"You always be a part of me . Because you always be my baby… "
~ My lovely, Dobe!~
Disclaimer: kalau Naruto punya saia, bakal saia suruh semua seme di manga Naruto buat nge-rape dia. Tapi sayangnya, Naruto punya Masashi Kishimoto sensei*monyong2 sebel*
Gendre: Romace, drama, humor, yaoi, ooc.
Pairig:SasuNaru
Rate: M (iya, sodara-sodara! Ini ber-rate M! Gwahahahaha)
Summary: Sasuke memungut Naruto yang terkapar di jalan dan menjadikannya hewan peliharaan? Bagaimana nasib Naruto dengan 'majikan' barunya yang pervert? Sepertinya Sasuke mulai merasakan perasaan yang lebih dari hubungan peliharaan dengan majikan.
WARNING!: dalam ffn ini terdapat banyak hal yg tidak pantas dibaca sama anak di bawah umur (walaupun author juga dibawah umur)! Mengandung unsur YAOI, LEMON, OOC dan unsur tidak jelas lainnya.
Dun like? Dun read!
Nekad baca? Gak nanggung klo jadi fujoshi ato fudashi, nantinya lho~
Oke~ selamat membacaaa~
~ My lovely, Dobe!~
Chapter 2. Who are you?
BY: Himawari Ichinomiya
v(^u^)~~~~~~~oooooooo0oooooooo~~~~~~(^u^)v
Hari ini merupakan hari yang sibuk di kota besar seperti Konoha, terlihat banyak orang berlalu-lalang di jalanan besar pusat kota tersebut. Saat ini pukul satu siang yang artinya, saat ini adalah waktu utuk pelajar pulang dari sekolah dan waktu untuk pekerja kantoran termasuk pria tampan bergaya rambut raven a.k.a Sasuke ini makan siang. Sasuke saat ini sedang duduk termenung di sebuah café, matanya kosong menatap cappuccino dan sandwich tuna di meja makanannya yang sudah mulai dingin karena lama tak di sentuh.
"Haaahh…." Sasuke menghela nafas berat. Semenjak Dobenya itu hilang seminggu yang lalu, pria raven itu menganggap hidupnya datar dan membosankan. Tidak ada yang menyambutnya ketika pulang, tak ada yang bermanja-manja lagi kepadanya dan yang terpenting, semenjak tidak ada Dobe, tidak ada lagi kehangatan di dalam hatinya. Suasana hati Sasuke yang sedang kacaupun mempengaruhi hasil kerjanya di kantor, sudah beberapa kali ini Sasuke ditegur atasannya karena ketahuan bengong saat meeting, walaupun atasan Sasuke adalah sahabatnya sendiri, tetap saja pria tampan satu ini tetap merasa segan terhadap atasan sekaligus sahabatnya itu.
Kembali ke alam nyata, Saat ini Sasuke tetap duduk terdiam menatap hidangannya, belum berubah dari posisi awal, kalaupun tadi sang pelayan tidak mendatanginya dan menanyainya, 'mau pesan apa?', mungkin saat ini Sasuke hanya akan duduk termanggu di meja yang kosong.
'Ada apa denganku akhir-akhir ini?' batin Sasuke frustasi sambil membenamkan wajah tampan itu di telapak tangannya. 'Apakah ini karena Dobe?' rasanya itu adalah pertanyaan yang tak perlu dijawab lagi.
Walaupun wajah Sasuke kini kusut, tetap saja tak mengurangi ketampanan di wajahnya, membuat semua orang yang lewat menatapnya kagum dan semua pelayan di café itu menatap dirinya dari kejauhan. Merasa fans girl-nya bakal bertambah Sasuke hanya mendengus malas dan membuang muka.
Saat Sasuke sibuk menghindar dari tatapan calon fans girl-nya, dia kaget melihat sebuah sosok yag sangat dikenalnya, kalau Sasuke tidak punya jurus wajah stoic, mungkin reaksinya adalah mulut ternganga sekaligus mata yang melotot. Tapi, berhubung Sasuke memiliki darah Uchiha, ia menatap orang yang menarik perhatiannya dengan wajah yang tetap stoic.
Yang dilihatnya saat ini adalah sosok remaja berambut pirang acak-acakan, bermata biru, sebiru langit dan berkulit tan halus. 'Persis seperti Dobe!' batin Sasuke dalam hati. Tapi bedanya, saat ini pemuda pirang itu mengenakan seragam sekolah SMA dan sedang bercakap-cakap riang dengan sahabatnya yang berambut coklat dan bertato segitiga merah di wajahnya, sesekali pemuda pirang itu tertawa renyah dan menggembungkan pipinya ketika kesal. 'Kebiasaan itu! Persis seperti Dobe!' batin Sasuke kembali berteriak.
