"Kau kemana saja?" Naruto bertanya pada temannya yang baru saja kembali cukup lama, entah darimana. Saat itu ia sudah hendak melangkah kembali ke kelasnya meninggalkan ruang kesehatan, dan Sasuke datang tepat waktu. Hari itu hanyalah hari pertama sekolah setelah liburan, tidak akan lama mereka berada di sekolah itu untuk hari pertama, sebab tidak ada yang dibicarakan oleh para guru selain jadwal pelajaran baru, atau pengumuman-pengumuman lain yang berkaitan. Pelajaran belum resmi dimulai.
"Aku memeriksa sesuatu, itu saja." Sasuke menjawab santai, kemudian menyeimbangkan kecepatan jalannya dengan Naruto. Kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku celana, dan ekspresi datar senantiasa menghias roman wajahnya.
"Sayang sekali," Naruto menghela nafas panjang, masih saja dipikirkannya soal gadis tadi yang ingin ia ajak masuk ke dalam klub penelitian arwahnya. Ia kecewa karena gagal mengajaknya, bahkan tampaknya membuat gadis itu kesal terhadapnya. Ia sama sekali tidak bisa membiarkan Sakura begitu saja–terlebih setelah penyerangan tadi pagi. Itu pertama kalinya semenjak beberapa bulan yang lalu, dan kali ini lebih parah dari sebelumnya. Arwah itu sudah berani melukai Sakura, tidak menutup kemungkinan bahwa arwah lain tidak akan melakukan hal yang sama terhadap siswa-siswi yang bersekolah disana. Sudah menjadi tanggung jawabnya, Sasuke, dan seluruh anggota klub untuk menjaga keamanan sekolah dari hal-hal demikian. "Kita tidak bisa membiarkannya begitu saja, Teme. Bagaimana kalau terjadi penyerangan lagi? Astaga, aku tidak bisa membayangkan apalagi yang berani dilakukan arwah-arwah disini. Andai saja kita mampu memurnikan semuanya dalam sehari."
"Itu mustahil, bangunan ini sudah hampir seratus tahun lamanya dan kaupikir ada berapa banyak arwah terperangkap disini? Baik yang lemah, maupun yang kuat. Baik yang tersesat maupun yang masih bisa membedakan baik dan buruk." Sasuke sempat melirik ke arah Naruto, sebelum bibirnya membentuk senyum sarkastik, "Tidak perlu dipikirkan lagi soal gadis bodoh itu, Naruto."
"Bagaimana bisa aku tidak memikirkannya?! Kalau sampai terjadi sesuatu padanya… Oh, aku tidak tahu apa yang akan dikatakan kepala sekolah soal ketidakberdayaan kita menangani kasus yang seharusnya sudah menjadi makanan sehari-hari." Naruto menaikkan alisnya melihat ketenangan Sasuke yang menurutnya sedikit aneh saat itu–semenjak pergi tanpa berkata apapun dan kembali lagi tanpa memberitahu apapun juga.
"Tidak, tidak akan terjadi apa-apa…"
Puissance Interieure
Resurrectione Sanctorum
Naruto © Masashi Kishimoto
Puissance Interieure © Apocxlypse
Genre/Rate :
Adventure – Fantasy – Friendship – Supernatural – Horror – Mystery
Rate M for Violence and Harsh Words, and Gore in the next chapters
Pairing :
Sasuke Uchiha & Sakura Haruno
Warning: Alternate Universe, maybe Out Of Character, but I'll try my best to not ruin their original personality
Chapter 2 – Primum Conventus
Atas saran dari seorang pemuda berambut hitam dan bermata batu obsidian sialan itu, aku kembali berakhir di ruang kesehatan. Aku kembali setelah memastikan Naruto tidak ada disini, dan benar saja, sama sekali tidak ada siapapun disini. Sasuke tidak membiarkanku pulang dengan perkataannya. Kata-katanya masih melayang-layang dalam benakku. Dan dengan menetap di ruang kesehatan ini, nampaknya aku mengiyakan apa yang dikatakannya. Senyum miris terbentuk begitu saja di bibirku, tanpa aku tahu mengapa aku tersenyum. Lagi bukan senyum bahagia yang merekah itu. Di tanganku sudah ada sebuah jadwal pelajaran dan map sekolah yang diberikan salah satu guru di ruang tata usaha sebelum aku kembali ke sini. Menarik garis imajiner dengan jariku, dari tempatku berada ke halaman belakang sekolah. Tempat yang disebutkan Sasuke sebelum ia meninggalkanku tadi.
Ah, kau pasti bertanya-tanya apa yang ia katakan.
"Setidaknya lihatlah dulu. Aku tahu kau pasti berencana akan pulang setelah ini, wajahmu mengatakan segalanya. Ini permintaanku–sialan kenapa aku harus terlihat seperti memohon di hadapan gadis bodoh sepertimu. Setidaknya sebagai tanda terimakasihmu kepadaku karena aku telah menolongmu tadi pagi. Datanglah, setelah jam pelajaran berakhir, ke halaman belakang. Klub penelitian arwah akan berkumpul disana. Lihatlah dulu apa yang biasanya kami lakukan. Jika setelah itu kau masih tidak mau untuk bergabung, maka tidak akan lagi aku menahanmu seperti ini."
Kalimat yang sangat panjang untuk seseorang yang kuduga tak suka banyak bicara dan dingin seperti dirinya. Tch, apa pedulinya dirinya padaku? Ia memintaku untuk datang, tapi di telingaku kata-katanya beserta nada bicaranya tampak seperti memerintah. Terutama ketika ia mengumpat dalam kalimat itu, dan kutebak, ia tidak pernah atau jarang melakukan itu sebelumnya. Sedikit membuatku tersanjung karena aku seolah dianggap istimewa, tapi tetap saja. Ini konyol, terlibat lebih jauh dalam dunia yang paling tidak ingin kuketahui, konyol sekali. Setelah berkata demikian, kudengar dialah yang meminta izin agar aku bisa mendekam di ruang kesehatan dengan alasan aku terserang panic attack dan asma bersamaan, konyolnya guru mempercayainya tanpa memeriksa keadaanku. Nah, nampaknya kita sudah bertemu dengan sang empunya sekolah, yang seenak jidat melakukan apa yang diinginkannya.
Aku kembali berpikir setelah menarik nafas panjang. Sesungguhnya, faktanya, dan kenyataanya–kukatakan demikian sebagai penegasan, tidak akan ada yang percaya soal kekuatan yang dikatakan Naruto dan Sasuke. Orang-orang pasti berpikir imajinasi mereka terlalu kuat, atau mereka sudah gila, mereka sudah bosan dengan kehidupan normal dan memutuskan untuk memberi 'bumbu' pada kehidupan mereka sendiri. Klub penelitian arwah itu hanya akan berakhir dicemooh dan dihina, sama seperti nasibku. Itu adalah isu masyarakat, kemudian kutambahkan sebagian logika lain. Jika mereka menyebut perserikatan itu adalah klub, maka artinya kepala sekolah sudah memberikan izin dan persetujuan pada mereka. Nah, kepala sekolah seperti apa yang percaya terhadap hal-hal mistis seperti itu? Semakin banyak saja pertanyaan yang bermunculan dalam benakku, yang kemudian segera kuhapus dengan menutup kedua mataku dan menggelengkan kepalaku pelan.
