A/N: Two shot yang gagal gara-gara lupa plot dan akhirnya bikin plot baru. Selamat membaca. ^^
Lunette de Visée
A Hetalia Axis Power Fanfiction
Disclaimer:
Hetalia © Hidekaz Himaruya
Warning:
AU, OC, OOC, possibly blasphemy , typos, human name used, USUK ahead
Summary:
Jubah hitam, mata merah, seringai serigala, taring panjang, trisula di tangan kanan, ekor panjang berujung lancip, dan sayap buruk rupa. Kau melihatnya. Tiap pertengahan malam, setelah ulang tahunmu yang ke-8.
.
.
.
Merseyside, Liverpool; 1943
.
.
.
The way (of blame) is only against those who oppress mankind, and wrongfully rebel in the earth. For such there is a painful doom.
.
.
.
Beberapa hari sudah kau pindah dan tinggal di sebuah gereja megah. Namun, kau rasa ada yang salah, pasalnya tak ada yang berubah. Semuanya masih sama layaknya hari-hari yang lama. Hari-harimu di sana berlalu begitu saja tanpa ada yang istimewa. Namun, suguhan mengerikan itu tetap ada.
Jubah hitam, mata merah, seringai serigala, taring panjang, trisula di tangan kanan, ekor panjang berujung lancip, dan sayap buruk rupa. Dia ada di sana, di sudut kamar barumu, seperti biasa, menebar ngeri tak ternyana. Dan kau, Arthur Kirkland—
"Grant, O Lord, Thy protection
And in protection, strength
And in strength, understanding
And in understanding, knowledge—"
—hanya bisa berdoa kala takut merengut.
Kau tahu, tak seharusnya kau ada di tempat itu. Kau tahu, tak semestinya kau percaya pada orang itu. Kau tahu, tak seharusnya kelereng itu mengisi kantung matamu.
Matamu tak seharusnya melihat itu, dasar anak terkutuk!
Kau tahu itu. Kau tahu semua itu. Tak seharusnya kau menggunakan kelereng zamrud itu untuk melihat pun mengamat. Sudah seharusnya sepasang kelereng zamrud itu enyah, hilang, musnah, dan tamat.
Tapi, faktanya—mereka masih di sana, menghiasi kantung matamu, menyajikan keindahan semu tak terelakan bagi orang-orang di sekitarmu, dan menyuguhkan kengerian bagimu, sendirian.
Tidak adil.
Akan kuambil matamu. Biar kau buta seumur hidupmu.
Kau ingat tatkala pisau yang berkilat mengecup pipi pucat. Dan, darah merah pun mengalir bagai air. Saat itu, dingin pisau terganti oleh hangat darah yang merah dan seiring dengan itu terdengarlah suara parau. Kau tak memberontak karena kau memang tak kuasa bergerak, padahal rasa takutmu bergolak bagai ombak. Kau memang tak pernah menjadi anak yang kuatkan, Arthur Kirkland?
Kau masih ingat, rasa sakit di pergelangan tanganmu saat tali tambang menjerat erat kedua tangan mungilmu dan bekas merah itu tak berubah dan lenyap dalam sekejap.
Kau masih ingat, seringai gila yang terulas jelas di bibir-bibir yang biasanya mengumbar kata sayang dengan sabar. Dan, bibir-bibir itu pulalah yang senantiasa mengecup dahi dan pipimu setiap malam, menjanjikan sayang sebanding pualam.
Kau tak perlu mata itu untuk hidup, Arthur!
Bukankah akan lebih mudah kalau mereka mengatakan,"kau tak perlu hidup, Arthur!"
Lebih singkat, padat, tanpa berbelit-belit meski akan membuat hatimu serasa terlilit. Tapi, lebih mudah dan tidak akan membuatmu tersiksa lebih lama. Memangnya siapa yang ingin hidup dengan mata buta? Memangnya siapa orang buta yang bisa hidup tanpa pernah merasa tersiksa? Absenlah, dan katakan,"nihil!"
Jelas terukir dalam prasati memori ketika pisau yang berkilat nakal diayunkan oleh orang yang hilang akal tepat didepan matamu yang telah terbelalak kala tubuhmu mulai kaku. Kau ingat ketika sepasang tangan kuat merebutmu dari sepasang tangan lain dan membawamu dalam dekapan yang kau harap tak semu.
Kalian gila. Bagaimana bisa kalian melukai anak kalian sendiri?
