Cerita sebelumnya :
" Biarin, suka-suka aku dong, " balas Yugao. " oh ya. Mana kurenai, biasanya kalian pulang bareng " lanjut Yugao menanyakan keberadaan temannya.
" Loh, dia belum pulang. Padahal satu jam yang lalu dia sudah pulang duluan dari sekolahan "
" Apa katamu Anko, satu jam yang lalu "
.
Naruto bukan punya saya
.
Rated = M
.
.
" Ya, tadinya kami berniat untuk pulang barengan. Tapi karena kerjaanku di sekolahan masih banyak, jadi aku suruh saja dia pulang duluan " ucap Anko yang tadinya akan masuk ke kamarnya kini malah berdiri menyender di tiang pintu sambil memakan kacang tanah yang dibelinya ketika di perjalanan pulang.
" Kalau dia sudah pulang duluan. Kenapa sampai sekarang belum juga datang " ucap Yugao seraya mengambil handponnya yang berada di atas meja dan mulai mencari nomer kontak temannya.
" Anko, apa sebelum itu dia bilang mau pergi kemana dulu gitu ke kamu " lanjut Yugao bertanya pada temannya yang masih berdiri menyender di tiang pintu kamarnya.
" Seingatku sih, dia tidak bilang apa-apa padaku "
" Eugh, pergi ke mana sih itu anak. Mana nomer teleponnya tidak aktif lagi " Yugao merengut kesal setelah gagal menghubungi temannya yang belum juga pulang.
" Masa sih tidak aktif "
" Beneran, coba saja sendiri "
Sesuai saran Yugao, Anko mengambil handpon miliknya yang berada di dalam tas jinjingnya. Lalu diapun mulai mencoba menghubunginya.
Sedangkan Yugao kini mulai merasa khawatir dengan keberadaan temannya yang entah di mana.
" Iya yah, beneran tidak aktif. Padahal tadi sewaktu di sekolahan, kulihat batrainya masih penuh ko " ucap Anko setelah mencobanya.
Mendengar ucapan Anko, Yugao semakin khwatir. Karena setahunya, temannya itu tidak pernah mematikan handponnya kecuali kehabisan batrai.
Kemudian Yugao beranjak dari tempat duduknya. " Terus gimana sekarang, Anko. Aku takut kalau terjadi sesuatu yang buruk menimpanya di jalan " Yugao mengungkapkan rasa kehawatirannya seraya berjalan mondar-mandir tidak karuan.
" Hus, jangan bicara ngawur kamu " ucap Anko dengan nada sedikit membentak
" Tapi bagaimana jika itu beneran terjadi "
" Yugao tenanglah dulu, " ucap Anko ketika melihat temannya yang begitu khawatir dengan ketidak beradaan teman yang satunya lagi. " mungkin saja Kurenai mampir ke rumah temannya dan lupa bilang pada kita "
" Temannya yang mana. Dia itu tidak punya teman selain kita " balas Yugao dengan sedikit berteriak.
" Ada "
" Siapa "
" Hana "
" Hana, " ucap ulang Yugao seraya mengingat wajah orang dengan nama tersebut. " ah iyah aku baru ingat, Inuzuka Hana. Dia juga seorang gurukan sama seperti kalian " ucap Yugao setelah mengingatnya.
Kemudian Yugao menyalakan Handponnya kembali dengan raut muka serius. " Mana sih nomernya ko tidak ada. Perasaan dulu aku pernah penyimpannya " ucapnya dengan kesal.
" Nomer siapa "
" Siapa lagi kalau bukan Hana "
" Untuk apa "
" Eugh_ kamu ini guru atau bukan sih, " ucap Yugao semakin kesal. " dalam situasi seperti sekarang ini. Seharusnya untuk seorang guru sepertimu ini tahu apa yang aku maksud dan apa yang aku pikirkan "
" Hei aku ini guru, bukan tuhan yang tahu segalanya. Jika kamu tidak bicara dengan jelas, mana bisa aku tahu "
" Maaf, aku tidak bermaksud menyinggumu. Aku hanya kesal karena tidak punya nomer telepon si Hana "
" Untuk apa kamu mencari nomer si Hana "
" Untuk menanyakan keberadaan Kurenai " kali ini Yugao langsung mengucapkan maksud tujuannya mencari nomer kontak orang yang bernama Hana itu.
