Title : U Get It Wrong 2
Author : Cho-i Myungsoo(ffn) aka Phoenix Channie (fb)
Main Cast : KaiDo/KaiSoo
Other Cast : ChanBaek, HunHan.
Genre : Romance, Angst, Humor
Rate : T-(M later)
Length : 2 of ± 4 Chapter
Disclaimer : KaiDO is MINE! Wae, mau protes? XD*minta dihajar* Ide dan cerita punya Phoenix!
Summary : Pertemuan Dio dengan Kai, membuat Dio mengingat kembali bayangan yang selalu menjadi mimpi buruknya. Akankah hubungan mereka kembali seperti dulu? Ataukah melompat, keluar dari batasan, 'Hyung-Dongsaeng'? A KaiDo/KaiSoo fic. With ChanBaek, n HunHan.
Warning : YAOI, abal2, gak sesuai EYD, alur ngebut, Thypo(s), aneh, a little bit rape, n UNEDITED.
A/N : Annyong~ mian telat postingnya ,.
Balasan review:
chocoDOnutKRISpy : tenang chingu, KaiSoo together 4ever! Phoenix gak rela jk mereka harus pisah. Ini happy ending kok! :D
Brigitta Bukan Brigittiw: wah sama chingu, di hati Phoenix jg selalu ada EXO(?)*bias lu Chanyeol Oppa, woy! Serakah amat!*
aoora: ini udah di lanjut^^~
Minerva Huang: sama Duo Mayat#plak! Disini bakal kejawab, chingu :) *pelit amat, tinggal bilang juga!*
yuliafebry: ne, KaiSoo muncul! ^o^9
Woo Jihyd: gomawo, ini udah di lanjut~
Qikeys: ni dah update~
Guest: ni chingu, dah update~
Reita : gomawo, moga aja chap.2 ini gak bikin chingu bingung..
lovelySoo-ie: gomawoyeo, tenang~ happy ending kok! ^^ huawa ketebak, ideku ketebak!
Nadya : kayaknya chingu harus memendam hasrat buat bakar bangKAI deh, soalnya disini piiiip! *sensor* eits, dibaca dulu XD#plak!
SarangBaekYeol: ini chap.2-nya~ *nyodorin fic*
Kan Rin Min: BaekYeol bukan pasangan gila chingu, Cuma kurang waras! XD *disembelih*
kyungier: apa bedanya chingu?*wajah polos* aku juga senang nyiksa Kai XD*digantung*
kimhyunshi: kan kemarin, jadi komentator acara masak-memasak chingu XD *disambit*
NO FLAME Please~
Happy Reading ^^~
Chapter 2
Tok Tok!
"Jongin chagi, bolehkah appa dan umma masuk?"
Ceklek!
"Chagi, kau tahu kan umma dan appa akan melakukan bisnis di luar negeri selama sebulan?" Kai menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Ummamu tidak meniggalkanmu sendirian disini, maka-" belum sempat appa-nya menyelesaikan kalimatnya, namun disela Kai.
"Pergilah, aku sudah besar."
"Aku tahu itu, nak. Appa dan umma hanya tidak ingin kau kesepian. Kyungsoo chagi, masuklah."
Setelah instruksi dari tuan Kim, seorang namja muncul dari balik pintu kamar Jongin. Menyeret kopernya dengan wajah tertunduk. Kemudian berdiri di tengah-tengah, berhadapan dengan Kai. Kai menatap lekat namja di depannya, dari bawah hinggan atas. 'Nugu?'
"Kami memutuskan untuk mengadopsi. Dia Do Kyungsoo, setahun di atasmu." Ucap tuan Kim sembari memegang pundak namja bertubuh mungil itu. Kai masih saja diam, ia berusaha melihat wajah Kyungsoo. Sementara Kyungsoo yang merasa diberi tatapan intens, hanya bisa semakin menundukkan kepalanya.
"Ja, Kyungsoo chagi, perkenalkan dirimu." Ucap nyonya Kim sambil mengelus lengan Kyungsoo.
'Untuk apa mereka mengadopsi anak ini? Aku tidak butuh orang lain untuk menemaniku. Lagipula, bagaimana bisa anak pemalu begi- '
"A-annyonghasseyeo Jongin-ssi, na-naneun Do Kyungsoo imnida." Ucap Kyungsoo memperkenalkan diri, sembari berusaha menatap mata Kai.
DEG!
'God, benarkah dia ini namja?'
...
Kai Pov
Hmm... bau harum apa ini? Baunya dari dapur. Uh, cacing di perutku mulai protes minta di isi. Tapi siapa yang masak? Bukankah umma dan appa pergi ke Milan? Bibi juga cuti, lalu nugu?
Sressh Sressh Sressh
Kyungsoo hyung? Dia bisa memasak?
"Ah K-kai? Mian membangunkanmu dengan suara berisik ini. Aku hanya ingin membuat sarapan untuk kita berdua." Kulihat dia mencoba berhati-hati dalam setiap ucapannya. Apa dia takut padaku? Atau belum terbiasa?
"L-lebih baik kau tunggu di meja makan dulu, nanti kuhidangkan." Aku menggeleng, dan sedikit menyunggingkan senyuman tipis.
"Mau kubantu?" kulihat dia sedikit terkejut, dan membulatkan matanya lucu. Eh, apa tadi kubilang dia LUCU?
