Oke, fic akan berlanjut. Persembahan dari Hana untuk fandom Tekken tercinta (?).

Arigatou kepada para pembaca yang telah review, makanya fic ini dilanjutin XD

Rating diubah, karena di fic ini juga ada yang diubah (iyalah).

Lagi ga pengen ngomong. RnR aja ya!

*~*~*~*~*

"Take Me Out Versi Tekken"

Summary : Tekken chara yang sudah bosan melajang memutuskan untuk ikut suatu acara! Apa yang akan terjadi ?

Pairing : Banyak, tinggal dikeluarin satu-satu.

Warning : AU, OOC, masih gaje dan straight, no humor (maunya sih ada).

Keripik and wafer appeared. Sedikit bashing chara (sekali-kali boleh dong).

Disclaimer : Tuh, yang punya *nunjuk lambang Namco*

*~*~*~*~*

Jeng! Jeng! Jeng! (musik ala Take Me Out lagi)

Penonton bertepuk tangan. Soalnya sudah disuruh.

"Kembali lagi di acara Take Me Out Versi Tekken! Bersama dengan saya Miguel, MC paling ganteng (gelandangan tengik) sejagat raya." Miguel narsisnya kambuh. "Sekarang kita sambut, pria single ketiga!"

Tirai mulai terangkat, memunculkan sosok homosapiens dibaliknya. Lagu yang diputar menjadi "Tak Gendong" oleh almarhum Mbah Surip.

Pria single yang tak berbentuk muncul dari balik tirai. Rambutnya pirang, kaku, dan 'jabrik' keatas. Badannya besar, memakai outfit pengendara motor yang biasa berurusan dengan Kapolda setempat. Pria itu berjalan ke tengah panggung.

"Selamat malam, Paul Phoenix." Miguel berusaha seramah mungkin. "Maafkan penata suara kami yang kurang becus itu, no offense ya." Lanjutnya. "Silakan perkenalkan dirimu."

"Namaku Paul. Umurku sudah 48 tahun, tapi selalu terlihat muda." Kata-kata Paul sukses membuat satu studio muntah di tempat. "Aku bekerja di rumah pemotongan daging, lalu dipecat, di bengkel mobil, dipecat lagi, di restoran, kembali dipecat, tukang sate, dipecat, peternak bebek, dipecat, toko pakaian dalam…"

"Sudah cukup, tidak usah diteruskan. Ladies, tentukan pilihanmu sekarang." Miguel tak peduli pada Paul yang kesal karena omongannya dipotong.

Jleb!

Semua lampu mati bersamaan. Tidak ada yang menyala lagi. Sampai lampu studio juga mati (pemadaman bergilir kali).

Akhirnya lampu studio menyala lagi, tapi yang ada di podium tidak. Penonton bertepuk tangan.

Maaf Paul, sepertinya cintamu tidak ada disini. Kau akan menemukannya di tempat dan waktu lain. Pergilah, jangan datang lagi." Miguel berkata dengan nada mengusir. Paul diam saja, dalam hati ia menangis meraung-raung.

"Lihat keadaan disana, Zafina!" Miguel melanjutkan.

"Ya, sekarang saya sedang bersama Paul. Bagaimana perasaanmu setelah ditolak semua wanita?" Zafina terlihat bersimpati, padahal tadi dia yang matiin lampu seluruh studio.

"Aku betul-betul merasa sedih, terpukul, terluka, tersakiti, tertusuk, teraniaya, tercabik-cabik, ter…" Paul ngomong sampai berbusa.

"Sudah Paul, aku mengerti kesedihanmu. Silakan pergi. Miguel benar, jangan kembali lagi. Setiap orang ada jodohnya." Zafina turut mengusir. "Kembali ke Miguel!"

"Oke. Ladies, mari kita sambut pria single keempat!" Miguel berseru. Lagi-lagi tirai terangkat. Penonton bertepuk tangan.

