Judul : MY FREAKLY BOY (part 2)

Author : Lathifania Asmaning Arin a.k.a Shin Ah Chan

Length : chapter

Genre : romance, gender switch

Cast:

Lee Sungmin (yeoja)

Choi Minho (namja)

Cho Kyuhyun (namja)

Other Cast:

Lee Donghae, Choi Siwon, Kim Kibum, Kim Jong Woon, Kim Jonghyun, Zhou Mi, Lee Jinki, tuan Kim (namja)

Kim Ryeowook, Lee Hyuk Jae, Henry Lau, Lee Taemin, Key, nyonya Kim (yeoja)

-Minho POV-

"aduh.." aku memegangi hidungku yang masih terasa nyeri. Keras sekali ia memukulku, dasar yeoja aneh sialan.

"jangan dipegang terus Minho-ah. Kau itu mimisan, sebaiknya kau menengadah." Kata yeoja di sampingku dengan lembut. Aku tersenyum simpul ke arahnya, lalu menengadah.

"hm.. sebenarnya dia siapa, Minho-ah? Kau tertarik pada hoobae itu?"

yeoja itu memilih kata-katanya dengan hati-hati, agar tak membuatku tersinggung. Karena dia tau aku bukan tipe namja playboy yang kerjanya menggoda yeoja yang ada di sekitarku. Ia satu-satunya yeoja yang tau kalau aku ini tipe namja yang tulus pada seorang yeoja. Tapi dengan babonya seorang hoobae yang tidak tau apa-apa mengataiku namja mesum. Dasar yeoja aneh, tapi sangat menarik.

"hm..siapa ya? Bukan siapa-siapa kok Taemin-ah." Ia tersenyum tulus lalu menunduk.

"mianhae.. tadi pagi tiba-tiba aku menciummu. Aku benar-benar menyesal, Minho-ah." Aku memperhatikan yeoja di sampingku ini. Tampak rona merah menghiasi pipinya yang putih. Aku tersenyum geli melihatnya, bagiku ia sangat manis.

"gwaenchana, Taemin-ah. Aku juga minta maaf tidak segera melepaskannya, ya?" aku mengusap kepalanya setengah bercanda, dan ia hanya tersenyum menanggapi candaanku. Hm.. Lee Sungmin, sepertinya ia telah salah paham. Tapi karena kesalahpahaman ini, aku jadi punya benang penghubung dengannya.

.

.

.

.

.

.

-Taemin POV-

Minho tersenyum sendiri saat sedang menengadah. Sepertinya ada hal yang bagus yang ia pikirkan. Diam-diam hatiku sakit melihatnya. Hidungnya terluka karena seorang yeoja, dan ia malah tertawa saat mengingatnya kembali. Apa yeoja itu begitu penting baginya? Tapi setahuku.. ia baru mengenalnya tadi pagi, saat aku menciumnya. Ah.. jadi teringat lagi. Aku ini memang babo, memanfaatkan kesempatanku berdua dengannya dan malah melakukan hal yang aneh-aneh. Rasanya malu sendiri saat mengingatnya. Tapi Minho menanggapinya dengan biasa, jadi aku juga harus bersikap biasa. Minho tak pernah punya rasa padaku. Ia baik padaku karena ia lemah terhadap sifatku yang manja dan kekanakan ini. Dulu juga ia yang menyelamatkanku dari usaha bunuh diriku karena kondisi keluargaku. Sejak saat itu, ia berkata ia tak akan membiarkanku sakit lagi. Tapi yang dilakukannya kali ini membuat hatiku benar-benar sakit. Kenapa kau tak pernah menyadarinya, Minho?

.

.

.

.

.

.

-Sungmin POV-

Hari ini benar-benar tak terduga. Mulai dari melihat sepasang yeoja dan namja berciuman, menyadari bahwa ketua osis yang dielu-elukan oleh teman pertamaku di SMA adalah namja mesum itu, menemui namja mesum itu di atap dan dipeluk olehnya. Hari ini super duper melelahkan, membuatku malas untuk menjemput hari esok. Tiba-tiba Hpku bergetar mengisyaratkan adanya pesan masuk.

