Tak ada satu pasang mata pun yang melepas pandangan mereka dari sosok pangeran sekolah yang tampan, pintar dan juga kaya. Ya, dialah Uzumaki Naruto. Sosok manusia ciptaan Tuhan yang bisa dibilang cukup sempurna. Mempunyai rahang yang tegas serta rambut pirang asli dan jangan lupakan iris matanya yang sebiru samudra. Iris mata langka yang bahkan jarang dimiliki oleh orang keturunan Eropa sekali pun.
Memiliki kecerdasan di atas rata - rata serta tubuh yang atletis dan jago olahraga menambah nilai plus dari sosok Uzumaki Naruto. Dan jangan lupakan bahwa Ia adalah putra sekaligus penerus yang memiliki kekayaan dan perusahaan terbesar di negara matahari terbit itu.
Tak ada satu gadis pun yang mampu menolak pesona putra sulung Uzumaki itu.
Hanya saja ada satu kecacatan yang melekat pada diri seorang Uzumaki Naruto. Adalah Uzumaki Hinata, saudara kembar yang lahir sepuluh menit setelah Naruto. Seorang gadis yang tak memiliki apapun yang dapat dibanggakan kecuali fisiknya yang lumayan cantik.
Memiliki tinggi seratus tujuh puluh lima cm dengan berat badan ideal serta surai indigo yang indah dan iris lavender yang cukup unik dan juga langka membuat Hinata terlihat tampak cantik bahkan mampu menyaingi model - model ternama.
Hanya saja gadis itu pemalas dan juga bodoh. Hinata tak pernah mendapat nilai A dalam mata pelajaran apapun. Ia tak pandai di bidang olahraga, musik, berkuda maupun bidang - bidang yang dikuasai oleh sang kakak. Seluruh kerabat mengasihani Kushina dan Minato karena mempunyai keturunan yang cacat dalam keluarga mereka yang seharusnya sudah sempurna tanpa kehadiran sang putri bungsu.
Namun tak satupun dari keluarga Uzumaki yang tahu akan rahasia yang disembunyikan oleh Uzumaki Hinata kecuali satu orang yang selalu bersama - sama dengannya sekaligus penyebab Hinata menjadi cacat seperti sekarang ini yaitu -
Uzumaki Naruto.
•••
"Ah, aku lelah sekali." Hinata menenggelamkan wajahnya ke dalam kedua tangannya yang Ia lipat di atas meja.
"Dasar pemalas, tak ada kegiatan yang kau kerjakan dan kau selalu saja lelah? Benar - benar seperti babi. Kerjamu hanya makan dan tidur." Seorang gadis bersurai permen karet menarik pipi gembil Hinata gemas.
"Ugh Sakura chan, hentikan. Kepalaku benar - benar sedang sakit." pinta Hinata.
"Makanya buka sweater-mu! Apa kau harus memakai baju lengan panjang itu setiap hari? Ini bahkan musim panas, bodoh! Apa kau mau mati kepanasan?" gerutu Sakura kesal.
"Aku hanya butuh tidur Sakura chan. Kenapa kau jadi berisik sekali seperti si perfectsionis itu sih?" jawab Hinata.
"Hei, bahkan Ac dengan suhu delapan belas derajat saja tidak mempan melawan hawa musim panas ini. Dan jangan bilang aku bodoh, berkacalah Hinata chan."
"Hahaha, iya - iya. Jangan marah terus seperti itu, Sakura chan. Kau bisa jadi cepat tua."
Dari kejauhan, dua pasang mata memperhatikan kegiatan dua gadis yang sedang asyik bercengkrama itu.
"Dia masih melakukan hal itu untukmu baka dobe?" tanya seorang pemuda berambut raven pada sahabatnya yang asyik mengutak - atik smartphone-nya.
"Entahlah teme. Aku tak mau membahasnya." ujar Naruto, Ia meletakan smartphone-nya lalu menopangkan dagunya pada tangannya. Netra shapire-nya menatap intens gadis yang mencintainya dengan tulus. Bahkan rela mengorbankan apapun demi kebahagiaannya.
'Hinata.'
•••
"Lagi - lagi Naruto berada di peringkat pertama. Keren sekali." gumam para siswi saat melihat hasil pengumuman peringkat di majalah sekolah mereka.
"Betul, keren sekali. Aku jadi semakin jatuh cinta padanya." ujar Shion, pemimpin dari fansclub yang Ia dedikasikan khusus bagi Uzumaki Naruto.
"Eh, eh, lihat ini." ucap Amaru, salah satu anggota fansclub sembari menunjuk pada nama seorang gadis dengan peringkat terburuk se- Konoha High School.
"Memalukan, aku heran kenapa Uzumaki mempunyai anak cacat sepertinya."
