We chose each other
and focus on by nano unit
When I see you, it's breathtaking
Normally I'm not like this
Saat aku memasuki halaman sekolah, kusadari jika sekolah masih sangatlah. Kelewat sepi malahan. Jelas saja sih, ini masih pukul enam tepat. Mana ada yang berangkat diwaktu sepagi ini. Jujur saja, aku juga sangatlah jarang malah mungkin tak pernah berangkat sekolah diwaktu sepagi ini. Tapi demi Wonwoo Sunbae yang sangat manis. Aku rela bangun lebih awal hanya untuk menaruh apa yang sudah kusiapkan untuknya.
" Wonwoo sangat menggilai jajjangmyeon dan chupa chups cola ", ucap Jisoo noona
Dan disinilah aku sekarang. Didepan loker Wonwoo Sunbae. Kuletakkan sekotak jajjangmyeon yang semalam kupesan di kedai bibi Jang dan baru kuambil tadi pagi, ditambah dua buah chupa chups rasa cola.
" Semoga kau menyukainya, Wonwoo noona."
Aku segera berlalu meninggalkan loker Wonwoo Noona, sebelum Wonwoo noona datang. Atap sekolah juga tak sama sepinya dengan halaman sekolah. Ini masih jam enam lebih lima belas, dan sekolah baru akan dimulai pukul setengah delapan nanti. Masih cukup rasanya untuk tidur diatap sekolah. Udara masih sejuk pagi ini, sangat cocok untuk tidur diatap sekolah.
yeppeun mal modu moaseo
ttada jugo sipeunde
neo- ape seomyeon jakku deureoganeun mal
saebyeoge mureul masimyeonseo
Suara dering ponselku membuatku terbangun dari tidurku. Soonyoung menelepon.
" Yeoboseyo? "
" Ya! Kau dimana? ", teriak Soonyoung dari seberang telepon.
" Atap.", jawabku singkat. Nyawaku rasanya masih belum terkumpul dengan sempurna.
" Lima menit lagi bel masuk, bodoh! Kau malah bersantai di atap sekolah. Dasar bodoh! "
HA? Delapan dua puluh lima. Segera saja kuambil tas dan berlari menuju kelasku.
BRUK!
Aku tak sengaja bertabrakan dengan seseorang.
" Ah, maafkan aku. Biar kubantu.", ucapku sambil mengambil buku - buku gadis itu yang berceceran karena bertabrakan denganku.
" Gwenchana. Maafkan aku juga karena tidak berhati - hati.", gadis itu menjawab dengan lembut.
Dan rasanya jantungku nyaris berhenti berdetak ketika tahu siapa yang kutabrak.
WONWOO NOONA.
" Kau, membawa buku sebanyak ini sendirian, sunbae? ", tanyaku sambil menatap Wonwoo noona yang membawa lebih dari lima buku tebal.
" Kau murid tingkat satu? ", dia malah menanyaiku balik. Ya tuhan suara Wonwoo noona lembut sekali. Aku bisa gila semakin lama bertatap muka dengan malaikat satu ini.
Aku menganggukkan kepalaku. " Kim Mingyu.", ucapku sambil mengulurkan tanganku.
Wonwoo noona nampak terkejut. " Jadi kau yang bernama Kim Mingyu itu? Ace tim basket sekolah ini? Omona..", ucapnya dengan mata yang membulat lucu. Aahh aku jadi gemas sendiri. " Namaku..."
" Jeon Wonwoo.", potongku sebelum dia menyelesaikan kalimatnya.
" Kau tahu namaku? ", tanyanya.
" Kau pernah datang memberikan beberapa lembar kertas pada Seungcheol hyung pada saat kami ada latihan klub basket.", ucapku. " Dan mengapa ekspresimu bergitu terkejut begitu mendengar namaku, sunbae? "
" Teman - temanku sering membahas tentang dirimu. Mereka adalah fansmu."
" Begitu? ", dan hanya dibalas anggukan kepala dari Wonwoo noona. " Biar kubantu membawa buku - buku ini sunbae."
" Apa tak merepotkanmu? ", tanyanya.
" Tentu saja tidak, sunbae.", jawabku..
" Kau tahu, sunbae.", ucapku menggantung. Kulihat dia menatapku bingung.
" Kau manis, sunbae.", dan ada rona merah bersemu disekitar pipi gembil Wonwoo noona.
I can't take it no more
I got something to say
I can't take it no more
Jam pelajaran olahraga kelasku dan kelas Wonwoo noona saat ini berlangsung bersamaan dilapangan sekolah. Sudah bisa kalian tebak kemana fokus pikiranku saat ini. Tentu saja pikiranku fokus pada Wonwoo noona yang saat ini tengah bercanda dengan Jisoo noona dan Jihoon noona. Dan kulihat Wonwoo noona tersenyum mendengar candaan yang dilontarkan oleh kedua temannya. Aku segera memalingkan pandanganku dari Wonwoo noona. Aku tak ingin terkena diabetes dini di umurku yang masih menginjak tujuh belas tahun karena terlalu lama menatap senyum Wonwoo noona yang terlampau manis.
Guru Kang membuat pertandingan basket antara kelasku dan kelas Wonwoo noona. Timku berhasil menang dari tim putra kelas Wonwoo noona. Dengan skor yang cukup memuaskan untuk pertandingan tidak resmi seperti ini. Saat ini giliran tim putri kelasku dan kelas Wonwoo noona yang bertanding. Kulihat Wonwoo noona masuk kedalam tim.. Pertandingan sudah berjalan lima belas menit. Pandanganu tak pernah lepas dari Wonwoo noona.