Dari : Kim Ryeowook^_^

Isi : Minnie-ah, besok berangkat pagi ya^^

Aku mau mencaritahu tentang ekskul sepakbola

Soalnya, sunbae dulu mengikuti ekskul sepakbola :D

Nb. Jangan telat ya :)

Aiish? Lagi-lagi namja mesum itu yang dibicarakan olehnya. Dengan semangat ogah-ogahan aku membalas pesan dari Wookie.

Kepada : Kim Ryeowook^_^

Isi : Aiish kau meremehkanku Wookie-ah (;_;)

Aku bisa bangun + berangkat pagi kok!

Baiklah..

Setelah itu Wookie hanya membalas pesanku dengan 'ya' saja. Hm.. berarti besok aku beresiko bertemu dengan namja mesum itu dong? Tiba-tiba bibirku naik membentuk senyuman. Aneh sekali aku ini, sebenarnya ada apa denganku?

Karena tak betah mikir lama-lama, aku membaringkan tubuhku di kasur. Tak berapa lama, mataku terpejam sempurna, sampai pada akhirnya..

Ada banyak kecebong melayang di langit

Matahari terbit di sebelah barat

Semuanya jadi aneh pusing puyeng pening

So what? Don't don't worry

"omo.. siapa yang menelpon malam-malam begini?" aku memegangi kepalaku yang masih pusing karena baru tiga jam tertidur.

"yeoboseo?" ucapku tak bersemangat.

"annyeong Minnie-ah." Terdengar suara nyonya Kim dari seberang sana.

"ah, annyeong eomma." aku segera duduk karena tak biasanya nyonya Kim yang harus aku panggil 'eomma' ini menelponku.

"hm.. bagaimana hari pertamamu di sekolah, Minnie-ah? Menyenangkan?"

"hm sejujurnya hari ini cukup heboh eomma! Masa ya, pagi-pagi aku sudah melihat sepasang namja dan yeoja berciuman, lalu aku jadi dikejar-kejar oleh namja mesum itu eomma. Untungnya masih ada Wookie yang menjadi teman sebangkuku, kalau tidak aku sudah malas sekali untuk berangkat sekolah, eomma." Aku bercerita dengan semangat kepada nyonya Kim. Ia tak pernah membiarkanku sungkan kepadanya. Aku selalu disuruh menganggapnya eommanya sendiri.

"hihihi berarti menyenangkan dong? Eomma senang kalau kau menikmati sekolahmu"

"aiish eomma, kan aku sudah bilang itu menyebalkan." Aku mengerucutkan mulutku, tapi mana mungkin nyonya Kim dapat melihatku.

"hmm kalau menurut eomma, kau sebenarnya menyukainya, Minnie-ah, tapi kau belum menyadarinya saja. Saat membicarakannya kau tampak semangat sekali."

"mwo? Kenapa eomma berkata seperti itu? Dia itu mesum, eomma! Babo pula!" jantungku berdegup kencang. Suka? Aku menyukainya? Aiish mana mungkin…

"hihihi, kalau begitu lihat saja besok. Kalau tingkahmu tak berubah kepadanya, artinya kau menyukainya Minnie-ah. Hihi."

.

.

.

.

.

"Minnie.. lama!" Wookie melipat tangannya saat aku menghampirinya.

"mian Wookie-ah, semalam ada yang menelponku jadi aku terlambat." Aku mengatupkan tanganku di depan wajahku. Wajah cemberut Wookie berubah menjadi senyuman.

"haha, gwaenchana.. bel masih berbunyi setengah jam lagi"

Ia terus tersenyum sampai kami tiba di depan pintu ruangan klub sepakbola. Raut wajahnya berubah tegang dan perlahan keringat membasahi wajahnya.

