Ok! Saatnya balas Review!
Kagamine 'Rika' Hime
Ok deh.. makasih banget ya udah review.. ^^
Namikaze Kyoko
Hmm.. memang sama persis ya? Maaf deh kalo misalnya sama.. dan thanks udah review. ^^'
Ayi Males Login
Haha.. kalau misalnya sama saya mohon maaf deh, thanks to review.
HaNiiChan
Gomen, kalau mirip, hehehe... thanks for review ^^
Kyoura Kagamine
Hahaha.. iya masih banyak banget Typo-nya.. soalnya saya baru sih disini. Ok deh, akan diusahakan di Chappie selanjutnyaa and thanks to review!
Ayano Suzune
Iya, di Chappie ini, plotnya di berantakin dan mulai diatur and thanks for your review!
Netta : hai..hai..hai...! Author cantik nan kece ini kembalii~
Rin + Len : CANTIK nan KECE?! Gak salah denger tuh?
Netta : gak kok! Aku 'kan memang cantik, kece, rajin menabung, baik hati, dan tidak sombong...(?)
Len : jangan berharap tinggi-tinggi ya BakAuthor!
Rin : kalo berharap tinggi-tinggi dan gak kesampean nanti kalau jatuh 'kan sakit.. hahahaha *tertawa keras*
Netta : alah.. aku doain ya, semoga kalian cepet nikah *senyum kemenangan*
Len + Rin : ... BAKAUTHOR! *naik roadroller*
Netta : k..kita..liat..aja..check..this..out.. GYAAA! *lari-lari*
Keterangan :
"Abc" = berbicara biasa.
"Abc" = ngomong bahasa asing (selain Indonesia).
'Abc' = judul sebuah lagu atau ungkapan.
'Abc' = perkataan dalam hati.
'Abc' pernyataan lampau.
"Abc" = penekan kata/kalimat.
"Apa hubunganmu dengan gadis itu?"
"Apakah dia kekasihmu?"
"Dia...pacarku dan bulan depan kami akan bertunangan," jawab Len sambil tersenyum dan menatap Rin.
Alhasil, Rin yang menyadari itu langsung ambruk dipelukkan Len. Sementara Len hanya memasang wajah pura-pura khawatir. Padahal didalam hatinya, dia bersorak gembira.
'Terima itu, gadis picik.'
Title : The Singer and The Writer
Chapter 2 : Pengakuan dan Permulaan Kejutaan Kecil
Rate : T for safe.
Disclimer : Netta-chan gak akan mungkin punya Vocaloid. Jika Netta-chan punya Vocaloid, Len, Rin, Luka, dan Kaito pasti disuruh kerja terus di dalam FanFic-nya yang GaJe dan Abal
Warning : abal, OOC, OOG(?), typo banget, alur gak nyambung, aneh banget pokoknya.
Enjoy it!
Normal POV
Glek!
Gumiya langsung menelan ludahnya akibat melihat kejadian yang ada di TV yang sedang ditontonnya. Keringat bercucuran dari pelipisnya. Dia melihat seorang gadis berambut honey-blonde yang berada di pelukkan seorang Len Kagamine. Setelah itu, dia melihat Len mengendong gadis itu dengan ala pengantin atau bridal-style. Dan, Len dan gadis itu yang kita kenal dengan Rin jalan memasukki mobil dan pergi.
Tok! Tok! Tok!
Gumiya mendengar suara pintu diketuk oleh seseorang. Gumiya langsung menuju pintu dan mengintip lewat lubang pintu. Dia langsung membukakan pintu apartment dan menyuruh mereka masuk. Len langsung meletakkan Rin diranjang apartmentnya. Len langsung tersenyum dengan puas dan bangga. Gumiya hanya memasang tatapan kaget, terkejut, marah, dan sedih yang membuat Len bingung.
"Ada apa, Gumiya?"
"Kau keterlaluan, Len," tanggap Gumiya dengan nada datar dan terkesan marah.
"Memang kenapa? Aku hanya mem-"
"Kau 'nggak mikir? Gimana dengan pekerjaannya, keluarganya, hidupnya, tempat tinggalnya nanti?"
"Itu s-"
"Itu masih bagus kau mengakuinya hanya sebagai seorang pacar."
"It-"
"TAPI KAU BILANG KALIAN AKAN BERTUNANGAN!" Gumiya langsung membentak Len.
