The Good, The Bad, and The Ugly.
Di detik Masamune membuka mata...
"DIIINN! DIIIIIIIIIINNN!"
Masamune memicing pada permukaan hitam kasar (aspal) yang menjadi alas.
"...Apa... yang terjadi...?" Gumannya kala beranjak bangun dari posisi telungkup.
"DIIIIIIIIIIIINNN!"
"WOOOOI! MINGGIR WOI! KAU MAU MATI APA?! KALAU MABUK JANGAN DI TENGAH JALAN!"
"...Huh?" Masamune menoleh ke jejeran kendaraan berdesain kotak kaleng (mobil) yang mengantri tidak sabar. Suara deru geraman aneh (mesin) beserta ringkikan (klakson) terus beriring.
"Shit...! It can't be...!" Syoknya seketika melimpahkan pandangan ke sisi kanan-kiri jalanan besar; ke bangunan-bangunan tinggi (gedung-gedung pencakar langit) berhiaskan tampilan meriah dari papan-papan berwarna-warni (lcd reklame) yang menambah keindahan suasana malam hari pada... kota? Juga tidak luput pengawasannya terhadap sosok-sosok para dewasa dan remaja yang berpakaian seragam (kerja dan sekolah)? Meski tidak disanggahnya kalau sosok-sosok molek pengguna beraneka ragam pernik tato (make-up) di wajah sangat menarik bagi indera pengelihatannya.
"WOOOOOOIIIIIII!" Teriakan dikesekian kalinya akhirnya memaksa Masamune menghibahkan perhatian yang SANGAT kesal.
"MINGGIR! OI!" Bahkan masih disusul oleh teriakan dari lainnya.
"My man!" Seruan baru dari sisi jalan (trotoar) di dekat lampu tiga warna (lampu lan-tas), lagi-lagi membuatnya menoleh dengan tidak habis pikir karena disana... seorang pemuda berambut hijau terang bertatanan duri (punk) tengah melambaikan tangan padanya seakan memanggil.
"Ya, kau! Sini!" Seruan kembali, maka kali ini Masamune berjalan menghampiri.
Tepat menyingkir dari jalanan, orang yang sedaritadi berisik membunyikan ringkikan segera melajukan kendaraan disertai,
"ASSHOLE!"
"..." Masamune melirik kendaraan yang berlalu pergi. Jemari tangan kanannya sudah bersiap menggenggam salah satu gagang pedang; mengejar pastinya bukan masalah baginya. Tapi perhatiannya kembali teralih sewaktu pemuda berambut hijau terang bertatanan duri di depannya seenak jidat menarik salah satu pedang katana-nya.
"Kau cosplayer ya? Wah cool, man! Whoaaah! Seperti asli...! Dari fandom mana nih? Anime? Game? Judulnya semacam kisah samurai?"
"Oi, jangan pegang-pegang sembarangan. Aku memang samurai." Masamune menekan gagang, memasukkan bilah kembali ke sarung. "Dan aku mau tanya, tempat freak macam apa ini? Apa aku sedang bermimpi?" Tanyanya dikemudian, sama sekali mengacuhkan pertanyaan awal.
Pemuda itupun mengernyit, "O-hooo, freak? Mimpi? Ini Shinjuku, man! Sebentar..." Lalu mempoin telunjuk, "Wow! Bukan orang sini, huh? Biar kutebak dari logatmu... Mmmm, Osaka?"
"Oshu." Jawaban datar dari Masamune, benar-benar minus ketertarikan. Sebabnya mudah: dirinya lelah, juga dikeluarkan dari pertarungan secara tidak adil, bahkan tempat ini sendiri terasa bagaikan dimensi lain, terlalu... asing. Apalagi manusia-manusia disini benar-benar menyebalkan.
"Oh-h..." Pemuda itu manggut-manggut sok mengerti, berikutnya melanjutkan, "By the way, festival anime dan game expo baru selesai kira-kira seminggu lalu. Apa kau sedang sesi shooting? Semacam advers, movie atau dorama 'gitu? Boleh aku ikut denganmu? Kau tahu... gini-gini aku bisa berakting lho, yah paling figuran saja mentok-nya lah. Jadi... bagaimana? Mau memperkenalkanku dengan sutradara-mu? Ayolah, aku berjanji tidak akan mengecewakan peranku."
