing pun mulai melangkahkan kakinya. Pandangannya masih ke arah Renxing.

Belum juga ia sampai di pintu, Renxing mulai menggeliat dalam pelukkannya. Mulutnya terbuka-tertutup, seolah mencari sesuatu yang jelas sekali Yixing ketahui.

Renxing lapar.

Dengan gerakan cepat, Yixing menolehkan kepalanya ke arah belakang. Ke arah botol Renxing yang ada di atas tempat tidur.

Yixing mengigit bibirnya ketika ia menemukan botol itu sudah kosong isinya.

Aduh, harus bagaimana? Aku tidak tau bagaimana caranya menyeduh formula...

Belum sempat Yixing memikirkan apapun, suara tangis Renxing langsung memecah keheningan. Sukses menyentak kedua orang tuanya dari apapun yang sedang mereka pikirkan.

Mendengar suara tangis Youngin membuat Jongin tiba-tiba diliputi rasa aneh yang sama sekali tidak menyenangkan. Kepalanya pun lantas menoleh ke arah Yixing yang kini tengah berusaha menenangkan Youngin yang malah menangis semakin kencang.

Ada apa? Apa yang terjadi padanya? Jongin membatin. Manik matanya yang berair semakin lembab seiring dengan tangis bayi itu semakin keras.

Harus bagaimana? Harus bagaimana?

"Sunbae, biar aku menggendongnya."

Ucapan Jongin yang cukup keras barusan sontak membuat Yixing menghentikan gerakannya menimang-nimang Renxing. Untuk sesaat, ia membeku di tempatnya berdiri.

Yang barusan itu, ia tidak salah dengar, kan?

Dengan keraguan yang sangat, Yixing menolehkan kepalanya untuk sekali lagi tersentak kaget dengan apa yang ia lihat.

Jongin merentangkan kedua tangannya, jelas meminta Yixing menyerahkan Renxing padanya. Mengongirmasi perkataannya barusan.

Tanpa disadarinya, kedua kaki Yixing lantas berjalan kembali mendekati tempat tidur. Dengan perlahan dan masih tanpa disadarinya, ia menyerahkan Renxing ke pelukkan Jongin.

Seketika itu juga, jerit tangi keras Renxing memelan.

"Sush... anak baik." Jongin bergumam pelan. Menimang-nimang Youngin dengan tangan dan sekujur tubuh yang sedikit bergetar. Mencoba menenangkan malaikat kecil pembawa perasaan aneh yang begitu nyaman dan damai dalam pelukkannya.

Tapi, sebanyak apapun Jongin menimangnya, bayi manis itu masih tidak mau diam. Menyuarakan tangisan yang, meskipun lebih pelan dari yang sebelumnya, terasa begitu keras dan menyakitkan telinga dan hatinya.

"Lapar."

"Huh?" Jongin lantas menolehkan kepalanya ke arah Yixing, yang entah sejak kapan sudah duduk begitu dekat dengannya.

"Lihat bibirnya mengecap-kecap. Itu tandanya ia lapar." Jelas Yixing seraya menunjuk bibir Youngin yang meskipun sibuk menyuarakan tangisnya, tak berhenti melakukan gerakan mengecapnya.

Jongin pun lantas mengalihkan pandangannya kembali pada Youngin. Persis seperti yang di katakan Yixing, Youngin menggerakkan bibirnya, membuka menutup seperti mencari sesuatu.

Jadi, kalau bayi lapar seperti ini... Jongin membatin, entah bagaimana caranya terkagum dengan apa yang ia lihat.

Ah- aniya, bukan saatnya terkagum-kagum!

"L-lalu apa yang harus aku lakukan?" pertanyaan itu terucap dengan nada panik. Pandangan Jongin beralih antara Yixing dan Youngin.

"Susui dia."

"Ne?!" dalam hitungan detik, seluruh wajah Jongin, yang masih basah akibat air mata yang turun tanpa perintah, langsung memerah padam.

"Renxing lapar, jadi susui dia." Yixing mengulang ucapannya, seolah tak peduli, atau tidak sadar lebih tepatnya mungkin, dengan bagaimana merahnya wajah Jongin sekarang. Manik matanya masih terfokus pada Renxing.