Sasuke sudah tak bisa menahan dirinya lagi, dia berdiri dari tempatnya dan segera berlari menuju pemuda pirang yang sedang bercakap-cakap di depan café itu. Sampainya tepat di depan remaja manis mirip Dobenya itu, Sasuke langsung memeluk erat remaja itu, membuat sahabat yang tadi bercakap-cakap dengannya itu cengo.
"Kau kemana saja seminggu ini, Dobe?" Tanya Sasuke tanpa melepaskan pelukan eratnya itu.
"Kau ini siapa?" bukannya malah menjawab, pemuda pirang itu malah bertanya balik pada Sasuke. Mendangar respon dari pemuda ini, si rambut reaven ini melepaskan pelukannya dan menatap remaja di depannya ini lekat-lekat.
"Jangan bercanda, Dobe! Ini aku! Sasuke!"
"Maaf… aku tidak mengenalmu…" Jawab pemuda bermata biru langit itu sambil menunjukan wajah menyesal. "Sepertinya kau salah orang…" lanjutnya dan mulai melangkah tergesa-gesa pergi bersama sahabatnya yang dari tadi menuggu.
"Tunggu!" teriak Sasuke lalu menggenggam tangan pemuda itu erat.
"Apa lagi, sih? Aku ini bukan peliharaanmu tau!" Remaja berrambut pirang itu menepis tangan Sasuke dan beranjak pergi.
'Maafkan aku… Master Sasuke…' batin remaja berkulit tan itu, tak terasa cairan bening memenuhi pelupuk matanya.
.
.
.
.
Sasuke kembali ke kantornya setelah kejadian itu. Tadi itu masih jam makan siang, ingat? Otomatis, Sasuke masih harus kembali ke kantornya. Tentu saja kembalinya dia ke kantor di iringi omelan atasannya a.k.a Deidara.
"Kau ini kenapa sih, sasuke? Kerja nggak konsen, meeting bengong, masuk terlambat..." omel pria lima tahun lebih tua dari Sasuke itu.
"hn.. Gomen.. aku… sedang tidak sehat akhir-akhir ini…." Jawab Sasuke yang masih menatap kosong sahabat sekaligus direkturnya itu.
"Ini terakhir kalinya Sasuke! Lain kali, tak ada maaf untukmu!" Ancam pemuda itu. Sasuke tertawa hambar dan segera pergi ke ruang kerjanya.
Ruangan itu tak seberapa luas hanya ada tumpukan berkas dan sekotak alat tulis di ujung kanan mejanya. Ternyata tugas yang ada di mejanya benar-benar menumpuk! Mau bagaimana lagi? Salah sendiri kerja selama seminggu gak konsen! Sambil menghela napas panjang, pria bermata onyx itu mulai mengambil beberapa berkas diatas mejanya dan memeriksa apa-apa yang harus di kerjakannya kali ini. Walaupun sudah berusaha konsen, Sasuke tetap tidak bisa mengalihkan pikirannya terhadap pria yang mirib Dobenya itu.
"Apa lagi, sih? Aku ini bukan peliharaanmu tau!" kata-kata remaja itu kembali melintas di fikiran Sasuke. 'Tunggu dulu! Kenapa dia bisa tau kalau yang ku cari itu peliharaan-ku? Apa mungkin…. Tidak! Kali ini harus benar-benar ku pastikan!'
Hari itu, Sasuke benar-benar menyelesaikan tugas-tugasnya yang menumpuk agar segera menyelidiki pria berrambut pirang itu!
"Sasuke-kun~~~!" Sasuke mendengus mendengar suara itu.
"Apa maumu, Sakura?" jawab Sasuke sinis kepada wanita berambut pink rekan kerjanya yang berteriak namanya tadi. Asal diketahui saja, Sakura adalah salah satu fans girl Sasuke yang paling extreme fanatiknya! Pernah Sasuke diikutinya sampai masuk toilet, saat hendak pergi keluar rumah dan pergi ketempat lainnya. Pokoknya benar-benar seperti stalker, deh!
"Sasuke-kun~~ nanti kita pulang kerja bareng, ya? Terus makan malam di rumahku, aku sudah menyiapkan banyak resep dengan bahan tomat kesukaanmu, loh…" Ucap Sakura sambil sok manis. (gomen untuk sakura FG!X3)
"Tidak!" Jawab Sasuke singkat dan padat. Disogok satu ton tomatpun dia nggak bakal mau ke rumah Sakura! Nanti kalau diapa-apain sama Sakura, gimana?
"Kenapa?" Tanya Sakura kecewa.
