Disclaimer :

Detektif Conan milik Gosho Aoyama.

Catatan Penulis :

Waktunya balas komen!

Angry Nazar : Yah, kalau nggak terjadi sesuatu, ceritanya nggak jadi dong. XD

Ajnie : Ya kalau bukan Ran, siapa lagi? XD. Semoga fic ini benar-benar seru seperti harapanmu.

Cah Zhollowy : Pasangannya tetep seperti di 'Mimpi yang Sempurna'. Jadi siapakah dia? XD

Poppy : Terima kasih banyak. XD

Day-chan Dragneel : Kenapa nggak ada peran Shuichi? Karena tokoh utama fic ini Shiho dan Inspektur Yamato. XD. Tapi Shuichi pasti akan muncul kok. Karena ini bukan sekuel, melainkan OVA yang berbentuk side-story, jadi Shiho belum menikah. Iya, Inspektur Yamato kesengsem sama Shiho dan Shiho pun juga bisa jadi kesengsem sama Inspektur Yamato. Kalau cerita ringan, kayaknya 'Dia Milikku' itu ringan deh. Mungkin karena DC itu serial misteri, makanya aku jadi suka menambahkan hal yang samar-samar, yang pembaca harus menebaknya sendiri. XD

Aiwha : Shuichi mungkin baru muncul di akhir-akhir.

ilmaalya : Terima kasih banyak. Ditunggu komen selanjutnya. XD

CL : Iya, beda. Karena ini side-story dari fanfic itu dan tokoh utamanya juga beda. Iya, nanti kalau ada waktu, aku akan menontonnya. Maklum, kesibukan masih tetap menumpuk dan karena bulan puasa, agenda ibadah juga bertambah. XD

yuki-chan : Iya, aku tahu. Makna OVA yang kumaksudkan di sini bukan secara literal, tapi secara kontekstual. OVA biasanya menceritakan tentang suatu peristiwa yang terjadi pada seorang tokoh atau bisa juga merupakan side-story dari peristiwa yang menjadi plot utama. Fic ini termasuk side-story dari 'Mimpi yang Sempurna', bukan sekuel, karena peristiwa yang ada di fic ini terjadi sebelum epilog dari 'Mimpi yang Sempurna', makanya aku menyebutnya OVA. Selain itu, tokoh utamanya juga berbeda dengan 'Mimpi yang Sempurna'. XD

Aisha Haibara : Yah, aku harap persahabatan mereka tetap langgeng di DC meskipun mereka tidak berakhir bersama. XD

Kudo Jr : Caranya login ya, klik tombol login yang ada di sebelah kanan atas. XD

kudoujr : Iya, yang pertama dan mungkin juga yang terakhir. Semoga kamu bisa menikmatinya. XD

Waktunya curcol!

Wah, penulis sangat gembira karena penulis masih menerima banyak komen dari pembaca. Sebenarnya penulis tidak berharap banyak karena ini adalah crack pairing. Penulis harap para pembaca masih mau membaca dan mengomentari fanfic ini. Penulis merasa fanfic ini sangat menarik jadi penulis harap para pembaca juga bisa menikmatinya.

Selamat membaca dan berkomentar!


Mimpi yang Sempurna (OVA)

By Enji86

Bagian II

Shiho tidak mengerti kenapa semuanya menjadi seperti ini. Tapi disinilah ia sekarang, sedang menodongkan pistol pada pembunuh berantai yang sedang menyandera Inspektur Yamato yang terluka. Shinichi dan yang lain belum juga tiba karena mereka semua mengikuti petunjuk yang salah.

"Baiklah, polisi yang cantik, letakkan senjatamu ke tanah lalu tendang senjatamu itu ke arahku atau aku akan membunuh Inspektur-mu ini," ucap pembunuh berantai itu. Dia semakin mendekatkan pisau di tangannya ke leher Inspektur Yamato yang tidak berdaya.

Shiho pun menyeringai.