Sudah sangat lama aku mendekam disini, rasanya seperti seharian penuh. Aku melirik jam dinding, dan memutuskan untuk bangkit dari tempat tidur dan keluar dari ruang kesehatan itu. Sebentar lagi bel pulang, maka tidak masalah kalau aku tertangkap basah tidak mengikuti pelajaran hari pertama. Langkah pertama setelah keluar dari ruang kesehatan itu, sensasi dingin membuatku bergidik. Rasanya tidak senyaman berada di dalam ruang kesehatan, aku tidak mengerti kenapa. Tapi tidak mundur diriku dan tetap berjalan sesuai dengan arah yang ditunjukkan map untuk sampai ke halaman belakang. Kutemukan juga sebuah jalan pintas, tidak terlalu jelas di map tapi kurasa patut dicoba. Daripada memutar, aku kemudian memotong jalan ke sebuah koridor sepi. Kiri dan kanannya hanya terdapat ruangan kosong–bukan kelas. Ruang seni, ruang musik, ruang masak, ruang audiovisual dan ruang serbaguna. Adapun ruangan terakhir sebelum berbelok adalah sebuah gudang.
Selangkah, dua langkah, aku masih merasa baik-baik saja. Tapi langkah-langkah berikutnya tampak berat. Perasaanku tidak enak, dan aku merasa mulai tertekan. Atmosfirnya berubah dingin. Aku menoleh, tak ada siapapun disana. Aku benar-benar sendiri. Tenanglah, Sakura, jalan lebih cepat, supaya kau cepat sampai ke halaman belakang. Terus-terusan kalimat itu kuulang dalam benakku. Aku hendak melangkah lagi, tapi niatan itu langsung ciut. Mengapa?
Mereka ada. Mereka disana! Samar-samar, mereka berlalu lalang di koridor itu. Keluar dan masuk dari ruangan-ruangan yang ada disana, seolah tengah menjalankan aktivitas mereka. Tidak lagi, tolong jangan lagi. Kedua tanganku terkepal, mataku tak bisa lepas dari mereka. Tanpa kusadari aku terlalu takut hingga melangkah mundur selangkah demi selangkah. Rupa mereka terlalu buruk, aku mual karenanya. Tapi sialan mata ini! Ingin kucongkel dan kukubur saja, lalu buta selamanya! Apa yang baru saja kulakukan nampaknya membuat beberapa dari mereka menyadari kehadiranku. Mereka menoleh, pandangan semua tertuju padaku. Semakin ciut nyaliku, sialan sejak kapan aku penakut seperti ini!
Dan di saat ketakutanku hampir memuncak, dua tangan menutup mataku kemudian. Membuatku hampir berteriak tapi kalimat yang keluar dari mulut sang pemilik tangan membuatku mengurungkan niatan itu.
"Pura-pura tidak melihat saja." ucapnya, "Kalau kau terus-terusan seperti itu, mereka akan berpikir kau bisa melihat mereka, dan akan menjadi berbahaya karena mungkin mereka akan mendatangimu, meminta pertolonganmu untuk kembali ke alam mereka, mencoba berkomunikasi denganmu atau parahnya mengambil alih tubuhmu. Kau tahu, kerasukan…"
"…. N-naruto." Langsung tubuhku diselimuti kelegaan hingga hampir saja terjatuh tubuhku karena kakiku goyah, Mulutku terbuka, hendak menyampaikan rasa terimakasihku tapi teringat kemudian penolakanku, membuatku enggan mengatakannya karena harga diri yang tinggi. Aku akan merasa tidak enak hati nantinya pada Naruto, walau tampaknya aku berhutang budi padanya.
"Kau pasti sudah mendapatkan map sekolah ini, hingga memilih koridor ini untuk pergi ke halaman belakang." Ia tertawa, mengonfirmasi kebenaran dengan melirik kertas map–yang lecak karena kuremas– di tanganku. "Untung saja aku sudah keluar dari kelas lebih dulu. Teme masih ada urusan, karena ia ketua kelas, jadi kurasa ia akan menyusul nanti."
"Bagaimana kau tahu aku akan pergi ke halaman belakang?" Aku menaikkan sebelah alisku, tapi kemudian tanganku menepuk dahi karena melupakan sesuatu, "Ah, Sasuke pasti memberitahumu kalau tadi pagi ia mengejarku dan menyuruhku untuk melihat kegiatan yang dilakukan klub kalian itu sepulang sekolah."
"Huh? Jadi itu yang dilakukan Sasuke tadi pagi?!" Nampaknya kalimatku mengundang gelak tawa, tidak yakin apa Naruto benar-benar tidak tahu atau pura-pura tidak tahu, "Ia sama sekali tidak memberitahuku, sungguh! Aku bisa berkata demikian karena koridor ini hanya akan membawamu ke halaman belakang. Murid baru sepertimu tidak mungkin punya urusan ke ruangan-ruangan yang ada disini. Sungguh! Aku tidak percaya kalau Teme-lah yang mengajakmu hingga kau mau datang melihat kegiatan klub kami. Kupikir pemuda berhati es itu sama sekali tidak menaruh peduli padamu. Hahaha, dasar tsundere dirinya!"
Aku tidak menjawab lagi, dan membiarkan Naruto berjalan lebih dulu. Pemuda itu dengan mudah menganalisa, membuatku bertanya-tanya sebenarnya siapa dirinya. Dan semakin diriku bertanya-tanya begitu kulihat arwah-arwah yang ada di koridor itu lebih memilih untuk menghindari dari Naruto. Sekuat apa pemuda itu, sampai-sampai ditakuti arwah. Dan seolah ia bisa membaca apa yang sedang kupikirkan saat itu, ia langsung menyahut, "Arwah lemah tidak akan berani menyerang orang yang lebih kuat darinya. Maka itu, Sakura-chan harus jadi kuat supaya tidak diserang arwah lagi." Ia menoleh padaku sejenak, tersenyum. Aku membalas senyumnya dengan senyuman tipis yang masih menunjukkan keraguanku. Segera kukejar langkahnya, hingga aku berada di sebelahnya.
Sesampainya kami di taman belakang, sudah ada beberapa pemuda disana. Tak kulihat ada satupun perempuan. Dan aku menjadi khawatir pertemuan ini–dan karena kehadiranku– akan berakhir dengan gangbang. Baiklah, abaikan segera pikiran kotorku itu. Aku tidak semesum itu, aku hanya mengatakan apa yang muncul di pikiranku.
"Selamat datang, Naruto-kun." Pemuda berambut hitam dengan kulit yang sungguh pucat seolah tak setitik darahpun mengalir di dalam tubuhnya menyapa Naruto, sementara pemuda-pemuda lain yang tengah duduk bangkit berdiri, melakukan hal yang sama dengan pria tadi, menyambut Naruto dengan jabatan tangan atau sebangsanya. Tidak, tidak sampai cium pipi kanan kiri seperti dugaanmu.
"Nah, nah… siapa lagi yang kaubawa kali ini, Naruto?" Pria lain lagi, dengan rambut diikat ke belakang dan mencuat ke atas–membuat wajahnya seolah adalah nanas– menatap diriku dan Naruto bergantian. Tak pernah dihadapkan dengan pertemuan yang seperti ini, aku mundur beberapa langkah ke belakang Naruto seperti anak kecil yang malu-malu bertemu orang baru, ya, memalukan memang.
"Kenalkan!" Naruto yang tidak peka malah menarikku ke depannya, menepuk kedua bahuku, "Haruno Sakura-chan akan melakukan observasi terhadap kegiatan klub kita hari ini sebagai bahan pertimbangan untuk bergabung atau tidak, Sakura-chan bisa melihat arwah, dan ia mampu melihat masa lalu dengan kekuatannya, unik bukan?"
"Serius?!" Mendadak mereka menjadi antusias dan segera mendekat padaku, refleks diriku menarik tubuh sedikit mundur untuk menjaga jarak. "Dewi fortuna benar-benar ada di pihak kita, di saat kita sangat membutuhkan kekuatan satu ini, kemudian datang saja ia bersama Naruto! Trip mencari 'itu' bisa dilanjutkan lagi pada liburan mendatang!" Dari sekian pemuda, yang paling antusias adalah pria berambut nanas tadi. Aku tidak mengerti apa yang dibicarakannya soal 'itu', tapi kurasa itu bukan hal biasa, aku bisa merasakannya dari cara pria itu berbicara.