"Ti-tidak apa-apa, aku bisa sendiri." Ucapnya kemudian. Babbo, aku sedang berusaha mencairkan suasana yang kaku ini tahu!
"Gwaenchana, biar kubantu." Awalnya dia masih ragu membiarkanku membantunya. Tapi kemudian dia tersenyum sangat manis kepadaku. Manis sekali...
DEG!
"Gomawo Kai."
pertanyaan itu menghampiri otakku sekali lagi. Apakah dia benar-benar seorang namja?
...
Ceklek!
Pintu kamar itu terbuka, menampilkan sosok Kyungsoo.
"K-kai?"
"Ne?" ucap Kai menoleh, setelah mempause permainan di psp-nya. Kyungsoo tampak ragu, dan memegang tengkuknya sendiri.
"Aku bosan menonton tv, m-maukah kau menemaniku jalan-jalan? Aku t-takut tersasar." Ini entah untuk yang ke berapa kalinya Kai dibuat tersenyum oleh ucapan Kyungsoo. Namja burkulit tan itu menyambar jaketnya dan Kyungsoo. Kemudian melemparkan jaket Kyungsoo pada pemiliknya.
"Kajja." Ajak Kai seraya memakai jaketnya.
"Woaaa~ indah sekali! Hahaha."
'Berbeda.' Itulah kalimat pertama yang muncul di benak Kai saat melihat Kyungsoo yang berlari-lari di padang ilalang itu dengan kedua tangan terentang. Wajahnya terlihat sangat bahagia, dengan senyuman yang tak lepas dari wajah manisnya. Kai hanya berjalan mengikutinya dengan tersenyum lembut. Tersenyum, adalah hobby barunya semenjak bertemu namja bermata bulat bernama Do Kyungsoo ini. Tapi, senyuman itu berubah menjadi wajah khawatir ketika...
"Aaaa!"
"Hyung!"
Kai berlari, berusaha menangkap Kyungsoo yang akan terjatuh dengan wajah mendarat duluan. Hup! Ne, Kai memang berhasil menangkap tubuh itu dan menariknya ke belakang. Namun sayangnya, Kai juga ikutan oleng. Hingga...
Brugh!
"Aishh, appo!" ringis Kai, merasakan punggungnya yang mendarat sempurna di tanah. Dan dengan Kyungsoo di atasnya, dalam posisi membelakanginya.
"Hyung?" karena Kyungsoo tak kunjung beranjak dari atasnya, Kai merasa sedikit cemas. Jangan-jangan dia shock atau sebagainya?*Jongin oppa ganteng, jangan lebay deh.*
"Indah."
"Eh?" Kai menautkan kedua alis matanya. 'Apa yang indah dari terjatuh?' batinnya.
"Langitnya biru dan sangat luas, Kai. Aku merasa bebas dan damai." Kai mengalihkan pandangannya ke atas. Hamparan langit biru dengan sedikit awan-awan kecil disana.
"Ne, ini sama indahnya dengan laut." Ucap Kai menyetujui. Ia meletakkan tangan diatas kepala, menjadikannya sebagai bantal. Kini Kyungsoo telah beranjak dari atasnya, dan berbaring di sebelah Kai.
"Hihi itu kalimat terpanjang yang pernah kau ucapkan padaku, Kai-ah." mendengar ucapan dan kekehan dari namja bermata bulat itu, Kai sedikit mendelik. Kemudian mengalihkan pandangannya ke Kyungsoo yang tengah memejamkan matanya.
"Nde."
'Aku jadi lebih sering berbicara dan juga sering tersenyum. Dan itu berkat kau, hyung.'
...
"Hyung." Saat ini mereka tengah tiduran di atas ranjang. Kai yang sedang memainkan psp-nya dan Dio yang tengah membaca komik milik Kai.
"Ne?" sahut Dio malas, ia masih sibuk dengan komiknya yang seru.
"Mau ke pantai?" mendengar kata pantai, Dio langsung bangkit, dan menatap Kai dengan mata berbinar-binar. Sungguh, itu adalah tempat yang selalu ingin dia kunjungi. Terakhir kali ia ke pantai, ketika orangtuanya masih hidup. Dan kira-kira sudah dua tahun yang lalu.
"Woaaa~ Daebak, ini luar biasa, Kai!" mata bulat itu terlihat makin jernih, ketika melihat pemandangan di depannya. Langit yang biru cerah, air yang terlihat begitu jernih. Dan beberapa pohon kelapa yang mengelilinginya. Mata Dio berhenti di suatu titik di atas pasir yang putih. Disana terlihat sesuatu yang menarik perhatiannya. Ia segera berlari, dan berjongkok, memgambil benda berukuran mungil itu.
"Kai kesini, lihat kerangnya cantik!" ujar Dio penuh semangat sambil melambai-lambaikan tangannya agar Kai segera mendekat.
"Benar, bagus." Puji Kai yang ikut berjongkok di hadapan hyungnya itu.
"Benarkan!" seru Dio. Ia menyimpan kerang bercorak pink dan orange itu di saku depan celana pendeknya. Dan mulai menarik tangan Kai ke air. Sementara Kai hanya tersenyum melihat sifat hyungnya yang antusias itu.
"Bukankah ini sangat indah, Kai? Pantai ini sangat cantik!" ucap Dio tersenyum begitu lepas dengan kedua tangan terentang, sambil menatap Kai. Wajahnya terlihat begitu ceria, dan manis. Apalagi ditambah dengan sinar matahari yang menerpa wajahnya. Kulit putih itu terlihat bercahaya.