"Aku sibuk! Kau tidak lihat berkas yang menumpuk sebanyak ini, apa? Aku hari ini lembur!"
Sakura mengangguk mengerti. "Sebagai calon pacar yang baik, aku mengerti kamu kok, Sasuke-kun~"
Mendengar ucapan Sakura, sukses membuat Sasuke pingin muntah. Setelah berkata hal memuakkan tadi, dia segera pergi menuju ruangan kerjanya lagi, takut ketahuan Deidara. Sasuke menghela nafas bersyukur melihat wanita berrambut pink itu pergi.
Sasuke kembali menekuni pekerjaanya. Sambil merancang rencana agar bisa bertemu pria berrambut pirang itu sekali lagi.
.
.
.
.
Keesokan harinya, Sasuke di tempat kerja berusaha menyelesaikan semua pekerjaannya hari ini sampai tepat saatnya makan siang. Niatnya sih, Sasuke akan menyelidikinya saat pemuda pirang itu pulang sekolah, kalau jam kantor sih, tepat pada saat makan siang. Saat ini jam sudah menunjuk pukul dua belas tiga puluh, saatnya makan siang! Beruntug pemuda berambut raven ini sudah menyelesaikan pekerjaannya. Dia berjalan menuju ruangan atasannya a.k.a Deidara. Setelah mengetuk pintu dan mengatakan permisi, Sasuke memasuki ruangan itu.
"Deidara…." Panggil Sasuke pelan.
"Ada apa Sasuke?" jawab Deidara, pandangannya beralih dari dokumen yang dia pegang dan menatap lurus pria bermata onyx itu.
"Hari ini, aku izin untuk pulang lebih cepat…"
"Kenapa?" Tanya Deidara, menunjukan wajah bingung.
"Aku ada urusan hari ini." Ucap pemuda stoic itu datar.
"Lalu pekerjaanmu? Jangan seenaknya saja meninggal pekerjaan, Sasuke!" Deidara mulai marah.
"Aku sudah menyelesaikan pekerjaanku hari ini."
"…" Deidara terdiam mendengar jawaban bawahannya itu.
"Lalu? Bagaimana?" Tanya Sasuke menuntut jawaban cepat dari atasannya itu.
Deidara menghela nafas seraya berkata, "Baiklah, kau boleh pergi sekarang!" Sasuke tersenyum mendengarnya dan cepat-cepat pergi dari ruangan itu, mengambil tas kerjannya dan pergi menyelidiki remaja pirang yang membuatnya penasaran.
"Sasuke-kun! Kok sudah mau pulang?" Tanya Sakura, melihat pemuda tampan itu pergi ke luar kantor sambil menjinjing tas kerjanya.
"Bukan urusanmu!" Jawab sasuke ketus tanpa menatap sedikitpun fans girl-nya yang berambut pink itu. Sasuke berjalan cepat keluar dari kantor itu.
'Mencurigakan! Ini harus diikuti!' batin Sakura dan mulai berjingkat-jingkat mengikuti arah Sasuke berjalan.
Sasuke sama sekali tidak sadar bila di ikuti Sakura, fikirannya hanya terfokus pada rencanannya menemui remaja bermata biru langit itu, diingatnya lagi saat kemarin bertemu dengan remaja yang mirib Dobe-nya itu, 'Kemarin dia memakai seragam sekolah SMA, kalau tidak salah SMA itu adalah Konoha gakuen, jadi bagaimana kalau aku menyusulnya di sekolah! Ahaha! Bagus!' pikir Sasuke dalam hati , dan mulai berjalan menuju Konoha gakuen. Dan tentu saja Sakura masih tetap mengikutinya.
.
.
.
.
Saat ini jam menunjukan jam satu siang, waktunya bagi setiap siswa SMA pulang dari sekolahnya. Tentu saja kecuali untuk yang mengikuti pelajaran tambahan di sekolah. Pemuda berambut pirang dan bermata biru langit itu sepertinya termasuk dari options yang pertama, saat ini dia berjalan keluar dari gerbang. Ketika dia asyik berbincang-bincang dengan sahabat baiknya itu, kegiatan mengobrol itu seenaknya diintrupsi oleh seseorang.
"Hei! Kau!" Ucap sasuke sambil menahan lengan pemuda berrambut pirang itu.
"Apa, sih?" Tanya remaja manis itu sambil mengalihkan pandangannya pada pemuda bermata onyx itu. "kau lagi rupanya…" lanjut remaja itu, sedangkan Sasuke tetap teguh mempertahankan wajah stoic-nya.
