"Kau apa?!" teriakan Junmyeon bukan hanya bisa menulikan keempat laki-laki lain yang berkumpul di ruangan kerja milik Kim Kibum, seorang temannya yang kebetulan ia percaya untuk mendesign busana pernikahannya, tapi juga beberapa pekerja Kibum di luar sana.

"Aku akan menikahi Baekhyun." jawab Chanyeol dengan tegas.

Baekhyun duduk di sebelah Chanyeol dengan kepala menunduk, sama seperti kemarin dan tadi. Chanyeol terlalu kuat, terlalu mendominasi untuknya.

"Chanyeol-ah, aku harap kau mengerti, aku ini bukannya sapi perah yang bisa menghasilkan dua potong jas pengantin dalam waktu sehari saja." jelas Kibum. Pandangan laki-laki bermata kucing itu kemudian beralih pada Baekhyun yang meringkuk bak anak ayam, "Lagipula, kau yakin dia mau menikahimu?"

Yifan, yang biasanya menanggapi semua masalah dengan guyonan berdiri, "Kalian baru bertemu kemarin, dan hari ini ingin menikah, Chanyeol-ah, aku tahu terkadang aku memang tak waras, tapi aku tak menyangka kau segila ini."

"Aku tidak gila, aku hanya ingin menikah." ucap Chanyeol dengan nada keras.

Junmyeon di sisi lain menarik tangan Baekhyun dan meminta ijin untuk membawanya keluar.

Chanyeol ingin membantahnya, tapi ia tahu, Junmyeon dan Yifan pasti akan memakinya, jadi ia melepaskan laki-laki mungilnya.

Oh, betapa Chanyeol ingin mengklaim Baekhyun sekarang juga!

Junmyeon terus menarik tangan Baekhyun. Kaki-kaki mungil itu menapak hingga ke depan mobil Yifan yang berwarna hitam metalik. Mewah, dan Baekhyun tidak dapat membayangkan berapa harganya.

"Masuk, Baekhyun-ah." nada bicara itu terkesan menuntut.

Baekhyun ingat betul, Junmyeon terkadang memiliki aura kepemimpinan yang tak dapat dilawan.

"Baekhyun-ah, katakan padaku, apa Chanyeol yang memaksamu untuk menikah?"

Baekhyun tentu tak tahu jawabannya.

Dipaksa atau tidak, toh dari awal bertemu dengan Chanyeol, ia yakin pria itu akan menjadi pengantinnya. Mereka berdua bahkan sudah membicarakan pernikahan sejak dahulu kala, dahulu...sebelum semuanya hancur.

Bohong kalau Baekhyun bilang ia yakin akan keputusannya.

Tapi kalau mengenai paksaan, Baekhyun tahu ia menyetujuinya bukan karena paksaan Chanyeol.

Laki-laki itu memang selalu mendominasi, tapi tidak dalam masalah seperti ini.

"Baekhyun-ahh, kalau ini semua kau lakukan hanya karena aku, aku mohon, jangan..." Junmyeon menarik tangan sahabat kecilnya itu dan meremasnya kencang. "Sungguh, aku tak ingin kau menikah dengan orang yang tidak kau cintai."

Junmyeon tahu benar mimpi-mimpi Baekhyun saat duduk di bangku kuliah.

Baekhyunnya yang polos dan tidak pernah mengenal arti cinta, tapi ingin melewati kehidupan rumah tangga yang hangat, penuh cinta seperti kedua orangtuanya yang sudah berada di atas surga. Baekhyun sahabatnya yang naif, tidak akan berakhir menikah dengan orang asing seperti Park Chanyeol!

Junmyeon tahu Chanyeol bukanlah orang jahat, tapi jelas ia tak ingin Baekhyun jatuh ke dalam pria yang hanya tahu bekerja dan bekerja itu!

Kombinasi keduanya, tidak akan menghasilkan kehidupan rumah tangga yang hangat dan penuh cinta, dalam kacamata Junmyeon.

"Myeon-ahh, sebenarnya ada satu rahasia yang tidak pernah aku beritahukan padamu.."