Dan surai merah bagai darah yang menjilat pipimu yang pucat, kau ingat. Yang kau rasakan saat itu adalah rasa perih di pipimu dan juga hangat tubuh pemuda bersurai merah itu. Lalu pikiranmu?
Apa yang kau pikirkan saat itu Arthur?
Kita akan bahagia bersama Arthur.
Ucapannya buyarkan anganmu. Dan, setelah itu, kau tak tahu apa-apa. Yang kau tahu adalah bahwa kau lari dari rumahmu bersama saudaramu, tinggal di rumah kecil di Liverpool tanpa pernah memikirkan orang yang nyaris merobek kantung matamu, orang yang melahirkanmu, orang yang melahirkan kalian.
Semua itu terjadi ketika kau masih enam tahun. Sekarang, kau sudah delapan tahun dan kau masih ingat semua itu dan kau pun berharap supaya saat itu kantung matanya dirobek hingga matamu tak ada lagi di sana, hingga makhluk itu tak ada lagi di sudut matamu, hingga kau tak perlu larut dalam carut marut rasa takut, hingga kau tak perlu mendiami tempat ini, hingga Eric tak perlu mati, hingga Kiku tak perlu kehilangan nyawa, hingga kau bahagia.
Kebahagiaan kecil. Ya, kau harap secuil kebahagiaan diberkahkan padamu.
Namun, fakta yang ada membuat hatimu ngilu larut dalam pilu. Realita yang ada menentang idealismemu. Bagai si punguk merindukan bulan.
Miris.
Kau ingin menangis.
.
.
.
.
.
Kau melihatnya.
Jubah hitam, mata merah, seringai serigala, taring panjang, trisula di tangan kanan, ekor panjang berujung lancip, dan sayap buruk rupa.
Tatapan nanar pun bertemu tatapan sangar. Gelombang rasa dingin merambat di sekujur tubuhmu yang jujur, membangunkan kudukmu dari tidur layu. Demi Tuhan, untuk apa dia mengawasimu seperti itu sepanjang waktu, sementara hanya kengerian yang terinterpretasikan olehmu.
"Kesesese..."
Tawa itu, tawa yang paling kau benci, tawa yang menjadi momok sepanjang hari.
Jika diingat, si Iblis memang belum pernah melukaimu, bahkan menyentuhmu pun belum. Namun, bagaimanapun, rasa takut itu tak terelakkan. Ucapannya, ucapan si Iblis itulah yang membuatmu takut sekaligus kalut. Ucapan yang tak kau mengerti itu, apa maksudnya.
"Aku mencintaimu, Arthur."
Kau tak mengerti.
Kau ingat, pernah satu kali iblis itu menuturkan sesuatu yang benar-benar membuatmu hanya bisa meringkuk di bawah meja seharian. Dan saat itu, kau sukses membuat Francis kebingungan.
"Pergilah ke neraka bersamaku, Arthur."
Kenapa?
Lagi-lagi kau lontarkan tanya. Sayang, saat itu tak ada yang menjawabnya. Bahkan si Iblis lebih memilih untuk tertawa.
Dan sekarang pun kau masih bertanya-tanya.
Kenapa?
Jawaban yang kau inginkan tak kunjung datang. Ah, kau benar-benar berharap kalau matamu memang rusak hingga yang kau lihat hanyalah ilusi, delusi atau halusinasi. Atau mungkin fantasi liarmu semata. Kau hanya tidak ingin semua ini adalah nyata, bahkan eksistensimu.
Sungguh Arthur, kau hanya tidak ingin menerima betapa sebagian besar harimu hanya dipenuhi rasa takut yang kian tersulut. Tidakkah kau berpikir, mungkin—rasa takutmu akan enyah ketika kau enyah dari dunia ini. Mungkin.
"Pergilah ke neraka bersamaku, Arthur."
Ajakan itu kembali menggetarkan gendang telingamu mengirimmu larut dalam hati ngilu teriris sembilu. Kau tak tahu sejak kapan rasa takut itu dapat melukai fisikmu, yang pasti rasa sakit di tubuhmu begitu nyata.
Dan, saat itu kau berhenti melantunkan doa itu dan berharap kalau matamu benar-benar rusak atau kau sendiri yang akan merusaknya. Ya, kau sendiri yang merusaknya. Rusak saja matamu, Arthur. Rusak saja hingga kau tak dapat melihatnya, rusak saja hingga apa yang dilindungi saudaramu lenyap dalam senyap.
"Rusak saja, Arthur, biar kau tak perlu melihatku lagi."