Oh, well¸kurasa aku mengambil keputusan yang salah datang kesini.
"S-Shikamaru!" Naruto menegur, tapi kurasa bukan teguran yang serius untuk bisa kupertimbangkan untuk memutuskan apa aku akan pulang saja daripada menghabiskan waktu berhargaku disini.
"Ah, aku mengambil keputusan yang salah. Sudah kuduga, rupanya kau mengajakku hanya karena kekuatanku yang kalian butuhkan itu. Entah apapun yang kalian cari, semoga bisa kalian temukan tanpa kekuatanku." Langsung kutepis tangan Naruto yang berada di pundakku dan melangkah gusar meninggalkan mereka. Kudengar Naruto memanggil namaku dengan suara lantangnya. Tapi aku tidak peduli. Dimanfaatkan adalah hal yang paling kubenci, dan sekarang aku merasakannya untuk kesekian kalinya. Brengsek mereka semua.
"T-tunggu dulu, Sakura-chan!" Tak kuduga Naruto mengejarku. Ia menahan tanganku, dan aku berhenti tanpa menoleh padanya, "Maafkan Shikamaru! Ambisinya terlalu kuat soal itu, tapi percayalah padaku, aku mengajakmu bukan karena menginginkan kekuatanmu, tapi aku sungguh ingin membantumu keluar dari masalahmu. Itu adalah bagian dari tugas kami, klub penelitian arwah, untuk membantu siswa-siswi yang memiliki masalah yang berkaitan soal itu, seperti dirimu."
Aku masih belum menoleh. Kata-kata Naruto belum mampu meyakinkan diriku.
"Lihatlah dulu! Bukankah itu yang Teme katakan padamu? Setelah itu aku tidak akan memaksamu lagi untuk bergabung ataupun untuk terlibat lebih jauh. Setelah itu, keputusan berada di tanganmu, Sakura-chan." Pria ini, rasanya benar-benar berniat baik untuk membantuku. Ia tahu kelemahanku, tak mampu menolak permohonan orang, apalagi ia sudah berbuat baik padaku. Membuat Naruto di posisi seperti ini, aku sedikit merasa bersalah.
"Baiklah, baiklah. Lepaskan tanganku. Aku tidak akan pergi kemana-mana." Naruto melepaskan tanganku, dan barulah diriku menoleh padanya. Senyumnya merekah, mungkin ia senang aku tidak jadi pergi begitu saja. "I-Ini belum keputusan pasti! J-jika aku memutuskan untuk bergabung, aku hanya ingin meminta cara untuk mengendalikan kekuatanku, setelah itu aku tidak akan lagi terlibat dalam kegiatan kalian, terutama dengan pria yang kaupanggil Shikamaru itu. Aku tidak suka dimanfaatkan."
Naruto mendelik ke arah Shikamaru seolah menyalahkan pria itu, kemudian menatapku kembali dengan penuh keramahan, "Tenang saja, Sakura-chan! Kami akan memperlakukanmu dengan sangat baik begitu kau memutuskan untuk bergabung!" Kembali Naruto mengajakku untuk bergabung bersama pemuda-pemuda di sana. Sampai saat ini Sasuke belum datang, aku jadi bertanya-tanya dimana dia. Naruto berkata ia harus mengurus sesuatu, tapi apakah selama ini? "Naruto, Sasuke… belum datang juga." ucapku, sembari menoleh ke arah koridor yang tadi kulewati bersama Naruto.
"Ah, Teme memang orang sibuk, biarkan saja. Sebentar lagi juga datang, mungkin. Atau mungkin juga, ia sedang berbicara dengan guru pembina klub, mungkin membicarakan dirimu." Aku sangat yakin Naruto bergurau. Klub seperti ini mempunya guru pembina? Yang benar saja?! Astaga, ibu, sekolah macam apa ini yang kau pilihkan untukku. Semakin berwarna saja masa mudaku dengan warna-warna asing yang tak pernah kulihat sebelumnya, bukan warna pelangi melainkan warna gelap terang yang kontras, "Pertama-tama, biar kukenalkan mereka dulu padamu."
Naruto menunjuk pria yang menyambutnya pertama kali tadi, "Pemuda pucat ini, namanya Sai. Ia ahli dalam menggambar dengan kuas. Kau mungkin akan terkesima dengan gambarannya yang tiada cacat sedikitpun dan sangat cepat ia menyelesaikannya." Sai menunjukkan senyumnya padaku, aku tidak bisa menebak apa artinya ia menyambutku dengan terbuka atau ia tengah berpikir macam-macam dibalik senyum itu, entahlah. Dan kurasa Naruto hendak mengenalkan anggota klubnya beserta kelebihan yang dimiliki oleh setiap anggota. Kemudian ia berlanjut menunjuk pria berambut nanas, "Nah, seperti yang tadi sudah kauketahui, namanya Nara Shikamaru. Pemuda terpintar di sekolah ini, pandai menyusun strategi dan mengambil keputusan, deduksinya tak terbantahkan!" Aku menatap Shikamaru dengan tatapan kesal, dan pemuda itu menyadarinya, maka ia memalingkan wajahnya, menolak melakukan kontak mata denganku, "Ini Inuzuka Kiba. Kiba sangat menyukai anjing. Ia memiliki anjing besar bernama Akamaru yang terkadang ia bawa ke sekolah karena bisa membantu pekerjaan kami disini." Aku membayangkan sebenarnya anjing yang dimaksud itu se-spesial apa, "Ini Hyuuga Neji, Ia tak buta, apalagi katarak! Warna matanya memang seperti itu, indigo. Itu bagian dari kekuatan yang dimilikinya." Jika saja Naruto tak menjelaskan itu, aku pasti sudah menganggap pemuda ini mengalami katarak di usia dini. "Yang terakhir, Rock Lee! Ia pintar soal beladiri. Kau bisa belajar beladiri dengannya jika kau mau."
"Senang bertemu denganmu, Haruno-san!" Lee membungkukkan badannya dalam-dalam. Bukannya tersanjung, aku malah sedikit ngeri dekat-dekat dengan pemuda yang satu ini. Ya, bisa kurasakan semangatnya berkobar-kobar. Kira-kira kekuatan semacam apa yang dimiliki dirinya.
"Dan sisanya dalah Naruto, dan Sasuke?" aku bertanya. Anggotanya lebih sedikit dari yang kuduga. Kurasa memang orang yang mempunyai kekuatan atau kelebihan khusus seperti mereka di sini tak sebanyak yang kukira. "Kalian hanya bertujuh."
"Masih ada anggota lain, namun saat ini yang dikumpulkan memang hanya kami." Yang menjawab adalah pria yang jika tidak salah kuingat bernama Kiba, "Kami juga memiliki anggota perempuan, mereka memang tidak datang karena yang akan melakukan pekerjaan hari ini adalah hanya kami bertujuh."
"Baiklah, bisakah kita mulai? Pekerjaan ini akan memakan waktu yang sangat lama dan aku tidak mau pulang terlalu sore." Shikamaru berucap, diakhiri dengan menguap lebar.
Naruto menganggukmengiyakan perkataan Shikamaru, "Ya, kau benar. Tapi Teme belum datang."
