Disclaimer: Shingeki no Kyojin/Attack of Titan belongs to Isayama Hajime.
Saya tidak mendapatkan keuntungan material apapun dari pembuatan fanfiksi ini.
Warning: BL, GL, OOC, Alternate Universe, Miss Typo(s), Rating M for lime and hard plot, etc.
Diikutkan pada challenge Between Good and Evil.
Kisah ini akan berbeda sudut pandang tiap chapternya. Namun semuanya akan tetap berfokus pada kisah Levi dan Eren.
Chapter 2: De Invidia et De Humanitas
Levi Ackerman and Eren Jeager.
.
…*…
.
Lush with green envy and earnest our truest hearts. Death is all sweet with a touch. Laughter as the days roll on by.
(Shania K. Younce—Envy, dengan perubahan seperlunya.)
.
…*…
.
Derap langkah dan suara kain yang terseret terdengar menggema di dinding-dinding kastil, membangunkan hantu-hantu masa lalu yang tidur dalam ketidakdamaian, mencengkram nyali-nyali mereka yang masih terjaga dan memilih untuk menyingkir dan bersembunyi dalam kegelapan.
Gadis itu masih terus berjalan. Tak diacuhkannya gaun beludru indah yang mulai terlapisi debu. Iri hati menguasainya, bagaikan setan yang mengoyak adab yang selama ini dijaganya. Tak diingatnya sama sekali mengenai pelajaran tata krama dan cara bersikap yang bertahun-tahun dijalaninya. Memori mengenai masa-masa kelam tatkala dia dipaksa berjalan dengan kitab-kitab pengobatan tebal di kepalanya terasa bagaikan ilusi. Hanya satu hal saja yang terpikirkan dalam benaknya saat ini.
Menemui orang itu.
BRAK!
"Tata caramu kasar sekali, Tuan Putri." Suara lembut mengalun dari dalam ruangan. Tak ada nada kekagetan yang terdengar dari suaranya sama sekali, meski pintu ruangannya dibanting paksa. "Yang Mulia Raja pasti akan dengan senang hati mengirimkan Anda pada salah satu gereja tua untuk memperbaiki sikap buruk Anda."
Gadis cantik berkulit pucat yang dipanggil Tuan Putri itu hanya mendengus tak senang. Dikibaskannya rambut hitam yang berpotongan pendek—bentuk penentangannya pada sang kakak yang berkuasa—sambil melangkah gusar memasuki ruangan yang dipenuhi barang-barang mencurigakan itu. Matanya memandang sinis pada wanita berambut cokelat yang tengah duduk di meja sambil membelai kepala anjing hitam berwajah buruk rupa.
"Hange Zoe," desis gadis itu.
Sang wanita yang dipanggil hanya tertawa keras, seolah tengah menghina gadis bangsawan di hadapannya. "Mencoba melampiaskan perasaan irimu padaku lagi, Tuan Putri Mikasa Ackerman?"
Tangan dikibaskan. Emosi yang menggelak di balik sepasang mata hitam pucat itu seolah mampu menurunkan suhu di ruangan tersebut, membuat bulu kuduk berdiri seketika. "Tapi ini memang salahmu, Zoe! Kaulah yang menyebabkan semua ini terjadi!"
"Mikasa, Mikasa. Harus berapa kali kukatakan padamu jika ini sama sekali bukan salahku? Kau hanya menjadikanku kambing hitam untuk setiap kecemburuan dan iri hati yang kau rasakan." Wanita berkacamata itu bangkit berdiri, membiarkan anjing buruk rupanya mendengking kehilangan. "Kenapa kau tak coba untuk menghardik kakakmu seperti kau menghardikku, Mikasa?"
"Dan membiarkan kepalaku dipenggal olehnya? Aku belum segila itu, Zoe."
Hange melangkah ringan ke samping sang gadis dan memeluk pundaknya dengan keakraban yang tak sepantasnya. "Itu karena dia adalah raja sementara kau hanyalah seorang putri yang tak berdaya."
Gigi bergemeretak, bibir berhiaskan gincu merah pekat dirapatkan hingga hanya meninggalkan satu garis tipis saja. "Jangan berusaha memprovokasiku, Zoe. Aku tak akan membiarkan diriku dibodohi olehmu. Aku tak akan semudah itu kau perdaya."
