Summary : "Mata dibayar mata, kejam dibayar kejam, darah dibayar darah."

Disclaimer : One Piece © Eiichiro Oda

Warning: Part 2 ini sama abalnya dengan part 1-nya. Anchur, stress, gak jelas. Selain itu gak ada.

A/N : Kritik, saran, komentar silakan. Asal juga mikir perasaan orang lain. hehehehe.


Portgas D. Michi's Present:

"Love, Between Berreta and Shot Gun."

Story by: Portgas D. Michi/ 2011

One Piece © Eiichiro Oda

.

.

Robin's POV

Aku kembali menatap dua wajah yang tersenyum di dalam foto yang tak bisa bergerak itu. Aku tersenyum.

Kedua orang tuaku.

Wajah mereka yang hangat, namun tegas. Aku benar- benar rindu pada mereka. Walaupun sekali lagi,

Aku tak ada penyesalan.

Aku tak menyesal aku menjadi sebatang kara karena kepergian mereka dari dunia ini, aku belajar menjadi seorang yang kuat dan tidak bergantung pada yang lain. Aku tak menyesal kesepian seperti ini, karena dalam kesepian itu aku menemukan Nami juga Michi-san yang memiliki nasib yang tak jauh berbeda denganku.

Aku sudah mengerti, aku harus belajar untuk tak menyesali hidupku. Aku terus berusaha untuk jadi kuat, karena kematian kedua orang tuaku-lah, aku mau mencoba untuk menyentuh dan menggunakan berreta yang bahkan adalah kenangan masa laluku.

Dimana dengan berreta inilah, aku menyaksikan peristiwa ayahku yang membunuh dirinya sendiri dan ibuku yang 'kubunuh' dengan berreta ini.

.

.

General's POV

Pagi telah menjelang. Hari yang sebenarnya (tidak) ditunggu oleh kedua gadis yang memiliki 2 kepribadian itu datang.

Menjalani kembali masa SMA yang seharusnya tak perlu lagi dilakukan mereka. Tapi inilah tugas mereka. Tugas, harus dijalankan. Suka, tidak suka ataupun mau, tidak mau.

"Bangun, Nami. Kita nanti telat," Panggil Robin masih sembari menatap dirinya di pantulan cermin.

SMA.. Apa aku terlihat semuda itu? Batinnya dan menaikan kedua bahunya sendiri tanda tak peduli.

Nami membuka kedua matanya dengan perlahan, "memangnya hari ini ada apa?" Tanyanya masih tak sadar dan bingung dengan penampilan Robin, "kenapa kau.. pakai seragam anak SMA..?"

Robin tertawa kecil, "kau lupa ya? Kita mulai hari ini, menjalankan misi." Jawabnya dengan tenang.

Nami mengerutkan kening, "misi..— Wah! Iya! Aku lupa! Waduh! Harus mandi sebelum—" Ucapan Nami terhenti setelah mendengar bahwa pintu beranda terbuka lebar dan terpampang seorang wanita menatapnya sangar.

"Nami... Kau pikir kau bisa malas- malasan, hah?" Tanya ketua kelompok agen 25 mereka, Michi, dengan sangar, "mau kulaporkan pada atasan bahwa kau melalaikan tugasmu..?"

"Gyaa! Jangan! A, aku mandi dulu deh!" Teriak Nami histeris dan menyambar handuknya dan berlari menuju kamar mandi.

Robin dan Nami tinggal satu kamar. Bukan karena mereka rekan kerja atau apa, tapi karena kemauan mereka sendiri. Perlu dijelaskan, bahwa agen rahasia tidak perlu tinggal satu rumah atau satu lokasi, karena mereka malah akan mengundang kecurigaan yang besar.

Tidak siapapun yang boleh mengetahui hal itu, mereka adalah agen rahasia. Pihak sipil-pun dilarang, pemerintah-pun hanya tahu dokumen mereka, tentang siapa saja yang tergabung, dilarang keras.

Michi tertawa dengan laknat, perubahan yang dratis. Padahal kemarin dia baik.. "Robin, kau sudah tahu tentang target kali ini?" Tanyanya pada Robin yang sudah bersiap.

Robin mengangguk, "Roronoa Zoro, kelas 2-3 Jurusan IPS *A/N: Maaf kalau salah, soalnya saya belum masuk SMA.*," ucapnya dengan lancar.

"Ya, tapi dia berbeda dengan penjahat biasa." Ucap Michi dengan misterius, membuat Robin bingung.

