THE ENGINEER pt. 2
.
.
BarbieLuKai
.
.
Visualisasi Karakter (hampir lupa, hehe, tapi terserah mau dipakai apa nggak)
Jeon Wonwoo : rambut di mv mansae
Kim Mingyu : seragam di mv mansae, rambut di mv mansae, anggap aja warna abu-abu
Wen Junhui : rambut di mv mansae
Jeon Jungkook : rambut di mv dope, seragam kayak Mingyu, anggap aja SMA Hanlim seragamnya kayak gitu
Jeon Junyeon : Yujin CLC rambut sebahu
Baiklah, segitu saja…
.
.
~HAPPY READING~
.
.
Namja berambut hitam tersebut menguap lebar, saking lebarnya ia berpikir bisa menghisap Jun yang tengah serius itu. Matanya melirik pada jam dinding yang menunjukkan pukul 5 sore. Sudah seharian dia di kantor kecil nan sumpek ini, tapi demi bonus bulanan yang besar, ia tidak akan mengeluh.
"Kalau kau mau pulang, pulang saja duluan," ucap Jun tanpa mengalihkan pandang dari berkas. Wonwoo duduk di atas mejanya.
"Kau yakin berani sendirian di sini?" tanya namja bermarga Jeon tersebut. Jun mendongak, menatap Wonwoo. Kemudian, namja Cina itu mengangguk. Sedangkan Wonwoo mengangkat bahu. Bergegas ia membereskan perlengkapannya.
"Baiklah, sampai jumpa besok, Prince!"
Jun hanya menggumam, "Hati-hati, Emo.."
Wonwoo hampir melempar tas ranselnya ke arah Jun tetapi ia ingin cepat-cepat pulang maka dari itu lebih baik ia bergegas menghilang dari ruangan. Di luar, ia melihat beberapa pekerja saling merapikan perlengkapan mereka.
"Sampai jumpa besok, semuanya! Hati-hati di jalan!" pamit namja cantik itu seraya membungkuk sopan, "terima kasih atas kerja keras kalian.."
"Sampai jumpa, Wonwoo-sshi!"
"Kau juga hati-hati di jalan, Wonwoo-sshi!"
Wonwoo tersenyum manis dan berjalan keluar bangunan. Dia mengintip sekilas ke SMA Hanlim, rencananya ia ingin mentraktir adik sepupunya makan malam.
Bell pulang sekolah berdering keras. Wonwoo sudah siap untuk menyeret adik-adiknya keluar. Tetapi, ia malah bertemu dengan bocah berambut abu-abu.
"Eoh, Ahjussi?"
Namja cantik tersebut melototkan mata, "Kau bilang apa?! Aku bukan Ahjussi!"
Mingyu menaikkan satu alis, "Jadi kalau kau bukan Ahjussi, lalu siapa? Ahjumma?"
"YAK!" teriak Wonwoo siap menerjang siswa itu. Namun, Mingyu sempat menangkap pergelangan tangan dan menarik tubuh namja tersebut mendekat.
Ketika mereka saling bertatapan lama, Wonwoo mematung memandang iris bocah tengil yang lebih tinggi darinya ini. Ada rasa aneh bergejolak di rongga dadanya, sedangkan Mingyu tersenyum kecil melihat tingkahnya.
"Kau terpesona denganku, ya, Ahjussi?"
Wonwoo terkesiap, ia menarik kembali pergelangan tangannya tetapi Mingyu malah menguncinya lebih kuat.
"Lepaskan aku, Bocah!"
Siswa bermarga Kim tersebut tersenyum makin lebar, lebih mirip seringaian. "Kalau kau terus garang padaku, aku tidak akan melepaskannya,"
Namja berambut hitam tersebut membelalakkan mata tak percaya. Kenapa dia harus berurusan dengan bocah tengil ini? Iya sih tampan, tapi kelakuannya itu loh.
"Hyung?" tiba-tiba penyelamat Wonwoo datang. Keduanya menoleh pada Jungkook yang menyeringitkan dahi. "Kalian sedang apa?"
