"Hyung.. kenapa Hyung selalu melarangku untuk berkelahi?" Sehun kecil berusia sepuluh tahun menatap sosok Hyungnya yang kini sibuk dengan bola basket miliknya itu sebelum akhirnya melakukan shooting kearah ring.

Hyungnya tersenyum. Matanya yang tajam itu terlihat begitu hangat ketika tersenyum. Yang lebih tua mengusap rambut Sehun kecil dan kemudian mencubit hidung milik Sehun gemas.

"Karena.. jika kau memiliki kekuatan, tidak digunakan untuk melukai yang lebih lemah."

Sehun kecil memberengut, "Tapi bagaimana jika mereka menjahiliku?"

"Diamkan saja."

"Jika mereka memukulku?"

Hyungnya tersenyum dan kemudian memberi isyarat untuk Sehun mendekat, "Siapa yang berani memukul adik dari Kris Wu ini?"

Sehun tersenyum, menampilkan gigi taringnya yang membuat senyumnya terlihat begitu manis.

"Tidak ada. Tidak ada yang berani memukul adik dari Kris Wu ini."

"Jujur?"

Sehun kecil mengangguk. Menatap Hyungnya yang kini bersiap untuk melakukan shooting. "Shixun.. jika kau dewasa dan menjadi kuat nanti.. gunakanlah kekuatanmu untuk melindungi yang lemah, mengerti?"

Sehun kecil selalu mengagumi Hyung kesayangannya itu. Punggung Hyungnya yang terlihat kokoh walau ia masih berusia belasan tahun selalu membuat Sehun merasa terlindungi. Itu yang selalu membuat Sehun selalu ingin menjadi seperti Hyung-nya. Memiliki prestasi akademik yang baik, anak kebanggaan ayah dan juga juga Ibu. Penerus keluarga Wu. Memiliki banyak teman. Semua orang menyayangi Hyung-nya.

Memiliki Hyung seperti Kris merupakan kebanggaan tersendiri untuknya.

"Hyung.. adakah orang yang ingin Hyung lindungi?"

Kris tersenyum. "Ada. Kau, Ayah, dan Ibu." Kris menaruh bola basket yang tadi ia drabble di pinggangnya, "Dan juga satu orang lagi. Dia lebih rapuh dari ranting pohon yang kering itu."

"Siapa? Beritahu aku Hyung. Aku akan membantu Hyung melindunginya.."

Dan Sang Hyung hanya tersenyum kearahnya dan kembali melkukan three points shoot.

Sehun tidak pernah mendapatkan jawaban tentang siapa yang coba Hyung-nya lindungi. Karena Hyung-nya tidak pernah menjawab pertanyaannya bahkan ketika sampai waktu dimana maut menjemputnya.


.

Wind-OSH

.

By DeathSugar

.

.


Menepuk bahu teman disampingnya, "Kenalkan dia Kyungsoo." Dan kemudian tersenyum cerah. Itu adalah Baekhyun yang kemudian menjatuhkan dirinya di depan Sehun. Sesuai dengan kesepakatan -sepihak- antara Baekhyun dan juga Sehun untuk memperkenalkan Sehun dengan Kyungsoo setelah mereka pulang sekolah.

"A-aku Do Kyungsoo. Senang bertemu denganmu Sehun" Kyungsoo ikut tersenyum kearah Sehun. Mata bulat miliknya menatap penuh binar kearah Sehun persis yang Baekhyun lakukan padanya tadi siang.

"Yaya.. aku tahu." Sehun menatap dua makhluk mini itu dengan tatapan yang sedikit tertarik. Tertarik untuk artian lain. "Jadi apa yang bisa kalian lakukan untukku?"

Baekhyun dan Kyungsoo tersenyum cerah. Saling menatap untuk beberapa menit dan kemudian mengangguk kearah Sehun.

"Aku bisa memasak." Ucap Kyungsoo masih dengan mempertahankan senyumnya.