"Hm, Tuan Putriku memang seorang gadis yang tangguh," bisik dokter kerajaan itu di telinga tuan putrinya. Dikecupnya daun telinga sang gadis. Kibasan tangan didapatkannya. "Kapan kau akan memanggilku dengan namaku, Mikasa?"
"Jangan pernah bermimpi, Zoe." Gadis itu menggeram singkat sambil mendorong pundak sang dokter agar menjauh darinya. Dipalingkannya wajah pada kuali-kuali hitam yang mengepul diperapian—entah apa isinya, racun ataukah obat. "Aku tak akan pernah menerima sosok yang sudah membunuh Eren. Tidak akan pernah."
"Hei, bukan aku yang membunuhnya!"
"Tapi kaulah yang menjadikannya abadi! Kau lah yang sudah membunuh kemanusiaannya! Kau jugalah yang menjadikannya budak abadi bagi Levi! Kau… kau…" Gadis itu merapatkan bibirnya. Iri hati yang sangat kuat mencengkram dadanya, membuatnya merasa terbakar. Kecemburuannya adalah kekuatannya. Yang menjadikan dirinya berhasil bertranformasi dari gadis kecil nan polos dan tidak mengenal dunia menjadi seorang wanita dewasa yang tangguh dan kuat menghadapi dunia. Cemburu dan iri hati adalah iblisnya. "Kau terkutuk, Zoe."
Hange membentangkan tangannya lebar-lebar, seperti burung yang membentangkan sayapnya, seolah hendak memeluk Mikasa. "Kau bisa mengatakan jika aku terkutuk, Mikasa. Namun bisakah kau mengatakan padaku, apakah kau tak sama terkutuknya denganku? Bisakah kau mengatakan jika kau adalah manusia yang sesuci malaikat?"
Geraman kemarahan itu kembali terdengar dari bibir sang gadis. Didorongnya pundak Hange dengan tangan kirinya, dan dilangkahkannya kaki menuju kepintu keluar ruangan itu. "Aku adalah makhluk yang bergelimang dosa. Iblis dalam diriku akan menggandengku hingga neraka saat kematianku tiba."
Gaun hitam berkelebat bagaikan sayap iblis. Sulaman mawar liar yang menghiasi gaunnya tampak bagaikan cipratan darah.
Hange Zoe tersenyum puas. Mikasa Ackerman, tuan putrinya yang berlumuran dosa akibat dosa iri hati yang ditanggungnya. Sosok kegelapan yang menyimpan kepedihan dalam hatinya, terluka akibat duri-duri kehidupan.
Mikasa Ackerman, kecantikan dan kegelapan yang sempurna.
Ah, Hange memang tak pernah menyesal telah mengabdikan diri pada ilmu pengetahuan dan para rajanya.
.
…*…
.
Kulitnya bewarna cokelat, terlihat keemasan di bawah cahaya matahari. Rambutnya yang berwarna tanah terasa selembut sutera saat disentuh. Dan mata pegunungan dengan kilau cahaya matahari serta lautan yang memikat hati.
Hange masih benar-benar mengingat sensasi tatkala pertama kali ia menjamah tubuh pemuda itu. Kulitnya yang dingin bagaikan salju dan lenyapnya gerak terkecil pada tubuh indahnya adalah satu-satunya yang menjadikan Hange sempat menyentuh tubuh itu—tentunya dengan kuasa dari pria yang menjadikan sosok rupawan itu sebagai miliknya.
Menjauhkannya dari kematian.
Itulah misi yang diberikan sang raja padanya. Mengabadikannya dalam sosok sempurna setelah kematian datang menjemput. Meleburkannya pada kekekalan yang semu, menjadikannya sosok boneka yang menjadi kekasih palsu dari orang yang mencintainya—dan mungkin dicintainya.
Hange masih ingat pasti saat tangannya mengoleskan balsem pada tubuh pemuda itu—tentunya di bawah tatapan tajam sepasang mata elang. Merasakan kematian yang begitu hidup, atau mungkin kehidupan yang begitu mati. Sosok itu tak seperti sosok yang sudah mengakhiri kehidupan, ia seolah tengah tertidur, dan kelak akan membuka matanya kembali untuk tersenyum dan menyebarkan cahaya di tengah kegelapan.
"Levi?" Hange melambaikan tangan di depan rajanya yang tengah melamun, tak menyadari entitas wanita eksentrik di hadapannya.
"Kapan?"
