Pertama-tama Alleth mau bales dulu review dari temen-temen yang non login (karena yang login Alleth bales via PM).
-Chidori Kaname: Ini sudah up-date. silahkan baca chapter dua ini, disini ada alasan kenapa Ino harus nerima Shika jadi suami.
-Namikaze Nara: Haloo juga..! Sesuai judulnya, Shika emang herioc banget, tapi ada alasan yang lebih tepat kenapa Shika mau melakukan tindakan heroic tersubut, yaituu... Rahasia.# sok misterius.
Ikutin aja ceritanya yaa..?
-Anak Singkong: More Tragic? hmmm... Karena sudah Alleth katakan sebelumnya bahwa tema di Follish Heroic ini lebih ringan, jadi untuk yang menguras air mata bukan jadi focus utama Alleth. # sok konsisten.
Kalo masalah kejutan, itu pasti! setiap chapter akan Alleth kasih sediki demi sedikit. Jadi, tunggu dichapter-chapter selanjutnya ya?
-especially to Hee-Rina, Jump-an, Nufze, Saqee-chan, Zi Kriany, Ken Zeira, Zeroplus, Flo Deveraux': Terimakasih banyak untuk tanggepan positif yang diberikan. Itu membuat Alleth semangat tingkat tinggi.
And next, Hope you like this Chapter..!
Disclaimer: bukahkah seluruh karakter dalam Naruto milik Masashi Kishimoto?
Genra: Com-Rom (Comedy-Romance), Hurt/Comfort
Main Chara: Ino Yamanaka and Shikamaru Nara
Warning: author amatiran, abal tak terkira, banyak kesalahan dalam penulisan, payah EYD, bergelimpungan typo(s), hanya berharap maklum dari para readers.
Summary : aksi heroik pertama mu, melindungi ku dari terjangan bola yang meleset ke ring. Dan itu benar-benar sebuah kebodohan karena membuat kita berdua menjadi bahan gosip top news oleh warga sekolah selama duduk dibangku SMA. Lalu kini apa kau akan melakukan bentuk tindakan heroik bodoh untuk kedua kalinya?!
Sai.
Aku bertemu dengannya saat ada pegelaran lukis yang diadakan oleh fakultas seni rupa. Aku begitu terpesona dengan lukisan berjudul 'One Thousand Days Of Blue' dengan di sudut kiri bawah ada nama dan tanda tangan penulisnya. Lukisan dengan sapuan warna biru laut yang rupawan, seketika aku langsung ingin menemukan pelukisnya dan menyatakan kekagumanku.
Lalu saat aku bertanya siapa pembuat lukisan di hadapanku, kau yang saat itu tepat berjarak sekitar satu meter di sampingku menjawab bahwa kaulah pembuatnya. Saat itu kita mulai dekat, dan akhirnya aku yakin bahwa aku benar-benar menyukaimu! Aku menyukaimu Sai, dan kau menyayangiku
Aku merasa aman dengan hubungan kami, karena kami tidak pernah bertengkar ataupun meributkan hal sepele. Tapi sekarang kau pergi, lalu aku yang sepertinya harus menikahi seseorang yang kukenal di masa lalu. Pahlawan, super hero berambut model nanas. Mantan sekaligus calon penyelamatku!
Follish Heroic
Aku tertegun, aaahh...bukan hanya aku, tapi seluruh orang yang ada diruangan ini termangu dengan apa yang barusan diucapkan oleh Shikamaru. Hal ini satu-satunya diluar prediksiku. Benar-benar tidak dalam ranah pikiranku.
Pandanganku tak pernah berpindah sekalipun dari sesosok yang saat ini berhadapan dengan ayahku. Kuliati expresinya, dan jika ini akting maka aku akan memberikan penghargaan yang luar biasa. Kemampuan memanipulasi prilaku seperti itu, ia pantas mendapatkan piala Oscar.
Kau punya bakat di dunia entertaiment, Shikamaru!
Ayahku memperbaiki posisi duduknya, menjadi agak lebih tegap. Ditatapnya Shikamaru, yang berbeda dengan tatapanku, bila aku melihati pria nanas itu dengan tatapan tak mengira, sedangkan ayahku begitu terlihat pasrah. Ayahku menunduk sesaat, kudapati ia dengan pelan menggelengkan kepalanya beberapa kali.