"ottohke, Minnie-ah?" mendadak ia memegang tanganku. Sudah kuduga tangannya sedingin ini.

"mwo? Maksudmu, Wookie-ah? Cepat ketuk pintunya." Aku memberi isyarat dengan daguku.

"shirreo.. aku tidak berani, Minnie-ah" ia menggeleng-gelengkan kepalanya, tampak warna merah menghiasi pipinya kembali.

"aiish kau ini." Aku mengetuk pintu ruangan klub, tak disangka pagi hari seperti ini sudah ada orang di dalam.

"nugu ya?" seorang namja yang tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu kurus –terkesan tembem malah- membuka pintu itu. Wajahnya yang imut membuatku ingin mencubitnya.

"ah, kami kelas 1.. ingin mendaftar jadi manajer." Karena bukan namja mesum itu yang membuka, Wookie berani angkat bicara. Cankka.. kami?

"mwo? Wookie-ah, kenapa aku juga ikut-ikutan?"

Wookie menginjak kakiku dengan keras tapi tanpa mengubah ekspresi wajahnya. Aiish sakit sekali.. anak ini memang benar-benar menyeramkan.

"au.." aku merintih pelan. Sedangkan namja yang berdiri di depan kami hanya tertawa kecil melihat tingkah kami.

"arra.. sebentar aku panggil ketua klubnya dulu." Saat namja itu akan masuk ke ruangan, Wookie segera menarik lengannya.

"mwo? Apa lagi?" namja itu tak mengerti dengan tingkah Wookie, aku pun begitu.

"em.. siapa namamu?"

Aku melongo tak percaya melihat Wookie. Tapi ia tampak santai saja saat mengucapkannya. Yeoja ini benar-benar tidak bisa dimengerti.

"ah.. ne, naneun Kim Jong Woon imnida. Panggil saja Yesung. Eh.. aku kelas 2 jadi kau harus memanggilku oppa." Namja itu mengulurkan tangannya pada Wookie.

"ne, oppa. Kim Ryeowook imnida, panggil saja Wookie." Katanya membalas jabatan tangan sunbae dengan senyum sok ramah. Dasar, pasti yeoja ini ada maunya.

"lalu kau?" namja itu menunjukku dengan dagunya. Benar-benar tidak sopan.

"ah.. Lee Sungmin imnida." Aku mengulurkan tanganku. Sekilas ia tampak kaget mendengar namaku, akan tetapi ia lalu membalas jabatan tanganku.

"hm.. cankkaman, aku akan memanggil ketua klub dulu." Ia lalu masuk ke ruangan yang cukup besar itu, sementara aku dan Wookie menunggu di luar. Wookie tampak sangat senang, sedangkan aku hanya memasang wajah bete. Dasar Wookie, aku jadi kena kan.

Tak lama namja bernama Jong Woon tadi membawa sesosok(?) namja yang sangat tampan-yang kemarin kuketahui namanya Choi Siwon-keluar ruangan. Ternyata wakil si namja mesum itu. Namja itu memperhatikan kami dari atas sampai bawah sebentar, lalu manggut-manggut.

"baiklah. Kalian bisa menjadi manajer klub ini." Ia tersenyum pada kami. Wookie melonjak-lonjak kegirangan sambil berterimakasih. Sedangkan dua namja itu hanya tersenyum penuh arti. Wah lumayan juga pagi-pagi dapat pemandangan dua namja keren seperti ini. Bukan seperti..

"mana, mana, yang jadi manajer?" tiba-tiba sesosok kepala muncul di antara Siwon dan Jong Woon. Deg! Namja itu nampak terkejut, tapi menahan keterkejutannya dengan bersikap tenang.

"aah kau kan.." belum sempat namja itu menyelesaikan kata-katanya, ia lalu berpikir sebentar dan melanjutkannya, "..Wookie? iya kan?"

Wookie tampak manggut-manggut dengan wajah yang sumringah. Sialan, namja mesum itu berpura-pura tak mengenaliku.

