The Buron

Disclaimer Masashi Kishimoto

By Deera Dragoneela

.


.0.

WARNING!

(Cerita GJ, g sesuai EYD, OOC, Gender Switch, banyak typo dE-eL-eL)

.0.


.

Flashback three years ago…

Setelah tertidur selama satu jam, Naruto terbangun dengan mata bengkak bekas menangis. Mendudukkan dirinya di atas kasur, gadis itu menatap sekeliling kamarnya dengan sendu.

Tidak bisa, dia tidak bisa bertahan lebih lama lagi di rumah ini. Terlalu menyakitkan. Dirinya sudah tidak kuat. Tak ada jalan lain selain pergi, jika ingin menjaga kewarasannya tetap utuh dan tidak membawa kemalangan bagi keluarga ini. Dia tidak bisa membiarkan keluarganya malu hanya karena kegilaannya yang diakibatkan depresi berkepanjangan. Tidak, dia tidak bisa dan tidak boleh.

Beranjak menuju kamar mandi, gadis itu pun membersihkan diri. Berharap air dapat membantu pikirannya lebih jernih. Menenangkan hatinya dan membantunya mencari jalan keluar yang terbaik.

Tidak sampai setengah jam, gadis itu pun keluar dari kamar mandi dengan berbalutkan jubah handuk. Berjalan menuju lemari besar pakaiannya, gadis itu menatap satu persatu tumpukan baju dihadapannya. Ada banyak baju yang dibelikan oleh keluarganya –orang suruhan kedua orang tuanya- dan semua itu sama sekali bukan seleranya.

Ditumpukan paling bawah, gadis itu mengambil kaos berlengan pendek berwarna putih bertuliskan 'Freedom', gadis itu pun segera memakainya. Berikut celana jeans panjang berwarna hitam. Juga sebuah jaket kulit yang berada pada tumpukan paling bawah, yang tak pernah disentuhnya sejak bertahun-tahun. Hadiah ulang tahun dari kakeknya –Hashirama- sebelum meninggal bertahun silam. Satu-satunya keluarga yang masih memperhatikannya, yang sayangnya kini telah tiada.

Begitu selesai berpakaian, gadis itu kembali membuka pintu lemari di sisi kanan ranjang tidurnya. Lemari yang berisikan tas, perhiasan, juga perlengkapan lain yang dulunya biasa dia gunakan pada masa sekolah menengah atas.

"Sudah lama sekali…" Bisiknya melihat sebuah ransel berwarna hijau navy. Ransel yang sama dengan milik gadis lain, yang menghilang bertahun silam. Air matanya terasa menumpuk di pelupuk matanya, membuat gadis itu segera menggeleng dan mengambil tas itu keluar dari dalam lemari.

Tatapan gadis itu kembali terpaku pada laci di tengah lemari, yang hanya sesekali dirinya buka. Laci yang berisikan rahasianya, tempat kerja kerasnya selama ini yang tidak diketahui oleh keluarganya. Laci tempat tabungannya. Hasil kerja kerasnya sebagai penulis novel dengan penname Shine, penulis artikel lepas mengenai seni dan proofreader freelance. Naruto memiliki kemampuan musik klasik dan sedikit modern. Gadis itu mampu memainkan gitar dan piano yang digelutinya untuk mengalihkan kesedihannya. Melepaskan luka-luka hatinya.

Dengan perlahan dibukanya laci itu dengan kunci yang selalu dibawanya, yang dijadikannya bandul kalungnya. Begitu terbuka, dibelainya buku tabungan itu. Entah apa yang dulu dipikirkannya, kala membuat buku tabungan itu dengan nama temannya. Bahkan meminta bantuan tanda tangan pada temannya yang –sangat aneh karena suka menghabiskan waktunya untuk menyelidiki daerah-daerah baru untuk tempat singgahnya nanti jika bisa mewujudkan impiannya- namun dipercayainya. Amaru Sora. Gadis kaya yang sama sepertinya, dan lebih dulu memilih pergi meninggalkan rumahnya karena –ehm- well, dipaksa dijodohkan dengan orang yang tidak diinginkannya. Mereka bersahabat, karena memiliki mimpi yang sama. Berkeliling dunia. Kebebasan dari segala aturan yang menyesakkan. Mencari kebahagiaan yang tak pernah mereka dapatkan selama ini karena keluarganya yang sibuk dan mengacuhkan mereka.

