Part 1 -Rememberance-
"Aku harus melakukan ini "
"Tidak, kau tak harus melakukannya ! Kau tidak harus menyelamatkan siapapun"
"Lari! Cepat Lari!"
"Kau bagaimana ?"
"Temui aku di diluar, ada yang harus aku selesaikan"
"Biarkan aku masuk!"
"Tapi kau tidak bisa bertarung"
"Lepaskan!"
"Dengarkan aku ! Bahkan kau pun akan mati jika masuk ke dalam sana"
"Aku tidak peduli"
"Kumohon, jangan lakukan ini. aku ingin mengingatmu"
"Maafkan aku"
"Tidak…tidaaak…"
"Tidaaaaak…" teriak seorang lelaki bersurai panjang sambil mengatur napasnya.
"Sial !" teriaknya. Ia lalu menelungkupkan wajahnya di telapak tangannya. Lelaki itu kemudian berjalan menuju jendela kamarnya, memperhatian kemerlap lampu gedung pencakar langit. Tangannya menyentuh jendela, mengusapnya dan kemudian ia berbisik
"Kapan kalian akan mengingatnya…"
"Aku lelah sendirian"
"Seungcheol-ah, Jisoo-ya..bantu aku" dan sebuah sayap putih bak malaikat muncul di balik punggung lelaki manis itu.
"Seungcheol-ah, Jisoo-ya..bantu aku"
Seorang lelaki tersentak dari tidurnya, mencoba mengatur deru napasnya.
"Itu suara siapa ?" tanyanya entah pada siapa.
"Kenapa dia memanggil namaku dengan begitu lirih.."
"Siapa pula Jisoo itu ? apa aku mengenalnya ? tapi kenapa aku merasa begitu membutuhkannya ?"
"Biar aku obati lukamu"
"Kau sudah lelah, energimu akan habis"
"Aku akan tetap melakukannya, bahkan jika kau mati pun aku dengan suka rela memindahkan seluruh energiku untukmu"
"Kau tidak perlu melakukannya, pergilah, susul Jeonghan"
"Tidak, aku akan selalu bersamamu"
"Aaaaaarrgggh !" Lelaki itu, Seungcheol memegang kepalanya yang terasa sangat sakit. Suara derap langkah mendekati kamarnya
"Seungcheol..seungcheol kau kenapa ?" tanya seorang wanita paruh baya khawatir
"Aaargh, sakit bu, sakit sekali" keluh Seungcheol lirih setelah itu pandangan Seungcheol mengabur, hal terakhir yang dilihatnya adalah seorang lelaki berambut panjang dengan sayap besi terbaring lemah disebelah lelaki bersurai kecoklatan yang bersimbah darah.
"Kembalilah" ujarnya sebelum kehilangan kesadaran
Los Angeles, 13 Januari 2013
Seorang lelaki bersurai kecoklatan menatap lirih bunga yang baru saja berhasil dihidupkannya. Ia lalu membuang bunga itu dan memeluk lututnya, menenggelamkan kepalanya di sela-sela lututnya.
"Aku tak ingin memiliki ini lagi"
"Aku tak ingin mengingatnya"
"Kembalilah"
'Deg'
Lelaki itu mengangkat wajahnya, kemudian menutup telinganya.
"Tidak..tidak.."
"Aku tidak mau kembali, kumohon jangan bawa aku kembali"
Lelaki itu kemudian mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.
"Tidak..aku tidak bisa membiarkan mereka membawaku kembali"
Lelaki itu kemudian berjalan tergesa ke arah pintu dan menguncinya. Merasa tak cukup dengan itu, ia lalu mendorong laci, meja dan kursi ke depan pintu, berharap seseorang tak dapat membukanya. Setelah itu lelaki itu berjalan ke arah jendela, Ia menutup jendelanya beserta gordennya dan mematikan lampu. Lelaki itu lalu berjalan menuju tempat tidurnya dan melilit tubuhnya dengan selimut. Mulutnya menggumamkan kata 'tidak' berulang kali.
"Bertahanlah"
"Hentikan, kau bisa terluka"
"Aku tidak peduli"
"Hentikan"
"TIDAK ! Jeonghan akan mati"
"Kau juga bisa mati !"
"Aku tidak peduli ! Lepaskan !"
"Jeonghan, bertahanlah. Aku akan menyelamatkanmu"
"Tidak..jangan..jangan..kumohon.." dan setetes air mata meluncur dari mata indahnya.
Seoul, 12 Januari 2013
"Kembalilah"
'Deg'
"Seungcheol ?"
"Seungcheol ? Kaukah itu ?"
"Kau sudah mengingatnya ?"
"Seungcheol, jawab aku ? kau sudah bisa melakukan telepati ?"
"Sial ! tadi itu kebetulan atau apa" ujar lelaki itu marah.
"aku harus mengeceknya" Lelaki itu lalu berjalan menuju balkom apartementnya dan membentangkan sayapnya. Ia pun terbang membelah langit.
"Sepertinya dia hanya stress karena banyak pikiran. Apakah akhir-akhir ini dia sering mengalami gangguan tidur ?" tanya seorang dokter kepada wanita paruh baya yang kini tengah mengelus kepala anaknya sayang. Ibu yang ditanya hanya menggelengkan kepala.
