The Tale of Naruto
.
Chapter 2: New Family.
.
Siang yang dingin. Hujan tak henti-henti menjatuhkan airnya dari langit. Karena hujan yang tak berhenti-henti ini, desa ini disebut...
"Desa hujan ya?" Gumam Naruto ketika melihat peta. "Dingin sekali." Ucapnya pelan. Iapun melangkahkan langkahnya memasuki desa itu.
DUAR
Suara ledakan terdengar. Narutopun panik. Ia mencoba mendengar darimana asal suara itu. Ia terus berlari.
DUAR
Suara ledakan itu terjadi lagi. Naruto mencoba menajamkan pendengarannya. Ia berlari ke asal suara itu.
Di Tempat Ledakan Itu Berasal.
"KONAANN!" Teriak seorang pria berambut merah. Temannya, Konan, sedang disandera. Ia dan teman satunya lagi, Yahiko, dikepung oleh Shinobi Konoha dan Shinobi Amegakure yang berpihak pada Hanzo. "Sial.." Nagato, pria itu menggeram kesal. Karena saat ini, sahabatnya yang satu telah disandera. Terlebih lagi, yang menyanderanya adalah Hanzo, orang yang berjanji berdamai dengan organisasinya demi membentuk Amegakure yang baru.
"Bunuh temanmu yang satu lagi atau wanita ini yang kubunuh!" Teriak Hanzo sambil melemparkan kunai ke arah Nagato.
"Sial.." Geram Nagato.
Dari kejauhan, Naruto mengintip mereka. 'Kasihan sekali.. Mereka dikepung! Siapa yang baik dan siapa penjahatnya?!' Batin Naruto. Iapun kembali melihat dan mendengar apa yang mereka bicarakan. 'Oh, jadi yang jahat itu yang mengepung mereka? Orang lemah hanya bisa mengandalkan jumlah.' Lanjut Naruto dalam hati ketika mendengar ancaman Hanzo pada kedua orang pria. 'Kakek tua itu?! Bukankah ia salah satu tetua Konoha?! Cih! Ternyata dia membantu orang jahat ya! Pantas saja. Semua orang Konoha adalah orang jahat!' Batin Naruto dalam hati sambil menggeram kesal. 'Aku ingin membantu mereka!' ucap Naruto.
Narutopun konsentrasi untuk berbicara dengan Kyuubi. 'Hey tuan Kyuubi, kau tahu apa yang kuinginkan kan?!' Ucap Naruto kesal.
'Baiklah baiklah.. Apa kau tidak apa memperlihatkan wajahmu pada mereka?' Balas Kyuubi.
Naruto berpikir. Kebetulan sekali ia menemukan topeng rubah yang tergeletak di sampingnya. 'Sepertinya bekas peperangan..' Batinnya. 'Nah, aku sudah menggunakan topeng! Cepat berikan kekuatanmu! Nanti salah satu dari mereka akan terbunuh!' Ucap Naruto dalam hati pada Kyuubi.
'Haah.. Ya ya, Tuan Uzumaki. Sekarang konsentrasilah. Aku belum bisa memberimu setengah kekuatanku karena tubuhmu masih berumur 5 tahun. Jadi kekuatan ini mungkin hanya bisa menggertak mereka.'
'Terserah!' Narutopun berkonsentrasi. Tak lama kemudian kumpulan Chakra merah menyelimuti tubuhnya.
Kembali kepada Hanzo dkk..
"Bunuh dia! Ini yang terakhir kalinya! Bunuh dia atau wanita ini lenyap!" Gertak Hanzo pada Yahiko dan Nagato.
"Jangan dengarkan dia Nagato! Biarkan aku mati saja asal kau dan Yahiko hidup!" Teriak Konan dan mendapat tamparan dari Hanzo.
Nagato hanya menggeram kesal.
"Nagato, bunuh aku. Kau dan Konan harus selamat." Ucap Yahiko pelan pada Nagato.
"Tidak! Aku ingin kalian berdua!" Jawab Nagato.