"Sepertinya, aku akan segera menyusulmu… Amaru-chan" Bisiknya dengan senyuman. Ah, sudah setahun dia tak bertemu gadis itu. Rasanya Naruto rindu mendengar setiap celotehannya mengenai tempat mana saja yang akan dikunjunginya nanti. Mungkin, sekarang gadis itu sudah mengunjungi tempat-tempat itu. Dan pikiran itu membuat senyumnya semakin merekah.

Aku akan segera menyusulmu, teman – bisik hatinya mantap.

Sudah saatnya dia meninggalkan tempat menyakitkan ini. Toh, tak ada bedanya dia ada atau tidak. Keluarga ini tak akan kehilangan dirinya. Dia yakin itu.

Karenanya, dengan mantap diambilnya buku tabungan itu, juga sebuah phonsel yang jarang digunakannya. Bukan karena jeleknya, namun karena phonsel itu hanya digunakannya untuk urusan pekerjaannya. Memang tak sebagus pemberian orang tuanya, miliknya yang dibeli dengan uang orang tuanya. Namun phonsel itu murni hasil jerih payahnya.

Memasukkannya kedalam ransel bersama buku tabungannya, tatapan Naruto kembali terpaku pada sebuah kardus tempat sebuah benda persegi panjang yang menjadi bonus hasil dari novelnya yang laris dipasaran. Sebuah laptop, yang baru dipakainya sekali, sebelum disembunyikan karena takut ketahuan kakaknya yang kala itu tiba-tiba masuk kamarnya untuk menyuruhnya mengikuti pesta keluarganya. Pesta yang justru membuatnya semakin merasa tersisih, terlupakan.

Mungkin sebaiknya aku membawa barang-barang yang tidak mereka ketahui, agar mereka tak bisa menemukanku – batinnya mantap sambil segera memasukkan barang-barang yang sekiranya tidak diketahui orang sebagai miliknya. Sebagai milik putri bungsu Namikaze yang terkenal dengan image manja.

Begitu selesai, Naruto meletakkan phonsel dan dompet beserta semua isinya berikut kartu identitas dan kartu debit, kredit dkk yang jarang dipakainya diatas meja belajarnya. Toh, dia tak lagi memerlukannya. Dia ingin pergi meninggalkan rumah ini, dan tak ingin ditemukan. Dan begitu kakinya melangkah keluar dari rumah ini, dia dengan mantap keluar dari keluarga Namikaze. Dia bukan lagi bagian dari mereka. Dia bukan lagi Naruto, putri keluarga kaya yang manja.

Flashback off….


.0.


Naruna turun dari panggung setelah membawakan 5 buah lagu klasik dan modern yang berhasil membuat pengunjung senang. Bahkan Gaara –manajer café itu- memilih duduk menemaninya di meja begitu Matsuri selesai menghidangkan pesanan gadis itu.

"Jadi, kau hanya kemari untuk mencari inspirasi?" Tanya pria itu begitu Naruna duduk dihadapannya dan mulai menyalakan laptopnya yang tadi sempat dimatikan begitu mendapat ijin manggung(?).

"Huum" Naruna mengangguk membenarkan. Tak menyadari tatapan tertarik Gaara akan sesuatu padanya.

"Kau bilang kau pemula, tapi permainanmu tadi tak seperti seorang pemula" Ulang pria itu mengomentari permainannya. Membuat Naruna tertawa kecil.

"Aku memang masih pemula kok" Kembali Naruna menjawab dengan jawaban yang sama.

"Jangan berbohong padaku" Ujar Gaara sambil bersidekap. Merasa dibohongi.

"Serius, Sabaku-san" Balas Naruna santai.

"Gaara saja" Potong pria itu cepat, sangat tidak biasa. Padahal, biasanya pria itu sangat pemilih dan anti bersikap ramah-tamah pada orang yang baru dikenalnya. Tapi pada Naruna? Pria itu seperti merasa nyaman. Seolah berjumpa kawan lama.

