Disclaimer: Bleach punya om Tite Kubo, saya hanya meminjam beberapa chara yang saya butuhkan.

Rated: T

Pairing: always! IchiRuki!

Warning: OOC! EYD tidak sempurna! Dll, dsb, etc...

Genre: Friendship/Angst

Note: Tulisan yang tebal itu adalah pesan dari Dewa Kematian untuk Rukia.

Yak inilah chapter 2! Maaf kali ini saya tidak bisa membalas review karena sesuatu hal, tapi saya berterima kasih sekali pada anda sekalian yang sudah mereview fic saya dan terimakasih juga karena sudah menjadikan fic saya favorit anda!

Selamat membaca! Dan jangan lupa REVIEW!

Hahaha kau sudah melewatkan 20 hari hanya untuk berbaring di tempat tidur,

Sayang aku tidak bisa memberi tambahan waktu untukmu,

Karena aku tidak suka mengulur waktu,

80 hari menuju kematian.

##########################################################################

KEMATIANKU

Hari ini seperti hari biasanya aku berangkat sekolah tapi aku merasa ada yang beda dengan diriku, yah sekarang aku tidak seperti dulu lagi, mataku sudah tidak bisa melihat sempurna lagi sekarang aku memakai kacamata untuk membantu pengelihatannku. Aku sangat menyesal karena sudah 2 minggu lebih aku dirumah sakit aku tidak bisa mengikuti pertandingan final, padahal itu kemampuanku satu-satunya untuk mendapatkan beasiswa ke universitas yang aku inginkan.

"Rukia, kenapa wajahmu murung?" tanya Orihime yang sedari tadi duduk di sampingku.

"Aku sudah tidak berguna lagi" kataku.

"Apa yang kamu katakan? Kamu berubah setelah keluar dari rumah sakit" Orihime terlihat kesal dengan perkataanku.

"Aku sudah tidak bisa melihat dengan sempurna lagi sekarang" kataku lagi.

"Rukia! Kamu kenapa sih?" Orihime langsung melagkah menjauh dariku.

Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutku, aku merasa seperti orang yang payah! Ini bukan diriku lagi, kenapa aku bisa berubah seperti ini? Aku bodoh! Aku berjalan ke dalam kelas dengan lunglai, tidak punya minat untuk masuk ke kelas yah tidak diragukan lagi anak-anak yang ada di dalam kelas memandangku sperti anak yang perlu dikasihani. Aku tidak suka pandangan mereka, aku ingin menebas pandangan itu! Aku bukan orang yang perlu dikasihani!

Rasanya kau mulai putus asa,

Aku bertambah tertarik menyiksamu dulu,

Baiklah bagaimana kalau kita mulai dengan...

'menyingkirkan' orang-orang yang berharga untukmu?

##########################################################################

Aku memutuskan untuk langsung pulang setelah bel pulang berbunyi, seperti biasanya aku naik bis di halte dan anehnya saat aku naik ke dalam bis bukan bangku yang pertama kali aku cari, tapi sesosok orang berrambut jungga yang kemarin aku temui yah tentunya sebelum kejadian kecelakaan itu.

Ternyata dia tidak naik bis ini lagi, yah tidak apalah untuk apa juga aku memikirkannya dia pun tidak peduli padaku. Aku mencari tempat kosong untuk duduk, ternyata ada di pojok belakang. Aku duduk sambil memangku tas sekolahku dan mengarahkan mataku ke luar jendela bis.

Sampailah ke halte dekat rumah, aku turun dari bis dan pulang ke rumah.

Sampailah aku di rumah.

"Selamat datang" sapa paman terlebih dahulu sambil mengambil kopinya.

"Aku pulang. Hm paman tidak pergi bekerja?" tanyaku sambil mengambil tempat duduk di depan paman.

"Kebetulan hari ini paman sedang libur" jawab paman tanpa mengalihkan matanya dari koran yang ia pegang.

"Owh mau makan siang? Aku buatkan dulu ya tunggu sebentar" kataku sambil meletakan tas dan langsung melangkah ke dapur.

Paman tidak menjawab pertanyaanku, tapi tidak apalah yang penting sekarang aku akan membuatkan makan siang untuknya, setelah aku menyiapkan bahan-bahan makanan yang akan aku masak ternyata ada yang kurang. Aku langsung beranjak dari dapur.

"Paman aku mau membeli sayuran sebentar ya?" pamitku pada paman, tapi paman tidak tidak menjawabku.

Aku keluar dari rumah dan langsung melangkah ke minimarket yang cukup jauh jaraknya dari rumah, sepertinya hari ini sikap paman agak aneh, biasanya dia kan cerewet tapi kenapa sekarang agak diam. Setelah membeli sayuran aku langsung pulang ke rumah.

Aku masuk ke dalam rumah, tapi kenapa paman sudah tidak duduk di ruang tamu? Apa mungkin sedang istirahat? Aku langsung kembali ke dapur untuk menaruh belanjaanku,setelah itu aku langsung melangkah ke kamar paman. Sampainya di depan kamar paman aku langsung mengetuk pintu, tapi lama tidak ada jawaban dari paman sehingga aku langsung membuka pintu dan ternyata tirai kamar paman tidak dibuka sehingga ruangan agak gelap, aku pun mencari saklar untuk menyalakan lampu.

Klik!

Cahaya lampu menerangi kamar.

Deg!