"Kita akan mulai tanpanya. Ia bisa bergabung jika urusannya sudah selesai." Sai membuka map sekolah yang sama seperti milikku, menyebarkannya di bangku taman hingga kami semua bisa melihatnya. Map yang dimilikinya sedikit lebih besar dari milikku, nampaknya ia mencetak ulang. Sungguh, aku masih tidak tahu apa yang sebenarnya akan mereka lakukan saat ini. "Kita bagi saja seperti biasa. Aku dengan Shikamaru, kami akan membersihkan sayap kiri." Dengan pena ia menandai bagian gedung sekolah yang ia sebut sayap kiri, "Neji dengan Lee, kalian bersihkan sayap kanan. " Kembali ia lakukan hal yang sama terhadap gedung bagian kanan. "Gymansium, lapangan dan aula adalah bagianmu, Kiba." Sai menatap pemuda yang ia sebutkan namanya tadi, "Sementara gedung utama…" Dan pandangan kami tertuju pada gedung yang ada di depan kami, "Seperti biasa adalah bagianmu bersama Sasuke, Naruto-kun."
"Dan aku akan membawa Sakura-chan bersamaku. Akan lebih aman dengan begitu." Seolah mereka semua sudah mengakui Naruto dan kelebihan yang dimilikinya, mereka mengangguk setuju saja. Naruto merangkulku, kemudian tersenyum kembali kepadaku. Sedikit ia mampu menenangkan hatiku yang penuh keraguan dan tanda tanya dalam benakku.
"Apa yang akan kalian lakukan sebenarnya? Apa yang kalian maksud dengan 'membersihkan' ? Kenapa juga kalian harus berpencar?" Aku melepaskan sebuah pertanyaan yang paling kuinginkan jawabannya.
"Kau tidak mengerti, Sakura?" Neji menatapku, "Kami klub penelitian arwah, dan aku yakin Naruto sudah menjelaskan sebagian besar visi dan misi klub ini. Mendengar istilah 'membersihkan' seharusnya bisa mengarahkanmu pada suatu kesimpulan dari premis-premis yang sudah ada, bukan?"
Ah, aku memang idiot. Apalagi kalau bukan membersihkan arwah–kegiatan yang akan mereka lakukan saat ini. Arwah disini cukup banyak, makanya mereka membagi tugas. Gedung utama adalah yang paling sering digunakan, maka itu Sasuke dan Naruto –yang kuanggap terkuat dari semuanya– diberi tanggung jawab disana. "Apa kalian melakukannya setiap hari?"
"Tentu tidak, Haruno-san." Kali ini Lee yang menjawab pertanyaanku, "Pekerjaan ini hanya dilakukan setelah liburan, karena kami yakin jumlah arwah yang ada di gedung ini selama gedung ini ditinggalkan berlibur akanlah bertambah, entah darimanapun itu. Baik arwah yang telah lama tinggal, maupun arwah yang sedang mencari tempat baru. Tugas kami membersihkannya adalah untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan."
"Maksudmu kerasukan?" Aku langsung menyebut saja yang dikatakan Naruto saat kami di koridor tadi.
"Ya, tepat sekali. Sebelum kami–klub ini ada, kabarnya hal itu sudah menjadi acara setiap hari disini."
Aku bergidik ngeri, Membayangkan setiap hari kejadian semengerikan itu terjadi. Membayangkan seseorang yang tengah tenang-tenangnya menjalanlan kegiatan belajar mengajar seperti biasa kemudian kesadarannya direnggut paksa oleh arwah sialan itu dan seenaknya saja mengendalikan tubuh manusia. Aku pikir inilah alasannya mengapa klub ini disetujui oleh kepala sekolah, terlebih jika setelah keberadaan klub ini, frekuensi kejadian itu bisa ditekan. Satu demi satu pertanyaan yang ada dalam benakku mulai terjawab seiring berjalannya waktu dan keterlibatanku dengan mereka. Aku tidak bertanya lagi, biarlah mereka selesaikan dulu pekerjaan mereka demi kenyamanan dan keamanan kegiatan sekolah ini.
"Baiklah, kita lakukan sekarang." Lalu kami semua pergi ke tempat yang menjadi tanggung jawab masing-masing. Aku mengikuti Naruto, sebagai yang pergi terakhir karena pemuda itu memutuskan untuk menunggu Sasuke sejenak.
"Bagaimana bisa arwah menjadi kuat?" Aku bertanya, daripada tidak ada pembicaraan sama sekali. Kurasa Naruto juga tidak biasa dengan atmosfir canggung mendadak seperti ini.
"Mudah saja, mereka bisa mengambil kekuatan dari arwah yang ada di sekitar mereka. Atau kesesatan dalam hati mereka bisa menuntun mereka menjadi setan. Ya, arwah dan setan, adalah dua hal berbeda. Arwah tidaklah mempunyai tujuan yang buruk seperti setan, arwah biasanya hanya ingin berada di dunia lebih lama saja…"
"Apa yang menunjukkan bahwa itu adalah arwah yang kuat?"
"Seperti yang sudah kaualami, mereka mampu menyentuhmu sedemikian rupa, melukaimu. Mereka akan terlihat lebih jelas dari arwah pada umumnya di matamu. Sebagian besar dari mereka mampu mengubah rupa buruk mereka menjadi seolah mereka adalah manusia biasa. Mampu mengambil alih tubuh orang lain dengan mudah, dan mampu berkomunikasi dengan manusia seperti layaknya manusia dengan manusia. Justru yang seperti itulah arwah yang berbahaya. Keinginan mereka begitu kuat, entah dengan tujuan apa, hingga mampu menarik kekuatan dalam sekitar mereka. Mereka akan berusaha memancing orang-orang yang mampu melihat mereka, seperti dirimu, dengan kalimat-kalimat hasutan mereka."
"Sasuke menyuruhmu memurnikan arwah yang tadi pagi menyerangku sejak lama, tapi tak kaulakukan. Apa ada alasan khusus dibalik itu?"
Naruto tertawa, ia mengusap-usap tengkuknya, "Yang satu itu, ya… memang kelalaianku. Sasuke menyuruhku demikian, tapi tak kulakukan karena terpengaruh tipu daya arwah itu. Kupikir arwah itu arwah lemah, jadi kubiarkan saja karena ia pun takkan menganggu juga. Teme punya keunggulan, ia mampu membedakan arwah jahat dan baik dari aura yang dimiliki masing-masing arwah. Manusia pun juga memilikinya, namun lebih sulit dilihat. Neji bisa melihat aura manusia." Ya, kuingat Naruto berkata mataindigo Neji sebagai bagian dari kekuatan pemuda itu, "Maaf sekali malah kau yang menjadi korban dari arwah itu."
Aku tersenyum, seolah mengatakan itu bukan salahnya. Kejadian itu murni kecelakaan, tidak ada yang tahu bahwa arwah yang semula Naruto anggap lemah akan menjadi se-agresif itu, dan lagi terhadapku. "Apa arwah-arwah sering menyerang murid baru?"
Naruto terdiam sejenak sebelum menjawab pertanyaanku, "Well, soal itu… Jujur saja, ini jarang terjadi. Setelah pekerjaan ini selesai, kami berniat mendiskusikannya bersama-sama. Ini aneh, maksudku… bagaimana bisa mereka tahu bahwa kau memiliki kekuatan yang sedemikian langkanya dan mengejarmu."
Jadi memang begitu, ini bukan kejadian biasa-biasa saja. Makanya Naruto bersikeras memintaku bergabung. Makanya Sasuke sampai mengejarku begitu. Mereka sudah memprediksinya, sementara aku dengan kepala batuku tetap saja menolak menerima bantuan yang diberikan mereka itu. Aku menghela nafas, rasanya semakin rumit saja. Yang bisa kuprediksi sekarang adalah masa SMA yang dikatakan orang-orang sebagai masa emas di masa remaja itu tidak akan bisa menjadi masa SMA yang normal.
