Hai, hai! Lama tak berjumpa..
Okeh... Nozomi yakin banget...
Pasti gak akan ada yang nangis...
Umm... Bagi para readers, usahain baca ceritanya sambil denger lagu kokoro atau kiseki, Nozomi sarankan sih kokoro.
Kemarin dari sudut pandang Api, sekarang Air!
Mari disimak aja yah.
"Kakak..." ucap seorang anak gadis dengan lemah.
Sang bocah yang sedari tadi menangis segera mendongakkan kepalanya dan tersenyum lebar, "Air! Akhirnya kamu bangun juga...!" ia segera memeluk adiknya dengan erat. Sang adik hanya bisa mengelus punggung kakaknya dengan lembut.
"Kakak... Air gak apa apa kok." hibur adiknya itu. Sang kakak segera melepaskan pelukannya dan menggenggam tangan adiknya.
Sang adik melihat sekeliling kamar dan kembali menatap kakak tersayangnya,"Ayah dan ibu kemana?" sang bocah segera terpaku mendengar pertanyaan polos dari adiknya itu.
Walau sang kakak baru berumur 6 tahun, tapi ia sudah mengerti apa yang namanya kematian. Ia tak tahu harus menjawab apa pada adik perempuannya itu.
"Kak... Jawab aku..." ucap adiknya dengan lemah, tapi masih ada nada pemaksaan.
Sang kakak mencoba untuk memikirkan jawaban yang tepat,"T-tenang aja... Mereka cuma lelah, jadi mereka tidur..." mau tak mau anak laki laki tersebut terpaksa membohongin adiknya.
Gadis mungil tersebut hanya bisa mengangguk pelan,"Kuharap mereka baik baik saja..." ucap Air dengan tersenyum lembut.
Bocah tersebut menggenggam tangan adiknya yang dingin itu. Dia merasa sangat bersalah karena telah membohongi adiknya itu.
"Kak... Jangan tinggalin Air yah..." sang kakak menatap ke arah adiknya dan mencoba untuk menahan tangisnya dan tersenyum.
"Kakak nggak akan ninggalin kamu kok..."
.
"Kamu juga jangan tinggalin kakak ya..."
~"~
Sudah 10 tahun sejak hari itu, sang adik kondisinya sudah mulai membaik.
Sejak waktu berlalu, Air sudah mengetahui bahwa orang tua mereka meninggal dan ditambah lagi kakek mereka yang meninggal saat mereka berumur 14 tahun.
Tapi, beberapa waktu belakangan ini, tiba tiba kondisi sang adik mulai memburuk dan terpaksa untuk dirawat di rumah sakit.
"Maaf yah kak, aku jadi ngerepotin kakak..." ucap seorang gadis cantik yang sedang duduk di tepi ranjang. Kakaknya hanya menatap lembut sang adik kemudian mengelus pipinya,"Jangan khawatirkan kakak, kamu harus banyak istirahat yah..."
Air hanya tersenyum,"Nah, kamu harus tidur..." ucap sang kakak memaksa adiknya untuk berbaring, sang adik hanya pasrah dan membiarkan dirinya diselimuti oleh laki laki yang memakai jaket berwarna oranye serta topi oranyenya yang menghadap lebih ke atas.
"Kakak pergi dulu yah..." sang kakak segera pergi dari ruangan yang bercat putih tersebut.
Air hanya bisa menatap sedih atas kepergian kakaknya dan mencoba untuk tidur.
Tapi yang ia dapatkan adalah... sebuah mimpi buruk...
.
.
.
"Dok! Apa dia baik baik saja?!"
Setelah beberapa hari, kondisi Air semakin membaik tapi hari ini tiba tiba kondisinya menjadi sangat buruk.
Sang dokter mengampiri pemuda tersebut dengan muka sedihnya,"Adikmu ingin bertemu denganmu..."
Tanpa basa basi lagi, pemuda tersebut segera memasuki ruangan adiknya dengan cepat dan mengampiri kasur dimana adiknya sedang terbaring lemah. "Air! Kamu gak apa apa?!" ia segera menggenggam tangan adiknya yang dingin itu, sang adik membuka matanya dan menatap kakaknya dengan pandangan lemah.
"Ka...kak...?" sang adik memperlihatkan pandangan sayunya.
"Air! Bertahanlah!" ia menggenggam kuat tangan adiknya."Tadi aku sudah melihat lihat alat alat musik!" ucap sang kakak sambil memperlihatkan senyum terbaiknya."Nanti kita pergi beli sama sama yah?"