"Mengakulah kalau kau itu 'Dobe'! Kau dobe 'kan?" Desak Sasuke. Mendengar perkataan pria dewasa di depannya, mata biru langit itu sedikit mengeluarkan cairan bening di pelupuk matanya.
"Hei, kau baik-baik saja?" Tanya sahabat pemuda pirang itu, sambil men-death glare Sasuke yag tentu saja tidak memberikan efek apapun pada pemuda stoic ini.
Pemuda pirang itu membuka mulutnya dan mulai berbicara walaupun bibirnya tersa kelu.
"Kiba, biarkan aku berdua dengan orang ini, kau pulang duluan saja…" ucap pemuda manis ini pada sahabatnya. Sahabatnya menatapnya balik dengan tatapan cemas dan akhirnya pemuda bernama kiba itu hanya menghela nafas panjang. "Baiklah…" ucap Kiba sambil mulai berjalan pergi. "Hati-hati, ya!" lanjutnya. Pemuda berambut pirang itu hanya tersenyum kecil.
Ketika dilihatnya Kiba sudah menghilang dari pandangan, pemuda pirang itu kembali menatap Sasuke. "Ya, aku ini Dobe-mu!" ucapnya gusar. Sasuke terperangah dengan jawaban pemuda manis di depannya ini, tetapi tetap mempertahaankan wajah stoic-nya.
"Lalu… Kenapa kau pergi, Dobe?" Tanya Sasuke, wajahnya yang biasanya minim ekspresi itu menunjukan perasaan sedih. "Apa kau benci aku perlakukan sebagai peliharaan?" lanjutnya. Mendengar perkataan pemuda raven satu ini membuat Dobe menggelengkan kepalanya kuat-kuat menunjukan tidak setuju atas pernyataan Sasuke tadi.
"Lalu? Keapa kau pergi?" Tanya Sasuke menuntut penjelasan.
"Aku… Tak ingin membuatmu repot dengan tingkah egoisku…" Dobe menjawab sambil tertunduk sedih. Sasuke mendengus mendengar 'alasan' yang di berikan pemuda yang lebih muda di depannya itu.
"Kau itu… memohon jadi peliharaanku seenaknya, dan kini kaupun pergi seenaknya! Takkan ku biarkan kau semaumu begitu, Dobe!"
Dobe menghela nafas, ditatapnya pemuda tampan ini lekat-lekat kemudian mencoba menanyakan sesuatu yang mengganjal di hatinya sedari tadi. "Kenapa kau begitu ingin aku kembali kepadamu, Master Sasuke? Aku 'kan hanya seorang peliharaan yang menyusahkan…" Akhirnya kata-kata itu terlontar dari bibir kecilnya.
"Ya, awalnya aku berpikir begitu… dan aku sadar suatu hal yang hanya bisa ku rasakan saat bersamamu, Dobe…."Ucap Sasuke, "Hal itu adalah kehangatan."Lanjutnya, yang sukses membuat Dobe terbelalak kaget.
"Aku ingin kau di sisiku terus, Dobe… aku membutuhkanmu…." Perkataan Sasuke kali ini sukses membuat Dobe meneteskan air mata. Bukan air mata sedih, tetapi air mata bahagia. Melihat hal ini, sontak membuat tubuh Sasukebergerak sendiri, dia mulai memeluk sosok mungil yang menangis di depannya ini dengan erat, mendekapnya seakan tak mau melepasnya lagi. Ketika peliharaannya ini sudah mulai tenang sasuke mengajukan pertanyaan yang sedari tadi mengganggu fikirannya.
"Siapa namamu yang sebenarnya?" pertanyaan itu terlontar dari mulut Sasuke.
"Ehm… Na-naruto…" Ucap remaja manis ini.
"Nama yang bagus. Tapi, tetap saja kau ini adalah Dobe miliku!" Ucap Sasuke lalu melumat bibir kecil Naruto. Bibir Sasuke melumat bibir Naruto yang kecil dengan penuh nafsu, dia menghisap dan berkali kali menjilatnya, setelah puas dengan bibir depan Naruto, pria bermata onyx itu menjilat bibir bawah peliharaannya, meminta agar mulut kecil nan menggoda itu terbuka, dengan ragu-ragu remaja berambut pirang ini membuka mulutnya perlahan. Hal itu tak disia-siakan oleh Sasuke, lidahnya menerobos masuk rongga mulut Naruto dengan beringas dan penuh nafsu, setelah itu mulai menjilat rongga atas mulut itu, mengklaim setiap senti mulut Naruto sebagai miliknya dengan jilatan, kemudian saling bertukar siliva, membuat pria bermata biru langit ini mengerang tertahan karena ciuman panas yang dilakoninya, siliva mulai keluar dari sudut bibir pria manis itu. Setelah lima belas menit Sasuke melepaskan ciuman panasnya dan menatap Naruto yang terengah-engah.