Entah kenapa lagu yang diputar menjadi "We Are The Champion". Dari balik tirai muncul sesosok mahluk setengah manusia, setengah jaguar (untung gender-nya ga setengah-setengah, hihihi). Outfitnya jubah dan celana hitam, sepatunya juga.

Mahluk eh, pria itu berjalan ke tengah panggung sambil melakukan beberapa gerakan smackdown dengan semangat, sampai six-one-nine juga. Beberapa menit kemudian, barulah ia sampai ke tengah panggung. Penonton (harus) bertepuk tangan.

"Selamat malam, King!" Miguel ikutan semangat. Miguel sudah memegang kamus elektronik ditangannya, tidak tahu untuk apa. "Silakan perkenalkan dirimu."

"Groar, groar groar groar, groar groar groar groar, groar groar, groar groar…" King mulai ngomong dengan bahasa antah-berantah.

(no offense ya, author juga ngetiknya pakai copy-paste).

"Artinya, namaku King. Umurku 30 tahun, tinggi 200 sentimeter, berat 130 kilogram…" Miguel memakai kamus elektronik untuk mengartikan omongan King. "Aku seorang wrestler, menyukai anak-anak dan Tequilla." Miguel tidak percaya barusan dia ngomong apa.

"Hobiku menolong anak-anak yatim, merayakan kemenangan dengan sahabat, dan jika sempat aku menghibur anak-anak." Miguel mengakhiri kalimat King. Ngomong tidak jelas, tapi panjang juga. "Ladies, tentukan pilihanmu sekarang."

"5…4…3…2…1…selesai!" Miguel menghitung. Ternyata Paul kalah dengan King, buktinya yang menyalakan lampu masih ada. "Silakan, Zafina."

"Anna, kenapa lampunya dimatikan?" Zafina bertanya. "Habis, dia ngomongnya tidak jelas begitu. Nanti aku susah berkomunikasi dengan dia, meski dia mengerti bahasa manusia normal." Anna berkomentar.

"Bagaimana denganmu Lili? Kau tetap menyalakan lampu." Zafina mulai bosan terus menanyakan soal lampu. "Meski ngomongnya begitu, kan dia bisa diajari bahasa manusia. Lagipula, mungkin saja sebetulnya dia ramah, baik, dan tampan." Lili ngomong sambil senyum-senyum.

"Langsung saja, Miguel." Zafina mengoper ke Miguel.

"Masih ada empat yang menyalakan lampu. Lili, Julia, Nina, dan Jun." Miguel sempat bingung ketika menyebutkan nama dua orang terakhir. "Silakan beri pertanyaan, King." Miguel sudah siap dengan kamus elektronik-nya.

"Groar groar groar groar, groar groar groar groar, groar groar?" King mengajukan pertanyaan dan segera di-translate oleh Miguel. "Menurut kalian jika aku ganti topeng, pantasnya diganti topeng apa?"

"Topeng kelinci! Biar lucu, kayak aku." Lili menjawab dengan tingkat narsis lumayan parah.

"Mau yang garing? Keripik singkong!" Dari Romantic Room terdengar suara Hwoarang. Lili langsung diam.

"Topeng singa. Keren, cocok buat kamu." Nina menjawab singkat.

"Topeng Kucing. Lebih jinak dari jaguar."Jun menjawab dengan jiwa penyayang-nya.

"Topeng bison! Kuat dan gagah!" Julia menjawab dengan semangat.

"Silakan tentukan pilihanmu King, matikan dua lampu." Baru saja Miguel berwasiat, King sudah mematikan lampu dipodium Lili dan Jun. Untung saja, keduanya tidak mengikuti jejak Leo yang masih terkapar di lantai.

"Pertanyaan berikutnya." Miguel sudah menyiapkan kamus.

"Groar groar groar groar groar groar, groar groar groar groar?" King mulai membacot lagi.

