Tetsuya menatap dua sosok dari kejauhan dengan tatapan tak suka. Semester awal sebagai murid kelas dua baru saja dimulai, dan sekarang dihadapannya muncul pemandangan yang tidak disukainya. Salah satu dari sosok itu melambaikan tangannya kearah Tetsuya sambil tersenyum lebar. Mengabaikannya Tetsuya memutar tubuhnya dan melangkah menjauh, menimbulkan kernyitan didahi orang tersebut.
.
.
.
Disclaimer.
Chara : Tadatoshi Fujimaki & Hyra Z to OC.
Story : Hyra Z
Genre: Sho-ai, Drama, Romance, Family, Friendship. Hurt/Comfort.
Rated: T
Character: Kuroko. T, Akashi. S, Ogiwara. S, Amane Shiori (OC)
WARNING::
Cerita ini mengandung unsur boy love, dan beberapa kesalahan dalam penulisan. Saya tidak menerima Flame. Saya tidak memiliki jangkauan waktu untuk kapan saya akan meng-update cerita ini.
.
.
.
Precious 1
.
Langkah kaki setengah berlari terdengar dibelakang Tetsuya. Tahu siapa yang menghampirinya Tetsuya tidak berusaha membalikan badannya, sampai tepukan dipundak menghentikan langkahnya. Pemuda berambut cokelat menyapanya dan berjalan disampingnya.
"Yo, Tetsu. Kau ini teman sendiri menyapa diacuhkan."
"Ah. Gomen, Ogiwara-kun. Aku sedang melamun."
"Kau ini!" Ogiwara mendelik sebal kepada pemuda bersurai bluenette disampingnya, dan mencubit pipi yang memiliki raut wajah datar tersebut.
"Sakit, Ogiwara-kun." kata Tetsuya dengan nada datar, membuat Ogiwara melongos kesal.
"Cih, kalo sakit ucapkan dengan nada yang terdengar seperti kesakitan Tetsu!"
"Sakit?" ucap Tetsuya sekali lagi.
"Ahk, kau ini gunakan nada kesakitan, bukan nada tanya seperti itu!" Ogiwara mengusap wajahnya frustasi. Tetsuya hanya menatap Ogiwara dengan wajah datar.
"Huh, berteman denganmu bisa-bisa usiaku terpotong sepuluh tahun!" ujar Ogiwara sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Terima kasih, Ogiwara-kun."
"Itu bukan pujian!" teriak Ogiwara. Tetsuya mengabaikan Ogiwara dan berjalan lebih cepat. Pemuda bersurai bluenette itu menarik sedikit bibirnya kesamping, tipis nyaris seperti senyuman saat samar-samar mendengar dumelan Ogiwara dibelakangnya.
Tetsuya masuk kedalam kelasnya setelah bell berbunyi. Dia sudah berpisah jalan dengan Ogiwara karena kelas mereka berbeda. Letak kelas Ogiwara berada dekat dengan anak-anak kelas satu, dan Tetsuya di ujung yang lainnya.
"Tetsuyacchi!" suara teriakan cempreng, sebelum disusul terjangan dari mahluk bersurai pirang saat melihat sang biru muda masuk kedalam kelas.
"Kise-kun, lepas." Tetsuya menatap datar mahluk pirang berwajah cantik disebelahnya. Merasa sudah puas memeluk Tetsuya, Kise melepaskan pelukannya tersebut. Melempar senyum tak bersalah setelah membuat Tetsuya nyaris tak bernafas.
Enggan berbasa-basi karena memang tidak perlu, Tetsuya melangkahkan kakinya menuju bangku ketiga dari depan yang berdampingan dengan jendela. Duduk disana, dan disusul Kise yang merupakan teman sebangkunya.
Di depan meja mereka tampak pemuda bersurai raven dan indigo sedang bercakap-cakap lalu ditimbrungi suara Kise yang ikut dalam pembicaraan. Enggan mengikuti pecakapan tiga sahabatnya, Tetsuya lebih memilih mengarahkan tatapannya keluar jendela. Menatap langit yang senada dengan warna matanya.
.
oOo oOo
.