"Ne, neomu yeppeo." Ucap namja berkulit tan itu seraya menatap wajah Dio. Namja bertubuh mungil itu kembali berlari-lari kecil, dan bermain air.
"Gyaa andwae!"
Byuur!
Kai hanya bisa terdiam, saat tiba-tiba saja Dio terjatuh ke dalam air. Hingga tubuhnya basah semua.
"Hyung, gwaenchanayeo?" khawatir Kai melihat Dio meringis sambil memegangi pantatnya yang tadi mencium air dan pasir.
"Ugh, appo.." ringisnya. Kai tersenyum(lagi), kemudian membantu Dio untuk bangkit.
"Kau terlalu bersemangat, hyung." Kai membersihkan pasir yang sedikit menempel di pipi Kyungsoo.
DEG!
Kali ini deguban itu bukan berasal dari jantung Kai, melainkan dari Dio. Semburat merah yang tipis muncul di kedua pipi chubby itu. Entah kenapa, berada dalam jarak sedekat ini dengan Kai, membuatnya gugup. hei, bukankah Kai itu 'dongsaeng'-nya sendiri?
"Hehe a-aku memang-" Dio merasa aneh dengan dirinya sendiri yang merona dan gugup hanya dengan perlakuan biasa yang dilakukan Kai. Ia sedikit mundur dan..
Byuur!
Yup! Dio terjatuh lagi, tersandung entah karang atau apa. Kai yang kaget, segera membantunya bangkit. Namun saat berusaha berdiri, kaki Dio menginjak sesuatu yang berlendir dan licin. Alhasil, ia terjatuh untuk yang kesekian kalinya. Tapi kali ini, Kai juga ikut tertarik oleh nya. Kedua namja itu sama-sama terdiam dengan tubuh yang sudah basah kuyup. Mereka saling menatap satu sama lain.
"Hahaha bagaimana kau bisa seceroboh itu, hyung?" Kai tertawa. Ini adalah pertama kalinya bagi Dio untuk melihat Kai tertawa. Dan ia terlihat sangat tampan...
Melihat Dio yang masih saja memasang ekspresi terkejutnya yang khas, dengan mata besar yang semakin besar dan bibir penuh yang membulat; membuat Kai gemas bukan main.
Splassh! Splassh!
"Y-ya! Andwae hentikan, aku basah Kai! Uhuk uhuk!" dengan jahilnya namja berkulit tan itu menyimpratkan air ke Dio berkali-kali, hingga ia terbatuk-batuk. Kai berhenti sebentar, masih dengan senyuman jahil di wajahnya. Dio memberikan glare-nya –yang sebenarnya malah terlihat cute- ke Kai. dan kemudian membalas serangan Kai dengan bertubi-tubi. Namja mungil itu bangkit, berlari menghindar dari serangan balasan dari Kai. Sementara Kai sendiri dengan semangat mengejar di belakangnya. Begitulah, mereka tertawa, bercanda, bermain air hingga senja.
"Menyenangkan, aku ingin mengajak Kai kesini lagi..."
Igauan dari Dio yang tengah tertidur di punggungnya, membuat Kai tersenyum lembut. Hari ini terasa begitu menyanangkan baginya, dan Dio. Kai merasakan sebuah perasaan yang begitu hangat menyeruak di dadanya. Memberikan rasa nyaman, yang hanya dirasakannya saat bersama Dio.
"Tentu Kyungsoo hyung, kita akan kesini lagi."
...
"Hey! Haloooo? Yuhuuu~ kau mendengarkanku?" Chanyeol melambaikan tangannya di depan wajah lawan bicaranya-lebih tepatnya cuma Chanyeol yang bicara-. Dari tadi ia sibuk mengoceh panjang lebar, namun yah ia hanya bermonolog. Karena lawan bicaranya samasekali tidak mendengar ocehannya. Kai memakan sandwitch-nya dengan melamun, menerawang ke masa-masa yang ia lewati dengan Kyungsoo 'hyung'-nya.
Note: semua memory barusan, hanya seperti film yang dipercepat dalam ingatan Kai. Karena Phoenix baik... jadi memory-nya di tayangkan dengan normal. *R: Bilang aja, lu pingin ff ini jadi lebih panjang! A: ah itu... benar. XD*
"Nde?" itulah respon yang Chanyeol dapatkan dari Kai, setelah ia tersadar dari acara melamunnya. Namja yang memiliki tinggi di atas rata-rata itu tersenyum saat melihat wajah Kai yang terlihat sedikit cengo.
"Tidak baik melamun saat makan. Lihat, kau berantakan sekali, pipimu belepotan remah roti." Kai hanya bisa mematung saat Chanyeol sedikit memajukan tubuhnya, dan membersihkan pipi Kai dengan tangannya. *Gyaaa andwaeeeeee! Adegan apa ini? Mi apahh, Phoenix ngetik adegan barusan?! :x Apa barusan terlihat seperti ChanKai moment?! Eiuhhh...!* #Plak! Ah mian, tadi sempat korslet. Back to story~
Meanwhile Outside...
"Byunie, kau yakin dengan semua ini?" namja cantik itu menundukkan kepalanya, saat beberapa orang yang lewat menatap mereka dengan tatapan aneh. Namja cantik itu aka Luhan, mengerinyit menatap jaring di tangannya.
