Forever

Title: Forever (Sequel of 'Last Gift)
Author: Clover*Crimson
Rate:
PG
Length: One-shot
Pairing(s): JongKey
Disclaimers: I do not own the characters, only the story.


"Sayang, kita harus pergi sekarang."

Seorang wanita paruh baya yang selalu kupanggil umma menepuk pundakku lembut. Aku meminta waktu sebentar lagi.

Terlalu sulit untuk pergi. Terlalu sulit.

"Anakku, kau pulang juga akhirnya." Appa memelukku lembut. Aku membalas pelukannya.

"Aku rindu pada kalian." Kataku lembut.

"Kami juga, sayang. Ayo sekarang kita makan malam. Perjalanan dari sana cukup jauh kan? Kau pasti lelah." Umma melepas jaketku dan menggantungkannya di kursi. Aku mengecup pipinya.

"Aku kangen masakanmu, umma." Kataku sambil tersenyum.

"Bagaimana di sana? Kudengar kau tambah sukses?" Appa memulai pembicaraan.

"Begitulah. Aku juga senang sekali. Oiya, appa, umma... Aku punya sesuatu untuk di katakan. Aku tidak ingin berbohong pada kalian..."

"Apakah itu sayang?"

"Aku... Sudah setahun berpacaran dengan Jonghyun, teman satu grup ku.."

"Eh?"

"Maafkan aku! Aku tahu kalian ingin aku menikah dengan seorang perempuan, tapi entah sejak kapan, dia membuatku jatuh cinta. Aku senang bersamanya... Maafkan aku, umma... Appa..." Air mataku mulai menggenang.

"Kibummie sayang..." Umma mengusap tanganku lembut. "Kami bahagia jika kau bahagia. Kalau kau memang memutuskan untuk bersamanya, kami tidak apa-apa..."

"Lain kali, bawa dia ke sini untuk diperkenalkan pada kami!" Appa tertawa senang. Senyumku merekah. Aku memeluk mereka berdua sambil menangis.

Beberapa hari aku tinggal di rumah orang tuaku dan pulang saat malam natal. Aku tidak tahu harus bersikap apa pada Jonghyun. Aku kan tidak sempat bilang padanya kalau aku pergi ke rumah orang tuaku. Semoga ia tidak marah.


Onew yang menjemputku di stasiun, tapi ia tidak membawaku pulang ke rumah. Padahal ini sudah hampir tengah malam. Ia membawaku ke sebuah danau dan aku di suruh berjalan ke arah pohon besar di sana. Ia pulang begitu saja meninggalkanku sendirian. Padahal aku ingin pulang dan segera bertemu Jonghyun. Aku menghela nafas lalu berjalan ke arah pohon besar itu. Aku melihat sesosok yang sangat kukenal.

"Jonghyun?" Aku memanggil ragu. Ia menoleh.

"Key! Akhirnya kau pulang! Kenapa kau tidak memberitahuku kalau kau pergi?" Ia memelukku. Badannya bergetar kedinginan.

"Maaf. Aku sebenarnya ingin sekali memberitahumu, tapi tidak sempat. Oiya, kenapa kau memanggilku kesini?" Aku bingung dan membalas pelukannya.

"Merry christmas!" Jonghyun bersorak. Tiba-tiba pohon natal di depanku menyala terang dengan lampu-lampu hias. Aku sangat terkejut.

"Ini—"

"Hadiah untukmu. Ini eve pertama kita kan? Aku ingin membuatnya lebih spesial. Aku juga punya kado untukmu" Jonghyun mengeluarkan sebuah kotak biru kecil dengan pita pink.

"Apa ini?"

"Hanya kado kecil. Bukalah." Ia tersenyum. Aku perlahan melepas pita yang kemudian ku simpan di saku. Aku membuka kotaknya dan...

"Jonghyun... Ini bukan kado kecil namanya." Aku tersenyum senang lalu mengambil cincin perak dan menyadari tulisan di dalamnya. "Yongwonhi..." Aku berbisik. Air mataku perlahan mengalir. Mengalir bersamaan dengan turunnya salju pertama.

"Key? Kenapa menangis? A... Aku berbuat salah?" Jonghyun terlihat kebingungan. Aku menggeleng.

"Ani... Ini terlalu banyak untukku. Tapi aku punya satu permintaan lagi, boleh kan?" Kataku sambil terisak.

"Tentu saja."

"Pasangkan cincin ini di jariku?" Dia tersenyum senang dan perlahan memasangkan cincin perak itu di jari manis ku. Sangat pas.

"Saranghae." Katanya. Entah kenapa aku membalas.

"Nado saranghae." Aku kemudian memakai pita pink pemberiannya di pergelangan tangan kiriku. Cocok sekali.