"Kalau begitu dia hanya kelelahan, sebaiknya dia istirahat hingga benar-benar pulih" Ujar sang dokter membuat wanita itu mengangguk.
"Baiklah, ini resepnya. Saya permisi. Jika ada apa-apa, anda bisa menelepon saya lagi"
"Terimakasih banyak Dok" dan dokter itu hanya mengangguk sebelum pergi meninggalkan rumah pribadi keluarga Choi. Ibu si anak hanya menatapnya khawatir, ia lalu menghembuskan napasnya dan merapihkan letak selimutnya lalu mengecup kening anaknya.
"Sebaiknya kau istirahat" ujarnya sebelum ia mematikan lampu dan pergi meninggalkan kamar anaknya. Saat ibunya pergi, mata Seungcheol terbuka.
"Aku tahu kau bersembunyi di balik jendela" ujarnya entah pada siapa. Saat ia berkata seperti itu, muncul seorang anak lelaki berambut panjang dengan sayap yang membentang di punggungnya, membuat anak lelaki tadi takjub melihatnya. Ia lalu melangkah menuju jendela dan membukanya.
"Kau..kau siapa ?" pertanyaan itu membuat si lelaki menghembuskan napasnya kasar.
"Rupanya kau masih belum ingat, buang-buang waktu saja" lelaki itu berbalik dan siap-siap untuk mengepakkan sayapnya, namun
"Tunggu.." Seungcheol menahannya dan menggenggam tangannya.
"Belum ingat tentang apa ?" tanyanya yang hanya dibalas tatapan mata oleh lelaki itu.
"Setidaknya bantu aku mengingatnya" lelaki bersayap itu menggeleng
"Aku tidak bisa, kau harus mengingatnya sendiri. Kau sendiri yang memberi syarat" Lelaki itu menatapnya bingung.
"Sudahlah, biarkan aku pergi. Aku akan kembali kalau kau sudah benar-benar ingat" ujarnya. Seungcheol lalu menggeleng, matanya menunjukan kesedihan, entah karena apa
"Jangan pergi, kau..sepertinya..entah kenapa tapi aku merasa kau sangat berharga untukku"
'deg'
"Jangan pergi.."
Lelaki itu menggelengkan kepalanya lalu berujar
"Aku harus pergi"
"Setidaknya biarkan aku bertanya satu hal lagi.." lelaki itu mengangguk.
"Apakah kau yang sebelumnya memintaku dan seseorang bernama Jisoo untuk membantumu ?" Lelaki itu menganguk, melihat itu Seungcheol langsung melepaskan tangannya membuat lelaki itu mengepakkan sayapnya dan melayang. Seungcheol lalu kembali berteriak
"Tunggu… !" lelaki bersayap itu memutar badannya.
"Apakah dulu kita berdua sepasang kekasih ?" tanya Seungcheol penuh harap. Lelaki bersayap itu tak menjawab, hanya menatapnya lama.
"Tidak..tidak.."
"Aku tidak mau kembali, kumohon jangan bawa aku kembali"
"Tidak..jangan..jangan..kumohon.."
"Aaargh…." Seungcheol meringing sambil memegang kepalanya, wajahnya menahan rasa sakit yan luar biasa. Melihat hal itu, lelaki bersayap itu terbang menghampirinya. Raut kekhawatiran terlihat jelas di wajahnya.
"Kau kenapa ?" tanyanya panic
"Aaaaargh ! Sakit..sakit sekali"
"Apa yang terjadi ? Seungcheol !"
"Dia tak mau kembali..dia tak mau kembali" Air mata mengalir dari mata Seungcheol, membuat lelaki bersayap itu bingung.
"Dia tidak mau kembali, Han" Seungcheol menangis pelan, tanganya bergelayut di tangan lelaki itu
'deg'
"Siapa ? siapa yang tak mau kembali ?"
"Ji..ji..jisoo" usai mengucapkan nama itu, Seungcheol kembali pingsan. Sedangkan mata lelaki bersayap itu membelalak.
"Tidak..Jisoo harus kembali" ia lalu pergi, terbang meninggalkan Seungcheol yang terbaring di balkon kamarnya.
"Jadi leader mereka sengaja menghilangkan ingatan semua member kecuali Angel ? Wah, ini menarik" ujar seseorang sambil menyeringai. Telepon orang itu berbunyi
"Halo, Raina ada apa ?"
"Baiklah aku akan kembali" Ia menutup teleponnya dan kembali menyeringai
"Sepertinya aku tidak bisa bersenang-senang sekarang. Tunggulah sebentar lagi dan kalian akan kembali kepada kami" dan lelaki itupun berjalan pergi.
-TBC-
Next :
"Apa katamu ? Kau bisa menghilang ke tempat lain ? Teleportasi maksudmu ?"
"Hei jangan gila"
"Aku tidak gila"
"Hahahaha, sudah hitam, miskin, dekil, ternyata kau gila juga ya"
"Awas saja kau"
Hai, maaf baru update. Aku sempat kehilangan inspirasi. Maaf kalau kurang sesuai. Review yaa. Ohiya untuk yang minta Jeonghan jadi Wanda, aku udah terlanjur jadiin dia yang lain, meskipun angel di apocalypse jadi jahat tapi personally aku suka sama kekuatannya, wahaha. Makasih buat reviewnya.