"..." Masamune masih memilah baik-baik setiap kata tadi, dan mencoba mempertahankan sikap cool dengan berakhir menyahuti, "Aku mencari Katakura Kojuro, 'Right Eye'-ku. Kalau kau bisa menemukannya, aku akan mempertimbangkan peranmu dengan siapapun yang kau sebut 'sutradara' tadi."
Pemuda itu langsung tersenyum lebar, "Sungguh?! Oh great, man!" Kemudian mengambil kotak tipis (ponsel) dari saku celana, "Tuliskan nomor handphone-mu. Biar aku bisa menghubungimu kapan saja dan dimana saja." Sambil menyodorkannya.
Masamune mengerutkan alis kirinya saat menerima benda itu; ditimang sekaligus diputar, lagi-lagi kilau warna-warni (desktop wallpaper) menyita perhatiannya. Jari telunjuk pun dibawa menekan-nekan permukaan datar (layar), dan setiap kali memencet simbol-simbol (aplikasi) yang menghasilkan gambar berbeda, keingintahuannya semakin bertambah.
'Luar biasa...' Pikirnya terkagum-kagum. Alhasil rautnya yang sempat suntuk berubah cerah cemerlang seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan mainan baru.
Tiba-tiba tidak disengaja menekan lambang 'kamera', wajahnya langsung terpajang di layar.
"Whoah! Apa ini?!" Serunya secara was-was seraya reflek menjauhkan; gambaran dirinya ternyata mengikuti gerak-geriknya serupa refleksi. Sungguh ajaib kotak tipis yang didefinisikan sebagai 'handphone' ini.
"Kamera," timpal si pemilik ponsel. "Man, kau udik sekali! Atau jangan-jangan... memang sedang berlatih peran? Astaga, kau sungguh membuatku terkesima. Kereeeeeen!" Sambil mengacungkan dua jempol.
Masamune kembali menyibukkan diri menekan-nekan layar. Sangking asiknya, rupanya melewatkan angka tahun yang tertera pada widget penunjuk waktu: '2012', sampai—
"...SASUKEEEEE! BERHENTIIIIIII!" Suara khas milik seseorang yang super dikenalnya menginterupsi, Masamune pun menoleh mencari—
"SASUKEEEEE! KALAU KAMU TERUS BERLARI, TIDAK AKAN ADA JATAH MAKAN UNTUKMU MALAM INI! SASUKEEEEE!" Seruan dari seorang pemuda berambut ekor... seiring langkah empat kaki yang terburu-buru dari seekor anjing berjenis golden retrivier; keduanya menuju ke arahnya.
Masamune kontan melempar ponsel, pemuda berambut hijau terang bertatanan duri di depannya pun buru-buru menangkap; berikutnya cekat menggaet kalung anjing tersebut, mengangkatnya ke atas begitu saja secara minus konsiderasi sehingga tanpa pijakan, si anjing tidak lagi berkutik.
"Ohhh! Sasuke!" Si pemilik langsung memeluk si anjing yang menggeliat kesakitan karena tercekik lilitan kalung, sekaligus merampasnya dari pegangan Masamune. "Hei! Jangan sekasar itu! Kamu harus memberikan sedikit perasaan terhadap hewan!" Omelan diikuti nafas terenggah-enggah, seraya mengelus-ngelus leher si anjing dengan penuh kasih sayang.
Meski Masamune cukup bingung tersebab penempatan nama 'Sasuke' sebagai anjing peliharaan; berhubung pengenalannya bahwa Sarutobi Sasuke adalah ninja, maka pencapaian konklusi untuk kejadian ini masih berada di tahap... wajar. Masamune sendiri sedikit tersenyum akan kepolosan yang terpapar dari utaraan tadi, kemudian jemari tangan kanannya dibawa mengelus kepala rival-nya.
"Kalau untukmu, mungkin aku bisa lebih berperasaan."
Si empunya anjing pun terhenyak. Rona merah langsung menghiasi wajah karena kalimat semacam itu tidak seharusnya ditujukan pada... sesama jenis. Tentu Masamune mengerti, namun sudah hobinya untuk menggoda kan? Sayangnya reaksi yang diperolehnya ternyata berbeda dari prediksinya.
"A- um. Sori. Aku tidak... uh... 'kesana'." Sambil menepis tangan.
