E-X-O

Cezzie Xonesotic

Cast : EXO members and another SM's artists

Pair : Find it ^^

Genre : Yaoi, romance and friendship

Disclaimer : Tokoh di dalam fiksi bukan milik author, author hanya memiliki hak penuh pada plot cerita

-EXO-

Kris sedikit tertegun ketika Suho berkata 'Ayo pulang' padanya. Jelas ia bingung mengingat Kris tidak punya siapa-siapa terlebih tempat tinggal di dunia ini. "Pulang? Kemana?" Kris bertanya.

"Oh, kau tidak tahu kalau akademi juga menyediakan rumah untuk kita?" celetuk Suho.

"Rumah?"

"Ya, tidak jauh dari sini. Hanya perlu sepuluh menit jalan kaki dari akademi." Kris mengangguk paham. Setelah akademi, kini rumah. Well, Kris merasa kehidupannya membaik secara perlahan.

Mereka bersembilan pulang bersama-sama. Berjalan kaki sambil bercerita dan sesekali tertawa. Tidak jarang juga menggerung kesal, karena ulah Kai yang muncul dan menghilang begitu saja. Saking kesalnya Dio sampai membungkuk dan menyentuh tanah. Ia mengeluarkan power-nya, melubangi tanah dan membuat kaki Kai tersangkut.

Kris tersenyum. Ia tidak pernah merasa sebahagia ini sebelumnya. Berjalan bersama teman-teman menuju tempat yang disebut rumah adalah sesuatu yang selama ini hanya ada dalam angan-angan Kris. Namun kini semuanya menjadi nyata. Membuat kehidupan masa lalunya hanya berupa mimpi belaka.

"Kris, kau sekamar dengan Chen, oke?" ujar Suho begitu mereka sampai di rumah.

Rumah ini lumayan besar, itu maklum mengingat akan ada dua belas orang tinggal di bawah atap yang sama. Rumah ini terdiri dari dua lantai. Kamar tidur di rumah ini terletak di lantai dua dan berjumlah enam kamar yang itu artinya satu kamar dihuni oleh dua orang. Terdapat tiga kamar mandi, dua di atas dan satu di bawah. Di lantai satu selain kamar mandi juga terdapat ruang tamu, ruang menonton, serta dapur yang menjadi satu dengan ruang makan.

Berhubung malam sudah larut, kesembilan pria tampan ini memutuskan untuk langsung tidur. Toh, mereka sudah makan malam di kantin akademi tadi. Kris memperhatikan ruangan yang kini menjadi kamarnya. Kamar ini tidak terlalu jauh berbeda dengan kamarnya dulu, kecuali jumlah perabotannya. Dua tempat tidur, dua lemari pakaian, dua meja dengan masing-masing satu buah laptop di atasnya.

"Lumayan juga," gumam Kris. Melihat lemari pakaian, membuat Kris teringat akan sesuatu. Dia tidak punya pakaian.

"Kau tidak membawa barang-barang apapun?" tanya Chen yang sudah mengganti pakaiannya dengan kaus longgar dan celana pendek berbahan kaus.

"Emm, ani, karena sebelum ini aku tinggal di..."

"Stop," potong Chen, "Aku rasa itu bukan masa lalu yang menarik, benar?" Kris hanya tersenyum miris sambil menganggukkan kepalanya. "Baiklah, kau bisa memakai pakaianku. Silahkan pilih yang sesuai untukmu," ujar Chen sambil menunjuk lemarinya.

"Oh terima kasih, Chen," Kris mengangguk dan mulai memilah pakaian di lemari milik Chen. Setelah menemukan yang cocok ia pergi ke luar kamar menuju kamar mandi untuk mengganti pakaiannya. Kendati Kris dan Chen sama-sama laki-laki, tetapi Kris merasa tidak nyaman untuk berganti pakaian di kamar, lagipula author juga geli sendiri membayangkannya.

Setelah mengganti pakaiannya, Kris kembali ke kamar. Ia melihat Chen duduk di atas kasur dengan laptop di atas pangkuannya. "Besok kau bisa meminta ke akademi untuk menyediakan pakaian," gumam Chen.

"Eh? Tapi aku tidak punya uang."

Chen tertawa kecil mendengarnya, "Santai Kris, di akademi ini semuanya gratis. Toh kelak kita yang akan menghasilkan uang untuk akademi."

"Huh? Apa maksudmu?"

Chen menoleh kepada Kris dengan tatapan bertanya, "Kau tidak tahu tujuan akademi ini?"

"Tidak, Yunho hyung tidak mengatakan apapun padaku."

"Hm," Chen mengangguk, "Menurut yang kudengar, kita dipersiapkan untuk keperluan militer."

"Mwo? Maksudmu?"

Chen menatap Kris agak lama sebelum kemudian ia mengangkat bahunya, "Sulit dijelaskan," gumamnya kemudian. Ia lalu mematikan laptopnya dan meletakkan pada meja kecil di samping tempat tidur. "Baiklah, aku mengantuk. Selamat malam Kris."

"U-umm..." Kris tergagap. Rasanya sudah lama sekali sejak terakhir kali ia menerima ucapan selamat malam. "Ne, selamat malam Chen."

.

E

X

O

.

Pagi yang cerah dan berisik. Itulah yang Kris rasakan dan lihat pagi ini. Saat ini Kris tengah duduk di meja makan, bersama yang lain. Yang memasak sarapan pagi ini adalah Luhan, Lay dan Dio. Luhan tampak konsentrasi menggerakkan tangannya untuk membuat botol garam melayang padanya. Ia sangat berusaha tenang, mengingat Chanyeol di sampingnya terus berkata, "Tidak perlu api dariku?"

Suho dan Chen tampak tenang membaca buku. Baekhyun terlihat masih mengantuk. Sedangkan Kai... Ah anak itu berada di samping Suho beberapa detik yang lalu dan sekarang ia tengah melihat Dio memasak.

"Yah!" Dio terkejut ketika ia bermaksud menuangkan sup yang telah matang ke mangkuk dan tiba-tiba saja Kai muncul di hadapannya. Sarapan hari ini adalah sup ayam dan sup ikan, serta kimchi tentunya.

Mereka yang di meja makan, termasuk Kris, sedikit menahan napas ketika melihat Luhan menggerakkan tangannya dan membuat mangkuk berisi sup itu melayang ke meja makan. Bukan tanpa alasan mereka menahan napas, mereka juga tahu kalau kemampuan telekinesis Luhan belum seberapa. Dan jika mendadak Luhan menjatuhkan mangkuk yang berisi sup panas itu...

-EXO-

"Aku menerima telepon dari Yunho hyung," gumam Baekhyun sambil berjalan menuju ruang menonton. Tampak Luhan, Lay, Dio serta Suho tengah duduk bersantai di sana. Lalu di mana yang lainnya? Well, mereka –Kris, Chanyeol, Kai dan Chen- tengah mencuci piring habis sarapan.

"Oh, apa katanya?" tanya Suho.

"Dia bilang kita akan memulai latihan hari ini."

"Hari ini?" sahut Luhan sambil mengernyit heran, "Bukankah latihan baru dimulai kalau kita sudah lengkap?"

"Entahlah," Baekhyun mengangkat bahunya.

"Hmm, ya sudah kalau begitu. Katakan pada mereka untuk mencuci piring secepatnya, lalu kita langsung berangkat ke akademi," ujar Suho.

-EXO-

"Baiklah," gumam Yunho. Saat ini ia tengah berdiri di hadapan kesembilan laki-laki tersebut. Mereka semua –kecuali Yunho- duduk di kursi masing-masing, menjadikan ruangan ini tampak seperti kelas di sekolah-sekolah.

"Well, aku memang bilang kalau latihan kalian akan dimulai jika jumlah kalian sudah lengkap," ujar Yunho, "Tapi Sooman-sshi baru saja memerintahkanku untuk memulai latihan kalian sekarang. Jadi... Sebelum kita memulai latihan, aku yakin ada banyak hal yang ingin sekali kalian tanyakan sejak kalian datang ke tempat ini." Bersamaan dengan selesainya perkataan Yunho, mereka semua langsung mengangkat tangan. Yunho tersenyum melihatnya, "Baiklah, Suho, apa pertanyaanmu."

Suho mengangguk, "Aku ingin bertanya. Kenapa kami memiliki kemampuan seperti ini."