"Apa kau pikir aku bodoh? Saat aku memberikan senjata ini padamu, kau pasti akan langsung membunuhnya dan menjadikanku sandera, jadi mana mungkin aku mau menurutimu," ucap Shiho.

Inspektur Yamato pun memuji sikap Shiho barusan dalam hati karena itu adalah tindakan yang benar. Dia mengakui bahwa Shiho memang polisi yang hebat meskipun dia masih tidak menyukainya ketika melihat Shiho tersenyum manis pada para anak buahnya yang laki-laki.

"Begitu? Baiklah, kau memang tidak bodoh, tapi kau tidak punya pilihan lain bukan? Bukankah sebagai polisi, keselamatan sandera adalah yang utama?" ucap pembunuh berantai itu dengan nada mengejek.

"Mungkin, tapi sayangnya aku tidak termasuk yang berpikiran begitu," ucap Shiho sementara aura Sherry-nya mulai muncul. Wajah dan tatapan mata Shiho kemudian berubah menjadi jahat dan dingin sehingga membuat Inspektur Yamato dan pembunuh berantai itu menjadi merinding.

"Jadi bagaimana menurutmu kalau aku menghabisi kalian berdua. Dia Inspektur yang sangat menyebalkan, sementara kau hanya kecoak busuk yang juga membuatku sebal. Bukankah itu sangat menyenangkan?" ucap Shiho sambil menyeringai jahat.

"Apa yang sedang kau bicarakan? Tipuanmu itu tidak akan berhasil. Kau pasti sedang menakut-nakutiku agar aku melarikan diri dan melepaskan Inspektur-mu ini, ya kan?" ucap pembunuh berantai itu, meskipun dalam hati dia mulai merasa ketakutan.

"Sherry. Itu adalah nama sandiku. Apa kau pernah mendengarnya?" tanya Shiho sehingga mata pembunuh itu membesar. Dia memang pernah membaca di koran tentang organisasi kriminal yang sudah membunuh banyak orang tanpa meninggalkan bukti sedikit pun sehingga pembunuhannya tidak pernah terungkap. Menurut koran itu, anggota mereka yang paling berbahaya adalah anggota yang mempunyai nama sandi alkohol.

"Aku memang sudah bertobat dan menjadi polisi karena vonis pengadilan, tapi kadang-kadang kebiasaan lama itu masih suka muncul, terutama ketika aku bertemu dengan orang yang membuatku sebal. Dan oh, aku suka sekali menakut-nakuti. Jadi sebelum kita mulai kesenangannya, aku akan menceritakan rencananya padamu. Pertama kau harus membunuh sanderamu itu dulu. Lalu aku akan menakut-nakutimu dan membunuhmu. Kemudian aku akan berkata pada rekan-rekanku bahwa kau sudah membunuh Inspektur dan aku terpaksa membunuhmu untuk membela diri. Bagaimana menurutmu? Rencana yang bagus bukan?" ucap Shiho masih dengan seringaiannya.

Pembunuh berantai itu benar-benar merasa takut sekarang, begitu juga dengan Inspektur Yamato. Mereka berdua mulai berpikir bahwa ini bukan tipuan dan detik berikutnya Shiho sudah meyakinkan mereka.

Shiho menembakkan pistol di tangannya ke arah yang dekat sekali dengan telinga pembunuh berantai itu sebelum membuka mulutnya lagi.

"Jadi bisakah kau tolong aku untuk membunuhnya sekarang sebelum kita bersenang-senang?" tanya Shiho dengan senyum manis yang mengerikan di bibirnya dan baru kali ini Inspektur Yamato merasa begitu ketakutan seumur hidupnya. Matanya membesar dan tubuhnya menjadi kaku karena dia mengira Shiho benar-benar serius menginginkannya mati.

"Gyaa!" teriak pembunuh berantai itu sambil melarikan diri setelah dia melepaskan Inspektur Yamato dan pisau di tangannya.