Akhirnya kau putuskan. Kau ambil langkah mendekati mejamu dan menyambar sebuah cutter tanpa menyirat resah. Kau angkat benda menyilaukan berujung runcing itu dengan gagah, kepala menengadah, dan rasa ragu telah enyah.
Tanpa berpikir panjang, dengan secepat mungkin, kau bawa ujung cutter menembus selaput epidermis kantung mata kananmu dan kemudian merobek jaringan-jaringan di bawahnya. Dan, darah pun mengalir. Ingin kau menjerit karena ngilu luar biasa yang telah kau cipta. Kau pun cukup yakin, mata kananmu sudah rusak. Terlalu rusak untuk bisa melihat kembali dan kau pun benar-benar ingin menjerit.
Sakit.
Perih.
Nyeri.
"Menjeritlah, Arthur. Rusak semua matamu hingga kau tak dapat melihatku. Lalu, biarlah telingamu mendengar suaraku."
Apa yang telah kau lakukan, Arthur?
"Tak perlu melihatku. Cukup dengar suaraku, Arthur."
Hingga akhirnya jerit lengkingmu memenuhi ruanganmu.
Lunette de Visée
Manhattan, New York; 1955
.
.
.
How many a township have We destroyed while it was sinful, so that it lieth (to this day) in, and (how many) a deserted well and lofty tower!
.
.
.
"Kau sudah mau pulang, Arthur?"
Mendengar seseorang menyebut namamu, kau pun melihat ke sumber suara itu. Di sana, di balik punggungmu, seorang pemuda berambut cokelat berdiri di sisi kursi dengan sebuah ulasan senyuman yang membuatmu risih. Antonio Fernandez Carriedo.
Kau putuskan untuk mengangguk.
"Alfred sudah menunggumu. Selamat bersenang-senang ya."
Senyumannya melebar, mengekspose gigi-gigi putihnya yang rapi terjajar. Sontak kau tarik ujung-ujung bibirmu ke bawah, mengukir lengkung tak mengenakkan. Tapi, senyuman lawan bicaramu masih tetap bercokol di sana, tak peduli pada apa ekspresimu.
"Alfred dan aku hanya berteman, Antonio. Lagi pula, mana mung—."
"Tentu saja mungkin, Mi Amigo."
Tak pernah berubah. Pemuda ini selalu saja tanpa ragu memotong ucapanmu tanpa merasa bersalah.
Pipimu pun memanas dan kau yakin bahwa rona merah telah menjamah kulit pucatmu. Kau palingkan wajahmu, enggan bertemu pandang dengan managermu. Malu.
Kau hela nafas dan segera bergegas keluar dari kafe. Kau tak pernah menyukai topik pembicaraan macam itu. Tidak pernah.
Kau tak ingat berapa lama sudah kau bekerja di kafe itu. Yang jelas, kau segera bekerja di kafe itu setibanya kau di New York dan yang jelas, kau cukup menyukai pekerjaanmu, sebagai pelayan. Lalu, orang tadi, Antonio Fernandez Carriedo, dialah si manager kafe yang ternyata menyembunyikan kenyataan bahwa dia adalah biseks di balik senyuman menyilaukan. Namun, bagimu, itu bukan masalah.
Masalahmu sendiri sudah membanjiri, meskipun bertahun-tahun sudah kau tak melihat si iblis jahanam itu, lalu untuk apa mempermasalahkan yang seperti itu.
Ya, sejak beberapa tahun lalu, sejak kau kehilangan mata kananmu, kau tak pernah melihat makhluk itu. Francislah yang membuatmu seperti itu. Bagimu, itu adalah anugerah terindah meski pada akhirnya menimbulkan masalah. Mata kananmulah masalahmu.
Padahal hal itu adalah salahmu.
Kau masih dapat merasakan rasa sakit menggigit yang sama kala mata cutter merobek tanpa ampun kantung matamu dan kala matamu terbelah dua. Masih dapat pula kau dengar jerit lengkingmu dan teriakan gila Francis kala itu.
Esok hari, kau temukan dirimu berada di rumah sakit dan ketika kau sadar, kau tak pernah melihatnya lagi sejak itu.
Jubah hitam, mata merah, seringai serigala, taring panjang, trisula di tangan kanan, ekor panjang berujung lancip, dan sayap buruk rupa.
Kau tak pernah melihat yang seperti itu lagi.
Dan sejak itu pulalah, kau hanya melihat dengan mata kirimu yang sekarang sangat berharga bagimu.