Yunho kembali tersenyum. Satu pertanyaan singkat yang sangat mewakili seluruh kepenasaran yang lain. "Baiklah, akan kujelaskan sesingkat mungkin," gumam Yunho seraya menyandarkan pinggulnya pada meja di belakangnya.

"Ini dimulai dari ratusan tahun lalu, saat seorang petapa suci yang menemukan sebuah pohon besar di tepi jurang. Kendati demikian besar, pohon ini hanya memiliki lima buah dengan warna-warna yang berbeda," Yunho mengacungkan kelima jarinya, "Buah yang pertama berwarna merah, buah yang kedua berwarna biru, buah ketiga berwarna cokelat, buah keempat berwarna putih dan buah kelima berwarna ungu. Karena sangat lapar, petapa ini mengambil kelima buah tersebut dan memakannya. Lalu kalian tahu apa yang terjadi?"

Tidak seorang pun menjawab, namun hanya dengan melihat raut bingung di wajah kesembilan laki-laki tersebut, Yunho dapat menebak bahwa mereka semua tidak tahu. "Well, petapa tersebut memiliki lima kemampuan dalam tubuhnya. Api, air, tanah, angin dan petir, ia menguasai kesemuanya."

"Whooaaa..." Dio tampak terkagum, ia bahkan bersuara.

"Beberapa tahun kemudian petapa tersebut menikah dan memiliki anak-anak. Anaknya berjumlah lima orang dan masing-masing dari mereka mewarisi masing-masing kemampuan ayahnya. Sang petapa menyadari bahwa kemampuan yang ia miliki adalah kemampuan suci. Ia mengatakan pada anaknya agar menikahi orang-orang dengan jiwa suci agar kemampuan mereka tetap terpelihara. Selama beberapa generasi, kemampuan itu masih terjaga kendati pengendaliannya tidak sehebat sang pertapa. Namun seiring waktu, kemampuan tersebut menghilang secara perlahan dikarenakan perkawinan yang tidak tepat."

Chanyeol mengernyitkan dahinya kemudia mengangguk-angguk. Terlihat ia sukar mengerti jalan cerita dari Yunho.

"Dan akhirnya dunia modern tiba. Orang-orang dengan kemampuan khusus ini mulai diteliti, tentu saja secara rahasia. Hingga akhirnya para peneliti mampu menciptakan semacam zat yang dapat mempengaruhi tubuh manusia untuk memiliki kemampuan khusus tersebut. Zat tersebut disuntikkan kepada sepuluh laki-laki dewasa dan sepuluh wanita dewasa, namun ternyata tidak berhasil. Penelitian selanjutnya ditemukan bahwa zat tersebut hanya bereaksi pada bayi yang baru lahir."

"Lalu?" Kris mencondongkan tubuhnya. Cerita ini mulai tertarik.

"Lalu itu adalah saat di mana akademi ini mulai dibangun. Kami mengambil beberapa bayi..."

"Kalian menculiknya?" potong Luhan dengan sebelah alis terangkat.

"Kami tidak menculik bayi-bayi tersebut, kami hanya mengambil secara diam-diam dan kemudian dikembalikan lagi kepada orang tua mereka secara diam-diam pula. Tapi tidak juga, ada beberapa orang tua yang menyerahkan bayinya dengan imbalan uang."

"Mwo..." desis Lay pelan.

"Bayi-bayi itu selanjutnya diberi zat tersebut. Kemudian kami mengembalikan kepada orang tua mereka. Lalu setelah tujuh belas sampai delapan belas tahun barulah kami mengambil anak-anak tersebut dan membawanya ke akademi ini untuk dilatih. Dan yah... Hal itu terjadi kalian..."

"Kalian brengsek!" Tiba-tiba saja muncul semburan api yang mengarah tepat ke arah Yunho, Yunho yang melihat kedatangan api itu hanya berdiri tenang. Sebelum api tersebut mengenai Yunho, secara tiba-tiba muncul api yang lebih besar lagi yang membelit dan memakan api tersebut. "Tolong kendalikan dirimu," Yunho menghela napasnya, "Kris."

Kris berdiri. Ia tampak terengah-terengah dengan mata tajam menatap ke arah Yunho. "Kalian iblis!" seru Kris, "Selama ini aku mengira apa yang terjadi padaku adalah takdir dari Tuhan, tetapi ternyata ini semua karena kalian!" Kris tampak begitu marah. Meski sudah bertahun-tahun berlalu, namun Kris masih ingat begitu jelas dengan ejekan serta cacian dari warga desa dulu. Masa kanak-kanaknya dipenuhi dengan hinaan, selain itu ia juga tidak punya teman. Lalu masa remajanya hanya dihabiskan di dalam ruangan yang tidak begitu besar.

"Ini memang takdir Tuhan, Kris," gumam Yunho santai sambil menatap Kris, "Apa kalian tahu?" Yunho mengalihkan pandangannya pada yang lain, "Setiap tahunnya kami melakukan ini kepada tiga puluh bayi. Tapi tidak semua bayi dapat memiliki kemampuan tersebut. Beberapa di antaranya tidak menunjukkan reaksi apapun terhadap zat yang disuntikkan bahkan beberapa di antara bayi tersebut ada yang mati. Dan kalian, bayi yang berhasil," Kembali Yunho menatap kepada Kris, "Adalah karena takdir dari Tuhan."

"Damn!" Kris mengumpat sambil mengepalkan tangannya, secara perlahan ia kembali duduk. Amarah masih terasa sangat di dalam tubuhnya, kalau saja bukan karena gelang tersebut, barangkali Kris sudah membakar habis tempat ini.

"Gwaenchanayo?" Kris menoleh dan ia melihat Lay tersenyum teduh padanya. Kris menghela napas, ia kemudian mengangguk pelan.

"Ada pertanyaan lagi?" ujar Yunho.

"Ne," Dio mengangkat tangannya, "Bukankah tadi hyung bilang kalau akademi mengambil kembali anak tersebut saat anak tersebut berusia tujuh belas sampai delapan belas tahun, sedangkan saat ini ada beberapa di antara kami yang sudah berusia di atas dua puluh tahun."

"Ah itu," entah Dio sadar atau tidak, namun pertanyaannya tampak memunculkan awan mendung di wajah tampan Yunho, "Well, sebenarnya terjadi insiden tiga tahun yang lalu," gumam Yunho.

"Insiden?"

"Nde dan insiden tersebut mengakibatkan kerusakan besar di akademi, termasuk data-data mengenai kalian. Itulah mengapa kami terlambat mengumpulkan kalian," ujar Yunho.

"Insiden apa itu?" Suho bertanya.

Meski baru sebulan berada di sini, namun Suho tahu kalau tempat ini adalah tempat berkumpulnya orang-orang dengan kemampuan level tinggi. Suho mengingat beberapa orang, seperti Yunho, Changmin, Kangta, Yesung, Boa dan Taeyeon. Namun terjadi insiden yang mengakibatkan kerusakan besar –seperti yang Yunho katakan-, apapun insiden tersebut dan siapa pun yang menyebabkan hal itu, pastilah insiden tersebut sangat mengerikan.

"Itu..." Yunho terdiam sejenak, "Itu bukan sesuatu yang harus diketahui oleh anak baru seperti kalian." Suho sedikit kecewa dan mulai penasaran.

"Baik, kurasa cukup untuk pertanyaannya..."

"Hyung," tiba-tiba saja Chen mengangkat tangannya.

"Ya Chen?"

"Apa sebenarnya tujuan akademi ini?" tanya Chen, "Aku pernah mendengar kalau kami dipersiapkan untuk keperluan militer, benarkah itu?"

"Ah, pertanyaan yang bagus. Aku hampir lupa menjelaskan bagian ini," Yunho melipat kedua tangannya di depan dada, "Ya benar, kalian memang dipersiapkan untuk keperluan militer. Belakangan ini sering terjadi sengketa antar negara mengenai perbatasan atau kepemilikan suatu pulau. Biasanya negara yang bersengketa tersebut menyewa orang-orang dengan kemampuan seperti kita dan tentu saja hal itu sangat dirahasiakan. Tapi bukan hanya untuk keperluan militer, ada satu tujuan yang lebih penting daripada itu."

"Apa itu?"

"Menghabisi Minoz."

"Minoz?" Lay mengangkat sebelah alisnya.