"Aku bisa bernyanyi dengan baik. Aku bahkan pernah menang lomba bernyanyi yang diadakan di kompleks perumahan milikku." kali ini Baekhyun yang membuka suara.

"Maksudku.." Sehun mendesah, "Apa yang kalian kuasai? Bela diri atau apa mungkin.."

Dan kedua makhluk mini itu menyengir.

"Heheh.. maaf Sehun.. tubuh lemah kami ini—"

"Jangan dilanjutkan!" potong Sehun. Sehun sudah siap untuk memasang wajah cemberut karena kesal. Ah, seharusnya Sehun sudah tahu tentang jawaban apa yang akan kedua makhluk mini itu katakan. "Aku sudah tahu selemah apa kalian." Jawabnya enteng.

Baekhyun dan Kyungsoo hanya menyipit kesal. Mereka mungkin memang lemah tapi ya tidak perlu diperjelas juga, harga diri mereka berdua sebagai namja merasa dipermainkan. Huh.

"Ada yang mengganjal di pikiranku saat kau menjelaskan tentang kelas dan juga leadernya." Jeda sejenak, "Kau bilang kelasmu itu Kelas Surga 'kan?"

Baekhyun dan Kyungsoo mengangguk. Kompak seperti anak kecil.

"Lantas kenapa kalian memintaku untuk melindungi kalian berdua?"

Baekhyun menyengir kembali. "Itu.. hehehe.. banyak siswa yang ingin menjahili kami, Sehun. Karena mereka bilang wajah kami ini mirip anak perempuan. Apalagi Park Bajingan Chanyeol itu. Dia menyebalkan sekali." Si mungil puppy itu berkilat kesal dan kemudian diamini oleh anggukan dari mungil bermata bulat lainnya yang berada disampingnya.

Sehun mengangguk mengerti. Sedikit merasa lega ketika tahu dia tidak perlu untuk membuat dirinya harus berkelahi dengan anak lain hanya untuk melindungi kedua 'teman'nya itu.

"Ada lagi yang ingin kau tahu, Sehun?" Kyungsoo bertanya, "Atau ada yang ingin kau makan untuk besok? Aku akan membuatkannya untukmu."

Sehun mengangguk "Tentang sekolah ini dan juga kelasnya kau belum menjelaskan semuanya, Baekhyun. Kau tidak menjelaskan tentang siapa siswa yang kita temui di lorong kelas tadi dan juga leader di kelas II-A." Sehun menatap Baekhyun untuk pertanyaannya, "Jelaskan padaku sekarang juga!"

"Kau bertanya pada orang yang tepat Sehun!" Kyungsso menjawab dengan riang. "Baekhyun ini informan yang handal." Kyungsoo tepuk bahu Baekhyun, "Itu karena dia suka bergosip, sih."

Baekhyun mendelik kearah Kyungsoo dan kemudian berdeham ketika ia melihat kearah Sehun. "Jadi, semua kelas II berada dibawah kendali leader kelas II-A. kelas II-A ini bisa dibilang kelas paling berbahaya. Kim Jong In adalah Leader kelas itu. Dia mengalahkan semua kelas I di tahun pertamanya.. dan kemudian mengalahkan semua kakak kelas II dan III saat Kai—itu nama panggilan Jong In—kurang dari satu tahun. Dia benar-benar menyeramkan." Bisik Baekhyun pada bagian akhir.

"Benar Sehun.. dan lagi.. ada gossip yang mengatakan kalau Kai itu—" Kyungsoo menengok kearah kanan dan kiri untuk memastikan jika tidak ada siswa yang mendengar pembicaraan mereka. "Anak dari mafia terkuat di Korea." Suara Kyungsoo tak lebih dari sebuah bisikan. "Jadi berhati-hatilah. Jangan mencari masalah dengannya."

"Begitu.." Sehun anggukan kepalanya menangkap apa yang dimaksud oleh Baekhyun dan Kyungsoo tentang bagaimana menyeramkannya leader dari kelas II-A itu. "Lalu.. kenapa tidak ada yang berani menyentuh kelas kalian? Apa leader kalian terlalu kuat?"