"Ya, benar. Kau lihat ini, nilainya benar - benar buruk. Menjijikan sekali, bahkan Akamaru Kiba dan Akimichi Chouji masih jauh lebih pintar dibanding dirinya." timpal Sara.
Ocehan - ocehan para gadis itu tanpa sengaja terdengar oleh sang Uzumaki sulung yang lewat di belakang mereka. Dengan tangan terkepal, Naruto memukul tembok yang berada di depannya, membuat para gadis itu terkejut dan menoleh. Dengan tatapan marah, Ia menghampiri seorang gadis bersurai pirang dengan model rambut serta memakai kontak lensa yang sama dengan iris mata sang adik.
"Na.. Naruto kun, ada a - " Belum selesai Shion menyelesaikan pertanyaannya, Naruto sudah menggebrak dinding yang ada di hadapannya yang berjarak hanya lima cm dari wajah Shion, membuat para gadis tersebut dan semua orang yang ada di sana terkejut dan gemetar ketakutan melihat air wajah Naruto yang menahan amarah.
"Jaga mulutmu jalang. Jangan kau berani menghina adikku dengan mulut kotormu lagi." ujar Naruto dengan nada tajam dan mengancam.
Shion dan seluruh gadis yang menjadi penggemar Naruto hanya mampu terpaku, mereka tak berani menatap sang idola yang marah dan menghina mereka hanya karena mereka menjelek - jelekkan salah satu yang menjadi kebanggaan Naruto, yaitu Uzumaki Hinata.
"Jika aku mendengar satu kata saja penghinaan terhadap adikku sekali lagi, maka akan kupastikan kalian menanggung akibatnya." Naruto mendesis, Ia berbalik meninggalkan para gadis yang ketakutan itu tanpa menoleh sedikit pun ke arah mereka.
Dari balik pintu kelas, tak ada yang menyadari. Bahwa ada sepasang bola mata amethyst yang menatap seluruh kejadian itu dari jauh tanpa mampu berkutik. Hinata merasa lemah dan tak berdaya. Ia merasa terhina melihat Naruto mengasihani dirinya namun gadis itu tak manpu melakukan apa - apa.
Karena dari awal, Ia telah mengambil keputusan untuk jadi seperti ini maka Ia pun harus menanggung segala resikonya tanpa mengeluh.
•••
"Apa - apaan itu tadi? Apa kau tak melihat ekspresi Naruto?! Kenapa Ia semarah itu? Padahal kita hanya mengutarakan yang sebenarnya!" ujar Shion jengkel. Rasa kebenciannya pada sang cacat Uzumaki Hinata semakin bertambah besar.
"Stt! Pelankan suaramu Shion! Apa kau ingin pangeran marah lagi?!" ujar Sara ketakutan. Ia tak menyangka bahwa pangeran sekolah yang terlihat lembut itu bisa marah dengan menakutkan seperti tadi.
"Sudahlah, lagipula wajar saja jika pangeran marah. Siapa yang tidak marah mendengar saudaranya dihina - hina?" ucap Koyuki menenangkan yang disambut oleh death glare dari Shion.
"Ck, awas saja kau Naruto. Tak akan kumaafkan karena sudah mempermalukanku di depan umum seperti itu! Akan kubuat kau jatuh cinta padaku!" ujar Shion dengan rasa percaya dirinya.
•••
Hinata membereskan buku - buku pelajarannya. Gadis itu berencana untuk pulang terlebih dahulu di kala seluruh teman - temannya sedang dalam jam pelajaran olahraga. Hinata tak pernah mengikuti pelajaran olahraga, kalau pun harus terpaksa, maka gadis itu akan tetap memakai jaket atau sweater-nya dengan alasan cuaca terlalu dingin untuknya.
Namun siapa yang mau melakukan hal itu pada musim panas di mana suhu udara di luar bisa mencapai empat puluh derajat celcius? Ah, Hinata tak akan mengambil resiko. Ia bisa mati terpanggang jika harus olahraga di lapangan sambil memakai jaketnya.
"Mau ke mana kau, Uzumaki Hinata?" suara berat itu mengagetkan Hinata yang hendak pergi membolos diam - diam.
"Na.. Naruto?"
"Mau membolos lagi?" tanyanya datar.
"A.. Aku tidak enak badan jadi kuputuskan untuk pulang." cicit Hinata ketakutan.
'Kumohon jangan paksa aku untuk olahraga.' Hinata memejamkan kedua matanya, saat melihat sang kakak yang semakin mendekat ke arahnya.
Naruto mendekat ke arah Hinata, telapak tangannya perlahan menyentuh dahi gadis itu; "Pulanglah, jangan paksakan dirimu." ujar Naruto lirih.
Hinata terdiam, entah mengapa Ia merasa aneh melihat perilaku sang kakak yang mentoleransi dirinya kali ini.
