Semua mengalihkan pandangan ke arah Baekhyun.

"Kita bicara di kamarmu. Dan kau Chanyeol, ambil barang di mobil, Boojae akan menunjukkan kamarmu" titah Yunho tegas. . Dengan wajah cemberut Baekhyun berjalan ke kamarnya diikuti Yunho.

"Jangan berteriak seperti itu, Baekkie, apalagi di depan tamu, tidak sopan" Yunho menasehati saat mereka sudah berada di kamar Baekhyun.

"Tapi kenapa Oppa tidak bilang dulu padaku sebelumnya kalau dia akan tinggal di sini?" Baekhyun melipat lengannya di depan dada.

"Aku sudah bilang pada Umma dan Boojae, mianhae Oppa belum sempat memberitahumu" Yunho mengacak rambut Baekhyun. Baekhyun menghela napas, bagaimanapun yang berwenang di rumah sekarang adalah kakaknya.

"Oppa harusnya memberitau padaku juga, aku kan juga anggota rumah ini? apa Oppa sudah tidak menganggapku,eoh?" Yunho menghela nafas berat.

"Mana mungkin aku tidak menganggapmu, dongsaengku yang paling cantik. Oppa mu ini hanya tidak ingin membebanimu dengan hal-hal di rumah seperti ini, cukup kau berkonsentrasi pada kuliah dan restoran Appa" Baekhyun diam sejenak, mungkin dia terlalu berlebihan, hanya karena satu orang pegawai Yunho tinggal di rumah harusnya Baekhyun tidak perlu marah.

"Oppa, tapi kenapa Chanyeol Oppa tinggal di sini? kalau rumahnya jauh, dia bisa kan tinggal di apartemen sekitar sini?" Baekhyun menelengkan kepalany ke arah Yunho. Yunho kemudian duduk di tepi ranjang Baekhyun.

"Baekkie, tinggal d tengah kota seperti ini, biaya hidupnya sangat tinggi. Kasian Chanyeol, apalagi dia sangat berperan di bisnis keluarga kita." Yunho menjelaskan dengan sabar.

"Huft..arasseo. Lagipula aku lihat dia orang yang baik" Baekhyun mulai melunak. Yunho tersenyum.

"Ne. Gomawo my dongsaeng, baik-baiklah pada Chanyeol" Yunho memeluk Baekhyun sekilas lalu beranjak meninggalkan lama setelah itu ponsel Baekhyun bergetar.

=From: xxxx=

Sorry and good night.-Chanyeol-

Mata Baekhyun terbelalak, Chanyeol? bagaimana dia bisa mendapatkan nomor kontaknya. Namun sebentar saja Baekhyun tau pasti Yunho yang memberitahukannya. Tapi kenapa Chanyeol mengirim pesan untuknya? Baekhyun tidak ambil pusing dengan pesan Chanyeol dan tidak berniat untuk membalasnya.

.

.

.

Pagi ini setelah selesai mandi Baekhyun keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk yang melilit dari dada hingga paha, saat baru keluar pintu Baekhyun terbelalak. Chanyeol ada di depan pintu kamar mandi.

"AAAAAA!" teriakan Baekhyun sukses mengagetkan seisi rumah, Chanyeol hanya menutup telinganya lalu dengan cueknya masuk ke kamar mandi dan meninggalkan Baekhyun yang masih berusaha kembali ke alam nyata.

"Waeyo Baekkie?" Leeteuk datang dengan terburu-buru ke lantai atas, memang kamar Baekhyun terletak d lantai atas, kamar mandi ada di depan kamarnya. Baekhyun baru menyadari, sebelah kamarnya adalah kamar kosong, sebenarnya kamar itu disiapkan untuk Jimin, tapi Jimin belum mau untuk tidur sendiri jadilah kamar itu belum berpenghuni dan tentunya kamar itulah yang digunakan Chanyeol.

"T-tak apa Umma" Baekhyun menatap Ummanya sebentar lalu berlari ke kamarnya. Saat sarapan bersama, Baekhyun hanya diam. Yunho yang tau insiden kamar mandi tadi mengerti kenapa wajah adiknya tidak ceria seperti biasa, Yunho menggerakkan alisnya ke arah Chanyeol.