Mingyu merenggangkan cengkramannya sehingga Wonwoo langsung menjauhkan diri dari namja tampan itu. "Aku pergi dulu, Jeon!" pamitnya pergi begitu saja. Meninggalkan Wonwoo yang cengok dan Jungkook yang tidak peduli.
"Dia berpamitan pada siapa?" tanya Wonwoo.
"Aku." jawab Jungkook memutar mata. Terkadang kakak sepupunya ini harus dihantam ke dinding biar dia sadar.
"Tapi margaku Jeon juga!"
"Serah hyung sajalah, ngapain ke sini?" tanya siswa berambut cepak menatap kakak sepupunya heran.
Wonwoo menyengir, "Makan malam denganku, kajja! Di mana Junyeon?"
Sebelum Jungkook sempat menjawab, seorang siswi muncul di samping kakaknya, "Wae?" tanyanya. Rambut hitam sebahu yang menutupi sebagian dari wajahnya itu mengingatkan Wonwoo pada dirinya saat masa-masa SMA dulu. Sangat emo.
Sampai sekarang, Won -_-.
"Kajja!" ajak Wonwoo menarik kedua adik sepupunya. Mereka berjalan ke sebuah rumah makan terdekat yang kata orang-orang enak dan murah.
"Oppa ini seorang insinyur kaya tapi mentraktir kami makan malam seperti ini," gerutu Junyeon seraya memainkan papan tanda meja. Wonwoo menendang yeoja itu.
"Diam kau bocah! Kalau kita terus-terusan mampir di Jeon's Hotel, yang ada gratis terus. Kalian itu harus diajarkan yang namanya usaha sendiri baru dapat, bukan minta langsung dapat,"
Jungkook menggumam, "Pfft, hyung aja yang terlalu bokek untuk mentraktir kami," Wonwoo hanya menatap bocah tampan itu datar.
"Kau daritadi ogah-ogahan mulu, wae?" tanya namja cantik tersebut. Jungkook menaikkan alis.
"Siapa bilang aku ogah-ogahan?"
"Kau ini masih sempat saja sewot padaku," kakak sepupunya mengerucutkan bibir, karena mual melihat tingkah insinyur *coret-emo* itu, Jungkook memutar matanya malas.
"Ada namja yang menyukaiku,"
Wonwoo tersenyum, tapi dia juga terkejut disaat bersamaan. Baru tahu kalau adik sepupunya ini melenceng, "Ciee, siapa namanya?" sebelum Jungkook menjawab, ia beralih ke Junyeon, "Apa kau melenceng juga, Junyeon-ah?"
Junyeon hampir memukul namja cantik itu, "Enak saja! Biarpun si bodoh ini melenceng, bukan berarti aku juga!"
Sedang Jungkook menjambak rambut adiknya, kemudian mereka berkelahi tanpa menyadari tatapan dari pelanggan lain. Wonwoo buru-buru menengahi aksi kedua bersaudara tersebut. "Hey! Kalian ini suka membuat keributan ya?" saat mereka berhenti berkelahi, namja cantik itu menghela napas, "kau belum menjawab pertanyaanku, Kook,"
Namja berambut cepak itu tersenyum tipis, "Taehyung,"
"Nama yang.." Wonwoo kesulitan mencari kata-kata, "hmm, bagaimana ya? Aku jarang mendengar nama Taehyung,"
Junyeon melirik kakaknya, "Taehyung si 4D dari kelasmu kan?"
Jungkook mengangguk, "Di sisi lain ada yeoja yang mengklaimku sebagai miliknya, padahal kami tidak pernah bertegur sapa,"
"Hm, cinta segitiga," gumam yang tertua di antara mereka, "hebat Kook bisa terlibat dalam cinta segitiga,"
"Dengan yeoja lagi, bisanya dia yang diperebutkan," gumam Junyeon kagum, ia menepuk-nepuk pundak kakaknya.
"Diam, Yeon. Aku sedang tidak bercanda," jawab Jungkook pelan.
"Lalu?" tanya Wonwoo lagi.
"Lalu apa?" tanya Jungkook bingung. Namja cantik berambut hitam tersebut memutar bola matanya malas.
"Kenapa kau jadi mellow?"
Siswa berambut cepak itu mengangkat bahu, "Nggak boleh?"
