Title : Prince Witch
Cast : Oh Sehun, Kim Jongin, Others
Genre : Comedy Romance
Chapter : 2/?
Warning : Slight Kris/Hun
- Jongin Point of View -
" Paman, apa pemuda yang tadi itu bernama Oh Sehun?" Tanyaku pada paman tukang sapu yang sedang sibuk mengerjakan pekerjaannya.
" Ya. Kau pasti anak baru sehingga tidak mengenalnya." Aku menjawabnya dengan anggukan.
" Kuberitahu, aku sangat terharu karena kau tadi menolongku tapi kalau terjadi sesuatu padamu aku tidak akan bisa berbuat apa-apa." Ucap paman itu cemas membuatku tersenyum menatapnya.
" Tenang saja paman. Aku akan baik-baik saja. Si Oh Sehun itu tidak akan bisa menendangku keluar dari sini. Aku masuk dulu ya. Sampai jumpa paman." Jawabku ringan kemudian berjalan meningalkannya yang termangu menatapku.
Ternyata Paman Oh benar. Si Oh Sehun itu benar-benar parah. Sekali lihat saja aku langsung tahu kalau sifatnya buruk sekali. Kasihan sekali paman Oh punya anak seperti itu. Aku menghentikan langkahku didepan kelas dengan papan bertuliskan Business 3-2. Nah, ini kelasku. Aku tersenyum senang karena tak perlu bersusah payah mencari kelasku. Aku tidak bisa membayangkan kalau aku harus menyusuri gedung sekolahan ini yang ampun-ampun luasnya. Aku tidak mengerti sebenarnya kenapa gedung sekolah ini luasnya sebesar komplek perumahan.
Kulangkahkan kakiku kedalam kelas ini dengan senyum lebar. Namun perlahan senyumku hilang karena semua anak dikelas ini menatapku dengan pandangan aneh. Aku tidak tahu kenapa mereka menatapku seperti itu apa mungkin Sehun sudah mengumumkan ultimatum untuk menjauhiku? Hebat sekali dia. Secepat itu kah kekuasaanya berjalan? Aku menghela napas. Cuek sajalah toh mereka tak cari masalah denganku. Kuedarkan pandanganku kesekeliling kelas ini dan mencari bangku yang kosong. Aku terpaksa berinisiatif sendiri karena saat ini kelas belum dimulai dan guru wali kelas kami belum datang. Aku melihat seorang anak laki-laki yang tingginya kira-kira sama denganku sedang asyik membaca buku. Dia tidak menyadari keadaan kelas dan kehadiranku sama sekali. Kulihat kursi disampingnya kosong. Aku tersenyum dan berjalan kearahnya.
" Hai, apa disini ada orangnya?" Sapaku. Anak itu mengangkat wajahnya dari buku yang dibaca dengan sebal tapi matanya langsung terbelalak lebar saat melihatku. Dia menggeleng tanpa suara dengan mata yang masih menatapku lekat-lekat. Aku tersenyum dan langsung duduk disebelahnya.
" Kau anak yang tadi dilapangan kan?" Tanyanya dengan suara tercekat. Aku mengernyitkan dahiku tak mengerti namun detik kemudian aku sadar maksud ucapannya.
" Ah, ya." Senyumku.
" Whoa…" Desisnya kagum. " Hai, aku Kim Mingyu. Senang bertemu denganmu." Ujarnya bersemangat sambil menjabat tanganku erat-erat. Aku tertawa kecil melihat tingkahnya.
" Hei, aku Kim Jongin. Senang bertemu denganmu." Balasku sambil tersenyum. Mingyu masih memandangku dengan kagum dan sejujurnya itu mulai membuatku risih.
" Kau murid baru ya? Pindah dari mana?" Tanyanya.
" Aku baru pulang dari Amerika." Jawabku. Mingyu mengangguk-angguk menatapku.
" Pantas saja kau berani melakukan itu padanya."