"Hah..Haah..Hah… Ma-master Sa..suke…." ucapnya masih terengah-engah.
"Ayo kita pergi, Dobe!" kata Sasuke, lalu mengenggam erat tangan mungil Naruto.
"Kemana?" Balas Naruto, sambil menunjukan wajah bingung.
"Pet shop! Kita beli barang baru untukmu, Dobe!" jawab Sasuke datar.
"Hai' master!" Balas Naruto, tubuhnya bergelayutan manja di tangan Sasuke. Sang majikan hanya tersenyum melihat tingkah peliharaannya itu, tangannya membelai lembut rambut pirang Naruto.
Satu hal yang tidak mereka sadari adalah, Sakura masih menatap cengo semua kejadian itu dari awal sampai akhir. Pikirannya kalut dan menatap Naruto penuh benci. Dia marah, cemburu dan kesal melihat perhatian Sasuke yang begitu besar di limpahkan pada pemuda pirang itu. Dilihatnya lagi pemuda di samping Sasuke itu dalam-dalam. "Tapi… Sepertinya aku pernah melihat pemuda bernama Naruto itu… Dimana, ya? Ah! Aku ingat! Dia kan…" Ucap Sakura menggantung, dia sudah terbayang cara yang tepat! Cara untuk memisahkan Naruto dari Sasuke!
.
.
.
.
Saat ini Naruto dan tuannya a.k.a Sasuke sedang berada di pusat perbelanjaan yang bernama Konoha City Mall. Kedua pasangan itu, atau lebih tepatnya peliharaan dan majikannya itu mengundang banyak orang memandang mereka berdua, bagaimana tidak? Saat ini Naruto berggelayutan manja di lengan Sasuke. Lalu kenapa mereka berdua tidak malu? Sasuke sih cuek bebek, terbiasa dilihatin sama fans girl-nya yang bejibun, sih… kalau Naruto? Naruto malah tidak sadar kalau dirinya dan Sasuke menjadi objek tontonan, dia asyik melihat-lihat toko di mall sambil terus bergelayutan manja di lengan tuannya itu.
Tak lama kemudian, Sasuke melangkahkan kakinya ke salah satu pet shop yang berukuran lumayan besar. Di sana terpajang berbagai barang dan makanan untuk hewan peliharaan, seperti mangkok untuk makan, kandang dan tulang khusus untuk anjing. Sasuke berjalan menuju rak tempat di pajangnya barang keperluan untuk anjing dan tentu saja Naruto masih mengekor di sebelahnya. Pria berrambut reven itu melempar pandangannya kepada tali leher khusus untuk anjing, pandangannya terhenti pada tali leher berwarna orange dengan gantungan berbentuk toping ramen kecil di depannya.*tau kalung leher beserta ikatnya yang biasanya di pakai untuk mengajak anjing jalan-jalan?*
"Lihat, Dobe! Bagus 'kan kalung anjing ini? Aku akan membelikan ini khusus untukmu!" Ucap Sasuke sambil menatap Naruto dengan seringai kecil di sudut bibirnya.
"Hontou? Arigatou master!" Ucap pemuda bermata biru ini riang sambil menjilat pipi Sasuke dengan sayang sebagai tanda terima kasih atas kebaikan tuannya itu. Karena posisi Naruto yang berada di depan Sasuke dan tubuhnya melekat pada tubuh tuannya, membuat kejantanan mereka yang masih terbalut kain bergesekan, Sasuke dapat merasakan kejantanan Naruto yang mulai menegang di balik celananya. Sasuke kembali menyeringai.
"Heh? Sudah tak sabar, Dobe?" Goda Sasuke jail, sambil meremas kejantanan Naruto yang masih terbalut celana seragam sekolahnya.
"Uuuhh… Ma-master Sasuke…." Lenguh Naruto nikmat, merasakan tangan sasuke bermain nakal di kejantanannya, walaupun ,masih terbalut kain.
"Seperti biasa… cepat menegang,ya?" Ucap Sasuke masih menggoda Naruto, dirasakan 'barang'nya ikut sedikit menegang mendengar desahan Naruto. Ditariknya tangan Naruto menuju kasir segera membayar dan mereka berdua segera pulang menuju rumah. Untung Sasuke masih bisa menggunakan akal sehatnya, bila tidak, mungkin mereka berdua akan melakukan 'itu' di kamar mandi mall.
.
.
.
.
Di sebuah rumah yang memiliki papan nama bertuliskan 'Uchiha' pada tembok depan gerbangnya, terdengar desahan kecil yang mengema di ruangannya.
