Cherry Blossom, Good Bye...

Disclaimer : Fujimaki Tadoshi

Original Storie : Hitomi Matsu

Character : Akashi Seijurou x Kuroko Tetsuya

Warning : buat yang gak suka yaoi, matsu harap jangan lihat ya...^^ walau belom ada adegan M nya, tapi hati – hati ya...

.

.

.

.

Selamat Membaca

.

.

.

May 3, 2012

Suara pantulan bola terdengar, kuroko memantulkan bola, sedangkan akashi hanya memantau kuroko yang berada di tengah lapangan. Sudah seminggu lebih akashi melatih kuroko secara pribadi, bahkan dalam seminggu itu akashi menyadari akan hal sesuatu namun belum pasti. Lalu Membahas perkembangan kuroko, Tempo dan pergerakannya sudah jauh membaik dari yang sebelumnya. Berkat siapa? Tentu saja Tuan Akashi yang terhormat.

Tetapi sampai saat ini kuroko tetap saja tidak bisa menembak dengan akurat, diantara 10 lemparan hanya 2 bola saja yang bisa masuk. Akashi benar – benar memutar otaknya, memikirkan bagaimana kuroko bisa menembak, minimal targetnya 5 bola bisa masuk dalam sepuluh lemparan.

"akashi – kun." Panggil kuroko sambil ter engah – engah menghampiri akashi. Akashi menoleh ke sumber suara.

"ada apa?" tanya akashi.

"bisakah aku beristirahat sejenak? Aku belum beristirahat dari latihan resmi." Jelas kuroko. Memang benar, kuroko dan akashi langsung melanjutkan latihan setelah latihan resmi sudah selesai. Akashi mengangguk dan langsung mengambil air beserta handuk.

"baiklah." Jawab singkat akashi sambil menghampiri kuroko yang langsung ambruk. Kuroko merebahkan tubuhnya dan menatap langit gymnasium yang disinari cahaya lampu, mengambil nafasnya perlahan dengan tenang. Pandangan kuroko di tutupi bayangan akashi yang sudah ada di atas kepalanya bersama handuk dan air. Kuroko tersenyum.

"maaf ya...pasti akashi – kun kesal karena aku tak berkembang – kembang." Jelas kuroko sambil tersenyum.

"aku memang menyukai basket, tetapi tetap saja tak bisa memainkannya dengan baik. Aku memang tidak berbakat ya?" jelas kuroko di susul dengan tawa kecil. Akashi pun duduk tepat diatas kuroko. Set! mengangkat kepala kuroko dan memindahkannya ke pangkuannya. Hal itu membuat kuroko terkejut dan seketika wajahnya sedikit memerah.

"akashi – kun?" panggil kuroko. Puk! Puk! Akashi menepuk – nepuk pelan kepala kuroko, bisa di bilang dengan lembut.

"kau kan sudah berusaha. Jangan pernah pesimis seperti itu. aku tidak suka" jelas akashi sambil memejamkan matanya. Kuroko jadi tegang dalam pangkuan akashi. Ia tak bisa bergerak dan badannya merasa kaku. Tetapi secara bersamaan kuroko bisa merasakan kehangatan dan kenyaman akashi walau hanya lewat pangkuannya. Tanpa sadar kuroko menyentuh wajah akashi, akashi langsung membuka matanya perlahan.

"kuroko?" set! Kuroko langsung sadar dan menjauhkan tangannya yang tadi memegang pipi akashi.

"a..ah maaf! A..aku tak sadar dan -.." grep! Akashi menangkap tangan kuroko yang tadi berani menyentuh wajahnya, akashi menaruh tangan kuroko kembali ke pipinya. Merasakan kelembutan tangan kuroko lewat pipinya. Sedangkan kuroko hanya bersemu dengan perlakuan akashi.

"walau dia laki – laki, tangannya begitu kecil, dingin dan halus seperti tangan perempuan. Juga...walau dia laki – laki, kenapa aku memiliki perasaan suka padanya?" batin akashi sambil tersenyum menikmati tangan kuroko yang lebih dingin darinya.