"Ambil kunai itu." Perintah Yahiko. Nagatopun mengambil kunai yang tadi dilempar Hanzo. Yahikopun berlari ke arah Nagato. Bermaksud untuk bunuh diri. Tapi..
"RROOAARRGHH"
Terdengar sebuah auman.
Dan tiba-tiba muncul seorang pemuda berambut kuning yang memakai topeng rubah. "Lepaskan mereka!" Teriak pemuda tadi.
"Siapa kau ha?!" Gertak Hanzo.
"Lepaskan mereka atau kalian mati!" Naruto, pemuda yang memakai topeng rubah itu balas mengancam. Mereka hanya tertawa menganggap seorang anak kecil dapat membunuh mereka. "Cih!" Narutopun melakukan handseal.
"Fuuton: Kazekiri no Jutsu!" ucapnya. Sebuah angin yang tak terlihatpun langsung menyayat sebagian dari pasukan Hanzo dan Danzou.
Hanzo dan Danzopun tercengang. Danzou langsung membubarkan pasukan sementara Hanzo bersi keras untuk melawan Naruto. "Cih! Sial kau Danzou!" Geramnya kesal setelah melihat Danzou dan pasukan ANBU Ne meninggalkannya.
"Serang dia!" Ucap Hanzo. Para pasukan yang tersisa, berjumlah 50 orangpun langsung maju.
Ada celah, Yahiko dan Nagato menyelamatkan Konan. "Syukurlah..." Ucap Yahiko lega. "Mari kita pergi dari sini!" Ucap Nagato. Yahiko mengangguk.
"Tapi anak itu? Kita harus membantunya!" Ucap Konan.
"Baiklah kita akan membantunya. Jangan sampai kita mati!" Ucap Yahiko. Nagato, Yahiko, dan Konan kini membantu Naruto.
Sementara itu, Naruto kini dalam pertarungan sengit melawan pasukan Hanzo.
"Fuuton: Shinkugyoku!" Naruto menarik nafasnya, dan kemudian menyemburkan peluru-peluru angin dari mulutnya. Beberapa pasukan Hanzopun mati.
Tidak menyerah, Hanzo membuat handseal, "Katon: Haisekishou!" Setelah melakukan Handseal, dari mulut Hanzo keluar asap. Naruto, Nagato, Yahiko dan Konan berada dalam asap itu.
'Jurus ini...' Batin Naruto. "Semua! Keluar dari asap ini!" Teriak Naruto. Semua pun mencoba keluar dari asap tebal ini.
Dan beberapa detik setelah mereka keluar, asapnya meledak. Merekapun terhampar di tanah. 'Sial.. Aku ingin melindungi Yahiko dan Konan... dan juga mungkin anak itu..' Geram Nagato kesal. Mata Nagatopun berubah menjadi berwarna ungu dan terdapat lingkaran yang mengelilingi pupilnya. "Shinra Tensei!" Ucap Nagato tanpa sadar karena belum bisa mengontrol kekuatan Rinnegan dan Hanzopun terhempas jauh.
Menyadari celah, Naruto membuat handseal, "Fuuton: Shinkuha!" Iapun menarik napas dari mulutnya, kemudian mengeluarkan pedang-pedang dari mulutnya, pedang itu membuat pasukan Hanzo terpotong-potong. "Keluarkan jutsu jarak jauh kalian dan serang Hanzo mumpung dia sedang melemah!" Perintah Naruto pada Yahiko dan Nagato.
"Fuuton: Shinkuha!"
"Suiton: Suiryuudan!"
"Katon: Hoenka!"
Ucap Naruto, Yahiko dan Nagato bersamaan sambil mengeluarkan jutsu jarak jauh mereka.
Angin, Air, dan Api menghantam tubuh Hanzo. Hanzo mati seketika dan saat itu juga Naruto kehilangan banyak chakra dan pingsan. Konan menangkap tubuh Naruto sebelum terjatuh ke tanah.
"Tuhan mengirimkan kita malaikat sekecil ini..." Ucap Konan dengan lirih. Tanpa sadar air matanya keluar. Nagato dan Yahiko tersenyum.