Sementara Jongin hanya bisa membeku di tempatnya. Tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.

Menyusui, Jongin tau jelas maksud dari ucapan itu. Dalam situasi seperti ini, kata itu tidak mungkin berarti hal lain selain apa yang ada di kepalanya sekarang.

Tapi, bagaimana? Dia 'kan namja. Namja tidak bisa menyusui seorang bayi.

Dan lagi, kalau ia menyusui Youngin sekarang, dengan Yixing duduk di sampingnya, bukanya dia pasti akan melihat...

"Bisa, kau bisa melakukannya. Cepat buka bajumu dan susui Ren-er. Dia benar-benar kelaparan sekarang." Dari cara bicara Yixing yang begitu cepat dan tangis Youngin yang bertambah kencang dari sebelumnya, Jongin tidak punya pilihan.

Dengan tangan bergetar, ia melepaskan kancing bajunya dengan sebelah tangannya. Gerakannya begitu lambat sampai Yixing gemas melihatnya.

"Kau ini bagaimana sih?! Cepat!" seru Yixing gemas. Sontak membuat Jongin lantas mendeath glare-nya.

"Ya! Unicorn-sunbae! Jangan berteriak-teriak di telingaku!" Jongin balas berseru. "Dan lagi, ngapain kau masih di sini?! Yadong!" Pandangannya full fokus pada Yixing yang menatapnya dengan pandangan terkejut.

Di saat itulah, Yixing bisa melihat dengan jelas wajah Jongin yang merona padam. Kali ini ia jelas tau bahwa rona itu adalah rona rasa malu yang tak tertahankan.

Aku 'kan sudah melihat semuanya, kenapa juga dia malu –

Ah yeah, sekarang dia ini sedang dalam ingatan Kim Jongin.

Yixing menghela nafasnya. Ia pun lantas bangkit dari tempat tidur. Menghadapkan tubuhnya ke arah tembok sehingga kini ia memunggungi Jongin.

"Sudah. Sekarang cepat susui Ren-er." Ujar Yixing dengan kedua pipi yang entah mengapa tiba-tiba memanas. Jongin mengalihkan pandangannya dari Yixing ke Youngin yang tangisnya semakin kencang.

Tidak ada pilihan lain. Jongin pun kembali melanjutkan melepas kancing bajunya. Kali ini dengan cepat.

"Ne... ne... arraseo, Youngin-ah." Mendengar Jongin mengucapkan hal itu, Yixing bisa membayangkan istri-nya itu sedang membuka kancing piyamanya seraya menimang-nimang bayi mereka yang kelaparan.

Ketika tangis Renxing berhenti, seluruh wajah Yixing berubah jadi memerah. Dalam bayangannya, Renxing menyusu pada kedua dada Jongin yang...

Yixing lantas menggeleng-gelengkan kepalanya. Mencoba menghapus pemikiran kotor yang hampir mampir di kepalanya.

Sementara itu, Jongin kini tengah dilingkupi perasaan aneh yang sulit ia jelaskan.

Terkejut tentu saja ia rasakan –ayolah, mana ada namja yang bisa menyusui bayi seperti ini. Tapi, dibandingkan perasaan itu, ada perasaan aneh yang lebih dominan mengisi relung hatinya.

Rasa itu, begitu menenangkan. Hangat dan membahagiakan. Membuatnya merasa lengkap dan utuh sebagai seorang manusia.

Melihat bayi manis itu menyusu padanya membuatnya terasa nyaman dan tenang. Meskipun jantungnya berdegup gugup, ia bisa merasakan perlahan kegugupan itu mulai sirna seiring dengan bayi itu meminum asi yang entah bagaimana caranya bisa keluar dari dadanya.

Perasaan ini, meski ia tidak mengerti, Jongin ingin terus merasakannya.

Setelah beberapa menit berlalu, Youngin akhirnya melepaskan nipple Jongin. Bertanda bahwa ia kini sudah kenyang. Jongin tersenyum lembut tanpa sadar.

Setelah mengancing piyamanya lagi, perlahan, Jongin mengubah posisi Youngin jadi menyandar pada punggungnya.