Shiho pun tidak membuang waktu dan langsung membidik ke arah kaki pembunuh tersebut agar pembunuh tersebut tidak bisa melarikan diri. Pembunuh itu jatuh ke tanah sambil mengaduh kesakitan dan memohon agar Shiho tidak membunuhnya. Shiho tidak mempedulikannya dan berlari ke arah Inspektur Yamato yang juga jatuh ke tanah.

"Anda baik-baik saja, Inspektur?" tanya Shiho yang wajahnya sudah kembali seperti semula.

Inspektur Yamato tidak menanggapinya dan hanya menatapnya dengan ketakutan dan tubuh gemetar sehingga Shiho menampar wajahnya sendiri secara mental.

"Oh, bagus sekali, Shiho. Sekarang kau membuatnya takut padamu setelah sebelumnya dia tidak menyukaimu," ucap Shiho dalam hati.

Kemudian Shinichi dan yang lain pun datang setelah mendengar suara tembakan. Shinichi pun langsung memeluk Shiho begitu dia melihatnya.

"Kau baik-baik saja?" tanya Shinichi.

"Mmm, aku baik-baik saja," jawab Shiho.

"Baguslah kalau begitu," ucap Shinichi sambil melepaskan pelukannya.

"Tapi sepertinya Inspektur Yamato tidak baik-baik saja," ucap Shiho sambil melihat Detektif Uehara dan polisi lain membantu Inspektur Yamato.

"Jangan khawatir. Dia pasti akan baik-baik saja," ucap Shinichi.

"Aku harap juga begitu," sahut Shiho.

XXX

"Kan-chan, apa kau masih belum memaafkan Shiho-chan? Dia masih saja kelihatan lesu saat aku bertemu dengannya di luar tadi," ucap Detektif Uehara saat dia sudah duduk di kursi yang ada di samping tempat tidur Inspektur Yamato di klinik.

Inspektur Yamato hanya diam saja sambil berbaring membelakangi Detektif Uehara sehingga Detektif Uehara menghela nafas.

"Sudahlah, maafkan saja dia. Dia melakukan hal itu untuk menyelamatkanmu. Dia tidak benar-benar menginginkanmu mati. Kenapa kau begitu marah?" ucap Detektif Uehara.

"Bubur buatannya sangat enak. Aku jadi ingin memakannya setiap hari," ucap Inspektur Yamato dengan suara menggumam setelah hening sejenak.

"Huh?" ucap Detektif Uehara dengan kaget.

"Aku merasa senang setiap kali dia datang menjengukku. Tapi aku juga tidak senang karena setiap kali aku mencoba menatap wajahnya, wajahku tiba-tiba jadi panas dan jantungku jadi berdebar tidak karuan. Aku bahkan tidak bisa bicara padanya karena setiap kali aku akan bicara, seperti ada sesuatu yang menyumbat tenggorokanku," lanjut Inspektur Yamato.

"Kan-chan, kau...," ucap Detektif Uehara.

Kemudian Inspektur Yamato berbalik dan menatap Detektif Uehara.

"Apa kau tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi denganku?" tanya Inspektur Yamato dengan ekspresi wajah frustasi dan putus asa.

"Uh... yah... itu...," sahut Detektif Uehara yang kebingungan.

XXX

"Beraninya dia memutuskan hal itu. Aku akan bicara dengannya sekarang juga," ucap Shinichi dengan marah sementara Shiho berusaha menenangkannya.

"Sudahlah, Kudo-kun. Aku tidak apa-apa kok. Lagipula sepertinya aku memang bersalah dan aku memang harus lebih banyak belajar," ucap Shiho.

"Tapi...," ucapan Shinichi langsung dipotong oleh Shiho.

"Tidak ada tapi. Aku pasti bisa mengatasinya, jadi jangan khawatir. Lagipula kau masih baru di sini, jadi bagaimana bisa kau sudah mau protes pada Komisaris Matsumoto? Apa kau ingin dipecat?" ucap Shiho dengan agak mengomel.

