THE RED SCARLET
.
.
.
[Prefektur Kyoto, 10:00 JST. Day 1]
#Finding The Red Scarlet
Seorang remaja tanggung berkulit pucat merapikan dasi yang menggantung di lehernya secara sembunyi-sembunyi diantara kerumunan pengunjung pameran seninya. Meski pemuda itu baru berusia 15 tahun, tapi kemampuan melukisnya sudah diakui oleh para pengamat seni profesional.
Berkat bakat yang terasah baik serta darah seni keluarga Shimura yang mengalir dalam dirinya, kini Sai telah mendapatkan gelar pelukis berbakat termuda di seluruh Jepang, memperoleh banyak penghargaan di bidang seni dan hari ini, ia sukses mengadakan pameran lukisan tunggal pertamanya. Tentusaja Sai juga bekerja keras untuk semua itu sejak kecil, karena bakat tanpa kerja keras tidak akan menghasilkan apa-apa, begitulah prinsip seorang Shimura Sai.
Sebuah pencapaian yang luar biasa kan, untuk seorang remaja berusia 15 tahun?
Pagi itu sai menggunakan setelan tuxedo berwarna abu-abu metalik lengkap dengan kemeja putih dan dasi hitam. Di kakinya melekat sepasang sepatu formal berlabel merek rumah mode kenamaan dunia, prada. Pemuda itu tampak gagah menyambut para undangan-undangan yang datang.
Seseorang menepuk pundak pemuda itu, orang tersebut adalah kakeknya, Shimura Danzo.
"Ah, kakek. Apa kau menikmati pamerannya?" Tanya Sai lalu tersenyum.
"Tentusaja! Dan aku bangga sekali menyebutmu cucuku." Pria tua itu menepuk pundak Sai, "Bakatmu dan kakakmu, Shin benar-benar terasah dengan baik. Aku benar-benar beruntung memiliki cucu sehebat kalian berdua." Sambungnya terharu.
"Ah, kakek berlebihan. Kek, kelak aku juga ingin kuliah di Italia, sama seperti kakak."
Danzo tersenyum bersahaja, "Kalau kau menginginkannya kenapa tidak? Lakukanlah, kakek akan mengurus semua biayanya."
"Baik kek." Jawab pemuda berambut hitam itu dengan sopan diakhiri dengan sedikit ojigi.
"Kau sudah memutuskan akan melanjutkan sekolah menengah atas kemana?" Tanya kakek itu tanpa mengalihkan perhatiannya dari sebuah lukisan
"Kurasa aku akan tetap bersekolah di Kyoto kek."
"Boleh saja, tapi aku lebih suka jika kamu masuk ke sekolah asuhan pemerintah jepang seperti Konoha Academy." Danzo menatap cucunya dengan serius. "Aku bisa mengurusnya agar kau masuk dengan mudah ke sekolah itu Sai-kun." Sambungnya.
Sai kaget mendengar perkataan blak-blakan kakeknya, tapi ekspresi pemuda itu tidak berubah, "Tidak perlu kek, aku akan ikut test seleksinya nanti." Sai tersenyum singkat.
Walaupun kakeknya adalah seorang pejabat berpengaruh di Kyoto, tapi Sai paling pantang memanfaatkan kekuasaan kakeknya.
"Itu baru cucuku!" Danzo menepuk pundak Sai dengan bangga, "Aku menunggu kabar baik mengenai kelulusanmu Sai."
"Baik Kek!" Sai membungkuk sopan pada kakeknya.
Entah kenapa tiba-tiba pandangan pemuda itu mendadak menjadi kabur. Sai segera mencari asistennya, sepertinya pemuda itu perlu sedikit beristirahat.
"Haga ojiisan, aku mau istirahat dulu di belakang. Sepertinya aku kurang enak badan."
"Kau tampak pucat tuan muda! Sini, aku akan mengantarmu ke ruang peristirahatan." Tawarnya.
"Tidak usah ojiisan. Aku bisa sendiri."
"Kalau begitu pergilah. Aku akan mengantarkan obat dan bubur hangat ke sana sebentar lagi."
"Arigato ojiisan. Aku pergi dulu, tolong beritahukan apapun yang terjadi di pameran ini saat aku pulih nanti."
"Baik tuan muda."
...
Sai mendaratkan pantatnya di atas sofa lebar itu begitu ia sampai di restroom. Bukannya baikan, pemuda itu malah merasa pusing di kepalanya semakin menjadi-jadi. Sai meremas kepalanya dengan kuat,
"Arrgh, sakit sekali! Kenapa ini?"
Perlahan kesadaran pemuda itu menurun dan akhirnya ia pun pingsan.
Beberapa menit kemudian asisten Sai datang membawakan bubur dan obat. Asisten itu mendapati Sai sedang duduk di tengah sofa dengan kepala tertunduk ke bawah. Posisi yang aneh untuk tidur.