" Melakukan itu-apa-pada-siapa maksudmu?" Tanyaku tak mengerti.
" Menyuruh Oh Sehun untuk minta maaf pada paman tukang sapu. Kau tahu, disekolah ini jangankan menyuruhnya meminta maaf mengajaknya bicara saja tidak ada yang berani. Kecuali guru-guru dan Lee Chanhee. " Ujar Mingyu lagi. Aku tersenyum kecut mendengarnya. Semenyeramkan itukah Sehun? Kalau iya, berarti tugasku semakin berat.
" Aku tidak bermaksud menakutimu tapi, kau siap-siap saja mendapat hal buruk disekolah ini. Kenyataan paling buruk kau akan dapat surat D.O siang ini." Ujarnya serius. Aku mengangguk-angguk menatapnya.
" Kau tidak takut?" Aku menggeleng.
" Kalau kau diganggu disekolah ini?"
" Lawan saja."
" Kalau kau dikeluarkan dari sini?"
" Cari saja sekolah lain. Neul Paran bukan satu-satunya sekolah di Seoul kan?" Jawabku santai.
" Whoa. Kau hebat sekali. Benar-benar optimis." Ujar Mingyu menatapku kagum. Aku hanya nyengir melihatnya. Sebenarnya bukan aku yang hebat tapi anak-anak sekolah ini saja yang aneh dan terlalu pengecut.
Tak lama kemudian bel masuk berbunyi bertepatan dengan masuknya wali kelas kami. Begitu dia masuk dia langsung memperkenalkanku pada murid-murid lainnya dan tak lama, pelajaran dimulai. Sampai siang hari perkataan Mingyu belum terbukti aku tidak mendapat surat D.O atau gangguan apapun dari anak-anak disekolah ini. Sebaliknya mereka malah bersikap ramah padaku. Melihat ini Mingyu bertepuk tangan senang dan semakin bertambah kagum melihatku. Anak yang aneh..
Tak terasa waktu berlalu dengan cepat, dan aku sedang membereskan buku-buku ku kedalam tas. Aku harus buru-buru pulang karena ada pekerjaan yang menungguku.
" Hyung, sampai ketemu besok ya." Ujar Mingyu ceria sambil melambaikan tangannya padaku yang terpana dengan perkataannya.
" Hyung Katanya? Yang benar saja." Aku tertawa kecil karena keanehan Mingyu.
- Sehun Point of View -
Bodoh. Kim Jongin bodoh. Ayah bodoh. Semuanya bodoh. Aku kesal sekali. Baru kali ini aku tidak bisa melakukan apa yang kuinginkan. Aku tidak bisa menendang si jelek Jongin dari Neul Paran karena ayah sendiri yang membuat si jelek itu masuk kesana. Urgh. KESAL. Kenapa ayah mengirim si jelek itu ke Neul Paran? Memang ada hubungan apa dia dengan ayah? Sebenarnya dia itu siapa sih?
" Tuan muda, kita sudah sampai." Aku menoleh. Kris ternyata sudah membukakan pintu mobil.
Rupanya aku terlalu sibuk dengan pikiranku hingga tak menyadari kalau kami sudah sampai di tempat tujuan. Aku beranjak keluar dan masuk ke restoran didepanku. Restoran ini juga milik ayahku omong-omong. Kata Kris, mulai hari ini akan ada koki baru yang akan bekerja di restoran kami dan ayah menyuruhku untuk mencicipi masakannya secara langsung. Dasar ayah sialan. Dia bisa menelpon Kris untuk menyuruhku ini itu tapi giliran kutelpon ponselnya selalu tidak aktif. Dia tidak pernah punya waktu untukku. Menyebalkan.
Semua pelayan langsung menunduk hormat begitu melihatku memasuki ruangan. Aku menuju ruang VVIP yang tentunya dibuat hanya untuk keluargaku. Kulihat general manager dan beberapa pelayan sudah menungguku. Mereka pun langsung menunduk memberi hormat. Salah satu dari mereka menarik kursi untukku duduk.