"Teme terlalu lama, baiklah kita mulai saja sekarang." Naruto berjalan memasuki koridor tadi, dan aku senantiasa mengekorinya. Pria itu berniat membersihkan gedung utama di mulai dari atas, tidak terkecuali atap yang sering dikunjungi siswi-siswi untuk makan siang pada jam istirahat. Yang dilakukan Naruto tidak lain hanyalah berjalan, menolehkan kepala ke kanan dan ke kiri. Memeriksa setiap sudut koridor, membuka pintu-pintu ruangan dan memeriksa, kemudian pintu ruangan tersebut ditempelinya sebuah kertas dengan tulisan yang tak kumengerti. Itu adalah kekai, begitu yang dikatakan Naruto kala aku bertanya, gunanya untuk melindungi ruangan tersebut dari arwah jahat. Kekai yang semula hanyalah sebuah kertas itu lenyap seolah ditelan kayu pintu, entah bagaimana bisa tertanam di dalam sana, dan pertama kali aku cukup terkesiap melihatnya. Tak mampu diriku berkomentar, sebab hal itu mustahil sangat.
"Aku harus memeriksa ke dalam, kau mau ikut?" Ia bertanya begitu kami sampai di toilet lantai yang saat itu sedang kami kunjungi, segera aku menggeleng, dan nampaknya ia mengerti kenapa, "Kalau begitu tunggulah disini, jangan pergi terlalu jauh."
Aku mengangguk. Menunggu Naruto di luar, menatap keluar jendela melihat awan yang bergerak pelan. Baru jam segini, namun awan sudah gelap saja. Seolah hari sudah sore, Belum terlihat ada yang telah menyelesaikan tugasnya, nampaknya ini tugas yang cukup melelahkan bagi mereka, ya.
Lima menit, sepuluh menit. Naruto belum keluar juga dari toilet. Kenapa lama sekali?
Aku ingin menyusulnya ke dalam, tapi pendengaranku menangkap suara yang jauh lebih menarik. Suara itu mampu memancing keingintahuanku memuncak, mampu membuat langkahku berhenti dan berbalik. Tungkaiku membawaku menuju sumber suara,
Hiks… hiks…
Suara rintihan tangis itu.
H-hiks… c-cincinku…
Berasal dari tangga menuju ke atap. Aku terdiam di bawah tangga. Di atas sana ada sesuatu, arwah? Aku takut, tapi penasaran. Sasuke benar, aku idiot. Aku tak mampu menahan rasa ingin tahuku. Naruto belum keluar , hendak memanggil tapi aku tak mau mengganggu apapun yang ia lakukan di dalam sana. Kuberanikan diriku, melangkah menaiki anak tangga. Semakin lama langkahku semakin cepat, seraya rintihan tangis yang awalnya samar-samar itu semakin jelas di telingaku, Kemudian, tangga terakhir kunaiki.
"Kyaaa!"
Kutemukan dia, arwah yang menangis di pojok dekat dengan pintu menuju atap. Parasnya cantik, ia memiliki rambut panjang sepinggang yang terlihat begitu halus dan lembut. Kedua matanya berkaca-kaca, dipegang dalam genggamannya sebuah saputangan merah muda. Baju yang dikenakannya, seperti baju guru. Mungkinkah? Dan ia menjerit ketika bertemu denganku. Arwah macam apa lagi ini, "Ka-kau bisa melihatku?!"
Aku mengangguk dengan ragu.
"Benarkah?! Waaah, senangnya!" Arwah itu tersenyum, seolah kehadiranku membangkitkan harapannya, "Ano,,, aku ada permintaan. M-Maukah kau menolongku?" Ia bertanya padaku sambil menyatukan kedua tangannya di depan dada, dengan mata memelas.
Kubalas juga dengan sebuah senyuman sebelum berkata, "Iya... Tentu saja." Ini sih, tidak ada bedanya dengan manusia biasa.
"Aku menjatuhkan cincin pertunanganku dengan salah satu guru di sekolah ini, d-dibalik pagar itu." Arwah itu menunjuk ke sebuah pagar pembatas di atap. Ia bersembunyi di balik pintu, sebab ia takut pada ketinggian, begitu yang dikatakannya sebelum ini, "Aku terpeleset waktu mengambilnya." Sempat ia terdiam, dan isakannya semakin menjadi, "Aku bodoh sekali, kehilangan nyawa sendiri hanya karena sebuah cincin. Aku benar-benar ceroboh."
Aku tak bisa melepas tatapanku daripadanya. Ia selalu memangis di sudut itu, sendirian. Meratapi nasibnya yang meninggal karena terjatuh, cincin pertunangan yang ia jatuhkan di balik pagar itu. Apa yang dikatakan tuangannya saat itu. Memikirkan hal ini, ia justru lebih kasihan daripada manusia hidup. "Tenanglah, aku akan mengambilkannya untukmu. Tunggu disini." Aku berjalan tanpa beban menuju ke pagar itu dan melompatinya. Mencari disekitar sana sambil berpegangan. Sekalipun masih banyak ruang, tapi tetap saja, kecerobohan bisa menjadikanku sama seperti arwah wanita itu. Aku baru memikirkan, sejak kapan wanita itu meninggal? Jika ia menjatuhkan cincin disini, seharusnya… sudah hilang terbawa air menuju saluran air.
Rasanya Naruto sebelum ini sudah mengatakan padaku tentang arwah yang bisa berbicara.
Tapi aku lupa, aku bertanya hanya agar kami ada bahan pembicaraan, bukan karena aku memang penasaran dengan jenis-jenis arwah yang ada di sini. Aku tidak mendengarkannya dengan baik.
"Cincinnya, sama sekali tidak ada…" ucapku. Aku belum menoleh sama sekali, masih berusaha mencari. Sedikit demi sedikit mendekati batas, melirik ke lubang saluran air kalau-kalau tersangkut disana.
"C-coba periksa dengan cermat! Cincin itu kecil, jadi kupikir pasti tak mudah terlihat." Masih kudengar jawabannya dari kejauhan sana. Aku melakukan seperti yang dipintanya. Sebisa mungkin tidak melihat ke bawah, karena bisa dibayangkan, berdiri di pinggir atap gedung bertingkat sekitar 5 tingkat sama sekali tidak menyenangkan. Juga dalam benakku, masih mencoba mengingat perkataan Naruto.
"Sama sekali tidak ada…" Aku mengulang kalimatku dan berbalik.
Dan hal pertama yang terfokus oleh kedua lensaku adalah tasku melayang tepat ke wajahku.
"…?!" Tak mampu kakiku menahan keseimbangan, goyah keduanya karena keterkejutan. Aku terjatuh ke belakang, namun tanganku refleks meraih pegangan. Aku ingat sekarang. Ucapan Naruto tentang arwah yang bisa berkomunikasi.
"….Mampu mengambil alih tubuh orang lain dengan mudah, dan mampu berkomunikasi dengan manusia seperti layaknya manusia dengan manusia. Justru yang seperti itulah arwah yang berbahaya. Keinginan mereka begitu kuat, entah dengan tujuan apa, hingga mampu menarik kekuatan dalam sekitar mereka. Mereka akan berusaha memancing orang-orang yang mampu melihat mereka, seperti dirimu…."
Seharusnya aku mengingat dengan baik kata-kata Naruto. Sekarang, ingin berteriak pun sulit. Naruto takkan mampu mendengar suaraku. Helai-helai rambut kasar merayapi jemariku– tidak bisa kulihat apa, kemudian mata yang melotot lebar mengintip dari balik sana. Arwah wanita tadi! Rupanya jauh lebih buruk daripada arwah tadi pagi. Rambutnya berhiaskan bercak-bercak darah. Ia tidak bohong soal jatuh dari atap, dilihat dari keadaannya.
Ia bohong soal mengapa ia bisa terjatuh.