"Tuan muda... Tuan muda..." Haga mengguncang pundak Sai.
Pemuda itu membuka matanya perlahan, "Oh, Haga. sudah berapa lama aku tidur?" Sai memencet pelipisnya.
"Mungkin sekitar 15 menit tuan. Anu, tuan.. kenapa iris mata anda tiba-tiba jadi berwarna merah?"
Sai berjalan mendekati cermin besar yang menggantung di hadapannya untuk mengecek kedua matanya. Benar saja, manik mata hitam kelabunya entah kenapa bisa berubah menjadi merah berkilat. Dan saat ia melihat ke arah lain, pemuda itu bisa melihat orang-orang yang berlalu-lalang di luar kamarnya, seolah matanya dapat menembus dinding kamar itu dan sedang dalam mode infrared. Bahkan anehnya, Sai juga dapat melihat ke belakang punggungnya. Ia tidak melihat sosok asistennya disana. Mungkin Haga telah kembali ke pameran.
Iris merah berkilatnya menangkap sosok asing yang tiba-tiba muncul, seorang pria bermasker tengah duduk santai di sofa.
"Siapa kau? Dan darimana kau masuk?" Tanya Sai waspada.
"Shimura Sai, pemilik cincin kristal merah. Akhirnya aku menemukanmu." Jawab si rambut perak itu dengan santai.
"Aku tanya lagi, siapa kau? Dan apa maumu tuan?" Sai mundur selangkah menjauhi laki-laki asing itu.
"Ah, maafkan atas ketidaksopananku. Perkenalkan, namaku Hatake Kakashi. Aku adalah utusan langsung dari Tsunade-sama, pemimpin Konoha Academy." Jawab Kakashi sopan sambil memperkenalkan dirinya. "Kedatanganku kemari adalah ingin memberitahumu bahwa, kau adalah pewaris kekuatan dari cincin yang kau kenakan itu." Kakashi melirik jari manis kiri pemuda itu, "The Red Scarlet."
Sai mengangkat jarinya, "Apa ini? Kenapa benda ini bisa disini?" Pemuda itu mencoba melepaskan cincin itu, "Sialan! Kenapa tidak bisa dilepas?"
"Sabar.. sabar..." Kakashi tertawa sebentar, "Mungkin kau bisa duduk dulu. Aku akan menjelaskannya secara garis besar."
"Baiklah, kau berhutang penjelasan padaku."
"Jadi singkatnya, cincin yang kau pakai itu adalah cincin keramat yang membuat kau memiliki kekuatan visual seperti sekarang ini." Kakashi berhenti sebentar, "Mungkin kau bisa menormalkan kedua iris matamu itu, atau jangan-jangan kau sedang mengintipku?" Sambungnya geli.
"Ck! Maaf saja tuan, sayangnya aku masih normal. Lalu bagaimana caranya mengembalikan kedua iris mataku menjadi normal?"
"Kau hanya perlu memejamkan matamu dan fokus sambil membayangkan warna iris mata normalmu. Saat kau membuka mata, irismu akan kembali seperti semula."
Sai mencoba apa yang diarahkan laki-laki bermasker itu, dan benar matanya seketika kembali normal. Iris mata hitam kelabu tanpa pemandangan infrared sepanjang mata memandang. "Cincin ini tetap tidak bisa dilepas juga."
"Karena cincin itu telah memilihmu." Pria bermasker itu merogoh kantung jas bagian dalamnya, "Ini undangan resmi dari pemerintah Jepang yang diperantarai oleh kami, silakan kau baca dengan teliti."
Pemuda itu meneliti undangan yang diberikan Kakashi, Ada lambang resmi pemerintah Jepang di bagian depan amplop, sementara di belakangnya terdapat segel Konoha Academy. Sai membuka segel itu dan membaca surat didalamnya, "Aku diterima secara langsung di Konoha Academy karena cincin ini?"
"Tepat sekali! Kau tidak hanya sekedar memperoleh pendidikan formal secara gratis, tapi juga melatih diri mengendalikan kemampuan cicin itu dan menjalankan satu misi rahasia. Nanti akan aku jelaskan detailnya. Aku harap kau mau bekerja sama, ini demi kebaikanmu dan pemerintah Jepang."
"Baiklah, akan kulakukan." Jawab pemuda itu mantap lalu tersenyum.
"Eh, semudah itu?" Tanya Kakashi heran. Pria itu mengira Sai akan menolak tawarnnya yang tergolong tiba-tiba dan agak tidak masuk akal ini.
Sai mengangguk, "Tapi aku punya satu syarat."
"Apa itu?"
"Aku ingin tetap melukis, itu saja." Jawab Sai masih tersenyum pada Kakashi.
"Baiklah. Kau bisa membeli canvas dan cat lukis sebanyak yang kau mau dengan uang yang akan kami transfer ke rekeningmu. Bisa aku minta nomernya? Ini sebagai bentuk balas jasa kami atas ketersedianmu bergabung."