'Ini sangat memalukan...' batinnya.
"N-ne, Baek hyung. Apa ini tidak terlalu berlebihan?" ucap namja yang bertubuh paling kecil di anatara mereka bertiga. Ia sedikit memainkan tali yang di pegangnya seraya menunduk. Namja bertubuh mungil itu merasakan hal yang sama dengan Luhan. Malu.
'Ini aneh...' ucapnya dalam hati.
Baekhyun membalikkan tubuhnya, dan menatap hyung dan dongsaeng-nya yang tengah menunduk itu.
"Ne, ini samasekali tidak berlebihan. Aku akan menangkap namja itu, mengikatnya dan membakarnya! Apapun demi hubunganku dengan Chanyeol! Serbu...!" ucap Baekhyun berkoar-koar dengan semangat 45, plus semangat demo turun harga BBM(?) –abaikan kalimat terakhir. Mereka hanya bisa sweatdrop melihat tingkah Baekhyun.
'Huh, tentu saja tidak berlebihan bagimu, kau hanya memegang pematik api itu!' gerutu Luhan dalam hatinya.
Dengan menyeret langkahnya-dan berat hati- mereka mengikuti Baekhyun masuk ke rumah Chanyeol. Tanya kenapa Baekhyun bisa masuk begitu mudah? Well, dia namjachingu Chanyeol, tentu Baekhyun mempunyai kunci duplikatnya.
"Yeollie! Get ready, i'm com- YAK!" Glup! Chanyeol menelan ludah berat, melihat Baekhyun yang wajahnya merah karena marah. Bukannya karena ia takut pada namjachingunya yang imut itu. Tapi, melihat posisi tangan Chanyeol yang berada dipipi namja -yang masih tak ia ketahui siapa namanya- ini, terlihat seperti ia sedang mengelusnya. Pasti Baekhyun akan marah besar dan merajuk. Dan akan membutuhkan waktu untuk membujuk Baekhyun. Padahal, ia sengaja memancing Baekhyun datang kesini, karena ingin menatap wajahnya yang lucu saat marah. Tapi sekarang?
"Kau keterlaluan! Hiks, kau jahat Yeollie!" Chanyeol hanya bisa pasrah saat Baekhyun memukulinya bertubi-tubi. Sementara Luhan sedikit terkejut juga dengan apa yang dia lihat, tapi ia lebih memilih diam memperhatikan dua sejoli itu.
Berbeda dengan Luhan, saat ini namja manis yang berada di sebelahnya tengah membatu. Matanya terpaku pada sosok yang duduk tenang memperhatikan pertengkaran Baekhyun dan Chanyeol. Ia samasekali tidak berkedip, perlahan tali di genggamannya jatuh ke lantai. Sekelebat bayangan yang selalu menjadi mimpi buruknya itu menghampiri ingatannya.
'Aku benci memanggilmu dengan sebutan hyung. Itu sama sekali tak cocok untukmu! Aku tak sudi menjadi dongsaengmu, aku tak rela!'
'A-andwae, hen-ti-kanhh..'
'Kumohon, lepaskan marga Kim dari namamu! Pergilah, aku tak butuh siapapun untuk menemaniku.'
'Je-balhh.. hiks.. Kaihh le-pas-kan a-kuhh...'
'Appa boleh saja memungut gelandangan diluar sana; siapa saja, asalkan bukan kau!'
'Arggghhhh! Hiks hiks hiks.'
'Hiks hiks, appo. Hentikan.. hentikan...'
Perlahan kaki mungil itu melangkah mundur dan mundur. Membuat Luhan yang berada di sebelahnya menjadi heran. Apalagi dengan arah tatapan dongsaengnya itu, yang tak berhenti menatap pada satu titik.
"Kyunggie, gwaenchanayeo?" tanya Luhan seraya menepuk pelan bahu namja manis itu aka Kyungsoo. Merasakan sentuhan di bahunya, Dio mengalihkan perhatian ke hyungnya itu.
"H-hyung, a-aku..." namja cantik itu membulatkan matanya. Wajah Dio benar-benar pucat saat ini.
"Kau kenapa?!" tanya Luhan panik, seraya mengukur suhu Dio dengan tangannya. Mendengar suara Luhan yang agak keras, mengalihkan perhatian BaekYeol dan Kai. Baekhyun berhenti dari acara memukuli Chanyeol, sementara Chanyeol menggenggam tangan Baekhyun yang masih mengepal.
"K-kyungsoo hyung?" suara itu, suara yang berhasil membuat tubuh Kyungsoo membeku seketika. Luhan dapat merasakan tubuh Dio menegang dari bahunya.
"Kyungsoo hyung?" merasa tidak mendapatkan respon, Kai mencoba berjalan mendekati namja yang ia yakin itu Kyungsoo. Walaupun ia hanya melihat dari samping. Mereka bertiga -Luhan, Chanyeol, Baekhyun- terpaku, sugguh mereka tidak mengerti dengan keadaan saat ini.
'Apa mereka saling kenal? Dan kenapa Kyungsoo menangis, dan terlihat ketakutan seperti itu? ampai-sampai bibirnya pucat.' Itulah pertanyaan yang kira-kira mampir di otak mereka.