"Ya, Minoz. Minoz adalah semacam makhluk –katakanlah monster- yang biasanya muncul di malam hari. Mereka memiliki fisik seperti manusia untuk penyamaran, namun pengguna power biasanya mempunyai semacam insting untuk membedakan mana yang manusia asli dan mana yang manusia samaran. Minoz memangsa aura kehidupan manusia, arwah yang gentayangan serta mempengaruhi manusia berlaku buruk, itulah kenapa banyak kejahatan terjadi pada malam hari. Dan tugas kalian adalah menghabisi Minoz."

"Seperti cerita dongeng," celetuk Kai sambil tertawa pelan.

"Cerita dongeng, hm? Baiklah, bagaimana kalau nanti malam kalian menemui Minoz pertama kalian," Yunho tersenyum atau mungkin menyeringai, sedikit kesal juga karena Kai seperti itu, "Baik kurasa sudah cukup. Sekarang kita akan mulai latihannya," ujar Yunho kemudian melangkah keluar.

"Kita latihan di luar?" gumam Lay.

"Ya, karena kalau di dalam ruangan, Dio tidak bisa menggunakan kemampuannya," sahut Yunho tanpa membalikkan badannya.

-EXO-

Dan kini di sinilah mereka. Di lapangan luas di belakang akademi. Selain Kris dan teman-temannya, terlihat juga beberapa kelompok lain yang tengah latihan. Kris bisa melihat seorang gadis berambut pendek tengah melayang rendah.

"Apa kita bisa melakukan seperti itu?" celetuk Baekhyun. Chanyeol yang berada di sampingnya hanya mengangkat bahu.

"Oke, sebelum memulai latihan aku akan menjelaskan sedikit," ujar Yunho, "Power terbagi atas dua jenis. Power alami dan power buatan," Yunho mengacungkan dua jarinya, "Power alami adalah power berdasarkan elemen, yaitu api, air, bumi, petir dan angin," Laki-laki itu menatap Kris, Suho, Dio dan Chen bergantian, "Lalu sisanya adalah power buatan. Perlu kalian ketahui bahwa pengguna power alami mampu memiliki kemampuan pengguna power buatan, tentu saja tidak sehebat pengguna power buatan yang asli. Namun pengguna power buatan tidak akan mampu memiliki power alami."

"Itu berarti aku bisa melakukan teleportasi?" tanya Chanyeol.

"Ya, Chanyeol-sshi. Tapi tentu saja dengan latihan ekstra keras," jawab Yunho, "Oke kita mulai latihan sekarang. Pertama, aku mau kalian menengadahkan telapak tangan kalian seperti ini," Yunho memperagakannya dengan menengadahkan telapak tangannya seperti orang meminta sesuatu, "Selanjutnya keluarkan power kalian. Mengeluarkan power menggunakan tangan adalah yang paling mudah, tapi jika kemampuan kalian sudah meningkat kalian mampu mengeluarkan serta mengendalikan power kalian hanya dengan memikirkannya saja."

'Bwosh.'

Sekonyong-konyong api muncul dari telapak tangan Yunho. Melayang dan ukurannya stabil. Kris, Chanyeol, Suho, Baekhyun serta Chen mencoba melakukannya dan mereka tampak berhasil mengeluarkan power mereka. Sedangkan Dio, Kai, Lay dan Luhan hanya bisa melihat.

"Emm... Dio-sshi?" Yunho terlihat bingung melihat Dio yang tidak melakukan apapun.

"Ah, aku tidak bisa mengendalikan tanah kalau tanganku tidak tidak menempel pada tanah," ujar Dio. Yunho mengangguk paham, "Kalau begitu berjongkoklah."

Dio kemudian berjongkok, ia menempelkan tangannya di atas tanah dan 'bumm' tanah di bawah tangan Dio terlonjak pelan lalu menunjukkan retakan. "Kau membuat gempa kecil?" celetuk Luhan ikut berjongkok di samping Dio.

"Kurasa begitu," ujar Dio. Ia menggerakkan tangannya dan secara perlahan tanah di bawah tangannya mulai bergeser, memperlihatkan sebuah celah. Dio tersenyum puas, meski ia hanya bisa mengendalikan sebidang kecil tanah yang berada di bawah telapak tangannya, Dio tetap merasa bangga.

"Whoaaa...!" Chen tiba-tiba saja memekik. Yunho menghela napas melihat anak itu yang tidak sengaja menyetrum tangannya sendiri dengan petirnya. "Lay, kurasa ini bagianmu," ujar Yunho.

Lay mengangguk, ia berjalan mendekati Chen dan meletakkan tangannya di sekitar telapak tangan Chen yang terluka. Perlahan semacam aura berwarna kebiruan muncul dari telapak tangan Lay dan melingkupi telapak tangan Chen yang terluka. Luka bakar itu perlahan menghilang. Yunho tersenyum, ternyata Lay lumayan juga.

Yunho melihat kepada yang lain. Kris terlihat dapat mengendalikan bola apinya dengan stabil, begitu pula dengan Suho dan Baekhyun. Hanya Chanyeol terlihat agak kesulitan, bola apinya membesar dan mengecil, tidak mampu mempertahankan ukuran yang tetap.

"Tolong konsentasi Chanyeol-sshi," ujar Yunho.

"N-ne!" Chanyeol mengangguk.

"Yunho-ah!" Yunho menolehkan kepalanya ketika ia mendengar seseorang memanggilnya. "Ah, Boa-sshi," gumam Yunho.

"Maaf terlambat, aku baru saja melatih anak-anak Shinee," ujar Boa.

"Lalu bagaimana mereka?"

"Lumayan," sahut Boa, "Kecuali Minho yang baru saja memindahkan kami ke Antartika." Yunho tertawa kecil. Minho adalah sepupu jauhnya dan ia seorang teleportasi, sama seperti Kai. Kemampuan Minho berkembang cukup pesat, ia mampu memindahkan sampai enam orang sekaligus ke tempat yang berbeda. Permasalahan pada Minho hanya ia sulit menetapkan kemana ia akan berpindah.

"Jadi mereka EXO?" gumam Boa, "Kukira mereka berjumlah dua belas."

"Memang dua belas," sahut Yunho.

"Lalu kenapa mereka memulai latihan sekarang?"

Yunho mengangkat bahunya, "Sooman ahjussi yang memerintahkan." Boa mengangguk mendengar ucapan Yunho.

"Oke, jadi yang mana harus kulatih?" tanya Boa.

"Luhan, Kai, Lay," Yunho memanggil ketiga anak didiknya, membuat mereka semua menoleh kepada Yunho, "Kalian bertiga berlatih dengan Boa, dia lebih tepat untuk kalian."

Luhan, Lay dan Kai berjalan menghampiri Boa. "Oke, semuanya berpegangan," Kedua Boa mengenggam tangan Kai dan Luhan, sementara Luhan dan Kai menggenggam tangan Lay. Dan kemudian mereka menghilang.

"M-mereka kemana?" gumam Kris yang tampak terkejut.

"Berpindah tempat," sahut Yunho santai.

"Boa noona seorang teleportasi?" tanya Suho bingung, seingatnya dulu ia pernah melihat benda-benda melayang di sekitar Boa, Suho mengira wanita itu adalah telekinetik.

"Ya, tetapi dia juga menguasai telekinetis dan healing, meski telekinetiknya tidak sehebat Taeyeon," ujar Yunho.

"Taeyeon?"

"Wanita di sana itu," Yunho menunjuk seorang wanita bertubuh kecil, tampak beberapa anak perempuan lain berada di sekelilingnya, "Dia adalah penanggung jawab kelompok Shidae, meski badannya kecil tapi kalian jangan pernah menganggap remeh Taeyeon. Dia adalah telekinetic terbaik di akademi ini, ia bahkan bisa mengatur peredaran darahmu atau denyutan jantungmu."

"Whooaaa..."

"Baiklah, kembali pada latihan. Aku ingin kalian mengeluarkan power kalian, usahakan se-stabil mungkin dan pertahankan selama yang kalian mampu," perintah Yunho.

Mereka pun kembali memulai latihan mereka. Chen tampak lebih berusaha kali ini, ia tidak mau melukai tangannya lagi, apalagi saat ini Lay tidak berada di sini. Kris kini mulai berusaha membesarkan bola api di tangannya, gelang yang melingkar di tangannya sangat membantu. Sementara Chanyeol mulai berhasil men-stabilkan apinya, meski kini masalah bahwa apinya bergerak-gerak mulai menjadi kendala.

