Hanya ide nyeleneh bin absurd binti gak jelas yang ada di kepala. Mohon maklumi kedudulan saya yang ga ketulungan ini v_v

Axis Powers Hetalia © Hidekaz Himaruya

AlwaysOn © 3 Company ––Anggap aja gitu deh T.T

Warning: "OoC TINGKAT DEWA DEWI KHAYANGAN", Parodi, Garing, Absurd, Highly ambiguous, and makes you say "What the f**k is with this story?!" dan sekali lagi OoC PARAH TO THE MAX! Oh ya, sedikit (hints?) BL (atau yaoi?) :D Bagi yang merasa anti dengan semua hal ini, silahkan mundur teratur ^^v

Mohon maaf bila kebetulan ada kesamaan ide di FHI atau FHE atau manapun.

Ini hanya sekedar parodi, tidak dimaksudkan untuk menimbulkan konflik atau kontroversi. Harap maklumin otak saya yang absurd ini.

Just for fun :D

Long Live FHI and Say NO to Plagiarism! Mari berkarya dengan hati dan imajinasi :D

Happy reading~~

Kebebasan itu omong kosong, da?

1. Katanya Amerika itu negeri paling menjunjung tinggi kebebasan ––

"Amerika, aku akan membangun pangkalan militer nuklir di Kuba yang tepat menghadap ke wilayahmu, da?" kataku sambil tersenyum manis.

"APA KAU BILANG?! BERANI-BERANINYA KAU! ANJING BABI KECOAK TIKUS KUPU-KUPU! MATA LU PIC*K NGARAHIN NUKLIR KE WILAYAH GUE?! BLABLABLABLA," dan dia membalas sembari mengeluarkan hujan lokal tepat di mukaku.

Hhh.

––tapi juga jangan ngarahin nuklir sembarangan ke arahnya. Huh. Freedom my ass.

2. Katanya setiap orang berhak meraih kesuksesan ––

"Pokoknya, Soviet harus sukses menang dalam Perang Dingin ini," kataku kepada negara-negara Blok Timur yang duduk di meja rapat bersamaku.

"Ru––Rusia, kau tahu bahwa Blok Barat jauh lebih mumpuni politik, ekonomi, atau keadaan internal lainnya," kulihat Lithuania mengangkat tangan dengan ragu-ragu, "Bagaimana caranya kau untuk menang?"

"Mudah saja," kataku sembari menangkupkan kedua tanganku dan tersenyum, "Kita jajah dan kekang dan ikat dan paksa negara-negara Non-Blok ––atau lebih bagus lagi, Blok Barat untuk bergabung bersama kita. Dengan begitu, kita (terutama aku) bisa mengontrol mereka, da? Kolkolkolkol."

"…. Kau gila, ya?" kudengar Jerman Timur mendesis heran di sana.

––Asal kesuksesan itu berperikemanusiaan saja. Tetapi, apanya dari niatku itu yang tidak berperikemanusiaan, sih? Heran.

3. Katanya, sebagai manusia dan negara berdaulat, kita bebas menjalin hubungan dengan negara manapun juga––

"Terimakasih, Rusia," ujar sosok di depanku itu sembari tersenyum di depanku, "Pesawat tempur darimu ini memang canggih sekali. Semoga saja aku bisa membebaskan Irian dari orang bodoh berkepala tulip sialan itu."

"Tentu saja, Indonesia," jawabku sembari tersenyum, "Kalau butuh bantuan, bilang saja y––."

"INDONESIA!"

Kami berdua menoleh ke arah sumber suara, dan mendapati seorang pemuda berambut pirang yang berlari tergopoh-gopoh ke arah kami.

"APA YANG KAU LAKUKAN DENGAN NEGARA KATROK-TAK-TAHU-PIPA-KRAN INI, HAH?" tanpa salam tanpa apa, Amerika langsung saja datang menyemburkan badai katerina di depan muka Indonesia yang memundurkan wajahnya.

"Amerika?" Indonesia hanya melongo kaget.

"BUKAN, AKU AMERUKI!" judes Amerika, "KAU! KENAPA KAU BERSAMA RUSIA?! DAN APA INI? PESAWAT TEMPUR! KAU MEMINTA BANTUANNYA?!"

"HABIS SALAH SIAPA YANG TIDAK MAU MEMBANTUKU!" sewot Indonesia keras.

"AKU AKAN MEMBANTUMU! SABAR DIKIT NAPA, SIH?! AKU BISA MEMBERIMU PESAWAT YANG JAUH LEBIH CANGGIH DARI SAMPAH INI!" Alfred menendang roda pesawat itu. Dan tentu saja, berakhir dengan kesakitan.

"POKOKNYA, AKU AKAN LAKUKAN APAPUN MAUMU ASAL KAU JAUHI SETAN KOLKOL INI!" Aduh. Kasihan, capslock Author jebol karena dari awal fic ini mulai, dialog Amerika tidak bisa ditulis menggunakan huruf kecil.

––Asal juga jangan bodoh dalam memilih teman. Hhhh. Padahal aku adalah teman sejati, da? Kolkolkol.

4. Katanya, jangan ragu-ragu dalam mengeluarkan isi pikiran––

Germany: Bagaimanapun, permasalahan kemiskinan di Afrika harus teratasi dengan baik.

Northern Africa: Setujuuuuu!

Middle Africa: Aseeeekkkk!

Zimbabwe: Ai Laik Dis!