Hange tersenyum lebar. Bahkan sebelum dia mengatakan maksud keberadaannya di ruang itu, Levi sudah paham benar. Rutinitas yang berulang-ulang, terus-menerus, dilakukan untuk menjaga agar keabadian tak rusak dan hancur.
Bukankah waktu adalah sosok yang kejam? Memisahkan mereka yang mencinta dalam balutan kematian—meski kematian itu merupakan sebuah pilihan di luar ekspekstasi yang diambil sang pecinta. Menumbuhkan nafsu dan kemarahan pada dua sosok yang mencintai sang keabadian. Menghancurkan kestabilan yang seharusnya terjadi.
"Kapan proses ini akan selesai?" Sang Raja bertanya sambil bangkit dari tahtanya, mengenakan jubah hitam kebanggaannya yang menjadi simbol kegelapan hati yang dipelihara. Mengubah sosok dengan tinggi di bawah rata-rata itu menjadi sosok kejam yang perlu ditakuti. Sang Raja. Bahkan Hange pun sedikit gentar di bawah karismanya.
Wanita itu tertawa kecil dan mengikuti sosok sang raja dari belakang. "Segala sesuatu yang sempurna membutuhkan waktu, Levi. Kau harus sabar."
"Ini sudah terlalu lama." Mata hitamnya menyapu lorong dengan pandangan meremehkan. Mengernyit melihat sedikit debu yang terselip pada ujung bingkai lukisan nenek moyangnya. "Atau kau hanya mempermainkanku, Hange?"
"Tak ada yang berani mempermainkanmu. Bahkan aku sekalipun."
Levi mendengus pelan, hendak mengingatkan sang dokter kerajaan akan segala sikap kurang ajar yang selama ini ditunjukkannya. Namun hanya kebisuan yang ia keluarkan. Melayani wanita itu hanya akan menghabiskan tenaganya saja.
Lagipula, dia masih membutuhkan keberadaan wanita itu dalam kastilnya. Dia masih membutuhkannya untuk menciptakan keabadian bagi sosok sang permaisuri. Layangkanlah seribu kutukan dan sejuta makian kasar bagi sang bangsawan wanita tersebut, namun hanya dia lah yang mampu meracik ramuan yang kelak akan menjadikan kekasihnya sebagai sosok yang sempurna dalam kematian.
"Besok adik-adikku akan datang, mereka membawakan bahan-bahan ramuan yang aku butuhkan," Hange berkata riang, kembali pada karakternya yang serampangan. "Namun dasar putra-putri keluarga Zoe, pembohong semua. Mengapa tak mengatakan jika mereka ingin menemui belahan jiwa di kastil ini saja?"
Levi mendengus, tak peduli pada kisah keluarga Zoe yang memang terkenal akan keganjilannya.
"Hei, Levi. Kau mendengarkanku tidak?"
"Tak ada gunanya mendengar ocehan tak berguna darimu." Levi menggeram dan menekan salah satu pintu ganda yang akan mengantarkannya pada sosok sang pujaan hati. "Kau, dan segala kejahatanmu itu. Sudah sepantasnya kau dihukum mati dan kepalamu dipajang di alun-alun kota. Kau seharusnya bersyukur dengan segala belas kasihan yang kuberikan padamu."
Hange hanya menyunggingkan senyum saja. "Tentu saja aku mensyukurinya, tanpa belas kasihanmu, tentulah aku sudah terjun ke neraka sejak dulu. Tapi …"
Pintu berderit terbuka, menyembunyikan suara sang dokter dalam kegaduhannya yang menyakitkan telinga.
Hange Zoe tersenyum kecil, wajahnya yang dihiasi bayang-bayang kegelapan kastil tampak menakutkan—lebih menakutkan dibanding Sang Raja sendiri.
"… kau juga seharusnya mensyukuri kebaikanku, Levi. Tanpaku, kau akan melihat kematian yang lebih kejam merenggutnya."
.
…*…
.
Hange tak pernah mengira, sepuluh tahun sudah sejak saat itu berlalu. Saat ia menjadi satu-satunya dokter yang dipercaya Levi untuk merawat permaisurinya yang sakit secara tak terduga—dan tak teridentifikasi. Penyakit yang Hange bersumpah bukan berasal dari bakteri maupun kutukan, melainkan berakar dari kegelisahan hati. Tumbuh subur akibat ketidakpastian yang datang, dilecuti api kecemasan akan hidup.