Lain halnya dengan Suho, laki-laki dengan senyum angelic itu berhasil membuat airnya berbentuk ikan yang seolah-olah sedang berenang di atas tangannya. Sedangkan Dio masih asyik dengan gempa kecilnya. Untuk Baekhyun yang seorang Light controller, ketimbang memunculkan cahaya ia kini mencoba menghilangkan cahaya, membuat area di sekitar tangannya tampak meredup.

-EXO-

"Waaa...!" Luhan memekik ketika ia mendadak berada di tempat yang berbeda dari sebelumnya. Rasanya baru sedetik yang lalu Luhan berada di dekat Yunho dan tahu-tahu ia sudah berada di sini. Tidak hanya Luhan, Lay dan Kai pun sama terkejutnya. Tubuh mereka bahkan sedikit sempoyongan.

Boa yang melihat itu tertawa kecil. Bukan hal yang mengherankan. Boa masih ingat ketika ia melakukan teleportasi sejauh yang ia mampu bersama Eric dan Tony, ia langsung muntah-muntah saat itu.

Saat ini mereka berada di sisi lain dari lapangan luas milik akademi, berbeda dari yang sebelumnya tempat ini cukup sepi. "Boa noona, kau sangat hebat," ujar Kai takjub. Kai yang seorang teleportasi sangat mengerti. Boa berhasil memindahkan beberapa orang dengan jarak bermeter-meter, rekor terjauh yang pernah dilakukan Kai adalah berteleportasi sejauh empat meter dari tempat asalnya dan alhasil ia merasa sangat pusing.

"Oke, sekarang aku ingin mengetahui nama dan power kalian," ujar Boa.

"Aku Luhan, power-ku telekinetic."

"Telekinetic?" Boa mengangkat sebelah alisnya, "Seharusnya kau tanggung jawab Taeyeon, tapi yah... Dia sudah disibukkan dengan grup Shidae-nya. Selanjutnya?"

"Lay, healing."

"Oww... Bagus sekali. Di akademi ini hanya terdapat dua orang healing, Yesung-sshi dan Onew-sshi. Ditambah kau menjadi tiga pengguna healing, ini bagus untuk menghemat obat-obatan di akademi. Oke, berikutnya."

"Aku Kai, teleportasi."

"Sama sepertiku," Boa tersenyum simpul, "Seberapa jauh kau bisa berpindah?"

"Sekitar tiga-empat meter, noona."

"Tidak terlalu buruk," komentar Boa, "Baik, kita mulai sekarang. Karena kalian semua memiliki power yang berbeda, maka latihan yang akan kuberikan berbeda juga. Pertama, Kai."

"Ya noona?"

"Kau lihat pohon di sana itu?" Boa menunjuk sebuah pohon yang jaraknya sekitar sepuluh meter dari tempat mereka berdiri. Kai ikut menoleh kemudian mengangguk. "Aku ingin kau menggunakan teleportasimu dan berpindah ke sana."

Kai mengangguk paham, ia kemudian memejamkan matanya dan berkonsentrasi. Lima detik kemudian Kai menghilang dari tempatnya berdiri dan meninggalkan kepulan asap tipis. Memang Yunho mengatakan bahwa power yang termudah dihasilkan dari tangan, namun yang seperti itu tidak berguna untuk teleportasi.

'Sett.'

Tubuh Kai muncul sejauh tiga meter dari tempatnya berdiri tadi. "Tidak seperti itu!" seru Boa, "Aku ingin kau menghilang dan langsung muncul di bawah pohon itu."

"T-tapi itu terlalu jauh, noona."

Boa tersenyum, "Tepat sekali, memang jauh karena itu kau harus berlatih. Aku tidak mau tahu, terus ulangi teleportasimu dan usahakan langsung muncul di bawah pohon itu."

"Mwo?" Kai membulatkan matanya, namun kemudian ia sadar kalau inilah yang disebut latihan. Kai kembali melakukan teleportasi dan kini ia berpindah sejauh dua meter. "Shit," umpat Kai. Ia melakukannya lagi dan kini ia muncul di jarak empat meter dari sebelumnya. Tubuh Kai sedikit limbung, ia tidak pernah berteleportasi berulang kali dalam jarak yang jauh dan waktu yang begitu singkat.

"Baiklah, sekarang kalian," Boa menoleh kepada Luhan dan Lay. Boa kemudian duduk di atas rumput pendek, Luhan dan Lay mengikutinya.

"Aku bukan telekinetic atau healing," gumam Boa, "Tetapi kemampuanku di kedua bidang itu lumayan. Mungkin jika kalian sudah mahir, aku akan meminta Taeyeon dan Yesung untuk melatih kalian. Mereka itu adalah pelatih yang super sibuk, jadi mereka hanya melatih yang sudah mahir saja, tidak ada waktu mengajari anak baru seperti kalian."

"Apa mereka hebat?" tanya Lay.

"Mereka luar biasa," sahut Boa cepat, "Taeyeon bisa mengendalikan lebih dari lima puluh benda secara bersamaan dan Yesung, healing terbaik yang pernah ia lakukan adalah menyembuhkan paru-paru manusia yang hancur. Bahkan aku pernah melihat Yesung menghidupkan kembali seekor anjing."

"Mwo? Seorang healing bisa menghidupkan yang sudah mati?" ujar Lay takjub.

"Tentu, tapi itu dilarang akademi. Bagaimana pun, kehidupan dan kematian itu bukan urusan manusia." Luhan dan Lay mengangguk bersamaan. "Nah, sekarang perhatikan ini," Boa mengarahkan telapak tangannya ke arah sehelai rumput, "Aku melakukan telekinetic," ujar Boa, secara perlahan rumput tersebut bergerak dan terkoyak. "Lalu healing," ujar Boa lagi, bagian rumput yang terkoyak itu kemudian menyatu dan kembali seperti semua.

"Aku ingin kalian melakukan itu. Luhan, kau merobek rumputnya dengan telekinetis dan Lay satukan kembali dengan healing-mu."

"Bukankah itu menyakiti rumputnya?" gumam Lay pelan. Boa menatap sendu ke arah Lay. Memang di antara semua latihan, latihan kepada pengguna healing adalah yang paling menyakitkan. Bukan menyakitkan secara fisik, tetapi secara mental.

"Memang seperti itu latihan kalian," gumam Boa pelan. Ia masih ingat ketika Yesung latihan dulu, saat itu seorang pelatih membawakan seekor anak anjing dengan perut robek. Yesung bahkan sampai menangis melihat itu. "Nah, mulai."

Luhan memusatkan power pada kedua tangannya, tidak hanya merobek helaian rumput, tetapi ia juga mencabutnya dari akar. Dan setelah itu disambung oleh Lay, dengan perlahan ia menyatukan robekan rumput tersebut. Boa terlihat puas, mereka lumayan juga.

'Brugh!'

Perhatian Boa, Luhan dan Lay teralih ketika mendengar suara terjatuh. "Kai!" seru Lay melihat tubuh Kai yang tertelungkup di tanah.

"Uhh... Uhh..." Kai berusaha bergerak. Tubuhnya terasa lelah luar biasa setelah ia berulang kali melakukan teleportasi dengan jarak sejauh mungkin. Dan rekor yang terbaiknya adalah lima meter, namun sayang Kai belum cukup mampu untuk melakukan teleportasi sejauh lima meter untuk yang kedua kali.

"Lay, tolong sembuhkan Kai," ujar Boa.

"Tapi Kai tidak terluka," gumam Lay.

"Ya, dia hanya kelelahan dan itu termasuk tugas seorang healing." Lay mengangguk paham, ia berjalan mendekati tubuh Kai dan membalikkannya menjadi telentang. Terlihat beberapa luka lecet di tangan Kai. Ia sudah berusaha sangat keras.

Lay meletakkan tangannya di atas perut Kai, karena setahu Lay, sumber energi manusia terletak pada perut. Dan selanjutnya Lay melakukan proses healing. Terlihat wajah Kai yang semula kelelahan berangsur rileks.

"Oke Luhan, kemarikan tanganmu," Boa menggenggam tangan Luhan dan kemudian ia melakukan teleportasi.

"Waa...!" Luhan sedikit terkejut saat ia sudah berada di bawah pohon. "Nah Luhan, kau lihat daun-daun di pohon ini?" tanya Boa sambil menunjuk ke atas.

"Nde."

"Aku ingin kau melepaskan semua daun tersebut secara bersamaan."

"M-mwo?" Luhan membelalakkan matanya, "A-aku tidak bisa melakukan yang seperti itu."