"Begini translate-nya, Seberapa cinta kalian dengan alam, tempat tinggal para jaguar?" Miguel mengartikan.

"Tidak hanya alam jaguar, aku sangat mencintai alam! Alam adalah tempat kita berasal, kita harus menyayangi dan mencintainya. Cara bicaramu yang ke-alam-alaman turut kucintai." Julia menjawab.

"Aku menyukai alam, jika alam tersebut turut menyukai kita." Nina menjawab dengan singkat lagi.

"Oke, silakan pilih pasanganmu, King." Lagi-lagi baru selesai Miguel ngomong, King sudah mematikan lampu podium Nina tanpa muter-muter dulu. Nina hanya bisa pasrah.

"King, kenapa memilih Julia ? Untuk terakhir kali akan ku-translate kata-katamu." Miguel sudah bosan memakai kamus elektronik yang large size itu.

"Groar, groar groar groar, groar groar groar groar, groar groar, groar groar…" King menjelaskan.

"Katanya, Julia gadis yang baik. Ia tidak menilai penampilanku, cara bicaraku, pokoknya tidak menilai dari luar. Kami juga sama-sama mencintai alam dengan sepenuh hati."

Miguel kembali mengartikan. "Bagus, silakan kalian berdua menuju ke Romantic Room."

Tanpa basa-basi, King menarik tangan Julia. Dengan sedikit terseret-seret keduanya menuju Romantic Room.

Zafina mengambil alih, "Satu pasangan lagi kita dapat! Sungguh beruntung para pasangan dan kru acara ini! Mari kita tanyakan pendapat madam cinta. Bagaimana madam ?"

"Saya cukup menyukai pasangan ini. Betul-betul pasangan yang alami, keduanya cocok. Mungkin alam yang mempertemukan mereka." Madam cinta ngelantur. Penonton tetap bertepuk tangan.

"Ya, giliranmu Miguel!" Zafina mengoper lagi.

"Pemirsa, kita sudah sampai ditengah acara. Kami telah mengundang bintang tamu untuk memeriahkan acara kita. Mari kita sambut, Lee Chaolan!"

Miguel kabur ke sisi panggung, berkumpul dengan Zafina dan madam cinta. Panggung segera dipenuhi oleh kepulan asap, yang merupakan campuran dari dry ice dan asap kompor tetangga sebelah.

Dari backstage muncul seorang pria berambut putih, namun bukan ubanan. Ia sudah lumayan tua, tapi masih ngaku eksekutif muda. Ia memakai baju dan celana motif bunga yang dibeli di pasar malam, tapi ngakunya beli di Bali. Kacamatanya hitam tebal yang dijual sepuluh ribuan di Dufan.

Itu dia si bintang tamu, Lee Chaolan.

Lee berjalan agak meregangkan kakinya (sehingga tampak seperti orang yang baru disunat). Tangannya melambai-lambai ala miss universe. Penonton menjerit-jerit heboh, bukan karena mereka nge-fans. Tapi karena mereka histeris dan ketakutan.

Tiba-tiba panggung menjadi lebih terang. Lee mengangkat wajahnya, dan melepas kacamatanya. Lalu ia memberi aba-aba.

"MUSYRIK!!! eh, MUSIK!!"

Ngek…ngek… ngok… ngek…ngek… (anggap saja musiknya)

Para pemain musik segera memainkan musik pengiring lagu "Madu Tiga" oleh Mas P. Ramli lalu dipinjam Mas Ahmad Dani.

Penonton bertepuk tangan, tentu saja karena terpaksa.

Lee mulai menggerakkan kakinya. Pertama-tama hanya maju-mundur, namun lama kelamaan jadi 'moon-walk', break dance, kombinasi goyang ngebor dan goyang gergaji, sampai hip-hop juga.

(ada yang mau wafer Tango?)

Setelah Lee sekian menit melakukan tarian nista mengikuti intro lagu, akhirnya lagu dimulai.

