Compliqué
.
Harvest Moon (c) Natsume inc.
Compliqué (c) Sakusha21
.
WARNING:
1. AU
2. Maybe OOC
3. Classic
.
Happy reading, everyone.
CHAPTER 2 – THE PAST, MEETING
Pagi memekar. Cahaya matahari menembus jendela, merangkak melalui helai selimut, menelisik helai rambut keemasan yang menyembul di baliknya. Pemiliknya menggeliat malas, berbalik memunggungi jendela. Terlalu malas untuk bangkit dan menutup tirai sewarna api di bingkainya.
Ia membuka mata cepat. Namun tak ada yang terpancar di sana. Yang ada hanya kekosongan, yang ada hanya gambar lampu yang ia tatap, terpantul di bola matanya. Sosoknya berbaring kaku, tak bergerak sama sekali. Sampai ia mendengar suara dentang kecil jam yang berjarak sekitar enam meter darinya. Menandakan bahwa waktunya untuk kabur dari semua ilusi mimpi telah tiba.
Pukul enam pagi, dan ia bisa melihat putih amplop sehelai surat menyembul di kotak posnya melalui jendela.
Sejak Claire pindah ke kota kecil ini dua minggu lalu, sudah menjadi sebuah ritual bagi Elli untuk berkunjung ke rumahnya tiap pagi. Biasanya hanya untuk minum teh atau susu hangat, kemudian membantu Claire menyirami tanaman lobak dan ketimunnya. Namun bila hari Rabu, hari di mana klinik tempat Elli bekerja paruh waktu libur, ia bisa menemani Claire seharian. Melangkah bersama menuju Mother Hill untuk mengambil tanaman-tanaman liar yang berwarna-warni, akar bambu, atau sekedar membantu mengangkut kayu yang ditebang oleh gadis berpakaian petani itu. Terkadang mereka memetik beberapa tangkai bunga Moondrop dan Toy Flower, sekedar iseng untuk dipajang di rumah atau diberikan pada orang lewat. Wajar, mereka sudah lama tidak bertemu. Sejak orangtua Elli meninggal dunia dan ia pindah ke kota kecil ini untuk dirawat neneknya dan tinggal bersama sepupunya yang seorang dokter.
Hari itu pun, Elli datang di saat gadis bermanik azure itu tengah membaca surat yang tiba padanya tadi pagi. Elli yang telah menjadi sahabat baik gadis itu langsung masuk ke dalam rumah dan memberi salam, meski tak ada respon karena sang pemilik rumah begitu terfokus pada apa yang dibacanya. Gadis berparas lembut itu kemudian duduk di samping Claire, mencuri baca surat yang gadis itu pegang.
Dear, Sister, Claire
Kak Claire, ini aku, Jill. Ini pertama kalinya aku mengirim surat dengan tanganku sendiri. Namun, ini karena keadaan tidak memungkinkan bagi Kak Jack untuk mengirim surat. Jack ambruk kemarin lusa ketika ia tengah membawa keranjang berisi hasil tambangnya di depan rumah Bibi Vesta. Tadinya, kupikir dia hanya kelelahan dan terkena demam biasa, Kak. Namun ia belum sadar sampai saat aku menulis surat ini—24 jam lebih semenjak ia mulai tak sadarkan diri.
Kak, kuharap kakak tidak perlu khawatir. Kalau kakak sibuk, kakak tidak perlu datang kemari. Aku bisa merawat Kak Jack. Lagipula, di sini sedang ada festival, jadi orang dari luar tidak boleh masuk.
Kakak jangan khawatir, di sini ada Kak Muffy yang ikut menjaga Kak Jack.
Your only sister,
Jill
Helaan napas kesal terburai dari Claire.
"Dia itu bodoh," geramnya lirih. Ia meremas surat di tangannya. "Seharusnya ia bisa jaga diri. Dia kan anak sulung, kenapa dia malah mengajarkan adik-adiknya untuk memaksakan diri?"
Elli yang mendengarnya menyimak saja.
Claire memiliki seorang kakak laki-laki bernama Jack dan adik perempuan bernama Jill yang tinggal di lembah Forget-Me-Not. Kedua saudaranya mengurus peternakan warisan ayah mereka, sedang dirinya sendiri mengurus peternakan warisan ibunya yang terbengkalai selama satu generasi karena ibunya dulu memilih tinggal di lembah Forget-Me-Not.