Masamune berusaha bertindak sabar, walau tertawa di dalam hati. "Aku pun sama, Sanada Yukimura. Now, let's get serious. Kita harus mendiskusikan permasalahan ini; kejadian di Sekigahara tadi."
"Sekigahara...? Tadi? Tunggu... bagaimana kamu bisa mengetahui namaku? Apa jangan-jangan kamu semacam... stalker?" Cecar si pemilik anjing dengan raut curiga.
"Oi, aku sedang ramah. Jangan mengetes temperamenku; jangan sampai aku memutuskan untuk menebas kepalamu," geramnya karena situasi keberadaannya di lala-land Shinjuku sudah menghasilkan kepenatan, sekarang ditambah gaya rival-nya yang LEBIH dari sekedar bloon? Lelucon apa lagi ini?!
"A-ah..." Yang tersebut 'Sanada Yukimura' perlahan mundur.
"Kurasa... kamu salah orang. U-um... permisi!" Lalu kabur begitu saja tanpa meninggalkan keterangan berarti.
"..." Masamune pun menatap sedatar-datarnya, plus mempertimbangkan apa yang berbeda dari rival-nya selain kain tipis (kaos) dan celana panjang berbahan tebal (jeans) beserta sepatu boot ceper (kets) yang menjadi set pakaian disana.
Semenjak rival-nya melarikan diri darinya, maka mau tidak mau Masamune terpaksa memutuskan mengejar demi mengorek penjelasan sejelas-jelasnya tentang tubi-tubi keanehan yang dialaminya; bagaimanapun hanya pemuda itulah satu-satunya koneksi yang dikenalnya —menurutnya.
"Jadi kau mau play hard to get, huh...?" Geramnya kala memicing.
Pemuda di dekatnya menyela, "Sebentar, kau belum menuliskan—"
"Kalau kau tidak bisa menemukan 'Right Eye'-ku, sebaiknya katakan good bye pada peranmu!" Potong Masamune seraya berlari menyusul rival-nya, "SANADA YUKIMURA!"
Sedangkan pemuda berdandanan punk itu jelas terbengong. Tapi demi tawaran audisi, segera memotret sosok si cosplayer dari belakang, dan meng-upload foto itu ke blog-nya untuk mengumpulkan informasi tercepat.
...
Di lain sisi... tepatnya pada sebuah kota berbeda...
Yukimura membuka kedua matanya, lalu beranjak berdiri dengan terhuyung sambil memegangi kepala yang terasa pusing tujuh keliling. "Apa... yang terjadi...?"
Sebelum pertanyaannya mendapatkan jawaban, mendadak—
"CIIIIIIIIIIITTTTT!"
Decit disertai dua sorot kuning seterang matahari memaksanya mengangkat tangan kanannya ke depan wajah agar menghalangi sinar.
"KLEK!"
Suara pintu berbahan metal yang dibuka disertai sepasang kaki yang memijak, segera menarik fokus Yukimura untuk ber-inisiatif mengawali percakapan.
"Uh... Maaf, bisa kutanya sesuatu...?" Tanyanya dengan sopan sembari memperhatikan bayangan yang ternyata tidak hanya seorang karena tidak lama, suara pintu serupa menyusul bersama kehadiran sepasang kaki baru.
"Oi, kid. Kalau mau bunuh diri, jangan di depan mobilku. Masalahku sudah banyak, jangan ditambahi lagi dengan si-kon dari cecunguk macam dirimu." Suara ber-khas ego itu spontan membuat Yukimura bernafas lega.
"Masamune-dono!" Serunya tanpa banyak pertimbangan lagi, dan berlari kecil menuju pemilik suara.
"Aku sungguh bersyukur kamu baik-baik saja. Sinar hitam itu—" Yukimura menghentikan kalimatnya seketika sosok rival-nya terlihat jelas, dimana pakaian disana adalah set serba hitam: jas, kemeja, dasi yang terikat longgar, dan celana panjang beserta sepasang sepatu boot bertaraf hi-class. Terdapat kalung berantai emas yang menggantung pada leher, plus penampakan jalinan tato pada kulit dari perbatasan tulang klavikel hingga bidang dada.
Lalu selebihnya... model penutup mata kanan adalah semacam kain kasa terhubung tali yang digantungkan pada kedua daun telinga. Wajah ber-raut dingin, bahkan pupil pada pusat iris kuning terlalu menusuk tajam.