"lalu dia siapa? Temanmu Wookie-ah?" sesaat Siwon dan Jong Woon menatapnya keheranan, dan setelah diberi isyarat melalui mata oleh namja mesum itu, mereka bisa mengerti.

"ne.. kenalkan sunbae, namanya Lee Sungmin."

Aku terpaksa mengulurkan tanganku karena Wookie. Namja mesum itu cuma nyengir sebentar, lalu membalas jabatanku dengan kencang. Andwe! Sakit sekali!

"aduh.." aku mengaduh saat ia menjabat tanganku. Dasar kutu kupret! Setan mesum sialan! Beraninya ia meremas tangan seorang yeoja dengan cara seperti ini.

"mianhae, Sungmin-ah. Aku terlalu bersemangat karena mendengar ada manajer baru. Kenalkan, namaku Choi Minho. Ah mungkin kau sudah tau ya? Kan kemarin aku berpidato di depan kalian." Ia memperlihatkan senyum innocent-nya. Dan aku hanya bisa tersenyum sambil menahan emosiku yang sudah naik sampai ke ubun-ubun.

"ah, sunbae, kami permisi dulu ya." Tiba-tiba Wookie menarik tanganku dan segera pergi dari sana. Syukurlah, aku jadi tidak berlama-lama di sana.

.

.

.

.

.

.

.

"aduh, Minnie-ah.. aku deg-degan sekali. Tapi aku senang sunbae tidak melupakanku." Wookie tersenyum manis sekali. Tersirat ketulusan dalam senyumannya. Omo.. Wookie, andaikan kau tau..

"em.. Minnie-ah, mulai besok kita sudah menjadi manajer sepakbola, mohon bantuannya ya." Wookie tersenyum penuh arti padaku. Aku jadi tidak enak hati dan mengiyakannya. Tak terasa sudah setengah jam berlalu sejak aku datang tadi, bel berbunyi dengan nyaring menandakan kelas sudah dimulai. Wookie menarik tanganku lagi untuk berlari, tapi kok rasanya dunia berputar ya? Ah.. tiba-tiba semua menjadi gelap..

.

.

.

.

.

.

-Ryeowook POV-

Aku menarik Minnie karena bel sudah berbunyi, tapi tiba-tiba aku merasa beban yang kutarik semakin berat dan.. blugh! Aku menoleh ke belakang. Minnie pingsan! Aigo.. kenapa yeoja satu ini? Aku segera menghampirinya dan menaruh tanganku di dahinya. Tidak panas. Aduh, ini kan lantai 3! Sementara UKS kelas satu berada di lantai 1. Ottohke?

Saat aku tengah kebingungan memikirkan cara membawa Minnie ke UKS, aku merasakan suara derap langkah kaki di belakangku, perlahan suara itu semakin mendekat.. dan..

"biar aku saja yang membawanya ke UKS. Kau segeralah masuk ke kelas." Aku menoleh untuk melihat siapa yang berbicara. Mwo?

"gomawo." Aku tersenyum singkat kepada namja itu. Ia mengangguk lalu mengangkat Minnie dengan bridal style dan melengang pergi begitu saja. Aku hanya terbengong seakan tak percaya dengan apa yang kulihat barusan.

.

.

.

.

.

.

.

-Minho POV-

Yeoja aneh itu kini resmi menjadi manajer klub sepakbola. Senangnya, berarti waktuku bersamanya menjadi jauh lebih banyak. Akan tetapi aneh sekali dia hari ini. Ia tidak membalas godaanku dan malah memasang wajah aneh. Aku merasa banyak keringat membanjiri dahinya. Apa dia sedang sakit? Wajahnya pun terlihat lebih pucat dari biasanya. Aneh sekali. Tiba-tiba Wookie, hoobae-ku saat SMP dulu menariknya pergi dari ruangan klub. Aku terus melihatnya hingga ia menghilang di belokan. Tiba-tiba Siwon menepuk pundakku.