"Oke. Aku tidak berbohong padamu jika aku seorang pemula, Gaara. Karena aku memang hanya pernah belajar dan berlatih dengan temanku sebentar." Naruna menatap pria itu lembut. Seolah-olah Gaara adalah sahabat lamanya. Baginya, menjalin persahabatan dengan banyak orang sangatlah menyenangkan.

"Aku tidak pernah mengikuti kursus, dan sudah lama aku tidak memainkannya. Jadi… yah" Naruna mengangkat bahu. "Kuanggap aku pemula. Bukan begitu?" Tanyanya tanpa menatap Gaara.

Pria itu menatap Naruna dengan kening berkerut, memastikan tak ada kebohongan dari kata-kata gadis dihadapannya.

"Baiklah" Ujarnya setelah merasa itu bukan urusannya. Lagi pula, ada apa sih dengan dirinya? Tumben-tumbenan dirinya bisa sok akrab dengan orang asing yang bahkan belum ada setengah hari dikenalnya. Bahkan bisa merasa nyaman, seolah mereka sudah lama saling mengenal?

Naruna mulai membuka file ms.word-nya, menampakkan lembar kerja sebagian novel terbarunya. Sambil menunggu loading, gadis itu pun mengambil cappuccino-nya dan menyesapnya pelan.

Ah, sempurna. Rasanya sama seperti cappuccino yang biasa dinikmatinya di London.


.0.


"Ah, kau tadi bilang hanya 7 hari berada disini. Kenapa?" Gaara bertanya setelah keheningan diantara mereka.

Pria itu akhirnya meminta Matsuri untuk membawakannya secangkir espresso untuk menemaninya mengerjakan pekerajaannya. Karena tidak mungkin mengajak Naruna yang sedang menulis mengobrol terus menerus. Pria itu pun akhirnya mengambil laptopnya dan beberapa berkas yang harus dikerjakannya hari itu. Suasananya berbeda, ketika mengerjakan tugas sendiri diruangannya yang sepi –meski dia menyukai kesunyian- dengan ditemani seseorang di meja café.

"Hm?" Naruna mendongak menatap Gaara dari balik kacamatanya. "Ah, tidak apa-apa. Aku jarang menetap di satu kota lebih dari seminggu. Yah, begitulah" Mengedikkan bahunya gadis itu kembali menulis.

Kening Gaara mengernyit. Jarang menetap lebih dari seminggu? Berarti, gadis itu sudah mengunjungi banyak kota?

"Apa kau sedang menjelajah? Berkeliling dunia, mungkin?" Dan pertanyaan Gaara membuat kedua jemari Naruna berhenti mengetik. Ah, keliling dunia, ya?

"Hmm… Begitulah" Jawabnya miris. Ah, dia jadi ingat hal mengerikan yang terjadi dua tahun yang lalu. Yang membuatnya harus menunda perjalanannya lebih dari setengah tahun lamanya. Membuatnya menetap di sebuah negara baru, sebuah kota yang mengenalkannya kembali akan makna keluarga yang –telah lama tak dirasakannya.

"Benarkah?" Mengabaikan pekerjaannya, Gaara menatap penuh Naruna. Penasaran.

"Sudah kemana saja?"

"Hmmm…" Mengernyit sejenak, berusaha mengingat-ingat, "Kurang lebih sepertiga Benua Asia, separuh Eropa, beberapa Negara bagian Amerika" Mengangguk pasti, gadis itu pun tersenyum sumringah.

"Wow"

"Yeah, wow" Naruna terkikik geli. Tidak percaya pria seperti Gaara akan berekspresi seperti itu. "Sayangnya aku belum sempat pergi ke Afrika"

"Kenapa?" Gaara menatap gadis itu bingung.

"Karena satu dua hal. Yah, begitulah" Jawab Naruna dengan susah payah. Menahan setiap kata yang ingin keluar dari mulutnya yang terkadang sulit dikendalikan jika sudah merasa nyaman pada seseorang.


.0.


Hampir empat jam berlalu, dan hari sudah mulai beranjak sore. Hampir jam empat sore, dan Naruna belum membeli keperluan untuk seminggu ke depan. Gadis itu pun membereskan barang-barangnya, berniat untuk segera pergi.