Ya, setahun yang lalu, orangtua mereka meninggal dunia. Mulanya, mereka bertiga memang tinggal bersama di tanah peternakan peninggalan ayah mereka, sampai Claire mengetahui bahwa ibunya memiliki tanah peternakan yang terbengkalai di kota Mineral. Karena itulah gadis berperawakan mungil itu memutuskan untuk pindah. Lagipula, toh, ia ingin melenyapkan memori-memori pedih yang ada di Forget-Me-Not. Pindah adalah keputusan terbaik yang ia pikirkan.
Sebenarnya, ia tak tega meninggalkan kakak sulungnya untuk mengurus peternakan hanya dengan adiknya. Sejak dulu, Jack memang mengidap pneumonia. Ia seharusnya tidak memaksakan dirinya untuk bekerja keras. Namun laki-laki bersurai cokelat susu itu memang keras kepala. Itulah yang membuat Claire kehilangan rasa tak teganya.
"Kau tidak perlu khawatir, Claire," ujar Elli lembut. "Jill bilang ia bisa mengurus semuanya, bukan? Percaya saja padanya."
Claire mengangguk pelan. Meski cercah khawatir masih tersirat di irisnya. Namun ia mengerja, berusaha menuruti apa kata Elli, kemudian bergegas menuju dapur.
"Mau teh atau susu?"
Mereka bertemu dengan Gray di tambang emas, di kaki Mother Hill. Saat itu mereka berdua sedang mencari sebongkah adamantite, guna membuat pembuat keju. Elli mencangkul daerah yang tak berbatu, mencari tangga tua yang bisa mengantar mereka lebih dalam di bawah permukaan tanah. Sementara Claire memecah batu, sesekali mendapat emas perak dan memasukkannya ke dalam keranjang.
Ketika mereka menuruni tangga tua untuk kesembilan kalinya, mereka mendapati sebuah tangga tua lagi, menuju lantai lebih bawah. Aneh, batin mereka. Pasti ada seseorang yang mendahului mereka.
Dengan hati-hati, mereka melangkah menuruni tangga, hanya untuk mendapati seorang laki-laki bertopi biru sedang memecah batu, bermandikan peluh. Laki-laki itu memiliki rambut yang sewarna dengan rambut Claire, dan tampak sangat serius dalam pekerjaannya. Mereka berdua langsung mengenali laki-laki itu sebagai cucu seorang pandai besi, Kakek Saibara.
"Pa—Pagi!" Claire berseru dengan volume sedang, tergagap karena ia belum pernah sekalipun menyapa laki-laki itu. Elli yang berada di sampingnya hanya memasang wajah datar dengan ulas senyum samar.
"Hai." Laki-laki itu menoleh, membalas lirih sapaan gadis itu setengah hati. Kemudian kembali melanjutkan pekerjannya. Mengabaikan dua siluet perempuan dalam redupnya lampu minyak yang dibawa oleh Elli.
Claire merengut. Merasa sapaannya diabaikan karena ia tak mendengar balasan laki-laki itu. Dilangkahkannya kedua kakinya mendekati sosok bertopi biru itu dan memecah salah satu batu yang ada di sana dengan palu emasnya. Lalu mengangkat suara.
"Kau mengabaikan sapaanku." Keluhnya terang-terangan. Elli yang ada di belakangnya meletakkan lampu minyak di dekat tangga, kemudian mulai menggali dengan cangkul milik Claire yang ia pinjam. Gadis bergaun biru muda itu sudah tahu karakter Gray, ia hanya ingin Claire untuk mengungkapnya sendiri. Karena dirinya tidak suka membicarakan orang lain di belakang.
"Aku sudah bilang 'hai' tadi," jawab laki-laki itu abai. Ia mengusap keringatnya dengan lengan mantelnya. Kemudian memunguti bongkahan emas yang ia temukan. "Kau saja yang tidak dengar."
Elli berdehem. Seraknya yang bergema membuat Claire menoleh dan Gray melirik abai padanya.
"Gray, paling tidak berkenalanlah dengan Claire, petani baru di kota kita," sahut Elli. Nada suaranya tak bisa ditebak. Halus namun tegas. Khas Elli. Gray hanya membalasnya dengan tatapan datar namun agak tajam.
"Jadi namamu Gray?" tanya Claire antusias, ia menyingkirkan pecahan batu yang tak berharga di hadapannya. Bergerak menuju batu lain yang masih utuh. "Aku Claire. Claire Lanviel." Dan gadis itu mengayunkan palunya. Suara hantaman keras menggema sebagai jawaban.