"Minho-ah, kenapa kau pura-pura tak mengenalnya tadi? Dia kan yeoja unik yang kau bicarakan kemarin? Namanya Lee Sungmin kan?"

"Benar Minho-ah, kau aneh sekali." Yesung ikut-ikutan berbicara. Aku hanya nyengir sekilas lalu menghela nafas panjang.

"kalau aku bersikap seolah aku mengenalnya, nanti Wookie bertanya padanya apa hubunganku dengannya. Lagian sepertinya Wookie belum tau kalau aku dan yeoja itu saling mengenal, berarti kan dia tidak cerita pada Wookie. Nanti kalau yeoja aneh itu cerita macam-macam ke Wookie, image-ku sebagai ketua osis yang sempurna sejak SMP akan hancur.."

Siwon dan Yesung hanya geleng-geleng menanggapi ceritaku. Aku tersenyum lagi, lalu memutuskan untuk membuntuti Minnie dan Wookie. Aku takut ia kenapa-napa.

"ya! Mau kemana Minho-ah?" Siwon berteriak keras sekali seakan-akan aku akan keliling dunia saja.

"rahasia!" aku mengerlingkan mataku ke Siwon dan sukses membuatnya melongo keheranan.

Aku berlari mengitari lantai 3, dan pada akhirnya aku menemukan Minnie dan Wookie. Aku segera membuntuti mereka dengan jarak yang agak jauh. Cankka.. Minnie terjatuh? Jangan-jangan pingsan? Aku harus segera bertindak!

.

.

.

.

.

.

.

-Sungmin POV-

Aku membuka mataku yang serasa berat sekali. Aku meneliti setiap sudut di sekelilingku. Di mana ini? Aku ingin segera duduk akan tetapi kepalaku langsung berdenyut hebat dan membuatku harus kembali tiduran. Aku memegangi kepalaku dengan sebelah tanganku. Pusing dan sakit sekali.

"sudah bangun?" aku mendengar suara yang cukup asing di telingaku. Nugu ya?

"kepalamu sakit ya?" aku masih belum mengetahui siapa pemilik suara ini karena mataku masih belum bisa beradaptasi dengan sekitarku. Aku merasakan ia mengusap keningku perlahan, dengan sangat lembut. Tangannya yang besar dan hangat membuatku merasa nyaman. Aku segera menoleh ke arah datangnya tangan ini. Kini aku bisa menangkap sosoknya yang ternyata sedari tadi duduk di sebelah ranjang tempatku tidur.

Ia menatapku sendu, seakan aku sakit parah saja.

"Cho.. Kyu..hyun?" ia tersentak tapi tak melepaskan usapan tangannya di keningku. Aku membaca name tag yang berada di jasnya. Ternyata ia namja aneh yang kemarin duduk di sebelahku saat upacara penerimaan murid baru. Jadi namanya Cho Kyuhyun ya.. nama yang bagus. Ia menghela nafasnya yang tak beraturan. Mungkin ia sedikit grogi. Aneh sekali ia grogi hanya karena aku memanggil namanya, padahal ia bisa mengusap keningku dengan biasa saja.

"kau yang membawaku kemari?" aku menatap namja itu tepat di wajahnya. Ia buru-buru memalingkan wajahnya saat mata kami bertemu.

"ne.." jawabnya singkat.

"gomawo." Aku tersenyum tulus padanya. Ia menatapku dan membalas senyumanku. Ternyata kalau diperhatikan namja ini tampan juga. Karena aku terus memperhatikannya-seperti saat pertama bertemu kemarin- ia segera memalingkan wajahnya lagi ke arah yang lain. Masih dengan tangannya yang mengusap kepalaku dan tatapannya ke arah lain, ia bertanya,

"kau belum makan ya?"

"ne.." jawabku singkat.

"kapan terakhir kali kau makan?"

"em.. sepertinya kemarin pagi."

"apa yang kau makan?"

"sepotong roti."

Ia terhenyak mendengar jawabanku.