"Aku juga gak tau kenapa aku bisa bilang begitu. Tujuanku hanya untuk membalas dendam dan membuatnya jera untuk mengata-ngataiku dengan sebutan shota yang menjijikan itu," jawab Len dengan santainya.
Gumiya yang dari tadi terpancing emosi memutuskan untuk membeli makan malam diluar dan meninggalkan Len dan Rin didalam. Len membawa segelas jus pisang dan berjalan menuju sofa. Tapi saat menuju sofa, jus yang diminum Len tumpah sedikit tanpa ia sadari. Len langsung terduduk di sofa dan merenungkan apa yang baru ia katakan tadi. Mungkin ada 30% menyesal dan 70% tidak menyesal dalam diri Len. Dia lalu melihat dan menghampiri ranjang tempat Rin pingsan.
'Kau manis juga yaa...' kata Len dalam hati sambil tersenyum.
'Eh?! Aku berpikir apa sih? Dia cewe yang udah ngata-ngatain aku shota masa manis?' kata Len dalam hati.
Len, itu kamu jujur 'kan? Udah ngaku deh.. hahahaha..
Abaikan yang diatas tadi. Dengan reflek, Len menyentuh wajah cantik Rin dan membelainya lembut. Tiba-tiba, Rin nampak gelisah dan dia menggeliat ditempat tidur Len dan membuat seprai ranjang Len menjadi 'sedikit' berantakan. Len yang melihat Rin menjadi ikutan risih dibuatnya. Akhirnya selama 15 menit Len mendiamkan Rin, Len mulai kesal. Len mengambil weker dimeja sebelah ranjang dan mengaturnya pada waktu sekarang. Lalu, Len mendekatkan weker itu ke telinga Rin dan menekannya. Akhirnya...
KRING! KRING! KRING! KRING!
Bunyi weker yang sangat keras itu langsung mendengung ditelinga Rin. Rin terlonjak karena bunyi weker tersebut. Saat dia bangun, dia melihat tangan Len ada disebelah telinganya. Dimata Rin, terdapat kilatan seperti petir yang tak kasat mata saat memandang Len. Rin lalu berjalan dan masuk kedapur sambil mengotak-ngatik sesuatu. Lalu dia mendekati Len dengan gunting yang diacungkannya dari samping tangan kanannya. Len yang melihat itu mulai berkeringat dingin, tapi dengan wajah yang tenang dan tanpa ekspresi.
"shota, kali ini kau sudah membuatku kesal..."
"..."
"...dan kau juga sudah membuatku naik pitam..."
"..."
"...dan akhirnya kau membuatku geram..."
Len merasa punggungnya menyentuh sesuatu yang dingin dan keras. Ternyata punggungnya sudah menyentuh dinding apartmentnya. Tinggal beberapa langkah lari, Rin akan bisa membunuhnya. Len tambah berkeringat dingin dan wajahnya menjadi pucat pasi. Rin terus-menerus menyodorkan pisau itu ketubuh Len.
"...dan hari ini adalah akhir dari hidupmu."
Dua langkah lari Rin akan bisa menusuk tubuh Len. Saat langkah terakhir...
"KYAAAA!"
BRUK!
...Rin 'pun terpeleset jus pisang yang tadi Len minum. Dan akhirnya Rin terjatuh dan mendarat dengan tidak elitnya. Len yang melihat itu hanya bisa terkikik pelan. Sedangkan Rin, dia masih sibuk mengelus ehembokongehem-nya karena saat terjatuh ehembokongehem-nya yang mendarat duluan. Dalam artian, dia jatuh dalam posisi duduk. Len yang melihat Rin hanya bisa pergi meninggalkan Rin yang masih sakit. Len segera mengeluarkan PS-Vita-nya dari sarung yang berwarna emas. PS- Vita-nya juga berwarna emas kekuningan dan memainkannya.
Akhirnya, Gumiya 'pun pulang dan mengetuk pintu apartment Len. Dia langsung masuk dengan membawa 2 buah kantung berisi makanan. Lalu, dia meletakkan belanjaannya dan mengeluarkannya. Rin menghampiri Gumiya.
"Sini, aku bantu ya," kata Rin sambil mengambil satu kantong plastik yang lain.
"GYAA! Ada Orenjii!" Rin berteriak dengan senang khas suara cemprengnya.