"Bawa dia ke markas. Kita rawat dia." Ucap Nagato yang kemudian menggendong Naruto. "Di umur segini, ia bisa menggunakan jurus elemen angin tingkat tinggi.." Gumam Nagato sambil melepaskan topeng rubah milik Naruto. Dan terlihatlah wajah imut Naruto yang seperti sedang tertidur.
"Wah! Lucunya! Kita angkat jadi anak yuk, Yahiko!" Ucap Konan dengan semangat.
"Hee?! Ki-kita belum menikah.." Jawab Yahiko dengan rona merah di pipinya.
"Lalu kapan kita nikah?~" Konan makin semangat menggoda Yahiko.
"Uh.. Konan, berpacaran saja kita belum.." Ucap Yahiko dengan wajah malu-malunya. Nagato hanya terkekeh melihat tingkah kedua sahabatnya. 'Siapa kira anak selucu ini sebenarnya adalah ninja yang menyeramkan.' Batin Nagato sambil tersenyum.
.
.
.
"Dimana.. Ini.." Ucap Naruto pelan seraya membuka kedua matanya. Samar-samar terlihat pemandangan saluran air dan sebuah penjara segel. 'Cih, tempat ini. Apa aku sudah mati?' Batin Naruto. Narutopun berdiri. "Hey Tuan Kyuubi, kenapa kau menyeretku kemari?" Ucap Naruto pada Kyuubi sambil memegang kepalanya yang pusing.
"Bodoh, jika kau kehabisan chakra dan pingsan, kau akan sendirinya terseret ke sini." Ucap Kyuubi yang sedang menutup matanya, mencoba untuk tidur.
"OH! Lalu? Bagaimana caraku kembali ke duniaku?" Tanya Naruto pada Kyuubi.
"Kalau kau sudah sadar, berarti beberapa menit lagi kau akan kembali ke dunia nyata." Jawab Kyuubi masih dengan mata tertutup.
"Oh! Oke oke!"
"Salah kau sendiri menggunakan chakraku berlebihan dan hey, siapa yang mengajarimu jurus Fuuton tingkat A?!" Tanya Kyuubi dengan heran. Seingatnya dia tidak pernah memberi tahu Naruto jutsu Fuuton (Angin) tingkat A. Dan lagi, chakra alami Kyuubi adalah Katon (Api).
"Entahlah. Tiba-tiba saja aku mengetahui jutsu itu. Aku sendiri tidak tahu bagaimana caranya. Aku kira aku dikendalikan dirimu." Jawab Naruto sambil mengangkat pundaknya pertanda ia tak tahu.
"Lain kali kau harus hati-hati. Menggunakan jurus Fuuton tingkat A dan umurmu baru 5 tahun. Kau sudah setara dengan Jounin." Ucap Kyuubi dengan senyuman atau mungkin seringaian di wajahnya.
"Yeah! Aku seorang Jounin!" Ucap Naruto bahagia.
"Jadi, kau sudah semakin kuat untuk membantai orang-orang Konoha itu kan?" Tanya Kyuubi dengan seringainya.
"Tentu saja." Jawab Naruto dengan seringainya juga. "Ohya, Tuan Kyuubi, Apa tidak bisa kita mengganti pemandangan segelmu?! Masa setiap aku pingsan karena kehabisan chakra aku akan ada di saluran pembuangan ini lagi?!" Ucap Naruto kesal.
"Heh. Jika kau sudah berumur 10 tahun dan menguasai Fuinjutsu, kau bisa." Jawab Kyuubi.
"Huh baiklah! Aku akan belajar Fuinjutsu!" Tiba-tiba saja tubuh Naruto perlahan menghilang.
"Nah. Kau akan kembali ke dunia nyata bocah." Ucap Kyuubi pelan.
.
.
Naruto membuka matanya perlahan. Ia melihat sekeliling. Langit-langitnya berwarna putih. Rumah sakit? Bukan. Dia bukan di rumah sakit. Naruto kembali melihat ke sampingnya. Terlihat 2 orang laki-laki berambut merah dan oranye sedang bercanda. Lalu ada wanita berambut biru sedang kesal. Mungkin ia ditertawakan dua orang itu?