"Eren …,"
Senyum pucat di wajah cokelat itu tampak tak sesehat biasaya. Wajahnya sedikit lebih kurus dari kemarin, cekungan di pipi dan kantung mata hitam terlihat semakin tebal saja. Gaun indah berwarna merah menyala dengan pita adalah busana yang dipilihkan pelayan hari ini, mampu menutupi gender sesungguhnya sosok itu. Keberadaannya cukup untuk membuat Hange sedikit bergidik ngeri. Betapa cepatnya perubahan itu terjadi, bahkan ramuan-ramuannya pun tak sanggup menghentikannya. Kekuatan tak kasat mata seolah tengah menarik pemuda itu dalam kerapuhan.
"Hange, tanggal berapa ini?"
Hange terdiam sejenak dan berjalan ke samping ranjang. "Tujuh belas. Baru sehari berlalu sejak terakhir kali aku menemuimu."
Eren, nama sang pemuda penghuni kamar indah itu, tersenyum sedih. "Baru sehari rupanya. Aku merasa telah tidur lama sekali. Kupikir telah puluhan minggu berlalu sejak aku terlelap."
Tawa Hange tak terdengar sekeras biasanya, ada nada tertekan yang mati-matian berusaha ia sembunyikan di tenggorokannya. Tak berani ia mengatakan jika dia lah satu-satunya orang yang memberikan obat tidur pada pemuda itu, sebagai pengalih akan sakit yang menggerogoti tubuhnya. Sakit yang sama sekali bukan penyakit.
"Aku kehilangan irama waktuku," pemuda itu kembali berkata sambil tersenyum sedih. "Di ruangan yang siang dan malam tak ada bedanya ini, aku kehilangan kemampuanku untuk mengenali laju waktu."
Hange hanya mengangguk pelan. "Mengapa kau tak meminta Le—ehem—Yang Mulia Raja untuk mengajakmu keluar, Eren. Musim semi sudah tiba, matahari bersinar sangat cerah di luar. Aku yakin kau akan menyukainya."
Eren menundukkan wajahnya sembari memainkan gaun perempuan yang tengah dikenakannya. "Aku tak bisa menghadapi dunia dengan penampilan seperti ini—"
"Kau cocok. Kau tampak cantik dan menawan. Tak ada yang akan menyadari jika kau adalah laki-laki, Eren. Berapa kali aku harus mengatakan itu?"
"—dan kurasa aku sama sekali tak memiliki keberanian untuk mengatakan pada Yang Mulia Raja."
Sang dokter tersenyum pedih. Ditepuknya rambut cokelat lembut itu pelan—seperti yang dulu kerap dilakukan ibunya padanya—mencoba memberi ketegaran. Diperlakukan bagaikan sebuah permata yang dikurung dalam kotaknya. Kamar mewah berhiaskan emas permata pun tak akan mampu untuk menggantikan kebebasan yang terenggut. Tekanan batin. Penyebab sakit yang kini menggerogoti tubuh Eren
Hange pasti sudah memilih untuk mati jika dia yang ada di posisi Eren saat ini.
"Bagaimana kabar Bean hari ini ya?" Eren kembali bicara. Bangkit dari ranjangnya dan berjalan menuju lukisan kuda yang tengah berlari di padang hijau. "Jean dan yang lain pasti kerepotan. Bean tak pernah membiarkan ada orang lain yang memandikannya selain aku. Dia pasti akan menendang siapapun yang nekat mendekatinya."
Senyum terpaksa dikeluarkan sang dokter muda. "Kau terlalu merisaukannya. Kemarin aku pergi ke kandang kuda untuk memastikannya. Dan Bean—"
Sudah mati.
"—sepertinya bisa membiasakan diri dengan beberapa pemuda istal selain dirimu. Kau tak perlu mencemaskannya."
"Baguslah kalau begitu." Eren beralih memandang deretan gaun mewah yang menghiasi dinding kamarnya, mengingatkannya akan sosok gadis bangsawan di luar sana. "Dan bagaimana kabar Yang Mulia Putri Mikasa?"
"Oh, Tuan Putri," Hange berkata pelan. Sosok gadis yang dengan brutal memangkas rambut dengan pedang dan berkeras untuk terjun ke medan perang dia lupakan barang sejenak. "Seorang pangeran dari negeri tetangga datang untuk mempersuntingnya. Acara pernikahannya akan dilakukan seminggu dari sekarang."
"Pantas saja semua terlihat sangat sibuk."
