Chapter 2: Living took efforts

"The way of thinking, I wonder if my father influences me that much." – Anonymous

(The continuation from the previous chapter)

"Perhatian kepada seluruh unit! Ada tahanan yang kabur melalui ventilasi udara, dimohon untuk berpencar mencari tahanan tersebut! Segera melapor ke markas pusat jika menemukan sesuatu yang janggal!"

J berhasil keluar dengan sesak napas. Maklum, tempat yang baru dimasukinya tidak bisa dibilang bersih sama sekali. Dia mencoba untuk bergerak secepat mungkin. Dengan perhitungannya yang matang, dia berhasil membebaskan diri dari kejaran petugas sehingga dia bisa menghirup napas dengan lega. J mengamati keadaan sekeliling dengan seksama. Dia sudah memprediksikan apa yang akan dia lakukan sehingga dia tahu persis pada jam berapa kendaraan yang biasanya membawa sampah dari penjara itu tiba. Rencananya, kendaraan itu akan menjadi alat untuk membebaskan dirinya dari tempat yang membuat J muak.

Rencananya berhasil dan tidak ada yang bisa memastikan tentang keberadaannya sejak saat itu. J sendiri berusaha mencari tentang jati dirinya, menghindar dari patroli polisi yang berusaha mencarinya dengan susah payah dan orang-orang yang J anggap mencurigakan. Walaupun J terbilang muda, dia dapat mendeteksi orang yang bisa dia percaya atau orang yang lebih baik dihindari.

Untuk sementara waktu, J bisa bernapas dengan lega. Dia bisa hidup dengan bekerja paruh waktu dengan bantuan orang tua yang dia bantu tidak sengaja ketika mereka berdua berada di jalan. Orang yang menyewanya tidak mempertanyakan tentang masa lalunya dan menyuruhnya untuk membantunya di toko sederhana miliknya, tempat orang-orang mendapatkan bahan makanan segar selain di supermarket atau toko semacam itu. Menurut J, orang itu mengira dirinya adalah remaja yang kabur dari rumahnya dan kehabisan uang karena hal itu. J tahu jika orang itu termasuk orang yang baik.

Selain memberi J ruangan untuknya tinggal, pemilik toko itu menggajinya dengan uang yang cukup untuk seorang remaja sepertinya tinggal. J bekerja dengan keras dengan menggunakan nama alias karena dia tidak ingin ada orang lain yang tahu tentang identitas aslinya. Dia tidak ingin lagi kembali ke penjara dengan nama aslinya. J muak dengan keadaannya yang dulu tetapi dia tidak mungkin menghapus masa lalunya itu.

J memanfaatkan waktu luangnya dengan mencari informasi yang berhubungan dengan dirinya atau pun keluarganya. Dia ingin mengetahui tentang apa yang sebenarnya terjadi, mengapa dirinya harus dikurung di tempat yang seperti itu, dan di mana keluarganya tinggal. Dia merasa tidak yakin jika orangtuanya yang tinggal bersama dirinya sebelumnya adalah orangtua aslinya.

J juga ingin tahu jika dirinya memiliki saudara sedarah dengannya karena orangtuanya tidak pernah membicarakan tentang hal itu. Setidaknya J ingin berbagi tentang pengalaman pribadinya. Walaupun J terlihat kuat, di dalam hatinya J terus berdoa jika ada seseorang yang bisa mendengarkan suaranya dan mau menerimanya tanpa memperdulikan tentang masa lalunya, termasuk perlakuan para sipir di penjara itu. Dia hanya bisa menggigit bibirnya jika mengingat tentang hal itu. Yang jelas, J tidak akan pernah kembali ke tempat itu lagi.

"J, apa kau ikut main dengan kita setelah kau pulang kerja nanti?" tanya seorang laki-laki yang tidak asing bagi J. Ya, orang itu adalah teman dekatnya sejak J hidup di lingkungan yang menurut J menyenangkan itu. Lelaki yang biasanya dipanggil Acchan oleh J menepuk pundak J dengan keras. J hanya bisa meringis kesakitan karena tangan Acchan yang besar itu. Walaupun tubuh Acchan kecil, kekuatannya tidak bisa diragukan lagi. Dia dapat mengangkat lemari sendirian. J merasa aneh jika mengingat ukuran tubuhnya yang kurus seperti itu memiliki kekuatan yang besar.

"Okelah, memangnya mau pergi ke mana? Ke tempat karaoke seperti biasanya?" tanya J dengan nada datar. J sebenarnya tidak tertarik dengan hal seperti itu tetapi dia ingin menemani teman dekatnya itu. Dia adalah satu-satunya teman yang bisa J percaya selain manajernya itu. J benar-benar bertindak secara hati-hati jika menyangkut dengan orang yang dekat dengannya karena dia tidak ingin orang lain tahu dengan identitas aslinya yang terbilang berbahaya. 'Mana mungkin ada orang yang mau berteman dengan tahanan yang statusnya pelarian sepertinya?' begitu pikir J kala itu.