"Uhm, ganbatte Naruto." Hinata berjalan melewati tubuh Naruto.
'Sampai kapan kau akan terus memaksakan dirimu seperti itu, Hinata? Kenapa?' Naruto meninju tembok yang ada tepat di sebelahnya, menahan rasa sakit yang menusuk dadanya.
•••
Hinata berjalan dengan lunglai, Ia tak tahu hukuman apalagi yang akan Ia dapatkan nanti ketika sampai di rumah karena sudah membolos. Apalagi sebenarnya Ia sama sekali tidak merasakan apapun. Hanya sedikit rasa pusing dan lelah karena kekurang darah sekaligus kepanasan.
"Hm, lagi - lagi aku berada di peringkat terbawah." gumamnya lirih sambil melihat kertas hasil ujian akhir yang diserahkan oleh wali kelas kepadanya.
Hinata menoleh ke atas, melihat langit biru yang cerah. Matahari yang bersinar terik mengingatkannya pada senyum sosok sang kakak kembar jauh sebelum insiden mengerikan itu terjadi.
"Bersemangatlah Naruto."
•••
Naruto membuka pintu kamarnya, mendapati sang adik tertidur pulas di ranjang mereka dengan wajah yang lelah sambil menggenggam sebuah kertas yang sudah lusuh. Kertas yang berisi nilai ujian akhir mereka.
Naruto mengambil alih kertas hasil ujian itu dari tangan Hinata, meletakkannya di atas meja belajar mereka lalu Ia mengeluarkan kertas hasil ujian miliknya dan meletakkannya tepat di samping kertas ujian sang adik.
"Uzumaki Hinata, seluruh mata pelajaran nilai F. Uzumaki Naruto, setengah nilai A dan sisanya A+." gumam Naruto lirih.
"Khe, kau itu. Padahal kau bisa mendapatkan nilai A+ dengan otak cerdasmu. Apa kau mengasihaniku? Aktingmu benar - benar buruk, Hinata." Naruto menghela nafasnya panjang, shapire-nya menatap wajah sang adik yang tertidur pulas dengan tatapan terluka.
Ia tak mungkin melupakan kejadian sekitar sembilan mungkin sepuluh tahun silam di saat mereka berdua masih menempuh kelas satu sekolah dasar. Di mana Ia mengetahui seluruh rahasia yang disimpan dan ditutup rapat oleh adik kembarnya.
Uzumaki Hinata seorang jenius dengan kepintaran setara Albert Einstein namun mengalah hanya demi kecatatan serta keegoisan sang kakak kembar yang disayanginya, Uzumaki Naruto.
"Seandainya saja saat itu aku tidak mengatakan hal yang buruk kepadamu. Andai saja saat itu aku tak bersikap egois dan menyalahkan keberadaanmu, maka mungkin kau tak harus menderita sampai seperti ini Hinata. Maafkan aku." bisik Naruto sambil mengusap surai indigo itu dengan sayang.
Naruto lalu membaringkan tubuhnya di samping tubuh Hinata. Dadanya terasa begitu sakit setiap kali melihat wajah Hinata yang menahan perihnya cacian dan makian yang seharusnya tak ditujukan padanya.
"Menyesal katamu?! Jika kau begitu menyesal, mengapa kau tidak mati saja?! Memonopoli Tou san dan Kaa san hanya untuk dirimu sendiri! Kau pikir kau segitu hebatnya?! Kau puas melihatku seperti ini, Uzumaki Hinata?!"
Naruto memejamkan kedua matanya. Pikirannya kembali menggali memori, hari di mana Ia menjadi orang pertama yang terlebih dahulu mencaci maki Hinata. Begitu memalukan, menyumpahi dan memghancurkan hidup seorang gadis yang tak lain adalah saudara kembarnya sendiri hanya demi harga diri dan ego yang tak akan pernah bisa dipuaskan sampai kapan pun.
'Maafkan aku.'
•••
Lusa sudah mulai memasuki liburan musim panas. Pada normalnya orang - orang akan menghabiskan waktu libur mereka dengan menghabiskan waktu untuk berenang di pantai atau bersantai di tempat - tempat yang sejuk.
Namun berbeda dengan sang pewaris perusahaan nomor satu di Jepang itu. Ia sama sekali tak mempunyai pikiran untuk menghabiskan waktu senggangnya dengan sia - sia. Alih - alih duduk di tepi pantai, menikmati segar dan indahnya lautan biru, Ia malah duduk di atas kursi ditemani oleh pensil, penghapus dan buku - buku soal latihan yang sulit dan rumit untuk dikerjakan.
Tentu saja tidak akan ada masalah jika pada musim panas ini kau mengerjakan tugas dengan menyalakan Ac untuk mendinginkan suhu badanmu yang panas serta otakmu yang lelah namun Naruto menolak.