Aku memeluknya. Rasanya aku makin sayang padanya. Aku memang tidak terlalu suka menunjukkan perasaanku, tapi kali ini.. Tak apalah. Ia sudah berusaha keras. Dia melonggarkan pelukannya dan mencium bibirku lembut. Aku terkejut tapi aku membalasnya. Ia masih menciumku dan entah kenapa aku senang. Ini ciuman pertamaku dan Jonghyun. Kami tersenyum dan kembali ke rumah sambil berpegangan tangan.


Esoknya aku mendapat telepon dari umma. Ia berkata bahwa appa sakit keras. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Tahun baru semakin dekat dan jadwal kami penuh. Aku meminta maaf sedalam-dalamnya pada umma dan berjanji akan pulang secepatnya. Aku berdoa agar appa segera sembuh.

Tahun lalu datang dengan cepat. Di pagi yang cerah agak berawan ini, aku mendapat telepon dari umma yang berkata bahwa appa sudah meninggal. Semua terasa tidak nyata. Aku hanya bermimpi kan? Kenapa begitu cepat appa meninggalkanku? Aku bahkan belum sempat menemuinya... Padahal, sebentar lagi aku bisa pulang...

Aku bertekad untuk memenuhi janjiku pada appa dulu, aku akan menjaga umma. Aku berjalan ke arah kantor SME dan bertemu dengan direktur disana. Aku meminta untuk bicara sebentar.

"Ada apa Key?" Ucap Sooman dengan nada khawatir.

"Ajusshi... Aku... Aku ingin berhenti."

"Berhenti? Waeyo?"

"Appa ku sudah tiada, jadi hanya aku yang bisa mengurus umma... Aku minta maaf yang sebesar-besarnya."

"Tidak apa Key, aku mengerti situasimu. Tapi aku akan selalu menyambutmu jika kau ingin kembali."

"Terima kasih ajusshi... Aku permisi dulu."


Pertengahan bulan semi, aku memutuskan semuanya. Walau ini berat, tapi aku dan umma akan pindah ke Amerika. Ini semua demi kebaikan umma. Dan Jonghyun... SHINee... Aku tidak tahu. Yang jelas, aku harus meninggalkan mereka. Aku tidak tahu bagaimana cara untuk berpisah... Aku tidak ingin membohongi Jonghyun.. Aku tidak tahu apakah aku akan kembali ke Korea atau tidak. Aku ingin dia agar tidak terikat denganku. Cincin ini akan lebih cocok dipakai seseorang yang akan mendampinginya nanti. Aku akan mengembalikannya.

"Kau tidak kedinginan?" Ucap Jonghyun yang datang sesuai dengan sms yang ku kirim. Ia memelukku.

"Tidak, lepaskan aku Jonghyun. Aku baik-baik saja."

"Kau terlihat pucat!"

"Tenang, dengarkan aku dulu."

Ia terdiam mendengarkanku. Aku menatapnya dalam-dalam, menunduk, mengambil nafas lalu akhirnya aku berkata,

"Maafkan aku."

Ekspresinya berubah drastis. Langit semakin gelap. Dan ia terdiam kaku. Aku merasakan sakit yang amat sangat di hatiku. Tapi aku bersikap tegar. Tidak boleh ada air mata hari ini.

"Key? Maksudmu? Kau tidak salah apa-apa kok—" dia berusaha mengubah suasana yang mulai suram, tapi aku bersikap tegas.

"Maafkan aku."

Aku merogoh saku ku dan mengambil cincin dengan ukiran 'Yongwonhi.' Di dalamnya. Aku tersenyum simpul. Meraih tangannya lalu meletakkan cincin perak itu. Terima kasih untuk semua kenangan indah selama ini, Jonghyun. Aku mencintaimu.

Aku berbalik dan meninggalkannya. Rintik hujan mulai turun dan makin lama makin deras. Ia tidak bergerak. Akupun tak peduli pada hujan. Setelah berjalan cukup jauh, aku bersandar pada sebuah pohon besar. Air mataku mengalir. Ini semua keputusanku, ini semua benar. Aku tidak ingin membuat kedua orang tuaku sedih. Aku ingin Jonghyun mendapatkan seorang gadis, bukan aku. Ia akan lebih bahagia bersama seorang perempuan, dibandingkan denganku yang laki-laki. Aku mengusap air mataku yang sedikit demi sedikit keluar bergabung dengan air hujan.

Kenapa aku begitu mencintainya?

...

You.. please say something..

that your heart is aching with longing too, like me.. tell me

my heart stops.. i can't breathe.. my wounds don't heal

i patch up the empty holes you left with tears today too

by any chance, would you go there? think about me occasionally?

thinking this, i go crazy. do you know this heart of mine?

i love you i love you. i promise you.. i'll hold your hand tight.

i'm sorry i'm sorry.. come back to me. press the reset


Aku meninggalkan sepucuk surat untuk para memberku. Aku merasa amat bersalah. Sekarang aku akan meninggalkan semuanya. Hanya satu langkah lagi menuju pesawat tapi rasanya berat sekali. Terlalu berat.

