Uh, sebenernya sempet males ngelanjutin karena susah banget bikin adegan lime LightL di sini. Gak tau kenapa. Tapi setelah bertapa selama seminggu baca ulang manga DeathNote dari 1-12 akhirnya dapet ide juga.*well, sejak kapan di manganya ada yaoi? (=_=")*
Disclaimer Tsugumi Ohba & Takeshi Obata
Pairing MelloMatt, LightL
Rated M buat jaga-jaga, karena lemon kadang muncul, kadang enggak. Tapi kali ini ada lime LightL XP
Genre Romance/Family/Drama
Yaoi, Mpreg, AU, di fanfic ini mungkin banyak fluffy scene. Jadi bagi anda yang suka adegan so sweet dianjurkan membaca! XP
XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
That Was NOT My Love Story!
Chapter 2
By: kurokame dataaaangg!! *ditendang*
XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
-
-
-
Dengan perlahan ia mendekati sosok pemuda bergoggle itu. Ia berharap semoga saja pemuda itu benar-benar tertidur sekarang. Ia tidak mau tindakan yang akan dilakukan setelah ini diketahui oleh Matt.
Cup.
Mello dengan penuh perasaan mengecup pipi putih Matt yang sama sekali tidak terusik itu. Sebelah tangannya menyingkirkan goggle Matt dengan sangat hati-hati.
Ia menaikkan selimut polkadot milik Matt hingga sebatas dada. Kemudian melempar jaketnya ke ranjang miliknya. Ia duduk di sana beberapa menit sambil memandangi wajah tidur Matt yang super imut. Tubuh jangkung dan ramping Matt membuat Mello menelan ludah. Apalagi baju bermotif zebra milik Matt yang tersingkap sampai ke perut.
Ugh, menggoda iman… pikir Mello. Tetapi aku harus tahan. Aku tidak boleh terburu-buru. Aku akan mengatakan pada Matt setelah masalah PSP nista itu selesai.
Mello kembali beranjak mendekati Matt dan memperbaiki aurat baju Matt, "Nghh…" ia tersentak saat telapak tangannya tanpa sengaja menyentuh kulit perut Matt yang mulus. Untung saja Matt hanya mengerang dan tidak sampai terbangun.
Mello menarik tangannya dan menyentuh dadanya sendiri. Jantungnya berdetak cepat sekali. Ia menggelengkan kepalanya, "Tidak, tidak, ini tidak benar." ucapnya gugup.
"Lebih baik aku mandi saja, sebentar lagi makan malam," Ia melirik jam digital di samping tempat tidur Matt. Kemudian berdiri, melepas kausnya, celana jeansnya, dan hanya menyisakan boxer berwarna coklat tua yang menutupi pinggang sampai pertengahan paha. Biasanya ia tidak berani bertelanjang dada seperti ini di depan Matt, tetapi berhubung yang bersangkutan sedang tidur, ia memutuskan untuk menghiraukan keberadaan pemuda itu.
Setelah menyambar handuk kuningnya di gantungan sebelah pintu kamar mandi, kaki jenjangnya melangkah memasuki kamar mandi dan menutup pintu itu tanpa suara gaduh. Ia menanggalkan pakaian terakhirnya dan mulai mengisi bathup dengan air hangat sampai tigaperempatnya. Jari-jari lentiknya dengan cekatan memilih sabun cair aromatertaphy dan menuangkan ke bathup tanpa takaran. Sambil mengaduk-aduk isi bathup supaya berbusa banyak, ia mengambil coklat di salah satu lemari yang berjejer di kamar mandi itu dan membuka bungkus emasnya. Merasa busanya sudah cukup banyak, ia memasukkan kaki kirinya perlahan, disusul dengan sang kaki kanan. Ia menggigit coklatnya kemudian menahan tubuh dengan kedua tangannya sampai seluruh tubuhnya terendam.
Ia diam dan terus saja menggigit coklat yang ada di tangannya tanpa henti. Suara kunyahan terus saja menggema di kamar mandi yang lumayan besar itu. Berhenti sebentar, hening.
BRAAKK!!
Mello dengan tanpa perasaan melempar coklat itu ke arah rak kosmetik, membuat sang coklat terpaksa harus berenang bebas di kloset. Terang saja, rak itu menggantung di dinding di bagian atas kloset duduk itu. Terkadang kalau emosinya sedang tinggi seperti ini, ia sanggup menghancurkan kursi perpustakaan dengan sebelah tangan. Mello melotot. Tidak menyangka lemparannya berujung maut.