"Baik, baik, tidak perlu melotot juga. Sekarang aku ingin kau mengambil buah-buah dari pohon itu," ujar Boa. Luhan mengangguk, kalau yang seperti ini ia masih bisa. Luhan kemudian mengarahkan telapak tangannya ke arah buah-buah di pohon tersebut dan Luhan mulai sadar kalau sepertinya ini akan sulit. Karena letak buah-buah tersebut cukup jauh di atas pohon, selain itu jumlahnya juga cukup banyak. Luhan biasanya hanya mampu menggerakkan dua benda sekaligus.

'Srett, srett.'

Luhan berhasil menggerakkan beberapa buah tersebut. Beberapa saat kemudian ia berhasil melepas satu dan membuat buah tersebut melayang ke arahnya, namun mendadak konsentrasinya buyar, alhasil buah tersebut terjatuh ke tanah.

"Konsentrasi Luhan," ujar Boa. Luhan mengangguk dan kembali mencoba.

-EXO-

'Brukh!'

Tubuh tinggi Chanyeol terbaring di atas rumput lapangan. Dadanya naik turun dengan cepat. Raut wajah Chanyeol tampak meringis kesakitan. Ya, dia kesakitan, entah sudah berapa kali ia membakar tangannya sendiri.

Tidak jauh berbeda dengan Chanyeol, Kris dan Chen pun turut merasakan hal yang sama. Keduanya kini terduduk dengan deru nafas yang keras. Kris memang memiliki gelang yang mampu mengendalikan power-nya, namun tetap saja penggunaan power terlalu lama membuat Kris kelelahan dan secara tidak sengaja apinya justru melahap tangannya sendiri. Chen pun begitu, bahkan mungkin ia yang paling parah.

Sedangkan Suho, Dio dan Baekhyun juga demikian. Mereka memang tidak melukai tangan mereka sendiri dengan power mereka, namun kedua tangan Suho, Dio dan Baekhyun kini membengkak akibat penggunaan power terlalu lama. Berdenyut-denyut dan terasa perih.

Selama tiga jam tanpa henti mereka mengeluarkan power mereka di atas telapak tangan tanpa henti. Tidak hanya mengeluarkan saja, tetapi juga harus menjaga ukuran dan pergerakan power masing-masing.

"Hanya seperti ini?" Yunho melipat tangan di dada, menatap tenang pada keenam anak didiknya yang meringis kesakitan. Yunho tahu akan sangat sulit bagi mereka mengeluarkan power jika tangan mereka terluka begitu, tetapi Yunho bisa apa? Ia tidak bisa melakukan healing, memanggil pengguna healing pun percuma. Ingat, hanya ada tiga orang healing di akademi. Lay dan Onew sedang latihan dan Yesung, seingat Yunho, laki-laki itu berada di Afrika saat ini.

"H-hyung, beri kami istirahat," gumam Suho sambil meringis. Tangannya terasa perih dan berdenyut-denyut.

"Baiklah," Yunho menghela napas, "Kalau begitu-"

'Bwash.'

Memotong ucapan Yunho, tiba-tiba saja muncul Boa tepat di samping Yunho, bersamaan dengan itu Luhan, Lay dan Kai langsung ambruk dan tergeletak di atas tanah. Kondisi mereka tidak jauh berbeda dari teman mereka yang lain.

"Kau mau membunuh mereka eoh?" Yunho menyeringai.

"Tidak, sih," sahut Boa, "Aku hanya melatih mereka seperti biasa. Cih, anak-anak sekarang terlalu lemah. Baru latihan seperti itu saja sudah kelelahan. Anak-anak dari grup Shinee juga sama. Beruntung pelatih mereka bukan dari grup H.O.T sunbaenim."

Yunho tertawa pelan. Ah, senior dari H.O.T benar-benar pelatih yang mengerikan atau bisa dikatakan kejam. Yunho masih ingat ketika Tony, flame controller, melempar Yunho ke dalam kawah gunung berapi.

"Kau ingat, Yun? Kangta oppa meletakkan aku sendirian di Afrika dan aku butuh sampai tiga hari untuk mencapai Korea dengan teleportasiku," ujar Boa mengingat masa lalunya.

Sekali lagi Yunho tertawa pelan, "Sudahlah, bagaimana kalau kita minum kopi dulu?" Yunho menyodorkan tangannya, Boa tersenyum pelan lalu menggenggam tangan Yunho dan kemudian mereka berpindah dengan teleportasi Boa.

Kini tinggallah sembilan laki-laki yang terbaring kelelahan dengan nafas memburu. "Yunho hyung itu gila," desis Chanyeol.

"Dan Boa noona kurasa seorang pembunuh," tambah Kai. Ia masih ingat ketika Boa menyuruhnya berpindah tempat ke kantin akademi dan kembali hanya dalam waktu tiga menit. Jarak antara lokasi Kai dengan kantin akademi cukup jauh, belum lagi Kai kesulitan menentukan lokasi di mana ia akan muncul.

Di antara kesembilan laki-laki yang terengah-engah itu, tampak seseorang mulai bangkit. Seorang healing merasa ini adalah saat di mana ia diperlukan. Bukankah memang itu tugas healing? Menyembuhkan teman yang terluka.

"Lay?" Kris mengernyit heran melihat Lay mendekat padanya dan kemudian menyembuhkan tangannya. "Kau terlihat kelelahan, jangan memaksakan diri," ujar Kris.

Lay menggeleng sambil tersenyum, "Ini adalah peranku sebagai healing." Setelah menyembuhkan luka di tangan Kris, Lay berpindah ke yang lain dan menyembuhkan mereka satu persatu.

"Istirahat selesai," tiba-tiba saja Boa muncul di hadapan mereka tepat setelah Lay menyembuhkan member terakhir, kali ini ia tidak bersama Yunho, melainkan bersama seorang wanita, "Kajja kita mulai latihan lagi dan kau Luhan, kau berlatih dengan Taeyeon," ujar Boa menunjukkan wanita di sebelahnya.

"Noona, bisakah Lay istirahat lagi? Ia baru saja menyembuhkan kami semua," ujar Suho sambil menunjuk kepada Lay.

"Oh" Boa bergumam. Ia bisa melihat wajah mereka lebih cerah, kecuali Lay yang tampak pucat. Ia kemudian berjalan mendekati Lay dan menggenggam tangan Lay, Boa mengeluarkan power healing-nya dan benar saja Lay mulai tampak lebih baik. "Semuanya latihan sekarang," ujar Boa tegas.

.

E

X

O

.

Hari beranjak sore. Ruangan kelas khusus grup EXO yang tadinya kosong kini kembali terisi oleh penghuninya yang kelelahan. Kepala mereka semua terkulai di atas meja. Latihan dengan Yunho memang buruk dan Boa lebih buruk lagi. Kris dan Chanyeol masih ingat betul ketika Boa dengan santainya menyuruh mereka membakar satu sama lain. Gila. Dan tentu saja itu membuat Kris dan Chanyeol saling melindungi diri sambil terus menyerang dengan api mereka.

Tidak hanya itu, Boa juga memerintahkan Dio menciptakan lubang di tanah selebar satu meter dan kedalaman dua meter kemudian menyuruh Suho mengisi lubang tersebut dengan air hingga penuh. Yah, menciptakan danau buatan. Namun tentu saja mereka gagal, bahkan Dio tidak mampu menciptakan lubang selebar setengah meter.

Untuk Chen, Boa memerintahkannya menciptakan petir dan membuatnya melayang-layang. Jelas bagi Chen itu sangat sulit, bahkan hanya menciptakan petir saja membuat tangannya kesetrum, apalagi membuat petirnya melayang. Untuk Kai, Boa masih memerintahkan hal yang sama. Berpindah sejauh-jauhnya.

Dan kepada Baekhyun, Boa memerintahkannya melenyapkan cahaya di sekitar Baekhyun, membuat area di sekitar Baekhyun benar-benar gelap. Sedangkan Lay, laki-laki itu baru dibutuhkan power-nya ketika ada yang terluka atau kelelahan dan mungkin Lay yang paling mengeluarkan banyak power, mengingat betapa keras latihan mereka.

Lain lagi dengan Luhan. Taeyeon membawa Luhan ke sebuah ruangan kelas kosong. Kursi-kursi serta meja-meja di sana tersusun rapi namun tidak ketika Taeyeon muncul. Dengan tangan terlipat di dada, Taeyeon mengeluarkan power-nya. Benda di seluruh ruangan itu melayang secara bersamaan dan Taeyeon melempar benda tersebut ke arah Luhan. Sedangkan tugas Luhan adalah menghentikan benda yang terlempar ke arahnya atau setidaknya melencengkan arah benda tersebut dengan power telekinesisnya. Tidak mudah, karena benda yang terlempar sekaligus tiga dan dalam kecepatan yang lumayan. Tidak jarang Luhan menerima lemparan benda-benda tersebut, mengakibatkan luka di tubuhnya.

