Pairing: Kris X Chanyeol
Disclaimer: Characters belong to their own.
Warnings: PWP. Alpha!Yifan. Omega!Chanyeol.
.
.
Mt_Chan proudly presents...
.
.
Sebuah sekuel untuk fanfic random saya sebelumnya "EFFLORESCENT"
.
"Make Us Forever"
-PART I-
Pemuda berusia 23 tahun itu mengernyitkan dahi dalam tidurnya ketika telinganya mendengar suara gaduh dari arah luar kamarnya. Dengan enggan, pemuda itu membuka matanya dan melirik ke arah jarum jam yang menunjukkan pukul 06.00 pagi. Ini terlalu pagi baginya untuk bangun di hari Minggu. Selain itu, bagian kanan tempat tidurnya yang biasanya ditempati pemuda satunya juga sudah terlihat kosong.
Setelah meregangkan ototnya, pemuda bernama Wu Yifan itu akhirnya bangkit dan mencari sumber suara dari kegaduhan yang terus berlanjut itu. Yifan tidak bisa menahan senyuman terkembang di wajahnya ketika melihat Chanyeol, masih dengan piyama tidurnya, sibuk mengotak-atik coffee maker di dapur rumah mereka.
Chanyeol terpekik ketika merasakan sepasang lengan melingkar di pinggangnya. Meskipun sudah bisa menduga siapa pemilik lengan itu, tetapi sentuhan tiba-tiba itu mau tidak mau membuatnya terkejut dan hampir menjatuhkan setoples kopi yang Yifan puja-puja itu.
"Syukurlah kau sudah bangun. Benda ini hampir membuatku gila." Chanyeol menampik lengan Yifan di pinggangnya dan menunjukkan coffee maker itu pada Yifan yang memandanginya dengan keheranan.
"Okay... Jadi, apa salah benda ini?" Tanya Yifan ketika Chanyeol justru cemberut.
"Mesin itu tidak mau menyala. Aku sudah membaca buku panduannya, tapi mesin itu tetap tidak mau bekerja." Gerutu Chanyeol, membuat pipinya menggembung.
Yifan melihat ke sekeliling tempat yang terlihat lebih berantakan dai biasanya itu. Ada beberapa potong roti panggang berwarna kehitaman, telur mata sapi yang tergoreng dengan cangkangnya, serta beberapa butir kopi favoritnya berceceran di meja. Sisi perfeksionis Yifan berteriak padanya untuk segera membereskan tempat itu, tetapi ketika ia menyadari sesuatu hal dibaliknya, pemuda itu lagi-lagi hanya bisa tersenyum.
"Memangnya apa yang kau lakukan di dapur sepagi ini? –dan di hari Minggu?" Yifan sudah tahu jawabannya, tetapi ia ingin mendengarnya langsung dari Chanyeol yang segera tersipu mendapat pertanyaan itu.
"A-aku mau membuat sarapan." Jawab Chanyeol pelan, pandangannya teralih dari kedua mata Yifan.
"Aku lapar dan aku ingin sarapan roti panggang." Tambah Chanyeol dengan suara yang lebih keras, namun dengan pipi yang tetap bersemu. Beralasan bahwa ia hanya lapar terdengar kurang masuk akal, karena seingat Yifan, Chanyeol menghabiskan separuh kotak pizza sendiri semalam.
"Apa kau juga membuatkan sarapan untukku?" Tanya Yifan.
Chanyeol hanya mengangguk tanpa berani menatap pasangannya itu.
"Baiklah. Ayo kita cari tahu masalah mesin ini." Yifan kembali memusatkan perhatiannya pada coffee maker yang merupakan hadiah pernikahan dari orang tuanya beserta seluruh isi apartemen yang mereka tinggali.
Setelah mengutak-atik mesin itu, Yifan mendengus dan segera menatap Chanyeol yang masih berdiri di tempatnya dengan kedua tangan yang ia kaitkan di punggungnya.
"Kau yakin sudah membaca buku panduannya?" Tanya Yifan.