"pantas saja kau pingsan." Tangannya yang semula mengusap keningku dengan lembut kini malah mengacak-acak poniku dengan cepat. Lalu ia beranjak dari tempatnya duduk dan kembali dengan membawa sup.

"makanlah." Ia memberikan sup itu padaku. Aku tersenyum, senang akan perhatiannya padaku, lalu segera duduk dan memakan sup itu.

"em.. gomawo Kyuhyun-ah." Aku berpikir sebentar..

"oh iya, masa aku tahu namamu tapi kau belum tahu namaku? Lee Sungmin imnida." Aku mengulurkan tanganku dan membuatnya kaget sejenak lalu segera menjabat tanganku. Lagi-lagi tangan ini membuatku merasa nyaman hanya dengan menggenggamnya sesaat.

"sebenarnya.. aku sudah tahu namamu."

"eh? mwo Kyuhyun-ah?" aku yang sedang sibuk memakan supku tak mendengarkan apa yang ia bicarakan.

"anni.." Aku mengangguk sambil tersenyum dan menghabiskan kuah supku dengan sekali teguk.

.

.

.

.

.

.

"Minnie-ah? Gwaenchana yo?" Wookie segera menghampiriku yang sedang memasuki kelas.

"gwaenchana, Wookie-ah. Aku hanya belum makan saja kok. Hehe."

"aiish kau itu membuatku takut setengah mati, Minnie-ah." Wookie mengusap kepalaku lembut. Padahal baru dua hari aku mengenalnya, tapi aku merasa dia sudah sangat dekat denganku.

"eh, btw tadi namja yang mengantarmu ke UKS.. kenalanmu?"

"hm.. anni. Kami baru berkenalan hari ini." Wookie manggut-manggut dan seperti memikirkan sesuatu.

"Sungminnie, tadi kau pingsan ya?" tiba-tiba teman sekelasku, Lee Donghae menghampiriku.

"hehe, hebat kan?" aku nyengir kuda menanggapi kekhawatiran yang tercetak jelas di wajahnya. Ia malah menjitak kepalaku.

"aiish, sakit tau." Aku mengusap puncak kepalaku yang dijitak olehnya. Dasar!

"salah sendiri malah bercanda. Aku benar-benar khawatir, tau!" Donghae mengerucutkan bibirnya, ngambek. Sebenarnya aku dan Donghae sudah lama mengenal, yakni sejak sekolah dasar. Dulu aku satu bimbel dengannya, tapi aku malah tidak menyadarinya sampai ia menyapaku kemarin.

"hehe, mian." Aku nyengir kuda lagi dan ekspresiku membuat Donghae benar-benar kesal dan memutuskan untuk kembali ke bangkunya.

Baru aku akan mendudukkan diriku ke bangkuku, tiba-tiba Hpku bergetar tanda ada pesan masuk. Segera kulihat isi pesan tersebut

Dari : tidak ada nama

Isi : Minnie-ah, gwaenchana yo?

Minho.

Mataku membulat saat membaca sms tersebut. Aku segera menatap Wookie yang sedang mempersiapkan buku untuk pelajaran selanjutnya. Ia heran karena aku terus-terusan menatapnya minta penjelasan tanpa berbicara sedikit pun. Tiba-tiba ia nampak berpikir lalu berkata,

"ah! Tadi sehabis kau pingsan, Siwon-ssi meminta nomor handphone mu!" Wookie nyengir innocent. Ia tak tau kalau apa yang diperbuatnya membuat chingunya ini kerepotan. Aku menghela nafas panjang lalu menyimpan nomor namja mesum itu di handphoneku dan segera membalas smsnya.

Kepada : namja mesum

Isi : gwaenchana. Dasar mesum.

.

.

.

.

.

.

-Minho POV-

Aku melotot tak percaya dengan balasan sms dari yeoja aneh satu itu. Aku langsung tertawa terbahak-bahak membayangkan ekspresinya saat membalas smsku.