"Kalian boleh pulang sekarang," tiba-tiba saja Yunho muncul di ambang pintu, "Tapi jangan langsung tidur, karena nanti malam aku ingin menunjukkan Minoz kepada kalian," seringai miring terukir di wajah tampan Yunho.

"Aish! Rasanya aku mau mati saja!" seru Chanyeol kesal.

-EXO-

Mereka kini dalam perjalanan pulang, dengan tubuh yang sangat kelelahan. Namun selelah apapun, Dio masih ingat tugasnya. Ia harus memasak makan malam nanti. "Bahan makanan mulai menipis, ada yang mau menemaniku ke supermarket?" ujar Dio menoleh kepada teman-temannya.

"Beli ramen instan saja," saran Suho. Suho tahu kalau Dio juga sangat lelah dan setidaknya menyeduh beberapa cup ramen tidak terlalu melelahkan.

"Baik, ramen kalau begitu. Siapa yang mau menemaniku membeli ramen?" tanya Dio lagi.

"Aku," Luhan mengangkat tangannya, "Aku mau beli plester luka sekalian." Luhan menunjuk pada dahi dan bibirnya yang memar.

"Tidak usah Luhan-ge, biar aku sembuhkan luka gege nanti," sahut Lay.

"Ani, aku tahu kau lelah Lay," bantah Luhan.

"Tapi..."

"Sudahlah Lay, Luhan itu sengaja ke supermarket karena mau menemui pacarnya," celetuk Chanyeol. Membuat seluruh member menoleh ke arahnya dan Luhan melotot kepadanya.

"A-apa maksudmu?" seru Luhan tertahan.

Happy Virus itu tertawa lebar. Tampaknya kelelahan seperti apapun tidak akan bisa menyurut senyum lebar sekaligus sifat jahilnya. "Aigoo hyung~ jangan kau kira aku tidak tahu."

"P-pabbo!" desis Luhan dengan wajah memerah.

"Jja, sudahlah. Luhan, kajja," Dio menyudahi percakapan mereka dan menarik tangan Luhan menuju supermarket. Alhasil di persimpangan itu mereka terbagi menjadi dua kelompok.

"Aku penasaran soal Minoz," celetuk Kai. Baekhyun menoleh pada Kai dan mengangguk.

"Aku pernah membaca sekali soal Minoz di perpustakaan akademi," gumam Suho, "Dan bentuknya itu seperti monster."

"Monster raksasa?" tanya Kris. Suho menoleh kepada Kris dan menggeleng, "Menurut yang kulihat di buku, Minoz seukuran anjing, yah sedikit lebih besar sih."

"Wajahnya seram?" tanya Chanyeol.

Suho terdiam, tampak tengah mengingat gambar Minoz yang ia lihat di buku perpustakaan akademi, "Kau ingat film zombie yang kita tonton minggu lalu? Kurang lebih seperti itu."

"Aku benci zombie," gerutu Baekhyun pelan.

"Tenang saja Baekkie, kita kan punya power jadi kau tidak perlu takut~" ujar Chanyeol dengan nada ceria sambil melingkarkan tangannya di leher Baekhyun, "Lagipula aku akan melindungimu dengan apiku," tambahnya. Baekhyun memutar matanya. Melindungi apa? Bahkan kemarin Chanyeol nyaris membakar Kris.

Chen yang sedari tadi hanya tertawa mendengar omongan teman-temannya, menjadi tertegun ketika matanya bertemu Lay. Laki-laki manis dengan lesung pipit itu tampak tidak nyaman. "Lay kau baik-baik saja?" tanya Chen.

"O-oh... Ya," Lay menjawab pelan.

"Apa kau takut?" Suho bertanya kepada Lay. Lay melirik kepada Suho, lalu menganggukkan kepalanya. "Tenang saja, kami akan menjagamu kok," ujar Kris sambil menepuk bahu Lay. Lay menganggukkan kepalanya lagi, kali ini dengan semburat merah di pipinya.

-EXO-

"Merah atau biru yaa?" Laki-laki manis berwajah bulat itu tampak bingung. Di tangannya kini terdapat dua plester dengan warna biru dan merah dan ia bingung harus memilih warna apa. "Merah saja," gumam Luhan pada dirinya sendiri, "Merahkan warna official-nya Tohoshinki. Eh, tapi kalau pakai plester merah di wajah malah jadi menyeramkan yaa..."

"Luhan hyung." Luhan sedikit terlonjak ketika mendengar suara yang sangat ia kenal menyapa pendengarannya. Ia berbalik dan menemukan seorang pegawai supermarket berjalan ke arahnya. Bagi Luhan ia bukan hanya sekedar pegawai, tetapi juga teman, kendati Luhan ingin mengharap lebih.

"H-hai Sehunnie," balas Luhan, tidak lupa ia menyunggingkan senyum dan tepat detik berikutnya Luhan meringis kesakitan. Ia melupakan luka memar di bibirnya.

"Eh, hyung habis berkelahi?" tanya Sehun bingung melihat sejumlah luka di wajah dan tangan Luhan.

"Ani," Luhan menggeleng, "Aku terjatuh dari tangga. Hahahaaa..." Sehun mengangguk-angguk paham.

Sehun, atau lengkapnya Oh Sehun adalah teman Korea pertama yang Luhan kenal. Ya, Luhan memang bukan warga negara asli Korea, ia berasal dari China, tepatnya Beijing. Luhan tinggal di Korea selama kurang lebih tiga tahun karena orang tuanya berpindah tugas dan sekitar tiga minggu yang lalu ia masuk akademi.

Luhan sangat akrab dengan Sehun. Sehun itu orangnya sangat menyenangkan, meski terkadang ia bersikap sangat dingin. Namun meski Luhan sangat dekat dengan Sehun, Luhan tidak pernah menceritakan tentang akademi kepada Sehun, termasuk tentang power-nya. Ia tidak mau jika Sehun menganggapnya aneh dan tidak mau berteman dengannya.

"Hyung kau sudah selesai?" Tiba-tiba saja Dio muncul. Tampak di tangannya keranjang supermarket dengan sembilan cup ramen. "Oh ne," sahut Luhan. Luhan menyambar sembarang plester kemudian menarik tangan Dio begitu saja. "Dagh Sehunnie," gumam Luhan berbalik dan melambaikan tangannya kepada Sehun.

"Itu yaa pacarmu yang tadi dibilang Chanyeol?" gumam Dio santai, saat ini mereka sudah keluar dari supermarket dan berjalan pulang menuju rumah.

"B-bukan pacar!" Luhan berdalih cepat dan sedikit emosi, alhasil sebuah batu kecil melayang di belakangnya. Tampaknya Luhan tidak sengaja mengeluarkan power-nya.

"Hyung!" seru Dio terkejut karena melihat batu melayang, dengan segera Dio menggerakkan tangannya dan batu itu kembali terjatuh ke tanah. "Kau ingat apa kata Yunho hyung? Kita tidak boleh menunjukkan power kita sembarangan," desis Dio.

"I-itu karena kau berbicara yang aneh-aneh, Dio-yah."

"Mwo? Apa hubungannya?"

"Ah sudahlah. Kajja kita pulang sebelum orang-orang itu mati kelaparan," ujar Luhan mengakhiri pembicaraan dan menarik lengan Dio.

.

E

X

O

.

Malam kini menunjukkan pukul sepuluh malam. Suasana sepi sangat terasa di daerah perumahan ini. Tampaknya udara dingin malam ini, memaksa orang-orang yang tinggal di sini untuk lebih dini meringkuk di balik selimut tebal dan hangat mereka. Namun tidak dengan sebelas orang yang kini tengah berdiri di sebuah persimpangan sepi. Sepuluh laki-laki dan seorang wanita.

"Apa benar Minoz akan muncul di sini?" tanya Suho. Sudah sepuluh menit mereka di sini namun tidak merasakan kedatangan dari makhluk yang disebut Minoz.

"Harusnya begitu," sahut Boa, "Yah pokoknya ketika makhluk itu datang, kalian sudah bisa merasakan auranya."