Baekhyun dan Kyungsoo tersenyum kearah Sehun. Kali ini terlihat lebih kikuk dan juga canggung. Kyungsoo menengok kearah belakang dengan takut dan Baekhyun mengisyaratkan Sehun untuk mendekat kearahnya, "Karena dikelas kami….."


…..


"Paman Kwon.. bisakah besok tidak mengantarku ke sekolah?" itu adalah Sehun ketika ia baru saja masuk kedalam bangunan kecil—atau bisa dibilang rumah kecil—dimana Paman dan Bibi Kwon tengah duduk bersantai di ruangan mereka mereka ketika mereka bersantai.

"Apa saya berbuat kesalahan, Tuan Muda?" Ucap Paman Kwon dengan wajah yang menunduk takut.

Sehun mendesah dan kemudian membuat sebuah senyuman tipis di bibirnya, "Tidak. Paman tidak membuat kesalahan sama sekali. Aku hanya ingin berangkat sendiri besok dengan kendaraan umum."

"Apa anda yakin?" Paman Kwon kembali mencari kebenaran dalam jawaban Tuan Muda-nya itu.

Sehun mengangguk. "Ya. Bukankah akan aneh kalau aku berangkat sekolah dengan supir pribadi dengan statusku sebagai salah satu siswa sekolah paling buruk di Korea Selatan?" Sehun menggaruk tengkuknya, mencoba mencari alasan untuk tidak membuat Paman Kwon curiga. Bagaimanapun paman Kwon adalah salah satu orang kepercayaan ayahnya, "lagi pula.. kalau ada lawan bisnis Ayah yang mengetahui keberadaanku di sekolah itu.. Ayah pasti akan dapat masalah 'kan?"

"Tuan.. anda tidak perlu—"

Sehun memotong, "Jangan beritahu Ayah tentang ini, Paman. Aku hanya ingin mencoba mandiri tanpa bayang-bayang Ayah." Tersenyum tipis, "Setidaknya paman bisa mengantarku sampai halte dekat sekolahku jika paman tidak keberatan."

Paman dan Bibi Kwon mendesah bersama. Sehun bisa melihat senyum dari Bibi Kwon kearahnya sebelum akhirnya suara Paman Kwon membuatnya tersenyum lega.

"Baiklah jika itu perintah dari Tuan Muda."

"Yup! Kalau begitu aku akan kembali. Oh iya, Bibi.. bisakah makan malam nanti bibi tidak memasak? Aku akan keluar hari ini dan mungkin akan pulang telat."

Bibi Kwon menganguk. "Baik Tuan. Semoga hari anda di Korea menyenangkan."


.


"Jangan lari!"

Suara dibelakangnya itu membuatnya harus menoleh kearah belakang dengan tetap untuk memfokuskan langkah larinya secepat mungkin. Pemuda dengan topi koala itu berhenti sejenak ketika ia berada di persimpangan jalan. Mata rusanya menengok ke kanan dan ke kiri dengan ribut. Ia menggigit bibir bawahnya untuk sesaat. Memegang erat tali tas miliknya dan kemudian memutuskan untuk berbelok kearah kanan. Si mungil itu kembali berlari dengan secepat yang mungkin dia bisa. Menatap kearah belakang sesekali untuk memastikan jarak antara dirinya dan juga orang-orang yang mengejarnya itu.

Si mungil dengan wajah yang manis itu berhenti sejenak untuk menormalkan deru nafas miliknya. Kembali menimbang kearah mana ia akan lari atau setidaknya menemukan tempat untuk sembunyi.

Ia kembali menggigit bibir bawahnya, kali ini terlihat lebih kuat. Wajahnya terlihat gugup dan juga takut diwaktu yang sama. Tubuhnya terlihat menimbang untuk kemana setelah ini.

Uh, Sial sekali, batinnya.