Sementara itu, Kai semakin berjalan mendekati Dio. Setiap dentuman langkah namja berkulit tan itu, seperti menggema dan membuatnya semakinj ketakutan. *Kai: eh thor, mank gua seseram itu apa?! A: jangan merusak suasan Kkamjong ( " -_-)* Karena tidak tahan lagi, akhirnya namja manis itu segera melarikan diri dari sana.
"Waegeure?"
"Ya, eodiga?!"
"Y-ya! Nuguya, kenapa mengikuti dongsaengku?!"
Tak di dengarkannya teriakan-teriakan yang memanggilnya. Yang Kyungsoo tahu saat ini adalah berlari, menjauh dari namja yang menjadi mimpi buruknya itu. Ia terus berlari, dengan langkah yang tak menentu.
Namja bertubuh mungil itu berhenti disaat ia benar-benar merasa kelelahan. Nafasnya terengah-engah, ia membungkukkan badannya, dan bertumpu pada lututnya. Dio memiringkan kepalanya ke samping, dan apa yang dilihatnya membuat namja itu tersenyum kecut. Bahkan kakinya pun tidak mau berkompromi padanya. Di saat ia berusaha lari, dan melupakan tentang kenangan buruknya. Langkah kaki Dio malah menyeretnya ke tempat ini. Tempat yang tak bisa ia pungkiri, merupakan tempat kenangan yang tak akan pernah ia lupakan. Kenangan yang indah bersama dongsaeng-nya, Kim Jongin.
GREB!
"Hyung, kumohon. Jangan menjauh lagi dariku, jangan lari lagi." Entah sejak kapan, Kai telah berada di belakang Kyungsoo, memeluknya dari belakang, dengan erat dan posesif.
"Andwae lepaskan aku! Lepaskan aku Kai!" Dio meronta-ronta dalam dekapan Kai yang sangat kuat menahannya agar tidak lepas.
"Jebal, dengarkan aku hyung. Dengarkan aku dulu." Kai tetap bersikukuh untuk tak membiarkan Dio pergi lagi darinya. Ia benar-benar tak mau kehilangan, namja bermata bulat itu untuk yang kedua kalinya.
"Shirro, aku tidak mau! Hiks, lepaskan aku. Biarkan aku pergi.." ucap Dio yang mulai terisak, karena perlawanannya benar-benar sia-sia bagi Kai.
"Biarkan aku menjelaskan semuanya hyung, jebal." Terdengar suara Kai yang mulai bergetar saat memohon kepada Dio. sebenarnya, ia pun sangat menderita akan keadaan ini.
"Hiks hiks hiks." Dio tak lagi membalasnya. Ia hanya menangis, sambil terus memukul tangan Kai yang melingkari pinggangnya. Tubuhnya sudah bergetar sedari tadi, Kai dapat merasakan hal itu. Dan itu membuat semakin merasa bersalah, atas semua yang menimpa namja berpipi chubby yang merupakan 'hyung'nya ini.
"Kumohon, dengarkan penjelasanku hyung. Kumohon."
"Hiks lepas..." Dio akhirnya berhenti berontak, dan tidak lagi memukuli tangan Kai. Ia hanya diam, sambil sesegukan. Masih dengan tangan Kai yang menahannya.
"Jeongmal mianhanta. Aku tahu ini semua salahku, dan kau layak membenciku karena itu, hyung. Mianhae, karena aku telah melukaimu. Mianhae, karena telah merusak hidupmu dengan keegoisanku. Jeongmal mianhae, Kyungsoo hyung." Tutur Kai yang menopang kepalanya di bahu kecil milik Dio. sementara namja bertubuh mungil itu hanya diam mendengarkan.
"Malam itu.." Dio segera menutu telinganya, ia tidak ingin mendengar apa yang akan diucapkan Kai selanjutnya. Ia terlalu takut untuk mengingat kejadian yang selalu menghantui malamnya.
Tersirat raut sedih, dan penyesalan yang mendalam di mata Kai saat melihat hal itu. Ia menghela nafas berat, kemudian perlahan menarik tangan Dio yang menutupi telinganya. Awalnya Dio berusaha melawan, namun karena perbedaan tenaga yang besar diantara mereka, ia pun kalah. Kini Kai tidak hanya menahan pinggang Dio, tapi juga kedua tangannya.
'Kenapa aku selemah ini?' batin Dio pilu, atas ketidakmampuan-nya untu melepaskan diri dari Kai.
"Malam itu, aku..."
Flashback of A month ago...
"Hei Kai, akhir-akhir ini kau terlihat berbeda!" seru seorang namja bertubuh pendek dengan senyuman seribu watt-nya. Kai hanya mengangkat sebelah alisnya sebagai jawaban.
"Maksukdku, kau terlihat lebih cerah dari biasanya. Yah walaupun kulitmu tetap saja hitam~" Kalau tidak mengingat namja ini adalah sunbae-nya, maka Kai tidak akan segan-segan menjitaknya.
"Kai." Sebuah suara lembut menyadarkan Kai dari lamunannya untuk menjitak ataupun memukul sunbae-nya yang kadang-kadang menyebalkan satu ini. Kai membalikkan tubuhnya, mendapati namja manis yang tersenyum lembut kepadanya.
"Kai, aku ingin segera pulang. Aku ingin menonton film horor terbaru dari Jino ini. Aku takut sendirian." Ujar Dio seraya meperlihatkan DVD film horor yang di tangannya. Suho aka namja bertubuh pendek tadi, hanya bisa teridam, menatap Dio tanpa berkedip.