"Hey lihat, siapa yang bangun!" Ucap Yahiko semangat ketika melihat mata Naruto perlahan terbuka. "Hai sobat!" Lanjutnya dengan semangat.
'So-sobat? I-ini pertama kalinya aku dipanggil sobat selain oleh Arata-nii..' Batin Naruto.
Kini terlihat Konan dan Nagato juga menghampiri Naruto.
"Hey, kau tak apa?" Tanya Nagato dengan senyuman.
"A.. aku.. dimana?" Naruto balas Tanya. Kepalanya masih pening.
"Kau di rumah kami. Karena kami tak tahu rumahmu dan tak ada yang mengetahuimu, jadi kubawa saja ke rumah kami!" Ucap Yahiko tanpa rasa bersalah.
"Terimakasih.." Jawab Naruto. Naruto kini sudah penuh sadar.
"Siapa namamu?" Tanya Konan dengan nada manisnya.
"Uzumaki Naruto. Kalian?" Tanya Naruto kembali.
"Whoa Nagato! Marganya sama denganmu! Uzumaki memang orang hebat!" Ucap Yahiko. Naruto dan Nagato sama-sama kaget.
"Kau.. Uzumaki?" Tanya keduanya, Naruto dan Nagato bersamaan. "Ya." Jawab keduanya bersamaan.
"Tuhkan! Kalian memang sama! Sama-sama bertanya dan sama-sama menjawab!" Ucap Yahiko lagi.
"Lalu dimana keluargamu, Naruto?" Tanya Nagato.
"Aku tidak mempunyai keluarga..." Jawab Naruto. Tersirat kesedihan di wajahnya. Ya, Naruto mempunyai keluarga. Masalahnya, apakah keluarganya mengakuinya?
Nagato, Yahiko dan Konan tercengang mendengar itu. 'Seperti kita..' Batin ketiganya bersamaan.
"Lalu, dimana rumahmu?" Kali ini Konan yang bertanya.
"Aku tidak mempunyai rumah..." Jawab Naruto dengan raut wajah sedih juga. "Aku pergi tak mempunyai tujuan.." Lanjut Naruto.
"Oh.." Ucap Nagato, Konan, dan Yahiko bersamaan. Mereka juga sedih.
"Yah, setidaknya aku mempunyai seorang paman.." Ucap Naruto lirih dan tersenyum pada Nagato. Nagato balas tersenyum dan memeluk Naruto.
"Kau boleh menganggap kami keluargamu sobat kecil!" Ucap Yahiko semangat.
"E-eh? Boleh?" Tanya Naruto dengan ekspresi terkejut.
"Tentu saja." Jawab Konan disertai senyumannya.
"Yey! Lalu nama kalian siapa? Apakah kita akan tinggal bersama dan bahagia selamanya? Lalu, lalu, apakah kita akan main bersama dan menghabiskan waktu bersama?!" Tanya Naruto dengan semangat sambil loncat-loncat.
"Sabarlah sobat kecil! Kami akan memperkenalkan diri kami, Aku Yahiko, dia Nagato dan yang perempuan ini Konan!" Ucap Yahiko.
"Baiklah, Yahiko-san, Nagato-san dan Konan-chan!" Ucap Naruto dengan nada imutnya itu(?)
"Hey hey.. kenapa Konan saja yang diberi akhiran –chan?" Tanya Yahiko dengan muka cemberut,
"Yahiko-san juga ingin dipanggil dengan akhiran –chan?" Ucap Naruto dengan wajah polos nan innocent.
"Bukan begitu!" Yahiko makin cemberut.
"Abisnya Konan-chan cantik sih, jadi ya aku pakai akhiran –chan saja!" Ucap Naruto tanpa rasa bersalah. Konan hanya tertawa pelan. Nagato hanya melihat Naruto dengan senyuman dan Yahiko sweatdrop. Naruto hanya memasang cengiran khasnya. 'Akhirnya, aku menemukan keluarga ya..' Batin Naruto senang.