"Sayang, kita harus pergi sekarang."

Seorang wanita paruh baya yang selalu kupanggil umma menepuk pundakku lembut. Aku meminta waktu sebentar lagi.

Terlalu sulit untuk pergi. Terlalu sulit.

Aku tidak ingin meninggalkan kenangan ini. Walaupun aku harus.

Aku merogoh saku tas tanganku dan menemukan pinta pink kecil. Aku berusaha tersenyum walaupun air mataku tidak dapat berhenti mengalir. Aku memakai pita itu. Umma mendekatiku.

"Sayang.. Apakah kau yakin dengan keputusanmu? Umma tidak akan memaksamu."

"Tidak, umma.. Aku sudah yakin..."

"Biarkan umma memelukmu. Jangan menangis lagi ya?"

"Maaf telah membuatmu khawatir, umma..."

"Tidak apa, sekarang kita berangkat ya?" Ia tersenyum. Aku mengangguk.

...

Just know before you go that I was the one man who loved you only

I was a stupid idiot who couldn't even protect you because I was so foolish

You might suffer more and collapse if you stay by my side until the end

I did the right thing, someone who can free you will come to your side, will come to your side


5 tahun kemudian...

...

Aku masih belum bisa melupakanmu...

...

Aku memakai topi dan kacamataku. Sudah setahun tepatnya sejak umma menyusul appa. Sekarang aku memutuskan untuk kembali ke Korea. Tidak ada lagi yang bisa kulakukan disini. Atas saran umma, aku melakukan debut di Amerika, tapi dengan mudah aku melepaskan kerja kerasku selama 3 tahun dan memutuskan untuk kembali ke Korea. Aku tidak tahu apa yang akan kulakukan disana. Tapi aku masih ingin bernyanyi. Aku berharap Lee Sooman ajusshi masih mengingatku.

Aku bukannya tidak ingat. Aku hanya tidak ingin mengingat. Aku tidak ingin mengakui bahwa aku masih tidak bisa melupakannya. Tapi mana mungkin ia masih mengingatku? Hanya aku yang tenggelam begitu jauh dalam pikiranku. Kudengar ia sudah bersama seorang gadis, ah? Kalau tidak salah namanya Shin Saekyung-ssi. Dia memang manis. Dia cocok bersama Jonghyun.

Aku melihat ke arah pergelangan tangan kiriku. Pita pink masih ada di sana. Aku tidak ingin melepasnya.

Yak disinilah aku.

Kembali ke negriku, Korea.

Rasanya sudah berpuluh-puluh tahun aku meninggalkan korea. Aku meneteskan air mata. Segera memakai masker, kacamata dan topi. Lalu beranjak ke sebuah gedung. Aku tidak punya rumah di Seoul selain rumahku bersama SHINee. Aku segera naik ke lantai dimana kantor ajusshi berada. Aku mengetuk dan dijawabnya.

"Key?" Ia terkejut melihatku masuk.

"Ajusshi... Sudah lama tidak bertemu." Aku tersenyum.

"Key, kau sudah besar sekali sekarang... Ada gerangan apa kau kembali?"

Aku menceritakan semuanya, mulai dari debut di Amerika hingga umma ku yang meninggal. Ia mendengarkan dengan seksama.

"Aku masih ingin berkarir. Aku masih ingin bernyanyi. Masih ada tempat kah buatku?"

"Kau selalu mempunyai tempat itu, Key. Tempat yang tak kan pernah bisa digantikan siapapun."

Aku bingung dengan jawaban ajusshi tapi terus mendengarkan. Ia tersenyum ramah dan menggenggam tanganku erat. Ia menghela nafas lalu tersenyum penuh rasa sayang.

"SHINee..." Ia berkata. "Akan selalu menjadi tempat untuk kau pulang."

...

Baby our love itself brings us pain

And I got nothing, nothing to say

Tell me goodbye, tell me goodbye

those hands that embraced me

Tell me goodbye, tell me goodbye

seem to be letting go

if forgetting me will give you freedom Baby

Tell me goodbye, tell me goodbye

...

Aku tidak langsung pulang. Aku bertemu dengan teman-temanku yang masih bekerja di SME dulu tapi aku belum bertemu memberku sama sekali. Mereka ada dimana? Di ruang latihan?

Saat aku ingin berbelok, seseorang tiba-tiba muncul dan menabrakku. Ia terjatuh.

"Ah, mian." Aku mengulurkan tangan, rasanya ia terlihat familiar.

"Gwaenchana. Aku tidak-" ia terdiam saat memegang tanganku dan segera menoleh ke arahku.

...