"Kau yakin, nak?" ayahku mewakili seluruh keluargaku menanyakan pertanyaan tersebut pada Shikamaru, yang di jawabnya dengan anggukan yakin. Ya ampuun..! Bisanya ia nampak seserius ini, sedangkan kalau aku pasti sudah akan tertawa habis-habisan dan berkata 'kejutaaaann...!'. Tapi sekarang yang berada dalam posisi seperti itu bukan aku, tapi Shikamaru.
Ini bukan waktunya berpatah hati, ini saat yang tepat untuk bercengo-ria. Entah kemana hilangnya galauku tadi, rasanya aku sedang memainkan peran tokoh dalam acara komedi. It looks like perfect joke..! Semua terdiam. Hening tanpa suara. Ayahku yang semula penatap Shikamaru kini perpindah objek yang tertangkap netranya padaku. Membuat tenggorokanku cekat. Ia seperti menyerahkan semua jawabannya padaku.
"Maaf tuan, nyonya acara seharusnya sudah dimulai." datang lagi satu makhluk tak diundang. Ketua panitia dari Wedding Organizer, Yuki mengingatkan kami secara serempak. Di tangannya membawa buku yang sepertinya susunan acara pernikahanku. Dan ia sukses membuat otakku berpikir lebih keras untuk mengambil keputusan dengan cepat.
Batalkan atau...
"Ada sedikit masalah di sini, tapi tenang saja. Show must go on..!" jawabku dengan keyakinan yang tak kalah dari Shikamaru. Aku kembali menatap ayah, ibu dan kakak tertuaku secara bergantian lalu mengangguk. Setelah ku ucapkan kalimat itu, Yuki sedikit membungkuk tanda memberi hormat pada kami dan pergi.
"Oke, kalau begitu kita bagi tugas," kakakku yang sedari tadi terdiam kini bersuara, ia siap memberikan perencanaan mengenai apa dan siapa saja yang harus bersiap.
"Ibu, tolong ambil cincin pernikahan Ino, cobakan pada Shikamaru!" Kakashi-nii memulai aksinya, ibuku yang memang sebagai juru pemesanan dan penyimpanan cincin pernikahan ku langsung berlari kearah kamar untuk kedua kalinya.
"Ino, dimana pakaian pengantin pria?"
"Ku letakkan di apartemen Sai, nii-san."
"Oke, kalau begitu, Naruto kau ambil tuxedo itu!"
Bukan Naruto yang bergegas pergi, melainkan nyonya-nya. Tidak melangkah keluar pintu rumah, Sakura malah menaiki tangga dan memasuki kamarku. Beberapa detik kemudian ia keluar dan dari atas ia melemparkan sesuatu ke arah suaminya.
"Naruto, itu kunci apartemen Sai. Ambil tuxedonya di sofa ruang tamu! Sekarang, cepat dan hati-hati..!" Sakura sahabat baikku, tentu ia tahu semua tentangku temasuk tempat penyimpanan kunciku. Hebatkan?
"Shikamaru,coba berikan jari manis sebelah kirimu." Pinta ibuku setibanya dari kamar, Shikamaru sendiri yang diminta tanpa banyak bicara mengulurkan tangannya. Ibu langsung memasangkan cincin itu pada Shikamaru.
"Terasa sakit Shikamaru..?" tanya ibuku, yang dijawab Shikamaru dengan gelengan kepala sekaligus jari kanannya bermain dengan memutar-mutarkan cincin yang terpasang dijari manis sebelah kiri, setelah itu mengembalikan cincin tersebut kekotaknya. Ia tahu kapan tepatnya untuk benar-benar memasangkan cincin itu dijarinya.
"Bagus kalau cocok, akan sangat lucu bila cincin yang akan terpasang nanti malah kekecilan atau kebesaran," ujar Kakashi-nii. Hal itu membuat ku merasakan sedikit keganjilan. Hmm..ini suatu kebetulan saja, kan?
"Selanjutnya Hinata, Hanabi dan paman Hiashi sebaiknya kembali ke pekarangan rumah. Siapa tahu masih ada tamu yang baru datang."
"Baiklah..!" ucap paman Hiashi, Hanabi dan Hinata secara bersamaan dan berjalan ke arah luar. Mereka yang sedari tadi hanya diam dan menjadi penonton setia pun sekarang terkena imbas sibuknya.