"Aku tidak mengenalmu, menyingkirlah dari pandanganku."
Pernyataan itu membuat Yukimura reflek memegang lengan kiri rival-nya; mengesampingkan segala kejanggalan di seputarnya baik tentang pria di depannya, maupun tentang tempatnya berada saat ini. "Sebentar! Tunggu sebentar, Masamune-dono! Aku juga terbawa sinar hitam aneh, berikutnya yang kutahu sudah berada disini! Aku... sungguh mengkhawatirkanmu!"
Yang dipanggil 'Masamune' kini menatapnya baik-baik, menelusurkan pengamatan seksama dari ujung rambut hingga ujung sepatu seakan menginspeksi.
"Masamune-sama, kita akan terlambat ke pertemuan." Suara beralur ketenangan sesuai khas Katakura Kojuro, sempat menginterupsi. Tapi yang tersebut '-sama' tersenyum... sinis, pada Yukimura.
"Hmph. Kurasa setimpal. Lagipula 'chairman' tidak pernah komentar jika aku membereskan masalah dengan benar." Jawaban singkat bagi si sopir.
Kemudian bicara ke Yukimura, "Baiklah, kid. Tubuhmu fit, tidak buruk; terlihat tangguh, juga membawa sepasang senjata melee, kurasa kau cukup mahir dalam pertarungan. Kalau begitu... kuberikan kesempatan menarik: kau melayaniku, dan aku akan memperkenalkanmu dunia terbaik, JAUH lebih hitam dari sinar hitam yang kau sebutkan tadi."
"..." Yukimura tertegun, sebenarnya agak merinding dengan tingkat serius rival-nya. Itu... tidak biasanya. Tempat ini sendiri juga sangat—
"Oi, waktuku tidak banyak. Katakan 'yes' or 'no', cepat putuskan. Now." Sela rival-nya tanpa basa-basi.
Jantung Yukimura terus berdegup kencang sepanjang menatap iris di depannya. Terlebih lagi, tidak bisa menangkap apa pengertian 'hitam' dalam kalimat disebelumnya. Maka, pilihan harus diputuskan daripada berjalan tidak jelas. Toh 'bersama' akan lebih cepat memperoleh jawaban, mungkin sekaligus mencari beserta menangani sumber permasalahan.
"Baiklah. Aku percaya padamu, Masamune-dono." Angguknya.
Sewaktu pintu penumpang belakang dilebarkan untuk memberikan lowong... Yukimura menelan ludah. Entah kenapa ada sesuatu yang SANGAT salah disini. Tidak hanya kendaraan elegan yang terdefinisi: 'mobil', yang menjadi pertanyaannya; penekanan 'melayani' juga berada di luar deskripsi karena dirinya adalah seorang 'Tiger of Kai'.
Tapi sekali lagi, tapi... Yukimura berakhir menarik kedua tombaknya dari punggung saat si sopir memintanya sebagai formalitas keamanan. Kemudian masuk ke dalam ruangan yang tersedia baginya tanpa banyak prasangka.
Sementara 'Masamune' masuk mengambil duduk, dan menyeringai penuh rencana.
...
Sedangkan pada kota berbeda sejalan kisah Date Masamune dan Sanada Yukimura; lokasi tepatnya berada di area taman yang dipenuhi pemandangan pepohonan bunga sakura...
"Nnhh— UAAAAAAH!"
"GABRUK!"
"Ouch-ouch-ouch-ouch-..." erang Ieyasu sambil memegangi pinggangnya.
Setelah menyadari keindahan guguran kelopak-kelopak merah muda di sekitarnya, disertai keyakinannya bahwa tidak ada ancaman dadakan... Ieyasu pun membalikkan tubuh, me-rilekskan diri memandang langit malam selama pikirannya perlahan-demi-perlahan menerawang ke situasi di Sekigahara.
"Apa yang terjadi tadi...?" gumannya, benar-benar tidak mengerti.
Praduganya tercepat, ini semacam sihir teleportasi semenjak dirinya telah berpindah tempat dalam sekejap. Tapi pertanyaan terpenting: siapa yang mempunyai kekuatan memindahkan jiwa dan tubuh secara utuh seperti ini? SANGAT berbahaya. Apa mungkin ini merupakan salah satu ide dari rival-nya untuk menyingkirkan ancaman?