Suara barang pecah, lalu suara berisik yang cukup membuat jantung berdebar kencang karena kaget dari arah luar. Meringkuk takut didalam lemari, balita bersurai bluenette tersebut meminta perlindungan disana dan kehangatan dari selembar selimut kumal yang berbau apek dan pesing.
Merasa suara-suara menakutkan diluar sudah menghilang, balita tersebut dengan langkah pelan dan hati-hati keluar dari persembunyiannya. Melangkahkan kakinya keluar dari kamar. Ditatapnya ruangan yang sudah kembali berantakan seperti pemandangan yang sudah biasa menyapannya. Tampak buku-buku jatuh dari rak, pajangan dan pigura kaca yang hancur dan pecah. Hening dan gelap selalu itu yang hadir setelah semua suara gaduh dan menakutkan seperti raungan monster itu berlalu.
"Okaa-san…" panggil lirih balita tersebut. Hening.
"Otou-san…" kembali balita tersebut memanggil. Hening.
Otou-san… Okaa-san… hiks, Okaa-san…" Balita tersebut menangis dan terus memanggil dua nama tersebut, tapi keheningan dan kegelapan saja yang ada menyapa. Menyelimuti balita tersebut hingga tertidur karena kelelahan.
.
.
"Tetsuyacchi… Tetsuyacchi!" panggil seseorang diantara ketidaksadaran Tetsuya. Mengerjapkan matanya dan sedikit mengernyit saat cahaya matahari terlihat menyilaukan, sebelum manik aquamarine tersebut terbiasa. Mengalihkan pandangannya menatap si pirang yang sedang tersenyum lebar.
"Istirahat. Ayo kita kekantin ssu" Berdiri dari duduknya, Tetsuya mengikuti Kise dan tiga sahabatnya berjalan keluar dari kelas.
"Tidurmu nyenyak sekali, Tetsu-kun." ujar sang indigo, Himuro.
"Untung tidak ada sensei yang menegur." kali ini sang raven menimpali, Takao.
"tidak mungkin ada yang berani ssu!" ujar Ryouta "Bagaimanapun Tetsuya itu anak ketua yayasan sekaligus donatur utama di sekolah ini."
Tetsuya diam tak menanggapi, dia tidak berminat dengan topik yang dibahas sahabatnya. Lagipula semua nama dan harta ini bukan hak miliknya, dia bukan siapa-siapa jika dia dibuang kembali. Tetsuya berjalan lebih cepat dan melangkah menuju kelas Ogiwara.
Kini mereka berlima berjalan beriringan kekantin, Tetsuya memisahkan diri dan berjalan menuju tempat penjualan vanilla shake. Menyela antrian hingga tiba dibarisan depan. Mengambil minuman pesanannya, Tetsuya memutar badannya. Baru dua langkah dia berjalan seseorang menabraknya, membuat minuman berwarna biru pucat tersebut jatuh mengenai baju seragamnya yang putih.
"Go-gomen." ucap perempuan yang menabrak Tetsuya.
Memandang datar perempuan tersebut, Tetsuya kini menatap minumannya yang tinggal separuh dan menumpahkan minuman tersebut kekepala perempuan yang menabraknya. Meninggalkan gelas plastik serta sedotan jatuh disamping perempuan malang tersebut dan melangkah pergi. Tetsuya sudah tidak berminat membeli lagi minuman favoritenya. Tetsuya pergi tanpa mempedulikan isakan kecil dari sang perempuan dan bisikan dari para penonton disekitarnya.
Melangkah keluar dari kantin mengabaikan panggilan keempat temannya, Tetsuya berjalan menuju loker dilantai bawah. Matanya tanpa sengaja menangkap sosok gadis bersurai peach. Ekspresi Tetsuya mengeras dan kosong seketika.
.
.
"Tetsuya, baik-baik saja?" tanya Himuro, menatap baju Tetsuya yang sudah diganti dengan yang bersih. Himuro tersenyum lembut, mengelus surai halus pemuda tersebut. Tetsuya menganggukan kepalanya sebagai jawaban bahwa dia baik-baik saja.