" Tuan muda apa kabar?" Tanya GM.
" Bawakan makanannya." Aku paling malas berbasi-basi apalagi dengan rakyat jelata seperti ini.
" Tuan muda tidak sabar ingin mencicipi ya? Masakan koki baru ini enak sekali. Aku saja langsung ketagihan mencicipinya. Walaupun dia masih muda tapi dia sudah profesional sekali."
" Oh ya?" Kutatap GM dengan senyum dinginku.
" Iya."
" Kalau sampai masakannya tidak enak di lidahku, kau tidak akan pernah melihat matahari lagi. Banyak omong." Desisku membuat si GM langsung menunduk takut dan menghentikan ocehannya.
Aku paling benci orang yang mengajakku bicara seperti ini. Sengaja berbasa-basi hanya untuk menjilatku, padahal mereka tidak pernah benar-benar peduli padaku. Aku berani bertaruh dengan seluruh warisanku bahwa jika aku bukan anak seorang Oh Dong Gun, jangankan berbaik hati padaku, melirikku pun mereka tak akan mau. Tak lama salah seorang pelayan datang dan membawa sepiring makanan untukku. Secara alamiah alisku yang berbentuk sempurna naik hingga menyentuh poni di dahiku saat melihat hidangan yang tersaji di hadapanku. Ini sih kimbap, Hanya saja ini dihias sedemikian rupa sehingga terlihat lebih menarik tapi tetap saja, apa istimewanya? Koki brilian macam apa yang menghidangkan kimbap sebagai hidangan istimewa? Sama sekali tidak kreatif.
Kuambil garpu dan pisau lalu kupotong sedikit bibimbap dihadapanku. Dia bahkan tidak memotongnya terlebih dahulu. Koki sialan. Aku akan mencicipi makanannya sebagai formalitas setelah itu aku akan langsung memecatnya untuk ke-tidak kreatif-an dan ke-tidak sopanan-nya. Aku segera menyuapkan kimbap gadungan itu kemulutku tapi sesaat kemudian aku terhenyak saat merasakan teksturnya di mulutku. Lezat. Rasanya sangat lezat. Rasanya mengingatkan pada masakan umma. Kutahan keinginanku untuk menghabiskan makanan ini cepat-cepat dan kembali bersikap tenang seperti biasa. Ternyata ini bukan kimbap tapi nasi dan daging campur yang dibungkus telur dadar dan dibalut rumput laut. Rasanya hampir seperti omurice tapi tidak berminyak karena nasinya tidak di goreng dan jelas lebih lezat karena memakai daging cincang dan rumput laut. Ini sensasi yang cukup mengejutkan. Oke, kuakui koki ini pintar. Dia mendesain makanan ini sedemikian rupa.
" Bawa kokinya kemari." Perintahku.
Aku termenung menatap piring kosong didepanku. Aku bahkan tak sadar sejak kapan aku selesai menghabisi hidangan ini. Entah sudah berapa lama aku tidak makan makanan seenak ini. Rasanya aku jadi rindu dengan umma.
" Tuan muda, ini koki baru kami." Kualihkan tatapanku dari piring yang sejak tadi kupandangi dan mataku terbelalak lebar saat melihat sosok didepanku. Aku bangun dari kursiku dengan kasar.
" Kau— sedang apa kau disini?" Hardikku.
" Aku koki barunya. Makanan yang kau makan tadi hasil karyaku." Jawabnya enteng. Aku terpana. Makanan yang enak tadi itu ternyata hasil masakan si jelek Kim Jongin? Yang benar saja. Segala macam pujian tentang masakan tadi kini lenyap di telan amarahku.
" Pecat dia." Raungku sambil menujuknya.
" Maaf tuan muda tapi kau tidak bisa melakukannya. Yang memintanya bekerja disini adalah tuan besar." Cicit GM menjawab perintahku.
