Naruto milik Masashi Kishimoto

Warning : AU, OOC, NONBAKU.

Note : aku ingetin sekali lagi, klo rambut pendek Rin & Sakura di sini dikuncir macem anak sekolahan! X)


"Di suruh joget aja senpai," dan suara anak-anak sekelas menggemakan tawa. Di tengah kebisingan itu Naruto mengaduh karena pinggangnya dipelintir oleh cubitan Sakura, "Ampun, ampun…! Sakit!" bisik Naruto nggak keruan.

Wajah Sasuke datar bahkan melirik ke bawah tapi tidak tertunduk.

"Boleh juga," Ino mengangguk-angguk sambil memainkan kertas di tangannya, sementara Tenten menepuk tangannya sekali, "ide bagus."

"Yak silakan," Ino memberi isyarat, "Butuh musik?"

Tanpa komando siapa pun Tenten sudah menyalakan mp3 di ponselnya. Coba tebak? Gangnam Style.

"Ayo, Sasuke…" Ino menunggu sambil berpura-pura lihat jam tangan, "waktu kita nggak banyak, kasihan temen-temen kamu."

"Najeneun ttasaroun inganjeogin yeoja," Tenten menggerakan tubuhnya sok asik, sementara wajah Sasuke tidak berselera dan berkeringat.

"Keopi hanjanui yeoyureul aneun," Ino ikut-ikutan ngedisko, sukses bikin Sasuke kelihatannya berkeringat dingin itu diputerin dua kakak kelas super cantik yang sedang menggerakan bahu dan kepala asik. "Pumgyeok issneun yeoja."

"Bami omyeon simjangi tteugeowojineun yeoja," Tenten dan Ino kali ini nyanyi berdua, sekali-kali nggerakin lengan Sasuke yang masih kaku berkeringat, "Geureon bajeon issneun yeoja."

Sakura menepuk jidatnya dengan siku yang bersandar di atas meja. Di sebelahnya sudah dapat dipastikan gimana muka Naruto yang gembira luar biasa lihat Sasuke kikuk di depan.

Sementara anak-anak lain pada ketawa nikmatin Sasuke yang kikuk, Sakura malah khawatir dengan muka pucet Sasuke. Setahunya Sasuke itu cool, mungkin dugaannya salah, Sasuke cuma pemalu. Terbukti sekarang malah berdiri canggung dengan keringet dingin gara-gara Naruto ngusulin hukuman joget buat Sasuke.

"Itu orang sakit, ya?" gumam Sakura ngelihat Sasuke seperti narik napas diem-diem.

"Ayo dong, Sasuke, udah kita temenin nih…" kata Tenten dengan suara imutnya yang adorable, sementara Ino masih asik berasa dugem. "Areumdawo sarangseureowo, geurae neo…"

"HEY," sahut anak-anak dan yang paling heboh ya si Naruto.

"Geurae baro neo…"

"HEY," sahut anak-anak lagi berasa backing vocal Ino yang sedang menuju reff.

"Jigeumbuteo gal dekkaji gabolkka-key-key-key-key…"

Tepat ketika suara PSY dari ponsel Tenten masuk ke lirik reff, Sasuke tiba-tiba bergerak. Mata cowok itu merem lebih sok asik dance gangnam yang sukses bikin Sakura ternganga bersama Naruto. Begitu pula dengan Ino dan Tenten yang perlahan berhenti karena Sasuke malah asik sendiri.

"HEYY… SEKSEI LEIDEIIII…" kali ini kedua telunjuk Sasuke menunjuk-nunjuk langit-langit.

Tadinya sih lucu, kok sekarang garing? Yang terdengar hanya suara mp3 PSY dari ponsel Tenten dan debaman sepatu Sasuke.

Naruto geleng-geleng cengo, "Cacat juga nih orang."

Kelas Rin.

Rin menopang kedua pipinya dengan telapak tangan yang sikunya bersandar di meja. Dari sini, ia bisa berpuas diri merhatiin rambut belakang Kakashi yang perak sementara Obito udah cembetut di sebelahnya.

"Kenapa orang tata usaha musti salah ngedata? Kenapa Kakashi dimasukin kelas ini?" gerutu Obito nyaris tak terdengar masih melirik tajam kepala belakang Kakashi yang nampak mengobok-obok isi tasnya.

Di depan sana sudah ada dua kakak kelas yang sedang menerangkan denah sekolah, ekskul dan jadwal mata pelajaran sementara.