Tubuh Junmyeon menegang, hatinya tidak siap untuk mendengarkan perkataan sahabatnya.

"Apa? Apa yang kau sembunyikan, Baekhyun-ahh?" Junmyeon menggoyang-goyangkan tubuh Baekhyun. "Katakan, apa itu masalah uang? Apa kau berhutang pada rentenir dan tak sanggup membayarnya? Karena itu kau setuju dengan pinangan gila itu?"

Baekhyun kelu, ia ingin berujar tapi ada sesuatu yang menahannya.

"Baekhyun-ahh, cepat katakan padaku..."

Diamnya Baekhyun membuat Junmyeon makin tidak sabaran.

"Katakan, berapa jumlahnya? Katakan, Baekhyun-ahh..."

Tak tahan lagi, Baekhyun akhirnya menarik nafas, "Aku berpacaran dengan Chanyeol saat kuliah."

Baekhyun dapat merasakan genggaman itu melonggar.

"Apa?" Junmyeon jelas tak dapat menyembunyikan raut terkejutnya.

"Mian.." cicit Baekhyun, berusaha menahan laju airmatanya yang sudah berada di ujung.

"Kenapa..."

"Aku takut." Baekhyun menjawab sebelum Junmyeon menyelesaikan pertanyaannya.

"Baekhyun-ahh, kau takut padaku?" Junmyeon menangkup wajah sahabatnya yang memerah dan menahan tangis. "Kau menyembunyikannya hubungan itu karena kau takut padaku?"

Baekhyun menggeleng, "Bukan hanya itu." Ia gigit bibir kecilnya, "Aku takut pada semuanya. Aku adalah calon aktor, aku sudah berusaha mendapatkan nilai terbaik untuk dapat dilirik oleh agensi ternama, aku ingin segera mendapatkan uang untuk hidup. Myeon-ahh, kau tahu aku hidup miskin sedari dulu."

"Kau malu dengan orientasi seksualmu, Baekhyun-ahh?"

Baekhyun mengangguk. Satu bulir airmata akhirnya lepas, yang diikuti oleh puluhan bulir lainnya.

"Beberapa tahun lalu, tidak ada satupun aktor yang berani membuka dirinya."

"Lalu kenapa..." Junmyeon mengambil nafas sebentar, "Kenapa kau berakhir seperti ini? Aku tak pernah menemukanmu dalam satu casting-pun, Baekhyun-ahh. Saat aku menemukanmu kemarin, sebenarnya aku-pun ragu... Aku pikir kau sudah memiliki impian dan pekerjaan lain, yang membuatmu melepaskan ilmu dan ijazahmu."

"Pertengkaran terakhirku dengan Chanyeol.."

Baekhyun menangis semakin kencang, isakannya sangat menyakitkan hingga Junmyeon meraih sahabatnya itu, menepuk punggungnya dan menenangkannya.

"Aku mencintainya, Myeon-ahh... Aku sangat mencintainya..."

Junmyeon membiarkan Baekhyun kembali meracau.

"Dia bilang, aku hanya memikirkan diriku sendiri. Dia bilang, dia tak ingin waktuku habis untuknya saat aku menjadi aktor. Dia yang berkata seperti itu, Myeon-ahh, tapi dia juga yang meninggalkanku."

Junmyeon terus menenangkan Baekhyun, hingga tangis itu mereda.

Dan Junmyeon dapat melepaskan pelukannya.

"Aku mengenal Chanyeol beberapa tahun yang lalu, dia mencari aktor untuk drama debutnya."

Baekhyun mengusap mata bengkaknya dengan tissue yang tersedia di dasbor mobil itu.

"Dia ingin laki-laki dengan tubuh di bawah seratus tujuh puluh empat sentimeter, dengan tubuh yang tidak terlalu kurus, berwajah tidak terlalu tegas, namun dapat berakting dengan baik. Lebih spesifik lagi, ia ingin lulusan Seoul Film Academy."

Dada Baekhyun menjadi sesak tiba-tiba.