Chanyeol bisa melihat kerling jahil pada kedua sudut mata Yifan. Namun ia kembali mengangguk. Ia bersumpah sudah melakukan hal-hal yang ia tahu untuk menyalakan mesin pembuat kopi otomatis itu.
"Apa kau juga membaca bagian di mana kau harus menghubungkan kabelnya pada listrik?" Tanya Yifan sambil mengayunkan kabel coffee maker yang masih belum tersambung pada listrik, membuat Chanyeol serasa ingin mengubur dirinya sendiri atau setidaknya menghilang selama beberapa saat sampai Yifan melupakan kejadian ini.
"H-ha?" Chanyeol membuka dan menutup mulutnya dengan canggung, tidak sanggup berkata-kata setelah menyadari kebodohannya. Tapi Yifan justru tertawa melihat ekspresi wajahnya saat itu.
"You're so cute." Yifan menghimpit kedua pipi Chanyeol menggunakan kedua telapak tangan besarnya sebelum mengecup bibir merahnya yang mengerucut.
Setelah berhasil menyalakan coffee maker dan membuat secangkir kopi –dan segelas susu hangat untuk Chanyeol, keduanya duduk di meja makan dan berusaha menikmati sarapan buatan pemuda berusia 17 tahun itu.
"Kau tidak perlu memakannya, aku akan menyiapkan sereal saja." Kata Chanyeol ketika melihat Yifan mengambil roti gosongnya.
Tapi bukannya mendengarkan Chanyeol, Yifan mengambil telur mata sapi yang jelas-jelas terdapat beberapa serpihan cangkang di atasnya, sebelum menumpuknya di atas roti gosong itu dan memasukkannya ke dalam mulutnya tanpa mengalihkan pandangannya dari Chanyeol.
Chanyeol ikut menelan ludahnya melihat Yifan memakan sarapan buatannya. Pemuda itu masih tidak mengerti dengan pasangannya yang tetap terlihat sexy meskipun sedang memakan roti gosong. Penasaran dengan rasanya, Chanyeol mengambil sepotong roti itu dan memasukkannya ke dalam mulutnya sebelum beberapa detik kemudian memuntahkannya kembali. Chanyeol sampai harus menenggak susunya hingga habis untuk menghilangkan rasa pahit di lidahnya.
"Aku serius memintamu untuk berhenti memakannya sekarang." Chanyeol sungguh merasa bersalah pada pasangannya itu dan ia sadar bahwa Yifan melakukan hal itu untuk membuatnya senang, tapi Chanyeol tidak tega melihat Yifan harus memakan sarapan yang terasa seperti sampah itu.
Chanyeol menunggui Yifan yang masih menghabiskan kopinya dengan kedua kaki mereka yang terus bersentuhan di bawah meja. Ini adalah bulan pertama pernikahan mereka dan semuanya masih terasa seperti sebuah petualangan baru.
.
.
.
"Kalian masih menggunakan pengaman kan?"
"Huh?"
"Kau tahu pengaman yang Ibu maksud kan?"
"Huh?"
"Chanyeol!" Mrs. Park kehilangan kesabarannya dan tanpa sadar berteriak hingga membuat Chanyeol mengernyitkan dahinya dan menjauhkan gagang telepon itu dari telinganya.
"Memangnya pengaman apa?" Tanya Chanyeol dengan bersungut-sungut. Ia sedang sibuk bermain game di komputernya ketika telepon rumah yang ia tempati bersama Yifan berbunyi.
Ini adalah kali pertama Mrs. Park menghubungi Chanyeol setelah pemuda itu mengalami masa 'heat'nya. Ia terlalu malu untuk bercerita pada Ibunya bahwa ia akhirnya sudah berhubungan sex dengan Yifan, suaminya. Toh semua orang sepertinya sudah tahu dengan peristiwa itu mengingat pada masa itu, Yifan sampai harus membolos dua hari dari kantor dan kembali dengan aroma Alphanya yang sudah bercampur dengan Chanyeol.
"Kalian berhubungan sex menggunakan kondom kan?" Tanya Mrs. Park memperjelas pertanyaannya.
Chanyeol mengernyitkan dahinya dan memandang ke sekeliling kamar sebelum berteriak.