"Kita sudah berjanji 'kan?" kini suaranya berubah menjadi agak lirih."Kita akan membuat boneka bersama sama. Kita sudah berjanji akan banyak bermain." suaranya makin terdengar lirih dan sedih,"Kita sudah berjanji 'kan?!" Kini mata pemuda itu mulai berair air.
Air menatap kakaknya dengan pandangan lemah,"Ka...kak..." tangan sang kakak sudah mulai bergetar untuk menahan tangisnya."Aku akan selalu tinggal denganmu! Karena itu... Jangan tinggalkan aku!"
"Aku takut..." ucap Air dengan lemah,"Kakak ada disini..." bulir bulir bening mulai berjatuhan dari kelopak mata Api."Hiks... Hiks... Air...!"
Bola mata Air kini kembali menatap lurus ke atas,"Ka...kak...A...pi..."
TIIIIIIITTTT
.
.
"AAIIIRRRR!"
.
.
Professor sudah tak ada disini lagi.
Sudah beberapa ratus tahun berlalu.
Aku ditinggal sendirian..
Kini semua pakaianku sudah kotor dan juga compang camping di ujungnya.
Berkat sistem yang dibuat oleh professor, aku masih bisa hidup sampai sekarang.
Tapi aku sama sekali belum menemukan sesuatu yang kucari cari.
Aku ingin tahu...
Apa yang ia buat-
.
.
.. sampai hidupnya berakhir...
*FLASHBACK*
"Uhuk... Uhuk! Uhuk! Uhuk..." Api terbatuk keras dan tangan kanannya mencoba untuk menutup mulutnya.
Air yang melihat professornya terbatuk dengan sangat kerasnya segera menghampirinya,"Professor, apa kau baik baik saja...?"
Api menatap Air dengan keringat yang mulai keluar dari pelipis Api,"Aku... Uhuk! baik baik... Uhuk, uhuk! sa...ja..." Api mencoba menjauhkan tangannya dan matanya segera membelalak ketika melihat darah di tangannya.
Air yang menyadari darah di mulut serta di tangan Api segera memeriksa kembali datanya,"Itu Hemoptisis..." Api segera menatap Air dengan pandangan terkejut.
"Itu bisa membuat nyawa manusia dalam keadaan berbahaya..." Api terus terbatuk batuk, sementara Air terus melanjutkan penjelasannya,"Darahnya berasal dari saluran pernapasan. Oleh karena itu, kadang kadang bisa menyebabkan kematian."
"Professor butuh perawatan secepatnya."
GRAB
Tanpa disangka, Api segera memeluk Air dengan erat."Uhuk... Uhuk... Hiks.. Uhuk! Hiks... Hiks..." bulir bulir bening sudah mulai berjatuhan di pundak Air.
"Professor, apakah ada yang salah dengan analisisku?" tanya Air dengan pandangan datar dan membiarkan Api memeluknya.
Api terus menangis di pelukan Air, tanpa memperdulikan pertanyaan Air.
"Mengapa... kau menangis...?"
*END OF FLASHBACK*
Sang robot segera membuka proggram yang telah dibuat oleh professornya dan segera menginstall program tersebut kedalam data datanya.
"ID BOBOIBOY AIR 05. MENGINSTALL PROGRAM 'HATI.' " Mendengar ucapan monitor tersebut, Air segera menunggu hingga prosesnya selesai, tapi sebelum hal tersebut terjadi, Air segera membelalakkan matanya.
"ERROR! ERROR! ADA VIRUS TIDAK DIKETAHUI TELAH MASUK." spontan Air segera mengetik kembali dan mencoba untuk menghapus virus tersebut."Tidak mungkin, menurut programnya, tidak ada masalah apapun." jari jemarinya terus mengetik tanpa memperdulikan layar monitor yang tertulis huruf besar ERROR.
"Aku adalah robot keajaiban professor 'kan? itu benar 'kan, professor?" ia mulai mengangkat tangannya dan mengarahkannya ke arah layar monitor.
.
"PROFESSOR!"
.
"VIRUS TELAH DIPERBAIKI. MULAI MENGINSTALL PROGRAM 'HATI.'"
.
.
The third miracle start.
.
.
.
"...r..."
"...Air..."
"Kau disitu...?"
Terlihatlah sebuah tempat dimana semuanya berwarna putih, hanya kasur serta beberapa meja dan kursi yang menemani kamar tersebut. Serta seorang pemuda dan sebuah robot.