"Aku akan memberitahu orang yang akan menikahkan kalian, bahwa ada pergantian nama mempelai." Dengan diikuti ibu, ayahku langsung beranjak pergi. Setengah berlari pula. Apa dia sudah lupa dengan penyakitnya tadi. Lalu bahasanya itu lhoo, pergantian? Dia pikir ini sama dengan pertandingan sepak bola apa?
"Aku dan Sakura akan memberitahukan pada panitia Wedding Organizer bahwa acaranya akan terlambat kurang lebih sejam." Mei nee-san ikut mengambil bagiannya. Ia dengan menggendong Kirei bersama Sakura langsung juga ikut pergi meninggalkan kami yang tersisa. Aku, paman Shikaku, istrinya dan calon suamiku.
Aaargggh..! Kenapa begitu menyadari orang yang akan memperistri diriku adalah Shikamaru, aku merasa seperti sedang dipermainkan oleh kenyataan. Ini pasti mimpi dan aku akan terbangun saat aku menyakiti diriku sendiri.
"Auuuw..!"jerit pelanku begitu merasa sakit saat kucubit pipiku. Mengartikan bahwa untuk kesekian kalinya aku mencoba menolak realitas.
"Kau kenapa Ino?" tanya kakak angkatku yang kujawab dengan gelengan kepala. Ini bukan mimpi Ino, sadarlah!
"Oke, selanjutnya aku minta tolong paman dan bibi untuk membantuku menerengkan kepada para tamu bahwa pernikahan ini akan mundur beberapa waktu ke depan." Ayah dan ibu Shikamaru pun menganguk secara bersamaan. Dan tanpa aba-aba kedua pasang suami-istri itu pergi meninggalkan kami. Serasi sekali mereka berdua ini.
"Baiklah Ino-chan, aku akan memberikan pengertian pada tamu bahwa acaramu sedikit terlambat. Aku juga akan menghubungi Deidara. Ia harus jadi salah satu pendamping mempelai pria." Aku yang diberikan penjelasan oleh kakak tertuaku itu pun hanya dapat mengangguk pelan. Kulihat ia membalikkkan tubuhnya, berjalan satu-dua langkah, begitu di langkah yang ketiga ia terhenti. Berbalik lagi ke arahku dan berkata...
"Kau bawalah calon suamimu ke kamar. Tunggu Naruto membawakan pakaian pengantin-nya," aku cengo untuk kesekian kali. Calon suami? Kupikir hanya aku yang akan mengatakannya untuk diri ku sendiri.
Ya Tuhaaann..! Kenapa bisa jadi serumit ini? Kenapa bisa jadi seaneh ini? Kenapa bisa jadi se-rush ini? Kenapa dan kenapa. Benar-benar diluar dugaan bahwa akan tersusun rencana baru sebegitu bodohnya. Ku harap cukup sampai di sini sudah kekonyolan untuk hari ini.
Pikiranku kembali pada orang seharusnya menjadi suamiku, bukan patah hati karena dengan seenaknya ia membatalkan dan pergi begitu saja. Tapi ada sesuatu yang aku tidak tahu itu apa, aku menyadari bahwa ini adalah kesalahan Sai. Kalau saja ia datang, pasti semua orang tidak akan menjadi kelimpungan macam ini. Apa aku marah padanya? Kurasa sekalipun memang itu yang kurasakan, ia pantas menerima kemarahanku. Aku bukan patah hati, tapi aku sakit hati. Patah dan sakit dihati itu berbeda...!
I'm not broken heart, i just i'll feel!
o
O
o
Sesuai saran atau yang lebih tepatnya perintah dari kakak tertua, aku membawa Shikamaru ke kamarku. Buat apa merasa aneh dengan pria yang tidak kau kenal ada di kamarmu bila ia dalam hitungan jam bahkan menit akan menjadi suamimu? Aku terus saja memandangi keluar jendelaku, masih saja sedikit berharap bahwa Sai akan datang bersama Naruto.
Sepupu dari keluarga Hyuuga-ku pun sudah tidak nampak lagi di pekarangan, mungkin mereka ikut membantu memberi pengertian mengenai terlambatnya acaraku ini. Semua jadi jauh dari rencana seperti ini karena Sai, tapi aku masih saja menunggu dan mengharapkan bahwa ia akan datang. Aku ini benar-benar gadis yang tidak konsisten, tadi aku berani mengakui bahwa aku marah padanya, sakit hati. Tapi aku juga masih mengharapkannya memperbaiki semua ini..? Aneh! Tapi aku tak mau membohongi perasaanku.