"Kalau begitu aku akan memintanya untuk mengirimku ke Nagano juga," ucap Shinichi sambil mulai melangkah.

Shiho pun segera menghalanginya dan menahannya.

"Kudo-kun, aku benar-benar tidak apa-apa. Lagipula kasihan istrimu kalau harus kau tinggal lagi. Bukankah kalian baru beberapa bulan menikah? Tetaplah di sini dan lakukan tugasmu di sini sementara aku akan pergi ke sana dan melakukan tugasku di sana. Aku akan bekerja dengan baik sehingga aku bisa segera kembali ke sini, hmm?" ucap Shiho dengan nada agak membujuk.

Shinichi menatap Shiho dengan tatapan bahwa dia masih tidak rela, tapi pada akhirnya dia hanya bisa menghela nafas. Dia tahu istrinya akan komplain padanya lagi kalau dia mengikuti Shiho ke Nagano dan dia sudah lelah dengan komplain istrinya, terutama tentang Shiho.

"Baiklah, tapi berjanjilah padaku kau akan segera kembali," ucap Shinichi akhirnya.

"Iya, aku janji. Kalau aku bekerja dengan baik di sana, aku pasti akan segera kembali lagi kemari," ucap Shiho sambil tersenyum sehingga Shinichi spontan menarik Shiho ke dalam pelukannya.

Shiho pun agak terkejut. Tapi kemudian dia kembali tersenyum dan akhirnya nyengir.

"Kudo-kun, meskipun aku suka dipeluk olehmu, tapi kalau kita terus seperti ini, orang-orang akan salah paham, termasuk istrimu, sehingga dia pasti akan membunuhku suatu saat nanti, jadi lepaskan aku, oke?" ucap Shiho dengan nada menggoda.

Shinichi pun langsung melepaskan Shiho dan menatap Shiho dengan kening berkerut, tapi Shiho hanya nyengir padanya. Lalu tiba-tiba serombongan polisi laki-laki menghampiri dan mengerubungi Shiho sehingga Shinichi kembali terlempar ke pinggir seperti biasanya. Mereka sangat sedih karena Shiho harus pergi lagi ke Nagano, padahal Shiho baru saja kembali. Mereka juga berkata pada Shiho bahwa mereka siap mendemo Komisaris Matsumoto agar Shiho tidak jadi pergi.

Shiho pun menanggapi mereka dengan ucapan terima kasih sekaligus mengatakan pada mereka bahwa dia akan segera kembali, jadi mereka tidak perlu mendemo Komisaris Matsumoto dan hanya perlu bersabar menunggunya kembali. Mereka pun akhirnya menerimanya dan berharap Shiho akan segera kembali.

XXX

"Karena sekarang kau sudah resmi dimutasi kemari, maka kau harus mematuhiku sebagai atasanmu. Apa kau mengerti?" ucap Inspektur Yamato saat Shiho kembali menghadapnya di hari pertama Shiho masuk kerja.

"Siap, Pak," ucap Shiho dengan tegas.

"Bagus. Yang pertama, kau tidak boleh menerima makanan lagi dari anak buahku yang laki-laki dan kau tidak boleh bersikap terlalu ramah pada mereka," ucap Inspektur Yamato.

Shiho spontan hampir bertanya "Kenapa?", tapi dia berhasil menahannya.

Inspektur Yamato yang menyadari hal ini pun segera melanjutkan ucapannya.

"Aku tidak mau mereka kehilangan konsentrasi karena tergoda oleh seorang wanita," ucap Inspektur Yamato sehingga Shiho mengerutkan keningnya.

"Apa dia sedang menyindirku sebagai wanita penggoda?" ucap Shiho dalam hati dengan kesal.

"Saya mengerti, Pak," ucap Shiho dengan tetap menjaga nada suaranya yang datar.