.
.
"Ohya Naruto, Kau berasal dari mana?" Tanya Nagato yang kini sedang membuatkan teh panas pada 'keponakannya' tanpa melihat ke arah yang ditanya.
"Em, Aku berasal dari Konoha. Tapi mereka mengusirku dari desa mereka.. Ehehehe.." Jawab Naruto sambil menggaruk kepala belakangnya yang tidak gatal.
"Hee? Kenapa mereka mengusirmu?" Tanya Nagato yang kini memandang Naruto.
"Sebenarnya mereka tidak mengusirku, aku yang memutuskannya. Setiap hari aku selalu disiksa penduduk. Bahkan aku pernah hampir mati!" Ucap Naruto dengan raut wajah kesedihan. Nagato mengingatkannya pada masa lalunya yang ingin ia tinggalkan. Nagato hanya memerhatikan Naruto. Nagato menganggap bahwa Klan Uzumaki selalu diperlakukan tidak adil, bahkan desanya, Uzushiogakure saja dihancurkan.
"Kenapa mereka memperlakukanmu seperti itu?!" Tanya Nagato dengan nada kesal.
"Mereka menyebutku... Monster." Gumam Naruto pelan. Tetapi kata itu terdengar di telinga Nagato.
"Jinchuuriki Kyuubi ya.." Ucap Nagato.
"E-eh?! Nagato-nii sudah tahu?!" Naruto terbelalak. Ia sebenarnya tidak ingin Yahiko, Nagato dan Konan tahu kalau ia adalah Jinchuuriki Kyuubi. Ia takut mereka bertiga akan memperlakukannya sama seperti saat ia diperlakukan oleh penduduk desa.
"Ya. Aku mempunyai Dojutsu Rinnegan. Dengan itu aku bisa melihat ke alam bawah sadarmu ketika kau sedang pingsan, dan aku melihat kau mengobrol dengan Kyuubi." Ucap Nagato sambil tersenyum.
"Eh? Na-Nagato-nii tidak takut padaku?" Tanya Naruto heran. Biasanya yang tahu Naruto adalah Jinchuuriki pasti akan takut dan mencoba membunuhnya.
"Kenapa mesti takut? Kau ini bocah yang lucu." Ucap Nagato seraya mengusap rambut Naruto dengan senyumnya. Naruto juga tersenyum. Tersenyum tulus. 'Jadi ini yang namanya keluarga..' Batin Naruto.
"La-lalu? Apa Yahiko-nii dan Konan-nee juga tahu akan hal ini? Apa mereka akan benci padaku jika mengetahui aku ini Jinchuuriki?" Tanya Naruto kini dengan raut wajah sedih.
"Tentu mereka tahu dan tidak. Mereka tidak akan benci padamu. Buktinya saat kau bangun kau disambut hangat oleh mereka kan?" Nagato tersenyum pada Naruto. Naruto membalas senyuman Nagato. "Keluarga tidak akan membenci keluarganya kan?" Lanjut Nagato sambil tersenyum. Iapun meninggalkan Naruto di kamarnya. 'Ya keluarga.. Keluarga tidak akan membenci keluarganya. Berarti ayahku itu bukan keluargaku. Lihat saja. Akan kuhancurkan Konoha. Dan ambisiku mulai sekarang adalah, menjaga Nagato-nii, Yahiko-nii dan Konan-nee dan menghancurkan Konoha!' Naruto mengepalkan tangannya.
.
.
Mentari mulai menyinari bumi. Memberikan cahaya hangat ke bumi yang 'baru bangun'. Kicauan burung-burung seolah menjadi alarm pagi. Terlihatlah lelaki berambut pirang sedang tertidur di rumah barunya. Bersama keluarganya. "Hoaamm.." Naruto membuka kedua matanya. Ia mengangkat tangannya ke atas, meregangkan tubuhnya setelah terlelap selama beberapa jam.
"Ohayou Naruto-chan." Sapa seseorang berambut biru, Konan, sambil melayangkan senyum manisnya pada Naruto.