"Air, kau tahu...? Program 'Hati.' itu sudah selesai." ucap sang pemuda yang sedang terbaring lemah, walau begitu ia tetap memperlihatkan senyum terbaiknya pada sang robot. "Tapi itu belum berfungsi... Ia akan bekerja jauh saat aku sudah meninggal nanti... Saat waktu keajaiban itu." tangan sang pemuda mulai memegangi pundak Air, robot tersebut.
"Maaf ya... Meninggalkanmu sendirian pasti sangat berat bagimu... Tapi keajaiban pasti akan terjadi, mungkin kau belum mengerti apa yang kumaksud sekarang ini.." kini senyum tersebut telah berubah menjadi senyum yang melambangkan kesedihan."Tapi aku benar benar tak menyangka..."
"Bahwa pesan dari masa depan itu akan benar benar sampai..."
Tangan sang pemuda mulai bergerak ke atas dan menyentuh lembut pipi sang robot."Maaf karena aku mengatakan ini, tapi..."
.
"Terima kasih..."
.
"A-a...?! Hiks?! Hiks...!"
"Huh?! A-apa?!" Air mulai bingung karena ingatan tentang masa lalu itu kembali datang dan tangannya mulai menyentuh pipinya sendiri."Mengapa air mataku... tak berhenti...?!" ia mulai melihat tangannya yang sudah basah karena air matanya terus keluar.
Ia juga mulai memegangi badannya,"Mengapa?! mengapa aku bergetar...?"
Karena kakinya yang bergetar sangat hebat, ia pun terduduk karena tak mampu menopang tubuhnya itu. Ia memegangi dadanya dan merasakan ada deguban yang sangat kencang." Apakah ini yang kuharapkan untuk..."
.
"Hati...?"
.
Air menoleh ke arah sampingnya dan melihat kursi yang biasa digunakan Api untuk bekerja sembari menatap layar besar, sekarang hanya tinggal jaketnya yang sudah kotor dan juga compang camping.
"Misteri... Hati... Hati... Misteri... "
Dengan kakinya yang masih bergetar, Air berusaha untuk bangun dan mengambil jaket tersebut. Ia memeluk dan mencium jaket tersebut, rindu akan kehadiran professornya.
"Sekarang aku tahu, bagaimana cara untuk bahagia..."
Tapi, saat jaket tersebut sudah hancur menjadi beberapa bagian, air mata sang gadis robot pun mulai berjatuhan dengan derasnya. Ia melihat tangannya bergetar dengan sangat kencang."Hiks... Hiks..."
"Misteri... Hati... Hati... Misteri... Aku sekarang tahu, bagaimana cara untuk sedih..."
Air terus menyebutkan kata professor dengan air mata yang berjatuhan.
"Misteri... Hati... Hati... Tak terbatas!"
"Sangat menyakitkan!"
Karena tak mampu untuk menahan tangisnya, Air pun mulai menangis sekencang kencangnya, teriakan yang terdengar sangat pilu.
"AAAAAAAAAAA!"
Spontan ia segera pergi keluar tempat itu dan pergi menuju kuburan sang professor.
Tempatnya adalah di tempat mereka dulu piknik bersama.
Air hanya bisa menatap sedih ke arah kuburan itu.
Sekarang Air tahu dan sadar bahwa...
.
.
Sendirian itu... menyedihkan.
.
.
*FLASHBACK*
"Manusia akan mati suatu hari nanti..."
Kini Api sedang duduk mengahadap Air dengan pose tangannya menopang dagunya.
Air menatap Api,"Saat manusia berada dalam keadaan yang berbahaya, mereka akan meningkatkan kewaspadaan mereka pada level tertinggi."
Api mengangguk,"Benar, tapi kematian adalah takdir setiap manusia."
"Tapi, kau tahu Air? Dengan berhasilnya kau dibuat... Itu sudah membuatku sangat senang."
Bola mata Air sedikit membelalak mendengar perkataan Api, entah tanda ia terkejut atau kebingungan.
"Bagiku, kau adalah segalanya, Air." ucap Api sambil tersenyum lembut. "Kau adalah dunia aku..." ucap Api sambil tersenyum lembut ke arah Air. Air hanya bisa membelalakkan matanya, ia tak pernah melihat ekspresi professor maupun perkataannya itu.
Ia segera berdiri dan menatap Air dengan pandangan lembut."Hari mulai berangin, mari pulang."