"Hooaammmh...!" Shikamaru menguap dengan seenaknya sambil merentangkan tangannya ke udara, merenggangkan tubuhnya yang mungkin terasa kaku. Sedari tadi ia tidak banyak bicara. Ooh iya, ada yang harus kulurus kan..!
"Heei kepala nanas..!" kupanggil ia, dan ia membalasku dengan tatapan cuek andalannya. Aku tak berpindah dari tempatku, hanya sedikit bergerak untuk berhadapan langsung dengannya.
"Bisakah kau lebih sopan sedikit pada calon suamimu, nona?" akhirnya ia bersuara juga. Yang kutanggapi dengan berkacak pinggang, angkuhnya. Padahal harusnya aku berterimakasih sebesar-besarnya pada orang di hadapanku ini.
"Apa kau yakin dengan apa yang akan kau lakukan ini? Kau ingin menjadi super hero yang nantinya akan membuatku digunjingkan lagi?"
"Kenapa kau sarkatis begitu? Dengan sikapmu yang seperti ini, aku wajar saja bila tunanganmu pergi"
"Apa kau bilang..? Heeeeh kau, jangan mentang-mentang kau sudah menjadi pahlawan yang menyelamatkan nama baik keluargaku, lantas kau bisa seenaknya mengejek ku seperti itu!" entahlah apa, yang jelas ucapannya barusan mampu membuatku naik pitam. Gampang sekali ia menyindirku. Ini sudah yang hindari, jangan karena ia telah membantu keluargaku, lantas ia bisa seenaknya kepadaku. Huuh..kau bermimpi rambut nanas!
Shikamaru tak menangapiku, ia malah dengan santainya merebahkan diri pada kasurku. Sebal, aku pun akhirnya memilih untuk mendekatinya. Aku berdiri di tepi ranjang yang berdekatan dengannya, lalu langsung saja kutinju lengannya.
"Aauuuuuw..!" respon sakitnya sambil mendudukan diri. Ia pun mengelus-mengelus lengannya yang tadi menjadi korban latihan boxing-ku.
"Kau kenapa sih?"
"Kau yang kenapa? Heeeh, ingat yaaa, hmmm.. Siapa namamu?" aku berlagak lupa, sambil terus memberikan tatapan permusuhanku padanya.
"Shikamaru."
"Iya, Shikamaru! Jangan mentang-mentang kau menjadi pahlawan hebat, lalu kau lantas bisa seenaknya bersikap padaku. Heeeii..! Aku perempuan dengan harga diri tinggi, tuan..!" aku akhirnya bisa menjelaskan duduk permasalahan yang kumaksud, hal inilah yang harus kuperjelas padanya. Aku tak mau hidupku menjadi menyedihkan karena sikap sok hero-nya itu. Jangan panggil namaku Ino, bila aku membiarkannya.
Shikamaru menggaruk tengkuknya yang aku tahu pasti itu tidak gatal. Dari wajahnya kulihat ia seperti kebingungan menghadapi prilakuku.
"Mendokusei, troublesome..!"
Astaga! Hampir lima tahun aku tak bertemu Shikamaru, kupikir kebiasaannya mengeluh dengan mengucapkam kata 'merepotkan' sudah tidak lagi dilakukannya. Mungkin tidak ada di muka bumi ini yang tidak merepotkan baginya.
"Kalau sudah tahu ini merepotkan, kenapa kau mau saja?"
"Dengar yaa, nona! Harusnya kau sadar bahwa reputasimu-lah yang paling dipertaruhkan di sini. Hampir seluruh tamu undangan adalah kolega ayahmu yang tahu masalah keluargamu dengan Himura itu." Aku terdiam untuk mendengarkan penjelasan dari Shikamaru. Nampaknya ini bagian krusial yang harus benar-benar kupahami. Ia menghela napasnya pelan.
"Aku sangat yakin mereka datang ke acara ini bukan semata-mata untuk menghadiri pernikahanmu, tapi juga untuk membuktikan apakah keluargamu dan Himura itu sudah benar-benar menghapus masalah di masa lalu." Aku mendengarkan sembari mengangguk-angguk pelan. Ini harus betul-betul ku mengerti. Shikamaru bangkit berdiri, merenggangkan tubuhnya sekali lagi.