"Ohayou Konan-nee." Jawab Naruto masih sambil meregangkan tubuhnya. Jiwanya kini belum sepenuhnya sadar. "..uh, tadi Konan-nee manggil aku apa? Naruto-chan... hm.. Naruto... CHAN?!" Teriak Naruto ketika baru sadar bahwa namanya diberi suffix –chan oleh orang yang sekarang sudah ia anggap sebagai kakak perempuannya. Konan hanya tertawa kecil melihat perilaku adiknya.
Setelah kejadian gajelas tadi, kini Naruto sedang ada di meja makan. Ia melihat Yahiko sedang terdiam dan Nagato asik membaca koran. Sementara Konan kini sedang bersiap memasak.
"Yo sobat kecil!" Panggil Yahiko ketika melihat Naruto.
"Yahiko-nii!" Narutopun berlari ke arah Yahiko dan meloncat ke arahnya. Yahikopun menangkap Naruto dan kemudian mengendong Naruto dengan riangnya.
"Kau sudah bangun dari tidur lelapmu, hm?" Tanya Yahiko yang hanya diberi anggukan semangat dari Naruto.
"Yahiko-nii, Yahiko-nii! Setelah sarapan mari kita latihan Taijutsu!" Ucap Naruto semangat.
"Wah kau suka latihan juga?! Baiklah, kini lawan latihanmu akan sedikit lebih berat, Naruto-chan!" Tantang Yahiko dengan muka yang.. err, serem?
"Wah.. wah! Baiklah! Bagaimana setelah latihan Taijutsu, kita lanjutkan dengan lomba push-up 400 kali!" Kali ini Naruto menantang.
"500!" Ucap Yahiko yang menambahkan nominal push-up yang akan dilakukannya bersama Naruto(?)
"Deal!" Jawab Naruto dengan tatapan menantang.
Nagato dan Konan hanya sweatdrop melihat tingkah laku dua orang kelebihan stamina itu.
"Yahiko-kun, Naruto-kun, Sebaiknya kalian istirahat dulu." Ucap Konan yang masih memasak makanan.
"Yosh! Sehabis makan siang, bagaimana Yahiko-nii?" Tanya Naruto.
"Baiklah!" Jawab Yahiko.
"Tapi ditambah dengan lomba lari 10 putaran! Bagaimana?" Naruto menatap Yahiko dengan wajah menantang.
"Tidak setuju. 20 putaran saja. Kau takut, Naru-chan?" Kini Yahiko yang menantang.
"Yosh! Lomba lari 20 putaran dan push-up 500 kali! Deal!" Teriak Naruto dengan semangat.
"Yah, beginilah jadinya kalau dua orang kelebihan stamina dipertemukan.." Gumam Konan pelan. Nagato hanya terkekeh mendengar itu.
.
Sementara itu, di Konohagakure..
"Naruto.." Ucap laki-laki berambut merah dengan lirih. Ia menahan isak tangisnya sambil membaca surat terakhir adiknya itu. 'Sudah dua hari sejak Naruto meninggalkan desa ya..' batinnya. Ia kembali melihat surat itu.
Untuk, Arata-nii.
Maaf ya aku sudah membebani Aniki. Aku sudah meninggalkan Konoha. Aku tidak ingin membebani Aniki. Lagipula, penduduk dan Tou-san akan senang bila aku meninggalkan Konoha. Aku berencana mengembara. Tinggal pindah-pindah. Aku sudah tidak mau tinggal di Konoha. Hanya menyusahkan orang-orang saja. Sampai sini saja ya obrolan kita. Sampai jumpa, aniki ku tercinta, Arata Uzumaki!
Tertanda, Naruto Uzumaki.
'Kau sama sekali tidak membebani Nii-san, Naruto..' Batinnya. Hatinya semakin perih. Adik satu-satunya kini telah meninggalkannya. Sedihnya lagi, orang yang membuat adiknya pergi itu adalah Ayahnya dan desanya. 'Naruto, Semoga kau mendapatkan keluarga yang jauh lebih layak kau dapatkan disana.' Gumamnya pelan.