"waeyo Minho-ah?" Taemin yang sedang menemaniku makan di kantin melongok mencoba mencaritahu apa yang sedang aku tertawakan.

"aiish.. bukan apa-apa kok Taemin-ah." Aku menjauhkan kepalanya dari layar handphoneku. Ia mengerucutkan bibirnya karena kesal, dan aku hanya tertawa melihatnya.

"kapan-kapan aku ceritakan, Taemin-ah." Aku mengusap kepalanya tanda sayang. Ne, aku benar-benar menyayangi yeoja satu ini. Sifatnya yang manja membuatku gemas setengah mati, bahkan sejak pertama kali aku bertemu dengannya. Bagiku ia chinguku yang paling kusayangi. Ia hanya manggut-manggut saja dan kembali meminum cappuchinonya.

Aku menatap kembali layar handphoneku. Ada perasaan aneh di hatiku yang membuatku penasaran pada yeoja satu ini. Kadang ia membuatku kesal, tapi tak jarang membuatku tertawa karena tingkahnya yang aneh dan menggemaskan itu. Tiba-tiba aku teringat kejadian tadi pagi. Sebenarnya siapa namja itu? Ia mendahuluiku menolong Minnie, dan entah kenapa itu membuatku sangat kesal.

.

.

.

.

.

(Keesokan harinya)

Aku berjalan menuju ke ruangan klub. Di sana Siwon, Yesung, Kibum, Jonghyun, Onew, dan Donghae sudah datang dan hanya duduk-duduk saja. Aku menghela nafas panjang,

"ketua, kalau begini terus bisa-bisa klub ini bubar."

"hm.. waeyo Minho-ah?" Siwon yang tak mengerti tentang arah pembicaraanku malah bertanya dengan nada bicaranya yang khas dan membuatku sebal.

"kenapa anggotanya sedikit sekali? Apalagi kelas 2 hanya aku, kamu dan Yesung saja. Kayak klub nggak laku aja." Ujarku ketus. Siwon malah cengengesan melihat sikapku.

"waeyo?" kataku heran karena masih sempatnya ia tertawa padahal klub ini sudah payah sekali.

"kalau begitu, kita pakai saja mereka untuk menarik perhatian."

"mereka? Nugu?" aku tak mengerti apa maksud dari perkataan Siwon.

"itu yang di belakang."

Aku menoleh ke belakang, dan betapa terkejutnya aku saat mendapati dua yeoja sudah berdiri di belakangku. Aku langsung tersenyum dan menyapa keduanya.

"annyeong Minnie-ah, Wookie-ah."

Sesaat terlihat perubahan ekspresi dalam diri Wookie, tapi itu tak berlangsung lama karena ia segera membalas sapaanku dan tersenyum manis. Masalahnya ada pada yeoja yang satu lagi. Menatap wajahku saja ia tak mau. Dasar menyebalkan. Tapi hari ini ia tampak sangat feminim dengan bando pink yang menghiasi kepalanya dan jam dengan warna serupa yang melingkar di tangannya. Lagi-lagi secara tak langsung ia memaksaku untuk tersenyum saat melihatnya. Dan tentu saja ia selalu sukses membuatku menyunggingkan senyumku.

"lho? Siapa mereka?" Tiba-tiba terdengar suara seorang yeoja dari luar ruangan. Wookie dan Minnie menoleh ke belakang, mendapati sosok Taemin di sana.

"Taemin-ah, mereka manajer klub yang baru." Aku tersenyum dan mengenalkan keduanya pada Taemin. Sesaat ia seperti menunjukkan ekspresi tak suka pada mereka berdua, terutama pada Minnie, tapi kemudian ia tersenyum pada mereka berdua dan mengulurkan tangannya.

"Lee Taemin imnida, aku manajer yang lama."

Aku tersentak mendengar kata-katanya.

"apa maksudmu Taemin-ah? Tetaplah menjadi manajer bersama mereka berdua!"

Ia tersenyum sinis padaku lalu menghela nafasnya.