"Reputasi keluargamu didunia bisnis sangat baik, Ino. Kalau sampai mereka mendapati tuan Himura membalaskan dendamnya dengan cara tidak hormat begini, maka orang lain akan mudah menjatuhkan nama keluargamu."
Aku masih tidak terlalu mengerti, hal ini amat rumit bagiku. Tapi setidaknya aku tahu, mungkin memang Sai ingin membalaskan keluarganya dengan menggunakanku sepertti ini. Akhirnya aku mengerti apa yang kurasakan padanya, aku marah. Bukan hanya marah, aku dendam padanya!
"Terus apa hubungannya batalnya pernikahanku dengan urusan bisnis ayahku?"
"Hmm... Kau itu polos atau terlalu bodoh? Ya jelaslah. Kau tidak lihat penyakit ayahmu kumat hanya mendengar kau meminta membatalkannya, kalau sampai benar-benar batal, mungkin nyawa ayahmu tidak akan tertolong. Lalu siapa yang akan mengendalikan usaha bisnis keluargamu?"
Aku terdiam, kenapa hal ini tidak terpikir olehku. Mungkin benar pertanyaan Shikamaru, aku ini polos atau terlalu bodoh?
"Kakakmu masih perlu banyak belajar, sedangkan kau sendiri tentu tidak bisa diandalkan. Kau mesti tahu, dalam bisnis dan percintaan teman bisa jadi lawan..!"
Ya ampuunn, Ia menyindirku lagi! Terimakasih untuk penjelasannya tapi aku takkan membiarkanmu mengejek-ejekku sesukamu, nanas.
"Eehh kau bilang apa, aku tak bisa dian..."
Braaaakkkkk...! Tiba-tiba seseorang dari luar membuka pintu kamarku dengan bengisnya, dan itu sukses membuatku mengurungkan niat untuk menyelesaikan kalimatku yang tergantung. Kontan saja, aku dan Shikamaru menoleh ke sumber suara. Kudapati Naruto yang sudah terengah parah sambil menenteng stelan tuxedo di lengan kirinya. Ia tertahan di ambang pintu. Tangan kanannya yang bebas mengarah ke arah kami dengan satu jari telunjuk mengacung.
"For. A. Couple. Minute...!" ucapnya begitu nampak menyedihkan, terbata.
"Yes sure, you can take a breath..!" jawab Shikamaru yang seperti menahan tawanya melihat keadaan Naruto yang nampak amat sangat butuh dikasihani. Naruto menghirup udara dengan sedalam yang ia mampu, lalu melepaskannya secara perlahan. Hal itu ia lakukan secara berulang-ulang. Keringat keluar dari seluruh jaringan pori-pori kulitnya.
Poor Sakura's husband!
Naruto berjalan lagi mendekati kami, dilemparnya tuxedo yang ia bawa ke kasurku dan dengan gesit melepasi blazer, dasi, baju Shikamaru, dan membuangnya ke segala arah. Tak tahu menahu, ia dengan seenaknya menelanjangi Shikamaru. Ia dengan cekatan bekerja, tapi begitu sampai diperbatasan pinggul ke bawah, Naruto menghentikan kegiatannya. Menatap Shikamaru dengan penuh arti.
"Perlu kubantu untuk yang ini?"
"Aku bisa sendiri..!"
"Oke." Naruto menjauhkan tangannyanya dari range tersebut. Mengambil tuxedo itu kembali dan memilihkan yang mana harus dipakai Shikamaru terlebih dahulu. Aku hanya menjadi penonton dari acara menelanjangi dan ditelanjangi ini, benar-benar konyol! Eeehh tunggu, ditelanjangi dan menelanjangi?
"Eeeeehhh...! Bisa-bisanya kalian buka-bukaan begitu didepan seorang gadis?" sergahku. Ya Tuhaan.. Mengerikannya pria-pria di depanku ini. Tak tahu malu!
"Sudahlah Ino, sebentar lagi kan ia menjadi suamimu, apa salahnya?"