"Awalnya aku mengira, ia menginginkan lulusan Seoul Film Academy karena almamater kita memang memiliki reputasi yang baik di kalangan sutradara, terlebih Chanyeol sendiri adalah lulusan sekarang aku mengerti, Chanyeol melakukannya karena ia ingin kau, yang menjadi aktornya."

"Tidak mungkin..." Baekhyun menggeleng dengan mata yang kembali berair.

"Aku dapat membayangkan betapa kecewanya Chanyeol saat ia hanya dapat menemukanku."

"Myeon-ahh..."

"Sekarang, apa kau masih mencintainya, Baekhyun-ahh?"

Baekhyun mengangguk, "Tak sedetikpun aku melupakannya, Myeon-ahh."

"Kalau begitu, tidak ada alasan lagi untukku menghalanginya. Berbahagialah, Baekhyun-ahh. Kau pantas mendapatkannya."

"Tapi.."

Baekhyun ragu.

"Aku tak tahu dengan perasaan Chanyeol, Myeon-ahh.."

Junmyeon paham dengan keraguan Baekhyun. Tidak bertemu dengan mantan kekasihmu selama bertahun-tahun, kemudian bertemu kembali dan mendapatkan pinangan secara mendadak. Meski kamu mencintainya, pasti ada ketakutan di dalam relung sana.

Baekhyun takut, Chanyeol menikahinya untuk menghancurkannya.

Dan Baekhyun tak siap untuk dihancurkan oleh orang yang ia cintai.

"Chanyeol tak pernah sekalipun memiliki kekasih. Ia hanya memikirkan film, dan dramanya saja, Baekhyun-ahh."

Baekhyun berusaha untuk percaya akan hal itu.

"Yifan selalu menggoda Chanyeol akan status singlenya, terlebih saat aku dan Yifan tengah menyiapkan pernikahan. Tapi lihat sekarang, ia bahkan ingin mendahuluiku dan Yifan." Junmyeon berusaha tertawa, untuk mencairkan suasana yang membiru.

"Aku tak tahu, Myeon-ahh."

"Percaya akan apa yang ingin kau percayai, Baekhyun-ahh. Kalau kau percaya Chanyeol akan membahagiakanmu, maka percayalah. Jangan pikirkan hal lain yang membuatmu sakit kepala."

Baekhyun mengangguk.

.

Hello Again

.

Baekhyun dan Junmyeon kembali di saat Kibum menggerutu, dengan kencang hingga sebagian pegawainya bergerombol di depan kantornya dengan penasaran.

"Teriakanmu membuat pekerjamu ketakutan di depan pintu, Bummie-ahh." canda Junmyeon saat ia menutup pintu rapat-rapat.

"Ya Kim Junmyeon!" Kibum melemparkan sebuah pensil yang tadinya ia pakai untuk menggambar tepat di kening sang aktor. "Tidak ada satupun yang berhak memanggilku Bummie kecuali Kim Jonghyun, kau mengerti?!"

Kim Jonghyun, sepupu Junmyeon yang seorang penulis lagu.

Kim Jonghyun, yang juga suami dari Kibum.

"Ckk, kau terlalu berlebihan, Kibum-ahh." Junmyeon mengambil pensil yang berhasil jatuh sebelum mengenainya. "Pikirkan saja design pakaian yang diinginkan oleh Sutradara Park satu ini."

"Sayang?!" Yifan melihat kekasihnya dengan tidak percaya. "Kau tak mungkin menyetujui ide gila temanmu ini, kan?"

"Mungkin." Junmyeon mengendikkan bahu dan duduk di samping Yifan. "Mungkin, ide itu tidak gila-gila amat."

"Sayang..."

Junmyeon mengisyaratkan Yifan untuk diam.

Saat itu juga, Chanyeol tahu kalau Baekhyun sudah membuka semua rahasia yang terkunci rapat selama bertahun-tahun.

"Sebenarnya, tak perlu menyiapkan pakaian yang terlalu bagus untuk itu, Kibum-ssi.. Aku lihat, di depan banyak sekali jas pengantin yang bisa disewakan."