Tetsuya kali ini memandang sendu Himuro sambil mengelus perutnya. Mengenal arti tatapan tersebut, Himuro mengeluarkan kotak makanannya yang langsung diserbu oleh Kise, Takao, Tetsuya dan Ogiwara. Himuro hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan keempat temannya tersebut jika bertemu dengan makanan buatannya. Membiarkan bekal makanannya dihabiskan, Himuro menatap pintu masuk kelas. Senyumnya mengembang saat sosok tinggi bersurai Amethyst melangkah menghampirinya.
"Muro-chin." panggil sosok tersebut yang didampingi pemuda tan bersurai navy.
"Iya..." ucap Himuro sambil tersenyum, yang lalu mengambil bekal satu lagi dari tasnya dan menyerahkan kepada pemuda bersurai amethyst, Murasakibara.
"Terima kasih, muro-chin." Murasakibara mengacak surai indigo milik Himuro dengan sayang.
"Heh, shin-chan mana?" ujar Takao mencari sosok pemilik surai jade yang tsundere.
"Shintarou dan Akashi sedang ada pertemuan Dewan Siswa" ucap sang tan, Aomine.
"heh, tidak seru~" ucap Takao sambil menggigit sumpitnya.
"Huh, berhentilah menggoda si Tsundere itu Takao." ucap Aomine.
"Heh, aku tidak menggodanya. Itu ungkapan cinta-ku pada Shin-chan~"
Aomine menggelengkan kepalanya mendengar pernyataan Takao. Melangkahkan kakinya pemuda tan itu menghampiri kekasihnya, Kise. Di elusnya pipi pemuda pirang tersebut sambil tersenyum miring sebelum menjatuhkan kecupan singkat di bibir tipis tersebut.
"Da-Daikicchi ini di sekolah ssu!" bersemu merah, Kise mengerjap malu-malu.
"lalu?" Daiki hanya menaikan salah satu alisnya, seolah tak peduli.
"Hay, pasangan gay disana! Berhentilah bermesaraan. Kalian membuatku iritasi." tegur Ogiwara. Aomine melempakan tatapan mematikannya kearah Ogiwara, dan Ogiwara dengan cueknya kembali menyantap makanan dihadapannya.
"Psst, Tetsu…" Ogiwara memanggil Tetsuya yang sudah selesai makan. "teman-teman kita tidak ada yang waras ya?"
Ogiwara melirik Himuro yang merupakan teman masa kecil Murasakibara, tapi lebih seperti ibunya. Lalu melihat Ryouta yang kini berpacaran dengan si hitam Aomine dan meresmikan status mereka di seluruh sekolah, sukses menciptakan fans para Fujodan dengan julukan 'AoKi Best ever!'.
"Nanti akulah yang akan menjadi orang paling waras dikelompok ini." lanjut Ogiwara menatap Tetsuya dengan serius. Tetsuya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dengan lemas. Mengiyakan saja, toh memang kenyataannya tidak ada yang 'waras' di kelompok mereka.
Himuro yang mencintai sahabat kecilnya, tapi tak pernah dianggap lebih kecuali sebagai ibu pengganti dan teman masa kecil saja. Kise yang memiliki ratusan fans wanita, dan suka membuat patah hati mereka dengan bertindak brengsek, justru jatuh cinta pada pemuda meskulin berkulit tan yang tampan dan mengejar pemuda tersebut. Padahal Tetsuya yakin jika Aomine itu aslinya lurus, selurus-lurusnya. Entah jurus apa yang dia gunakan hingga pemuda straight berkulit tan tersebut jadi belok. Apakah Tetsuya harus bertanya? Jurus yang dipakai Kise..
Ada Takao yang suka mengusili pemuda tsundere dari kelas VVIP, entah karena dasar suka atau memang dia hanya senang mengusili pemuda tersebut. Lalu Ogiwara, seseorang yang baru ikut berbaur dengan mereka saat menginjak bangku SMA. Mengaku sebagai seorang straight, memiliki kepribadian baik yang terlihat memphp kan semua perempuan. Dan masih jomblo. Sampai sekarang. Sedang Tetsuya sendiri...