"Hey sudahlah! Jangan menangisi bocah monster itu!" Ucap Minato yang mencoba menenangkannya. Itu malah membuat Arata semakin kesal.
"Pergi dari kamarku!" Perintah Arata dengan suara tinggi. Suaranya masih bergetar, tak kuat menahan sedihnya.
"Cih. Menangisi orang yang membunuh ibumu." Dengus Minato kesal.
"Naruto tidak membunuh ibu!" Teriak Arata. Minato hanya bisa mendengus pasrah.
"Ohya, besok kau akan masuk Akademi. Aku ingin kau bersiap dan menjadi ninja yang hebat." Ucap Minato sambil melangkahkan kakinya keluar dari kamar Arata.
Arata masih menangis seharian di kamarnya.
.
.
Esoknya, di depan Akademi Konoha. Penerimaan murid baru..
"Ya. Tou-san hanya bisa mengantarmu sampai sini. Nanti kau akan dibimbing oleh Iruka-sensei disana." Ucap Minato sambil tersenyum ke anaknya. Iapun meninggalkan Arata diantara kerumunan orang tua dan anaknya.
"Ohayou Hokage-sama." Ucap pria bermata onyx pada Minato. Ia kini sedang menggandeng seorang bocah kecil, mungkin anaknya.
"Ohayou Fugaku-san." Minato menyapa balik pria itu, Fugaku.
"Jadi, Arata masuk akademi juga?" Tanya Fugaku mencoba basa-basi dengan Minato.
"Yap. Lalu, adiknya Itachi juga masuk akademi? Wah, wah."
"Ya. Perkenalkan, Uchiha Sasuke."
"Yo, Sasuke. Semoga kau menjadi ninja hebat seperti kakakmu Itachi." Minato menjabat tangan Sasuke sambil menjongkok untuk menyamakan tingginya dengan Sasuke. Yang disapa hanya mendengus kesal. 'Cih. Bahkan Hokage saja mengakui Itachi. Lihat saja, aku akan melebihi aniki!' Batin Sasuke.
.
.
Suasana kelas Akademi terlihat ramai. Banyak murid memperkenalkan dirinya masing-masing pada teman barunya. Di bangku baris ketiga dari depan, terlihatlah seseorang berambut merah dan berwajah tampan sedang dikelilingi fans-fansnya. Wajahnya terlihat dingin. Tersirat kebencian. Ia berdiam diri dan pasrah diganggu oleh fansgirl-nya. Ia sendiri tidak ingat sejak kapan ia punya fansgirl. Di sampingnya, duduk seseorang bermata Onyx dan berambut emo. Dan entah kenapa ia juga dikelilingi fansgirlnya. Ya, Arata dan Sasuke. Arata yang diberkahi ketampanan ayahnya dan rambut indah ibunya. Lalu Sasuke yang iberkahi wajah manis ibunya dan mata onyx dingin khas Uchiha.
Dua bangku di belakang mereka, terlihatlah seorang laki-laki yang sedang makan kripik yang entah sejak kapan ia bawa. Di sampingnya ada pemuda berambut nanas dengan tampang malas seolah mengatakan aku-ingin-pulang-dan-tidur. "Choji, jika sensei sudah datang, bangunkan aku." Ucap laki-laki itu, Shikamaru pada teman sebangkunya, Chouji. "Ya baiklah." Jawab Chouji singkat dan kemudian kembali memakan kripik langsung menenggelamkan wajahnya di tangannya yang ia jadikan bantal. Baru beberapa detik Shikamaru tidur, tiba-tiba saja...
"SREK!" Pintu kelas digeser. Kini terlihatlah seorang laki-laki berumur 20 tahunan yang mempunyai goresan luka yang membentang di pangkal hidungnya.
"Ohayou, Minna-san! Namaku Iruka Umino. Aku adalah guru kalian selama di akademi. Mohon bimbingannya!" Ucap Iruka seraya membungkukan badannya tanda hormat. Murid-murid langsung berlari ke arah bangkunya masing-masing.