Terdapat seorang remaja berambut pirang, bermata biru dan berkulit tan halus sedang berciuman ganas dengan pemuda tampan berambut raven berkulit putih pucat, seputih porselen tanpa sehelai benangpun melekat di tubuh keduanya.
Sang tuan melepas ciuman yang sebenarnya sudah berlangsung lama itu, sedangkan sang peliharaan terengah-engah karena ciuman penuh nafsu itu. Sang majikan a.k.a Sasuke mengambil tali leher yang di belinya di mall tadi untuk mengikat kejantanan peliharaannya a.k.a Naruto agar tidak mudah melepas cairan hasrat nikmatnya. Sasuke mengikatkan tali itu ke 'barang' Naruto yang sudah menegak sempurna karena kegiatan mereka tadi, membuat cairan pra-sperma sulit keluar dari kejantanan itu. Karena kesulitan mengeluarkan hasratnya, Naruto mengigit lengan Sasuke agar melepaskan tali leher yang mengikat kejantanannya itu.
"Grauk!" (bunyi Naruto mengigit tangan Sasuke keras)
"ARRRGGHH! APA YANG KAU LAKUKAN, HAH?" teriak Sasuke kesal karena merasakan tangannya kesakitan digigit Naruto. Darah segar sedikit mengalir dari tangan itu.
"Uuukkhhh.. Uuuhh… Gomen, master Sasuke… " Ucap Naruto, lalu menjilat-jilat bekas luka di tangan sasuke yang berdarah karena gigitannya tadi hingga tangan mulus Sasuke tidak berdarah lagi, Naruto masih merasa bersalah karena luka tadi, menjilat bibir Sasuke sebagai permintaan maaf, lidah Naruto masuk ke dalam mulut sasuke dan menjilat-jilat lidah Sasuke lembut. Tak lama kemudian Naruto menyudahi acara itu dan melepaskan lumatan kecilnya.
"Good boy, Naruto…" Ucap Sasuke sambil mengacak-acak rambut pirang halus milik Naruto. "Oh, iya… Aku ada hadiah untukmu, Dobe!" Lanjutnya, lalu mengeluarkan tulang yang terbuat dari karet.(A/N: tulang ini biasanya digunakan anjing untuk bermain dan anjing suka mengigit-gigitnya)
"Yatta!" Ucap Naruto senang, dia mulai mengigit-gigit tulang mainan itu. Tapi, Sasuke mengintrupsi kegiatan Naruto.
"Bukan, Dobe! Siapa bilang kau memainkan ini dengan mulutmu?" Ucap Sasuke kesal dan meraih tulang mainan itu dari mulut Naruto. Dengan cepat Sasuke membaringkan peliharaannya itu di lantai dan membuka kakinya lebar-lebar, membuat sebuah lubang berwarna pink menggoda terlihat. "Begini caranya, Dobe!" lanjut Sasuke sambil memasukkan tulang mainan itu kedalam tubuh bagian bawah Naruto.
"Uuuunnnhhh… Uggghh… Iyaaahhhh~~~~!" lenguh Naruto nikmat saat merasakan benda asing yang panjang dan kenyal masuk kedalam liangnya. Setelah tulang itu masuk ke dalam liang Naruto dan hanya tersisa ujungnya saja, menarik benda itu keluar masuk dengan cepat dan menyentuh prostatnya dengan keras.
"Uuuwaaaahh! Hyaaahhhh! Hyahhhh!" Teriak Naruto di sela kenikmatannya. Sasuke menyeringai mendengar teriakan nikmat milik Naruto, pria berrambut raven itu menghentak-hentakan tulang mainan itu berkali-kali lalu memijat testis Naruto. Merasa kejantanannya tersiksa, Naruto memohon kepada Sasuke agar melepas tali pengikat dari kejantanannya yang membutnya tak bisa meraih puncak kenikmatan.
"Ma-master….. Iitttaiiiii! A-aku sudah tidak kuat master… Sa-saakiiiittt!" Ucap Naruto, memohon.
"Hn… Baiklah…" Sasuke melepaskan tali yang mengikat hasrat Naruto tak bisa keluar sedari tadi.
"UUUUWWWAAAHHH!" Naruto menjerit, begitu Sasuke membuka ikatan dari kejantanannya, Naruto langsung mengeluarkan isi dari testis-nya. Cairan Naruto muncrat kemana-mana dan dia terkulai lemah di lantai. Saat Sasuke hendak mengangkat Naruto dan menidurkannya di kasur, Naruto menolak dengan cepat.
"Be-belum! A-aku… belum merasakan milik master Sasuke didalm tubuhku!" Ucapnya sambil meremas-remas kejantanan milik Sasuke.