"Apa yang akan kami lakukan kalau Minoz muncul?" Kali ini Baekhyun bertanya.

"Kalahkan dan bunuh," sahut Yunho singkat, "Tapi ingat jangan sampai membuat keributan. Lakukan secepat mungkin."

"M-mwo? Bunuh? B-bukankah hyung bilang hanya ingin menunjukkan Minoz kepada kami?"

Boa dan Yunho menyeringai bersamaan. "Well, ada perubahan rencana," Boa kemudian menyentuh bahu Yunho, "Nikmati dongeng sebelum tidur kalian." Dan kemudian dua orang itu menghilang.

Hening. Suasana benar-benar hening. Tidak ada suara manusia sama sekali, bahkan suara kucing atau jangkrik pun tidak ada. "Aku takut," gumam Lay pelan. Entah sadar atau tidak, ia berjalan mundur ke belakang, bersembunyi di balik punggung tegap Kris.

Mereka semua tampak bersiaga, kalau-kalau Minoz muncul secara tiba-tiba. Kendati Boa mengatakan bahwa mereka akan merasakan kehadiran Minoz, namun tidak ada salahnya kan untuk bersiaga?

'Deg, deg, deg.'

Mata kecil Baekhyun membulat, mendadak jantungnya berdebar sangat keras. Ia berjalan mundur, mendekati Chanyeol. "A-apa hanya aku di sini yang tiba-tiba saja berdebar-debar?" desis Baekhyun pelan.

"Sebenarnya aku juga," gumam Chen.

"Apa ini tandanya?" Kali ini Luhan yang bersuara.

"Mungkin," ujar Suho. Kris dan Chanyeol menganggukkan kepala mereka dan sekobaran api muncul di kedua telapak tangan mereka berdua.

"Aku tidak melihat apapun," bisik Dio. Kedua tangannya mulai mengepal, tampak batu-batu kecil mengelilingi telapak tangannya. Kai menajamkan indera penglihatan dan pendengarannya.

"I-itu..." Luhan berdesis pelan ketika mata bulatnya menangkap sosok pria dengan mantel berjalan ke arah mereka.

"Apa dia Minoz?" tanya Lay, entah pada siapa.

"Yunho hyung bilang Minoz akan menyerang jika mereka merasakan aura pengguna," ujar Kris.

"Ya, tidak ada salahnya kita bersiaga," terdengar suara air di sekitar Suho. Pertanda laki-laki dengan senyum angelic itu mulai bersiaga ekstra.

Pria bermantel itu tampak berjalan tenang. Sama sekali bukan sesuatu yang patut dicurigai. Kris dan yang lain berusaha tidak terlalu terlihat memperhatikan pria bermantel itu. Namun semakin dekat pria bermantel itu ke arah mereka, semakin jantung mereka berdetak keras.

'Tap, tap, tap.'

Dengan santai pria bermantel melewati Suho yang berdiri di depan, kemudian Chanyeol dan Baekhyun. Ia berjalan santai melewati mereka semua. Mereka berpikir pria bermantel itu memang bukan Minoz, namun baru akan menghela nafas lega tiba-tiba saja pria bermantel itu berbalik. Ia mengeluarkan tangannya yang tersembunyi dari dalam mantel, beberapa bilah cakar besar keluar dari tangannya dan pria bermantel itu mengincar...

"Shit!" Reflek Kai menggenggam bahu Lay dan melakukan teleportasi. Nyaris saja Lay terbelah dua karena cakar pria bermantel itu –atau sekarang kita bisa menyebutnya Minoz-.

Sedetik setelah Kai menghilang, Kris dan Chanyeol menghempaskan tangan mereka ke tanah. Alhasil tepat di bawah kaki Minoz, api menyembur ke atas. Mereka berpikir Minoz itu terbakar, namun ternyata makhluk itu lebih tangkas, dengan cepat ia menghindar.

'Srett.'

Mantelnya terlepas, menunjukkan sosok asli makhluk tersebut. Dan dia memang monster. Tubuhnya setinggi dua meter, kepalanya botak dan kulitnya berwarna putih serta berlendir. Wajahnya seperti lalat dan dua buah sulur menjulur dari kepalanya.

"Kau bilang dia seukuran anjing, Suho!" seru Baekhyun terkejut.

"Aku bilang kan menurut yang kulihat di buku!" balas Suho.

Makhluk itu meraung keras, membuat Kai dan Lay yang berada di belakang teman-temannya terkejut. Terlebih Lay. Power-nya adalah healing, sama sekali bukan power untuk melakukan penyerangan. Jika monster itu menyerangnya dan teman-temannya tidak sanggup melindunginya...

'Brugh!'

Sebuah batu berukuran besar terlempar ke arah Minoz. Makhluk itu terhuyung ke belakang. "Wow," Chanyeol bergumam takjub sambil menoleh kepada Dio. Oke, mulai sekarang ia tidak mau lagi mencari gara-gara dengan 'umma'-nya itu.

Makhluk itu kembali melancarkan serangan, gerakannya sangat cepat bahkan nyaris tidak terlihat mata. Tanpa disangka makhluk itu kini berada tepat di hadapan Luhan, sebuah tinju besar dan kuat mengenai laki-laki manis itu.

"Aaargh!" Tubuh Luhan terjerembab ke tanah. Perutnya perih luar biasa, seolah organ di dalam perutnya pecah.

"Luhan hyung!"

Segera Kai melakukan teleportasi ke tempat Luhan dan membawa Luhan ke tempat Lay. "Tolong," ujar Kai meletakkan Luhan di depan Lay. Lay mengangguk, ia meletakkan tangannya di perut Luhan dan memulai proses healing.

'Brukk!'

"Urgh!" Kali ini tubuh kecil Baekhyun yang terlempar. Darah segar mengalir dari luka gores di tangannya. "Baekkie!" seru Chanyeol.

"Dia terlalu cepat," desis Chen, "Kita butuh strategi untuk melawannya!" Chen melompat tepat setelah ia berkata. Minoz itu tepat muncul di hadapannya dan mengayunkan cakarnya yang mematikan ke arah Chen.

"Pertama kita harus memperlambat gerakannya," seru Kai. Laki-laki itu terus berpindah-pindah tempat, berusaha membuat Minoz kebingungan.

"Baekhyun, apa kau bisa melenyapkan cahaya di sekitar monster itu?" teriak Suho.

"Bisa! Tapi tidak kalau dia bergerak terlalu cepat!" sahut Baekhyun sambil memegang lengannya yang masih mengalirkan darah. Baekhyun nyaris terlonjak ketika ia merasa seseorang bergerak ke sampingnya. Dan ternyata itu Lay yang kini menyembuhkan luka di tangan Baekhyun.

"Aku punya rencana," desis Suho. "Kai! Buat dia kebingungan dengan perpindahanmu!"

Kai mengangguk, meski ia tidak tahu pasti apa rencana Suho. Kai melakukan serangan seperti menendang atau memukul ke arah monster itu. Sekali menendang ia kemudian menghilang dan muncul di belakang monster tersebut, menendang lagi kemudian menghilang. Gerakan muncul-menghilang itu jelas membuat perhatian monster tersebut teralih kepada Kai dan tampak ia mulai kebingungan.

"Sekarang Baekhyun!" seru Suho. Baekhyun mengangguk. Ia mengerahkan tangannya –meski terasa sedikit ngilu- ke arah monster tersebut dan tampaknya latihan ekstra tadi siang memberi dampak positif. Terbukti dalam sekejap cahaya di sekitar kepala monster itu lenyap, tidak masalah hanya di kepalanya saja, toh tetap membuat makhluk tersebut tidak bisa melihat.

"Dio, ciptakan lubang sedalam mungkin di bawah tubuh monster itu!"

Dio berjongkok, ia menghempaskan tangannya dan mendadak muncul retakan tanah tepat di bawah monster tersebut. Retakan tanah itu segera berubah menjadi sebuah lubang, kontan makhluk tersebut jatuh ke dalam lubang. Lubang itu memang tidak terlalu dalam, hanya sampai sepinggang makhluk tersebut.

'Sreet...'

Kegelapan di sekitar kepala monster tersebut menghilang, kemampuan Baekhyun masih belum bisa untuk melenyapkan cahaya terlalu lama. Minoz itu dapat kembali melihat, ia berniat segera meloncat keluar dari lubang, namun mendadak tubuhnya tidak bergerak.