Senangnya dalam hati…

Kalau beristri dua…

Oh, seperti… dunia…

Ana yang punya…

Lee menyanyikan lagu itu tanpa memperhatikan keindahan sama sekali. Sebenarnya lagu itu amat sumbang, atau bahkan lebih dari sumbang. Hanya saja si penata suara mengutak-atik microphone yang dipakai Lee supaya suaranya terdengar bagus.

Canggih juga, mirip doraemon.

Kepada istri tua…

Kanda sayang padamu…

Oh, kepada… istri muda…

I say i love you…

Lee melempar kacamatanya kearah penonton. Maksudnya sih, biar kelihatan keren dan penonton berebutan. Tapi kacamata itu malah diinjak-injak sama penonton biar ga merusak pemandangan. Mending ga usah dilempar, sok kaya sih lu…

Istri tua merajuk…

Balik ke rumah istri muda…

Kalau dua-dua merajuk…

Ana kawin tiga…

Nah, ketahuan banget disitu kalau Lee itu om-om mesum alias hidung belang. Kalau tidak, kenapa tidak memilih lagu lain?

Mesti pandai pembohong…

Mesti pandai temberang…

Oh, tetapi… jangan sampai…

Hai, pecah tembelang…

Sudah bagian tengah lagu. Isinya cuma musik. Perpaduan suara biola, seruling, keyboard, perkusi lain, dan gas ekskresi dari Lee sendiri (bohong, author cuma bercanda).

Lee mulai joget-joget kesurupan lagi, tadinya malah mau terjun ke bangku penonton segala. Cuma, dia mengaku masih waras. Akhirnya Lee cuma bisa memperlihatkan tontonan nista kepada penonton. Memangnya itu masih kurang?

5 menit kemudian, yang terasa 5 jam bagi penghuni studio, penonton di rumah mematikan tipi masing-masing, lagu selesai. Penonton, Miguel, Zafina, single ladies, plus madam cinta mulutnya sudah berbusa. Leo yang tadi pingsan langsung bangun lagi. Bagaimana dengan yang ada di Romantic Room? Mereka pingsan dengan damai karena speaker disana ada 5.

"Y…ya! Beri tepuk ka…eh, tangan untuk Lee!" Miguel berusaha berkata-kata dengan baik. Penonton bertepuk tangan dengan terpaksa lagi.

"Penonton yang antusias." Lee berkata. "Bagaimana kalau kunyanyikan satu lagu lagi?"

"TIDAK!!!" Zafina, madam cinta, dan para wanita di panggung membentuk grup vokal.

"Ada apa?" Lee bingung. Miguel dan para penonton menutup kuping.

"Karena ini acara Take Me Out, tidak bisa kalau isinya nyanyian semua. Sutradara dan authornya bilang begitu." Zafina menjelaskan.

"Kasihan dong, kalau isinya melenceng semua dari topik. Bisa-bisa nanti kena flame, kasihan kan?" Madam cinta ikutan.

'Lebih kasihan lagi kita semua yang harus mendengar nyanyianmu!' Batin ladies.

"Ya sudah, saya juga sudah sering menyanyi solo di perkawinan orang." Lee berusaha tidak terlihat sedih.

"Sampai jumpa Lee! Terima kasih banyak telah menghibur kami." Miguel melambaikan tangan pada Lee yang sudah turun panggung dengan wajah memelas.

"Kembali lagi ke acara kita. Sekarang mari kita sambut, pria single kelima!" Miguel berkata, tirai-pun terangkat. Diiringi dengan lagu "New Divide" oleh Linkin Park.

Pria single yang satu ini bisa dibilang saingannya Sasuke dari anime 'Naruto'. Rambutnya pantat bebek dibelakang warna hitam. Ia memakai outfit yang tidak beda jauh dengan King, serba hitam. Bedanya, ia tidak memakai topeng. Pria itu berjalan ke tengah panggung dengan kesan dingin. Tapi tetap, penonton bertepuk tangan.