"KAU! KAU MEREBUTNYA DARIKU! SERAGAM INI! RAMBUT MERAH MUDA INI!" Arwah itu menjerit-jerit, ia masih menangis–kali ini bukan air mata, melainkan darah yang keluar dari matanya. "AAAA!" Jemarinya dengan kuku panjang tajam hendak meraih wajahku. Aku tidak tahu apa yang akan dilakukannya. Mencongkel mataku? Menancapkan kuku tajamnya pada wajahku? Tidak! Tidak lagi!
Kulepaskan jemariku, membiarkan tubuhku terjatuh sehingga ia tak dapat mencapainya.
Mulutku tak mampu melepas jeritan, bibirku kelu. Sebentar lagi kepala ini akan menghantam tanah di bawah sana. Naruto! Sasuke! Dua nama yang tak mampu kupanggil saat ini. Kulihat arwah tadi terbakar dengan api, aku tidak tahu bagaimana bisa. Namun segera kudapatkan jawabannya.
"S-Sasuke!?" Pemuda itu berdiri di pinggir atap, di sebelahnya arwah itu menjerit kesakitan, kemudian lenyap menjadi debu yang kemungkinan terbawa angin. Sasuke melihatku. Apa yang dipikirkannya sekarang, bisa segera kutebak, "J-jangan…. Jangan!"
Terlambat peringatanku. Pria itu menjatuhkan dirinya, bobotnya yang lebih berat membuat ia terjatuh lebih cepat hingga mampu meraihku dalam dekapannya. Tapi ini semua percuma. Tak lama lagi tanah akan menyambut tubuh kami, dan kami berdua akan mati. Siapa yang idiot sekarang?!
"SHIKAMARU!" Ia berteriak, suara baritonnya bercampur adrenalin yang terpompa jantungnya, memekikkan telinga, "BAYANGANMU!"
Aku tidak bisa melihat apa yang terjadi, kupejamkan mataku rapat-rapat. Yang kutahu pasti, Sasuke mencoba menyentuh dinding gedung dengan kakinya yang panjang. Kemudian ….
Tidak lagi kurasakan gravitasi menarik tubuh kami berdua ke bawah.
"Sialan, berat juga kalian berdua!" Shikamaru berkomentar, aku tidak tahu sama sekali apa maksudnya.
"Sasuke-san! Sakura-san!" Samar-samar kudengar suara Sai. Tapi tak punya nyali aku untuk menoleh. Kutenggelamkan wajahku dalam dekapan Sasuke–yang mendekapku semakin erat. Bagaimana bisa kami berhenti di udara? Kami bahkan tak menyentuh apa-apa. Sai berseru lagi setelah beberapa saat, "Lepas, Shikamaru!"
Kembali kami ditarik gravitasi, aku menjerit tertahan. Tubuh kami menghantam sesuatu, entah apa itu, tak lama setelah kami kembali terjatuh. Bukan tanah, tapi sesuatu yang besar dan … bergerak. Aku mengintip, dan serasa terbang di atas permadani, tapi bukan itu yang membawa kami, melainkan seekor burung besar yang terbuat dari goresan tinta monochrome. Sebuah gambar!? Burung itu membawa kami berdua turun ke tanah dengan selamat, tapi aku belum melepaskan dekapanku dari Sasuke. Aku sungguh takut, tak pernah sebelumnya merasakan di ambang hidup dan mati dengan rasa takut sebesar ini.
"Bagaimana bisa terjadi. Naruto?! Kau yang sejak tadi bersamanya!" Shikamaru membentak Naruto, yang tampaknya baru saja sampai di sana.
"Aku lengah! Maafkan aku! Aku meninggalkannya sejenak untuk memeriksa bilik toilet, yang ternyata memakan waktu lebih lama. Setelah keluar… setelah keluar aku tidak menemukannya." Ia menjelaskan, sembari berusaha mengatur nafasnya untuk kembali normal.
"Kau baik-baik saja?" Aku mengangguk menjawab pertanyaan Sasuke, "Ada yang sakit?" Kemudian aku menggeleng. Aku menangis, berusaha menutupi hal itu dengan kedua tanganku, tapi tak bisa kusembunyikan isakanku. Aku tidak menduga, bahwa aku percaya dengan tipudaya arwah itu. Aku terpancing, kemudian hampir mati. Lalu Sasuke… Kalau saja tidak ada Shikamaru, kalau saja tidak ada Sai… Kami berdua akan berakhir dengan kepala pecah. "Aku akan membawanya ke ruang kesehatan, kita bicarakan hal ini disana." Sasuke menggendongku, dan kubiarkan ia melakukannya karena aku sendiri masih dilanda shock berat. Inilah panic attack yang sesungguhnya.
Lee menyuguhhkanku dengan segelas teh hangat. Semua orang menarik kursi mengelilingiku. Masih belum ada yang mampu memulai percakapan. "Terimakasih, Sai, Shikamaru." Sasuke-lah yang pertama membuka mulut.
"Maafkan kecerobohanku. Seharusnya aku mengawasinya!" Naruto masih dilanda dengan rasa bersalahnya, "Maafkan aku Sakura-chan. Aku…"
Aku menggeleng kemudian, "T-tidak, tidak, Jangan salahkan Naruto! Ia bukan tak bisa menjagaku, akulah yang berkeliaran sendiri tanpa dirinya. Aku… aku lupa perkataan Naruto soal arwah yang bisa berbicara, aku… aku terhasut. Aku menuruti saja perkataan arwah itu tanpa ingat yang Naruto katakana padaku." Aku menundukkan kepalaku dalam-dalam, "Maafkan aku, semuanya."
"Baiklah, tidak perlu saling menyalahkan atau menyalahkan diri sendiri. Bukan ini yang seharusnya kita bahas sekarang." Kiba menyudahi percakapan canggung tadi, "Masalah utamanya adalah mengapa Sakura bisa diserang arwah tadi pagi, bukankah itu yang akan kita bicarakan?" Kiba menoleh pada Sasuke, jadi kurasa Sasuke yang merencanakan pembahasan ini, yang tahu menahu soal kejadian tadi pagi hanyalah ia dan Naruto.
"Kau dikejar oleh arwah tadi pagi, bisa kau jelaskan kronologinya?" Neji bertanya padaku dengan nada menginterogasi. Membuatku tersedak tehku sendiri. Tanganku memegangi leherku sebelum aku mulai berbicara.
"Aku datang, melewati koridor di samping gedung sekolah. Semua baik-baik saja sampai aku merasakan ada tangan menarik kakiku. Arwah itu, sangat terlihat jelas. Ia melukai kakiku–yang baru kusadari setelah Sasuke memperlihatkannya padaku, kemudian… aku berlari, ia mengejarku. Aku menabrak Sasuke, dan tak sadarkan diri."
"Aku memusnahkan arwah itu…" Sasuke melanjutkan ceritanya, "Arwah yang seharusnya dimurnikan Naruto sejak dulu." Lagi-lagi ia melirik Naruto dengan tatapan penuh intimidasi. "Kemudian membawa gadis itu ke sini. Menurut kalian, mengapa arwah itu menyerangnya?"
"Karena ia punya kekuatan? Tapi bagaimana arwah itu bisa tahu? Terlebih, Sakura-san dalah murid baru disini." Pendapat pertama diucapkan oleh Sai. "Anggota kita tidak pernah diserang arwah, baik saat sebelum bergabung dengan klub maupun setelah bergabung. Bukankah ini aneh?"
"…. Atau hanya kebetulan? Arwah itu mungkin punya keinginan yang begitu kuat hingga menyerang Haruno-san yang kebetulan adalah murid baru?" Pendapat kedua diucapkan oleh Lee. Pendapat ini lebih masuk akal daripada pendapat Sai yang kuanggap sedikit berlebihan.