" Oh, jadi itu yang kamu maksud tadi " ucap Anko seraya menyalakan handponnya dan mulai mencari nama Hana di kontaknya lalu setelah ketemu dia melakukan panggilan terhadapnya.
' Bagaimana bisa dia diterima jadi seorang guru di sekolahan ' batin Yugao sambil melihat ke arah Anko yang sedang menelpon.
Beberapa menit kemudian.
" Kata Hana, Kurenai tidak ada di sana " ucap Anko setelah memutuskan sambungan teleponnya.
" Terus kemana perginya dia, " ucap Yugao yang kembali mengkhawatirkan temannya. " lalu kita harus bagaimana sekarang. Apa kita harus menelpon polisi "
" Menurutku, untuk sekarang tidak usah. Lebih baik kita coba mencarinya dulu. Kalau tidak ketemu juga, baru kita lapor polisi "
" Tapi kita harus mencarinya ke mana. Lagipula inikan sudah malam sekali. Pasti akan susah untuk mencarinya "
" Ke jalan yang sering kami lewati "
" Kalau begitu ayo kita pergi sekarang " ucap Yugao seraya berjalan menuju pintu keluar.
" Kamu mau kemana, Yugao "
Namun sebelum sampai pintu Yugao kembali berhenti karena mendengar panggilan temannya. Kemudian dia menengok dan berucap. " Masih pakai nanya lagi. Sudah jelaskan mencari Kurenai "
" Di luar dingin tahu. Pakai jaket dulu sana, baru kita pergi " ucap Anko ketika melihat Yugao yang hanya memakai kaos pendek dan celana jeans panjang.
" Tidak usah, nanti keburu malam " balas Yugao seraya kembali berjalan.
" Hah terserah kaulah. Tapi jika nanti tubuhmu masuk angin, jangan menyuruhku untuk mengerok punggungmu " ucap Anko yang langsung mengikutinya dari belakang tanpa mengganti dulu pakain kerjanya.
.
Setelah hampir satu jam mencari keberadaan temannya namun belum juga ketemu. Kini Yugao dan Anko sedang beristirahat di bangku halte bus yang sering dilewati Anko ketika mau berangkat atau pulang dari pekerjaannya.
" Anko bagaimana ini. Apa sebaiknya kita lapor polisi saja dan meminta bantuan mereka untuk mencari Kurenai " ucap Yugao yang sudah kelelahan karena berjalan kesana kemari mencari keberadaan temannya.
" Sebentar, kita tunggu Hana dulu. Katanya dia mau ke sini bersama adiknya " balas Anko sambil memandangi Handponnya yang menyala.
" Mau ngapain dia ke sini "
" Pakai nanya lagi, sudah jelaskan membantu kita mencari Kurenai "
" Eugh_ aku kan cuman nanya. Gak usah ketus juga kali jawabnya "
" Siapa juga yang ketus. Lagian barusan waktu di rumah, kamu juga bilang begitu padaku "
" Kapan aku pernah bilang begitu "
" Nih anak pura-pura lupa lagi. Tadi waktu kita berangkat "
" Permisi Oba-san "
Ketika mereka mulai bertengkar karena masalah hal sepele. Tiba-tiba ada anak kecil berjenis kelamin perempuan, diperkirakan berumur 10 tahunan dengan rambut merah serta memakai kacamata polos menghampiri mereka dari belakang.
" Hei anak kecil, kami ini masih muda tahu. Jadi, jangan panggil kami Oba-san " ucap Yugao marah. Sedangkan anak kecil yang dimarahinya malah tersenyum polos tanpa ada rasa takut sedikitpun.
" Yugao, dia itu hanya anak kecil. Jadi maklumi saja, " ucap Anko menegur temannya yang marah karena di panggil bibi. Kemudian Anko menatap anak kecil itu dengan seksama lalu ke sekelilingnya.
" Adik kecil, kenapa malam-malam begini pergi sendirian. Mana ayah dan ibumu " tanya Anko setelah tidak melihat keberadaan orang lain selain anak kecil tersebut.
" Loh Oba-san tidak lihat, mereka ada di sampingku sekarang " jawab anak kecil itu seraya menatap ke arah sampingnya. Dan ucapannya itu sukses membuat Yugao langsung memegangi tengkuknya dan mulai merasa takut karena dia tidak melihat siapa-siapa di sana.
" Anko, kita pergi saja yu dari sini. Keliatannya anak ini sedikit aneh deh "
Bukan tanpa sebab Yugao berucap seperti itu. Karena selain kemunculannya yang tiba-tiba dan sendirian saja, anak kecil itu juga malah tersenyum ketika dimarahinya.