"Baekhyun-ah, maaf soal tadi" Chanyeol berkata pada Baekhyun yang hanya dibalas tatapan tajam dari Baekhyun.

"Aigoo, itu juga bukan salah Chanyeol, kau kan sudah tau Chanyeol sekarang tinggal di sini apalagi kamarnya di lantai atas yang pastinya dia akan berbagi kamar mandi denganmu harusnya kau tau bagaimana berpakaian" Jaejoong menasehati karena lelah melihat adik iparnya yang merajuk. Baekhyun langsung meletakkan sumpitnya dengan kasar dan berdiri dari kursinya.

"Aku berangkat" ucapnya, lalu dia pergi begitu saja, Yunho tidak ingin susah-susah membujuk adiknya, kalau di pagi hari mood Baekhyun sudah buruk, sebaiknya tidak mengganggu dia sepanjang hari.

"Hyung, maaf tadi aku-"

"Sudahlah Chanyeol, memang Baekhyun keras kepala. Maafkan sikapnya yang tidak sopan, ne" sebelum Chanyeol selesai mengucapkan kata-katanya, Leeteuk memotongnya karena dia merasa tidak enak dengan sikap putrinya.

"Tak apa, Eomonim" Chanyeol tersenyum menanggapi.

Baekhyun turun dari taxi dengan wajah cemberut, tiba-tiba sebuah tangan menepuk punggungnya cukup keras, Baekhyun yang sedang tidak baik moodnya langsung membentak si tersangka pemukul itu.

"Yak! Oh Luhan! aku sedang tidak ada nafsu untuk menanggapimu" ujarnya lalu berjalan meninggalkan perempuan dengan senyum khasnya.

"Ya ya, Baekhyunie, sejak kapan kau menghilangkan kata 'Eonni'" Luhan menyusul langkah Baekhyun. Oh Luhan atau beberapa teman dekatnya memanggil Lulu, merupakan teman seangkatan kuliah Baekhyun, memang dia lebih tua dari Baekhyun, sebelumnya dia sekolah jurusan lain juga namun dia memutuskan pindah ke jurusan ini karena permintaaan orang tuanya yang memiliki perusahaan cukup ternama.

"Kau sedang datang bulan? kenapa pagi-pagi sudah marah-marah seperti itu?" Luhan bertanya sambil bertopang dagu di depan Baekhyun yang sedang menekuk wajahnya di meja kelas.

"Eonni tau, di rumahku sekarang ada seorang lelaki yang tinggal di sana, dia manager restoran Yunho Oppa. Bahkan dia bekerja belum ada 1 tahun tapi Oppa sangat memanjakan orang itu. Cih, dasar merepotkan"

"Apa dia tampan? sudah punya kekasih?" pertanyaan Luhan berhasil mendapatkan hadiah sebuah tepukan ringan di jidatnya.

"Ingat suamimu di rumah, eonni! Em, ya untuk seorang lelaki dia cukup tampan, tapi dia menyebalkan. Sangat mengganggu bukan saat tiba-tiba di rumah ada orang asing? aku bahkan lupa kalau dia berbagi kamar mandi denganku, dan tadi pagi aku keluar hanya menggunakan handuk pendek, saat aku keluar dia sudah ada di depan pintu. Bahkan dia tidak berinisiatif menutup mata, tapi dia berlalu begitu saja" Baekhyun bercerita dengan menggebu-gebu, melihat Baekhyun yang bercerita dengan berbagai ekspresi membuat Luhan tertawa terbahak-bahak.

"Kemungkinannya ada 2 Baek, dia terlalu terkejut sehingga tidak sempat menutup mata atau mungkin badanmu tidak terlalu menarik untuknya" Luhan berkata santai, Baekhyun memberi death glare nya pada perempuan di depannya.

"Atau kemungkinan ketiga, dia tidak suka wanita" Baekhyun berkata cuek, Luhan hanya terkikik.