"Oh ya, tentu saja. Pernikahan satu-satunya putri kerajaan kita adalah acara yang sangat ditunggu-tunggu oleh warga kerajaan kita. Kota sudah mulai dihias dan acara besar di istana sedang dipersiapkan."
"Syukurlah jika begitu. Aku berharap Tuan Putri akan bahagia."
"Te-tentu saja dia akan bahagia."
Mulut terasa kebas. Seberapa banyak kebohongan yang harus Hange ucapkan untuk menenangkan jiwa yang bergejolak mempertanyakan hidup di luar sangkarya itu? Seberapa banyak lagi perubahan yang harus ia tutupi untuk menyembunyikan kegelapan demi kegelapan yang menyelimuti kastil ini?
Tiba-tiba ia merasa lelah dengan dirinya sendiri. Dari kebohongan kecil—seperti kuda yang masih hidup—hingga kebohongan besar—pernikahan Sang Putri Ackerman—telah ia katakan untuk menjawab harapan sang pemuda. Namun apa daya? Kata-kata hanyalah kata-kata. Kata-kata tanpa bukti hanyalah bualan semata. Dan bualan yang menyakitkan hanya akan menghancurkan harapan yang ada.
"Eren …"
Pemuda itu menolehkan kepalanya.
"Mengapa kau ada di sini?"
"Karena Yang Mulia Raja memintaku untuk berada di sini. Bukankah kau sendiri ada di sana saat beliau mengatakannya, Hange?"
Wanita itu menunduk memandang cawan berisi obat tidur yang dibawanya—sama seperti kemarin. "Dan kau menerimanya begitu saja." Wanita itu tertawa canggung. "Bukankah seharusnya kau mampu untuk menolaknya dan pergi? Di luar sana, di antara banyak orang, kuda, alam, petualangan, bukankah di sana adalah kehidupanmu? Dan untuk apa kau memutuskan untuk hidup di sangkar emas ini, Eren?"
Pemuda itu hanya tersenyum kecil mendengar jawabannya. "Sekarang di sinilah kehidupanku. Melayani Yang Mulia Raja adalah tugasku."
"Mengapa?"
"Karena aku buta." Eren tersenyum kecil. Berjalan pelan membawa tubuh ringkihnya kembali ke ranjang dan mendudukkannya. "Karena ini perintah—ah, bukan—permintaan Sang Raja, maka aku buta. Aku tak bisa menolaknya. Aku tak bisa membantahnya. Aku hanya bisa memenuhi apapun yang diharapkannya."
Dua manusia itu kembali terdiam. Hange merasa bersalah telah menanyakan hal itu. Oh, bukankah dia sudah bersumpah untuk mengabdikan dirinya pada raja demi membalaskan hutang budi—dan membayar dosa—atas apa yang sudah dan akan dilakukannya? Lalu mengapa kini dia berusaha menghasut seseorang yang begitu dicintai Sang Raja untuk mengejar kebebasan dan menghianati Raja?
Apakah dia …?
"Hange. Aku yakin kau akan mengerti perasaanku. Aku yakin kau akan benar-benar memahaminya. Mengenai perasaanku pada Yang Mulia Raja yang sesungguhnya. Aku yakin kau akan memahaminya."
Hange diam tak menyahut. Dibimbingnya Eren untuk meminum ramuan tidur yang diraciknya—tentu saja dengan dusta yang mengatakan jika itu adalah obat. Pemuda itu berbaring di ranjang, matanya terpejam, sebuah senyum tipis tersungging di wajahnya. Menantikan kesadaran yang akan ditarik dengan paksa dari tubuhnya. Hange bersiap keluar dari kamar saat mendengar suara serak itu kembali berkata.
"Ini adalah mimpiku. Harapanku. Aku telah meraihnya. Aku bahagia. Namun, aku merasa ada banyak ketidakbahagiaan lain yang mengantui di sekelilingku—meski semua berjalan normal di luar sana. Kompleks. Perasaanku benar-benar kompleks saat ini." Mata hijau itu memandang sendu. "Hange, berapa lama lagi waktu yang kumiliki?"
BLAM.
Pintu ditutup. Hange tak ingin mendengarnya. Mungkin semua kebohongannya sudah terbongkar. Mungkin mata hijau indah itu mampu menembus kepalanya dan menengok apa yang tengah dipikirkannya.