"Ayolah, kita tidak perlu membahas soal ini lagi." Aku mengangkat suara kemudian, "Mungkin Lee benar, mereka arwah yang mempunyai keinginan kuat untuk bebas. Untuk membalas dendam, atau untuk mendapatkan apa yang telah diambil daripadanya. Kalian tidak perlu mengkhawatirkanku. Aku akan baik-baik saja. Dan…" Aku melirik jam dinding, "Kurasa aku sudah harus pulang." Aku mengisyaratkan pada Kiba dan Sai yang duduk di sebelah kanan tempat tidurku untuk menggeser tempat duduk mereka agar aku bisa turun dari tempat tidurku. "Aku akan pulang sekarang."
"Untuk sekedar jaga-jaga, biarkan aku mengantarmu pulang, Sakura-chan!" Naruto segera berdiri dari tempat duduknya, menawarkan diri untuk mengantarku. Belum sempat aku mengeluarkan sebuah kalimat penolakan, Sasuke sudah lebih dulu berdiri, mendudukkan kembali Naruto dengan menekan bahu pria itu, dan apa yang dilakukannya nampak disetujui oleh anggota Puissance Interieure yang lain.
"Tidak lagi, Naruto. Biar aku yang mengantarnya." Sasuke meninggalkan tempat duduknya, meraih tas di sofa yang ada di ruangan itu, "Katakan pada ayah aku akan pulang terlambat." Ia berucap tanpa menoleh.
"Oh tidak, tidak, tidak perlu! Tuan Uchiha, aku bisa pulang sendiri. Ada apa dengan kalian ini hingga begitu mengkhawatirkanku…" Kalimat penolakan yang ditujukan untuk Naruto kini ditujukan untuk Sasuke. Baru kuingat, aku bahkan belum berterimakasih padanya karena telah menolongku, "Aa… aku berubah pikiran. Baiklah, tolong antarkan aku pulang." Entah mengapa aku merasa kalau aku berdebat dengannya, aku akan mati luar dalam. Kau tahu maksudku, aku akan mati jiwa dan ragaku… oke, ini berlebihan. Intinya aku mencari mati dengannya kalau berniat adu mulut dengannya.
Sasuke memimpin jalan, aku mengekorinya. Kami berdua berpamitan pada anggota lain, kemudian meninggalkan mereka yang masih duduk di ruang kesehatan menuju ke tempat parkir sepeda. Sasuke meyakinkanku untuk meninggalkan sepedaku dan berjanji akan menjemputku besok sebagai gantinya. Sepedaku takkan hilang, katanya. Aku menurut saja, sudah kukatakan aku menolak berdebat dengannya. "Pegangan yang kencang…" ucapnya, begitu aku sudah naik di belakangnya.
"Terimakasih…" aku berucap, akhirnya. Tanganku dilingkarkan di pinggangnya, mencengkeram seragam pemuda itu, "Karena telah menyelamatkanku tadi pagi, dan yang baru saja terjadi."
"Akhirnya kau sadar juga untuk minta maaf, " Ia terkekeh pelan, nampaknya dengan nada sedikit mengejek, sebelum ia mengayuh sepedanya meninggalkan lingkungan sekolah.
"Kau gila. Menjatuhkan dirimu begitu saja. Kalau Sai dan Shikamaru belum datang, kita berdua bisa mati."
"Aku tahu. Aku sudah memprediksi semuanya, jadi kau tidak perlu khawatir aku malah akan membunuhmu."
"Kenapa kau melakukan itu?"
"Apa?"
Aku menggembungkan pipiku, mengapa dia tidak peka sama sekali. "Tentu saja menjatuhkan dirimu! Kau bisa saja membiarkan aku jatuh, atau langsung berteriak kepada Sai untuk menangkapku di bawah sana. Sebenarnya apa yang kau pikirkan saat itu, sih? Gila, aku langsung menyebutmu idiot dalam hati saat itu."
Alih-alih menanggapi kalimatku, ia malah mengayuh sepedanya lebih kencang. Ia hanya berbicara ketika hendak menanyakan ke arah mana rumahku, sesampainya kami di wilayah distrik 6. Kebetulan ia juga tinggal di distrik 6, begitu katanya, makanya ia menggantikan Naruto menawarkanku pulang. Padahal kupikir ia melakukannya karena ia tidak bisa mempercayai Naruto soal keselamatanku untuk kedua kalinya. Apalah aku diperlakukan seolah aset berharga mereka. Sesampainya di depan rumahku, aku segera turun dari sepedanya, mengucap terima kasih sebelum ia pergi meninggalkanku. Nah, sampai di rumah membuat perasaanku menjadi lebih damai. Aku segera membuka gerbang dan masuk, memutar kunci pintu dan menekan kenopnya. Dingin, seolah ada AC yang dinyalakan di dalam. Aneh, padahal musim dingin masih lama.
Kuabaikan hal itu, mungkinlah hanya perasaanku saja. Ibu takkan pulang hingga malam nanti, kurasa. Hari masih siang, menjelang sore hari, dan kusadari perutku belum diisi apa-apa. Kuputuskan untuk membuat sup krim dengan potongan jamur. Aku sudah terbiasa memasak sendiri, ibu yang mengajariku. Ia melakukan demikian agar kelak aku bisa mandiri. Ternyata alasan dibalik itu adalah karena ia sendiri tak bisa membuatkan makanan untukku sehingga aku harus membuatnya sendiri. Banyak hal yang kupikirkan baik selama memasak, sampai saat sup krim itu sudah siap santap.
Masih terasa, perasaan terjatuh dari atap tadi. Masih menggerogotiku secara psikis. Sialan. Kalau sampai benar-benar mati, rasanya aku pun akan berakhir menjadi arwah yang enggan pergi ke surga–walau aku tak yakin aku akan diterima disana, karena menyesali bagaimana bisa aku mati hanya karena arwah yang tentu derajatnya lebih rendah daripada makhluk hidup yang merayap di muka bumi ini. Lalu kupikirkan lagi soal kekuatanku–melihat kejadian lampau, entah apakah ada batas waktu yang bisa kutempuh, aku sendiri belum mencobanya ( tolong catat bahwa mencoba disini adalah atas kemauan sendiri, bukan karena desakan dari roh-roh penasaran yang ada di sekelilingku ). Apakah dengan kekuatan ini aku mampu merubah sejarah? Kurasa tidak.
Kuhabiskan segera sup krim itu, sedikit membuat lidahku terbakar. Ketika hendak mencuci mangkuk dan peralatan masak yang kugunakan tadi, suara yang tertangkap oleh indera pendengaranku langsung membuat syaraf motorik dalam tubuhku berhenti. Aku langsung terdiam.
TOK!
Suara ketukan yang mengheningkan segalanya. Suara nafasku mendadak jelas terdengar. Detak jantungku yang kembali meningkat juga ikut mewarnai suasana. Siapa yang baru saja mengetuk? Apa itu… lagi-lagi hanya perasaanku saja? Semenjak kejadian tadi pagi aku semakin sensitif terhadap gerakan kecil atau suara samar yang berada di sekelilingku. Tapi kali ini nyata, bukan sekedar paranoia.
TOK!
Ketukan itu kembali memecah keheningan. Langsung aku mendekat ke arah pintu–menduga bahwa itu tetangga yang hendak memberi surat edaran ataukah petugas pengantar surat. Tapi setengah jalan, akal sehatku kembali me-reset pikiranku sebelumnya. Jika memang benar demikian, bagaimana caranya mereka masuk sementara gerbang sudah kukunci! Siapapun yang bisa masuk, pastilah bukan orang baik-baik! Ralat, mungkin bukan makhluk baik-baik.