"Kau mau, Dobe?" Tanya Sasuke sambil menyeringai licik.
"Mau…." Jawab Naruto dengan pupy eyesnya tak menunggu lama lagi, pemuda berrambut pirang itu menjilat-jilat kejantanan sasuke yang menegak sempurna sedari tadi, cairan pra-sperma keluar dari ujung kejantanan Sasuke yang besar dan panjang itu, membuatnya makin menggiurkan di mata Naruto. Naruto memasukan kejantanan Sasuke yang menggiurkan itu ke dalam mulut kecilnya yang hangat dan memainkan kejantanan Sasuke dngan liar. Dia menghisap, melumat dan mengigit-gigit kecil bagian kejantanan sasuke dengan lembut, sedangkan tangannya sibuk memijit-mijit testis Sasuke dengan keras, berharap cairan kenikmatan itu keluar dari sana.
"Sssshhhh…. Bagus! Begitu, Dobe!" ucap Sasuke nikmat atas perlakuan peliharaannya itu. Tapi sebelum Sasuke mengeluarkan hasratnya, Naruto malah menghentikan mouth job-nya itu.
"Kenapa berhenti, Dobe?" Tanya Sasuke kesal.
"Aku ingin Kau mengeluarkannya di dalam sini, master…" Naruto menungging di hadapan sasuke dan melebarkan lubang miliknya dengan tangan, memasang pose mengundang. Sasuke tersenyum licik.
"As your wish, Naruto…" Sasuke langsung memasukan miliknya ke dalam lubang Naruto tanpa persiapan, membuat sang pemilik menjerit kesakitan.
"AAAAKKKKHHH!"
"Ini yang kau mau 'kan, Dobe?" Tanya Sasuke, lalu memundurkan pinggulnya membuat kejantanannya tinggal kepalanya saja dan menyodokannya kembali kedalam lubang Naruto dengan cepat, dilakukannya hal itu berkali-kali hingga Naruto tak kuat lagi.
"U-UWWAAAAHHH! SASUKEEEEEE!" teriak Naruto sambil melepaskan hasratnya, setelah itu recktum Naruto mencengkram milik Sasuke kuat di dalam sana, membuat Sasuke mengeluarkan cairan nikmatnya di dalam tubuh Naruto. Sasuke mengeluarkan kejantanannya dengan sisa kekuatan terakhir, lalu mengangkat tubuh mungil Naruto ke atas kasur dan merebahkan dirinya di sebelah peliharaannya yang tercinta itu, lalu memeluknya erat. mereka berdua akhirnya tidur di dalam kehangatan masing-masing.
.
.
.
.
Matahari pagi sudah menunjukan sinarnya yang terik. Sinar itu mengusik kenyamanan Naruto yang sedang tidur di atas kasur Sasuke, mata biru langit itu perlahan terbuka, dilihatnya Sasuke sudah tak ada di sebelahnya. Naruto menghela nafas berat, dia menemukan secarik kertas di meja sebelah tempat tidur itu. Tertulis sebuah pesan:
"Dobe, aku kerja dulu. Aku tak tega membangunkanmu karena kau terlihat kelelahan akibat tadi malam. Kalau mau makan, makanan sudah ku taruh di kulkas, panaskan dulu sebelum di makan. Hati-hati di rumah!"
Naruto tersenyum membaca pesan ini. Senang Sasuke begitu perhatian padanya! Tapi, Naruto menangkap sebuah tulisan kecil di pojok bawah kertas itu.
"Kau hebat tadi malam, Dobe! Aku puas dengan service mu! Ayo lakukan lagi nanti malam!"
Naruto blushing membaca tulisan itu lalu berteriak dengan jengkel, "DASAR TEME MESUUUUMMM!"
Sepertinya Sasuke merasakan ini di kantor dan tertawa-tawa di sana. Setelah selesai heboh sendiri, Naruto segera mandi, membasuh tubuhnya dengan air hangat. Pikirannya kembali terbayang saat indah bersama Sasuke tadi malam. Perhatian Sasuke dan kelembutannya mau tidak mau membuat Naruto berharap melakukan hubungan lebih dari sekedar majikan dan peliharaan. Matanya menatap langit-langit kamar mandi dan bergumam pelan, "Bolehkah aku mengharap sesuatu yang lebih, Sasuke?" menyadari kata-kata yang keluar dari mulutnya, Naruto hanya menggeleng-gelengkan kepala agar pikirannya kembali ke alam nyata.