'Nugu? Siapa namja manis yang memiliki mata bulat nan indah ini?' batinnya. Belum sempat ia bertanya, ia cukup terkejut melihat ekspresi Kai saat berhadapan dengan namja manis itu.
"Nde, kajja kita menontonnya bersama." Ucap Kai seraya mengusak rambut Dio sayang. Mata Suho membulat saat mendengar Kai bicara cukup panjang. Bahkan dengan suara yang lembut. Kai hanya pernah bicara 2-3 kata padanya, tidak lebih.
'Apa anak ini namjachingu-nya?'
"Hey Kkamjong, apa kau tak mau memperkenalkanku pada namjachingumu yang manis itu?" ucap Suho memamerkan senyuman terbaiknya ke Dio, seraya memukul lengan Kai pelan. Entah kenapa, wajah Dio bersemu saat mendengar ucapan Suho barusan.
'Namjachingu?' batin Dio.
Sementara Kai sedikit kaget dan memukul bahu sunbae-nya itu.
'Apakah terlihat seperti itu?' batin Kai.
"S-sembarangan, dia hyung-ku!" entah kenapa ada perasaan sesak diantara keduanya-Kai dan Dio-, saat Kai menyerukan kalimat tadi. Suho terlihat terkejut, tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
"Sincha? Kalian terlihat seperti sepasang kekasih yang mesra.." ucap Suho lagi, yang membuat Kai dan Dio terkaget-kaget tak jelas.
"Kau bicara apa?! Dia ini Kim Kyungsoo, kakak angkatku! Tidak lebih!" ucap Kai membentak Suho. Dio hanya bisa menundukkan wajahnya. Entah kenapa ucapan Kai terasa menusuk jantungnya. Ini tak bisa dijelaskan, terasa begitu aneh dan perih didadanya.
"Woaa~ calm down, tidak usah emosi seperti itu. Ok, aku percaya, kalian bersaudara. Kalau begitu, tidak ada salahnya jika aku mendekatinya, ne?" Jleb! Ucapan Suho serasa menancap dijantung Kai.
"Annyong, naneun Kim Joonmyun imnida. Orang-orang biasa memanggilku, Suho." Ucap Suho lagi-lagi menampilkan senyuman terbaiknya.
"A-annyong Suho-ssi, naneun Kim Kyungsoo imnida." Ucap Dio sambil memperlihatkan senyuman seadanya pada Suho.
Kai terdiam, ia tak tahu harus berbuat apa. Benar, ia tak punya hak untuk marah dan melarang Suho untuk mendekati 'hyung'nya, Kyungsoo. Suho adalah namja yang terkenal dengan keramahan dan kebaikannya. Lalu, kenapa Kai merasa keberatan dan tidak ingin Suho mendekati Dio?
Perlahan, semua batasan abu-abu mengenai perasaannya terhadap Dio, mulai menyeruakkan secercah cahaya. Secercah cahaya yang samasekali tidak diharapkan Kai untuk menyeruak. Ia ingin semua tetap begini, seperti biasanya. Ia dan Dio tetap tertawa bersama, saling berbagi kasih sayang sebagai 'hyung' dan 'dongsaeng'nya. Tapi kini? Kai tidak pernah memikirkan semua ini akan terjadi. Saat dimana, ia harus berbagi hyung-nya dengan orang lain. Melepaskan Dio untuk orang lain yang menyukainya. Membiarkan Dio tersenyum, bukan hanya untuknya lagi. Membiarkan Dio bahagia dan lebih mengerahkan perhatian pada orang lain?
Sungguh, hanya dengan membayangkannya saja, Kai merasa panas. Ia tidak rela, jika harus berbagi Kyungsoo hyung-nya dengan orang lain! Kyungsoo hanya boleh tersenyum untuknya, tertawa untuknya, bahagia bersamanya, dan mencurahkan perhatian hanya padanya. Apakah ini terdengar egois? Apa ini terdengar aneh? Kai benar-benar kalut dengan pikirannya sendiri, dan tidak bisa membedakan mana yang benar dan salah saat ini.
"Hyung, kajja kita pulang!" Kai segera manarik tangan Dio untuk menjauh dari Suho. Dio berusaha mengikuti langkah Kai yang tergesa-gesa. Tiba-tiba sebuah tangan menahan langkah Kai, yang otomatis membuat namja berkulit tan itu menoleh-masih dengan amarah tanpa sebabnya-.
"Kai, ada yang ingin kubicarakan empat mata denganmu." Ucap Suho dengan nada tegas. Kai mendelik kesal, kemudian dengan isyarat mata, ia meminta Kyungsoo untuk masuk ke mobilnya.
'Mau apalagi dia?!' pikir Kai mulai jengah.
"Katakan!"
"Aku hanya mau memberikan saran." Kai hanya diam mendengarkan, berusaha menahan emosinya yang tak terkendali, entah karena alasan apa.
"Kau tahu? Masyarakat tidak akan bisa menerima hubungan terlarang, seperti incest misalnya. Meski kalian bukan saudara kandung, tapi kau dan Dio tetaplah saudara." Suho berusaha menjelaskan dengan pelan, agar Kai tidak salah mengerti akan penjelasannya.