She comes back and says she's sorry

The skilled hands that I missed caress my own

The apologetic eyes that look at me, the voice I want to hear

Tenderly telling me not to cry

If I hold you in my arms, you disappear and

The tears flow and my pillow becomes wet

At last I wake up from my sleep

Morning is always like this… My Love

...

Apakah tuhan akhirnya menunjukkan sesuatu yang ia sebut takdir? Aku tak kuasa menahan air mata. Tapi semua itu tidak bisa diungkapkan. Tak ada air mata yang keluar. Mereka hanya mengenang di pelupuk mataku. Yang terasanya hanyalah rasa sakit yang amat dalam saat melihat sosoknya.

"A..ah.. Jonghyun-ah? Apa kabar?" Aku bertanya kaku.

"B.. Baik. Kau sendiri?"

"Begitulah.."

"Kapan kau kembali?"

"Baru saja. Hari ini."

Lalu kami terdiam. Tak ada yang bicara sampai aku melangkahkan kaki untuk berbalik arah. Tapi tangannya menangkap tanganku.

"Kau mau kemana?"

"P..pulang?"

"Pulang? Kau mau pulang?"

"Y...ya. Lagipula aku tidak ada urusan lagi disini."

"Biarkan aku mengantarmu." Ia menarik tanganku.

"Mengantar? Yah! Kau bukan mengantar tapi membawaku tahu!"

Jonghyun tetap tidak menjawab dan aku pasrah ditarik olehnya ntah kemana. Entah seberapa aku merindukan genggaman tangannya ini. Tidak ada yang berubah, kehangatannya masih sama.

"Kita sudah sampai." Katanya saat kami semua sampai di depan pintu. Aku ingat ruangan ini. "Selamat datang di 'rumah'" ia tersenyum saat membukakan pintu.

...

I'm dreaming again, right? Cold sweat runs down me

It hurts to dream of things I hate to even remember

I can't do anything all day long

We'll spend time together, right my Love?

I hope I fall asleep forever like this

I wake up with her presence still…

Although I hope I don't dream again,

Today too, it seem I fall asleep with her presence

...

"..." Aku tak sanggup berkata apa-apa saat kulihat Minho, Taemin, Onew, beserta teman-teman dan para staff yang kurindukan. Taemin berlari memelukku.

"HYUUUNG! Kau kemana saja selama ini. HUAAAA" ia menangis sejadi-jadinya di pelukanku. Minho terlihat terharu dan Onew menghampiriku untuk memeluk.

"Selamat datang, 'Umma'" ucapnya sambil tersenyum. Air mata menggenang di mata sipitnya itu.

...

If I could only see you again today, If you come back again…

If you slept by my side just once more, if it happened once again

I wouldn't want to wake up

If I could fall asleep…

...

"Aku... Pulang." Tanpa sadar mulutku berkata sayu. Air mata mengalir deras dari mataku. Aku merindukan kalian semua. Aku merindukan pelukan kalian. Aku merindukan 'rumah' ini...

"Key..." Jonghyun mendekat. "Apakah perasaanmu masih sama?" Ia bertanya tiba-tiba. Aku terdiam sebentar lalu mengusap air mataku.

"Aku tidak pernah berubah."

Ia menyelipkan cincin perak berukiran 'Yongwonhi' di jari manisku yang kuyakin tak akan kulepas lagi. Ia tersenyum, aku membalasnya. Ia mendekat dan menciumku lembut.

...

My love, my girl

I'll swear my love

Saying I love you

I want to do it every day for a lifetime

Would you marry me

Loving and cherishing you

I want to live this way

Every time you fall asleep

I want it to be in my arms

Would you marry me

Would you consent to this heart of mine

For a lifetime I'll be by your side, I do

Loving you, I do

Cherishing you through the snow and rain, I do

I'll protect you, My love

...

Ku yakin, kata ukiran cincin itu... Adalah sebuah janji yang tak akan bisa putus, atau bahkan terlupakan. Sejauh apapun tuhan memisahkan kita, hati kita tetap bersatu. Mau sedahsyat apapun rintangan yang Ia berikan, jiwa kita tetap bersatu.

Selamanya.

...

Even as we age

I want to go about it smiling

Would you marry me

Would you spend my days with me

Through hardships and difficulties, I do

I'll always be there, I do

Through our many days together, I do

I'll be thankful every day, My love

Accept this shining ring in my hand

That I've prepared from awhile back

With the same feelings today

I'll remember the promise made right now

Would you marry me

For a lifetime I'll be by your side, I do

Loving you, I do

Cherishing you through the snow and rain, I do

I'll protect you, My love

I have nothing else to give you but love

That's all, hardly valuable

Though I'm clumsy and am lacking

My love, my girl

I'll protect you

Will you promise me just one thing

That no matter what happens

We will love each other

That's it

...

"Yongwonhi"

...

-THE END-