Kau langkahkan kakimu keluar dari kafe. Ketika kau buka pintu, kau melihatnya, di sana di samping pintu masuk, seorang pemuda berambut pirang bersandar di tembok dengan senyum girang. Bukan orang asing.
"Apa yang kau lakukan di sini, Al?" tanyamu pada pemuda itu, melempar sebuah lirikan hanya untuk menyadari suatu yang bukan keganjilan.
"Ah, akhirnya kau keluar, Artie!"
Si pemuda berkaca mata itu bangkit, meninggalkan sandarannya.
Mungkin hanya tipis, tapi kau tahu guratan senyuman di wajah pemuda berkaca mata itu mekar melebar dan matanya makin berbinar. Dialah Alfred dan dia memang selalu seperti itu. Dan kau menyadari itu.
Namanya adalah Alfred F. Jones, seorang mahasiswa di Universitas Columbia. Sudah lama rasanya kau kenal pemuda itu. Tepatnya, beberapa hari sejak kau bekerja di kafe itu. Dia sering berkunjung ke kafe. Entah bagaimana kalian bisa sedekat ini. Mungkin karena waktu atau mungkin juga takdirmu. Atau mungkin itu adalah upayanya.
Alfred dan kau hanya sebatas teman. Itulah yang kau pikirkan atau mungkin itulah yang ingin kau pikirkan. Bahkan kau tak tahu dengan apa yang berpadu dalam pikiranmu. Bahkan kau tak sadar ketika hasratmu dan pikirmu beradu dalam imaji tiada henti. Enggan berpadu atau mungkin, kau enggan memadu.
Sesuatu yang tak kau sadari, namun takkan pernah bisa kau hindari adalah fakta bahwa kau bahagia saat di sisinya. Entah bagaimana, senyumannya menawarkan kenyamanan tak terhabiskan dan itu membuatmu girang. Namun, sayang, kau terlalu keras kepala untuk mengakui rasa sayang, mengakui perasaanmu sendiri yang kau paksa hilang dalan bayang.
I'm a believer.
Lagi-lagi alasan itu. Alasan yang sama. Alasan yang hanya akan mengingatkanmu pada ironi memori seiring terlantunnya elegi. Bahkan, rasanya bisa mengiris hati hingga pada akhirnya kau pilih untuk meringis daripada larut dalam tangis. Kau hanya ingin menutupinya.
"Berhenti memanggilku seperti itu, Git!" sergahmu marah meski sejujurnya hatimu bungah.
"Tapi aku suka memanggilmu seperti itu." Dia pun mulai merengek layaknya anak TK dan matanya itu membuat pertahananmu ambruk dalam kecepatan kilat.
Sekali lagi wajahmu merona sewarna delima hingga kau terpaksa memalingkan muka, tak ingin Alfred melihatnya. Tanpa memberitahunya, kau putuskan untuk mulai berjalan pulang hingga dia memilih untuk membuntutimu dari belakang.
"Hei, Artie, ayo kita makan dulu," ujar Alfred yang dengan setia membuntutimu.
"Aku tidak lapar." Masih tetap berjalan ke depan, tanpa perlu repot-repot menoleh lawan bicaramu, kau balas ucapannya sedapatmu.
Sesungguhnya, kau sendiri termakan heran. Tanya berjejal dalam otak pejal.
Kenapa anak ini selalu membuntutimu?
Pertanyaan tak terjawab. Tentu saja. Kau tak pernah melontar tanya padanya. Dan, kau takkan pernah mau bertanya. Rasa malumu menghancurkan keberanianmu.
Mungkin dia memiliki rasa yang sama dengan rasa yang kau sembunyikan, Arthur.
"Tapi aku lapar," sekali lagi Alfred merengek.
"Itu urusanmu, Al," balasmu dengan santai, masih enggan berhenti dan menatap si lawan bicara. Malu. Mukamu masih sewarna delima.
Ah, kenapa wajahmu memerah layaknya kepiting rebus? Mungkin kau demam?
Kau putuskan untuk mempercepat langkah, bukan untuk menghindari si Kaca Mata. Malah, kau ingin dia selalu ada di sana, membuntutimu dengan setia.
Pernah kau berpikiran kalau Alfred memiliki perasaan lebih padamu. Namun, sesegera mungkin kau tepis pikiran macam itu. Kau takut dan—
—I'am a believer.
Kau, yang terbiasa memegang erat nilai-nilai teologi, tak ingin melepas peganganmu. Tidak. Kau hanya tidak bisa melepas peganganmu. Kau tak ingin berkhianat pada-Nya yang telah memberkatimu dengan hidup, menaungimu dengan kesejahteraan, mengajarimu dengan cobaan, dan menyayangimu dengan pertolongan.