Germany: Ada yang punya usul? -,-

UK: Mengatasi kemiskinan di sana 'kan berarti juga harus mengatasi rantai masalah sosial lainnya yang berhubungan dengan kemiskinan. Seperti masalah politik, sosial, hingga budaya. Bayangkan saja, masak satu cowok bisa nikahi sampai seratus lebih cewek? Lha itu anaknya mau dikasih makan apa, cuy? Gila beudh! Belum lagi masalah HIV dan penyakit lainnya. Eww! Kalau ada uangpun, pasti buat berobat, kan, daripada buat sekolah anaknya untuk memperbaiki masa depan? Puhlease dweh! Huft!

Germany: …

AS: Ahahaha, Iggy tsundere banget, ya?

Hungary: Lol. Tak ayal dia sering jadi ukemu, Amerika.

UK: APA KALIAN BILANG?!

Russia: Halo, daa~~

UK: APAAN LO, DATANG-DATANG GA JELAS BEGITU?!

Germany: Sudah, sudah. Kita chat online untuk bahas masalah dunia, bukan untuk saling tengkar -,- #tepok jidat

Russia: Aku punya usul, da?

UK: OH YA? APA? BUAT NEGARA-NEGARA AFRIKA JADI BAGIAN RUSSIA ATAU BANGKITKAN USSR-MU YANG UDAH MEMBUSUK DI LIANG SEJARAH ITU?!

AS: Aku pasti heran jika capslock-mu ga jebol, Iggy -,-

Russia: Buat atasi kemiskinan di Afrika, kita harus basmi akar dari kemiskinan itu sendiri.

Germany: Maksudnya?

Zimbabwe: Iya, maksudnya?

Russia: Dengan kata lain, basmi aja orang-orang miskin itu sendiri. Bunuh semua keturunan orang miskin dan perdayakan keturunan orang kaya. Pasti kemiskinan bisa terhapus, da? :D kolkolkol

Germany: …..

UK: Trus sekarang aku harus pergi lari-lari ke tempatmu dan bilang 'WOW' gitu?!

Northern Africa: … Kau sama sekali tidak membantu, Russia -,-

––Asal jangan asal 'njeplak' aja jika ngomong. Hhh…

5. Katanya semua orang bebas berkehendak––

"Kakak ayo menikah. Menikahmenikahmenikahmenikah menikah (dan tulis saja 'menikah' di sini sampai jebol keyboard laptop Author)," kata adik bungsuku kepadaku sembari nyakar-nyakar wajah Lithuania. Lha? Oh. Itu dikarenakan Lithuania yang mencoba menahan Belarus untuk mendekat ke arahku dengan cara memeluknya.

Dasar cari kesempatan.

"PULUUUUNGGG–– eh, PULAAAANGGGGG!" teriakku over dramatis dan over lebayis sembari menclok di terali besi kaca jendela.

––Asal jangan paksain kehendak itu aja. Untuk yang ini, serius, aku setuju banget. Brrrrr!

6. Katanya, pilihan itu ga ada batasnya––

"Kau ingin ikut dalam WTO, Rusia?" tanya Amerika dengan tampang melongo heran.

Aku mengangguk, "Yah, sepertinya kondisi ekonomiku akhir-akhir ini kurang baik, da?"

"Baiklah. Tetapi ada beberapa syarat yang harus kau penuhi, cuy," ujar Amerika sok asyik.

"Apa?"

"Kau harus mengijinkan swasta untuk beroperasi di negaramu. Kurangi nasionalisasi. Jaga kondisi dan stabilitas politikmu. Jamin HAM di negaramu. Ciptakan lingkungan yang kondusif bagi perkembangan investasi... ."

Lima belas menit kemudian, "Kau juga harus ramah pada negara-negara tetangga. Jangan terlalu dekat dengan Cina karena kami tidak ingin aliansi masa Perang Dingin terulang lagi. Kau juga tinggalkan sikap bodohmu yang membawa pipa kemana-mana, itu katrok, kau tahu? Juga…"

Lima belas menit kedua kemudian, "Kau juga harus mengakui bahwa akulah The Hero. Oh ya, jangan sering gunakan hak vetomu di PBB, ya, jika keputusan itu udah jadi kehendakku? Hohoho. Satu hal terakhir, bisakah kau berhenti ber-'kolkolkol'-ria untuk mengintimidasi kami? Huh."

"Syaratnya sebanyak itu, Amerika?" tanyaku setelah selesai tidur lama karena lelah dan bosan nunggu dia nyerocos seperti kereta api Shinkansen itu.

"Ya. Kenapa? Ga sanggup?"

"Kukira WTO itu simbol prinsip kebebasan, da?" ujarku sembari tersenyum, "Kolkolkolkol––."

"SUDAH KUBILANG BERHENTI!"

––Asal… Hh. Ikuti pilihan yang ada. Kalau yang diucapkan Amerika tadi sih, batasan pilihannya kok banyak banget, da?

AlwaysOm.

Karena kebebasan itu hanya milik anak kecil yang tidak tahu apa-apa tentang aturan.

We are always Om(-Om)

Hu~~ Hu~~ Huhuhu~

END

Note:

Maaf sekali jika garing. Uhuhu T.T #nampar diri sendiri# Maaf iklan di atas sangat-sangatlah absurd. Yeah, I know it T.T

Bagi seorang Author, Review/konkrit/saran/dukungan/pujian *plak* sangat dibutuhkan demi memberi semangat untuk terus dan terus berkarya. Feedback adalah semangat bagi kami untuk terus melangkah #bleh! :) Tapi, serius 0.0

Mari dukung cipta karya dengan membudayakan feedback selesai membaca~~ :D

Warm regards,

-d.i.s.-