Namun Anko tidak menggubris ajakannnya dan dia malah berjongkok di hadapan anak kecil tersebut.
" Adik kecil, Oba-san tanya sekali lagi. Di mana orang tuamu sekarang. Karena tidak baik loh untuk anak seumuranmu pergi sendirian malam-malam " ucap Anko dengan lembut.
" Oba-san, kan tadi sudah kubilang, ayah dan ibu ada di sampingku sekarang, " Anak kecil itu memberikan jawaban yang sama seperti sebelumnya. Lalu dia berucap kembali. " terus Oba-san sedang apa di sini malam-malam. Apa Oba-san sedang menunggu mobil bus lewat "
" Anko, ayo kita pergi dari sini. Kupikir anak ini benar-benar aneh. Atau mungkin saja dia itu hantu gentayangan penunggu halte bus ini " ucap Yugao seraya menarik tangan temannya sampai membuat temannya itu kembali berdiri dengan paksa.
" Yugao kalau bicara jangan sebaragan yah. Bagaimana kalau anak kecil ini tersinggung dengan ucapanmu, " bentak Anko pada temannya. Lalu dia kembali berjongkok.
" Mana mungkin dia tersinggung. Tadi saja ketika dimarahin dia malah tersenyum ko "
" Maaf ya adik kecil. Teman Oba-san ini penakut orangnya. Jadi Oba-san harap kamu bisa memakluminya yah " ucap Anko mengabaikan gerutuan temannya.
" Tidak apa-apa ko Oba-san " ucap anak kecil itu seraya tersenyum kembali. " Oh ya Oba-san, itu mobil busnya sudah datang " lanjutnya seraya menunjuk kendaraan beroda empat yang berhenti.
" Oba-san tidak sedang menunggu bus ko "
" Lalu Oba-san sedang apa di sini kalau bukan untuk menunggu mobil bus lewat "
" Ah iya Oba-san hampir lupa, Oba-san di sini sedang mencari teman Oba-san yang belum pulang dari tadi. Tapi sampai sekarang belum juga ketemu " ucap Anko sambil menyalakan handponnya kembali dengan niatan menunjukan poto temannya. Barangkali saja anak kecil di hadapannya ini pernah melihatnya.
" Apakah teman Oba-san itu seorang wanita berabut hitam panjang, matanya merah terus memakai pakaian dengan model yang sama seperti Oba-san "
Namun sebelum menunjukan potonya, anak kecil itu sudah menyebutkan ciri-ciri temannya yang hilang.
" Ah iya. Apakah adik kecil pernah melihatnya " tanya Anko dengan antusias.
Sebenarnya dia penasaran dan ingin bertanya bagaiman anak kecil itu bisa tahu dengan ciri-ciri temannya. Padahal dia belum sempat menunjukan potonya. Tapi dia urungkan niatannya itu, karena mencari keberadaan temannya lebih penting dari pada rasa penasarannya.
" Tadi kulihat dia dibawa paksa oleh tiga pemuda yang mukanya menyeramkan ke jalan sempit itu " ucap anak kecil itu seraya menunjuk jalanan yang di apit dengan dua dinding tembok bangunan yang tinggi. Lalu Anko dan Yugaopun langsung mengalihkan perhatiannya ke arah tempat yang ditunjuk anak kecil tersebut.
" Adik kecil, kapan kamu melihatnya " tanya Anko lagi. Tapi kali ini tidak jawaban darinya. Lalu diapun mengalihkan kembali perhatiannya ke tempat anak kecil itu berada.
Namun Anko langsung kebingungan ketika melihat keberadaan anak kecil itu sudah hilang. Lalu diapun berdiri dan mengedarkan pandangannya kesekeliling dia berada untuk mecarinya. Namun hasil nihil.
" Yugao, ke mana anak kecil tadi " tanya Anko pada temannya.
" Mana aku tahu, " balasnya sambil memegang tengkuknya kembali. " jangan-jangan benaran lagi, kalau dia itu hantu gentayangan " lanjutnya dengan raut muka takut.
" Hah kamu ini dari tadi bilangnya cuma hantu-hantu melulu, dasar penakut, " ucap Anko mengomentari kelakuan temannya. " makanya berhentilah menonton drama. Sudah jelas kaki anak kecil tadi menginjak tembok. Masih saja bilang hantu " lanjutnya seraya berjalan menuju tempat yang di tunjukan anak kecil tadi.