"Ha'i!" Ucap murid-murid bersamaan.
"Di hari pertama, kita mulai perkenalan dulu. Aku akan memanggil kalian dan kalian akan memperkenalkan diri kalian di depan kelas. Paham?" Ucap Iruka.
"Paham!" Sahut murid-murid bersamaan.
"Yosh. Mulai dari kau, yang berambut merah." Ucap Iruka sambil menunjuk ke arah Arata. Aratapun langsung maju ke depan memperkenalkan dirinya di depan kelas.
"Namaku Arata Uzumaki. Salam kenal." Ucap Arata singkat. Ia masih sedih karena adiknya telah meninggalkannya. Iruka tahu itu. Ia tahu bahwa Arata sangat sayang pada Naruto dan sebenarnya, Iruka juga diam-diam mengawasi Naruto.
"Ya, baiklah. Lalu selanjutnya, perempuan berambut pink." Kali ini Iruka menunjuk Sakura yang duduk di samping Ino.
Sakurapun maju kedepan dan memperkenalkan dirinya. "Namaku Sakura Haruno. Hobiku mencari bunga bersama sahabatku. Lalu cita-citaku adalah menjadi Kunoichi hebat di Konoha!" Sakura memperkenalkan dirinya dengan semangat.
"Ya baiklah nona Haruno. Sekarang kau, laki-laki berambut emo yang duduk di sebelah Arata." Ucap Iruka yang kali ini menunjuk Sasuke.
Sasukepun maju kedepan dan memperkenalkan dirinya. "Namaku Uchiha Sasuke. Hobiku latihan. Aku ingin diakui oleh orang-orang lalu melampaui kakakku dan menjadi Uchiha pertama yang menjadi Hokage." Ucap Sasuke. Lalu kembali ke tempat duduknya.
Irukapun memanggil saru per satu murid kedepan untuk memperkenalkan dirinya sampai ke-21 murid selesai memperkenalkan diri masing-masing, kini Iruka memulai pelajaran pertama di Akademi.
.
.
Sementara itu di Amegakure...
"Naruto, apakah kau ingin menjadi Shinobi Amegakure?" Tanya Nagato pada Naruto yang kini sedang asik belajar melempar kunai.
"E-eh?! Ya! Tentu saja!" Jawab Naruto semangat sambil berlari ke Nagato.
"Kalau begitu, nii-san punya hadiah buat Naruto-kun." Ucap Nagato sambil tersenyum.
"Hee? Apa?! Apa?!" Tanya Naruto semangat sambil melopmpat-lompat kegirangan.
"Tutup matamu." Ucap Nagato. Narutopun hanya menurut dan menutup matanya. Nagato kini mengambil ikat kepala Amegakure berwarna hitam dari sakunya. "Buka matamu." Narutopun membuka matanya dan terkejut melihat hitai-ate Amegakure.
"Yey yey yey! Makasih Nagato-nii!" Naruto pun mengambil hitai-atenya dan memeluk Nagato serta menciuminya.
"Gini Naruto-kun, Yahiko kini menjadi pemimpin desa Amegakure karena mengalahkan Hanzo. Penduduk sepakat mengangkat Yahiko jadi pemimpin mereka." Jelas Nagato. Naruto makin senang karena kakaknya yang lain menjadi ninja yang hebat.
"Jika sudah besar nanti, aku ingin menjadi ninja hebat seperti kalian!" Ucap Naruto dengan semangat.
Nagato hanya tersenyum mendengar itu.
.
.
To Be Continued..
Author's Note: Disini umur Naruto 5 tahun. Lalu umur Arata dan murid-murid Akademi adalah 7 tahun. Di chapter 1, Author salah ketik umur Naruto. Disana tertulis 6, itu typo. Sementara itu kalo ada yang nanya, "Arata belum masuk Akademi kok udah dapet misi?" itu misi tingkat E atau D yang diberikan Minato buat menjauhi Arata dari Naruto. Dan, umur Yahiko, Nagato, dan Konan adalah 19 Tahun. Jelas?