Tepat saat dirinya akan beranjak meninggalkan café setelah seluruh barang-barang masuk dalam ranselnya, phonselnya berdering menandakan adanya sebuah panggilan datang. Tampak sebuah nama yang sangat familiar dari layar smartphone-nya.

Zoey Evergreen is calling… - France

Sebuah panggilan dari sahabatnya yang menetap di Perancis.

"Hello, Zoey…" Sapanya setelah menyentuh tombol hijau.

"Ruru!" Sebuah teriakan berkekuatan dahsyat(?) membuatnya segera menjauhkan smartphone merah hadiah dari sang Oppa kesayangannya, dari telinganya.

Ah, sahabat karibnya itu benar-benar tidak pernah berubah. Selalu penuh semangat, bahkan dalam sambungan telepon sekalipun.

"Yes, I am"

"Dimana kau sekarang? Kau tak lupa bukan, pada pameran lukisanku minggu depan? Aku tidak mau tahu, kau harus datang kemari sehari sebelum acara, titik!" Cerocos gadis manis diseberang sana dalam bahasa Perancis fasih.

"Satu-satu, dear…" Balas Naruna lembut dengan bahasa Inggris beraksen british. Tak lupa, bibirnya mengembangkan sebuah senyum lembut dan binar geli yang tertangkap sepasang jade Gaara yang terus memperhatikannya.

Diseberang sana, Zoey hanya mendengus. Sedikit merasa malu sebenarnya dengan salah satu kebiasaannya jika berhubungan dengan best buddy-nya itu.

"First, aku sedang di Jepang sekarang – Stop!" Tegas Naruna kala mendengar Zoey akan menyela.

"Aku berada di Konoha, lebih tepatnya dear…" Lanjutnya menenangkan. Sejenak, keheningan terjadi diantara keduanya. Hanya suara nafas memburu Zoey yang terdengar dari sambungan telepon, dan Naruna dengan senang hati memberi gadis itu waktu untuk menenangkan diri. Beberapa saat, hingga Naruna merasa cukup dan melanjutkan ucapannya.

"Second, tentu saja aku tidak lupa. Pameran itu dilakukan tanggal 19 juli, dan itu tepat 8 hari dari sekarang. Aku masih punya waktu seminggu untuk proyek baruku sebelum mengunjungimu di Perancis" Jelasnya kalem

"Kau… benar-benar… di Jepang?" Suara Zoey sarat akan ketidakpercayaan dan getaran ketakutan.

"Ya" Naruna menghela nafas panjang. "Kau tahu sendiri bagaimana diriku, jika hatiku sudah berkehendak akan sesuatu" Tersenyum miris dalam hati.

Bahkan, dalam keadaan seperti ini, Naruna tak bisa menahan dirinya untuk pergi ke negara yang bahkan sudah tak ingin dikunjunginya. Untung saja, tak pernah terbersit pikirannya untuk pulang ke Suna.

Deg.

Apa dia barus aja memikirkan kata – pulang?

Menggelengkan kepalanya pelan, Naruna pun mengatakan pada Zoey agar tidak khawatir padanya sebelum menutup sambungan telepon mereka. Mengabaikan Gaara yang sejak tadi menatap penasaran padanya dalam diam. Mengamati setiap ekspresi lembut penuh kasih sayang yang gadis itu tampakkan. Tanpa tahu percakapan absurd itu terjadi dalam dua bahasa– English-France –yang terjadi dihadapannya.


.0.


Naruna baru saja pulang dari pusat perbelanjaan dengan menenteng beberapa bungkusan besar berisi pakaian dan kebutuhan sehari-harinya. Sebelum berangkat tadi, Zoey memberitahunya lewat sms jika apartemen sahabat mereka –Kurama Yakumo- sedang kosong karena gadis itu sedang pergi ke luar kota dan Naruna bisa menggunakannya. Kunci apartemen itu dititipkan ke resepsionis dan Yakumo sudah menghubungi resepsionis apartemen itu sehingga Naruna bisa langsung meminta kuncinya.