"Yifan... Kondom itu apa?"
Wu Yifan, pewaris perusahaan bisnis Wu itu sukses tersedak air putih yang sedang ia tenggak ketika mendengar teriakan Chanyeol dari dalam kamar mereka dan serta merta menanyakan kondom. Dengan langkah terburu-buru dan batuk yang masih belum berhenti, Yifan berdiri di ambang pintu kamar dan mendapati Chanyeol tengkurap di tempat tidur dengan gagang telepon menempel di telinga kirinya.
"Siapa yang menelepon?" Tanya Yifan ketika melihat Chanyeol tersenyum.
"Umma, ada Yifan. Apa Umma mau berbicara dengannya?"
Yifan menelan ludahnya ketika mendengar suara Mrs. Park bahkan sebelum gagang telepon itu sampai di tangannya. Chanyeol menempelkan telinganya pada gagang telepon yang kini sudah beralih ke tangan Yifan untuk ikut mendengarkan apa yang Ibunya bicarakan dengan suaminya itu.
"Apa kami memang harus menggunakan pengaman?" Setelah berbasa-basi menanyakan kabar dan obrolan kecil lainnya, ekspresi wajah Yifan berubah serius dengan kedua alis tebalnya yang bertaut membuat Chanyeol sedikit khawatir.
"Ah, begitu. Aku akan membicarakannya dengan Chanyeol nanti." Yifan menahan tangan Chanyeol yang sedari tadi meniupi alisnya membuat pemuda itu tidak bisa berkonsentrasi berbicara dengan Ibu mertuanya.
Setelah melihat Yifan menutup telepon, Chanyeol menunggu pemuda yang 6 tahun lebih tua darinya itu bercerita mengenai apa yang ia bicarakan dengan Ibunya.
"Apa yang Umma katakan?" Tanya Chanyeol dengan kedua mata besarnya berkedip cepat.
Yifan hanya mengangkat bahunya sebelum beranjak dari tempat tidur. Chanyeol menahan tangannya agar tidak meninggalkannya tanpa penjelasan begitu saja.
"Aku akan menjelaskannya padamu nanti." Ujar Yifan seolah mengerti maksud dari tatapan Chanyeol. Pemuda itu mengacak rambut pasangan yang lebih muda darinya itu sebelum keluar dari kamar mereka. Chanyeol justru merasa semakin penasaran, tetapi melihat ekspresi wajah Yifan yang memantulkan moodnya yang kurang bagus sekarang membuat Chanyeol menahan diri. Ia tahu Yifan tidak akan menyembunyikan apapun darinya.
.
.
.
Yifan menekan beberapa tombol kata sandi sebelum pintu otomatis terbuka. Apartemen itu terlihat lengang. Ia menduga Chanyeol sudah tertidur dan dugaannya itu memang tidak meleset ketika ia mendapati Chanyeol terlentang di atas sofa ruang keluarga dengan buku-buku berserakan di sekitarnya. Wajah pemuda itu terlihat begitu damai ketika tidur dengan rambut berantakan dan bibir setengah terbuka. Yifan menikmati pemandangan itu sejenak dan merasa bahwa ia seolah tidak akan pernah bosan memandangi wajah Chanyeol. Namun hal itu tidak berlangsung lama ketika perlahan-lahan kedua mata Chanyeol yang semula terpejam mulai terbuka. Pemuda itu mengucek mata kirinya dan menguap pelan.
"You are home?" Suara Chanyeol terdengar serak dan lebih dalam dari biasanya.
Yifan tersenyum sebelum menghampiri pemuda itu dan berjongkok di hadapannya. Yifan mengecup bibir Chanyeol singkat sebelum mengusap surai hitamnya.
"Chanyeol.."
"Hm?" Tangan Chanyeol kemudian berganti mengucek mata kanannya.
"Apa kau mau punya anak dariku?"
Pertanyaan Yifan itu sukses membuat Chanyeol membulatkan kedua matanya. Pemuda itu kini sudah terjaga sepenuhnya. Mulut Chanyeol hanya bisa membuka dan menutup ketika ia tidak bisa menemukan kata-kata yang tepat untuk merespons pertanyaan itu.