"Waw, goal yang indah…" ujar Mello berbinar-binar. Ia bangkit dan berjalan semangat menuju kloset duduk. Ia melongok ke dalam kloset tersebut, "Hah? Coklatnya hilang. Kenapa bisa?"
Mello garuk-garuk kepala, bingung.
"Ah, paling juga sudah tersedot." Mello hendak kembali ke bathup saat mendengar suara 'klik' pelan yang berasal dari pintu. Ia langsung menolehkan kepalanya ke pintu, dan betapa kagetnya ia melihat Matt mematung di depan pintu dengan mulut terbuka. Saking terkejutnya, mungkin.
"Whuaaaa!! Maaf! Aku tidak tahu ada orang di dalam! Maaf!!"
Brak!
Mello bengong menatap pintu di depannya, tepatnya pintu yang barusan dibanting oleh Matt. Beberapa detik kemudian…
"Whaaa!! Maatttt!! Awas kau!" Mello berteriak-teriak kesetanan sambil menutupi bagian bawah tubuhnya yang polos. Padahal Matt sudah menutup pintu itu sejak tadi, nah Mello baru menutup bagian bawah tubuhnya sekarang. Alhasil, tidak ada pengaruh sama sekali.
"Maaf! Maaf! Aku pikir ada apa-apa di kamar mandi karena mendengar suara berisik, jadi aku ingin melihatnya! Aku benar-benar tidak tahu ada Mello di dalam!!" Matt berteriak-teriak panik dari balik pintu.
"Aargh!! Maattt!!" teriakan miris Mello masih terus menggema di kamar mandi. Harga dirinya jatuh sudah. Ia tidak menyangka orang yang selama ini dicintainya lah yang pertama kali melihat tubuh polosnya. Tetapi entah kenapa jauh di lubuk hatinya muncul perasaan senang. Ia bersyukur yang melihat tubuhnya adalah Matt, bukan orang lain.
"Sialan! Akan ku balas kau!!" Oke. Terkadang cinta itu lain di mulut, lain di hati.
Oh tidak… Ia sudah melihat semuanya… tubuh seksi dan indahku… matilah aku…, batin Mello desperet.
***
"L…" panggil Light.
"Hm?" tanggap L pendek. Mulutnya sibuk mengunyah coffee muffin. Tangan kanannya menyusun balok gula. Dan tangan kirinya memegang sendok yang berlumuran ice cream vanilla.
"L…"
"Hm?"
"L, kalau kau tidak berhenti mengunyah sedetik saja, kau benar-benar akan ku makan." ancam Light yang sudah mulai habis kesabaran. Matanya menatap dingin makanan-makanan manis yang bertebaran di meja.
"…" L menoleh dan menghentikan kunyahannya. Kedua pipinya menggembung karena terisi penuh oleh coffee muffin. Ia menatap mata Light selama beberapa detik, kemudian melanjutkan kunyahannya dan menyusun balok-balok lagi.
"L, aku sudah memperingatkanmu." kata Light gemas. Terdengar sekali dari suaranya yang dibuat-buat.
"Kenapa? Aku 'kan sudah berhenti mengunyah tadi. Lima detik malah." ujar L polos.
"L-chan…"
"Light-kun…"
"L-chan…"
"Light-kun…"
Light sudah tidak bisa menahan dirinya lagi. Didorongnya pemuda pucat itu hingga tubuhnya menindih tubuh L. Light menatap mata L dalam, "Sekarang kau masih mau makan?"
L balas menatap mata Light dan berusaha menelan sisa makanan yang masih ada di mulutnya. Hal ini membuat Light semakin bergairah karena jakun L yang bergerak turun. L sedikit memejamkan mata karena tenggorokannya yang sedikit terasa sakit, menelan makanan bulat-bulat jarang dilakukannya kecuali kalau ia benar-benar lapar.
"Light-kun…" L menjilat remah muffin yang ada di sudut kiri bibirnya, "kalau kau sampai melakukan sesuatu padaku, aku jamin kau tidak akan bisa kembali ke Jepang dengan anggota badan yang utuh." ancamnya dengan suara datar.
Light menyeringai senang, "Coba saja," ia menjilat sisa ice cream yang bertengger di sudut kanan bibir kekasihnya, "aku yakin kau juga menginginkannya. Mengingat semalam kau sama sekali tidak menikmati karena lelah bekerja."
"Maka dari itu aku minta Light-kun untuk tidak melakukannya dulu." L terus membela diri, "aku masih lelah, kau tahu itu."