Tetsuya mengarahkan pandangannya keluar jendela, menatap langit. Dia selalu suka langit, biru dan hitam seperti dirinya.
.
oOo oOo
.
Tetsuya melangkahkan kakinya memasuki rumah yang merupakan mansion megah tersebut. Tampak sepi dan hening awalnya sebelum sebuah suara cempreng khas anak-anak memanggil namanya.
"Tetsuya nii-chan!" dari salah satu pintu berdaun dua disana, Tetsuya melihat sosok gadis kecil bersurai scarlet yang tersenyum lebar sambil merentangkan tangannya berlari menuju Tetsuya.
"OKAERI!"
"Tadaima, Seiyuna" ucap Tetsuya datar, mengelus rambut adiknya. Melakukan penolakan halus untuk menggendong gadis kecil tersebut. Gadis kecil itu langsung cemberut.
"Gendong!" minta Seiyuna langsung kepada kakaknya dengan nada merajuk.
"Maaf, nii-san baru pulang dan badan nii-san berkeringat." Tetsuya berujar sambil tersenyum datar.
Seiyuna mempoutkan pipinya dengan lucu dan Tetsuya makin mengacak surai sang adik, sebelum berjalan pergi menaiki tangga bercabang dua. Menaiki arah tangga yang menuju kamarnya. Tak berapa lama didengarnya samar-samar Seiyuna kecil mengucapkan, "Okaeri, Anii-sama!"
.
.
"Tetsuya, gomen. Kau baik-baik dengan Ringo ba-san ya." wanita bersurai bluenette tersebut mengelus lembut kepala anaknya. Menatap hampa wanita didepannya, Tetsuya hanya mengangguk kecil.
Wanita tersebut memeluk tubuh mungil putranya, membenamkan wajahnya dibahu kecil dan rapuh tersebut. Memeluk tanpa dibalas oleh tangan mungil Tetsuya yang hanya tergolek diam disamping.
"Sampai jumpa, Tetsuya." Wanita tersebut berdiri dari jongkoknya, memberikan seulas senyum tipis yang rapuh kepada sang putra.
"Selamat tinggal, Kuroko-san"ucap Tetsuya setelah sosok wanita itu cukup jauh.
.
Tetsuya membuka kedua matanya, menatap penampilannya yang tertidur dengan menggunakan seragam sekolah. Dia berjalan menuju pintu kamarnya yang diketuk. Membuka pintunya sedikit, hingga hanya menimbulkan sedikit celah. Tetsuya menatap sosok wanita bersurai bluenette yang berdiri didepan kamarnya dengan datar.
"Tetsuya, tiga puluh menit lagi waktunya makan malam. Bersiaplah." ucap wanita tersebut. Tetsuya hanya mengangguk, dan mulai menutup pintunya.
"Tetsuya.." gerakan Tetsuya terhenti, kembali menatap wanita didepannya. "bagaimana hari-mu disekolah?"
"Baik." Tetsuya menjawab dan langsung menutup pintu kamarnya. Meninggalkan wanita tersebut terpaku didepan pintu sambil mengelus ukiran pintunya dengan perlahan. Menyalurkan pesan tersirat yang tak pernah sang putera tangkap.
Suasana dimeja makan tersebut tampak ramai, walau sumber keberisikan hanya berasal dari satu mahluk mungil bersurai merah. Gadis kecil itu sibuk menceritakan harinya di Play Group dengan cerianya, menimbulkan senyum diwajah wanita bersurai bluenette yang mengelus kepala putrinya dengan sayang. Tak urung sang ayah juga tersenyum melihat ekspresi lucu nan menggemaskan dari si bungsu.
Tetsuya hanya memakan, makanannya tanpa menunjukan ekspresi apapun. Berusaha meminimalisir keberadaan dirinya di meja tersebut. Suara pintu ruang makan yang terbuka mengalihkan perhatian semua yang duduk dimeja makan tersebut. Sosok tampan dan meskulin bersurai scarlet dengan manic crimson melangkahkan kakinya masuk.
"Nii-sama!" teriak Seiyuna riang. Disambut senyum tipis dari pemuda yang dipanggil nii-sama tersebut, Seijuurou.