"Rin," Obito menyikut Rin hingga topangan pipi Rin goyah.

"Apa sih?" tanya Rin nggak suka.

"Catet tuh mata pelajaran!" Obito menunjuk papan tulis di depan, "bengong aja. Kebanyakan utang ya?"

Rin pura-pura cemberut, "Iya…" lalu mengeluarkan alat tulisnya dan segera mengkopi apa-apa saja yang ditulis kakak kelas di depan. Berhubung badannya kecil, sementara beberapa orang di depannya cukup menjulang tinggi termasuk Kakashi, Rin sedikit melongok sampai semi berdiri.

"To, nggak keliatan nih," Rin mengadu pada Obito yang masih sibuk nyatet.

"Kenapa? Mata lo mulai min?" tanya Obito tanpa berniat berhenti dari kegiatannya.

"Ish, nggak keliatan ini pada guide-guede amat yak badannya…"

Obito mendesah dan menaruh bukunya di atas buku Rin, "Tuh salin!"

Rin mengangkat buku itu dan memperhatikan jadwal sementara yang ditulis ulang oleh Obito. "Yah ini sama juga, To. Tulisan lo kok kayak dokter gini? Anak mading macem apaan sih lo?"

"Yee, ditolongin pake ngehina, udah salin!" Obito pura-pura menggertak. "Itu karena gue buru-buru nulisnya biar lo bisa liat tauk."

"Iya tapi yang ngerti tulisan ini tuh elo doang, To! Diktein!" Rin mengembalikan bukunya dan disambut tengil oleh Obito. "Yah elah," dan Obito pun memicingkan matanya menatap buku sendiri. "Ini tulisannya apa, ya?" tanyanya pada diri sendiri!

Rin mendesah, "yang nulis aja nggak ngerti gimana yang mau nyalin!"

"Bentar-bentar," Obito nyalin ulang, lirik-lirik antara papan tulis dan bukunya yang sedang ia coreti dengan pulpen, menjepit lidahnya sendiri pakai bibir, serius gituloh.

Rin mengasamkan wajah, "kan, kerja dua kali deh lo." Tanpa sengaja Rin menghadap ke depan lagi, yang tak diduganya ternyata Kakashi sedang noleh ke belakang dengan ragu-ragu.

"Mmm, kenapah, Kakashi?" tanya Rin setelah ragu, ekspresinya lembuuuuuut banget.

"Mm, ano," Kakashi menjawab, "Boleh pinjem tipeks?"

"Oh, oh iya boleh!" Rin buru-buru buka kotak pensilnya dan menyodorkan tip-x pada Kakashi, "Pelan-pelan aja nulisnya, santai… hehe."

Kakashi mengangguk dan mengambil tipeks tersebut untuk segera digunakannya. Rin tertunduk hampir mau jedukin kepala di atas meja. Duh, apaan itu tadi gue? Cengar cengir. Nggak banget! Batin Rin menyesali ekspresi saltingnya.

"Kok lo nggak ngasih gue tipeks sih?" Obito protes, "Udah tau gue juga butuh!"

"Buat apaan?"

"Ya buat nambel yang salah lah. Nih yang lo bilang tulisan dokter nihhhh!"

"Yee, kalo yang kayak gitu mending ganti lembar aja. Masa satu lembar mau lo tipekin semua?"

"Oh iya," Obito cemberut kalah, lalu melanjutkan kegiatan menulisnya dengan sedikit santai agar terbaca nantinya oleh Rin.

"Makasih," Kakashi menaruh tipeks dan sebuah buku tulis di atas meja Rin.

"Sama-sama—eh, ini bukunya ketinggalan!" Rin mencolek punggung Kakashi. Cowok berambut perak itu menoleh sedikit, "Pake aja dulu buat nyalin, nggak kelihatan kan?"

Nggak tau kenapa muka Rin bersemu merah terus tertunduk senyum-senyum malu. "Thanks, ya."

Obito lagi-lagi melirik sebal. Apa lagi melihat kedua mata Rin memandang takjub tulisan tangan Kakashi yang mirip dengan font Monotype Corsiva.

Maho. Tulisan kayak cewek. Dumel Obito dalam hati.

Istirahat di lorong sekolah.

"Aaah gila gila gila…!" Rin memegang kepalanya sendiri hingga kuncirannya agak berantakan. "Kakashi tadi ngomong ke gue, Ra!" bisiknya nyaris histeris.