"Selamat malam, Jin! Kau terlihat keren malam ini." Miguel memuji, hanya karena Jin pemegang kekuasaan Mishima Zaibatsu saat ini. "Silakan perkenalkan dirimu."

"Namaku Jin, aku seorang lelaki tulen. Umurku 21 tahun, masih suci." Jin ngomong sembarangan. "Aku ketua Mishima Zaibatsu, berarti studio ini adalah salah satu bagian dari kekuasaanku. Hobiku berjalan-jalan di hutan dan merusak."

Penonton bertepuk tangan. "Ladies, tentukan pilihanmu sekarang." Kata Miguel.

Jleb!

"3…2…1… selesai! Pemirsa, dari sepuluh wanita single, tujuh masih menyalakan lampu. Bagaimana disana Zafina?" Miguel bertanya.

"Jun, kenapa kau tidak memilih?" Zafina pura-pura tidak tahu. "Ya ampun, dia itu kan anakku. Tidak mungkin aku memilihnya. Ini bukan lagi zamannya cerita Sangkuriang, Siti Nurbaya, Ande-Ande Lumut, Tiga Anak Babi…" Kalimat Jun terputus. Garing pula.

"Sudah cukup. Kau bagaimana, Kunimitsu?" Zafina agak heran Kunimitsu tetap menyalakan lampu. "Dia suka berjalan-jalan di hutan? Aku juga! Suka merusak? Sama denganku! Ganteng juga." Jawab Kunimitsu.

"Back to Mi…"

"Tunggu!" Xiaoyu memutus kalimat Zafina. "Kenapa aku tidak ditanya?"

"Karena aku malas. Back to Miguel." Zafina menjawab tanpa peduli Xiaoyu yang cemberut.

"Untuk meyakinkan para ladies, mari kita lihat keseharian Jin." Miguel menunjuk layar, video dimulai.

Layar menampilkan sosok Jin yang sedang berjalan-jalan di hutan. Tapi, hutan itu sudah kering. Hanya ada satu-dua pohon disana, ya sudah namanya bukan hutan lagi.

Wajah Jin terlihat amat sedih, atau mungkin benar-benar sedih. Ia memakai celana panjang putih dan membawa handuk merah yang biasa dipakai tukang bajaj. Tenang, Jin bukanlah seorang tukang bajaj di masa lalu.

Jin terus melangkah. Sesekali ia menendang bebatuan, tak peduli sakit atau tidak. Sampai akhirnya ia berhenti di tepi jurang, memandang kebawah, dan…

Bukan… bukan bunuh diri.

Jin malah teriak.

"DIMANA AYAHKU?!"

Jin merosot, jatuh tepatnya. Ia berteriak lagi, "AKU INI ANAK KANDUNGMU AYAH!!! MENGAPA KAU TAK INGIN MELIHATKU LAGI?! MENGAPA?!"

Satu studio sweatdropped, termasuk Jin yang menyaksikan videonya sendiri. Kecuali Hwoarang yang sudah sadar di Romantic Room, sedang mengunyah kerupuk kulit.

Kembali ke video. Jin bangkit lagi. Ia melangkah pergi meninggalkan jurang sambil berkata, "Ayah, anakmu Jin Kazama ingin bertemu denganmu. Aku ingin tinggal bersama ayah, ingin ayah mengajari dan melatihku, ingin keliling dunia bersama ayah, dan ingin ayah memberikan adik baru untukku."

Video selesai.

Lagi-lagi seisi studio cengo. Video para pria single tidak ada yang normal.

"Ya, itu dia keseharian Jin. Betul-betul membuat kita semua terharu." Miguel sok sedih.

"Ladies, tentukan pilihanmu."

Jleb!

Pemutaran video sukses membuat yang menyalakan lampu tinggal dua orang.