Kibum sudah akan bersyukur dengan perkataan Baekhyun, tapi harapannya kabur.

"Tapi tak ada satupun yang berwarna peach."

Baekhyun tertegun, Chanyeol masih ingat dengan warna kesukaannya. Ia jauh lebih tertegun saat mata tajam itu memandangnya, dengan pandangan yang sama seperti beberapa tahun lalu.

Bolehkah Baekhyun berharap Chanyeol masih mencintainya?

"Oh ayolah, Chanyeol-ahh, kau tak mungkin memaksaku untuk menyelesaikan jas pengantinmu dalam waktu seminggu." rayu Kibum yang jelas tidak mempan.

"Dua buah Birkin." ujar Chanyeol pada Kibum.

Kibum jadi tergoda. Tapi ia tak ingin jasanya hanya dibayar oleh dua buah tas keluaran rumah mode Hermes itu.

"Lima."

Junmyeon menutup matanya dengan kedua tangan saat mendengar perkataan Kibum yang diluar nalar. Lima buah Birkin sama dengan satu Maseratti!

"Tiga." Chanyeol menawar lagi.

"Empat atau aku akan memanggil petugas keamanan ke sini."

Chanyeol menyerah dan mengangguk.

"Bagus. Aku akan menyelesaikan designnya malam ini, kau bisa datang kemari besok siang, Chanyeol-ahh."

"Ok."

"Senang berbisnis denganmu~" senandung Kibum terdengar saat mereka undur diri dari kantornya.

.

Hello Again

.

Baekhyun merutuki dirinya sendiri yang kelewat lemah, karena ia menyetujui permintaan Chanyeol untuk tinggal di mansion miliki sutradara itu mulai malam ini.

Mungkin karena hatinya yang sudah lama menantikan saat-saat ini.

Atau mungkin, karena rasa cinta yang membuat otaknya lumpuh.

"Baekhyun-ahh."

Suara bass itu membuyarkan lamunan Baekhyun yang duduk di gazebo sembari memandangi kolam yang dihuni puluhan koi tersebut.

"Aku menganggap, dengan adanya pernikahan, maka tak perlu ada kontrak untukmu."

Kontrak, untuk drama baru Chanyeol, kan, maksudnya?

"Ohng.." Baekhyun mengangguk.

"Baiklah, kalau begitu.."

Udara di sekitar mereka menjadi dingin, dan membuat lidah mereka menjadi kelu.

Bukan, bukan keadaan seperti ini yang diinginkan Chanyeol. Ia mungkin pernah marah pada laki-laki mungil itu, tapi rasa cintanya tetap mengalahkan kemarahan sialan itu! Ah, bahkan Chanyeol ingin menarik semua ucapan menyakitkannya itu.

"Apa kau mau melihat naskahnya?"

Perkataan itu yang membuat Baekhyun akhirnya memandangnya.

Sudah lama sekali Baekhyun tidak membaca naskah, dan rasa rindu itu membucah, memaksanya keluar dan membuat sorot mata Baekhyun berbinar.

Persis seperti bertahun-tahun lalu, saat Chanyeol mengajaknya berkencan untuk pertama kali.

"Bolehkah?"

"Uhng.. Akan aku ambilkan di meja kerjaku."

Baekhyun menunggu Chanyeol yang berlari dengan tidak sabaran.

Naskah pertamanya. Ia akan benar-benar menjadi aktor sekarang. Ia bahkan tidak peduli dengan kesuksesan drama bikinan Chanyeol, yang penting ia dapat menjadi aktor. Suatu profesi yang diidam-idamkannya sejak lama.

"Ini.." Chanyeol menyodorkan sebuah buku tebal bersampul hijau muda dengan tulisan 'The Palace: Return' itu. "Judulnya masih sementara, karena naskahnya sendiri masih harus sedikit dirubah."

Baekhyun mungkin terlihat seperti lelaki bodoh yang tersenyum sendiri.