Setaunya, setelah meminum susu, bayi harus disandarkan ke punggung dan dibuat bersendawa. Kenapa sebabnya ia tidak tau, tapi sepertinya sangat penting karena setiap ibu yang ia lihat pasti melakukannya.

Setelah ia merasa bahwa posisi Youngin sudah nyaman , ia tepuk-tepuk punggung bayi itu. Mencoba memaksanya untuk bersendawa.

Di sisi lain, Yixing masih berdiri menghadap tembok. Dengan sabar menunggu perintah Jongin untuk berbalik atau hal apapun yang semacam itu.

Saat ini hatinya, untuk pertama kalinya sejak Jongin bangun, terasa begitu hangat. Jongin yang bersedia menyusui Renxing, itu berarti naluri keibuannya tidak hilang 'kan? Dengan begini setidaknya ia bisa sedikit tenang dengan nasib Renxing.

Tambahan lagi, dengan ini, kini bayinya itu sudah tidak perlu lagi meminum susu formula yang tidak seharusnya diberikan kepanya. Rasanya beban di pundaknya terasa terangkat.

"Umm... sunbae... kau sudah boleh berbalik." Suara kecil Jongin terdengar. Yixing pun lantas membalikkan tubuhnya.

Dan matanya terbelalak ketika melihat Jongin yang tampak dengan gugup menepuk-nepuk punggung Youngin yang bersandar pada pundaknya.

Ah... hatinya benar-benar terasa hangat sekali saat ini.

.

25 menit kemudian, Youngin akhirnya bersendawa dan kembali tertidur lelap di pelukkan Jongin, yang tak henti-hentinya memandang bayi manis itu.

Yang ia sadari setelah kebersamaan singkatnya dengan malaikat kecil ini adalah ia sangat menyayanginya. Lebih dari apapun yang ada di dunia ini. Seolah ia akan melakukan apapun untuk bayi manis dalam pelukkannya itu.

Ia tidak tau masalah naluri keibuan atau semcamnya. Tapi, begitulah yang ia rasakan.

Yixing sendiri hanya bisa memerhatikan dengan senyum di bibirnya. Hatinya terasa dalam kedamaian tak terkira melihat Jongin menggendong bayi mereka.

Tak masalah lah kalau ia harus memulai segalanya dari ulang lagi dengan Jongin, kalau Renxing tetap merasakan kasih sayang Ummanya, ia rasa semuanya akan baik-baik saja.

"Um... sunbae.."

"Hn?" ditanggapi dengan gumaman lembut itu, entah bagaimana caranya membuat kedua pipi Jongin memerah. Jantungnya berdebar dengan keras.

Aish! Ada apa sih ini. ia membatin tidak mengerti dan sebal.

Tidak mendapati Jongin melanjutkan kata-katanya, Yixing pun menaikan sebalah alisnya.

"Ada apa Jongin?" ditanya begitu cukup untuk menyadarkan Jongin dari pikirannya.

"Err... itu..." manik mata Jongin tampak bergerak-gerak ke kiri ke kanan. Seolah sedang mencari sesuatu.

"Bagaimana ya... umm... kau bilang sebelumnya nama bayi ini –"

"Jangan menyebutnya bayi ini, Jongin. Dia anakmu, anak kita." Yixing memotong. Jongin mengerjapkan matanya beberapa kali, sebelum kemudian wajahnya kembali menjadi kepiting rebus.

Ah... kata-kata itu sangat memalukan. Bayi kita? Ia masih 17 tahun! Dan seingatnya –

Ah yeah... ingatannya kan hilang. Duh pabo-nya kau Jongin.

Yixing menaikan sebelah alisnya ketika Jongin tiba-tiba menepuk jidatnya.

"Ah... oke... err... uri aga. Kau bilang uri... aga... itu namanya Youngin. Lalu kenapa kau panggil dia Renxing. Dan kalau tidak salah, kemarin Sungyeol-hyung juga memanggilnya dengan sebutan Renxing 'kan? apa itu semacam nama panggilannya?" tanya Jongin dengan pandangan yang sengaja di tujukan pada Youngin. Menghindar dari pandangan deep caramel Yixing. Pipinya masih merona.