"Waah.. Ternyata kau suka dengan jeruk yaa... Aku juga sedikit suka dengan jeruk, tapi aku lebih suka dengan wortel~" kata Gumiya sambil tersenyum.
"Aku suka banget sama yang namanya jeruk! Jeruk itu manis kadang-kadang juga asam," jawab Rin dengan semangat sambil mengupas sebuah jeruk.
"E..eh! Jangan dimakan sekarang.. Nanti kau sakit maag!"
"Iya deh... Tapi jeruknya buat aku semua yaa..." pinta Rin dengan wajahnya yang imut-imut+puppy eyes.
"Iya.. Nanti abis makan malam boleh makan jeruknya," jawab Gumiya.
Ternyata, Len dari tadi memperhatikan Rin yang sedang mengobrol dengan Gumiya. Sepertinya, Len merasa sesak ketika Gumiya berdekatan dengan Rin. Namun, Len tidak pernah menghiraukan hal itu. Rin dan Gumiya menuju sebuah karpet ditengah ruangan apartment dan mulai meletakkan makanan-makanan diatas karpet.
"Len, kau gak makan?" tanya Gumiya.
"Aku makan kok," jawab Len datar dan tetap memainkan PS-Vita emasnya.
"Kapan?"
"Nanti agak malam."
"Ayo makan disini," kata Gumiya lagi.
"Gak usah. Aku makan disini aja," jawab Len dengan ekspresi yang sama, datar.
Rin memasukkan beberapa lauk dan sayur disebuah piring yang sudah diberi nasi secukupnya. Lalu, dia membawa piring itu ketempat Len dan membisikkan sebuah kalimat. Rin memposisikan bibirnya tepat berada ditelinga kiri Len. Sehingga jarak mereka sangat dekat.
"Len, makanlah, nanti kau sakit dan kau tidak bisa melanjutkan karirmu jika kau sakiit, OK?"
"Baiklah," jawab Len dengan hangat dan tidak dingin seperti tadi.
Len mengambil piring dari Rin dan mulai makan. Mereka bertiga makan dengan tenang dan tidak ada yang membuka mulut. Biasanya, Gumiya yang super cerewet kali ini memilih untuk tak berbicara sepatah kata 'pun. Setelah mereka semua selesai makan, Rin langsung menggambil piring kotor mereka dan mencucinya. Pada hari ini, Rin sangat-sangat tidak bersemangat. Ya.. kalian pasti tahu lah apa penyebabnyaa~
"Sudah malam, kau menginaplah disini. Tapi sebelum itu, aku ingin berbicara denganmu sebentar," kata Gumiya.
"Tidak usah, aku tidak mau merepotkan. Memang mau bicara apa?" tanya Rin dengan santai.
"Ayo, kita bicarakan ini secara empat mata," kata Gumiya sambil membukakan pintu untuk Rin.
"Baiklah." Rin 'pun pergi keluar ruangan apartment Len bersama Gumiya.
Mereka lalu memasuki kamar apartment disebelah Len dan itu adalah kamar milik Gumiya. Rin dan Gumiya duduk disofa lumayan besar yang ada di depan ranjang.
"Jadi gini, 'kan si Len ngaku-ngaku kamu itu pacarnya dan satu bulan lagi akan bertunangan. Kalau begitu kita harus bekerja sama 'kan?" tanya Gumiya.
"Hmm," tanggap Rin dengan singkat, padat, dan jelas. Kenapa sih bawa-bawa pelajaran bahasa indonesia? Oke abaikan 11 kata terakhir.
"Kamu mau bekerja sama dengan kami terutama dengan Len?" tanya Gumiya to the point.
"Kalau aku 'gak mau?" tanya Rin dengan nada datar.
"..." Gumiya tidak mampu berkata-kata.
"Maaf atas tawaranmu, tapi tidak terima kasih," kata Rin menekankan kata "tidak" dan pergi melenggang keluar.
"Tapi-"
Rin POV
BLAM!
Perkataan Gumiya terpotong karena hentaman pintu apartment yang ditutup 'agak' keras olehku. Aku merasa sangat sebal atas perlakuan Len Kagamine terhadapku. Aku berjalan lurus kedepan dan menekan tombol lift terbawah yang menunjukkan lantai dasar. Setelah lift terbuka, aku langsung masuk kedalam lift tersebut. Lalu, aku mengeluarkan handphone-nya dan mencari-cari sebuah nomor. Aku 'pun menekan tombol hijau.