Iya, akashi sadar jika perasaan yang ia rasakan waktu itu adalah perasaan suka. Bukan perasan suka sebagai teman melainkan rasanya seperti ingin memilikinya. Namun akashi ragu dan tak berani menganggap jika itu adalah perasaan suka seperti itu, mengingat mereka berdua adalah laki – laki.

"a..akashi – kun?" kuroko semakin gugup saat akashi mulai mengecup jarinya dengan intens. Jarinya di cium satu persatu, merasakan kelembutan bibir akashi.

"jarinya juga begitu lentik dan indah..." batin akashi sambil mengingat moment itu. moment apa? tentu saja saat akashi menyadari perasaan itu.

Flashback...

Kala itu, sehabis mengantarkan tugas murid – murid ke kantor, akashi berhenti sejenak di koridor yang sepi untuk melihat pemandangan bunga sakura yang mulai berguguran. Akashi membuka jendela itu dan melihat langit biru, menarik nafas dalam – dalam dan melepaskannya kembali seolah bisa menikmati angin itu.

Set...sebuah kelopak bunga sakura turun di permukaan tangannya, akashi menatap kelopak sakura itu. tetapi sayang, angin membawanya terbang kembali. Akashi mengejapkan mata beberapa kali, berharap jika pemandangannya kali ini adalah sebuah ilusi bukan kenyataan. Pemandangan ini terlalu iindah jika di bilang sebagai kenyataan.

Dibawah Bunga sakura yang berguguran...

Surai langit biru yang menawan...

Dengan tenang membaca novel ringan...

Akashi terpesona dengan pemandangan itu, untuk kedua kalinya. Pemandangan itu begitu mengingat pada mendiang ibunya. 'sangat persis...' itulah batin akashi, cara memegang bukunya, matanya, dan sikapnya, mengingatnya pada pemandangan indah itu.

Flashback end.

"a..akashi – kun apa yang -..!" set! Akashi menekan bibir kuroko kebawah dengan lembut, menghentikan kalimat kuroko. Akashi yang tersenyum saat membuat kuroko malu, Akashipun mendekatkan wajahnya. mengetahui apa yang akan dilakukan selanjutnya oleh akashi, kuroko dengan cepat mendorong pundaknya, tetapi tenaga kuroko lebih kecil di bandingkan akashi.

"tu...tunggu - ...akashi –... mmh!" cup! akashi mengecup pelan bibir kuroko tanpa izin kuroko sendiri. Kuroko menahan rasa malunya dengan memejamkan matanya, apalagi posisinya saat ini tak bisa bergerak bebas karena kepalanya sudah di kunci oleh badan akashi. Wajahnya sudah begitu memerah saat akashi mulai memasukkan lidahnya kedalam mulut kuroko, memberikan ransangan pada kuroko lewat sentuhan lembut tangannya di telinga sang uke.

Kuroko semakin lemas saat akashi mengajak lidahnya untuk berdansa, saling bertukar air saliva mereka berdua, merasakannya dan menelannya. Hal itu berlangsung lama, kuroko butuh oksigen, namun ciuman itu tak pernah di lepaskan oleh akashi, sampai – sampai air saliva mereka keluar dari sudut bibir mereka. Akashi melepaskan ciumannya, kuroko masih terpejam dan langsung mengambil nafas. Akashi membuka matanya, set! Tetapi matanya langsung ditutup oleh kuroko.

"ja..jangan lihat!" ucap kuroko bernada teriak namun pelan. Akashi menyingkirkan tangan itu, tapi matanya langsung ditutupi kembali oleh kedua tangan kuroko.