Yifan tersenyum mengerti.
"Kau tidak perlu menjawabnya sekarang."
Namun sorot mata Yifan yang begitu teduh di hadapannya membuat Chanyeol sepertinya tidak perlu berpikir lama.
"Yes, Yifan." Chanyeol mengalungkan kedua lengannya pada leher Yifan dan menarik pemuda itu dalam ciuman.
Ciuman Chanyeol begitu menuntut dan terburu-buru, tetapi Yifan kemudian mendorong tubuh Chanyeol agar bersandar pada sofa sebelum membalas setiap kecupan yang Chanyeol berikan. Keduanya tersenyum ketika pautan bibir mereka terlepas dengan nafas Chanyeol yang terengah-engah.
"Kau masih harus banyak belajar atau kau akan melukai bibirmu sendiri kalau terus menciumku seperti itu." Ujar Yifan mengomentari gaya berciuman Chanyeol yang masih terhitung sebagai pemula.
Pipi pucat Chanyeol mendadak merona mendengar komentar itu, tetapi ia kemudian kembali memejamkan matanya ketika Yifan mengecup bibirnya. Sejak heat pertama Chanyeol, mereka sudah beberapa kali melakukan hubungan sex. Namun berapa kali pun mereka melakukannya, Chanyeol selalu merasa setiap momennya adalah pertama kali.
Yifan menjilat bibir bawah Chanyeol, sebuah kode yang pemuda itu pelajari untuk membuka mulutnya agar lidah Yifan leluasa mengakses setiap sudut mulutnya. Chanyeol sudah terengah ketika Yifan menautkan lidah mereka. Berciuman dengan Yifan selalu membuat Chanyeol seperti mabuk –meskipun ia belum pernah tahu rasanya mabuk. Chanyeol tanpa sadar menggigit bibir bawah Yifan ketika tangan pemuda yang lebih tua darinya itu menyentuh nipplenya dari balik kaos yang dipakainya. Beruntung gigitannya itu tidak sampai melukai bibir Yifan yang hanya tersenyum melihat tatapan bersalah dari sudut matanya.
Ketika Yifan sudah akan melepaskan celana piyama Chanyeol, pemuda itu menahannya.
"Di sini?" Tanya Chanyeol dengan ekspresi kebingungan, karena mereka biasanya melakukannya di tempat tidur dan saat ini mereka masih ada di ruang keluarga. Yifan mengecup leher Chanyeol di mana tanda claim yang pernah ia berikan masih terpampang di sana ketika mereka pertama kali berhubungan sex.
Tangan Yifan membuka kedua kaki Chanyeol dan menumpukannya di atas sofa. Posisi itu membuat Chanyeol merasa begitu terekspos di hadapan Yifan dengan kedua kaki yang terbuka lebar tapi ia tidak bisa berbuat banyak ketika Yifan mulai mengecup setiap jengkal pahanya.
"Yifan..." Kecupan bibir Yifan semakin menuruni paha Chanyeol dan mendekati bagian kejantanannya. Chanyeol kira Yifan akan mengulum kejantanannya seperti saat mereka pertama kali berhubungan sex, tetapi ciuman Yifan kali ini semakin turun dan berhenti di lubangnya membuat Chanyeol berjengit dan mengerang.
"...Ngh..." Chanyeol memejamkan matanya erat ketika sensasi asing dari lidah Yifan yang menjilati lubangnya membuatnya seperti akan kehilangan akal sehat.
Wajah Chanyeol memerah. Lidah Yifan yang masih menijilati lubang anusnya membuat sesuatu di dadanya berdesir. Pemuda itu tidak bisa menahan erangan yang meluncur dari bibirnya manakala ia menerima kenikmatan dari lubangnya yang sensitif.
"Yif—AH!" Chanyeol menutup kedua matanya erat ketika lidah Yifan kini mulai berusaha memasuki lubangnya. Chanyeol tidak berani menatap pasangannya itu. Sensasi yang kini menguasai tubuhnya itu terasa asing bagi Chanyeol, lidah itu terasa hangat dan basah ketika memasuki lubangnya. Jemari kaki Chanyeol mengatup sementara kedua tangannya mencengkeram sofa ketika Yifan mulai memasukkan dan mengeluarkan lidahnya.