"Setidaknya kau menemaniku," pintanya. Sayup-sayup telingamu meraup suara tapak kaki yang makin menjadi.
"Francis sudah menungguku." Iya. Francis pasti sudah menunggumu, seperti biasa dengan hidangan tersaji di meja bidang.
"Setiap hari kaukan makan bersama orang tua itu, kenapa kau tidak mau makan bersamaku sekali saja?"
Ucapannya kali ini dengan sukses menghentikan langkahmu. Kau putar tubuhmu menghadapnya dan yang menyambutmu adalah cengirannya.
"Hehe, apa kau berubah pikiran, Artie?"
Kenapa anak ini menanyakan sesuatu dengan ekspresi seakan dia tak punya dosa?
Mungkin urat-urat kesabaranmu sudah putus saat itu dan kau tak mampu lagi menahan egomu. Memang, tak ada manusia yang bisa mengabaikan ego pribadinya.
"Kenapa kau keras kepala seperti ini, Git?" kau menyalak bagai anjing galak.
"Karena aku mencintaimu."
Tak perlu berkaca, cukup di sana saja, kau cukup yakin wajahmu makin memerah. Dan kau pun marah. Ucapannya, sesuatu yang kau takutkan, akhirnya benar-benar membuat pertahananmu ambruk.
"A-apa katamu, git? Jangan mempermainkanku seperti itu!"
Kau putuskan untuk berlari, kali ini untuk meninggalkan si Kaca mata yang dengan suksesnya membuatmu malu, dan—
"Aku serius, Artie. Eeeh, kau marah? Tunggu aku!"
—kau merasa senang. Ya, kau senang.
I'm a believer.
Alasana itu lagi. Kenapa nuranimu menantang perasaanmu? Kenapa kau tak buat mereka berpadu? Kenapa kau tak turuti saja kata hatimu? Kenapa kau tak binasakan saja si ragu?
"Artie!"
Alfred mengejarmu dan kau percepat larimu. Hingga kau sadari kau tak pernah hebat dalam berlari kala sebuat tangan mencengkram pergelangan tangan kananmu. Terpaksa kau hentikan larimu, tapi masih enggan bertemu pandang dengan pemuda itu. Malu.
Jesus, maafkan aku.
"Aku tidak mempermainkanmu. Aku benar-benar mencintaimu." Dia berbisik di telingamu.
Berbisik. Dan kini, jarak di antara kalian begitu dekat. Setelah sekian lama, kau merasa terinvasi lagi. Tanganmu pun mengepal erat.
"Al, kau tahukan?" tanyamu.
"Uh?"
"Hubungan sesama jenis itu dilarang," ujarmu, lalu menggigit bibir bawahmu. Kau sendiri tak menyangka, kalau pada akhirnya kau mengatakan itu. Tapi—
—bodoh.
Aku atheis.
Ya, Alfred atheis dan dia pernah memberitahumu, bertahun-tahun yang lalu. Kau selalu mengingat itu, tapi kenapa beberapa detik yang telah lalu kau lupa akan itu?
Kala kau larut dalam lamunanmu, tiba-tiba kau dapat merasa sepasang tangan kuat menyentuh bahu dan memutar tubuhmu. Dalam sepersekian detik, bibirmu terkunci. Dan, ketika kau benar-benar sadar, sudah tidak ada jarak antara bibirmu dengan bibirnya.
Kau pun diam tanpa berontak, hingga ciuman singkat itu berakhir. Matamu sudah berkaca-kaca. Pertahananmu hancur. Dan, peganganmu—
A-apa aku benar-benar mencintainya?
—di ambang keruntuhan. Kau tahu itu.
Kenapa aku tak bisa menolak ciumannya?
Semakin kau pikir, semakin kau sadar akan keruntuhan peganganmu.
"Tapi tidak masalah selama kita saling mencintai. Iyakan, Artie?"
Ya, kau memang mencintainya. Kau memang mencintainya sejak lama.
"G-git! Apa yang kau lakukan. Kau tahukan kalau aku—."
Rasanya kau bisa mencintainya, selama dia tidak ada. Semua akan baik-baik saja. Kau tak perlu larut dalam takut. Kau tak perlu lagi urai derai air mata kala kasihmu tak tersampaikan. Kau tak perlu memiliki hal yang kau sesalkan.
"You're a believer."
"Bloody wanker!"
To be continued (maybe)