Setelah mandi, Naruto segera mencari pakaian lama Sasuke (dia tidak bawa baju saat ke rumah Sasuke, ingat?) dan memakainya, lalu menuju ke dapur untuk makan. Dibukanya kulkas dan mencari makanan yang sudah disiapkan Sasuke tadi. Saat hendak memanaskan makanan, tiba-tiba…
"Ting tong! Ting tong!" suara bel berbunyi. Naruto segera tergesa-gesa berlari menuju pintu depan rumah. 'Siapa, ya? Apa Sasuke? Tapi ini 'kan masih jam kerja…' batin Naruto menebak-nebak siapa tamunya.
"Krieeett…" (suara pintu) Naruto membuka pintu. Di hadapannya terlihat seorang perempuan dengan rambut pink dan bermata emerald.
"Maaf, kau siapa, ya..? Ada perlu apa?" Tanya Naruto ramah. Wanita di hadapannya itu ikut tersenyum ramah dan berkata,"Aku Haruno Sakura, teman kantor Sasuke. Boleh aku bicara denganmu?"
"Bicara apa?" Tanya Naruto bingung. Rasanya dia tak mengenal wanita bernama Sakura ini… Tapi, kenapa wanita ini tiba-tiba mengajak bicara?
"Aku ingin bicara… Tentang Sasuke!" Ucap Sakura to the point.
"A-apa? Sasuke?"
~~~~~~~TBC~~~~~~~
Uwaaaahhhh! Akhirnya kelar juga! Terima kasih sebelumnya saia ucapkan pada minna-san yang bersedia baca dan bahkan nge-repiu fic nista dan bahan seneng-seneng saia!
Chap sebelumnnya saia buat saat UTS berlangsung dan… gila! Nilai2 ujian saia sukses hancur! HWAHAHAHAHA*mulai stress*
Jadi, fic ini adalah bahan pelampiasan kesedihan saia yang nilainya semua nge-pres standar. Eniwei, pada fic kemaren banyak atau hampir semua reviewers bilang kalo Naru-chan pada fic ini mirip peliharaan? Yah, namanya juga nyesuai'in ama alur critanya.
Oke, sekarang waktunya untuk balas repiuuuu! Cek dis aot!
Orange Naru: Nah, saia sudah apdet, nih…(ya, iyalah) gimana menurutmu? Sudah terasa'kah LEMON-nya? Apa masih kurang hot?
Li-kyuhyun: JANGAN LARI WOI!*ngejar sambil bawa golok*(hahahaha~XD)
Arisa Akaike: Wah! Arisa-chan! Makasih udah mau repiu! Rekues saia buat OSS harus diturutin, lho!*maksa*. Nah, bagaimana menurutmu untuk chapter kali ini?(^w^)
Mechakucha no aoi neko: Wah! Makasih ya, udah bilang 'keren' buat fic ini!*menunduk dalem-dalem*. Terimakasih banyak!
Ayu JW: wah, semua reviewers bilang Naru-chan kasihan! Emang sih kasian… tapi ini sudah tuntutan naskah!*ditampol readers* lihat aja di balik semua penderitaan Naru-chan jadi peliharaan, Sasuke semakin perhatian 'kan?
Cesia: Sasu-teme: APOA? Kau bilang aku jahat? CHIDORI!
ElsNaru: Hahahaha!XD ~ segitu miribnya 'kah saia membuat Naru-chan jadi anjing peliharaan? Kalau begitu chap kali ini lebih sadis dong?(-3-) Gimana menurutmu chap kali ini? Sudah HOT 'kah? Saia tunggu apdetnya servant juga, yaaa!
Kuraishi cha22dhen: ini sudah apdet… trimakasih udah baca! Mohon repiunya sekali lagi, yaaa…?
Chary Ai TemeDobe: Oke! Ini udah lanjutttt!XD, Lemonnya asem? Apakah artinya kurang Hot? Kalo sekarang gimana?
Uzumaki uzumaki:Tutu-chaaannnn!(^o^)/ makasi udah repiu! Hidup Fujoshi! Kita buat Indonesia mengakui adanya fujoshi!*semangat 45* eniwei, makasih untuk sarannya! Akan saia coba lebih mengutamakan alur dari pada Lemonnya! Tetep ada lemon di setiap chapter tapi juga menjaga alur crita! Apakah sudah ada perubahan lebih baik pada chapter kali ini? Jangan lupa apdet 'my pain', ya~!
Semua yang cuma baca dan udah baca sekalian repiu, terimakasih! Arigatou! Hontou ni arigatou minna-san!*nunduk dalem-dalem* di saat bosan dan kemalesan saia menjalar untuk males ap det fic ini, kalian lah para pembaca yang membuat saia lebih berusaha dalam berkarya. Sekali lagi terima kasih!XD
Mind to give me review for my mistake in this chapter?