Gadis itu berjalan dari halte bus menuju apartemen yang berjarak tak jauh darinya. Jangan tanya kenapa gadis itu lebih memilih naik bus dari pada taksi yang langsung bisa menurunkannya di depan apartemen. Bukan karena biaya, tentu saja. Tapi karena trauma yang terjadi dimasa lalunya. Dan Naruna sedang tak ingin mengingatnya kembali. Terlalu mengerikan dan bisa membuatnya panas dingin serta gemetar ketakutan.

Baru saja Naruna ingin menyeberang, dilihatnya seorang gadis kecil yang menyeberang tanpa melihat kiri kanan ke arahnya.

"Oh God" Tanpa berpikir panjang, Naruna pun berlari menuju gadis kecil itu, menyelamatkannya dari sebuah mobil yang melaju kencang dari arah kirinya. Membuat mereka berdiri diam di tengah jalan dengan gadis itu dalam pelukannya.

"Mama" Dan ucapan gadis itu yang memanggilnya dengan sebutan mama dengan isak tangis, membuat tubuhnya menegang. Apalagi, pelukan erat dari gadis kecil itu membuatnya tak bisa menjauhkan diri darinya.


.0.


Naruna masih mematung ditempatnya dengan gadis kecil yang masih juga memeluknya dengan erat. Masih menangis, dan tak mau melonggarkan pelukannya sama sekali.

Tersentak ketika mendengar bunyi klakson mobil yang berada di kiri kanannya, Naruna memutuskan menepi setelah memunguti barang-barangnya sambil menggendong gadis kecil itu. Dan begitu sampai di pinggir jalan, tubuh gadis itu pun melemas dan jatuh terduduk di lantai trotoar.

"Kau tidak apa-apa, Nak?" Tanya beberapa orang padanya yang dibalas anggukan olehnya.

For God Sake! Apa yang sebenarnya terjadi tadi?

Ugh. Kepalanya pusing. Kilasan masa lalu berputar dikepalanya. Kilasan mengerikan yang membuat perutnya mual. Belum lagi tangis bocah dalam gendongannya, membuat sakit kepalanya semakin menjadi.

"Ano… Lil girl" Menghela nafas kecil sejenak, dibelainya rambut panjang gadis kecil itu dengan tangannya yang gemetar. "Sayang… Kau tidak apa-apa?" Bisiknya lirih membuat gadis kecil itu mengangguk. Usapan tangannya yang lemah membuat tangis itu mulai mereda.

"Kau bisa berdiri, Nak?" Seorang wanita paruh baya nampak prihatin melihatnya.

"Aa, sa-saya baik-baik saja, Nyonya" Balasnya terbata. Dibantu beberapa orang, Naruna mulai berdiri.

"Dimana rumahmu?" Tanya ibu itu khawatir melihat wajah pucatnya. Mengabaikan beberapa orang yang bergunjing, mengiranya sebagai ibu yang tidak bertanggungjawab. Bloody Hell! Anak kepala mereka? Pacaran saja belum pernah, gimana mau punya anak? Makinya dalam hati.

"Disana" Tunjuk Naruna pada bangunan apartemen didepannya. "Baiklah, ayo kuantar" Ajak wanita baik hati itu.

"Terima kasih, saya akan pulang sendiri saja"

"Kau pucat sekali, Nak. Kebetulan aku juga tinggal disana. Mari, aku akan menemanimu" Dan wanita itu membantunya membawa barang bawaannya. Mereka berjalan menuju bangunan apartemen, meninggalkan kerumunan orang yang menyaksikan kejadian tadi.

"Aku belum pernah melihatmu, apa kau penghuni baru apartemen ini?" Tanya wanita paruh baya yang mengenalkan dirinya sebagai Yugao Uzuki itu.

"Ie, saya bukan penghuni baru apartemen ini" Naruna membenarkan posisi gadis yang kini telah tenang, namun tetap mengeratkan pelukannya pada leher Naruna. Seolah, gadis kecil itu takut jika pelukannya terlepas, Naruna akan hilang menginggalkannya.

"Saya hanya menempati apartemen sahabat saya selama dia pergi keluar kota" Yugao menganggukkan kepalanya.