"Baiklah karena suasana hatimu yang tidak bagus hari ini, bagaimana kalau selesai kelas nanti sore kita ke kedai eskrim? Sehun akan menjemputku, kami kan mengantarmu pulang nanti" Baekhyun mengangguk seperti anak anjing yang patuh mendengar kata es krim, Luhan dan suaminya Oh Sehun yang bekerja sebagai manager di perusahaan elektronik memang dekat dengan Baekhyun. Sebenarnya Luhan merupakan kakak angkatannya saat highschool, Baekhyun taun pertama tepat saat Luhan di tahun terakhir sekolah, namun karena Baekhyun pernah ikut ekstrakulikuler dance yang diketuai oleh Luhan, maka Baekhyun mengenalnya dengan baik, sedangkan Sehun sebenarnya juga alumni dari sekolah yang sama, bahkan Sehun adalah teman sekelas Baekhyun. Luhan berpacaran dengan adik kelasnya karena dia mengenal Sehun dari Baekhyun.

Drrt..drrt..

Ponsel Baekhyun bergetar saat kelas sedang berlangsung, takut ada sesuatu yang penting, Baekhyun membukanya.

=From: xxxx=

Hai Baek, still mad at me? I'm so sorry, next time hal seperti itu tidak akan terjadi.

Nomor semalam. Chanyeol. Baekhyun memutar bola matanya malas, sama sekali tidak ingin membalas pesannya. Sepuluh menit kemudian ponselnya kembali berdering.

=From: xxxx=

Baekkie, please, don't ignore me :(

'Arrgh laki-laki gila ini bahkan berani memanggilku Baekkie' batin Baekhyun. Sepuluh menit berikutnya kembali pesan dari nomor yang sama.

=From: xxxx=

FYI, aku tidak akan berhenti mengirimimu pesan sebelum kau membalasnya.

Baekhyun menggertakkan giginya tanda marah, mungkin sudah saatnya dia memberi nama laki-laki ini.

=To : Crazy Boy=

Wae?!

=From : Crazy boy=

Aw, terima kasih untuk balasannya. Em, mungkin sebaiknya kau melanjutkan penjelasan dosenmu dibanding berkirim pesan denganku.

Baekhyun mendelik tidak percaya, terima kasih? memangnya dia membalas apa? dan siapa yang mengganggu kuliahnya sampai dia terganggu dengan getaran ponselnya, dasar gila.

Tak berapa lama setelah kelas pertama selesai sebuah pesan kembali masuk, Baekhyun menatap marah pada ponselnya, tapi kali ini dari kakaknya.

=From: Yunnie Oppa=

Baekkie, hari ini kau mau ke hotel tidak? aku akan meminta Jongdae menjemputmu kalau kau mau. Setelah itu kita bisa menjemput Jimin, bertiga makan eskrim di kedai biasa. Bagaimana?

Baekhyun menutup mulutnya untuk menahan tawa, dia tau Oppanya sedang berusaha membujuknya. Yah Baekhyun, memang suka saat kakaknya itu merayunya kala dia marah. Dan membaca nama Jongdae yang akan menjemputnya membuat hati Baekhyun berdesir. Ke hotel untuk belajar dengan Oppanya sebenarnya adalah kewajiban Baekhyun yang kelak diberi tanggung jawab untuk memegang restoran, namun salah satu penyemangatnya adalah karena bisa bertemu dengan Jongdae, lelaki yang selama ini sering membuat Baekhyun bersemu saat mengajaknya bicara atau bercanda dengannya, lelaki yang membuatnya merasa seperti ada yang bergerak aneh di perutnya saat dia tersenyum dan menatap matanya.

Baekhyun memang belum pernah merasakan jatuh cinta sebelumnya karena semenjak dia High School dia merupakan siswi yang aktif, ikut kegiatan organisasi sekolah dan mengikuti kegiatan paduan suara, dance dan teater, baginya tidak ada waktu untuk jatuh cinta, namun saat dia mulai kuliah dia mulai membuka hatinya, dan Jongdae adalah pengalaman pertamanya.

=To : Yunho Oppa=

Baiklah, aku akan ke hotel, jangan biarkan Jongdae Oppa terlambat menjemputku. Dan kali ini rayuanmu berhasil, aku mau es krim.

=From : Yunho Oppa=

^.^ Saranghae my Baekkie

.

.

.