"Hm, memangnya kau ingin pergi ke mana, Ryou?" tanya Acchan dengan wajah serius. 'Ryou' hanyalah nama alias yang digunakan J untuk menyembunyikan tentang jati dirinya. J memikirkan tentang berbagai tempat yang ingin dia masuki tetapi dia mengurungkan niatnya. Dia tidak ingin orang lain mengetahui tentang identitasnya yang sekarang. Walaupun orang-orang di sekitarnya tidak ada yang mengetahui tentang identitasnya yang asli, J tetap menjaga jarak agar tidak ada orang yang curiga dengan penampilannya yang menipu itu. Dia tidak suka jika dia harus kembali ke tempat dulu, dimana kebebasannya dihalangi oleh tembok yang besar dan dingin.

"Hm, bagaimana jika kita pergi ke lapangan? Aku ingin bermain bola basket," jawab J dengan nada datar. Acchan hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. J berkata seperti itu dengan nada datar bukanlah hal yang baru baginya. J seperti tidak memiliki ekspresi jika diajak ngobrol oleh orang lain. Walaupun Acchan mengenalnya sudah cukup lama, Acchan tidak bisa menebak apa yang dipikirkan oleh J. J sendiri terbilang tertutup jika menceritakan tentang masa lalunya. Acchan tidak terlalu mempermasalahkan tentang hal itu. Yang Acchan pikirkan hanyalah tentang sekarang.

"Baiklah, Ryou, nanti kita duel 1 vs 1. Aku tidak akan kalah melawanmu," respon Acchan dengan penuh semangat. J menanggapinya dengan senyum kecil. J memang tidak bisa menyembunyikan perasaannya jika dia berada di sekitar manajer atau Acchan. Dia suka mengamati sikap Acchan yang selalu bersemangat jika ada sesuatu hal yang baik terjadi atau manajer yang senang jika mendapatkan penghasilan yang melebihi target.

"Jangan bermulut besar, Acchan. Bukankah kau kalah melawanku sebelumnya?"

"Jangan mengejekku. Itu karena kau bergerak terlalu cepat."

"Memang kau yang lambat."

"Jangan bicara seenaknya. Aku pasti akan menang malam ini!"

"Berisik. Jangan berteriak! Nanti para pelanggan pergi dari sini."

"Bukannya kau yang memulai?"

"Sudah, diam. Cepat bantu aku membawa barang-barang ini."

"Hai, hai."

Hari itu cukup melelahkan bagi J dan Acchan. Mereka bekerja mulai pagi sampai sore. Walaupun begitu, mereka tetap ramah kepada siapa pun. Manajer pun senang dengan hasil kerja mereka waktu itu. J dan Acchan memang pekerja keras walaupun mereka masih remaja. Acchan sendiri seorang remaja yang hidup sendirian sejak orangtuanya bercerai. Walaupun J tidak pernah memaksa Acchan untuk bercerita, Acchan sendiri yang berinisiatif untuk menceritakan segalanya kepada J. J hanya bisa tertawa kecil jika mengingat tentang hal itu.

"Ryou, ayo pergi sekarang," Acchan memanggilnya dengan suara yang keras dari lantai bawah. J merasa ada hal yang aneh. Perasaannya tidak enak. Akan tetapi, dia tidak bisa mengatakannya langsung ke Acchan. J memutuskan untuk membawa tas yang berisi benda yang mungkin diperlukan jika terjadi sesuatu, ya, dia juga membawa pistol rakitan yang ia beli dengan uang yang dia tabung sebelumnya. Dia tidak ingin dirinya ditangkap oleh orang-orang itu...

"Ryou! Bisa cepat sedikit gak sih?!" Acchan memanggilnya sekali lagi.

"Iya," jawab J dengan singkat dengan menyentuh jantungnya yang berdebar kencang.

"Target bergerak. Segera laporkan hal ini kepada ketua," kata wanita berbaju gelap melalui handphone berwarna merah yang bisa dibilang mencolok.

(To be continued.)

Disclaimer:

Seluruh hal yang berhubungan dengan Bloody Monday merupakan milik author Bloody Monday itu sendiri, Tadashi Agi dan Megumi Koji. Seluruh kejadian terjadi hanyalah FIKSI BELAKA. Jika anda menemuinya di dunia nyata, maka bisa dipastikan kalau itu hanyalah KEBETULAN SAJA.

Special Thanks to:
Miss Aoi~~~

Author Bloody Monday, Tadashi Agi dan Megumi Koji

Readers yang baik hati mau membaca fic ini \(^o^)\ \(^o^)/ /(^o^)/