"Apa maksudmu, huh?! Aku tidak mencinta-" sebelum Kai menyelesaikan ucapannya, Suho telah lebih dulu menyela.
"Kau tidak apa, tidak mencintainya? Aku tidak bilang begitu, bukankah kau yang mengucapkannya sendiri? Percayalah Kai, apa kau mau kalian dihujat orang nantinya? Dan apa kau mau membuat appa dan eomma-mu kecewa?" Kai tak bisa berkata apa-apa. Kedua tangannya sudah mengepal erat, hingga buku tangannya memutih.
"Hanya itu yang ingin kusampaikan. Sebaiknya kau pikirkan ucapanku baik-baik." Setelah mengucapkan hal itu, Suho pun beranjak pergi dari hadapan Kai.
Kai memasuki mobilnya dengan nafas yang memburu , tidak teratur. Pikirannya benar-benar kacau, ucapan Suho terngiang-ngiang di otaknya. Dio yang memperhatikan raut wajah Kai, dan bahunya yang naik-turun menjadi khawatir.
"K-kai, neol gwaenchanyeo?" perlahan-lahan emosi namja berkulit tan itu mulai stabil, saat merasakan sentuhan lembut di punggung tangannya. Ia memalingkan wajahnya ke samping, menatap intens namja manis yang tengah memperlihatkan ekspresi kekhawatirannya. Apa yang salah dengan semua ini? Apa yang salah dengan perasaannya yang tulus ini?
"Ne, nan gwaenchana 'hyung'..."
12:00 KST...
TOK TOK TOK!
"Kyungsoo hyung, buka-hik, pintunya!"
Spontan Dio yang sedari tadi tertidur di sofa saat menunggu Kai, terbangun dan segera berlari membuka pintu.
"Kena-hik,-pa, lama sekali membukanya hyung?~~" Dio membulatkan matanya mendapati Kai pulang dengan keadaan mabuk berat, padahal ia masih di bawah umur.
"Kai, kau mabuk?" tanya Dio yang panik, dan berusaha membawa Kai menuju kamar mereka.
"Hehe aku-hik, tidak mabuk~~ hanya kele-hik, -wat, banyak minum, hyunghh~~~" Dio benar-benar dibuat kewalahan membawa Kai untuk berbaring di kasur. Selain karena tubuh Dio yang kecil, tubuh Kai yang besar dan berjalan sempoyongan, semakin mempersulit Dio.
BRUGH!
"Uhh... kau berat sekali, Kai." ucap Dio berusaha bangun, setelah sebelumnya ia tak sengaja ikut terjatuh di atas ranjang, tepatnya di atas dada bidang Kai. namun tangan Kai menahannya.
"Kai?"
Keduanya saling menatap untuk waktu yang cukup lama. Hingga sebuah cairan bening, perlahan mengalir dari sudut mata Kai. Kyungsoo sangat terkejut melihat hal itu.
"K-kai, kau kenapa?" lirih Dio seraya menyentuh pipi Kai dengan tangan mungilnya, dan berusaha menghapus air mata Kai dengan jemari lentiknya.
"Hyung~~" bukannya berhenti, aliran air mata Kai semakin menjadi yang membuat Dio panik bukan main.
"Hiks hiks.. Kai, waeyeo? Waeyeo? Hiks, uljima ne? Hyung disini, hiks hiks." Entah kenapa Dio tak bisa membendung air matanya saat melihat Kai yang menagis seperti itu. Kai tak pernah menangis sebelumnya. Ia berusaha terus dan terus menghapus air mata yang tak kunjung berhenti itu.
"Hyung, apa kau itu yeoja?"
"Mwo?" Namja bermata bulat itu terkejut dengan pertanyaan Kai yang tiba-tiba dan aneh.
"Kenapa kau terlihat begitu cantik? Padahal kau seorang namja."
"Hiks, kau ini mabuk Kai.." Dio merasa ucapan Kai ngelantur karena efek mabuknya.
"Hyung, kenapa kau begitu baik padaku?" Kai bertanya dengan suaranya yang terdengar serak.
"Hiks, aku ini hyungmu, dan kau dongsaeng-ku. Tentu saja, aku baik padamu, Kai. Aku sangat menyayangimu."
DEG!
BRUGH!
Tiba-tiba saja Kai mencengkram kedua lengan Dio dengan kuat, kemudian membalik posisi mereka. Menghempaskan tubuh mungil itu, dan menindihnya. Dio yang terkejut dengan reaksi tiba-tiba Kai hanya bisa membulatkan matanya.
"Kau menyayangiku, karena aku DONGSAENG-mu, dan kau HYUNG-ku?!" teriak Kai, terlihat kilat kemarahan yang kentara dimata Kai.
"N-ne, a-aku menyangimu sebagai do-dongsaeng-ku, Kai.." jawab Dio terbata-bata. Ia benar-benar takut melihat Kai yang sekarang.
"Aww appo, Kai.." Dio meringis saat merasakan cengkraman dibahunya semakin kuat.
"Kai, app-Hmmpfft?!"
Tanpa babibu, tiba-tiba saja namja yang lebih muda satu tahun darinya itu, melumat bibir Dio tanpa ampun. Kai menggerakkan bibirnya dengan liar di atas bibir Dio. Sementara namja bertubuh kecil itu, berusaha mendorong tubuh Kai dari atasnya. Namun sia-sia, Kai tak bergeming sedikitpun.