"Ngomong-ngomong, siapa nama temanmu itu? Siapa tahu aku mengenalnya."

"Namanya Kurama Yakumo, Bibi"

"Benarkah? Wah, kebetulan sekali. Apartemen kami sebelahan. Hah, syukurlah kalau begitu. Jadi aku tidak akan khawatir meninggalkanmu nanti. Kau bisa langsung memanggilku jika butuh bantuan nanti" Yugao menghembuskan nafas lega, sebelum menatap Naruna selidik.

"Lalu, Naru-chan. Apa gadis kecil ini putrimu?" Akhirnya pertanyaan itu muncul juga. Bagaimanapun, Naruna tampak seperti seorang ibu yang tidak bertanggungjawab. Meninggalkan anaknya sendirian, sampai hampir saja tertabrak karena mengejarnya. Padahal, Naruna kenal saja tidak dengan gadis kecil didekapannya ini.

"Bukan, Bibi" Naruna menghela nafas panjang.

For God Sake! Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa tiba-tiba ada anak orang nemplok padanya kaya lem dan – Naruna melirik gadis kecil bersurai indigo didekapannya – sama sekali tak mau melepaskan lehernya.

"Bahkan saya tidak sama sekali tidak mengenalnya" Yugao menghentikan langkahnya dengan tatapan tak percaya.

"Apa? Lalu-" Yugao menatap keduanya bergantian. "Kenapa dia memanggilmu - mama?" Naruna memejamkan matanya sambil menghela nafas panjang lagi. Semoga saja tindakannya ini tidak membuat kebahagiaannya berkurang.

"Saya sendiri juga terkejut, Bibi. Sungguh." Menggelengkan kepalanya yang masih pening, Naruna menepuk-nepuk punggung kecil gadis dihadapannya.

"Nah, adik kecil… Siapa namamu?" Tanyanya lembut membuat gadis kecil itu melonggarkan pelukannya dan menatap Naruna dengan sepasang amnethys yang kembali berkaca-kaca.

"Yui" Bisiknya lirih. "Mama, Yui kangen" Tambahnya membuat Naruna melotot horor. Please! Anybody, Help Me! Teriaknya dalam hati, masih bingung dengan apa yang terjadi.

"Ehm, Sayang…" Naruna berdeham. "Kurasa, kau salah orang. Aku bukan ibumu-"

"Hwaaaa~ Yui tidak mau. Pokoknya mama adalah mama Yui" Potong gadis itu kembali menangis dan memeluk leher Naruna erat, bahkan hampir terasa mencekik rasanya. Membuat Naruna bingung tingkat dewa.

"Ehm, Naru-chan. Kurasa sebaiknya kita masuk dulu. Tidak enak di lihat orang-orang" Naruna memperhatikan sekitarnya, dan terlihat orang-orang berbisik melihat ke arahnya.

Menghela nafas panjang, dia pun memutuskan melangkahkan kaki kembali ke arah resepsionis untuk meminta kunci kamar temannya dan berjalan menuju lift bersama Yugao menuju lantai 7.

Keluar dari lift, keduanya melangkahkan kaki dalam diam diiringi latar belakang isak Yui yang lirih.

Ugh, selain pusing yang melandanya, Naruna juga kasihan dengan gadis kecil dalam dekapannya.

Demi Tuhan! Dimana orang tua tak bertanggungjawab yang menelantarkan gadis manis nan cantik dalam dekapannya ini. Apa mereka tidak tahu? Jika jaman sekarang itu marak penculikan dan perdagangan organ anak-anak? Apalagi, terlihat dari pakaian yang dikenakan Yui, gadis kecil itu jelas berasal dari keluarga berada. Semoga saja, dirinya tidak dikiran menculik anak dalam dekapannya ini.

Sampai di depan kamar no 237 bertuliskan Kurama Yakumo pada papan berwarna emas yang menempel di depannya, Naruna memasukkan kuncinya dan masuk diiringi Yugao yang membawakan barang-barangnya.

Naruna harus bersyukur karena Yugao mau membantunya. Karena kalau boleh jujur, tubuhnya sudah lemas sejak kejadian tadi. Dan menggendong Yui itu sudah butuh perjuangan keras. Ditambah pusing yang melanda kepalanya saat ini. Sepertinya, dia harus segera meminum obatnya sebelum terlambat dan jatuh pingsan.