Hange berlalu menertawai dirinya sendiri. Mungkin ia adalah makhluk yang terlalu kejam, menjadi tangan kanan Sang Raja untuk menyelimuti cahaya dengan kegelapan. Atau mungkin sebaliknya, ia adalah makhluk yang terlalu baik, berusaha menghianati rajanya dan mencoba terus menyulut sang cahaya untuk tetap bersinar.
Wanita itu tertawa keras, membiarkan dinding kastil memantulkan suara tawa gilanya—atau tawa putus asa.
Tak apa, lagipula dia juga tetap membiarkan cahaya itu memeluk kegelapan.
"Mungkin aku memang orang baik."
.
…*…
.
PRANG!
Mikasa melempar vas bunga hadiah dari kerajaan China ke dinding, tak mempedulikan berapa nilai benda langka itu. Sasaran berikutnya adalah koleksi gelas kristal di lemari gantung, dihancurkan dengan suara yang tak kalah nyaringnya. Pelayan berambut emas menjerit ketakutan, berlari ke sudut ruangan, berusaha bersembunyi dari kemurkaan sang putri.
"Mengapa?!" pertanyaan tanpa jawaban itu kembali ia teriakkan. Napasnya terengah perlahan, jari mengepal.
Cermin di dinding bergoyang, memantulkan wajahnya yang jauh dari kata cantik—hanya tampak wajah iblis yang tengah mengumbar emosi di sana. Iblisnya. Mikasa membenci pantulan itu. Diarahkannya kepalan tangan ke pusat cermin berbingkai perak itu.
PRAAANG!
"Kyaaaaaa!" pelayan di sudut ruangan menjerit ketakutan. Mata birunya membulat lebar melihat darah yang menetes dari buku-buku jari Sang Putri. Mengotori karpet bermotif bunga mawar yang baru saja dibersihkan. "A-Anda terluka, Tuan Putri."
"Diam!" Sang Putri tampak masih belum dapat meredakan emosinya. Tangannya menghancurkan apapun yang ada dalam jangkauannya. Cermin, perhiasan, permata, piring hias—apapun, apapun yang akan menimbulkan luka di tangannya, yang akan meneteskan darahnya hingga membuatnya merasa lemah dan kembali tenang.
Tubuhnya ambruk di lantai, kelelahan menghantuinya. Sudah berapa kali ia memporak-porandakan kamarnya seperti ini? Sudah berapa kali cermin di dinding dan hiasan kamarnya diganti? Sudah berapa kali ia membuat pelayannya ketakutan sebelum akhirnya pergi?
Mikasa sudah kehilangan hitungannya.
Dibawa tubuhnya menuju jendela kaca yang menampilkan pemandangan halaman belakang istana, kesegaran rumput hijau dan kesibukan para pemuda istal yang menggiring kuda kembali ke kandang menyapa matanya. Jendela itu adalah sebuah saksi bisu akan masa lalunya yang indah, tempat dia sering mengintip kegiatan pujaannya dengan sembunyi-sembunyi dan mengaguminya sepuluh tahun lalu. Sekarang, padang itu terasa kosong tanpa adanya sosok ceria yang senang bersenandung di sana sembari berlarian bersama kuda-kuda kerajaan.
Rasa iri hati kembali menggelak dalam darahnya. Pemuda istal. Ya, Eren hanyalah pemuda istal, perawat kuda, masih junior pula. Mikasa sama sekali tak habis pikir bagaimana bisa seorang Raja—meski itu adalah kakaknya sendiri—dapat jatuh cinta pada seseorang yang derajatnya jauh di bawahnya? Apalagi jika orang yang menjadi pusat akan perasaan romansa itu memiliki gender yang sama dengannya.
Sempat terbayang dalam benak Mikasa jika Sang Raja hanya berniat untuk menghukumnya yang telah mencoreng nama keluarga saja. Jatuh cinta pada rakyat jelata? Huh, para leluhur Ackerman pasti akan mencibir andaikata mereka masih hidup—sayang, kini mereka hanyalah hantu-hantu imajiner yang berkeliaran di sudut remang kastil.
Ia mengira bahwa dalam hitungan minggu, Eren akan dibebaskan dan mungkin dibuang entah ke mana. Terisolasi hanya agar Mikasa tak lagi dapat menemuinya.
Sialnya, semua itu hanyalah harapan bodoh Sang Putri semata. Kakaknya benar-benar jatuh cinta setengah mati pada Eren—sama dengannya.