Alasannya simpel; global warming.
Hal itu tentu membuat Hinata yang sehari - hari hanya memakai kaos berlengan panjang itu geram. Entah apa yang merasuki Naruto saat ini. Padahal Ia mendapat peringkat nomor satu namun hal itu masih saja kurang baginya. Ia merasa tersaingi, tersaingi oleh adik kembarnya yang berada pada posisi terbawah satu sekolah.
•••
"Naruto, bagaimana jika kita bermain? Apa kau tidak ingin ikut Sakura chan dan Sasuke kun pergi ke pantai di Iwa? Naruto.. Naruto." Hinata mencolek bahu kakak kembarnya dengan ujung pensil yang tumpul, mengganggu pergerakan sang kakak yang sedang asyik menuliskan jawaban soal - soal rumit yang dikerjakannya.
"Berisik! Aku tidak mau! Apa kau tak lihat aku sedang sibuk mengerjakan soal - soal ini?!" bentak Naruto kasar.
"Kalau begitu setidaknya nyalakan Ac-nya bodoh! Apa kau ingin kita berdua menjadi ikan kering di dalam sini! Lagipula apa kau bisa tidak menghabiskan waktu liburan ini dengan sia - sia?" tanya Hinata.
"Tidak. Kau akan menorehkan luka pada bumi jika kau menyalakan pendingin."
"Alasan macam apa itu?! Tidak masuk akal!" teriak Hinata sebal.
"Lebih tidak masuk akal lagi dirimu, yang memakai kaos lengan panjang di tengah panasnya suhu yang mencapai empat puluh derajat celcius ini. Dan jika kau ingin merasa lebih sejuk, buka saja bajumu dasar bodoh!" jawab Naruto ketus.
"Ahh! Aku sedang tak ingin berdebat denganmu! Baik, jika kau tak ingin menyalakan Ac atau pergi ke pantai, aku akan pergi sendiri dengan Toneri kun."
*Brak
Naruto memukul mejanya kasar, menimbulkan suara keras yang mengagetkan Hinata. Ia lalu memincingkan matanya tajam menatap Hinata dengan penuh murka. Cemburu? Mungkin, karena Hinata mengucapkan nama lelaki yang menjadi saingan Naruto selama ini. Sekaligus lelaki yang Ia tahu selalu mengincar kesempatan dari diri Hinata yang polos.
"Ke.. Kenapa kau menatapku seperti itu?" ujar Hinata gagap. Gadis itu takut, badannya bergetar. Tanpa sadar gadis itu menutup kedua telinganya, tak ingin lagi memdengar ucapan yang meninggalkan trauma di hatinya sembilan tahun yang lalu.
Naruto menghela nafasnya panjang. Ia tahu maksud dan tujuan dari adik kembarnya. Hinata mengajaknya berlibur tidak semata - mata karena ingin pergi bersama melainkan karena ingin dirinya tidak memaksakan diri untuk belajar seperti waktu itu.
Di mana insiden itu terjadi dan mengubah segalanya termasuk tingkah laku dan kepintaran Hinata hanya karena dirinya yang lemah.
"Baiklah, kau lebih ingin ke mana?" Naruto mengalah, Ia tak ingin melihat wajah sang adik bersedih lagi akibat ulah egoisnya.
"Kalau begitu bagaimana jika kita ke pantai Iwa saja dengan Sakura chan dan Sasuke kun?" tanya Hinata yang dibalas dengan anggukan singkat oleh Naruto.
"Ok, sudah diputuskan. Aku akan segera menghubungi Sakura chan." Hinata segera menyambar smartphone miliknya dan menelepon sahabat musim seminya itu.
Hinata merasa sedikit lega melihat fakta bahwa saudaranya itu mau diajak untuk berlibur. Walau sekejap, namun hal itu penting dilakukan oleh Naruto untuk sekedar mendinginkan pikirannya yang memanas. Kelainan yang terdapat dalam diri Naruto selalu membuat Hinata was - was dan ketakutan. Sehingga membuat gadis itu terus berusaha keras, mengorbankan waktu dan tenaganya demi memgawasi Naruto agar hal buruk itu tidak terjadi lagi -
Untuk yang kedua kalinya.
[•••]
つづく
15.10.17 ©Yuki Hime
•••
Indrakun - Arigatou Indrakun, maaf wordnya antara 2000 - 3000 aja sanggupnya /
Valentinexxx - Hoo sama ! ^/^ Arigatou sudah baca dan tunggu yuki
Ameyukio2 - Diusahakan setiap hari ya / Arigatou
Sena Ayuki - Salam kenal senpai, iya yuki mau buat lebih detail lagi yang lama tulisannya kacau =T^T= Arigatou senpai