"Oh yeah? Aku sama sekali tidak tahu, tuh. Yang aku tahu kau masih sempat-sempatnya mengerjai dua bocah itu sementara kau sendiri mengaku sedang lelah." desak Light dengan senyum kemenangan tersungging di bibirnya.
"Mengerjai dua anak itu sama sekali tidak membutuhkan otot, kau hanya membutuhkan otak." masih tidak mau kalah, L mencoba menendang perut kekasihnya dengan kemampuan capoera-nya. Tetapi rupanya Light cepat tanggap, ia sudah biasa menghadapi jurus maut L. Dengan sigap ia memisahkan dua kaki L dan menaruh lutut kanannya di selangkangan L.
"Curang." komentarnya pendek.
"Kau tidak bisa kemana-mana lagi, L-chan…" Light mendekatkan bibirnya ke leher L saat kepalan tangan L terasa mendekati pipi kirinya. Ia segera menangkap tangan L dengan sebelah tangannya dan menahan dua tangan L di atas kepala, "Checkmate…"
"Ugh." L mendesah kesal.
"Kau harus mengakui kekalahanmu secara bertanggung jawab. Biarkan aku menyentuhmu sekali ini saja." kata Light setengah berbisik. Lidahnya menelusuri tulang selangka kekasihnya itu. L tidak bisa menjawab karena ia sudah mati gaya. Apapun yang akan ia lakukan hanya semakin merendahkan harga diri. Tetapi apalah artinya harga diri kalau yang melakukannya adalah kekasihnya sendiri.
"Nghh…" L mendesah tertahan saat Light menghisap pelan jakunnya, "Light-kun… stop…"
"No way," Light menjilat perpotongan pundak L kemudian menggigitnya kecil. L memekik kecil merasakan titik tersensitif di lehernya diperlakukan seperti itu.
"Ah!" L mengatur nafasnya, "Kau tahu… aku tidak suka kalau bagian itu dipermainkan, Light-kun…"
"Jadi kau mau aku memainkan bagian lain? Okay…" Light memasukkan telapak tangan kirinya ke dalam kaus putih L dan membelai kulit perut L lembut. Matanya tak lepas dari wajah L yang selalu membuatnya teringat akan beruang imut asal Cina, panda. Ia tersenyum melihat L memejamkan matanya erat-erat, salah satu tanda kalau L mulai menikmati belaian tangannya. Ia tahu kebiasaan-kebiasaan L yang sama sekali tidak berubah sejak dulu. L selalu memejamkan mata untuk menahan erangan dan desahan.
"Light-kun… mmhh… berhenti…" L mulai panik saat kekasihnya mulai meraba-raba dadanya dan mempermainkan titik kecil itu. Cubitan yang tidak begitu menyakitkan di titik itu membuatnya terlonjak, tetapi ia sama sekali tidak bisa bergerak karena tubuh Light mengunci tubuhnya. Itu belum termasuk bibir Light yang kini menelusuri bebas leher putih pucatnya.
"Berhenti?" Light sempat menanggapi L di sela-sela kegiatan jilat-menjilatnya, "aku tidak yakin kau mengiginkannya." Light membawa bibirnya ke bibir L yang sedikit terbuka karna terus-terusan mengeluarkan desahan. Lidahnya menerobos tanpa izin menelusuri mulut manis kekasihnya. Mata coklatnya menatap lurus ke bola mata hitam L yang setengah terpejam. Ia menikmati ketidakberdayaan L dalam membalas ciumannya. Suara kecipak yang berasal dari dua lidah dan bibir yang beradu menaikkan suhu ruangan itu dalam sekejap.
"Unn…" L mengerang saat Light menyingkap kausnya hingga ke dada. Ia bergidik merasakan hawa dingin yang menyerang kulit perutnya tiba-tiba. Sebelah tangan Light yang tadinya menahan tangan L di atas kepala mulai menekan punggung L erat hingga tubuh mereka makin merapat. L merona merah merasakan sesuatu yang menegang di selangkangannya.
"Sepertinya yang di bawah berkata lain, L-chan…" goda Light sambil menggesek-gesekkan selangkangannya ke selangkangan L. L memejamkan matanya menahan gejolak kenikmatan yang sedari tadi menggerogotinya. Kalau mau jujur, ia menikmati semua yang diberikan Light padanya. Harga diri yang tinggi membuat L bisa menjadi orang paling munafik dalam sekejap. Ia tahu ia tidak bisa berbohong kepada Light yang sudah mengenal dirinya luar dan dalam.