"Sudah."
"Baiklah, selesaikan dulu pamerannya, aku akan menjemputmu seusai pameran. Kita akan langsung menuju Tokyo malam ini juga."
Sai tersenyum lalu mengangguk pada Kakashi.
Setelah itu Kakashi tiba-tiba menghilang secara cepat Bagai angin. 'Kemana perginya laki-laki itu? Sudahlah... yang penting aku bisa tetap melukis. Sepertinya hidupku tidak akan membosankan lagi berkat cincin ini.'
"Tuan muda... tuan muda... ini saya bawakan obat tetes mata..." Haga menerobos masuk ke restroom dengan tergesa-gesa, "Loh, matanya sudah tidak sakit lagi?"
"Oh, haga. Aku hanya kelelahan tadi. Tapi terimakasih atas obat tetes matanya." Sai menyunggingkan senyum misterius.
"Te..tentusaja tuan." Jawab pria setengah baya itu heran, aneh saja tiba-tiba mata tuannya pulih secepat itu tanpa obat tetes mata.
...
Disisi lain, Kakashi yang sedang menunggu Sai sembari menikmati pameran seni yang digelar pemuda itu, Kakashi tengah asyik melihat-lihat berbagai lukisan karya Sai. Walaupun ia buta tentang seni tentusaja.
Alat komunikasi jarak jauh milik pria itu tiba-tiba berbunyi, "Kakashi.. laporan." Jawab seorang wanita di seberang sana.
"Hai, Tsunade-sama. Saya berhasil menemukan The Red Scarlet."
"Bagus, Anko telah mengurus The Yellow Sunshine, kau langsung saja cari The Pink Melody di daerah Shizuoka."
"Hai, Tsunade-sama."
Sambungan komunikasi jarak jauh itu terputus. Setelah mengantar Sai ke Tokyo, Kakashi akan langsung menuju Shizuoka untuk menemukan The Pink Melody, cincin bertahtakan kristal berwarna dusty pink.
.
.
.
TBC
.
.
.
Next Chapter : #Finding The Yellow Sunshine
.
.
.
A/N
JST : Japan Standard Time, waktu setempat di Jepang.
.
.
.
[BACOT AUTHOR]
Pasti banyak yang heran kan kenapa ini ff sekali update dikit banget? *gak nanya*
Yaudah hun jelasin yaa wkwkwk, untuk konsep ff ini hun bakalan bikin berseri panjaaaaaaaaang.. artinya, jumlah chapternya bakalan banyak dan sekali update gak lebih dari 2000 kata.
Kenapa hun pakai sistem ini? Pertama, hun gak tega bikin kalian nunggu ff ini lama-lama makanya begitu selesai satu babak bakalan langsung di-to be continue dan lanjut ke babak baru. Kedua, menuru hun, kalo pake sistem ini bakalan lebih bikin kalian makin penasaran sama kelanjutannya wkwkwk..
Hayooo tebak kira-kira siapa yang mucul di chap selanjutnya..
Last, thankyou for reading! Segala kekurangannya bisa disampaikan lewat review/dm and ENJOY!
.
.
.
[BALASAN REVIEW]
AngelDewi : Hello dewi-chan! Makasi udah leave review, salken yaa! Udah dilanjut loh ffnya. Enjoy!^_^)/
Pandaman23 : Hello panda-chan! Makasi udah leave review, salken yaa! Makasi loh wkwkwk padahal kayaknya ff ini masih ada kurang-kurangnya, jangan geregetan gitu dong :p , ffnya udah dilanjut loh. Enjoy!^_^)/
Nurulita as Lita-san : Hello lita-chan! Makasi udah leave review, salken yaa! Setiap pair pasti dapet porsi romance yang sama kok:) ff ini genre utamanya itu fatasy jadi lebih fokus sama penyelesaian konflik (romance sama humornya cuma ada sekilas aja) hehehe.. anyway chp selanjutnya udah update! Enjoy!^_^)/
TigerTGR LAJ : Hello tiger-san! Makasi udah leave review, salken yaa! Makasi loh, tapi aku masih belajar nulis ff nih wkwkwk.. anyway chp selanjutnya udah update! Enjoy!^_^)/
Uchiha Nuari : Hello Nuari-chan! Makasi udah leave review! Seneng deh liat namamu nongol di notif:* doakan saja semoga hun gak lack inspiration:' pasti dilanjut kok, semoga hun banyak dapet waktu nulis ya. Ah, enggak, aku masih belajar banyak ini... I'm always newbie dear hihihi:D anyway chp selanjutnya udah update! Enjoy!^_^)/
Thankyou to : Miss Divania Cherry, Silverberg Norn, and Nazliahaibara for fav+follow(ing)!
Sincirely,
Sherleenten