Aku semakin berang. Kutatap si jelek itu dengan gemas. Ingin sekali aku melemparnya dengan piring ini supaya senyum konyolnya itu lenyap dari wajahnya. Kuambil ponselku cepat-cepat dan kutekan nomor yang sudah kuhapal di luar kepala.
" Ya? " Seru suara diseberang sana menjawab panggilanku.
" Ayah. Apa kau ingin membunuhku pelan-pelan hah? Apa kau ingin menyiksaku?" Ujarku cepat begitu telpon terjawab.
" Sehunie sayang kau sudah bertemu Jongin ya?" Alih-alih menjawab pertanyaanku pak tua itu malah balik bertanya dan aku bersumpah bahwa aku bisa mendengar nada geli dalam suaranya.
" Ayah, apa maksudmu dengan semua ini? Mengapa mengirimnya ke Neul Paran? Lalu kenapa dia jadi koki di restaurant kita?" Tanyaku. Aku bingung bagaimana bisa ayah menjawab telponku dengan santainya sementara aku sudah habis sabar begini. Mungkin saat ini aku terdengar seperti bayi manja yang sedang merajuk pada ayahnya. Tapi hei, siapa peduli? Dia ayahku dan aku bisa melakukan apapun yang kumau.
" Sehun, nak, dengarkan ayah. Jongin itu anak sahabat ayah sejak kecil. Namun sekarang orang tuanya sudah—"
" Aku tahu." Potongku cepat. Aku tidak perlu mendengar asal-usul tentang seorang Kim Jongin. Aku punya masalah yang lebih gawat ketimbang mendengar dongeng asal-usulnya.
" Kau sudah tahu? Kau pasti menggunakan kekuasanmu itu untuk mengorek informasi huh? Tapi syukurlah kalau begitu, ayah tidak perlu menjelaskan lagi kalau kau sudah tau ceritanya dan juga mulai sekarang Jongin akan tinggal dirumah kita. Kau rukun-rukun lah dengannya. Jongin itu anak yang baik kok. Ah, sudah dulu ya nak. Ayah harus pergi meeting. Sampai nanti. Ayah menyayangimu." Ayah seenaknya menyerocos panjang lebar sebelum mematikan telpon secara sepihak.
" Ayah! Ayah. Ishhh.. " Aku mengerang geram saat suara ayah tak dapat terdengar lagi.
Kutatap tajam wajah si jelek itu dan dia balas menatapku dengan senyum penuh kemenangan seperti habis mendapatkan medali emas di olimpiade Beijing. Aku kesal sekali. Aku kesal sekali sampai rasanya aku ingin melempar barang yang ada didepanku untuk meluapkan kekesalanku. Dan tentu saja aku melakukannya. Aku melempar piring yang ada diatas meja membuat benda itu pecah berkeping-keping dilantai dan jatuh berserak di dekat kaki Kim Jongin. Tanpa banyak bicara lagi aku keluar dari ruangan ini dengan Kris yang sigap mengekor di belakangku. Ini hari tersialku sepanjang tahun.
` Yang benar saja! Masa aku harus satu rumah dengannya? Melihat wajahnya saja sudah membuatku susah bernapas apalagi tinggal dan berbagi atap dengannya. Tidak mungkin.` Kesal, aku segera memasuki mobil cepat-cepat dan kubanting pintu mobilku keras sebelum Kris sempat menutupnya.
- Jongin Point of View -
Oh Sehun, kelihatannya kau serius membenciku. Hmmm, sayang sekali. Padahal dia cukup cantik tapi sifatnya benar-benar parah. Aku harus benar-benar kerja keras sepertinya.
" Nak Jongin." Suara sang general manager menyadarkanku dari lamunan.
" Eh, ya?"
" Selamat bergabung ditempat kami." Ujarnya sambil menjabat tanganku.
" Ah, terimaksih." Aku tesenyum menatapnya.