"Yang kedua, kau harus membuatkan makan siang untukku setiap hari," ucap Inspektur Yamato.

Shiho hampir saja berseru "Apa?", tapi dia kembali berhasil menahannya.

Inspektur Yamato pun kembali menyadarinya sehingga dia segera menambahkan.

"Ini sebagai hukuman karena kau menyebutku Inspektur yang menyebalkan," ucap Inspektur Yamato dengan nada tidak peduli.

"Baik, Pak," sahut Shiho karena dia tidak ingin membela diri mengenai kejadian itu.

"Dan yang ketiga, saat aku menyuruhmu untuk ikut denganku, kau harus ikut denganku. Itu saja. Kau boleh pergi sekarang," ucap Inspektur Yamato.

"Baik, Pak," ucap Shiho. Dia memberi hormat sebelum berbalik dan melangkah pergi.

"Jadi dia tidak menyukaiku dan dia marah karena aku bilang dia Inspektur yang menyebalkan. Lalu sekarang dia adalah atasanku dan aku harus mematuhinya. Betapa sempurnanya," keluh Shiho dalam hati sambil melangkah keluar dari ruangan Inspektur Yamato.

Tiba-tiba Shiho jadi menyesal menahan Shinichi agar tidak ikut dengannya ke sini, karena semuanya pasti akan terlihat lebih baik kalau Shinichi ada di sini bersamanya. Tapi dia segera mengusir perasaan itu karena dia sudah berjanji tidak akan merepotkan Shinichi lagi dengan masalahnya. Dia tidak boleh manja dan selalu bergantung pada orang lain lagi.

Shiho kemudian menghela nafas panjang. Dia punya janji yang harus ditepati pada Shinichi dan dia akan menepatinya.

Sementara itu, setelah Shiho keluar dari ruangannya, Inspektur Yamato pun tersenyum puas. Dia pun merasa sangat berterima kasih pada Detektif Uehara yang sudah membantunya menyadari perasaannya pada Shiho sehingga dia tidak kebingungan lagi.

Baru kali ini Inspektur Yamato merasa dia begitu menginginkan sesuatu. Sesuatu itu adalah seorang wanita bernama Shiho Miyano. Dan dia akan berusaha keras untuk mendapatkannya. Dia sadar kakinya yang pincang dan matanya yang tinggal satu akan menjadi kelemahannya karena Shiho adalah wanita yang disukai banyak pria, jadi Shiho punya banyak pilihan, tetapi itu tidak membuatnya mundur karena dia punya banyak hal lain yang bisa ditawarkan pada Shiho dan dia yakin dia bisa memuaskan dan membuat Shiho bahagia. Lagipula Shiho sepertinya tidak tertarik dengan pria manapun. Satu-satunya pria yang dekat dengan Shiho adalah Shinichi dan Shinichi sudah menikah, jadi dia tidak punya saingan yang berarti. Sekarang dia sudah berhasil membuat Shiho dimutasi ke Nagano dan dia akan memastikan bahwa Shiho akan selalu menghabiskan hari-harinya bersamanya.

XXX

Para polisi laki-laki di Kepolisian Nagano pun hanya bisa gigit jari setelah Inspektur Yamato mengeluarkan peraturan bahwa para polisi yang laki-laki dilarang memberikan makanan pada Shiho dan dilarang bersikap ramah pada Shiho. Mereka sempat merasa gembira karena Shiho akan pindah ke Kepolisian mereka, tapi sekarang kegembiraan mereka itu sudah terbang entah kemana karena sekarang mereka tahu bahwa Inspektur mereka menaruh hati pada Shiho dan ingin mendapatkan Shiho sebagai miliknya.

Hal itu pun menjadi rahasia umum di Kepolisian Nagano. Hal itu disebut rahasia karena Shiho sendiri tidak sadar akan hal itu. Peraturan itu malah membuat Shiho semakin yakin bahwa Inspektur Yamato sangat tidak menyukainya dan ingin membalas dendam kepadanya akibat kejadian dengan pembunuh berantai di hutan.