"Mmh…" L berjengit saat tangan Light mulai meremas bokongnya lembut.
"Mau dilanjutkan ke tahap yang lebih panas?"
"…" L tidak menjawab. Ia sudah pasrah total. Light sukses membuat dirinya ikut merasakan gejolak nafsu yang ada. Tanpa ia sadari, tangan pucatnya terulur dan menarik kepala Light agar mendekat dengan wajahnya. Sesi ciuman panas pun dimulai kembali.
***
"Maaf, Mels! Aku tidak sengaja! Harus ku bilang berapa kali sih?" kali ini Matt sedang sibuk-sibuknya meyakinkan Mello. Paru-paru dan jantungnya seakan sedang lomba marathon. Ia bersandar di pintu kamar mandi dengan wajah merah menyala. Keringat dingin mengalir dari pelipis ke dagunya.
"Aku tidak peduli! Kau akan membayarnya suatu saat nanti, Matt!!" terdengar teriakan Mello dari dalam.
Matt makin keringat dingin. Ia tahu dengan jelas seperti apa Mello kalau sedang marah. Apalagi ia sudah melakukan dua kesalahan sekaligus pada Mello. Pertama, menuduh Mello kalau dia yang merusak PSP miliknya. Kedua, melihat tubuh polos Mello tanpa sehelai benangpun. Ia sudah dapat mencium bau-bau rumah sakit sekarang.
"Huwaaa!!" Matt segera berlari keluar kamar dan membanting pintu keras. Sekarang baginya, hanya ada satu tempat aman di Wammy's House. Ruang pribadi L. Ia tidak mau memikirkan pembicaraan apa yang dilakukannya dengan L tadi. Yang penting sekarang adalah keselamatan jiwanya.
***
"L-Light-kun…" L kembali mendesah saat Light menggigit leher bagian kirinya. Ia mendongakkan kepalanya merasakan bibir basah kekasihnya yang bermain-main di sana.
"Apa?"
"Jangan sekarang, please. Aku merasa ada seseorang mendekat," ujar L sembari mengatur nafasnya. Aktifitas Light terhenti karena perkataan L barusan, tetapi kemudian ia tersenyum dan melanjutkan apa yang sempat tertunda.
"Jangan mencoba mengelak, L-chan… Mungkin perasaanmu saja," ujar Light santai.
L terdiam sebentar, "Ya, mudah-mudahan begitu." L kembali pasrah saat lidah Light turun ke arah dadanya dan menetap di sana. Menelusuri dada putih pucatnya dan mengklaim titik di sana sebagai miliknya. Erangan dan desahan keluar begitu indah bagai alunan musik dari piano klasik. Setidaknya itulah yang ada di pikiran Light, suara L selalu dapat membutakan akal sehatnya.
***
Tok-tok-tok!
Brak!!
"Whuaa!! L, tolong aku!! Mello! Mel…" Matt memutus kata-katanya melihat pemandangan di depannya. Pemandangan yang sama sekali tidak pantas dilihat oleh anak polos dan berhati suci seperti dirinya. Dua orang laki-laki yang saling tindih dengan tangan yang menjalar masuk ke bagian-bagian 'bahaya'. Baju tersingkap di mana-mana, celana sang pria yang ditindih melorot hingga pertengahan paha. Sungguh, kalau saja ia tidak dibekali pengalaman melihat tubuh polos Mello barusan, mungkin ia akan pingsan saat itu juga.
Light bengong menatap pemuda berambut merah yang berdiri di pintu masuk ruang itu. Begitu juga L, ia sudah tidak bisa berkata apa-apa semenjak tadi. Semua yang terjadi sudah ia pasrahkan pada Tuhan Yang Maha Kuasa. Kalaupun ia harus mati sekarang ia rela. Sangat rela. Daripada ke-gep secara tidak hormat oleh pemuda 15 tahun yang sudah dianggapnya sebagai adik sendiri itu.
"Eh, Matt-kun," Light dengan sigap bangkit dari tubuh L dan membantu L membereskan pakaiannya yang acak-acakan. L dengan wajah kaget dan mata membulat karena syok bangun secara perlahan dan memasang posisi duduk kebanggaannya. Pemuda berambut coklat di sampingnya hanya bisa menepuk jidat melihat resleting celana L yang terbuka seluruhnya. Ia memandangi pemuda yang barusan memergoki kegiatan bejatnya sambil senyum-senyum yang sangat tidak jelas apa maksudnya, padahal ia bermaksud mengalihkan perhatian sementara tangan kanannya dengan perlahan menarik resleting celana L ke atas. Ia menghela nafas lega saat misinya sudah terselesaikan.