Harusnya ia lebih berhati-hati tadi ketika ia memutuskan untuk kabur dari rumah tanpa sepengetahuan dari orang itu, dan harusnya juga dia juga sudah bisa tahu kalau dirinya tidak bisa kabur kemanapun.

Dia—Luhan sedikit menggerutu ketika dirinya tidak menemukan tempat bersembunyi sama sekali. Menghentakkan kakinya kesal sebelum akhirnya ia memutuskan untuk menyeberang jalan walau pada kenyataannya lampu untuk para pejalan kaki belum menyala. Suara klakson terdengar nyaring ketika saling bersahutan antara satu mobil dengan mobil lainnya. Luhan tidak menghiraukan itu, mungkin dirinya lebih baik tertabrak mobil dan mungkin akan mati saat ini.

"Brengsek! Apa kau tidak punya mata?!" Luhan membungkuk untuk meminta maaf ketika pengemudi truk itu tiba-tiba berhenti di depannya dan memaki-maki dirinya. Luhan hanya ingin kabur secepatya sebelum suruhan orang itu lebih dekat.

"Luhan! Berhenti disitu!"

Luhan menengok kearah belakang ketika suara itu kembali terdengar. Disana—diseberang jalan dengannya—dua pemuda sebaya dengannya menunduk untuk menormalkan deru nafas mereka,. Luhan tahu mereka pasti kesal karenanya. Tapi sungguh, Luhan hanya ingin keluar untuk beberapa saat dari rumah.

Luhan mengabaikan itu semua. Mengabaikan teriakan dua pemuda itu yang terus menyuruhnya untuk berhenti. Ia terus berlari. Berbelok kearah parkir sebuah café ketika ia mendengar suara dua pemuda yang mengejarnya itu terdengar.

Luhan meringkuk, meringsut kearah body samping mobil dan memeluk tasnya. Berharap tidak ada yang menemukannya ketika bersembunyi disini. Si mungil itu mencoba meneralkan nafasnya yang tersenggal-senggal. Ia terlalu jauh berlari. Luhan yakin betisnya kini sudah membesar—mungkin bisa untuk membuatnya terlihat seperti pemain sepak bola.

"Apa mereka sudah pergi?" Luhan bergumam yang tidak lebih dari sebuah bisikan. Dia sedikit melonggokkan kepalanya untuk melihat apakah para pengejarnya tadi sudah jauh. menenggok ke kanan dan ke kiri dan kemudian tersenyum lega. "Akhirnya…"

Berdiri dan kemudian meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku setelah olahraga larinya tadi. Pemuda mungil itu berbalik dan kemudian tubuhnya menabrak seseorang.

"Appo.." Luhan meringgis sakit ketika pantatnya mencium lantai beraspal area parkir café ini. Luhan menatap pemuda yang kini berada di hadapannya dengan tatapan kesal. Kesal sekali. Pemuda itu membuatnya jatuh dan hanya menatapnya dengan tatapan datar tak berekspresi. Harusnya dia menolongnya, memberinya sebuah uluran tangan dan membantunya untuk berdiri, bukan berdiri seperti patung begitu.

Luhan mencoba untuk berdiri. Membuat tangan kirinya sebagai tumpuan dan kemudian menepuk-nepuk celana bagian belakangnya. Luhan mencibir kearah pemuda itu dan memberinya sebuah tatapan menyeramkan—yang justru terlihat begitu menggemaskan—sebelum akhirnya ia memutuskan untuk pergi.

Luhan berhenti ketika ia baru saja melangkahkan tiga langkah kakinya dan kemudian berbalik kearah pemuda itu. Memberi sebuah dengusan dan kemudian menjulurkan lidahnya—mungkin Luhan mencoba untuk mengejek—sebelum akhirnya menghilang diarah belokan jalan.

Meninggalkan pemuda yang ia ejek tadi –mungkin- sendiri. Menatap kepergiannya. Menatap punggung mungilnya yang kian menjauh.