Luka di tangannya mulai terasa perih sekarang, meski belum mampu menutupi rasa sakit yang bersarang di hatinya. Aliran darah sudah berhenti, menyisakan jejak merah gelap yang mengerikan di tangannya, mengingatkannya akan harapan kosong untuk kelak menebas kepala sang kakak dengan tangannya sendiri. Mungkin Hange Zoe ada benarnya juga, Mikasa mungkin memang sudah gila, sama gilanya dengan kakaknya sendiri.
"Tuan Putri, biarkan saya mengobati luka Anda," pelayan yang sejak tadi bersembunyi di sudut ruangan berkata lirih. Berjalan takut-takut ke arah Mikasa sembari mengulurkan tangannya lembut.
Mikasa mengangkat tangannya, memperhatikan luka yang saling silang di atasnya, menutupi luka lama dengan sebab yang sama. Dia mendengus pelan. "Pergi kau. Panggil dokter istana ke tempat ini sekarang juga."
"Ba-baik."
Gadis muda itu berlari sembari sesekali melompat kecil menghindari pecahan kaca yang bertebaran di lantai. Menoleh sekali pada sosok putrinya sebelum menghilang ditelan bayangan lorong yang gelap.
Mikasa mendengus pelan. Tak memahami dirinya sendiri. Matanya kembali memandang hamparan hijau yang dulu kerap digunakannya sebagai tempat berlatih memacu kuda. Berhalusinasi melihat seorang pemuda berambut cokelat tengah berjalan sembari menuntun seekor kuda jantan berbulu hitam di sana. Senyum secerah mentari musim panas tersungging di wajahnya, memberikan semangat pada siapapun yang melihat.
Bayangan itu makin kabur seiring dengan sinar matahari yang semakin condong ke barat.
"Andai saja kau memilihku saat itu, tentu kita akan menjalani hidup yang berbeda, Eren." Mata hitam terpejam, menahan air mata yang terasa hendak mengalir. "Mengisolasikan diri ke salah satu wilayah terpencil, di mana tak ada prajurit atau orang suruhan Raja yang dapat menemukan kita. Menjalani hidup yang sederhana dengan bertani dan berternak, memiliki anak, menjalin keluarga sebagaimana orang-orang lain. Bukankah itu masa depan yang indah?"
Imaji mengenai dunia ideal yang ingin diciptakannya benar-benar tampak nyata bagi Mikasa, nyaris membuatnya gila dan tak bisa membedakan mana dunia nyata dan mana harapannya.
"Dan kau tak perlu pergi secepat ini." Ia menggeram pelan. Tangan terkepal, membuka kembali aliran darah yang sempat membeku. "Mengapa dulu kau tak memilihku, Eren? Mengapa?"
"Tentu saja karena dia tidak mencintaimu bukan?" suara riang seorang wanita menjawab pertanyaan Mikasa.
Sang Putri menoleh, matanya memandang tak senang pada sang dokter istana yang bersandar di pintu kamarnya yang terbuka. "Aku masih tak habis pikir mengapa aku menyuruh pelayan itu menemuimu."
"Dia tampak sangat panik tadi. Bahkan bicara pun tersendat-sendat," Hanji memberi tahu. Digenggamnya pergelangan tangan Mikasa dengan lembut, mengamati luka-luka yang tertera di atas kulit putih itu. Sebuah desah napas panjang terdengar. "Mengapa kau selalu melukai dirimu sendiri, Mikasa. Kau ingin menambah panjang daftar pekerjaanku atau apa?"
Salep khusus dibubuhkan, kain dilingkarkan pada tangan yang terluka. Ekspresi wajah Mikasa bahkan tak berubah merasakan perih yang menggigit tatkala salep berbahan baku tumbuhan itu dibubuhkan. "Sudah tugasmu memang untuk mengobati yang sakit dan terluka. Bukan mengabadikan mereka yang telah pergi."
"Tahu dari mana aku baru saja selesai melakukan 'ritual'?"
"Bukan urusanmu."
Hange tertawa kasar mendengar jawaban spontan sang putri. Diangkatnya tangan Mikasa ke wajahnya dan diberikannya kecupan singkat di atas kain yang membebat. Senyum lembut tersungging di wajah dokter wanita itu. "Namun tentu saja, memprioritaskan mereka yang masih hidup juga merupakan bagian dari pekerjaanku. Atau kau sengaja berusaha mendapatkan atensi dariku, Tuan Putri?"
Tangan ditarik paksa. "Kau terlalu percaya diri, Zoe."