"Taesun adalah karakter yang akan kau mainkan, nanti."

Baekhyun membaca buku naskah dengan seksama, tanpa melewatkan satu detailpun.

"Hyunchul, adalah orang yang menghubungkan Taesun dengan keluarga Shin."

Baekhyun tahu karakter Hyunchul, karena itu adalah karakter yang dimainkan oleh Junmyeon di seri pertama drama ini. Ya, Baekhyun pernah menonton drama yang dimainkan oleh sahabatnya itu.

"Karakter Hyunchul pas sekali dengan Junmyeon.." kata Baekhyun walau ia tahu ia tak punya hak untuk menilai karya Chanyeol.

"Sebenarnya aku terkejut Junmyeon dapat memainkannya dengan baik."

Baekhyun menunggu Chanyeol menyelesaikan perkataannya.

"Karena peran itu seharusnya bukan untuknya."

Baekhyun meremas buku naskahnya, berusaha merendahkan harapannya yang mungkin hanyalah sekedar harapan palsu.

"Aku menulis naskahnya sedari aku lulus dari program masterku. Saat itu, aku mengira kau akan rajin mengikuti ribuan casting."

Rasa sesak itu hilang dari paru-paru Baekhyun.

"Aku hanyalah sutradara baru, aku belum memiliki uang untuk memproduksi dramaku sendiri, karena itu aku menunggu sampai dua tahun yang lalu. Aku berharap, kau dapat muncul saat aku mengcasting pemeran untuk dramaku. Aku tak pernah mendengar kiprahmu di dunia akting, dan aku pikir kau pasti datang hari itu. Aku tahu kau bukanlah orang yang mudah menyerah begitu saja, Baekhyun-ahh. Meski untuk peran kecil, dalam produksi sekecil apapun."

Chanyeol tak memiliki kesempatan untuk menyelesaikan dongengnya.

Karena tubuh mungil itu beranjak dari duduk, membiarkan buku naskah itu terjatuh untuk memeluk Chanyeol.

Chanyeolnya yang lama dirindukan.

"Maafkan aku.. Maafkan aku Chanyeola.." isakan itu lepas dari bibir mungil Baekhyun. Tangannya memeluk leher Chanyeol dengan posesif.

"Aku yang salah, Baekhyun-ahh." tangan Chanyeol-pun ikut memeluk pinggang Baekhyun yang ia rasa jauh lebih kecil saat mereka berkuliah dulu. Chanyeol bergedik, memikirkan bagaimana kesusahan hidup Baekhyun hingga si mungil itu sekurus ini. Perasaan bersalah itu merasuk ke rusuknya, memberikannya serangan nyeri tak terperi.

"Tak seharusnya aku sepengecut itu, Chanyeola. Aku.. Aku..." ucapan itu tergantikan oleh isakan yang terus menerus terdengar.

Menyakitkan.

Chanyeol tidak suka dengan tangisan Baekhyun. Karena itu, ia terus menerus mengelus punggung calon suaminya itu, "Kita baik-baik saja sekarang, Baekhyun-ahh. Kita akan terus baik-baik saja hingga menua nanti."

Ya, semuanya akan baik-baik saja.

Selagi mereka bersama, Chanyeol yakin semuanya akan baik-baik saja.

Tak hanya Chanyeol, Baekhyun-pun merapalkan rumus yang sama di dalam benaknya.

Semuanya, akan baik-baik saja.

TBC

Sebenarnya, aku nggak mau melanjutkan semua fanficku. Beberapa bulan lalu, aku kehilangan semua dataku karena laptopku mendadak ngehang dan sampai sekarang nggak bisa nyalakan. Tapi aku luluh juga waktu membaca fanficku secara ulang. Aku ingin menulis lagi, dan aku harus menyelesaikan apa yang sudah aku mulai bertahun-tahun lalu.

Seingatku, fanfic ini akan menjadi threeshot, tapi mungkin akan kurubah sedikit. Mungkin akan menjadi lima chapter, atau bahkan lebih. Doakan aku untuk menulis ulang semuanya.