Tut...tut...tut...KLEK!
"Moshi-moshi?" kata orang diseberang telepon.
"Kaiko, bisakah kau kerumahku malam ini?" tanyaku.
" Baiklah. Jam berapa?" tanya orang yang ternyata Kaiko.
"Mungkin jam 9. Kau 'kan sudah bisa bawa mobil?"
"Hmm... Ok jam 9. Bye," kata Kaiko.
"Bye!" Kami berdua lalu memutuskan telepon.
TING!
Bunyi lift yang memecah keheningan setelah teleponku dan Kaiko berakhir. Aku langsung melangkah keluar dari apartment. Aku melihat taksi berwarna biru muda dan menaikinya.
"Pak ke depan Restauran.X," kataku dengan nada datar.
"Baik, nona."
Akhirnya sang pak supir taksi pergi menuju ketempat tujuanku. Selama diperjalanan, Aku tidak berbicara sama sekali (iyalah mau ngomong sama siapa?). Aku memilih duduk dipojok sebelah kanan dekat jendela. Pada kesempatan kali ini(?), aku terus menerus memandang keluar jendela. Melihat kota Tokyo yang sangat sibuk meskipun sudah malam hari. Lampu-lampu di pertokoan dan di mall masih menyala dengan terangnya. Menurutku, kota Tokyo dengan kota Washington D.C sama saja karena setiap malam selalu ramai.
Selama diperjalanan, aku memiliki perasaan tidak enak. Seperti, ada sesuatu yang buruk terjadi padaku. Untuk mengubris itu semua, aku kembali mengulang kejadian-kejadian yang kualami tadi pagi hingga sekarang. Mulai dari aku bangun tidur sampai sekarang aku yang sedang berada di taksi. Kejadian saat aku bertemu Len Kagamine, makan siang bersama ketiga temanku, tiba-tiba tertidur di mobil Len Kagamine, pengakuan mengejutkannya tentang diriku, hingga asisten Len, Gumiya mengajakku bekerja sama dalam hal ini. Empat dari lima hal tersebut bisa membuatku gila mendadak dan langsung membuatku masuk RSJ a.k.a Rumah Sakit Jiwa.
Tak terasa sudah 30 menit aku menaiki taksi tersebut. Aku langsung turun dari taksi dan membayar ongkosnya. Aku memang tinggal diapartment tapi aku tidak pernah masuk lewat pintu depan apartment. Aku selalu masuk lewat pintu belakang. Soalnya, jalan menuju pintu belakang gedung apartmentku melewati jalan taman. Jadi, bisa sekalian bernostagia. Terkadang, aku senang ketika melewati taman itu. Terkadang, aku juga sedih ketika melewati taman itu. Aku senang karena, ditaman ini aku berkenalan dengan Kaiko, bermain bersamanya, dan membuatku menjadi seperti. Aku sedih ketika memikirkan perlakuan tou-sanku kepadaku dan kaa-sanku. Kaa-san dan Tou-san meninggal saat aku masih kecil.
Flashback : ON | Normal POV
'Selamat malam, sayang,' kata seorang wanita yang berusia sekitar 30 tahun keatas.
'Selamat malam, kaa-san,' jawab seorang anak perempuan berusia 9 tahun.
Ya, wanita 30 tahun itu adalah ibu tiri gadis kecil yang bernama Rin. Wanita itu bernama Lily Kagami. Lily mengelus-elus rambut Rin kecil agar putri tiri semata wayangnya bisa tertidur dengan lelap. Ya, Rin adalah putri tirinya karena pernikahan Lily dengan Leon Kagami, suaminya tidak bisa memiliki keturunan. Akhirnya, setelah dilihat gadis kecilnya sudah tertidur lelap. Dia segera mencium kening putrinya dan meninggalkannya keluar kamar.
Sebenarnya, Rin itu tidak tertidur. Dia hanya meyakinkan ibu tirinya bahwa dia tidur. Punggung Rin bersender pada bantal yang ia letakkan dibelakang punggungnya. Tiba-tiba, dia mendengar suara samar-samar dari depan kamarnya. Terdengar suara seorang wanita yang berteriak. Rin terkejut karena yang berteriak adalah ibu tirinya. Rin segera mengendap-ngendap keluar dari kamarnya yang berada dilantai 2.