Tanpa Chanyeol sadari, dari ujung mata kirinya menetes cairan panas yang biasa disebut air mata. Pemuda itu semakin mendekati klimaksnya ketika Yifan juga menghisap kulit di sekitar anusnya. Erangan Chanyeol membuat Yifan semakin cepat menggerakkan lidahnya di bawah sana.
Chanyeol sudah akan menyerah dan mencapai klimaks ketika tiba-tiba Yifan mengeluarkan lidahnya. Chanyeol membuka matanya dan ia segera disuguhi pemandangan wajah Yifan yang juga memerah dengan bibir basah.
"Hey..." Pemuda itu menyeka air mata dari pipi Chanyeol.
Yifan kemudian mengecup leher Chanyeol, menghirup aroma khas yang menguar dari sana. Setelah itu ia fokus untuk membuka resleting celananya sementara Chanyeol kembali memejamkan matanya dan bersiap untuk menerima kenikmatan yang selanjutnya. Lubang Chanyeol mengeluarkan cairan pelumas yang hanya dimiliki oleh seorang Omega ketika Yifan mengarahkan penisnya pada lubang itu.
Chanyeol melingkarkan kedua tangannya ke atas bahu Yifan yang masih berpakaian utuh sementara ia hanya memakai kaos ketika Yifan memasukkan penisnya perlahan. Lubangnya seperti secara otomatis meregang dan pada saat bersamaan menghisap penis Yifan lebih ke dalam. Yifan mengerang pelan ketika seluruh bagian penisnya sudah masuk ke dalam lubang Chanyeol.
Sofa itu ikut bergerak ketika Yifan mulai menggerakkan pinggulnya dan membuat penisnya menggesek lubang Chanyeol. Pemuda itu menggigit leher Yifan untuk menahan erangan yang terus keluar dari bibirnya tanpa bisa ia kendalikan. Sex dengan Yifan adalah surga dan Chanyeol tidak ingin keluar dari dalamnya.
Chanyeol kemudian melingkarkan kakinya pada pinggang Yifan ketika ia mencapai klimaksnya sementara Yifan masih terus bergerak untuk mengejar klimaksnya sendiri. Chanyeol kembali mengerang ketika ia merasakan penis Yifan memuntahkan cairan sperma di dalam lubangnya.
Yifan memastikan nafasnya sudah kembali teratur ketika ia melepaskan diri dari Chanyeol dan mengangkat pemuda itu menuju ke tempat tidur. Chanyeol sudah protes dan bersikeras bahwa ia bisa berjalan ketika akhirnya ia menyerah setelah sadar kakinya masih gemetaran.
"Apa Umma membicarakan masalah itu padamu tadi siang?" Tanya Chanyeol ketika Yifan membersihkan tubuhnya menggunakan tissue basah di dalam kamar mereka.
"Hm?" Yifan memastikan tidak ada cairan sperma ataupun saliva yang masih menempel di tubuh Chanyeol sebelum ia bangkit dari tempat tidur untuk mandi.
"Aku akan mandi dulu. Kita akan membicarakannya nanti."
Tapi ketika Yifan keluar dari kamar mandi, Chanyeol sudah terlelap ke alam mimpi membuat Yifan tersenyum dan menyadari betapa mudanya pasangannya itu.
.
.
.
Chanyeol baru saja selesai bermain futsal bersama teman-teman SMAnya ketika ia menyadari seseorang yang tampak tidak asing baginya berdiri di luar lapangan. Chanyeol mengernyit untuk memastikan bahwa penglihatannya tidak salah. Setelah menyeka wajahnya yang bermandikan keringat, Chanyeol segera berlari ke luar lapangan untuk menghampiri orang itu.
"Hey..." Chanyeol tersenyum ketika Yifan juga melakukan hal yang sama.
Teman-teman Chanyeol terlihat memperhatikan mereka berdua dari lapangan sementara Yifan yang menyadari hal itu merasa perlu menunjukkan sesuatu pada mereka.