Berbagai kutat kesimpulan terus berputar dalam otak, meski perolehan dari semuanya cukup kacau karena formasi—
Ieyasu segera bangun ke posisi duduk saat mengingat, "Empat arah mata angin, beserta yin dan yang. Jika Date Masamune dan Sanada Yukimura terbawa, DAN aku adalah 'yang'... Berarti Mitsunari-kun juga—"
Kalimatnya tersela, "...AAAAHHHHHH! TIDAK! TIDAAAAAAAK! HAAA-A kumohon... KUMOHON...! AAAAAHH!"
Teriakan itu disertai derap langkah panik, membuatnya menoleh seraya beranjak berdiri.
Di kejauhan, pada jalanan setapak... sesosok orang berlari ketakutan sampai terjatuh-jatuh. Namun sorot pandangannya lebih terfokus pada sosok berperawakan langsing yang berjalan sendirian penuh ketenangan mengikuti siapapun orang tadi —tentu Ieyasu mengenalnya.
"Mitsu...nari?" Ucapnya dengan tidak percaya seakan meragukan indera pengelihatannya, dan memicing saat melihat rival-nya mengeluarkan pisau, diteruskan—
"AAAAAAHHH!" Suara teriakan terdengar kembali, terdengar menyayat serupa lolongan kesakitan... seiring ilustrasi darah menyemprot ke udara.
Ieyasu seketika itu membeku menyaksikan detik-demi-detik bagaimana rival-nya mengayunkan senjata kecil itu penuh presisi, mengoyak leher pria malang itu tanpa belas kasihan, bahkan memotong satu-per-satu jari, sampai membelah perut sehingga jalinan usus memburai keluar. Dan selama darah bermuncratan kemana-mana, wajah rival-nya benar-benar tidak menunjukkan ekspresi ataupun emosi.
Terlalu... dingin.
"Mit...su... Mitsu..." Tangan kanan menutup mulut dengan syok, air mata mengalir secara tidak sadar.
"MITSUNARI!" Teriaknya tepat berlari menuju rival-nya.
Yang dipanggil 'Mitsunari' langsung menoleh, lalu melompat menjauh dari jurus pukulan, berlanjut bergerak lincah sesuai kecepatan standar seorang manusia normal.
"MITSUNARI! APA YANG KAMU LAKUKAN?!" Bentaknya seraya menghujamkan berbagai versi pukulan yang anehnya... sama sekali tanpa kehadiran efek elemen. Sementara rival-nya terus menghindar dengan ekspresi... tidak mengerti. Ieyasu sendiri terlalu terkonsumsi oleh kalut kepedihan bercampur aduk kemarahan, dan melewatkan keganjilan-keganjilan yang terjadi sepanjang melancarkan tubi-tubi serangan.
Berhubung lawannya pantang menyerah menjauh, aksi kejar-kejaran pun berlangsung... dari melompati pagar, menaiki sisi-sisi rumah, sampai menembus kerumunan orang-orang yang berlalu-lalang. Semakin buruk, Ieyasu tidak pernah merasakan selelah ini sebelumnya.
Di detik berhasil memojokkan pada sebuah gang kecil...
Baru disadarinya, rival-nya ternyata hanya memancing; akhirnya sukses menangkap arahan kepal pas di pergelangan tangan kanannya, diteruskan mengekangnya ke belakang tubuh, dan mendorongnya ke tembok menggunakan tubuh bagian depan. Otomatis menguncinya pada posisi secara telak, apalagi ditambah dengan simbolisasi peringatan dari sisi bilah tajam pisau yang ditekankan ke siku leher.
Ieyasu berakhir diam tersengal, sekujur tubuhnya gemetar karena faktor stamina, dan kedua matanya menatap sayu sejalan kontak pandang.
"Mitsunari-kun... kenapa kamu harus terus membunuh... Lembutkan hatimu, kamu dulu sangat baik. Kumohon... sadarlah... sedikit saja, untukku. Kita adalah teman... aku selalu menghargaimu... aku... sangat menyayangimu."
Namun lawan bicaranya hanya menatap pasif, seolah-olah sedang berpikir... atau mempertimbangkan sesuatu.
Saat membuka mulut hendak menyadarkan kembali, "Mitsunari—" Kalimat terpotong—
"...!" Ieyasu membelalak seketika rival-nya maju mengadukan mulut dengan mulut; menaruh ciuman kasar yang membekap sirkulasi udara keduanya. "Mmmmm-fff...!"