Sebuah mobil dengan seorang pengemudi yang cukup tampan menunggu di depan gerbang kampus, dan ke sanalah Baekhyun dan Luhan berjalan, pengemudi mobil itu turun dari mobil dengan kaca mata hitamnya, ketika kedua wanita itu sampai di hadapannya, lelaki itu memberi ciuman sekilas di bibir istrinya kemudian mengalihkan perhatiannya kepada Baekhyun.

"Apa kabar, Baek? kata Lulu hari ini mood mu sedang tidak baik, eoh?" Sehun melihat wajah Baekhyun yang tampak sudah baik-baik saja.

"Uh-huh, ada hal menyebalkan di rumah. Oppa, eonni, kita pergi kapan-kapan saja, ne?aku harus ke hotel, tadi Yunho Oppa memberitahu akan menjemputku" Sehun dan Luhan yang mengerti hanya mengingatkan Baekhyun untuk tidak terlalu banyak marah-marah di rumah yang hanya dibalas pout oleh Baekhyun.

Baekhyun segera berlari kecil ke tempat biasa Jongdae menjemputnya, benar saja Jongdae sedang bersandar di bangku kemudinya sambil sedikit memejamkan mata. Baekhyun mengetuk jendela mobil Jongdae yang membuat lelaki itu sedikit terkejut lalu wajah terkejutnya berubah menjadi senyum saat tau Baekhyun sudah datang. Baekhyun menyamankan duduknya di bangku penumpang, Jongdae agak diam tidak seperti biasanya.

"Oppa, apa ada sesuatu? Oppa tampak tidak baik" tanya Baekhyun. Jongdae mengalihkan sebentar pandangannya ke arah Baekhyun, memberinya senyuman untuk meyakinkan bahwa dia baik-baik saja.

"Aniyo, sedang ada banyak yang harus dikerjakan saja. Dua hari lagi, Yunho hyung memintaku ke Jeju untuk mengatur kerjasama dengan perusahaan lain" jawabnya setelah kembali fokus pada kendaraannya.

"Oppa akan pergi berapa lama?" Baekhyun penasaran.

"Hum.. satu minggu mungkin atau dua minggu. kau ingin ikut?" Jongdae bertanya. Baekhyun mengangguk-anggukkan kepalanya berkali-kali. Jongdae mengacak rambut Baekhyun.

"Tentu saja aku tidak mungkin mengajakmu, kau kan harus kuliah, lagipula ini bukan liburan. Lain waktu Oppa mu pasti akan mengajakmu jalan-jalan" Baekhyun kembali memanyunkan bibirnya. Seminggu tidak bisa melihat Jongdae.

"Jangan mempoutkan bibirmu seperti itu, Yunho hyung akan memarahiku, karena katanya kau baru 'sembuh' dari mengambekmu tadi pagi. Ah aku jadi ingat sesuatu, ada sesuatu di bangku belakang untukmu" Jongdae menunjuk ke arah sebuah tas karton yang langsung diambil oleh Baekhyun. Apa itu? Baekhyun tidak sabar segera membukanya dan tampaklah sebuah bathrobe warna biru muda yang cukup panjang.

"Yunho hyung, menceritakan soal insiden tadi pagi di rumah, jadi tadi aku menyempatkan membelinya untukmu" Jongdae seakan tau apa yang ada di otak Baekhyun. Baekhyun tersipu mengingat kejadian tadi pagi dan kenapa pula Oppanya itu harus menceritakan hal memalukan pada Jongdae.

"Gomawo, Oppa" Baekhyun tersenyum senang, ah walaupun itu memalukan tapi itu berarti Jongdae memperhatikannya dan Jongdae tidak ingin tubuhnya dilihat lelaki lain,eoh? wajah Baekhyun memerah memikirkannya, untung saja Jongdae fokus pada jalanan di depannya dibandingkan melihat wajah Baekhyun jadi lelaki itu tidak melihat senyum malu-malu perempuan di sebelahnya.

Baekhyun berjalan menyusuri koridor menuju restoran karena Yunho ada di sana. Yunho tampak sedang memberi perintah pada beberapa pegawainya untuk menata dekorasi di restoran. Tanpa diduga Baekhyun langsung memeluk Oppanya.

"Wae?" Yunho tampak bingung, bukankah tadi adiknya itu sedang bad mood kenapa sekarang tiba-tiba memeluknya sambil tersenyum.