Melihat hal itu, Yixing hanya bisa tertawa kecil.

"Tidak, itu juga namanya. Lebih tepatnya nama chinese-nya." Jongin menaikan kepalanya. Menatap Yixing bingung. Membuat Yixing kembali tertawa kecil.

Aigo... mau apapun yang terjadi padanya, Jongin tetap saja kelihatan imut ketika sedang bingung seperti itu.

"Jadi begini, Renxing itu 'kan anak dual kenegaraan –aku lupa namanya apa. Jadi dia punya dua nama, nama Chinese dan nama Korean. tapi, basicaly, artinya sama. Cuma hanjanya dibalik." Yixing merogoh saku celananya, mengeluarkan sebuah note kecil. Kemudian menuliskan sesuatu di sana dengan pulpen kecil yang sepertinya datang dari dalam note itu.

"Nah, begini tulisannya." Yixing menyerahkan note itu pada Jongin, yang langsung diambil oleh Jongin tanpa melihat Yixing sedikitpun.

Di atas kertas note berwarna kuning itu, tertulis sebuah hanja yang sangat khas sekali di matanya. sebuah hanja yang dibaca 'In' dalam korea. Salah satu hanja yang menyusun namanya, Jongin. Sementara hanja lainnya ia tidak kenal sama sekali.

"Hanja itu dibaca Zhang Renxing atau Jang Inyoung. dalam bahasa china, hanja 'In'-mu itu terbaca 'Ren' dan lainnya adalah hanja dari namaku. Hanja 'Xing' dalam korea dibaca 'Young'." Jelas Yixing seraya mendekatkan tempat duduknya.

"Hanya saja, karena kau pikir Inyoung itu terdengar aneh –padahal sih tidak, menuruku, makanya kau balik jadi Youngin. Yah setidaknya begitulah." Tambah Yixing. Jongin hanya ber-oh ria.

Jadi begitu, karena bayinya ini punya orang tua yang berbeda kewarganegaraan ia jadi punya nama yang berbeda. Tapi, kok sepertinya aneh ya.

"Bukan kalau dinamai dengan dasar satu bahasa saja tidak apa-apa. Aku rasa, Renxing terdengar apik ditelingaku." Tawa Yixing cukup mengejutkan Jongin ketika ia selesai menyampaikan pendapatnya itu. Keningnya lantas berkerut.

Ada yang aneh 'kah dari ucapanku barusan? Ia membatin dalam bingung.

"Hahaha... tidak tidak, itu tidak aneh, Jongin. Hanya saja, menurutku, nama Renxing itu sulit di ucapkan untuk lidah korea, 'kan?" Jongin mengerutkan keningnya lagi. Wajahnya menunjukkan tanda bahwa ia tidak setuju dengan apa yang baru saja diucapkan oleh Yixing.

Melihatnya, Yixing kembali tertawa kecil.

"Itu karena kau sudah terbiasa dengan bahasa China. Kalau untuk orang lain kata 'xing' itu sulit." Ujar Yixing seraya memandang Jongin. Membuat namja itu –yang tanpa sadar memandang Yixing- tersentak kaget. Kedua pipinya lantas berubah menjadi merah –lagi.

Sontak saja, Jongin langsung menundukkan kepalanya. Yixing hanya bisa tersenyum simpul melihatnya.

"Kau tau," Jongin tidak mengangkat kepalanya, tapi sepertinya mendengarkan. "Sungyeol bilang, kau hanya kehilangan ingatanmu tentang orang-orang. Maka dari itu, kemampuanmu yang kau dapat selama 7 tahun belakangan tidak hilang. Jadi, kemampuan berbahasa china-mu tidak akan hilang, setidaknya aku pikir begitu." Jelas Yixing, cukup membuat Jongin kembali tersentak.

Jadi, ia bisa berbahasa China? Tapi, kenapa ia tidak bisa membaca hanja barusan?

"Itu karena kau baru sampai pada huruf china yang digunakan sehari-hari." Yixing kembali berucap seolah membaca pikirannya. "Huruf yang digunakan untuk nama itu adalah hanja. Kau belum belajar sampai sana. Lagi pula, dibandingkan dengan tulisan, pelajaranmu itu lebih berfokus pada speaking." Tambah Yixing lagi. Kali ini seraya merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Mengejutkan Jongin.