Pemuda itu—Oh Sehun tertawa ketika pemuda itu menghilang. Sehun baru ingat setelah ia terlalu lama berpikir dan mengingat siapa pemuda yang tadi menabraknya. Itu adalah siswa yang kemarin ia lihat dengan rubik ditangannya. Pemuda manis dengan iris rusa yang menggemaskan.

Sehun baru ingat. Betapa bodohnya Sehun ketika dia baru mengetahui itu dan mengabaikan pemuda itu ketika jatuh tadi. Aish..

Dan apa tadi, ketika salam perpisahan -atau perkenalan- yang dia berikan kepada Sehun terlihat begitu kekanakan. Adakah siswa DEUX yang seperti itu? Ah Sehun yakin, mungkin pemuda itu sama nasibnya dengan Baekhyun dan Kyungsoo yang di jahili oleh siswa lain.

Eh, bukankah kemarin dia ikut dalam barisan Wolf?


.


Sehun baru saja selesai mencuci tangannya dan kemudian mencipratkan air yang masih tersisa di tangannya kearah rambutnya. Membenarkan kerah seragamnya dan menepuk blazer seragamnya yang tadi tersiram cola yang dilakukan oleh teman sekelasnya.

Jadi, Sehun baru saja masuk ke dalam kelas setelah ia selesai dengan urusannya dengan Baekhyun dan Kyungsoo. Urusan yang tidak terlalu penting sebenarnya, mengingat Sehun hanya memakan bekal makan siang yang Kyungsoo siapkan untuknya dengan Baekhyun dan Kyungsoo yang menemaninya makan siang. Sehun tidak pernah tahu jika ternyata berteman dengan Baekhyun dan Kyungsoo itu tidaklah terlalu buruk walau sebenarnya Baekhyun yang cerewet dan Kyungsoo yang kadang sedikit kelewat polos membuatnya sedikit repot.

Baekhyun banyak menceritakan tentang sekolah ini untuk hal lebih rinci. Tentang pemimpin kelas II-A yang melindungi kelas Baekhyun dan Kyungsoo -yang alasannya tidak bisa Sehun mengerti- sehingga tidak ada yang berani menyentuhnya dan juga tentang battle yang sering diadakan setiap akhir semester untuk menantang King—leader tertinggi.

Dan kemudian seseorang menyiramkan cola kearahnya tepat setelah ia mendudukkan dirinya di bangkunya. Teman-teman di kelasnya memang tidak bersahabat sama sekali.

Terbangun dari lamunannya ketika Sehun melihat siswa yang baru saja keluar dari salah satu bilik kamar mandi paling ujung melalui pantulan cermin di hadapannya. Sehun bisa melihat seseorang itu berhenti di depan pintu untuk membenarkan seragamnya yang tadi sempat terlihat berantakan. Sehun bisa melihat juga ketika orang itu melirik kearahnya melalui ekor matanya dan kemudian tersenyum sinis.

Sehun mengendikkan bahunya acuh, mungkin semua siswa di sekolah ini begini, pikirnya.

Memutuskan untuk mengabaikan orang yang baru saja keluar dari kamar mandi itu, Sehun akhirnya memilih untuk meninggalkan kamar mandi untuk kembali ke kelas. Sehun baru saja hendak memegang kenop pintu kamar mandi ketika ia mendengar sebuah erangan tipis. Untuk sesaat Sehun merinding, tidak mungkin sekolah ini berhantu 'kan?

"Nnnhh.."

Sehun coba untuk abaikan erangan yang kembali terdengar itu, kali ini terdengar lebih jelas. Erangan itu semakin terdengar jelas. Rasa penasarannya membuatnya mendekat kearah bilik kamar mandi itu. Sehun coba untuk menajamkan pendengarannya dan erangan itu semakin terdengar dari bilik kamar mandi di pojok kamar mandi itu. Itu adalah kamar mandi dimana siswa yang ia kenal sebagai Kai tadi keluar.