"Ya ampun, kau sewot sekali," Wonwoo mengerucutkan bibir, mengundang gelak tawa dari Jungkook dan Junyeon. Mereka berdua kompak menampar bibir kakak sepupu mereka dengan buku menu.
Malam yang dingin berubah menjadi hangat karena canda tawa Wonwoo dan dua adiknya tersebut. Apalagi ditambah aroma jajangmyeon yang membuat perut bergejolak gembira.
.
.
.
.
Wonwoo menyalakan lampu apartemen. Setelah mengendarai bus untuk mengantar adik-adiknya pulang, ia mesti berjalan kaki sebentar untuk mencapai apartemen.
Sebenarnya, Wonwoo bisa saja tinggal di rumah pamannya yang notabene menyuruhnya tinggal bersama, tetapi ia merasa tidak enak karena tidak ingin menambah beban sang Paman.
"Paman sudah punya anak 10, ditambah aku, nanti jadinya kan banyak. Wonwoo tinggal di apartemen dekat rumah Paman saja," sungguh Paman yang kuat karena punya anak 10. Wonwoo tidak bisa membayangkan kalau ia tetap tinggal di situ bersama Jungkook dan 9 saudaranya.
Dia mulai berganti baju dan menyiapkan cemilan sebelum tenggelam dalam salinan biru. Namja itu masih lapar meskipun sudah menghabiskan dua mangkuk jajangmyun. Yah, namanya juga insinyur, selalu lapar.
Ponselnya berdering tanda panggilan, buru-buru ia mengangkat karena siapa tahu penting.
"Yeoboseyo?"
"Yeoboseyo, Wonwoo-ya, apa kabar?"
"Oh, eomma! Kabar Wonwoo baik-baik aja, ada apa eomma? Baru kemarin menelepon," jawabnya, ia duduk di kasur untuk mendengar suara ibunya lebih lanjut.
"Eomma dan Appa memutuskan untuk tinggal di Seoul, jadi kau tidak perlu menyewa apartemen lagi,"
"Jinjja?" Wonwoo tidak bisa menyembunyikan rasa gembira. Dia berceloteh dengan riang karena orangtuanya akan pindah ke Seoul dan tinggal bersamanya.
"Terus, kapan pindahnya?"
"Bulan depan, Sayang.." jawab sang Ibu. Wonwoo bisa merasakan senyuman lembut yang terpampang di wajah ibunya. "Appa harus menyiapkan kepindahannya dari Mokpo juga,"
"Yeah, Appa kan orang sibuk. Oh iya eomma, Appa ada di rumah?"
"Appa sedang bekerja di kamar, kenapa? Kau ingin mendengar suaranya?" tanya sang Ibu. Wonwoo tertawa geli.
"Tidak usah deh, hm, aku jadi rindu kalian," jawab namja berambut hitam tersebut memandang ke langit-langit kamar.
"Nanti kita pasti bertemu lagi kok, Sayang.."
Wonwoo tersenyum lembut, "Ne eomma. Wonwoo mau kerja nih,"
"Jangan terlalu berlebihan, ya!"
"Neee, annyeong, saranghae!"
"Nado saranghae, annyeong.." sang Ibu memutuskan sambungan. Namja berambut hitam itu menaruh ponsel di atas meja kecil dekat kasur lalu beranjak untuk memeriksa salinan biru lagi.
Sepertinya, Jeon Wonwoo melupakan titahan ibunya.
.
.
.
.
Mingyu menatap langit kamar yang berwarna biru. Raganya memang masih di kasur, tetapi jiwanya sedang melantur ke mana-mana.
Sudah pasti ia sedang memikirkan Wonwoo. Namja berambut abu-abu itu melihat ke tangan yang sudah menggenggam pergelangan Wonwoo. Kemudian ia tersenyum kecil.
"Cantik.." gumamnya pelan. Sebersit wajah Wonwoo yang manis meskipun sedikit dingin tersebut kembali bertengger di pikirannya. Senyuman di wajah semakin lebar karena kenangan tadi sore teringat lagi.
Jeon Wonwoo, seorang insinyur berumur 26 tahun berhasil menarik perhatian Kim Mingyu dengan paras dingin, garang, sassy, manis, dan emo-nya secara bersamaan.