Sang professor menawarkan tangannya pada sang robot dengan senyuman lebar, tapi Air hanya ,menatap datar ke arah tangan tersebut, tak ada niat untuk membalas tawaran itu atau bergerak sedikit pun.
Api melihat Air yang sedang kebingungan, segera mendengus pelan dan mengambil tangan Air.
"Sepertinya kau masih harus banyak belajar..."
*END OF FLASBACK*
"Hiks! Hiks... Hiks.. Professor... AAAAAAAAA!"
Air mulai menangis lebih hebat, ia menyesal tentang masa lalu itu. Tangannya seperti sedang mencoba untuk menggapai langit, seakan akan berharap ia bisa kembali ke masa lalu dan meneriman uluran tangan itu.
"Apa yang telah aku lakukan?! Seharusnya aku menerima tangannya! Aku bahkan tidak melakukan apapun!"
Tangisan Air sudah agak mereda, tapi bulir bulir bening tersebut masih berjatuhan.
"Benar, hari itu... saat itu..."
Air mulai ingat tentang masa masa indahnya itu... Dimana saat ia membuka matanya untuk yang pertama kali, ia melihat sebuah senyuman yang sangat menawan.
"Didalam semua kenangan itu..."
Ia ingat, saat dimana sang professor mengajarkannya bagaimana cara bernyanyi. Suara yang dikeluarkan orang tersebut sangatlah indah bagi Air.
Ia ingat, dimana ia selalu membuatkan makanan untuk sang professor. Orang tersebut selalu memakan masakan buatannya dengan lahap serta dengan senyum yang sangat manis.
"Mulai berterbangan... dan menari!"
Air mulai menangis kembali. Ia ingin meminta maaf kepada Api karena selalu membuatnya sedih, tapi ia tak bisa, karena Api sudah tak ada disini lagi.
"Terima kasih... Terima kasih..."
Karena itu... Ia mengirimkan sebuah pesan kepada 'dirinya' di masa lalu, ia meminta pada dirinya di masa lalu untuk menyampaikan perminta maafannya.
"Karena telah membuatku lahir ke dunia ini..."
Air mulai menyanyikan sebuah lagu untuk sang professor di alam sana.
"Terima kasih... Terima kasih..."
"Untuk hari hari yang kita lewati..."
.
"Terima kasih... Terima kasih..."
"Untuk semua yang kau berikan padaku..."
.
"Terima kasih... Terima kasih..."
"Aku 'kan bernyanyi selamanya...!"
.
.
.
.
SNAAPP
.
.
.
.
"Huh...?" topi yang dikenakan sang robot pun pecah menjadi beberapa bagian.
Matanya pun mulai kosong, tapi ia masih memperlihatkan senyumannya, walau itu senyuman sedihnya.
Karena merasakan sistemnya akan segera mati, ia pun tak sanggup untuk berdiri lagi dan membiarkan dirinya terjatuh.
.
.
Tak disangka, sebelum badannya sempat menyentuh tanah, ada seseorang yang menahan tubuhnya.
Air bisa melihat dengan jelas muka tersebut. Orang tersebut memperlihatkan senyuman lembutnya. Air juga bisa merasakan ada beberapa bulu berwarna putih yang jatuh dari langit.
Ia segera tersenyum dengan air mata yang masih membasahi pipinya.
.
.
Itu benar benar sebuah keajaiban...
Robot yang mendapat 'hati' itu terus bernyanyi dengan semua perasaannya.
.
Tapi keajaiban itu hanya berlangsung sesaat saja.
Karena tak bisa menanggung muatan dari proggram 'hati' tersebut, mesinnya konslet dan tidak akan pernah lagi berfungsi.
.
Walaupun begitu, di momen terakhirnya, wajahnya dipenuhi dengan senyuman.
Seakan akan... seperti seorang malaikat.
.
.
.
"Terima kasih..."
.
.
.
"Ka...kak..."
.
.
.
END!
#natap horror ke layar.
Gak... Gak akan ada yang nangis buat fanfic gaje inih!
Maaf kalo ada typo, ngetiknya di hp...
Aneh ya, anak umur 6 tahun udah tau yang kayak gituan, maklumin aja, soalnya ini kan di masa masa canggih.#ditabok.
Bagi para readers yang sudah mau membaca, mereview, memfav, memfol, Nozomi ucapkan terimakasih sebanyak banyaknya.
Dan rencananya Nozomi mau bikin fanfic berikutnya dari lagu vocaloid juga, ACUTE DAN TRICK AND TREAT! YAY!
.
.
Kalo ikhlas, silakan tinggalin reviewnya.