'Kau tahu? Masyarakat tidak akan bisa menerima hubungan terlarang,'
"Awwhh..." Dio hanya bisa menangis tertahan saat Kai menggigit bibirnya dengan keras. Ada rasa aneh yang melingkupi mulutnya. Sepertinya lidah Kai baru saja menerobos masuk ke dalam mulutnya. Terasa anyir darah dari lidah Kai, mungkin itu darah dari bibir Dio.
'seperti incest misalnya. Meski kalian bukan saudara kandung, tapi kau dan Dio tetaplah saudara.'
Dio merasa benar-benar sesak, ia telah memukul dada Kai berulang kali. Namun Kai tak menghiraukannya. Hingga cukup lama, barulah Kai melepaskan tautan mereka.
"Hahh hahh Kaihh, kenapahh?" ucap Dio bersusah payah.
'Kau tidak apa, tidak mencintainya?'
"Aku benci memanggilmu dengan sebutan hyung. Itu sama sekali tak cocok untukmu! Aku tak sudi menjadi dongsaengmu, aku tak rela!"
"A-andwae, hen-ti-kanhh.." Dio bersusah payah mendorong kepala Kai yang menandai lehernya dengan tang yang bergerak menelanjagi tubuh Dio.
'Percayalah Kai, apa kau mau kalian dihujat orang nantinya?'
"Kumohon, lepaskan marga Kim dari namamu! Pergilah, aku tak butuh siapapun untuk menemaniku." Kini tubuh Dio dan Kai telah polos seutuhnya, tanpa sehelai benangpun menutupi.
"Je-balhh.. hiks.. Kaihh le-pas-kan a-kuhh..." tangan Kai bergerak liar diatas tubuh Dio. Memilintir nipplenya dengan kasar, dan mengocok 'milik' Dio dengan keras.
"Appa boleh saja memungut gelandangan diluar sana; siapa saja, asalkan bukan kau!"
'Dan apa kau mau membuat appa dan eomma-mu kecewa?'
"Saranghae." Dio tak bisa mendengar ucapan itu karena detik berikutnya, ia merasakan sesuatu yang tumpul menerobos holenya.
JLEB!
"Arggghhhh! Hiks hiks hiks." Dio memekik keras, saat Kai memasukkan miliknya dalam sekali hentakkan ketubuh Dio.
"Hiks hiks, appo. Hentikan.. hentikan..."
End of Flashback...
"Nan jeongmal mianhae, hyung." Air mata berurai dari mata kedua namja itu. Bedanya, Kai tak mengeluarkan suara isak sejelas Kyungsoo.
"..."
"Nan, nan jeongmal johagesseyeo. Saranghae Kim Kyungsoo!" Akhirnya Kai mengucapkannya juga, kata-kata yang selalu dipendamnya.
DEG!
"Kai... " Dio merasa lidahnya benar-benar kelu. Kai mencinatinya? Cinta? Apakah itu jawaban atas semua kekacauan yang melanda hati dan pikirannya? Ia benar-benar pusing.
"Kyungie!/Soo-ie!/Kyungsoo!" terdengar teriakan dari tiga orang namja yang berlari menghampiri mereka.
"Kau, lepaskan dongsaengku!" teriak Baekhyun. Merasa pelukan Kai sedikit longgar, Dio segera melepaskan diri dari dekapan Kai. Dan berlari ke pelukan Baekhyun dan Luhan.
"Gwaenchana, ada hyung disini." Ucap Baekhyun dan Luhan berusaha menenangkan dongsaeng mereka. Sementara Chanyeol hanya diam memperhatikan.
"Kau! Apa yang kau lakukan pada Kyungsoo kami?!" marah Baekhyun seraya mengepalkan tangan kecilnya di depan wajah Kai.
'Jangan katakan, kau akan memukulnya dengan tangan mungilmu itu?' batin Chanyeol.
"Aku hanya ingin menyelesaikan masalah kami." Ucap Kai.
"Menyelesaikan masalah apa, huh? Kau membuatnya menangis, dasar napeun nom!"
BUG!
"Akh appo! Tanganku!" Baekhyun melonjak-lonjak kesakitan saat tangannya yang ia gunakan untuk memukul wajah Kai terasa sakit. Chanyeol segera ambil tindakan dengan meniup-niup tangan Baekhyun yang mulai memerah. Sementara Kai mengelus pipinya yang sedikit sakit.
"Ayo kita pergi!" ajak Luhan. Mereka berempat bergerak menjauhi Kai.
"Hyung, aku ingin kau kembali, kumohon." Dio menggelengkan kepalanya dengan kuat dalam dekapan Luhan.
"Jangan mengajaknya bicara!" bentak Baekhyun. Chanyeol berusaha menenangkan namjachingunya dengan mengusap punggungnya.
"Besok datanglah Ke arena Ice Skating yang biasa kita kunjungi! Aku mohon!" teriak Kai.
Baekhyun dan Luhan mendelik saat mendengar ucapan Kai barusan. Mereka memperhatikan wajah Dio yang terlihat merona dan ada raut kesedihan disana.
'Apa sebenarnya yang terjadi?'
TBC
Gyaaa~ kenapa TBC-nya gak pas gini? Gak sreg di hati Phoenix! *banting fic* ok, kalau mau membunuh Phoenix silahkan saja! Aku frustasi... #plak!
Please RCL T^T...