Mingyu menghela napas panjang, dia harus mendapatkan namja itu, tidak peduli dengan perbedaan umur mereka yang cukup jauh atau masalah yang paling besar yaitu gender mereka yang sama.
.
.
.
.
Matahari bersinar cerah. Wonwoo terbangun ketika merasakan badannya menyeri, ia langsung sadar kalau ia tertidur di meja kerjanya.
"This is too overwork, Wonwoo.." batinnya dalam hati.
Jam menunjukkan pukul 8 pagi, namja bermarga Jeon itu bergegas mandi dan menyiapkan sarapan. Dia sudah terlambat setengah jam. Bodoh sekali dia sampai tertidur begitu.
Karena terlambat, ia memutuskan untuk mengendarai mobil yang jarang ia pakai. Kecuali perjalanan jauh, keluar kota misalnya.
Ketika melewati rumah Pamannya, ia melihat dua mobil asing berada di garasi. 'Mungkin Sehun hyung dan Chanyeol hyung sudah pulang dari Cheongsando,' pikir namja itu seraya menyetir.
Dia memarkirkan mobilnya tak jauh dari bangunan. Sambil mengecek jam di tangan, ia berjalan cepat sampai tak sadar menyenggol seseorang.
"Ah, mianhae!" ucapnya menoleh ke belakang. Hek! Bocah tengil!
Mingyu menaikkan alis, "Kau terlambat ya, Ahjussi?"
"Sudah kubilang jangan panggil aku Ahjussi, bocah tengil!" balas Wonwoo ingin melayangkan ranselnya ke badan jangkung Mingyu.
Siswa bermarga Kim tersebut tersenyum kecil, "Baiklah, Ahjumma.."
BUGH
Berhasil sudah Wonwoo menghantam Mingyu, siswa tengil itu memekik kesal.
"Kau ini kenapa sih?"
"Kau itu yang kenapa? Bisa-bisanya memanggil orang sembarangan!" jawab namja berambut hitam tersebut. Mingyu mencibir.
"Aku kan bingung ingin memanggilmu apa,"
"Panggil aku Hyung. Wonwoo Hyung."
"Aku panggil Noona aja, boleh? Kau lebih mirip Noona dibanding Hyung,"
Wonwoo menghantamnya sekali lagi tapi Mingyu berhasil menangkap tasnya. "Eits, eits, kalau kau garang begini, tidak cantik lagi tahu!"
Bodohnya, dia malah merona merah saat mendengarnya, sialan! 'Kenapa dia menggombaliku sih?' batin namja itu seraya mengigit bibir. Ia menurunkan tasnya.
"A-araseo, pergi sana!" usir Wonwoo mengalihkan pandangan. Wajah Mingyu terlalu tampan untuk diajak bicara.
Mingyu terkekeh pelan, "Aku sedang bolos, Hyungie,"
Mata Wonwoo membelalak kaget, "Kau ini masa bolos sih? Kau sudah kelas 12, seharusnya kau belajar untuk persiapan ujian nanti," omelannya membuat namja berambut abu-abu tersebut tertawa geli.
"Kau tahu darimana aku kelas 12?"
Namja bermarga Jeon itu tertangkap basah sudah mengorek-ngorek informasi tentang Mingyu. "Ani, aku tahu dari.. hm, dari.. itu, dari.." kenapa dia jadi terbata-bata gini, "Dari seragammu!"
"Dari seragamku? Memangnya, seragam setiap tingkat beda ya?" tanya siswa tampan tersebut. Dia menyukai sikap Wonwoo yang menggemaskan ini.
"Mollayo! Sudah jangan ganggu aku!" kilah Wonwoo ingin pergi, tapi Mingyu malah menahannya.
"Hyung mau ke mana? Temani aku bolos mendingan," ajaknya menaik-turunkan alis. Wonwoo menarik kembali tangannya.
"Shireo! Kau pikir aku tidak sibuk? Aku ingin kerja, annyeong!" pamitnya berbalik badan lagi, tapi Mingyu menahan kembali.
"Baiklah, aku ikut hyung saja, ya!"