Hari-hari selanjutnya dihabiskan Shiho dengan mengikuti Inspektur Yamato kemanapun Inspektur Yamato pergi karena Inspektur Yamato selalu menyuruhnya ikut dengannya. Shiho pun hanya bisa menggerutu dalam hati, sementara di luar dia harus terus bersikap baik. Dia tidak boleh membuat masalah dengan Inspektur Yamato supaya dia bisa cepat kembali ke Kepolisian Pusat. Tapi sepertinya semakin hari, hal itu menjadi semakin sulit karena sepertinya Inspektur Yamato tahu benar bagaimana cara membuatnya kesal.

XXX

"Shiho-chan, kau sedang apa?" tanya Detektif Uehara pada Shiho yang sedang memotong sayuran di dapur dengan kesal. Sepertinya dia sedang membayangkan sayuran yang dipotongnya itu sebagai Inspektur Yamato.

Shiho yang terlalu sibuk dengan kekesalannya pun menjadi kaget sehingga pisau di tangannya jatuh ke lantai dan berhenti di dekat kaki Detektif Uehara.

Suasana menjadi hening sejenak, kemudian Detektif Uehara mengambil pisau tersebut dan menyodorkannya pada Shiho sambil tersenyum.

"Maaf sudah mengagetkanmu," ucap Detektif Uehara.

"Mmm, tidak apa-apa, Yui-san," sahut Shiho sambil menerima pisau itu. Dia kemudian mencuci pisau itu di wastafel dan kembali meneruskan memotong sayuran dengan wajah datar.

"Apa kau sedang membuat bento untuk Kan-chan?" tanya Detektif Uehara sambil berdiri di sebelah Shiho.

"Iya, begitulah," jawab Shiho.

"Dia lebih suka kalau kacang panjangnya dipotong kecil-kecil," ucap Detektif Uehara.

"Benarkah?" tanya Shiho.

"Iya," jawab Detektif Uehara.

Shiho pun menghela nafas sehingga Detektif Uehara tersenyum. Dia kadang-kadang bingung dengan Inspektur Yamato. Katanya Inspektur Yamato ingin membuat Shiho jatuh cinta, tapi yang dilihat Detektif Uehara malah Shiho sepertinya semakin membenci Inspektur Yamato meskipun Shiho tidak pernah menunjukkannya.

"Hei, Yui-san, sepertinya kau sangat mengenal Inspektur Yamato ya?" tanya Shiho tiba-tiba.

"Begitulah. Kami sudah berteman sejak kecil," jawab Detektif Uehara.

"Ooh, kalau begitu bisakah kau membantuku?" tanya Shiho lagi.

"Tentu. Apa yang bisa kubantu?" jawab Detektif Uehara sambil balik bertanya.

Shiho pun tersenyum mendengarnya.

Siang harinya, setelah Inspektur Yamato menghabiskan bentonya bersama Shiho, dia merasa seperti ada yang kurang dari makan siang mereka hari itu. Dia pun mulai mengingat-ingat dan beberapa saat kemudian dia sadar kalau dia sama sekali tidak komplain tentang bentonya hari itu. Ketika dia mengalihkan perhatiannya ke Shiho, dia melihat Shiho menoleh ke samping sambil menyeringai penuh kemenangan sehingga dia mengerutkan keningnya.

Di mata Inspektur Yamato, Shiho selalu terlihat manis ketika dia komplain tentang bentonya, karena Shiho akan berusaha keras bersabar meskipun dari mata Shiho dia bisa melihat kalau Shiho ingin sekali mencekiknya. Tapi sekarang Shiho jadi terlihat jauh melebihi manis.

"Sial! Kalau begini, aku jadi semakin menginginkannya," ucap Inspektur Yamato dalam hati dengan wajah agak merona sambil mengalihkan pandangannya.

Bersambung...