Sehun mematung ketika tangannya baru saja membuka pintu itu. Sehun bisa melihat dengan jelas, disana seseorang tengah duduk diatas toilet duduk dengan keadaan yang mengenaskan. Bibirnya terbungkam dengan dasi seragam sekolahnya, tangannya terikat kebelakang oleh lengan blazer miliknya. Kancing bajunya tidak terkancing dengan benar. Sehun bisa melihat kancing seragamnya terbuka dengan lebar—bahkan Sehun bisa melihat bekas merah disana.

Sehun menahan nafasnya untuk beberapa detik ketika ia mengingat siapa siswa di hadapannya itu. Itu adalah pemuda yang semalam ia lihat di parkir mobil, dan kenapa dia bisa disini dengan keadaan yang...

"Mmmhh—"

Mata rusa itu menatap kearah Sehun. Mata yang sayu dan penuh dengan air mata yang siap untuk jatuh seakan meminta pertolongan kearahnya.

Sehun duduk dihadapan siswa itu. Dengan pelan ia buka ikatan di bibirnya dan kemudian beralih kearah ikatan di tangannya. Dia sedikit berontak Sehun menyentuh ikatan tangannya. Menggelengkan kepalanya rebut dan menatap Sehun dengan tatapan penuh takut. Sehun tahu siswa itu pasti berpikir yang iya-iya tentang dirinya. Dengan keadaannya seperti ini; seragam yang tidak rapi dengan kancing yang terbuka dan menampilkan dada polosnya dan Sehun tahu alasannya dengan apa yang ia liat dari keadaannya yang terlihat berantakann.

Sehun lepas blazer miliknya sendiri dan kemudian memakaikannya untuk siswa manis itu. Blazer pemuda itu basah dan Sehun tidak tega untuk tetap mengenakannya. Selesai dengan itu, Sehun kancingkan semua kancing seragam siswa manis itu dan kemudian mengusap helaian rambut basahnya.

"Jangan takut.. aku tidak akan melukaimu." Tersenyum dan pemuda di hadapannya itu hanya mengedipkan matanya. Sehun bisa melihat air matanya jatuh dan kemudian ia usap air mata itu. "Jangan menangis."

Sehun tahu siswa didepannya itu tidak bisa bahkan untuk berjalan. Itu terjadi ketika Sehun mencoba untuk membantunya brdiri dan ia hampir terjatuh lagi karena kakinya yang bergetar. Merapatkan blazer miliknya yang tadi ia kenakan, Sehun rengkuh tubuh mungil yang penuh dengan keringat itu dalam pelukannya. Sehun merasa sesak ketika ia melihat bekas luka di ujung bibir mungil itu. Luka yang Sehun yakin bukan berasal dari ikatan yang ada dibibirnya tadi. Itu lebih mirip sebagai sebuah bekas gigitan yang mulai mengering.

Sehun tahu dia pingsan ketika tubuh mungil itu hampir jatuh kedepan jika saja Sehun tidak menahannya. Dengan terpaksa Sehun angkat tubuh siswa itu dan menggendongnya. Sehun sedikit berlari ketika melewati lorong lantai dua ini. Mengabaikan semua tatapan siswa yang terarah kepadanya. Sehun sudah biasa melihat tatapan siswa-siswa disini seperti ini. Sehun tidak perduli, karena yang Sehun harus lakukan saat ini adalah menemukan Ruang Kesehatan.

Mengutuk lokasi Ruang Kesehatan yang berada di lantai satu yang membuatnya harus berlari menuruni tangga dengan beban di punggungnya. Sejak kapan Sehun menjadi perduli seperti ini kepada orang asing?

Untuk sesaat Sehun mencuri pandang kearah wajah yang terlelap itu, wajah tidurnya begitu tenang walau Sehun bisa melihat bekas air mata yang mengering. Siswa ini adalah orang yang sama dengan orang yang ia lihat semalam, tapi kenapa sekarang terlihat berbeda sekali?

Wajah tidurnya terlihat begitu rapuh dan itu membuat Sehun entah kenapa ingin melindunginya. Tidak membiarkan siapapun melukainya.