" Restaurant ini pasti akan semakin ramai setelah kau datang." Katanya. Aku hanya tertawa kecil mendengarnya. Karena sejujurnya, pikiranku kini tengah melayang kemana-mana.
######################################
#######################################
" Tuan Kim?" Tanya seorang pengawal yang tengah berdiri di depan pintu rumah yang-lebih-tepat-jika-disebut-istana ini padaku.
" Ya." Jawabku singkat. Ternyata paman Oh sudah memberitahu pengawal-pengawalnya kalau aku akan datang kerumahnya.
" Masuklah tuan. Kamar anda sudah disiapkan sedari tadi." Ujarnya sopan sambil membukakan pintu rumah agar aku bisa masuk.
Rumah ini benar-benar luas. Demi apapun, rumah ini berkali-kali lipat luasnya dibanding apartemenku di Amerika. Apa untungnya punya rumah sebesar ini kalau yang menempatinya hanya beberapa orang? Sesungguhnya aku sangat tidak mengerti jalan pikir orang kaya.
" Kamar tuan ada dilantai dua. Tepat disebelah kamar Tuan Sehun. Ini Yura, dia yang akan memenuhi semua kebutuhan anda." Ujar pengawal yang mengantarku.
" Tunggu, aku tidak butuh dia." Potongku sambil melirik gadis muda yang kira-kira seumuran denganku ini.
" Tapi tuan, kata tuan besar kami harus melayani anda seperti kami melayani tuan muda Sehun." Ujar pria itu.
" Memang. Tapi aku tidak butuh. Aku biasa melakukan semuanya sendiri. Aku bukan bayi yang harus di urusi. Tenang saja, aku akan bilang pada paman Oh, kalau kalian melayaniku dengan sangat baik. Jadi santai saja." Kataku cepat sambil mengamati isi rumah ini yang benar-benar menakjubkan. Sepertinya semua barang dirumah ini nilainya beratus-ratus juta won. Salah sentuh dan rusak sedikit, aku sepertinya bisa terlilit hutang seumur hidup.
" Kamarku di lantai dua?"
" Iya tuan. Mari saya antar."
" Tidak perlu. Biar kucari sendiri. Kurasa aku perlu sedikit tour di rumah ini." Ujarku ringan seraya berjalan mendahului pengawal dan pelayan yang terpana menatapku. " Dan, satu lagi berhenti memanggilku tuan. Kalian membuatku merasa tua. " Lanjutku sambil meninggalkan mereka yang masih terpana menatapku.
- Author POV -
" Joy, panggilkan Kris." Ujar Sehun sambil menutup bukunya. Joy menurut. Dia segera bergegas keluar dan memanggil Kris yang selalu siap berjaga didepan pintu kamar Sehun. Tak sampai semenit kemudian Kris sudah berada disamping ranjangnya.
" Ada apa tuan muda?" Ujarnya dengan suaranya yang berat dan rendah.
" Aku mau tidur." Sehun menatapnya penuh arti.
Kris kontan menurunkan pandangannya dan menghindar dari tatapan Sehun sementara Sehun mengalihkan pandangannya ke Joy. Tanpa Sehun harus bicara Joy sudah mengerti arti tatapannya. Gadis muda itu berjalan keluar meninggalkan Sehun dan Kris berdua di kamar itu seperti yang diperintahkan oleh majikannya.
Begitu Joy menghilang dari pandangan dan pintu kamarnya telah tertutup rapat, Sehun segera bangun dari posisinya dan duduk bersimpuh di atas ranjangnya. Dia menarik kerah jas Kris agar pria itu semakin mendekat padanya. Tanpa rasa malu, Sehun menatap wajah pria didepannya lekat-lekat sementara Kris masih menunduk menghindar dari pandangan Sehun. Merasa tak mendapatkan perhatian yang dia harapkan Sehun melakukan aksi yang lebih berani. Pemuda berwajah cantik itu memajukan wajahnya dan perlahan mengecup sudut bibir Kris. Pria tampan itu masih terdiam. Tidak bergerak apalagi membalas sentuhan Sehun. Saat Sehun ingin mendaratkan kecupan berikutnya, Kris segera menolehkan wajahnya untuk menghindari ciuman Sehun membuat Sehun terpekur diam.