"mianhae Minho-ah, aku capek, aku mau berhenti dari pekerjaan melelahkan ini. Sudah ya."

Taemin membalikkan badannya dan bergegas pergi dari sini. Aiish apa-apaan dia? Dia tak boleh seenaknya sendiri seperti ini.

"cankka.. Taemin-ah!" aku berlari mengejarnya yang sudah membelok, karena aku namja otomatis dengan mudah aku mendapatkannya. Aku menarik lengannya dan apa yang kulihat benar-benar tak bisa kupercaya. Ia menangis!

"waeyo Taemin-ah?" dengan panik aku segera mengusap airmata yang meluncur deras dari matanya yang indah itu.

"chukkae Minho-ah! Kau sudah menemukan yeoja yang kau butuhkan kan? Yeoja bernama Lee Sungmin itu! Kau sudah tidak memerlukanku lagi sekarang, Minho-ah, selamat tinggal!" ia menarik lengannya kasar dan pergi meninggalkanku yang masih belum bisa mengerti apa yang ia maksud.

.

.

.

.

.

.

.

-Sungmin POV-

"ada apa dengan yeoja itu?" aku bertanya pada Siwon-sunbae.

"molla. Aku tak tau. Setahuku yeoja itu menyukai Minho-ah."

Sontak aku dan Wookie berpandangan.

"apa mereka berpacaran?" Wookie memberanikan diri untuk bertanya.

"tidak! Minho-ah tidak menyukainya."

Aku pernah melihatnya dan namja mesum itu berciuman. Tapi, itu hanya ciuman sepihak? Kupikir namja mesum itu yang memaksanya.

"tapi ia sangat menyayanginya." Kali ini Yesung-sunbae yang angkat bicara, menatap aku dan Wookie tajam seolah ingin menguji sesuatu. Oh.. jadi namja itu menyayanginya? Deg.. perasaan apa ini? Rasanya hatiku panas sekali.

Tiba-tiba namja mesum itu menggebrak pintu ruangan klub dan membuat kami kaget.

"ottohke Minho-ah?" Siwon-sunbae tampak mencemaskan yeoja itu. Jangan-jangan sebenarnya ia menyukainya?

"molla, ia.. menangis. Dan itu karena aku." Namja mesum itu hanya menunduk. Pandangannya seolah kosong. Dan Siwon-sunbae hanya mampu menepuk pundaknya sebagai cara untuk menenangkannya. Aiish kenapa sih namja mesum itu peduli banget sama yeoja itu? Bahkan sampai wajahnya lecek seperti itu.. aiish siapa sih sebenarnya yeoja itu? Berbagai pertanyaan bercampur aduk di pikiranku dan.. tentu saja di pikiran Wookie. Sejak tadi ia hanya diam dan menatap nanar sunbae yang disukainya itu. Mianhae Wookie, ternyata aku juga menyukai namja yang sama denganmu.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

Gomawo yg udah baca & review^^

Nggak nyangka author abal2 bisa dapet review juga.. hiks.. jadi terharu T.T *nangis*

Maaf ya kalau chap 2 jadi makin jelek, ceritanya maksa, alurnya nggak jelas ^^"

Balasan review:

JiYoo861015 : hehe ini udah muncul si Kyu ^^ tapi masih aku fokusin ke 2min dulu hehehe dia baik kok ^^ tenang aja kalau si Minho main2 sama Umin, author siap terima si Minho kok XD #plak, dimutilasi Heechul#

Gomawo udah review^^

RosaHeartfilia : hehe kan martial artnya Umin author pindah ke Wookie(?) #plak!# XD

gomawo udah review^^

elsa sparkyu : udah dilanjut ^^

gomawo udah review^^

EvilBungsu KyuminBaby137 : gomawo ^^ iya, always KyuMin kok, hihi di sini udah kejawab kan? ^^ di sini ada momentnya tapi masih aku fokusin ke Minho X Sungmin dulu

Gomawo udah review^^