Aku tak mampu memberikan perlawanan lagi terhadap Naruto. Kubiarkan saja keduanya sibuk dengan aktivitasnya. Aku dengan raut kesalku memalingkan wajah kearah lain, walau sesekali melirik Shikamaru yang memakai tuxedo tersebut.
Begitu selesai, ia langsung di arahkan Naruto kemeja riasku. Naruto melepas ikatan rambut Shikamaru, menyisiri rambutnya dan kembali mengikatnya kembali. Nampaknya seperti buang-buang waktu saja, karena yang kudapati tetap kepala dengan rambut model nanas. Bukan hanya itu, Naruto juga dengan lincahnya mendadani Shikamaru.
Pertama-tama ia menaruh tissue di bawah leher baju Shikamaru, ia ambil milk clansing-ku, memberikan enam titik strategis pada wajah Shikamaru dan membersihkannya dengan tissue, lalu ia memakaikan toner untuk menyempurnakan pembersihan. Setelah benar-benar ia yakin bersih, ia mulai menepuk-nepukkan tissue basah di wajah Shikamaru. Ooh, bukan hanya itu, ia juga memberikan bedak dengan rapinya di muka Shikamaru, mengolesi bibir calon pengantin pria itu dengan lipgloss-ku.
"Kau mau kupakaikan ini?" tanya Naruto dengan maskara dan pensil alis di masing masing tangannya, yang spontan dijawab Shikamaru dengan gelengan kepala. Aku jadi bingung, kenapa tidak sedari tadi Shikamaru menolaknya?
"Tidak...tidak.. Itu berlebihan!"
Aach ghosh! Jika Shikamaru berbakat menjadi aktor, maka Naruto seratus persen pantas menjadi make-up artist.
Atau jangan-jangan di kehidupan Naruto yang terdahulu, ia seorang gadis dengan nama Naruko? Hmmm... Who know's?
"Selesai..!" ucap Naruto dengan nada desibel tinggi. Kulihat ia masih menepuk-nepuk pundak Shikamaru.
"Give me five, man..!" katanya sekali lagi dan dibalas Shikamaru dengan menepuk tangannya yang mengambang di udara.
" Oke, aku akan keluar memberitahukan Kakashi-nii kalau kalian sudah siap."
Selepas kepergian Naruto, aku memandangi Shikamaru yang sudah rapi menggunakan tuxedonya. Aku harus bilang, waaaaw..! Tuxedo itu benar-benar membuatnya seksi. Dan satu hal lagi, bukan hanya cincin yang pas dengan jarinya, pakaianya itu pun ikut-ikutan terlihat perfect di tubuhnya.
Och my my my! Katakan padaku bahwa ini bukan rekayasa.
"Kalian sudah siap?" tanya suara yang sangat ku kenali,yang kami jawab dengan anggukan bersamaan.
"Waaw...Shikamaru, you looks so sexy." Lagi dan lagi, bukan hanya aku, tapi kakak ku ini pun memikirkan hal yang sama. Shikamaru membalas pujian yang diberikan kakak ku dengan senyuman, jelas sekali kalau ia ge-er.
"Ayo sudah cepat, kita benar-benar terlambat," Naruto mengingatkan. Kami pun satu persatu keluar dari ruangan pribadi ku. Tapi tunggu..!
"Naruto, seandainya para tamu menanyakan soal..."
"Aku akan memikirkannya nanti." Suami sahabatku itu nampak mengerti dengan apa yang akan aku tanyakan. Oke Ino, prepare your self! Ready or not, like you said before, show must go on..!
o
O
o
Aku di ujung pintu rumah halam belakang, bersembunyi dari pada tamu sebelum dipersilahkan untuk memasuki altar. Sebenarnya, acara pernikahan ini sebaiknya terlaksanakan di kuil, lalu acara resepsi setelah menikah baru di rumah. Tapi karena aku memaksa agar pernikahan sekaligus resepsi diadakan langsung di rumahku dengan mengusung gaya modern, mau tak mau para anggota Wedding Organizer kelimpungan mencari pendeta yang mau meninggalkan kuil dan menikahkanku.
Ini hukum karma! Seandainya aku menikah saja di kuil, lalu resepsi dengan mengundang orang yang sebanyak itu dikediaman ku, mungkin aku bisa menghindari mereka dengan alasan sakit atau bahkan sudah pergi berbulan madu.