Laki-laki itu tidak menjawab. Ia menjauh dan kembali menggeluti kegiatannya, Claire dan Elli pun melakukan hal yang sama karena merasa tidak enak pada Gray yang terlihat terganggu. Namun tambang itu terlalu luas. Meski setengah jam berlalu, mereka belum menemukan apa yang mereka cari. Hal itu membuat mereka bertiga berada di tempat yang sama lebih lama.
"Aku capek," sahut Claire, ia terduduk di permukaan batu yang masih utuh. Elli yang melihatnya ikut mendudukkan diri di atas permukaan tanah, tak peduli meski coklatnya tanah mengotori bagian belakang gaunnya. Mereka lelah. Namun mereka belum menemukan adamantite maupun tangga tua lagi.
"Mau minum?" tanya Elli, menyodorkan termos berisi air dingin yang ia bawa dari rumah Claire. Claire mengangguk saja. Elli menuangkan air dingin ke dalam cangkir yang ia bawa dalam tas. Kemudian mereka mengobrol sebentar, diiringi napas panjang karena lemas. Mengabaikan keberadaan Gray yang sepertinya tak ingin dipedulikan.
Sampai tiba-tiba, laki-laki itu mendekati mereka berdua yang masih kelelahan.
"Hoi, kau," sapanya acuh pada Claire yang tengah menutup termos. Kemudian ia mengulurkan tangan, memperlihatkan sesuatu di sana. "Ini, kan, yang kalian cari?"
Mereka berdua menoleh, mendapati sebongkah adamantite di tangan Gray. Claire tercekat.
"Nih," Gray memberi isyarat pada gadis itu untuk menerimanya. Gadis di hadapannya mengerjap penuh tanda tanya.
"Untukku?"
Gray mengangguk. Sorot wajahnya masih bersinar tak peduli, namun menatap gadis di hadapannya lurus.
"Uwaah, terima kasih!" seru Claire antusias. Diterimanya adamantite itu dari tangan Gray, menatapnya berbinar-binar. "Terima kasih banyak! Dari mana kau tahu aku mencari-cari ini?"
Gray menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Aku melihat bahwa hampir semua jenis ore di tambang lantai ini sudah kau dapat. Kecuali adamantite," Ujarnya. "Anggap saja itu sebagai tanda perkenalan."
Claire memperlebar senyumnya. Elli yang melihatnya hanya tersenyum simpul, maklum akan sikap Gray yang mencoba untuk tetap terlihat tidak peduli.
"Terima kasih banyak, Gray. Kau membantu kami." Ujar gadis ber-image perawat itu tenang. Gray hanya mengangguk samar menanggapinya. Sementara itu, Claire masih menatapi adamantite di tangannya dengan pandangan tidak percaya.
Gray berdehem, sengaja mengalihkan perhatian Claire.
"Kalau kau hendak mencari adamantite lagi lain waktu, aku bisa memberimu beberapa tips," sahutnya. Kedua gadis itu langsung memusatkan seluruh perhatian padanya.
"Eeeh? Benarkah?" Claire mengkonfirmasi dengan semangat. Gray mengangguk dan berusaha tetap datar, meski desir hangat menyelinap ketika melihat dua sosok di depannya menjadi bersemangat dan antusias.
Kemudian, mereka menghabiskan sisa waktu sambil mengobrol dan tertawa tentang banyak hal. Sangat banyak. Hingga matahari membenamkan raganya di balik Mother Hill dan mengulaskan jingga di angkasa.
TBC
Catatan:
Yak, chap ini hanya berisi flashback. Saya berencana mau bikin selang-seling antara konlik masa kini dan flashback. Oke, saya tau saya gaje. Mana bikinnya buru-buru lagi ._. Dikejar tugas sama ulangan nih. Hah.
Dan, saya lupa bilang ya? Akun ini milik 2 orang, Sakusei dan Shasei. Cerita ini ditulis oleh Sakusei alias saya ^^
Thanks to:
Erizucaro, Gia-XY, guest, Litte-Litte-Chan, Ladychibby
Jawab Review:
for guest : Jarang ya? Memang sih, di game-nya mereka ga deket =w= mungkin itu yang bikin jarang. Soal insiden di gereja? Pasti nanti akan terungkap kok~ Update sudah hadir! OwO
for Litte-Litte-Chan : Makasih ucapannya! XD Menyentuh? Masa? Semoga aja iya #nahlho. Update sudah hadir~
.
Last, review?