"Kenapa baru datang?" tanya kepala keluarga Akashi. Seijuurou menarik bangku dan duduk disamping sang ayah, berhadapan dengan sang ibu tiri dan bersebelahan dengan adik tirinya, Tetsuya.
"Maaf, Ayah. Ada beberapa tugas osis yang tanggung jika tidak diselesaikan." ucap Seijuurou datar.
Kepala keluarga Akashi hanya menggelengkan kepalanya lemah, dan melanjutkan makannya.
Tetsuya menggeser sedikit bangkunya menjauh. Menjaga jarak. Tetsuya tidak menyukai Seijuurou, pemuda tersebut memiliki aura otoriter yang sangat mendominasi. Tetsuya merasa kecil dan rendah jika dihadapan pemuda tersebut. Walau teman-teman mereka memiliki hubungan satu sama lain serta status mereka adalah adik-kakak, merupakan rahasia umum jika kedua saudara tiri ini tidak pernah bersinggungan satu dengan lain. Ataupun bertegur sapa dengan akrab.
Bagi Tetsuya, keberadaan Seijuurou adalah hal yang tak nyaman. Seijuurou merupakan Pewaris sah keluarga Akashi, yang diyakini sebagian besar aset dan jabatan Direktur utama akan jatuh ketangannya. Kekuasaan Seijuurou begitu mutlak hingga membuat Tetsuya merasa keberadaannya dalam keluarga tersebut seperti parasit.
Bagi Tetsuya, Seijuurou adalah bentuk penolakan dunia kepadanya yang paling besar. Maka bersinggungan dan berada satu tempat dengannya membuat Tetsuya tidak diinginkan. Harusnya bentuk emosi seperti itu sudah tidak ada dalam diri sang bluenette, tapi entah kenapa Seijuurou selalu bisa menimbulkan emosi tersebut.
―Dibutuhkan, diinginkan,dilindungi,dicintai dan rasa takut ditolak oleh dunia, oleh semua orang. Emosi yang mengerikan. Gelap dan begitu pekat.
"Aku selesai." Tetsuya meletakan pisau dan garpunya.
"Tapi menu penutupnya belum, Tetsuya." ucapan Tetsuya menimbulkan kernyitan halus didahi sang ibu.
"Aku sudah kenyang." Tetsuya berdiri lalu menunduk sopan sebelum berlalu keluar dari ruang makan. Tetsuya tidak menyadari sepasang manik crimson mengikutinya hingga sosoknya hilang tertutup pintu.
.
oOo oOo
.
Manik aquamarine itu memandang dua orang yang tampak bercengkrama dengan akrab. Temannya Ogiwara sedang berbicara dan tersenyum kepada gadis bersurai peach yang dia lihat kemarin pagi juga bersama Ogiwara. Ekspresi Tetsuya mengeras, dengan langkah yang menghentak dia meninggalkan posisinya. Kembali ke kelas.
Ogiwara memasuki kelas Tetsuya dengan senyum lebar diwajahnya, Tetsuya segera mengalihkan pandangannya ke novel yang dia baca tanpa minat tersebut. Pura-pura tidak mengetahui kedatangan sang surai cokelat.
"Ogiwaraccchi sudah gila ssu!" Kise mengernyit jijik melihat senyum Ogiwara yang tidak kunjung luntur.
"Dia gila karena cinta, Kise." ujar Takao sok tahu, dan dihadiahi cubitan gemas dipipi oleh Ogiwara.
"Dia benar-benar sudah sakit.." ucap Takao miris. Kise tertawa mendengar komentar Takao.
"Jadi, Ogiwara-san. Siapa orang yang membuatmu seperti ini?" ucap Himuro.
"Apa? Tidak ada…" ucap Ogiwara dengan wajah memerah.
"kau tak pandai berbohong, apalagi jika wajahmu sudah sebelas dua belas sama pantat monyet ssu!" ucapan Kise dihadiahi jitakan oleh Ogiwara.
"sakit ssu!"