"Maksudmu, Michi-san?" Tanyanya dengan keheranan yang cukup besar.

"Yaaahh.. Bagaimana yah, susah dijelaskan. Kau harus lakukan dari nol." Jawab Michi menyebalkan dan langsung keluar dari kamar mereka dari beranda.

Tunggu,

Dari beranda?

"Ah, Michi-san.. Ini kan.. lantai 20.." Peringat Robin pada Michi yang memang tadi datang dari beranda. "jangan loncat.."

Michi mengerutkan kening bingung, "hah? Loncat? Buat apa? Apartemen kita kan sebelahan," ucapnya dan nyengir dan meloncat ke beranda yang berjarak 4 meter dari beranda apartemen Robin dan Nami itu.

"Sejak kapan.." Ujar Robin sweatdroped.

"Sejak fiction ini dibikin," jawab Michi asal dan hilang dari beranda. *Author ngawur nomor satu*.

Robin menghela nafas, ia kembali menutup pintu geser beranda dan mengetuk kamar mandi, "Nami, sampai kapan mau bernyanyi di dalam? Kita nanti telat," ucapnya tenang, namun membuat yang diajak berbicara jadi panik. Menambahkan kepanikan oknum di dalam, "20 menit lagi."

Robin tertawa kecil dan kembali duduk di kursi.

.

.

Zoro's POV

Aku membuka mataku, aku berharap agar semua yang telah telah terjadi itu hanyalah mimpiku yang akan usai ketika dariku kembali ke alam sadar.

Tapi, ini bukanlah suatu mimpi.

Melainkan kenyataan yang buruk,

Aku sangat membenci kenyataan ini.

.

.

"Oi, Zoro,"

Seseorang memanggilku membuat mataku terpaksa terbuka, walaupun sebenarnya aku masih mengantuk dan ingin tidur. "Hmm?"

"Katanya ada anak baru kesini," ucap Usopp. Temanku, bukan hanya sekedar teman di sekolah dan kawan baik, tapi sekutu.

"Memangnya aku peduli," ucapku dengan santai. Aku teringat dengan tugas Usopp untuk menghabisi seseorang yang tahu akan keberadaanku disini, "sudah kau lakukan tugas itu, Usopp?" Tanyaku serius padanya. Jika ia lupa, akulah yang akan terancam.

"Sudah, beres." Jawabnya dengan enteng, "hanya menembak radius 30 meter bukan suatu masalah besar."

Aku tersenyum simpul. Walaupun Usopp adalah anak yang berisik dan sedikit menyebalkan (bagiku), ia adalah penembak yang jitu. Aku memerlukannya sebagai tangan kananku.

Aku adalah seorang pembunuh bayaran. Anak SMA dengan tangan yang sudah berdarah oleh darah ratusan, bukan,

Ribuan orang. Mungkin. Sayangnya aku tak pernah hitung orang yang kubunuh.

Jika seandainya 'kejadian' itu tidak terjadi, aku tidak akan jadi sekejam ini. Tidak akan jadi pembunuh bayaran yang seharusnya tak kulakukan.

Masa laluku-lah yang membuatku begini. Kebencian yang belum terbalaskan itulah yang membuatku menjadi sadis begini.

Masa laluku yang sejujurnya saja, tidak begitu indah, tetapi damai dengan kehadiran kedua orang tuaku yang walaupun jarang bersamaku, tetapi sangat menyayangiku lenyap karena seseorang yang memiliki kelompok yang sungguh kubenci.

Aku membenci 'sekelompok' yang katanya menjunjung nama 'keadilan'. Tapi apakah sebuah keadilan itu boleh dijadikan alasan untuk membunuh orang yang tak bersalah?

Sekolompok Agen Rahasia pemerintah.

Aku sangat membenci mereka, karena itulah, aku menjadi pembunuh bayaran yang identitasnya gelap, bersembunyi di bayang- bayang, yang nantinya pasti, cepat atau lambat, mereka akan menargetkanku dalam misi mereka.

Masih ada orang yang lebih kejam daripada aku, karena merekalah aku menjadi kejam.

Seakan mata dibayar mata, kejam dibayar kejam,

Darah dibayar darah.

Mereka membunuh, atas nama keadilan. Setidaknya itu kata mereka.

Tapi buatkan itu hanya omong kosong! Apanya yang keadilan? Kedua orang tuaku, mereka lenyapkan tanpa ada berita, dan dengan kejamnya menghapuskan keberadaan keluarga kami. Kejadian sial itu, kejadian yang paling kubenci. Aku kehilangan kakakku. Aku kehilangan semua keluargaku, aku jadi sebatang kara.