Sehun buka pintu Ruang Kesehatan itu dengan kakinya –itu lebih tepat Sehun menendangnya dengan paksa- dan kemudian meletakkan tubuh mungil itu di ranjang. Terima kasih kepada sekolah ini yang masih memiliki ruang kesehatan walau keadaannya tidak terlalu baik.

Sehun sapukan pandangannya untuk mencari kotak P3K dan kemudian menemukannya di pojok ruangan. Sehun ambil kotak itu dan kemudian mencari alcohol dan juga kapas yang setidaknya bisa ia gunakan untuk mengobati luka pemuda itu.

Sehun ikut meringis ketika ia mengarahkan kapas itu ke sudut bibir si mungil itu dan si mungil memberikan reaksi untuk itu. Sehun melakukannya dengan begitu pelan seakan pemuda itu adalah benda paling rapuh yang mudah pecah.

Selesai dengan bagian itu, Sehun menimbang untuk sesaat. Apa perlu dia membersihkan luka di lehernya? Sehun hanya tidak ingin dibilang mesum jika pemuda itu sadar dan menemukan Sehun menyentuh lehernya dan juga dada-nya walaupun Sehun berniat untuk mengobatinya.

Ah apa perdulinya. Sehun hanya ingin membantu mengobati luka-luka itu. Dengan terpaksa Sehun buka kancing baju pemuda itu—hanya dua kancing—dan Sehun harus menahan nafasnya untuk beberpa saat –lagi-.

Entah apa yang pemuda berkulit tan tadi lakukan kepadanya, noda bekasnya terlihat begitu banyak dan kontras dengan kulit pucatnya. Itu membuat Sehun urung untuk melakukannya dan kemudian memutuskan untuk menutupnya kembali. Sehun berpikir jika dia melakukan itu mungkin pemuda yang terlelap dihadapannya ini akan merasa tersakiti.

'Tuhkan Sehun..

Sehun hendak saja ingin membenarkan blazer miliknya yang tadi ia gunakan untuk menyelimuti tubuh mungil itu ketika ia mendengar pintu ruang kesehatan terbuka dan menampilkan dua siswa dengan tinggi yang berbeda itu berdiri disana. Sehun melihat mereka berdua kemarin. Mereka adalah anggota Wolf. Apa mereka kesini untuk menjemput si mungil ini?

"Lu! Bangun!" siswa dengan name tag Kim Jongdae itu mendekat dan kemudian mengguncang tubuh si mungil yang terlelap itu. Si munggil terbatuk sesaat dan kemudian merengek ketika siswa dengan nama Kim Jongdae itu menarik tubuhnya hingga membuatnya terduduk.

Jujur, Sehun sebenarnya tidak tega melihatnya. Namun ketika ia menyadari jika ia berurusan dengan kawanan Wolf maka hidupnya tidak akan tenang disini. Ingin rasanya Sehun melepas cengkraman tangan itu dari pergelangan tangan si mungil manis yang terlihat begitu pucat itu.

"Lepaskan aku Chen!" rengek pemuda itu.

"Luhan!" si mungil membeku ketika suara pemuda yang ia panggil Chen tadi meninggikan suaranya. "Jangan membuatku dan Tao semakin sulit karena ulahmu! Aku dan Tao sudah mencarimu ke kamar mandi seperti yang Kai katakan dan ternyata kau tidak ada! Kau pikir tugasku hanya mencarimu yang kabur-kaburan?"

"Maaf.." lirihnya.

"Sudahlah. Jangan katakan maafmu padaku! Itu tidak ada gunanya." Chen berkilat kesal, "Lebih baik cepat bangun. Kai sudah menunggumu!"

"Tapi.. Chen.."

"Ayolah, Lu-ge. Kau membuat kami semakin sulit. Kau tahu bagaimana jika Kai marah 'kan?" Luhan mengangguk. "Palli! Kau membuat banyak waktu kita terbuang sia-sia."

Sehun bisa melihat untuk sesaat Luhan meliriknya, menatap kearahnya sebelum akhirnya ia mencoba untuk menjajakan kakinya di lantai. Luhan baru saja mencoba berdiri dan bertumpu pada kedua kakinya dan kemudian terhuyung jatuh.