Jantungku rasanya akan berhenti. Apa ini kenyataan? Kami-sama! Apa yang sedang kau ujikan padaku! Kedua kakiku lemas dan sudah tidak kuat lagi menahan badanku, aku jatuh terduduk.

"Pa...paman.." aku membekap mulutku dengan kedua tanganku.

Tubuh paman tergantung di langit-langit rumah, tali tambang yang menyilang dari ujung kamar menjerat lehernya.

Aku tidak habis pikir apa yang paman lakukan? Aku mencoba untuk meyakinkan diriku kalau ini bukan kenyataan, tapi aku tidak bisa mengelak kalau ini adalah takdirku. Aku tidak mau melihat ini! Aku langsung berlari sekencang-kencangnya keluar dari rumah sambil terus mengeluarkan air mata yang tidak bisa berhenti.

Aku terus berlari tanpa tahu tujuan dan aku juga tidak menyadari ada sebuah mobil melaju dengan cepat menuju ke arahku.

BRAAAK!

Aku merasa tulang rusukku bergeser, cairan merah kental keluar dari pelipisku, mataku tidak bisa melihat apa pun, semuanya gelap.

Mataku masih gelap tapi aku bisa merasakan kalau tubuhku tidak bisa bergerak, aku mencoba untuk membukan mataku, aku kedipkan mataku tapi tetap saja mataku memang sudah cacat, aku hanya bisa melihat cahaya lampu yang ada di atasku seperti terhalang oleh kaca buram.

"Rukia kamu sudah sadar?" tiba-tiba ada seseorang yang mendekat ke tempatku berbaring.

"Ah ini" orang itu menyerahkan kaca mataku padaku.

Aku menerimanya dan langsung memakainya, aku langsung bisa melihat dengan jelas siapa orang yang sudah membantu ku duduk di tempat tidur.

"Hinamori...aku ada dimana?" tanyaku.

"Kamu ada di rumah sakit" jawab Hinamori dengan raut wajah yang seperti sedang manutupi sesuatu.

Aku mencoba untuk menelususri ruangan yang dimana aku berbaring sekarang, aku tidak melihat sosok paman dimana pun lalu aku mengarahkan mataku ke Hinamori lagi.

"Dimana paman?" tanyaku.

Hinamori tidak menjawabku, dia hanya menundukkan kepalanya.

"Hinamori..." panggilku lagi.

"Rukia...tolong terimalah ini semua walaupun ini menyakitkan sekali pun..." jawabnya masih dengan wajah tertunduk.

Tiba-tiba saja otakku seperti memutar sebuah memori.

Deg!

Jantungku kembali berdegup kencang.

"Jadi ini semua memang kenyataan?" tanyaku sambil mengambil nafas pendek.

"Rukia! Tolong jangan seperti itu!" Hinamori langsung menggenggam tanganku kasar, Hinamori pun meneteskan cairan bening itu dari pelupuk matanya.

"Aku tahu, tapi ini semua benar kan?" aku menatap Hinamori.

Hinamori hanya menganggukkan kepalanya dan berarti itu artinya adalah sebuah jawaban 'ya'.

Jiwamu sudah mulai sakit.

Aku semakin suka menyiksamu.

Terimalah 'hadiah' pemberianku itu.

Hidupku rasanya sudah berakhir, aku tidak mempunyai keluarga lagi dan tubuhku pun sudah cacat. Apa sebenarnya salahku padamu Kami-sama? Apakah aku sangat berdosa padamu? Lalu apa yang aharus aku lakukan untuk menbus dosa-dosaku? Kalau Kau inginkan nyawaku kenapa tak Kau ambil sekarang saja? Aku sudah tak menginginkan hidupku lagi.

"Ayah, Ibu, Paman..." aku mulai teringat mereka saat aku menatap langit.

Angin berhembus kencang dan membuat hatiku berdegup kencang, entah apakah ini adalah keputusanku sendiri atau hanya bisikan setan yang ada di dalam diriku. Aku keluar dari pagar pembatas atap sekolah, aku pun mulai memejamkan mataku.

Deg!

Tiba-tiba saja jantungku rasanya seperti tertusuk belati, keseimbanganku pun mulai koyak, aku belum sempat terjatuh karena tiba-tiba saja ada sebuah tangan yang menahanku.

"Sedang apa kamu?" tanya orang itu dengan raut wajah kesal.

Aku tidak menjawab pertanyaan orang itu, aku hanya menoleh untuk melihat wajahnya. Mata tajam itu menatap mata violetku.

"Bodoh" katanya lagi.

Aku tidak peduli apa yang akan dikatakannya, aku menepis tangannya dia pun hanya menerima.

Deg!

Jantungku kembali seperti tertusuk.

Aku menahan rasa sakit itu, tapi rasa sakit yang menyikasa itu membuatku tak bisa mengendalikan tubuhku dan akhirnya tubuhku pun terjun bebas dari atap sekolah.

Mata tajam itu terbelalak dan masih mencoba menggapaiku, tapi dia sudah tak sanggup lagi menggapaiku.

Aku berharap ini akan berakhir dengan cepat.

Tolong ambil nyawaku sekarang juga.

"Tidak akan semudah itu" seringai rubah muncul di bibir seseorang yang sekarang tiba-tiba saja ada di sebelahku.

Mataku terbelalak. Siapa orang ini?

TBC

Hohoho bersambung menggantung ya? udah tau belum siapa dewa kematiannya?

Oh ya saya minta maaf karena sangat lama sekali tidak meng up date fic.

Terimakasih.

REVIEW!