"Luhan hyung," gumam Baekhyun sambil menoleh ke arah Luhan. Tampak Luhan tengah mengarahkan tangannya ke arah makhluk tersebut, menahan pergerakan sang Minoz dengan telekineticnya. "Lakukan sesuatu! Aku tidak bisa menahannya terlalu lama!" teriak Luhan.

"Chanyeol! Kris! Bakar monster itu!"

"Ne!" teriak Chanyeol dan Kris. Mereka mengarahkan tangan mereka ke tanah, namun belum sempat menyentuh tiba-tiba saja sulur monster itu memanjang, mengikat pergelangan tangan Chanyeol dan Kris serta melempar keduanya. Monster itu kuat dan Luhan tidak mampu menahannya terlalu lama.

"Shit!" desis Suho. Dengan sigap Suho menempelkan telapak tangannya di tanah dan tiba-tiba saja air memenuhi lubang yang dibuat oleh Baekhyun. "Chen! Petirmu!"

Chen mengerti, ia mengarahkan tangannya ke arah lubang yang terisi dan mengeluarkan petirnya. Petir adalah listrik dan air adalah pengantar listrik yang terbaik. Jelas monster yang terendam hingga sepinggang itu langsung tersambar listrik yang mematikan.

"RAAAAARRRRGGGGHHHH!" Monster itu berteriak keras sambil berusaha keluar dari lubang. Akan tetapi tubuhnya terasa kesemutan dan mati rasa karena kesetrum, membuatnya hanya mampu meronta-ronta.

"A-aku tidak bisa lebih lama lagi..." desis Chen lemah. Ia mengeluarkan power-nya begitu banyak dan terus menerus, apalagi kini power-nya sendiri kembali menyakiti tangannya.

Mengerti akan kondisi Chen, Suho menggerakkan airnya, ia kini membungkus seluruh tubuh monster tersebut dengan air. Suho berniat membuat makhluk itu melemah dengan menghalangi pernafasannya. Tetapi bagaimana juga, kemampuan Suho dan yang lain masih belum seberapa. Kendati Minoz tersebut mulai melemah tapi ia tampak tidak mau menyerah.

Tiba-tiba saja sulur Minoz tersebut memanjang. Dan secara mengejutkan melilit pinggang Lay. Suho dan Chen terkejut dan sontak itu membuat konsentrasi mereka buyar. Makhluk itu berhasil membebaskan diri dari air dan meloncat keluar dari lubang. Ia berlari sambil membawa tubuh Lay.

"LAY!" seru Baekhyun.

"Damn!" kutuk Kris. Reflek ia berlari mengikuti makhluk tersebut. Kris sudah berjanji kalau ia akan melindungi Lay dan Kris bukan seorang pengingkar janji.

"Sial..." gumam Suho lemah. Tubuhnya dan yang lain terasa sangat lelah karena mengeluarkan power begitu banyak. Namun tidak dengan Kai dan Chanyeol. Kai menyentuh pundak Chanyeol, "Kita ikuti mereka."

"Kau tahu mereka kemana?" tanya Chanyeol bingung.

"Yunho hyung bilang kalau seorang pengguna power mampu merasakan hawa dari pengguna power yang sama. Kau dan Kris sama-sama berkemampuan api, jadi coba rasakan hawa keberadaan Kris."

"B-baik." Chanyeol memejamkan matanya dan sedetik kemudian dia membukanya. Laki-laki tinggi bersuara besar itu menggenggam tangan Kai, "Dia terus bergerak, kurasa aku tahu dia akan kemana." Kai tersenyum tipis, dan kemudian kedua orang itu menghilang.

-EXO-

"LAY!"

"KRIS!"

Kris mendecih kesal. Monster itu sama sekali tidak mau berhenti. Ia memutar otak, mencari cara lain. Dan Kris kemudian menempelkan tangannya ke tanah, segera saja muncul api tepat di hadapan monster tersebut. Kris tidak mau mengeluarkan api di bawah kaki Minoz, karena itu dipastikan akan melukai Lay juga.

Kemunculan api dari Kris sukses menghentikan pergerakan Minoz tersebut. Lebih dari itu, ia tampak terkejut dan reflek melempar tubuh Lay. Dengan sigap Kris meloncat dan menangkap tubuh Lay. "Kau tidak apa-apa?" Lay mengangguk meski badannya masih gemetaran.

Kris menatap ke arah makhluk tersebut. Minoz itu terdiam, kepalanya menoleh ke satu arah. Kris mengikuti arah tatapan Minoz itu dan ia terkejut mendapati seorang laki-laki bertubuh tinggi berdiri terpaku di hadapan Minoz. Semula Kris mengira itu adalah Chanyeol, tapi kalau Chanyeol tidak mungkin ia akan terpaku begitu saja.

Sang Minoz tampak tidak lagi tertarik pada Kris maupun Lay. Matanya yang besar seperti lalat itu kini menatap intens pada laki-laki tinggi yang masih terpaku. Kris tahu laki-laki itu ketakutan melihat makhluk besar itu, begitu takut hingga tidak sanggup berlari. Namun ada satu hal yang membingungkan Kris, Minoz tersebut tidak langsung menyerang. Ia terdiam di tempatnya.

Tidak ingin membuang waktu, Kris melakukan penyerangan pada Minoz dengan mengeluarkan api dari tangannya. Monster itu terpelanting. "Kau! Cepat lari!" teriak Kris pada laki-laki yang masih saja berdiri. Monster tersebut mulai bangkit, bergegas Kris berlari ke arah laki-laki berambut hitam itu.

Kris berdiri tepat di depan laki-laki itu, memberikan perlindungan pada orang asing tersebut. Ia menoleh pada laki-laki di belakangnya dan berteriak,"Lari! Cepat lari!" Laki-laki itu tersentak, ia baru sadar ada seseorang di depannya. Dengan tergagap ia menganggukkan kepalanya dan berlari pergi.

Mata Kris mengikuti punggung laki-laki itu dan tampaknya ia melepas konsentrasi pada Minoz di hadapannya. Begitu Kris menolehkan kepalanya lagi ke arah Minoz, Minoz tersebut tampak melayangkan kepalan tangannya ke arah Kris dan...

'Brugh!'

"Yo! Kau terluka?" Kai. Ia muncul di waktu yang sangat tepat. Menendang keras monster tersebut tepat di wajah, kembali tubuh sang Minoz terpelanting. Tapi tidak berhenti sampai di situ, Chanyeol –yang datang bersama Kai- mengeluarkan power-nya dan membakar hebat monster tersebut.

"Yah Kris! Aku butuh bantuan!" teriak Chanyeol menyadari partner-nya terdiam. Kris tersentak, ia kemudian mengangguk dan bergabung bersama Chanyeol. Membunuh Minoz pertamanya itu.

-EXO/TBC-

Curcol pojokan author

EXO chapter duaa~~~ Apa terlalu panjang? Cezzie sendiri nggak nyangka bakal sampai 7000an words. Ketika menulis ini, Cezzie membayangkan seperti adegan action di film-film *korban film*. Cezzie berusaha menuliskan sebaik mungkin agar teman-teman readers sekalian bisa membayangkan apa yang Cezzie bayangkan. Apa kalian juga membayangkan hal yang sama?

Untuk couple, Cezzie belum tahu ke depannya akan bagaimana. Karena sejujurnya Cezzie saat ini belum dapat feel sama couple SuLay, KaiSoo and ChenMin. Di chapter ini kalian bisa lihat couple yang muncul adalah HunHan, KrAy dan BaekYeol. Hunhan itu sudah dipastikan bakal muncul *tebar2 bokser Sehun* *dilempar Luhan ke afrika*, kalau Baekyeol mungkin sedikit2 *maaf buat yang baekyeol shipper*

NAH! Yang terakhir ini yang bingung. Abisnya Cezzie suka couple TaoRis dan Kray~ Egk bisa milih antara Baby Panda atau Mami Lay~ Pokoknya sih couple TaoRis bakal muncul ^^ Tapi akan kemanakah hati abang Kris berlabuh? *jyaaahh...bahasanyaaa~*

Kira-kira reader maunya couple apa?

DAAAAAANN... Adakah yang bisa menebak siapa laki-laki misterius(?) yang muncul terakhir? Yang benar nebak Cezzie kasih Tao deh :D *dibakar Kris*

Terima kasih banyak utk review teman-teman sekalian, Cezzie sangat bersyukur ^^ Chapter yang ini di-review juga yaa :D Tolong beri Cezzie saran dan pendapat dari teman-teman ^^ *bbuing-bbuing bareng Tao and Thehun*