"A-apa yang kau lakukan?" tanya Jongin setengah gugup.

Eh? Kok gugup sih? Tidak-tidak! Tidak mungkin ia bisa gugup gara-gara sunbae menyebalkan itu!

"Hmmm.. biarkan aku tidur sebentar. Aku lelah sekali." gumam Yixing setengah tidak jelas. Sepertinya sudah hampir terlelap. Jongin memiringkan kepalanya seraya mengerutkan kening.

Perasaan, namja ini tidak melakukan apapun deh. Kok bisa-bisanya dia capek begitu? Masa' iya menggendong bayi saja membuatnya capek. Dan lagi, Jongin yakin bayi mungil nan manis ini bukanlah bayi yang rewel.

Ne, Youngin –

Jongin tersentak kaget ketika ia menundukkan kepalanya, sepasang silver-blue besar menatap balik kepadanya dengan penasaran.

"Eh... kau bangun? Apa aku terlalu keras?" tanyanya pada Youngin, yang jelas saja tidak menjawab. Bayi manis itu hanya menatap balik pada Jongin dengan mata besarnya.

Melihat manik silver blue itu membuat hati Jongin berbunga-bunga. Rasanya dalam perutnya yang masih sedikit terasa sakit, jutaan kupu-kupu berterbangan menggelitik perutnya lembut. Menimbulkan sensasi aneh dalam perutnya.

"Anyeonghaseo, uri aga." Ia bergumam tanpa sadar. Youngin menjawabnya dengan menguap kecil, kemudian kembali menatapnya dengan silver blue besarnya.

Mata itu, manik besar itu, meskipun berbeda dengan dia dan Unicorn itu, tampak begitu cantik dan menawan hatinya.

Ah, benar juga. Kenapa matanya berwarna begitu?

"Hey, Unicorn." Panggilnya seraya mencolek Yixing dengan kakinya. Yixing hanya bergumam sebagai jawaban.

"Kenapa mata Youngin biru begini? Apa keluargamu ada yang bermata biru?" tanya Jongin dengan nada penasaran.

Mata biru begini tidak mungkin datang darinya. Manik mata jade-nya adalah manik resesif, alias gen minor yang kata Jonghyun-hyung-nya berasal dari great-grandfather mereka. Itu sebabnya warna irisnya berbeda sendiri dari segenap keluarganya yang lain –mereka semua bermata coklat.

Jadi, kalau dilogika lagi, tidak mungkin deep caramel bertemu dengan jade jadi biru begini. Pasti ada gen dari unicorn sunbae-nya itu yang membuat mata Youngin jadi biru begini.

Eh sebentar.

Kenapa ia jadi terdengar jadi seperti seorang ibu yang sedang menyama-nyamakan anaknya dengan ayahnya, ya? Atau hanya perasaannya saja?

"Tidak." Yixing berucap seraya membalikkan tubuhnya, memunggungi Jongin. "Kata Sungyeol, semua bayi yang akan memiliki warna mata terang selalu mulai dengan warna steel blue. Nanti kalau dia sudah beberapa minggu, matanya akan mulai menunjukkan warna aslinya."

Jongin ber-oh ria. Kemudian kembali menatap Youngin. Yang masih asik memandangnya dengan mata besar miliknya.

Jongin kembali mengulas senyum. Diangkatnya bayi manis itu ke dekat wajahnya. Kemudian dikecupnya kening bayi mungil nan manis itu. Youngin membalas dengan suara-suara aneh yang terdengar seperti sebuah tawa di telinga Jongin.

"Saranghae, Aga-ya."

Mendengar itu, Yixing hanya bisa tersenyum.

Setidaknya dengan begini, ia hanya perlu memikirkan hubungan dirinya dan Jongin.

Siang itu dihabiskan Yixing dengan tertidur. Dalam tidurnya, ia bermimpi tentang dirinya, Jongin dan Renxing pergi ke taman bersama seraya bergandengan tangan.

.

.

.

.

.

.

.

To Be Continue.