"hn. menurut kalian.. ehem, gadis itu bagaimana?" Ogiwara menunjuk seseorang berambut peach yang terlihat dari pintu kelas yang terbuka.
"yang mana ssu?/mana?/ mana nanodayo?" ucap Kise, Himuro dan Takao. Saat Takao bertanya dengan imbuhan 'nanodayo' semua temannya langsung menjaga jarak.
'satu lagi yang sakit.' batin Kise dan Himuro miris.
"Itu loh yang perempuan berambut peach dengan mata berwarna ungu pucat. Namanya Amane Shiori, menurut kalian gimana?"
Mendapati sosok yang ditunjuk oleh Ogiwara, Himuro, Kise dan Takao langsung terdiam. Melihat reaksi teman-temannya Ogiwara mengernyit bingung.
"Dia cantik, Ogiwara-kun." ucap Tetsuya yang menutup novelnya dan menatap sosok yang disebut bernama Amane tersebut dengan ekspresi datar.
"Gadis impianku memang cantik." ucap Ogiwara, lalu bell masuk berbunyi membuat Ogiwara langsung berlari keluar dari kelas Tetsuya. menuju kelasnya sambil berteriak pamit.
"Tetsuyacchi…" ucap Kise.
"Iya, Kise?" Tetsuya tersenyum datar.
"Tidak ada." Kise menggelengkan kepalanya dan memeluk Tetsuya, sedang Himuro mengelus surai bluenette itu dengan sayang. Takao hanya menatap kearah pintu kesatu titik dimana gadis bersurai peach tadi berdiri.
.
Ah, it's truly irritating
I'm dizzy from a damaged everyday routine
The face, look, and voice are all so unpleasant
I hate this
(Masked bitch.)
.
To be continued
.
.
A/N::
Udah kembali lagi? Iya, udah mulai publish lagi setelah semua hal yang ada. Fast update? update gak janji bisa cepat seperti sekarang. Apalagi kalo udah sampai ke part yang belum pernah di publish. Kenapa di publish ulang? Ada perubahan tapi gak mencolok sebenarnya, tapi bagi gue mempengaruhi alur dan keselarasan. Bukan karena gue orang yang suka kesempurnaan. Percaya deh dari cara nulis gue aja sekarang ini belum apa-apa dibandingin senior-senior atau junior yang kece-kece gaya bahasanya, suka ngiri dibuatnya. Oh iya, bagi yang mau koreksi bahasa yang gue pakai juga boleh. Untuk pembelajaran chapter-chapter selanjutnya.
Judul Ganti? Mungkin agar maknanya lebih dalem kali ya. My Precious Tetsuya : Tetsuya ku yang berharga. / Tetsuya ku yang Indah/ murni/ mulia. Artinya bersifat memuja, menghargai, memuliakan, bentuk perasaan selayak cinta yang begitu besar. Oke, terlalu banyak clue. Intinya judulnya ini kepingin gue bikin untuk menggambarkan semua perasaan orang yang ada disekitar Tetsuya. Ataupun menggambarkan perasaan seseorang tokoh utama lain untuk Tetsuya yang tentu saja masih samar. Tentang Tetsuya? Sebenarnya dia gak terlalu misterius kok. Semua kisah ini sebenarnya berfokus pada dia. Masa lalu, sifat, perilaku, pola pikir, interaksi sosial, kebiasaan. Sayangnya gue gak suka buat sudut pandang dari pov Tetsuya, karena untuk satu hal gue benci jika terjadi pemindahaan pov lain tiba-tiba. Seperti Pov Tetsuya yang disekolah lalu gue musti masuk ke Pov Author untuk menjelaskan alur kisah yang tidak ada Tetsuyanya. Itu mengganggu. Apalagi kalo salah satu dari pov itu berdurasi terlalu pendek.
Oke, sekian Precious 01. Jangan lupa jejak dan Review. Karena saya suka membaca review.
Ps. Untuk cerita tambahan MPT mengenai tokoh lain, mungkin akan saya buat sebagai side story di publishan baru. Tapi mungkin tidak dalam waktu dekat. Semua idenya masih samar. Maaf ya bagi yang minta waktu itu di reviewan Vanilla Drops.