Dia juga melihat kedua orang tuanya pergi keluar rumah lewat pintu depan yang terbuat dari kayu. Rin bingung, apa yang akan kedua orang tua mereka lakukan diluar rumah. Saat orang tuanya sudah lumayan jauh berjalan, Rin yang mengenakan piyama keluar dari rumah dan mengikuti kedua orang tuanya. Setelah diingat-ingat oleh Rin, ini adalah jalan untuk menuju taman didekat sebuah apartment mewah.
'KAU INI PEREMPUAN TIDAK TAHU DIRI!' teriak tou-sannya Rin saat mereka berdua sudah sampai ditaman.
'KAU ITU YANG TIDAK TAHU DIRI!' balas kaa-sannya.
'MENTANG-MENTANG AKU TIDAK BISA MEMILIKI KETURUNAN, KAU BEBAS BERMAIN DENGAN WANITA LAIN!' sambung kaa-san.
Lalu tou-san mengeluarkan sebuah pisau dan meletakkannya di tangan kanannya. Rin yang melihat kejadian itu terus menerus menangis. Tou-sannya Rin mendorong kaa-sannya Rin dan menusukkan pisau tersebut ke perut kaa-sannya Rin. Memang, Rin sangat sering melihat ayah kandung dan ibu tirinya bertengkar. Namun, tidak pernah sampai seperti ini. Sebelum tou-sannya Rin bunuh diri, dia memergoki Rin sedang mengikuti mereka.
'Rin! Ngapain kamu disini 'hah?' tanya tou-sannya Rin.
JLEB!
Tou-sannya Rin langsung mendorong anaknya dan menusukkan pisau yang ia pegang ke kaki Rin. Dengan spontan, Rin langsung menjerit kesakitan. Tidak ada yang menyadari jeritan Rin karena, hari itu sudah sangat malam. Lalu, tou-sannya Rin langsung mencabut pisau itu dan pergi ketempat pacar barunya, yang tak lain adalah ibu kandung Rin dan meninggalkan Rin sendirian.
Pada saat itu, seorang gadis berambut biru, laki-laki berambut biru, dan wanita berambut merah muda melintasi jalan belakang menuju apartment mewah tersebut. Mereka melihat Rin yang sedang memegangi kakinya. Dan mereka menolong Rin dengan membawa ke apartmentnya. Akhirnya setelah mereka berkenalan di ketahui bahwa nama si gadis biru adalah Kaiko Shion. Si laki-laki biru adalah kakak Kaiko, Kaito Shion. Sementara si gadis merah muda adalah Luka Megurine.
Atas permohonan Rin, Kaito, Kaiko, dan Luka setuju untuk membawa Rin ke panti asuhan.
Flashback : OFF | Rin POV
"Hei!" panggil seseorang kepadaku.
Ternyata dua laki-laki yang berada tidak jauh didepanku memanggil. Aku berhenti dan hanya bersikap tenang seolah mereka semua hanyalah angin lalu. Lalu mereka mulai berjalan pelan mendekatiku.
"Sendirian aja, neng?" tanya pria pertama.
"..." Aku memilih untuk diam.
"Mau kemana, neng?" tanya pria kedua.
"..." Aku memilih untuk diam LAGI.
Mungkin, karena aku tidak menjawab, mereka berdua menghampiriku dan semakin mendekatiku. Aku hanya menutup mataku. Aku merasa ditarik oleh seseorang dan tiba-tiba tubuhku sangat terasa hangat. Aku bisa merasakan degup jantung orang ini sangat cepat dan ehemdadaehem-nya bergerak naik turun dengan cepat. Saat aku mendongak...
..Dia adalah...
To Be Continue...
Netta : bagaimana minna? Menurut orang-orang cerita saya mirip sama punya orang lain ya? Saya minta maaf yang sebesar-besar-besa-besarnya atas kesalahan-kesalahan saya, kalau saya TYPO aja kerjaannya.. *nangis dan pundung di pojokkan*
Len : Authornya gila ya, Rin? *bisik ke Rin*
Rin : iya, Len. Authornya sangat-sangat gila.. *bisik ke Len*
Netta : huhuhu... Dan maaf juga karena disini lebih fokus ke Rin..hiks..
Len+Rin+Kaito+Kaiko+Luka+Gumiya : *cengo*
Luka : udah ah pergi aja mendingan..
Kaito+Kaiko : setuju!
All : *pergi*
Kaiko : Rn'R Minna?
R
E
V
I
E
W
.
V