Aku sempat sedikit mengintip keluar. Gilaaa..! Ada sekitar tiga ratus undangan, dan lebih dari setengahnya adalah kolega ayahku. Pantas saja ayah memaksa bahwa pernikahan ini harus jadi gugup sendiri, aku menarik napas dan menghembuskanya. Terus menerus. Hingga akhirnya kudengar dentingan piano memainkan Canon-nya Pachelbel dengan sangat lembut, aku yakin inilah waktuku.
"Kau siap?" tanya ayahku.
Aku mengangguk pelan, kusampirkan lengan kiriku pada lengan sebelah kanan ayahku. Aku sekali lagi menghela napas panjang.
"Jangan biarkan aku tersandung, ayah."
"Never ever..!"
Kupejamkan mataku sambil melangkah keluar, rasanya jantungku tak henti-hentinya meningkatkan frekuensi detakannya. Tangan kiriku memeluk lengan kanan ayah, sedangkan tangan kanan ku memegangi buket bunga red-roses. Lalu Sakura, Hinata dan Hanabi mengikutiku dari belakang sambil menebarkan kelopak bunga yang sama. Mereka bridesmaids-ku! Berjalan melewati karpet merah selebar plus-minus dua meter, di kanan dan kiri ujungnya sudah terisi oleh para undangan yang berdiri karena kehadiranku sebagai ratu hari ini.
Aku punya tiga pendamping mempelai wanita, tapi kulihat di depan sana hanya ada Kakashi-niisan dan Naruto yang menjabat made of honor-nya Shikamaru. Kurang Dei-nii!
Aku masih dapat mendengar mengenai pernikahan ini, bahwa yang di depan altar sana bukan seorang dari marga Himura. Aku jadi tak peduli, rasa benci dan sakit hatiku malah mengharapkan ia tak datang sama sekali, atau sekalipun datang, ia sudah terlambat.
Ini langkah terakhirku, aku sudah di hadapan Shikamaru. Ayahku pun menyerahkan rengkuhan lenganku pada genggamannya. Sebelum ayahku duduk di bangku tamu, ia mengecup keningku.
"Kau pengantin tercantik yang pernah ayah temui..!" untuk itu aku hampir meneteskan air mata. Jadi terharu sungguhan. Ayah ku sudah tidak memiliki alasan untuk berdiri di dekatku, ia langsung mendudukan diri di dekat ibu, menantu dan calon besannya.
"Baiklah, kita akan segera melaksanakan ritual pernikahan Yamanaka Ino dan..." Pendeta yang setahuku bertama Sarutobi Hiruzen itu memulai sesinya. Ia yang saat itu ditemani dengan empat rekan lainnya terhenti sesaat untuk mengingat sesuatu.
"Dan Shikamaru Himura.."
"Maaf pak pendeta, nama saya Shikamaru Nara," ujar Shikamaru. Tentu ia tak terima namanya digonta-ganti semudah itu. Lima detik Shikamaru membenarkan namanya, seluruh tamu yang ada jadi agak riuh. Oke, ini tidak diluar prediksi ku kan?
"Maaf, pernikahan antara Yamanaka Ino dan Shikamaru Nara, akan segera dilangsungkan."
"Hmmm... Maaf, bukankah dalam undangan tertulis bahwa mempelai prianya adalah Sai Himura." Akhirnya ada juga yang berani mengintrupsi pernikahanku. Secara serempak aku, keluargaku, dan tamu yang lain mengarahkan perhatian pada seorang pria dengan tato 'AI' di kening sebelah kirinya. Kalau tidak salah ia dari Sabaku Corp, Rei Gaara namanya.
Aku memicingkan mataku ke arah Naruto, bukankan aku sudah menanyakan bagaimana antisipasi dari pertanyaan ini? Kali ini Naruto tampak tenang.
"Supriseee...!" katanya berlagak mengagetkan. Aku langsung membulatkan kedua mataku, terkejut.
"Hahahahaaa...! Bukan masalah besar, itu hanya kesalahan di percetakan undangan," jawabnya dengan tanpa rasa berdosa. Kali ini, Sakura kulihat memasang tampang mendukung jawaban konyol suaminya. Shikamaru dan Kakashi-nii mencoba untuk menahan tawanya saat Naruto berbisik pelan, 'aku dan Sakura sudah memikirkan jawabannya dari tadi, antisipasi'.