"Ya terus?" Sakura bertanya polos. "Pinjem tipeks aja udah kayak abis ditanyain kencan."

"Bukan ituuu." Rin tolah toleh sebelum melanjutkan. Ini nih sifat Rin yang kumat kalau menyangkut Kakashi, lebay. "Dia tau-tau udah minjemin bukunya gara-gara tau gue nggak keliatan papan tulis."

"Menolong sesama umat manusia apa salahnya? Apa lagi yang kurus kecil kayak lo gini?" balas Sakura masih nggak ngerti apa yang kudu dihisterisin.

Rin cemberut akhirnya melihat Sakura sinis, "Berasa bohay, Non? Lo gak tau sih gimana cara dia berbicara dan menatap sama gue!"

"Kayak gimana emang?"

"Ya mana bisa gue contohin, gue kan bukan Kakashi—"

Omongin Rin terpotong karena terdengar sorak-sorai murid laki-laki di kantin, "MATI-MATI-MATI!"

Terlihatlah Naruto tersedak parah sedang makan ramen bersama Obito.

"Buset, cowok lo abis nggak makan seminggu, Ra?" gumam Rin.

"NGGAK MAKAN DARI SD!" balas Sakura. "Dan dia. Bukan. Cowok. Gue!"

Rin nyengir, pandangan pura-pura sebal Sakura kini berubah karena melihat cowok berambut raven yang baru saja lewat. Ih, gantengnya. Ekspresi Sasuke sedang datar dan cool nggak ketulungan.

Tiba-tiba lagu Gangnam Style terdengar. Sontak saja beberapa murid laki-laki dari kelas Sakura yang berada di kantin itu mengejek Sasuke dengan dance Gangnam. Sepertinya lagu itu memang diputar sengaja.

Tak sengaja Sakura melihat Naruto yang habis pergi dari stand ramen dengan wajah cemberut kini jadi gembira melihat Sasuke. Cowok pirang jabrik itu pun ikut mengejek Sasuke bahkan lebih heboh joget Gangnamnya.

Sasuke yang wajahnya datar itu nampak tidak mengerti. Cukup membuat Sakura bertanya-tanya dengan ekspresi aneh Sasuke yang sedang memicingkan mata dengan mengerutkan alis.

"Gak jelas banget idup lo," ketus Sasuke melengos pergi beli jus. Meninggalkan Naruto dan kawan-kawan kelasnya ketawa girang.

"Apaan sih itu temen lo? Nggak jelas banget?" tanya Rin yang nggak ngerti duduk perkaranya. Dan setelah Sakura cerita, Rin tertawa tiada hentinya.

Di meja kantin.

"Serius begitu?" tanya Rin masih nggak percaya.

"Andai aja gue nggak ngabisin waktu buat mangap pasti udah gue rekam buat koleksi pribadi." Sakura menyedot es dari gelas plastiknya. Rin tertawa lagi. "Masa sih?"

"Iya. Ah, nggak lucu tau."

"Selera humor lo butuh diservis tuh, masa iya lo nggak ketawa minimal senyum waktu lihat?"

Sakura menggeleng dan mengangkat bahu. "Ada yang aneh sama dia, nggak tau apaan."

"Ganteng-ganteng, paradorks," Rin tersenyum sumringah, selain riwayat hidup cowok yang Sakura sukai kali ini sudah dinodai, efek suara Kakashi di kelas tadi masih membiusnya dengan bunga-bunga bertebaran (khayalan Rin doang).

Pulang sekolah.

"Hai…"

Sakura dan Rin yang lagi jalan berdua sambil ngobrol pun berhenti tepat di depan parkiran. Nampak Naruto dan Obito yang sudah siap siaga dengan kendaraan masing-masing. Bedanya, Naruto bawa mobil sedangkan Obito bawa vespa.

"Sorry, ya, lo kepanasan naik vespa pulang sama gue," Obito menyodorkan helm kumbang pada Rin, "Tar kalo gue udah kerja dan kaya, gue janji anter pulang pake mobil!"

Sebenarnya Sakura dan Rin cukup kaget karena mau diantar pulang Naruto dan Obito. Tapi toh nggak dosa juga manfaatin fasilitas yang ada.

Rin manggut-manggut sambil pasang tali helm kumbangnya, "Santai aja, To. Ada tebengan pulang aja gue udah berterima kasih. Kebetulan kantong seret euy."