" Maaf tuan." Kris menatap Sehun serius. Sehun terdiam dan balik menatap Kris.
Rasa terluka dapat terlihat jelas dari sorot matanya. Tanpa banyak kata pemuda cantik itu segera melepaskan pelukannya. Sehun menghela napas. Berusaha menutupi rasa kecewanya didepan Kris dengan bersikap acuh. Dia menarik tangan Kris perlahan dan membawa tubuh tinggi itu ke atas kasur agar mereka bisa berbaring bersama. Sehun mengaitkan lengan Kris dipinggangnya, memejamkan mata dan berbalik memunggungi Kris yang berbaring disampingnya. Membuat sang pengawal setia menghangatkan tubuhnya dalam pelukan nyamannya. Mengabaikan Kris yang berbaring kaku dan terjebak dalam keadaan membingungkan seperti biasanya.
- Kris Point of View -
Aku hanya bisa mendesah pasrah diam-diam. Selalu seperti ini. Tuan muda selalu saja menggodaku untuk melakukan hal-hal tak senonoh dengannya. Dia tidak pernah bisa mengerti bahwa aku tidak bisa melakukan itu dengannya. Aku tidak mencintai dia. Aku tidak bisa menganggapnya sebagai seorang pria. Demi tuhan, aku sudah bersamanya sejak dia berumur lima tahun dan menjadi pengawalnya sejak aku tamat SMA. Sejak dia masih si kecil Oh Sehun yang polos dan menggemaskan. Aku bahkan sudah menganggapnya seperti adikku sendiri. Terlebih lagi dia masih dibawah umur. Bagaimana mungkin aku bisa menurutinya untuk melakukan hal-hal seperti itu? Yang lebih menyiksaku lagi adalah kenyataan bahwa aku tidak bisa menolaknya. Dia terlalu rapuh. Mungkin dari luar dia terlihat galak dan tegar, tapi sebenarnya dia hanya anak manja yang amat sangat butuh perhatian orang lain. Padahal aku tidak bisa terus bersamanya tapi dia selalu saja bermanja-manja padaku seperti ini. Orang lain mungkin tidak akan percaya melihat sisi lain Oh Sehun seperti ini. Bagaimana dia terus ingin menempel padaku kalau kami sedang berdua seperti ini.
Bagaimana jadinya dia kalau kukatakan aku akan meninggalkannya? Dia pasti terpuruk. Dia sudah terlalu sering ditinggal orang yang dia sayangi.
Aku tahu itu. Aku menyaksikan bagaimana dia berusaha bangkit dari setiap kemalangan yang menimpanya. Aku menyaksikan itu semua. Namun biar bagaimanapun, aku tidak bisa terus bersamanya. Aku punya kehidupanku sendiri, aku punya mimpi yang harus kugapai. Namun dengan kondisinya yang seperti ini, itu semua akan menjadi sulit. Aku tak tega meninggalkannya, tapi aku juga tak mungkin membiarkannya terus bergantung padaku seperti ini. Aku menghembuskan napas pelan dan kutatap tubuh ramping dalam dekapanku ini. Aku benar-benar pusing dibuatnya.
To Be Continue…..
A/N : Lee Chanhee itu Chunji Teentop. Babies banyak jg yg tahu yah, baguslah. And bwt yg pada nanya statusnya Sehun, Sehun dibawah kok. Sorry to say yah babies, tapi gue ga bisa bayangin Jongin dibawahin gitu. Apalagi sm Sehun dibawahinnya XD. Jadi yuph posisi nya Sehun dibawah. Yang lbh suka Sehun di atas mendingan cap-cus aja daripada ntar konflik batin kan. Hah.
Eniwei, reviews, subscribes, and followers are love. Till next time babies ^^