Sehun yang berada didekatnya dengan sigap menangkap tubuh mungil itu dan merasakan tubuhnya terasa demam.

"Hati-hati.." ucap Sehun dan kemudian tersenyum.

Luhan balas tersenyum walau itu terlihat kaku dan kikuk, sebelum akhirnya dengan bantuan Tao yang memapahnya ia berjalan dengan pelan. Sehun bisa mendengar siswa dengan nama Tao itu menggerutu dengan Luhan yang berjalan begitu lamban.

Hhh… Dia pergi lagi, batinnya.


…..


Lorong kelas itu begitu sepi dan gelap. Menyisakan keheningan diantara pemuda yang kini tengah sibuk dengan ponselnya itu. Siswa dengan seragam DEUX itu berdiri membelakangi cahaya dan hanya menyisakan pungung miliknya yang terlihat. Pemuda dengan rambut berwarna coklat tua dan sedikit bergelombang itu tak lebih dari sebuah bisikan dari setiap kata yang meluncur di bibirnya.

["Kudengar, anak dari Wu Liu Wen bersekolah disana juga?"]

Pemuda itu bergumam, terlihat seperti menimbang apa yang akan ia ucapkan nanti. "Maaf Tuan. Saya tidak tahu."

["Benarkah?"] Seseorang dengan suara yang berat itu terdengar tertawa, [Cari tahu siapa anak itu."]

"Baik Tuan.. akan saya usahakan."

["Dan satu lagi.. jangan biarkan anak keluarga Wu itu mendekati-nya. Mengerti?"]

Siswa itu mendesah. "Baik Tuan. Saya akan mencoba menjauhkan dia dengan anak keluarga Wu itu."

"Ya.. kau harus. Ingat apa tugasmu. Jangan sampai lengah. Awasi Kai dan juga anak keluarga Wu itu."

Pemuda itu mengangguk, seakan dengan begitu seseorang yang ia panggil 'Tuan' tadi melihatnya. "Saya mengerti Tuan."

"Ya, belajarlah dengan baik. Ingat, jangan lupa apa tugasmu, Lotus.."

Siswa itu menatap layar ponsel miliknya dengan penunjuk waktu yang telah berhenti. Ada rasa lega yang ia dapatkan setelah telfon itu terputus. Ia hanya mendengar suaranya, tapi entah kenapa suara orang itu benar-benar menakutkan.

Begitu dominan, begitu kuat, begitu penuh dengan aura membunuh yang menakutkan.

"Apa yang kau lakukan disana, Hyung?"

Siswa itu menengok ketika suara pemuda degan rambut ramyeon itu menatap kearahnya. Memberikan sebuah senyuman manis untuk adik kelasnya itu, pemuda itu kemudian mengangkat tangannya, memberi gestur untuk menyapa.

"Ayo, Kai sudah menunggu!" pemuda berambut ramyeon itu tersenyum, "Luhan mungkin butuh bantuanmu saat ini, Hyung. Kai pasti akan menghukumnya nanti malam jika dia tahu apa yang baru saja Luhan lakukan dengan anak baru itu."

Menghukum?

"Chen.. dimana Luhan sekarang?"

Chen—pemuda berambut ramyeon itu menggendikkan bahunya, "Aku melihatnya tadi masuk kedalam mobil Kai. Dan kurasa Kai benar-benar marah padanya."

Kai marah.

Adalah hal yang paling menakutkan dari apapun. Terlebih untuk Luhan. Ia harus secepatnya menemukan Luhan sebelum Kai melakukan hal yang tidak diinginkan. Harus.


.

TBC

.


Kok rasanya chapter ini kaku ya? Huhuhu ah tau ah gelap. /eh

Silakan kritik dan sarannya ya di kolom review. :3


.

17 November 2015

DeathSugar

.

-Fanfic ini untuk mengikuti Give Away dari HunHan INA LINE-