"Nar," Sakura berbisik.

"Ya, Sakura-chan?"

"Kenapa lo bawa mobil, sih? Malu diliatin anak-anak satu sekolah. Emangnya lo punya SIM?"

"Oh tenang saja surat-surat semua lengkap!"

"Tapi gue malu, Nar, kalo naik mobil…" bisik Sakura lagi.

"Kok lucu? Orang mah bangga pulang pake mobil. Kenapa Sakura-chan malu?"

Sakura menampar jidatnya sendiri, "Mending lo bawa vespa aja besok, Nar. Baru kita pulang bareng, dah yak." Sakura menepuk bahu Naruto yang lebih tinggi darinya dan berniat melengos tapi ditahan.

"Eit, eit," Naruto menggenggam pergelangan tangan Sakura, lalu menoleh ke Obito yang sudah siap-siap nyuruh Rin pegangan erat. "To, pinjem vespa lo dong."

"Enak saja… tidak bisa…" sahut Obito, "Tar gue pulang naik apaan? Rin terlantar, gue merana juga."

"Pake mobil gue, tukeran." Naruto melempar kunci mobilnya dan langsung ditangkap sigap oleh Obito yang bingung. "Stres lo ya?"

"Cepetan turun aja," Naruto berkata agak nggak sabar. Obito pun menyuruh Rin turun dan melepas helmnya, membantu Rin melepas helm dan memberikan kedua helm itu pada Naruto dan Sakura.

"Mesin masih nyala, tau kan cara ngoper gigi vespa?" tanya Obito tanpa menunggu jawaban Naruto langsung menggeret Rin untuk ia persilakan masuk layaknya puteri.

"Eh, eh, kok?" Rin nggak ngerti terduduk di bangku sebelah supir. Obito segera duduk di kursi supir dan menyalakan kontak mobil. "Kapan lagi Rin, naik mobil ber-AC."

"Emang lo bisa nyetir, To?" tanya Rin was-was. "Lo punya SIM mobil, To?"

Mobil melaju keluar gerbang dengan kerennya. Di dalam mobil terasa nyaman dan sejuk, kontras dengan cuaca luar yang terik.

"Nggak punya," jawab Obito santai, "Tapi bisa kok."

Oh iya, Rin lupa Obito temenan sama sopir angkot dan kopaja Konoha.

"Mobil matic gini sih gampil. Kayak mainan. Mau coba?"

"TO! PELAN-PELAN, TO! GUE BELUM MAU MATI!"

"Ini pelan kali."

"REM! REM! DEPAN ADA MOBIL!"

Obito tertawa setelah berhasil melewati mobil sedan yang mau melintang di persimpangan jalan.

Yah, Rin lupa lagi kalau sopir kopaja Konoha yang menjadi teman-teman Obito itu terkenal ugal-ugalan.

"INI BUKAN SYUTING FAST AND FURIOUS, TO! PELAAAAN!"

Nun jauh di belakang mobil yang ditumpangi Obito dan Rin.

"Pergi di hari Minggu… bersama pacar baru…" senandung Naruto asyik ngendariin vespa dengan Sakura yang bonceng miring di belakangnya. "Naik vespa killing kota… sampai binaria~ hatiku jadi gembira~!"

Sakura pura-pura nggak denger kalau Naruto sedang nyanyi lagu Naif yang berjudul Piknik.

"Sesampainya di sana, duduk dua-duaan, makan roti buaya, dengar lagu kitaa~! Kita menarik bersamaaa. Di batang pohon kan kuukir nama kita… tanda sayang selalu~!"

"Nar, diem ah." Gerutu Sakura, "Suara lo nggak ada mirip-miripnya sama David Naif."

Naruto meringis ketawa aja, tahu kok Sakura cuma pura-pura ngegerutu.

"Dan lagi, ini hari senin, bukan minggu, Nar!"

Tuh, bener kan. Naruto menyeringai, "Mau banget gue nyanyiin buat lo?"


Tamat atau bersambung XD aku nggak janji… moodnya lagi jelek. Iseng buka Ms Word buat tulis lanjutin ini. Eh sampe juga ngga putus-putus hingga berakhir XD makasih buat KAMU yang masih mau baca sampai sini ;) btw itu lirik yang masuk ke dialog nggak melanggar guidesline kan? #jiper