"Namun kau memanggilku ke sini tanpa sadar dalam kecemburuanmu." Hange kembali memasang senyum iblisnya, memutar tubuhnya mengamati pecahan kaca yang berserakan di lantai. Tangannya mengambil satu bagian yang berhias bercak kemerahan, memasukkannya pada saku bajunya. Senyum aneh tersungging di wajahnya. "Aku benar-benar kasihan padamu, Tuan Putri."
"Tidak ada yang butuh belas kasihanmu di sini!"
Wanita itu mengangguk mengerti. "Itu karena kau adalah seorang putri yang kuat. Aku bertanya-tanya, sampai kapan kau akan terus seperti ini. Terus berkeras memegang cinta yang sama dan bersumpah tak akan pernah berpaling. Sebelum akhirnya hancur berkeping-keping—seperti Eren."
Dua pasang mata beradu tajam. Kesenyapan yang ganjil menyapa, Mikasa membuang wajah.
"Zoe, kau pasti tahu apa yang sesungguhnya dirasakan Eren pada Levi bukan?"
"Mengapa kau berpendapat begitu?"
Mata hitam berkilat tajam. "Karena kau satu-satunya orang yang diizinkan Levi—bukan—Yang Mulia Raja untuk bicara dengannya."
Hange Zoe kembali menyenandungkan tawa kerasnya, terpantul pada dinding-dinding batu kamar Sang Tuan Putri dan bergema mengerikan. "Eren memang mengatakan apa yang ingin ia katakan padaku. Namun bukan berarti aku punya hak untuk mengatakannya padamu. Jantungku adalah taruhannya, Tuan Putri."
"Huh, sudah kuduga kau akan menghindari pertanyaan itu." Mikasa memandang mata sang dokter muda dan menyipit curiga. "Apakah kau tak akan pernah mengatakannya?"
"Tidak. Bahkan pada Yang Mulia Raja pun tidak." Hange menggangguk mantap. "Aku sudah berjanji padanya. Tidak akan pernah kuingkari."
Mikasa mendengus pelan. "Aku adalah wanita yang bodoh. Untuk apa aku terus berusaha mendesakmu untuk mengatakannya. Padahal sejatinya aku sudah tahu jawaban akan pertanyaan itu tanpa harus memaksamu."
"Dan kau akan terus memendam rasa irimu itu, hei Mikasa?"
"Kenapa tidak?"
"Kurasa jika kau terus memendamnya, mungkin aku akan jatuh di jurang dosa yang sama."
Mikasa mendengus pelan. Sebuah senyum kelewat tipis tersungging di wajah minim ekspresinya. "Kalau begitu, jatuhlah. Jatuhlah dan temani aku di neraka."
"Apapun keinginanmu, Tuan Putri."
.
.
.
"Hange, kau pasti tahu perasaanku bukan? Aku mencintainya. Aku mencintai Yang Mulia Raja. Aku mencintai Levi Ackerman. Dan deminya, aku rela menyerahkan apapun. Termasuk kebebasanku. Bahkan nyawaku."
.
…*…
.
Before you know what kindness really is, you must lose things, feel the future dissolve in a moment. Like salt in a weakened broth.
(Naomi Shihab Nye—Kindness, dengan perubahan seperlunya.)
.
…TBC…
.
A/N:
Halo, akhirnya aku bisa meluangkan waktu untuk menyelesaikan chapter 2 ini. Semoga chapter ini bisa sedikit-sedikit menjawab pertanyaan para reader di chapter pertama kemarin.
Ternyata menulis HanMika lebih susah dibandingkan MikAnnie ya? Hahaha, dan semoga Rirennya juga kerasa di bagian ini. Karakterisasi Eren di chap lalu memang agak aku anak tirikan karena ingin mencoba fokus pada sisi gelap Levi, lagipula Eren sudah meninggal di sini. Dan mulai chap ini, sedikit demi sedikit karakter Eren (yang agak gloming menurutku) akan dibuka, termasuk misteri demi misteri yang menyelubungi mereka. Semoga aku bisa membuatnya …
Angel: Makasih ya, sengaja kok. Soalnya kemarin ingin fokus ke karakterisasinya Levi dulu XD
Gueast aja: Makasih ya …
Silent Reader: Sabar ya, mode kisah ini memang alur campuran kok. Kalau terburu-buru kan nggak enak kisahnya.
Kepo: Oke.
Makasih sudah baca ya, mohon kritik dan sarannya ya ^^