"S-siapa?" aku memberanikan diri bertanya, tapi tak kudapatkan jawaban apapun. Sejenak ketukan itu berhenti, sebelum kembali berbunyi dengan frekuensi yang lebih sering dibandingkan sebelumnya. Kupegang kenop pintu dengan gemetaran. Rasanya dingin sekali. Sensasi dingin yang seolah langsung menyadarkan seluruh indera dan syarafku, bahwa ternyata apapun yang berdiri di balik pintu ini mempunya hawa mencekam yang langsung menekan udara di sekitarku, bau busuk menyengat menyerang indera penciumanku hingga refleks aku menutup hidung dan menjauhkan diri dari pintu. Celah di bawah pintu hanya menunjukkan bayang-bayang samar berdiameter cukup panjang. Aku tak sanggup mendekat selangkah lagi, terlebih aku sangat yakin di balik pintu itu bukan hal yang patut diberi sambutan hangat.
Apapun yang ada di sana menyadari ketakutanku, menyadari keraguanku untuk membuka pintu hingga semakin agresif ia. Ketukan berhenti, kali ini ia menggerak-gerakkan kenop pintu. Beruntung sudah kukunci! Astaga ya tuhan, apalagi sekarang. Tidak cukupkah cobaan yang kuterima hari ini?!
Aku mendekat lagi, sembari menutup hidung rapat-rapat, kuputar kunci sehingga terkunci dua kali. Dengan mengerahkan seluruh tenagaku, kutarik sofa yang cukup berat untuk menutup pintu, Kemudian memastikan semua jendela terkunci. Setelah selesai, yang bisa kulakukan hanyalah berdiri terpaku di tengah-tengah ruangan. Tak berani aku naik ke lantai dua dan melihat apa yang ada di balik pintu dari jendela kamarku, salah-salah ia akan menyadari keberadaanku. Duduk meringkuk diriku di balik sofa yang lainnya, membelakangi pintu. Aku tidak punya nomor Naruto ataupun Sasuke. Seharusnya aku minta! Kejadian ini di luar nalarku. Tetap kupegang erat ponselku, kutekan nomor telepon polisi setempat tapi belum kuhubungi langsung.
Kumohon pergilah! Aku tidak mau diganggu, pun aku tak mau mengganggu!
Kedua telingaku kusumpal dengan earphone dan memutar musik kencang-kencang. Tapi seperti radio tanpa sinyal yang baik, ponselku hanya mengeluarkan suara gemerisik memekakkan telinga yang segera kucabut lagi. Dalam hati terus-menerus kuulang kalimatku.
Kumohon pergilah! Aku tak mau diganggu, pun tak mau mengganggu!
Dan seolah keajaiban terjadi, suara itu menghilang. Hawa mencekam perlahan surut, dan kenop pintuku kembali diam. Menyadari hal ini, segera diriku bangkit dan mendekat perlahan ke arah pintu. Sudah pergikah? Jadi permohonanku dikabulkan oleh dewa? Aku terjatuh, kakiku goyah karena kelegaan yang menghampiri. Kuletakkan tanganku di depan dada, jantungku berdetak tak karuan–rasanya hampir meledak.
Tapi kurasa dewa tak sebaik itu padaku.
PRANG!
Mataku membulat sempurna, refleks melindungi wajahku seluruhnya, hingga kurasakan pecahan-pecahan kaca jendela menghujani tubuhku. Beberapa menusuk tanganku, tak kurasakan sakit karena yang kupikirkan saat itu hanyalah, apa yang akan terjadi padaku!? Jendela ruangan lain pun ikut pecah, seolah udara menekan kuat rumahku. Telingaku berdenging hingga sakit sekali rasanya, dan lagi hawa mencekam itu datang menekan udara, Jeritan tak mampu lolos dari mulutku. Kuberanikan lensaku melihat apa yang sebenarnya ada di depanku. Sosok bayangan besar, hitam pekat dengan rambut kasar panjang hampir mencapai lantai. Kuku-kukunya tajam bagai pisau, dan matanya merah menyala, ia seolah memakai jubah, yang kemudian kusadari jubah itu adalah lumpur hitam, menetes memberi corak pada lantai rumahku. Lumpur hitam yang kemudian memunculkan tangan-tangan yang tak jauh beda dengan milik bayangan itu. Tangan-tangan itu menjambak rambutku, menahan tanganku hingga seutuhnya aku terbaring. Kakiku tak dibiarkannya memberontak.
Sebentar lagi aku pasti kehilangan kesadaranku. Sebelum itu terjadi… sebelum aku mati.
Biarkan aku memanggil satu nama…
"SASUKE!"
To Be Continued
Konnichiwa Minna-sama!
Ternyata Chapter 2 ini lebih panjang daripada Chapter 1, hahaha.
Baiklah mari kita jawab dulu reviews yang sudah ada di Chapter 1 .
Nekotsuki : Iya, fanfiction Uchi no Denryoku tidak akan dilanjutkan, tapi akan dibuat ulang dengan penambahan-penambahan cerita dan alur yang dibuat agak berbeda dari ff yang pertama. Tapi tenang saja, Uchi no Denryoku kali ini pasti dilanjutkan, kok… :D
Guest : Ahahaha, gomenasai! Yah, kehidupan sebagai pelajar memang menyita waktu, apalagi saat itu Author sedang miskin ide untuk melanjutkan cerita. Setelah menjelang liburan panjang, Author pikir fanfic ini harus dilanjutkan, tapi karena dalam waktu setahun itu Author telah improve dalam gaya bahasa, penulisan dan sebangsanya, maka Author memutuskan untuk membuat ulang :D
Coalacolacola : Semangat UAS-nya! Author juga sedang UAS dan baru selesai hari Sabtu nanti X"D
FiaaATiasrizqi : Author juga berencana demikian. Keras kepala Sakura saat ini adalah agar jalan ceritanya tidak monoton. :D
Kiyoi-chan: Syukurlah kalau Kiyoi-chan menyukai ceritanya!
Author berusaha menyelesaikan chapter dua ini dalam satu malam, sejak hari selasa sore hingga jam 12 malam menjelang hari Rabu ini, hingga tidur larut. Tapi tak disangka malah semakin larut Author semakin takut membuat ceritanya :""""
Supaya para pembaca mampu merasakan apa yang dirasakan Sakura, Author mengkondisikan diri seandainya Author berada dalam posisi Sakura. Apa yang Author pikiran apabila mendengar suara ketukan, apa yang akan Author lakukan bila diserang arwah, sampai-sampai Author takut sendiri X"D Kuharap para pembaca bisa merasakannya, ya!
Mungkin ada yang bertanya-tanya, apa arti Puissance Interieure itu. Author mengambil nama itu dari bahasa Prancis yang berarti Inner Power, masih tak jauh-jauh dari Internal Power ataupun Uchi no Denryoku, 'kan… :3
Nama-nama Chapter tidak lagi menggunakan bahasa inggris, melainkan dengan bahasa latin. Kecuali untuk Chapter Pertama, diberi nama Sacris yang merujuk pada orang-orang yang menjadi anggota Puissance Interieure, diambil dari bahasa Italia ( Sacre ) yang berarti suci. Sementara judul chapter ini ( Primum Conventus ) diambil dari bahasa Latin, artinya pertemuan pertama.
Rasanya chapter ini terlalu panjang ya… Duh, maaf. Author tidak pandai memotong cerita supaya semakin membuat penasaran :"D
Soal kapan Author akan update cerita, karena sebentar lagi libur, maka Author mungkin akan cukup cepat updatenya, paling lama ( ini belum pasti ) mungkin seminggu sekali :D
Yosh! Selamat membaca dan jangan lupa review, saudara-saudaraku…
Tanyakan apa saja! Author menerima saran dan kritik yang membangun. Maaf bila ada typo!
- Apocxlypse -