DUK
Tiba - tiba bola basket itu menghantam kepala Wonwoo noona dengan lumayan keras. Wonwoo noona limbung seketika.
" Noona. Wonwoo Noona.", aku mengguncang badan Wonwoo noona. Dia pingsan. Segera kugendong tubuh mungil Wonwoo noona menuju ruang kesehatan.
" Noona! Seokjin Noona!", aku segera memanggil petugas kesehatan sekolahku yang sudah cukup akrab denganku.
" Wae, Gyu? OMO! ", teriak Seokjin noona. " Baringkan dia disini.", suruh Seokjin noona.
Kubaringkan tubuh Wonwoo noona diranjang ruang kesehatan.
" Dia kenapa? ", tanya Seokjin noona melihat keadaan Wonwoo noona yang pingsan dan lemas. " Kau apakan dia, Gyu? ", tuduh Seokjin noona.
" Ya! Dia terkena bola basket saat olahraga tadi, noona.", bantahku.
Kulihat Seokjin noona tengah menangani Wonwoo noona. Semoga dia baik - baik saja.
" Wonwoo noona baik - baik saja, kan noona? ", tanyaku khawatir.
" Dia baik - baik saja, Gyu. Mungkin sebentar lagi dia sadar.", jawaban Seokjin noona membuat hatiku sedikit lega. Setidaknya Wonwoo noona baik - baik saja.
" Tolong jaga Wonwoo sebentar, noona. Aku akan ke kantin membeli roti dan air untuk dia.", ucapanku hanya dibalas anggukan kepala dari Seokjin noona.
Saat aku kembali dari kantin kulihat Wonwoo noona belum siuman juga. Aku berjalan dan mendudukkan diriku dibangku disamping ranjang Wonwoo noona. Kuberanikan diri untuk memegang tangan Wonwoo noona. Kugenggam tangan Wonwoo noona. Tangannya begitu lembut dan lebih kecil dari tanganku. Sangat pas digenggaman tanganku. Kuelus perlahan tangan Wonwoo noona sebentar. Kuletakkan kembali tangan Wonwoo noona diranjang. Tak lama kurasakan tangan Wonwoo noona sedikit mulai bergerak. Mata bulat Wonwoo noona mulai sedikit terbuka secara perlahan.
" A..aku dimana? Ah kepalaku.", rintih Wonwoo noona pelan. Aku meringis menatap Wonwoo noona.
" Jangan banyak bergerak dulu, noona. Aku yakin kau masih pusing, sunbae.", ucapku lembut.
" Mingyu? ", aku hanya menganggukkan kepalaku.
" Kau terkena lemparan bola basket cukup keras saat basket tadi, sunbae. Dan aku yang membawamu kesini.", jelasku.
Rona merah kembali menghiasi wajah Wonwoo noona. Ahhh imut sekaliii..
" Gomawo, Gyu.", ucap Wonwoo noona pelan. Sangat pelan, tapi aku masih bisa mendengarnya.
" Tak apa, sunbae."
" Noona. Panggil aku noona saja, Gyu. Jangan sunbae. Itu terlalu formal.", suara Wonwoo noona sangat - sangat menggemaskan.
" Baiklah, noona."
"Sudah berapa lama aku pingsan, Gyu? ", tanyanya.
Aku diam sejenak. " Mungkin kurang lebih empat jam.", jawabku. " Lima menit lagi bel pulang sekolah. Biar aku temani nanti.", tawarku.
" Aku baik - baik saja, Gyu. Maaf jika aku merepotkanmu.",
Aku menghembuska napas dengan berat. Bagaimana dia bisa mengatakan baik -baik saja dengan kondisi badan masih lemah seperti ini.
" Kau masih sangat lemah sekarang, noona. Bagaimana kalau kau nanti pingsan dijalan? Bagaimana kalau tak ada yang menolongmu? Bagaimana jika kau diapa - apakan orang asing diluar sana."
Wonwoo noona menatapku sejenak. " Kau... Menghawatirkan diriku, Gyu? ", tanya Wonwoo noona.
Dan pertanyaannya itu membuatku salah tingkah. Ahh Kim Mingyu pabo. Bagaimana kau bisa kau mengatakan hal seperti itu dengan sangat jelas. Dasar pabo.
" Ah, itu. Itu, bukan begitu, noona.", sangkalku.
Aku bisa mendengar Wonwoo noona tertawa kecil mendengar jawabanku. Dan itu sukses membuatku makin salah tingkah.
" Terimakasih telah mengkhawatirkanku, Kim Mingyu. Dan terimakasih juga telah menolong dan menjagaku daritadi sampai sekarang.", ucapnya tulus disertai senyum manisnya yang bisa membuatku meleleh kapan saja.
Mau tak mau mendengar ucapan Wonwoo noona aku juga ikut tersenyum.
" Gwenchana, noona. Aku juga senang dan tak merasa direpotkan sama sekali karenamu.", jawabku. " Ayo kita keluar, noona. Sudah bel pulang sekolah. Kita harus mengambil tasmu dan aku akan mengantarkanmu pulang."
Dan siang itu berakhir dengan aku dan Wonwoo noona yang berjalan bersama disepanjang lorong sekolah.
- TO BE CONTINUE -
ANNYEONGHASEYO YEOROBUUNN.…
Salam kenal buat author - author yang aku rasa sudah lebih senior daripada aku. Aku author newbie disini. Jadi aku dengan sangat minta kritik dan saran buat ff ff aku kedepan. Kalian bisa jugaa kasih pertanyaan buat aku dikolom reviews dan bakalan aku jawab di chapter selanjutnya. Kasih reviews yang banyak ya biar aku semangat selesai in cerita ini.
GAMSAHAMNIDA