Tangan kirinya reflek menggenggam kerah jaket di depannya untuk menjauhkan. Dan sejauh syok, gejolak perasaan... sebuah kerinduan yang mendalam menjadikannya membuka mulut secara lebih saat rival-nya memperdalam, memasukkan lidah menggelut miliknya... memaksanya melayani dengan pasrah.
Rona darah berbaur dalam saliva tepat antuk gigi tidak terhindar melukai bibir bawahnya, bahkan rival-nya tidak tanggung menggigit lidahnya tanpa melepaskan kontak intimasi.
"Haa-a..." desah nafas beberapa kali merembes dari sela kuncian antara mulut. Aliran darah yang terbawa saliva mulai menuruni dagu, bahkan Ieyasu seperti kehilangan akal sehat sewaktu sesi intimasi semakin larut seiring teritori privat rival-nya menekan miliknya, mengundangnya untuk mengadukan sembul, menggesek perlahan... selama lempeng pisau berbelepotan darah dibawa naik menyusuri sisi rahang. Terlalu... gila. Sedekat ini dengan kematian...
"Mmh-h..." erangan pelan terlepas saat jemari yang memegang gagang pisau kini merengkuh kumpulan-kumpulan rambutnya, menjambak agar wajahnya agak menengadah.
'Apa yang terjadi...? Apa ini benar-benar Mitsunari-kun yang kukenal...?' Meski nurani berontak, naluri tidak sanggup menolak cercah kenikmatan dari ungkapan-ungkapan yang tersalur melalui bahasa tubuh; dikhianati oleh reaksi alami. Terlalu... menyedihkan.
Setelah beberapa menit tenggelam dalam momen sensual yang... rancu, rival-nya mendadak memutus ciuman begitu saja.
"Ahh-h..." Membuatnya tergantung pada kesadaran; bahkan mulutnya masih terbuka... menanti.
"Kau orang pertama yang memanggilku dengan nama. Aku patut menghadiahimu... ini," ucap 'Mitsunari' dengan suara pelan.
"Satu hal yang harus kau ketahui: INI... hanya apresiasi. Jika kita bertemu kembali, nasibmu tidak ubahnya akan sama dengan pria itu. Dan jangan pikir aku tidak akan mengawasimu setelah ini." Lanjutnya, melepaskan kuncian tangan kanan seraya mundur memberikan ruang, namun bilah pisau kembali berdiam di depan leher sebagai ancaman.
"Oh ya, aku bukan temanmu, dan aku tidak bisa mengabulkan permintaanmu karena pekerjaanku adalah... pembunuh bayaran."
Kemudian 'Mitsunari' menyunggingkan senyum tipis yang terlihat... sadis. Berikutnya mengambil pistol grapple dari balik jaket, lalu menembakkan kait ke atas.
"..." Ieyasu pun memandang kosong saat pisau ditarik tanpa memberikan garis luka. Disitulah kenyataan pahit mengisi lubuk dada, bahwa sosok yang membuainya tadi... bukanlah rival-nya; serupa, namun tidak sama.
Sedangkan si pembunuh bayaran melesat terbang ke atas, dan menghilang dalam kegelapan malam.
...Meninggalkannya terduduk lemas, benar-benar tidak bisa berpikir apapun selain sebuah kesimpulan sewaktu melemparkan pandangan ke mulut gang, memperhatikan sosok-sosok berkhas Asia yang larut dalam kesibukan perseorangan di antara pemandangan lampu-lampu kota.
Ya, tempat yang dipijakinya sekarang masih merupakan daratan 'The Rising Sun'... dengan perbedaan jaman.
Ieyasu menyandarkan belakang kepalanya pada jalinan bata yang kotor, sementara baris giginya bergerat frustasi. Siapapun yang mengirimnya beserta lainnya kemari, tampaknya berniat merubah sejarah. Ini benar-benar gawat!
"Mitsunari-kun..." gumannya dikemudian, seraya jemari kedua tangan dibawa meraup wajah. "Dimana dirimu...?"
TBC...
A/n: *laughs* Jadi... ketiganya bertemu dengan 'kembaran' masing-masing rival. Tampaknya hanya versi Masamune yang paling 'menyenangkan'. XD
Apakah jalan ceritanya terlalu ribet?