Bukan,

Mereka mengira aku mati. Mereka membakar rumahku sampai menjadi abu, melenyapkan semua keberadaan keluargaku, juga identitas orang tuaku yang juga..

Sesama agen rahasia!

"Kamu siapa?"

Aku bertanya kepada seseorang yang ada di ruang kerja ayah dan ibuku. Aku terheran karena orang itu mengacak- acak lemari dokumen orang tuaku, padahal aku dan kakakku sama sekali dilarang keras untuk masuk. Laki- laki itu sedikit terkejut lalu tersenyum.

"Aku teman ayahmu.." Jawabnya dengan wajah tertutup topi hitam.

"Kenapa ada disini? Papa dan Mama padahal melarang kami untuk memasuki ruang itu." Jawabku merendah karena merasa ditirikan. Dalam wajahnya yang tertutup itu, terlihat bibirnya tersenyum. Bukan senyum yang menenangkan, tapi menegangkan. Aku melihat sesuatu di tangannya dan menunjuknya, "itu pulpen papa-ku.."

"Oh, maaf." Laki- laki itu kemudian memberikan pulpen itu padaku.

"Papa belum pulang ya? Mama juga? Padahal aku menunggu mereka.." Jawabku bersedih dan memegang pulpen itu dengan erat.

"Kalau begitu, bagaimana kau menunggu mereka di ruang keluarga?" Usul laki- laki itu, mungkin entah tanpa kesadarannya mengangkat wajahnya. Membuat wajahnya terlihat olehku. Tapi aku tak peduli dengan itu, aku senang dengan idenya itu.

"Ya!"

Apanya yang menunggu.

Orang tuaku sudah pulang sedari tadi. Sudah dibunuh olehnya sedari tadi. Aku yang menunggu disana mendapati kalau rumahku terlahap api secara perlahan, mulai dari luar. Hingga akhirnya aku terkurung di lingkaran api.

Aku mungkin mati kalau saja kakakku tidak keluar dan membawaku pergi. Wajah mereka semua jadi terlupakan olehku saking traumanya. Akupun tak mau mengingat wajah kedua orang tuaku, kakakku, ataupun dia.

Tapi aku tak akan lupa semuanya terbayar, hutangku dengan nyawa kakakku, harus kubayar dengan nyawa. Aku yang bisa keluar dengan selamat ini punya hutang kepada mereka bertiga.

Mata dibayar mata, darah dibayar darah.

Nyawa dibayar nyawa.

"ZORO!"

Aku terkejut, lamunanku terbuyar dengan teriakan milik Usopp, "Apa? Kau membuatku kaget saja!" Bentakku kesal.

"Hei, kau yang melamun! Jangan menyalahkanku! Aku sudah memanggilmu sampai tiga kali!" Balas Usopp tak mau kalah. Pas dengan saat bel masuk berbunyi.

"Tak ada gunanya berdebat denganmu." Jawabku asal dan menghiraukan teriakan Usopp. Aku memandang dua orang yang masuk ke kelas. Anak baru yang diceritakan Usopp ya?

Kok rasanya wajah yang perempuan tinggi itu aku sepertinya pernah lihat?

"Anak- anak," Sensei mulai berbicara, sementara para laki- laki di kelas (kecuali aku, mungkin Usopp juga, entahlah.) mulai memasang wajah MuPeng. Menyebalkan. "Mereka berdua jadi teman sekelas kalian,"

"Namaku Nami." Ucap gadis yang berambut oranye.

"Namaku Nico Robin," Ucap gadis yang disebelahnya, yang kumaksud itu. Berambut raven, maksudku, hitam kebiruan.

Ah, untuk apa kupikirkan. Mungkin saja aku memang pernah bertemu di suatu tempat. Tak penting.

.

.

Robin's POV

Itu dia.

Target kami.

Seorang laki- laki yang duduk di belakang, kiri kelas. Yang berambut hijau dan menguap-nguap itu. Aku belum dapat intruksi pasti dari Michi-san, jadi aku setidaknnya akan melakukan pendekatan, ataupun mendapat informasi secara diam- diam.

Aku harus melakukan tugas ini dengan benar. Aku adalah seorang agen rahasia. Hidup penuh kepalsuan. Itu harus kubiasakan. Aku masih baru, tapi aku harus menjawab semua kepercayaan Michi-san padaku.