"Jongdae Oppa memberiku hadiah. Oppa menceritakan pada Jongdae Oppa tentang tadi pagi, eoh? Oppa, Oppa jangan ceritakan hal yang aneh-aneh lagi pada Jongdae Oppa lagi, ne" Baekhyun berkata manja, Yunho baru akan menjawab kata-kata Baekhyun saat dia melihat di belakang Baekhyun sudah ada Chanyeol yang berdiri mematung.

"O-oh, Chanyeol-ah, tolong urus ini dulu, ne. Aku akan membawa Baekkie ke kantorku dulu" Yunho tampak sedikit gugup dan Chanyeol hanya membalas dengan anggukan kepala. Baekhyun menggandeng tangan Yunho dan menatap sinis ke arah Chanyeol sambil berlalu.

.

.

Selesai urusan di hotel, seperti janjinya, Yunho mengajak Baekhyun ke coffee shop istrinya untuk menjemput Jimin. Tampak Leeteuk sedang menerima telpon dengan serius, setelah menyelesaikan pembicaraan di telepon dia menyadari Yunho dan Baekhyun ada di depannya.

"Yunnie, Wookie imo sakit, saat ini dia di rawat di rumah sakit, aku harus ke sana" wajah Leeteuk tampak khawatir.

"Tenanglah, Umma. Sekarang Umma bersiap-siaplah biar aku bilang pada Jaejoong untuk menemani Umma ke Busan" ucap Yunho menenangkan. Baekhyun memeluk Ummanya, Baekhyun tau adik ibunya itu cuma satu, yaitu Ryewook dan tinggalnya cukup jauh, sedangkan suaminya, Yesung, sering bertugas keluar negeri sehingga Leeteuk cukup khawatir saat tau adiknya itu sakit.

Yunho menemui Jaejoong dan setelah menjelaskan padanya, akhirnya di putuskan Jaejoong dan Jimin akan menemani Leeteuk ke Busan. Baekhyun sebenarnya sangat ingin ikut, apalagi Imonya sangat baik padanya dan sudah cukup lama mereka tidak bertemu. Tapi tentu saja Leeteuk memikirkan kuliah Baekhyun, jadilah Baekhyun ditinggal di rumah dengan Yunho, dan Chanyeol tentunya. Mereka memutuskan untuk segera pulang dan menyiapkan keperluan untuk pergi ke Busan, Baekhyun bahkan sudah melupakan tentang eskrimnya. Yunho mengantar ke stasiun kereta, sedangkan Baekhyun sedang asik bermain game di kamarnya. Ponselnya berkedip.

=From: Crazy Boy=

Ada es krim untukmu di kulkas, tapi sebelumnya makanlah dulu, aku memasakkan makan malam untukmu.

=To: Crazy Boy=

Aku tidak lapar

Baekhyun bohong, karena sebenarnya perutnya sudah protes untuk meminta makan, tapi dia tau hanya ada dia dan Chanyeol di rumah ini, jika dia keluar makan bukan tidak mungkin mereka akan berpapasan. Baekhyun malas berhadapan dengan lelaki gila yang terus-menerus mengganggunya hari ini.

=From: Crazy Boy=

Aku letakkan di meja makan, ne. Oh iya, aku harus pergi sebentar lagi.

'Yes, dia akan pergi' batinnya.

Setengah jam kemudian, pelan-pelan Baekhyun keluar dari kamar, sedikit mengintip dan memang rumahnya sepi, dia pun turun ke bawah dan mendapati banyak makanan tersaji di meja makan yang membuat perutnya kembali berbunyi karena mencium bau harumnya. Mungkin Chanyeol sudah pergi, Baekhyun tidak terlalu mempedulikannya dan dia segera menyantap makanan di meja makan.

drrt..drrt..

getaran ponselnya cukup mengagetkan mengingat Baekhyun menyantap makanannya sambil bermain game di handphonenya.

=From: Crazy Boy=

Makan lah yang banyak, dan kalau kau merindukanku, aku ada di kamarku, baby :* Chuuu~

Baekhyun tersedak.

.

.

TBC

.

.

Ada yang masih tertarik sama ceritanya?