"Silahkan duduk, Bibi" Naruna mempersilahkan Yugao duduk di sofá ruang tamu, berikut dirinya yang langsung menjatuhkan dirinya pada sofá ruang tamu itu.

"Nah, Yui-chan…" Panggil lirih Naruna berusaha mendapatkan perhatian gadis itu. Dan benar saja, Yui langsung mendongak dana melihat wajahnya. Dengan lembut diusapnya wajah penuh air mata itu dan tersenyum lembut.

"Sekarang Yui duduk dulu, ya?"

"Tidak mau" Pekik gadis itu mengagetkan Naruna dan Yugao. Jangan lupakan juga gadis kecil itu yang kembali memeluk erat leher jenjangnya.

"Yu-yui…"

"Pokoknya nggak mau. Mama pasti ninggalin Yui lagi nanti" Dan kembali isak tangis terdengar dari gadis kecil itu.

Oi, oi… Apa tidak capek ya, dari tadi nangis terus? Batinnya lelah.

"Tidak kok." Naruna membelai rambut panjang itu lembut, berusaha membujuk. "Mama cuma mau ke kamar sebentar meletakkan ransel mama" Ujarnya memutuskan mengikuti sandiwara ibu dan anak ini.

Terlihat Yugao menatapnya simpati, kala melihat wajah lelah dan pasrahnya kini. Jangan lupakan, jika sejak pertemuan mereka tadi wajah Naruna sudah pucat pasi. Hal itulah yang membuat Yugao memutuskan membantu Naruna, karena khawatir gadis itu akan pingsan kapan saja.

"Yui-chan… Mamamu tidak akan kemana-mana kok. Percaya pada Nenek" Yui mulai menatap keduanya dalam diam.

"Biarkan Mamamu meletakkan tasnya, ne? Lihatlah, wajah Mama Yui pucat begitu karena menggendong Yui sejak tadi" Dan ucapan Yugao membuat Yui luluh. Gadis itu bisa melihat wajah lelah dan pucat Naruna, sehingga mau duduk sendiri di sisi tubuh Naruna dalam diam, tapi tatapannya tidak lepas dari Naruna.

"Good girl" Bisik Naruna sambil membelai pucuk kepala Yui sayang.

"Mama mau ke kamar sebentar ganti baju. Yui sama Nenek Yugao dulu, ne?" Meski enggan, gadis kecil itu akhirnya mengangguk sambil terus memperhatikan Naruna yang melangkah menuju kamar sahabatnya untuk meletakkan tas ranselnya yang besar dan beberapa barang belanjaannya yang berupa baju untuk digunakannya seminggu ke depan.

Di dalam kamar itu, Naruna mendudukkan tubuhnya sejenak di tepi ranjang sambil memijit pangkal keningnya. Ada apa ini? Apa yang akan terjadi sebenarnya? Apa ini hukuman untuknya karena telah berani menginjakkan kakinya kembali ke Jepang, meski sudah dilarang keras oleh sang Oppa? Entahlah, tubuhnya lelah, dan kepalanya sangat pusing. Lebih dari sekedar pening, rasa sakit seolah di pukul dengan benda tumpul kembali terasa di kapala bagian belakangnya. Rasanya, dia ingin pingsan saja.

-TBC


Selamat Hari Raya Idul Fitri... Mohon maaf lahir dan batin ya :D

Maaf telat ngucapin :D karena baru balik mudik

Dan akhirnya bisa Up lagi, meski sebagian isi ceritanya berbeda dari awal pembuatannya. Tapi, well… Beginiliah akhinya. Semoga kalian tidak kecewa karena saya rasa ceritanya sedikit bertele2 (atau banyak? #nyengir) dan terima kasih sudah mampir dan membacanya. Jangan lupa tinggalkan jejak, ne ;)

Ah, tolong beri tahu saya untuk typo dan kesalahan lain yang ada dicerita ini, oke? ;)

Thanks buat yang sudah read, follow and fav

Sampai jumpa chap berikutnya :D