Wonwoo melototkan mata. Dia merutuki tubuhnya yang mau saja ditarik oleh siswa tengil tapi tampan tapi menyebalkan tapi ganteng tapi AAAAAHHHH DIAM!
.
.
.
.
Dan di sinilah Mingyu. Berada di sebuah ruangan sempit nan sumpek, hanya ada satu kipas angin, dua meja kerja, karpet, dan sofa tamu.
Wonwoo menghela napas. "Kau duduk di sofa, jangan mengeluh kalau bosan," katanya seraya duduk di kursi kerjanya. Kemudian, ia membuka berkas yang sudah menumpuk di atas meja.
Mingyu menghempaskan tubuh di atas sofa. Dia menghela napas panjang dan keras.
"Yak!" sahut Wonwoo merasa terganggu, "bisa tenang, tidak?"
Sedang yang disahuti hanya menyengir.
"Annyeong!"
Wonwoo mendongak, Mingyu beranjak bangun. Jun memandang Mingyu bingung.
"Ini anak siapa?"
Namja berambut hitam tersebut hanya mendengus, "Dia memaksa untuk ikut bersamaku,"
"Yang kemarin masuk tanpa izin?" tanya Jun lagi. Wonwoo mengangguk.
"Annyeong, Kim Mingyu imnida!" sapa Mingyu sambil membungkukkan badan. Meskipun ia nakal, ia juga tahu sopan-santun. Jun mengangguk.
"Annyeong, Wen Junhui imnida, senang bisa bertemu denganmu.."
"Ne, aku juga, Hyung!"
"Hey! Kau memanggil Jun dengan sebutan hyung!" protes Wonwoo yang mendengarnya. Mingyu menoleh seraya menaikkan alis.
"Karena dia memang hyung,"
"Kau pertama kali memanggilku Ahjussi!" serang namja berambut hitam tersebut emosi.
Jun tertawa geli, "Wajahmu memang seperti Ahjussi, Wonwoo-ya. Kau saja tidak sadar,"
Mendengar komentar Jun, Mingyu juga ikut tertawa, bahkan lebih keras. Sehingga Wonwoo jengkel dibuatnya.
"Kau memang tidak niat sekolah ya?" tanya Jun pada Mingyu.
"Aku capek sekolah, Hyung. Lagipula, semua pelajaran sudah kukuasai, apalagi yang harus kupelajari?" jawab Mingyu.
"Bisa-bisanya dia capek sekolah," gumam Wonwoo pelan, tetapi Mingyu bisa mendengarnya.
"Ya bisalah, Hyung. Memangnya kau tidak pernah capek waktu SMA dulu?"
Jun berdeham sebentar, "Kau mau masuk mana habis lulus?"
"Teknik industri," jawab Mingyu bangga.
Wonwoo mencebik, "Kau mau masuk teknik industri tapi suka bolos sekolah, gimana sih..?
"Won.." tegur Jun serius. Namja bermarga Jeon tersebut bungkam. Bahkan sahabatnya yang ia sayang itu malah membela bocah tengil tampan dibanding dia.
Eh, Wonwoo baru saja bilang Mingyu tampan kan? Aduh, itu khilaf, please~
"Lihat saja nanti, Hyung. Kalau aku masuk Universitas Kyunghee, kau harus memberiku hadiah," ucap namja berambut abu-abu itu.
Namja yang sedang memeriksa berkas biru tersebut menaikkan satu alis, "Kau mau hadiah apa memang?"
"Kau harus menerima kalau aku melamarmu."
Wonwoo nyaris menyolok mata Mingyu dengan pulpen.
Kim Mingyu, you're so dead!
.
.
To be Continued
.
.
Thanks to :
Herlin790; DevilPrince; EXOST Panda; svtbae; madejasmine80; Beanienim; Arlequeen Kim; Guest (hanbinunna); Guest (wan meanie); Minmeanie; Guest (Rie Cloudsomnia); Iceu Doger; alwaysmeanie; Calum'sNoona; win23ox; BumBumJin; Ara94; Guest (mbee); babymoonlight
AAAHHH THANK YOU THANK YOU ATAS REVIEW, FOLLOW, dan FAVE ^^ silakan review lagi kalau masih ada yang kurang berkenan di hati :3 ppyonggg~~