"Ada apa lagi, Matt-kun?" tanya L datar. Wajah santainya hanya topeng, padahal dalam hati harga dirinya meronta-ronta.
"Kalian… a-apa yang kalian lakukan barusan?" tanya Matt balik. Beda dengan L, Matt sama sekali tidak bisa menyembunyikan keringat dingin yang muncul di pelipisnya. Tangannya yang gemetaran dan suaranya yang terbata sangat jelas di mata dan telinga dua pemuda yang memandanginya dengan ekspresi 'Mati aku' itu.
"Oh, tidak kok! Itu… ano, tadi L hampir terjatuh dari sofa, jadi aku membantunya. Tetapi malah aku ikutan terjatuh dan menindih tubuhnya. Hehehe…" jelas Light panjang lebar sembari menggaruk belakang kepalanya. L menghela nafas dan mendelik pasrah mendengar penjelasan kekasihnya yang sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan pribadi orang jenius.
"Itu… yang di lehermu, L. Kenapa banyak sekali merah-merah?" tanya Matt lagi. Kali ini dengan nada polos. Membuat Light ingin menjitak pemuda di depannya ini supaya tidak banyak bicara.
"Ini karena digigit nyamuk." Jawab L santai.
"O-oh…" kali ini Matt berusaha menutupi kekagetannya dengan berjalan santai ke arah sofa yang berhadapan dengan L dan duduk di sana. Ia tidak terlalu bodoh untuk mengetahui apa yang dilakukan dua lelaki dewasa di depannya tadi. Dari posisi mereka yang mencurigakan pun ia bisa dengan mudah menebak kalau mereka sedang dalam tahap foreplay dari kegiatan intim mereka.
"Ada apa lagi, Matt-kun?" ulang L.
"Aku… mau minta perlindunganmu, L. Tadi… tadi…"
"Tadi kenapa?" kali ini Light yang bertanya. Ia bingung mendapati wajah Matt yang tiba-tiba saja memerah.
"Itu… ta-tadi waktu aku tidur, aku mendengar suara berisik dari arah kamar mandi. Karena penasaran, aku buka saja. Ternyata… ternyata…"
"Afha hanfhu?" tanya L dengan mulut penuh strawberry shortcake. Matt mengernyit bingung.
Light mendelik, "Ada hantu?" translatenya.
"Eh? Bukan! Ano… ak-aku… aku… tapi aku berani sumpah aku tidak tahu apa-apa! Aku kira tidak ada orang di dalam! Sumpah!" kata Matt polos sambil mengacungkan dua jarinya di samping telinga.
Light dan L bertatapan, "Hah?" ujar mereka bersamaan.
Matt memejamkan mata dan menguatkan hatinya, "Ada Mello di dalam! Dan parahnya lagi, dia telanjang! Gyaaa!!" dia menutup wajah dengan kedua tangannya, "aku takut dia akan membunuhku karena hal itu..."
L menelan kuenya, "Hanya itu?"
"Apa maksudmu dengan 'hanya itu'?! Dia akan membunuhku! Apalagi ditambah masalah yang sebelumnya, dia pasti akan mencincang tubuhku dan membuangnya ke laut!" teriak Matt sambil bergidik ngeri.
"Uhm… Matt, aku rasa kau terlalu berlebihan," ujar Light sambil tersenyum memaksa.
"Iya. Kau terlalu berlebihan, Matt-kun. Dia tidak akan melakukannya. Lagipula, kalian 'kan laki-laki, masa melihat tubuh sesama jenis saja takut?" kata L santai.
'Itu sih, karena kalian saja yang tidak normal!' teriak Matt dalam hati.
"Aku juga sudah biasa melihat tubuh telanjang L setiap malam," ucap Light dengan wajah tanpa dosa.
BUGH!
L menarik kakinya dari perut Light, "Jaga bicaramu, Light-kun. Ada anak-anak,"
"I… iya."
"Maaattttt!!!!!!!!"
"Aahh!!! Mati aku!" seru Matt keras.
"Hehe, si pirang galak datang. Hati-hati ya, Matt-kun," ujar L sembari menepuk kepala Matt pelan dan melanjutkan makannya.
…………….
-
-
-
To Be Continued…
XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
Bused dah lama amat saya apdet ni fic…
Ya sudah, saya nungguin review deh. Sekarang fandom deathnote sepi ya? *Lha kok malah curhat*
Review XD