Ampun Tuhaaann..! Tobaattt..!
Hening seketika, saat yang tepat untuk melanjutkan kegiatan sakral ini. Kudengar pendeta di depanku mengucapkan berbagai petuah dan entah itu apa. Saat ia meminta aku dan Shikamaru untuk berlutut, kami melakukannya dan saat ia berkata ini-itu, kami pun melakukannya. Lama juga prosesi ini, pinggangku benar-benar sudah terasa ngilu.
"Saat ini saya nyatakan kalian sebagai pasangan suami dan.."
"Tunggu duluuu..!" kali ini suara yang ku kenalilah yang mengintrupsi pernikahanku. Aku dan seluruh orang yang mendengarnya secara berjamaah menghadapkan kepala ke arah belakang. Bukan Sai, tapi kakak keduaku. Dei-nii, ia dari ujung dengan senyum sumringah andalannya, melambai-lambaikan tangan.
Berjalan melewati rute yang tadi kulalui, berdiri dibelakang Naruto.
"Naruto, minggir!" ucapnya pelan, meminta Naruto untuk berpindah posisi. Yang tadinya setelah Shikamaru, Kakashi-nii, lalu ia, sekarang ia harus menyerahkan tempatnya dengan suka rela untuk orang yang mungkin lebih berhak. Saat ini, lengkap sudah dengan tiga bridesmaid dan tiga maid of honor. Perfect!
"Kau kuhubungi, nonaktif!" bisik pelan kakak tertuaku.
"Sorry bro, di bandara. Flying mode," balasnya pelan.
Sukses Dei-nii, kau berhasil membuat seluruh tamu terbengong-bengong dengan kehadiranmu! Semua tatapan heran diterimanya, ia pun jadi merasa bintang yang tidak diharapkan kedatangannya. Mau tak mau, ia sendiri yang harus mencairkan suasana.
"Hmmm...sorry. Actually, i'm the second made of honor. Supriseeeee...!"
"Part two..!" tambah si kecil Hanabi dengan mengacungkan jari telunjuk dan tengahnya.
Ya Tuhaaaannn... Ambil nyawaku..! Pernikahan apa ini? Seumur-umur, sepanjang sejarah tidak ada pernikahan yang sekonyol ini. Ini pantas dimasukkan dalam Book Of Record sebagai pernikahan terkocak di dunia. Tidak bisakah kekonyolan ini berakhir sekarang? Kepalaku serasa mau pecah.
Ku alihkan pandangan ku pada ayah, ibu, ipar dan kedua calon mertua ku, yang ku temukan kelimanya malah seperti menikmati lelucon ini. Terasa remuk tubuhku.
"Fine, pak pendeta? Bisa ikrarkan adik saya sebagai suami-istri sekarang?"
Sehabis mendengar ucapan kakak keduaku, pendeta itu pun terpaksa mengulangi kalimatnya untuk mengikrarkan aku dan Shikamaru sebagai suami dan istri. Hanabi yang membawa cincin pernikahan kami berdua pun maju ke depan, Shikamaru mengambil cincin dengan ukuran yang lebih kecil dan memasangkannya di jari manis kiriku, yang kubalas dengan hal yang sama. Memasangkan cincin yang tersisa di jari manis sebelah kirinya.
Dengan ini aku nyatakan, sekarang namaku bukan lagi Yamanaka Ino, melainkan Nara Ino!
To Be Contiued...
A/N :
Aaaaa...! Apa yang Alleth tulis dichapter dua ini?! Niatnya sih melucu dengan dimasukin beberapa unsur humor. Tapi semoga gak maksa yaaa?! #walau ga yakin. Panjang juga chapter ini, padahal niatnya ga begini. Haduuuh..!
Terimakasih untuk semua yang mau membaca, me-review, nge-fave,nge-follow fic ini sebelumnya. Saya benar-benar merasa terdukung dan bersemangat untuk menulis chapter duanya. Dan saya begitu senang mendapatkan tanggepan yang positif dari para author dan readers.
Biar bagaimana pun, Alleth sadar bahwa fic ini masih jauh dari kata sempurna. Jadi, saya minta tolong pada semua yang telah membaca fic Alleth ini untuk memberikan tanggapan mengenai kekurangan, apa saja yang harus diperbaiki, dan juga motivasi-nya yaa? #ngarep!
So, review pleaseee...