Yifan melingkarkan lengannya pada pinggang Chanyeol sebelum mencium bibir pemuda itu. Wajah Chanyeol otomatis memerah ketika Yifan menciumnya di ruangan terbuka seperti itu. Bukannya ia tidak suka, tetapi ia masih belum terbiasa dengannya, dan hal ini adalah sesuatu yang jarang terjadi ketika Yifan datang ke tempat ia biasa bermain futsal bersama teman-temannya.
"Ada apa?" Tanya Chanyeol setelah Yifan melepaskan ciumannya.
"Aku hanya ingin menjemputmu saja. Kau sudah selesai bermain?"
Chanyeol mengangguk. Ia kembali menyeka keringat yang membasahi tubuh dan kaosnya. Penampilannya yang berantakan sungguh berbanding terbalik dengan penampilan Yifan yang hari itu memakai setelan kemeja berwarna hitam yang ia lipat hingga sebatas lengan, membuat tato bergambar scorpio di lengannya terlihat jelas. Rambut Yifan yang biasanya ditata ke belakang kini ia biarkan jatuh di atas dahinya membuat ia terlihat jauh lebih muda.
"Kau ingin pulang sekarang?" Tanya Yifan membuyarkan lamunan Chanyeol yang masih terpaku dengan penampilannya hari itu. Pagi itu Yifan berangkat ke kantor lebih awal dan tidak membangunkan Chanyeol yang masih terlelap.
"Aku akan mengemasi barang-barangku sebentar." Chanyeol kemudian berlari kembali ke lapangan untuk mengambil tas dan barang-barangnya.
Dalam hati Chanyeol tersenyum sekaligus bangga ketika teman-temannya berkomentar betapa beruntungnya Chanyeol mendapatkan pasangan seorang Alpha seperti Yifan. Pemuda itu tidak bisa menyangkal, ia memang beruntung bisa bertemu dengan Yifan meskipun pada awalnya kesan yang ia tunjukkan pada pasangannya jauh berbeda dengan sekarang.
Chanyeol menyimpan tas dan sepatu futsalnya di jok belakang ketika Yifan membukakan pintu depan untuknya. Yifan yang segera duduk di belakang kemudi kemudian melajukan mobil audinya.
"Mama sebenarnya menelepon dan ingin kita datang ke rumah untuk makan malam." Ujar Yifan tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan.
Mama adalah panggilan untuk Mrs. Wu. Chanyeol tiba-tiba menelan ludahnya.
"Kita akan berangkat sekarang?"
Yifan mengangguk. "Kau keberatan?"
Chanyeol menggeleng cepat. "Tapi apa tidak lebih baik kita pulang dulu? Aku harus mandi dan berganti pakaian."
Yifan tersenyum sebelum meletakkan tangannya yang tidak memegang kemudi di atas paha Chanyeol yang terekspos ketika celana futsalnya tersingkap.
"Kau bisa mandi dan berganti dengan pakaianku di rumah nanti."
Chanyeol mengerucutkan bibirnya. Ia sungguh tidak akan bertemu dengan orang tua Yifan dengan keadaan seperti ini.
"Tapi, Yifan..." Chanyeol berusaha protes tetapi Yifan menoleh ke arahnya dan memberikan tatapan meyakinkan khas seorang Alpha membuat naluri Omeganya tidak berdaya begitu saja.
"You're great, love." Yifan kemudian mengacak rambut basah Chanyeol sementara pemuda itu menundukkan wajahnya bersemu merah mendengar panggilan itu dari mulut Yifan.
BERSAMBUNG
Lah? Nggak paham? Samaaaaaaa. Wkwkwkwkk #plaakkkk
Ampuni author yang nggak konsisten dan hawanya pengen nulis domestik Krisyeol muluuu. Maapkeun gaesss, tapi kehidupan Krisyeol berumah tangga sungguh mengoyak hati kecil author untuk terus menulis mereka dalam versi ini. mwehehehe.
Mbuh wes ben yo.
Dengan cinta,
Mt_Chan.