Aku tersenyum penuh arti dan misteri.

Lembaran baruku untuk beberapa waktu kedepan di mulai dari sekarang.


Pojok Review!

Michi : "Haaaahhh.. Selesai juga akhirnya! Senangnya!"

Ace : "Sudah, jangan banyak bacot! Balas review! Cepat!"

Michi : "Dih, siapa lo nyuruh- nyuruh saya?"

Ace : "Lakukan atau kau akan kubakar habis sampai tulang- tulang mu... *death glare*"

Michi : "Euh, Yes Sir!"

Ace : "Bagus. Sekarang kita mulai dari Sugar Princess71. 'wahhh ficnya keren banget senpai... tapi, pendek jadi bikin aku penasaran, hehe. salam kenal ya senpai, cepetan update... ^^.."

Michi : "Ah, terima kasih. Saya tersandung—"

Ace : "Tersanjung, baka! Dasar author gak berpendidikan!"

Michi : "We! Suka- suka gue! Mulut- mulut gue!"

Ace : "Mau kubakar?"

Michi : "Tidak.. Okeh, Sugar Princess71, terima kasih banyak! Salam kenal juga! Okeh, ini udah di update, memang dikit- dikit, tapi gak lama- lama kok!"

Ace : "Yosh, sekarang dari chichann. Hello Michi-san. /o/ Pertama, mau kasitau soal judul. Between itu 'e'nya dobel di belakang, bukan depan. Trus yang kutau senjata yang ada itu namanya Beretta,,, bukan Barreta. Coba search di google deh ;) Yah tapi idenya keren kok. Kayak agen rahasia gtgt.. Btw nama perusahaan agennya apa nih? Ayo update, penasaran :D Gomen kalo reviewnya kayaknya menggurui banget orz.. Iya lah, Chichann, nih author gak berpendidikan!"

Michi : "Sialan kau! Ehm, Chichann, terima kasih untuk ajarannya. Memang bener kok. Saya memang untuk tulisan nggak begitu peduli, soalnya saya memang agak sembrono. Jadi malu.. Padahal saya sekolahnya di Sekolah Swasta National Plus.. Memalukan.. Sekali lagi maaf. Saya memang kurang peduli dengan ejaan. Trus untuk nama senjata, memang saya salah. Saya minta maaf. Gomenasai."

Ace : "Lanjut, ke.. Dark Leg Sanji. Hah, maaf ya Michi, aku baru bisa review. Habis pulang dr kampus. Capek nih. Hehehe... Wow, akhirnya fic ZoRo km publish jg. Cepet bgt. Ceritanya menarik kok. Aku gak nyangka km bikin cerita ttg agen rahasia. Kirain cerita ttg anak sekolah kyk kebanyakan fic lain. Ck...ck...ck...Aku ...Aku tunggu kelanjutannya ya ^_^"

Michi : "Halo juga~~! Nggak apa, saya senang kok! Iya, agen rahasia yang nyamar di sekolahan! Begitu deh! Hehehehehe~ Idenya langsung terpkir aja. Jadilah fiction abal ini."

Ace : "Bagus. Ngaku. Lanjut ke, Portgas D. Natsume. AAAAAA, Syel! Keren banget ceritanya! Kenapa lo gak pernah bilang punya cerita begini! Eh? Temen lo, Michi?"

Michi : "Yoiyoi! Teman satu kelas, sahabatan. Wkwkwkwkwkwk. 97~~~ Keren? Masa sih? Wkwkwkwkwkwk~"

Ace : "Lanjut, ke roronoalolu youichi. kyaaaaaaaaaaaaaaa XD. michi-chaaaaaaaaaaaan! akhirnya! terima kasih sudah mau membuat ZoroRobin! yah, meskipun aku tahu Zoro tetap dipasangkan dengan Robin, bukan aku, yah, aku terima. aku kan orang baik! #plak#. oke. maafkan omongan ngelantur diatas! apdet! apdet! gak pake lama! *maksa*"

Michi : "Ya, sama-sama~. Sayangnya ini bukan one shot. Kalau OS, gak seru. Saya mau buat action- action gitu deh! Ya, saya maafkan. Karena saya baik."

Ace : "UHUK! HOOOEEEKKK~! Muntah darah dah gue.."

Michi : "Bacot, kau koboi! Sudah. Tutup fiction ini!"

Ace : "Ya, ya. Sampai jumpa di chapter berikutnyaaaaa~!"