"kenapa?" akashi meraih kedua tangan kuroko dan menyingkirkannya. Akashi begitu terkejut dengan pemandangan yang begitu menggoda baginya. Wajah kuroko begitu memerah, juga mengeluarkan peluh – peluh keringat menambah kemanisan kuroko, dan mata kuroko yang mengeluarkan sedikit air mata juga mengisyarakatkan anak kucing yang sedang ketakutan karena ingin di terkam seekor singa.

"ja..jangan -..." kuroko langsung menutupi wajahnya dengan kedua tangannya sendiri. Begitu malu dan...terangsang? akashi tersenyum. Akashipun berpindah posisi dan langsung memeluk kuroko dalam posisi tiduran. Wajah dan tubuh mereka kini sudah bersatu arah.

"kenapa kuroko? Kau begitu manis dan sekarang aku tergoda untuk melahapmu..." bisik akashi dan langsung menggigit telinga kuroko. Kuroko mendesah, ia mencengkram pundak akashi dengan kuat saat akashi menjilat, mengigit dan mengeluarkan nafas di telinganya.

Bibir akashi berpindah ke leher kuroko, menjilat rasa keringat kuroko, lalu mengigitnya, menghisap setiap aroma kuroko yang benar – benar membuatnya tergoda. Kuroko menutup mulutnya. Untungnya akashi memeluknya dengan tangan yang tidak terkunci, ia bisa langsung menahan desahan nya dengan mulutnya.

Tetapi hal itu juga membuat akashi untung. Tangannya yang tadi bertugas untuk menggoda telinga kuroko, kini langsung masuk kedalam baju kuroko dan...

"ahhh!" kuroko mengeluarkan desahan yang paling besar di mulutnya saat akashi memainkan kedua putingnya. Mulut akashi masih tetap menjalankan tugasnya, kedua tangannya meraba puting dan punggung kuroko yang mulai berkeringat tambahan.

"a..ahh...hen..hentikan...A..akashi – kun... ha..agh..." kedua tangan kuroko sudah lemas karena perlakuan akashi. merasa jika kuroko sudah pasrah dengan perlakuannya, akashi semakin memanas.

"hen – mmpphh..." akashi kini mencium bibir kuroko kembali. Suara kecapan – kecapan yang dibuat oleh mereka berdua menggema seluruh ruangan. Erangan kuroko yang diredam oleh mulut akashi juga menghias malam itu. akashi melepaskan bibirnya dan langsung bangkit. Meraih kedua tangan kuroko dan langsung menariknya meninggalkan lapangan.

"a..akashi – kun..." panggil kuroko dengan lemah, namun akashi tak membiarkan kuroko untuk beristirahat sejenak dan tetap menariknya.

"tu..tunggu sebentar..." set! Cklek! Akashi membuak pintu untuk ruang ganti klub basket dan menguncinya kembali. Bruk! Kuroko di dorong oleh akashi sampai terjatuh dan punggungnya menabrak tembok.

"a..apa yang -... nghh!" akashi menciumnya kembali, membuat kuroko bungkam dan lemas kembali. Kuroko jadi tidak bisa berkata – kata. Akashipun tersenyum lembut pada kuroko.

"sebentar lagi penjaga gerbang akan berkeliling nanti, sedangkan aku sudah tak bisa menahannya lagi loh kuroko." Jelas akashi sambil mengusap pipi kuroko. Kuroko hanya gemetar ketakutan saat membayangkan apa yang akan akashi lakukan selanjutnya, sedangkan akashi hanya menikmati pemandangan yang ada didepannya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

To be continued?

Mind to reviews? Please Reviews ^^

P.S : Matsu berterimakasih dengan sarannya, tetapi masalahnya...eyd itu apa? dan juga yang cowo jadi peran cewe itu namanya UKE kan? Matsu memang sering nonton yaoi, tapi belum terlalu tahu arti apapun itu... (o,oa )

Mungkin kalo udah ada yang fujoshi tingkat dewa, tolong ajari matsu ya (^w^)...terimakasih

Thanks for Read, Following, Favorite and Reviews 'Cherry Blossom, Good bye..' (^ ^)