"Wah, beberapa wanita single berubah pikiran. Silakan Zafina." Miguel dalam hatinya berkata, 'Makanya Jin, meskipun di video kau tetap harus jaga imej.'

"Anna, kenapa kau berubah pikiran ?" Zafina menghampiri Anna. "Awalnya aku suka berondong yang satu ini. Tapi melihat tingkah lebay-nya di video, aku jadi tidak suka." Anna berkomentar pedas.

"Oke, back to Miguel." Zafina cepat-cepat karena dia sendiri juga sweatdropped melihat tingkah Jin di video.

"Masih ada dua yang menyalakan lampu, Xiaoyu dan Christie. Dipersilakan pada Jin untuk mengajukan pertanyaan."

Jin langsung bertanya, "Apa yang akan kalian lakukan jika aku akan bunuh diri ?"

"Akan kucegah! Atau aku akan ikut mati! Jangan lakukan itu! Kau tidak bisa menyelesaikan masalah dengan cara seperti itu, dengan bunuh diri yang kau anggap sebagai jalan termudah! Aku mencintaimu dan akan terus bersamamu dalam keadaan apapun!" Xiaoyu langsung menjawab dengan nafsu.

"Tentu saja akan kucegah, akan kunasihati kau sampai mengerti bahwa masalah tak selesai semudah itu. Aku menyukaimu, dan tidak akan membiarkanmu pergi. Tapi kalau kau sudah tidak bisa dibujuk, aku menyerah. Keputusanmu, kan?" Christie menjawab.

"Jin, silakan tentukan pilihanmu. Matikan satu lampu." Miguel menyuruh.

Tidak lama-lama, Jin berjalan menuju podium Christie dan mematikan lampunya. Yang dimatikan lampunya cengo sejenak, lalu kembali seperti biasa.

Seperti biasa Miguel bertanya, "Apa yang membuat kau memilih Xiaoyu?"

"Karena ia mencintaiku apa adanya, akan selalu bersamaku dalam keadaan apapun. Senang atau sedih, sehat atau sakit, kaya atau miskin, hidup atau mati, dan…"

"Cukup!" Miguel memutus kalimat Jin. "Ada yang lain?"

"Iya, sifat Xiaoyu akan membuatnya terus menyayangiku." Jin menjawab agak berlebihan.

"Baiklah, Jin dan Xiaoyu dipersilakan menuju ke Romantic Room." Kata Miguel. Jin dan Xiaoyu bergandengan menuju ke Romantic Room, meskipun kelihatannya Xiaoyu terlalu bersemangat. Penonton bertepuk tangan

"Bagaimana disana, Zafina?" Miguel mengoper.

"Ya, ini sudah pasangan keempat malam ini. Mari kita tanya madam cinta. Bagaimana madam?" Zafina muncul lagi.

"Pasangan yang aneh tapi cocok. Mereka cocok dibawa ke Amerika dan memainkan sekuelnya film 'Titanic'. Meskipun Jin akan risih menghadapi sifat Xiaoyu yang kekanak-kanakan, selama mereka saling cinta semuanya akan berjalan baik." Madam cinta berkomentar.

"Itulah komentar dari madam cinta. Jangan kemana-mana pemirsa, tetaplah bersama kami di Take Me Out Versi Tekken!" Zafina memberi jeda untuk iklan.

*~*~TBC~*~*

Setelah sekian lama, akhirnya chapter ini selesai juga.

Maafkan segala kesalahan author, maklum masih tergolong newbie T.T

Maaf juga jika ada bashing chara, OOC-ness, dan hal-hal lain yang tidak berkenan di hati pembaca. Itu keterbatasan kemampuan yang berusaha diperbaiki (?).

Review diterima dengan senang hati, apalagi sampai dimasukkin ke fave story *ngarep level atas*

Jumpa lagi di chapter berikutnya! Jangan lupa review!