" Kamu mau ke mana Anko " tanya Yugao ketika melihat temannya mulai berjalan.
" Mencari Kurenai " balasnya
" Hie Anko, apa Kurenai sudah di ketemukan "
Anko menghentikan langkah kakinya lalu mengalihkan perhatiannya ke arah orang yang baru saja berteriak memanggilnya. Kemudian dia melihat dua orang turun dari motor ninja berwarna putih.
" Belum Hana " balas Anko seraya menghampiri orang tersebut. Begitu juga dengan Yugao yang mengekorinya dari belakang.
" Anko-sense, sebenarnya apa yang terjadi. Kenapa Kurenai-sense bisa menghliang " tanya anak remaja laki-laki berambut coklat yang berjalan mengekori seorang wanita dengan warna rambut yang senada dengannya.
" Kami juga tidak tahu Kiba. Tapi yang jelas Kurenai belum pulang sampai sekarang. Dan nomer teleponnya juga tidak aktif dari tadi, " jawab Anko.
" tapi, tadi ada anak kecil menghampiri kami dan bilang kalau dia melihat kurenai dibawa paksa oleh tiga orang pemuda dengan muka menyeramkan ke jalan gang sana " lanjut Anko menunjuk tempatnya.
" Anko, kenapa kamu bisa percaya begitu saja dengan ucapan hantu kecil itu. Bagaimana kalau dia mejebak kita menuju teman-temannya "
" Hantu kecil " ucap Kiba dan Hana secara bersamaan.
" Sudah jangan dengarkan si penakut ini. Lebih baik kita pergi ke sana sekarang " ucap Anko mengajak teman dan muridnya. Kemudian mereka mulai berjalan tanpa memperdulikan Yugao yang terus menggerutu di belakannya.
.
" Anko, beneran kita akan masuk ke sana " tanya Yugao ketika sudah berada di depan jalan kecil yang diapit dua dinding bangunan tinggi. " kurasa hantu kecil itu beneran mau menjebak kita deh "
" Kamu mau Kurenai cepat di temukan tidak " balas Anko.
" Ya maulah "
" Makanya diam, jangan terus merengek seperti anak kecil " ucap Anko yang mulai melangkahkan kakinya lalu diikuti yang lainnya dari belakang.
Untuk beberapa saat suasana sepi dan gelap mengiringi langkah kaki mereka. Sampai akhirnya Kiba membuka suaranya dengan memanggil kakak perempuannya.
" Onee-chan "
Seakan mengerti apa yang di maksud adiknya. Hana langsung menyahut. " Ya aku tau. Kau duluan sana, biar aku yang menjaga mereka "
Kemudian Kiba meminta ijin pada Anko selaku gurunya ketika di sekolahan " Sense biar lebih cepat mencarinya, aku duluan yah " ucapnya seraya berjalan meninggalkan rombongan.
Lalu setelah merasa dirinya sudah lepas dari pandangan orang-orang di belakangnya. Kiba perlahan mulai berlari dan setelah itu wujudnya berubah menjadi seekor serigala putih dengan ukuran tubuh yang hampir menyamai seekor bison dewasa.
Kemudian serigala putih itu berlari dengan cepat, menyusuri gang seraya mepertajam penciuman hudungnya untuk mencari sumber dari bau yang tidak asing baginya, yang tadi sempat dia cium ketika sedang bersama kakaknya.
Lalu setelah berlari sejauh dua ratus meter, akhirnya dia berhasil menemukan sumber bau tersebut. Dan dia langsung mengaung dengan keras sebagai pesan isyarat pada kakaknya.
Aauuuuungngng
" Anko itukan suara serigala " ucap Yugao.
" Anak kecil juga tahu, kalau itu suara serigala " balas Anko dengan sedikit menengok ke arah Hana. Sedangkan Hana yang merasa dilirik langsung mengalih perhatiannya ke arah lain.
" Kamu dengarkan suaranya keras sekali "
" Tentu saja, karena aku juga punya telinga "
" Bukankah berarti serigalanya berada dekat dengan kita " ucap Yugao yang sudah mulai ketakutan.
" Terus kenapa, kalau dekat dengan kita " balas Anko seraya kembali melirik ke arah Hana. Namun yang diliriknya kini sedang pura-pura sibuk memainkan handponnya.
" Eugh_ Anko, kamu ini bodoh atau pura-pura bodoh sih " dengan perasaan kesal Yugao mencubit bahu temannya dengan keras sampai temannya itu meringis kesakitan.
" Aw_ Yugao, kamu ini apa-apaan sih. Sakit tahu " keluh Anko seraya mengusap-ngusap bahunya.
" Lagian kamu susah amat sih ngertinya " balas Yugao dengan perasaan yang masih kesal.
" Kamu sendiri yang bicaranya tidak jelas "
" Em_ maaf Anko. Bukan bermaksud ikut campur dalam pentengkaran kalian. Tapi aku hanya ingin menyampaikan pesan yang baru saja kiba kirim, katanya Kurenai sudah di temukan " ucap Hana seraya menunjukan handponnya.
" Benarkah, kalau begitu ayo cepat kita susul dia " ucap Yugao senang seraya menarik tangan temannya.
Sedangkan Anko menurut saja ketika ditarik temannya. Namun sebelum itu dia menengok sebentar ke arah Hana. " Terima kasih, karena sudah membantu kami mencari Kurenai " ucapnya seraya berlari kecil bersama Yugao dengan sebuah penerangan dari handponnya.
Yah Anko tahu kalau Inuzuka bersaudara itu bukan manusia biasa. Bisa dibilang mereka itu manusia serigala. Dan itulah kenapa tadi dia meminta bantuan pada mereka untuk mencari temannya.
Dan ketika kiba meminta ijin padanya untuk mencarinya duluan lalu tidak lama setelah itu mendengar aungan serigala, dia merasa senang. Karena dia menduga kalau muridnya itu sudah menemukan temannya.
Sedangkan Hana yang mendengar ucapan Anko hanya tersenyum seraya mengikutinya dari belakang.
Sebenarnya tanpa dimintapun Hana pasti akan membantunya. Apalagi orang yang hilang dan yang baru saja di temukan keberadaannya itu adalah temannya juga. Malah yang ada Hana merasa senang karena masih dipercayai dan tidak ditakuti meskipun dia sudah mengetahui identitas dirinya.
" Hana-san, apakah masih jauh tempat adikmu menemukan Kurenai " tanya Yugao yang sudah merasa kelelahan karena terus berlari.
" Mungkin seratus meter lagi dari sini " balas Hana dari belakang.
" Hah seratus meter " ucap Yugao seperti tidak percaya. " aku jadi heran kenapa Kurenai bisa di temukan di sana "
" Apa kamu lupa kata anak kecil yang menghampiri kita di halte bus " ucap Anko mengingatkan temannya.
" Maksudmu si hantu kecil itu "
" Dia itu manusia bukan hantu, Yugao "
" Mana ada manusia yang bisa menghilang begitu saja. Apalagi pas di hadapan kita "
" Terserah kamu sajalah, yang penting sekarang percepat larimu. Aku takut terjadi apa-apa dengan Kurenai. Seperti yang diucapkan anak kecil itu "
" Memang apa yang diucapkan anak kecil itu, Anko " tanya Hana penasaran.
" Loh kamu juga lupa Hana. Perasaan aku sudah memberitahumu " ucap Anko serasa tidak percaya bagaimana bisa seorang manusia serigala lupa.
" Ya begitulah "
" Katanya Kurenai dibawa paksa oleh tiga orang pemuda yang mukanya menyeramkan" ucap Anko mengingatkan kembali.
" Ah ya aku ingat. Kupikir si hantu kecil itu mau menjebak kita. Ternyata dia malah membatu kita " ucap Yugao.
" Makanya jangan berprsangka buruk pada orang lain " tegur Anko pada temannya.
" Dia itu bukan orang, tapi hantu " balas Yugao.
" Kita hampir sampai. Di depan sana ada sedikit belokan " ucap Hana memberitahukan.
Mendengar ucapan Hana, Anko dan Yugaopun mempercepat larinya. Mereka terus berlari seraya berharap kalau temannya itu baik-baik saja, sampai akhirnya mereka menemukan jalan yang sama seperti diucapkan Hana sebelumnya.
Lalu kemudian mereka berbelok dan,
" Ya tuhan. Apa yang terjadi dengan Kurenai, Kiba "
" Hoek, Hooek, kenapa di sini banyak sekali darah "
" Kiba apakah ini ulahmu "
.
Bersambung.
.
Untuk cerita kali ini cukup sekian dan terimakasih.
.
