Chapter ini moment Chanbaeknya masih sedikit yaa. Soalnya masih perkenalan dulu. hehe
Terimakasih untuk respon di Chapter sebelumnya. Terimakasih sudah mendukungku.
Happy Reading!
-
Jam menunjukan pukul 10.00 siang, saat Tuan Byun menggiring paksa keluarga Park untuk makan bersama di kediamannya.
"Masuk, masuk. Anggap saja rumah sendiri." Tuan Byun mempersilahkan setelah membuka pintu depan rumahnya.
"Kami sungguh merepotkan Daejung-ssi." Nyonya Park berkata tak enak hati kepada tetangga barunya itu.
"Sstt. Berhenti mengatakan omong kosong seperti itu. Aku akan lebih merepotkan kalian nanti." Tuan Byun membantah.
"Oh, Chanyeol! Dapurnya di sebelah sana, nak." Lanjut Tuan Byun kepada Chanyeol di depan sana.
Memang, Chanyeol dan Tuan park berjalan paling depan. Sedang Yoora dan Nyonya Park di belakang. Di susul Tuan Byun yang baru saja menutup pintu utama.
"Oh, maaf. Paman." Chanyeol menjawab sembari menggaruk tengkuknya canggung. Tuan Byun hanya tertawa melihatnya.
"Oh, kalian sudah datang. Kemari, kemari. Aku sudah menyiapkan banyak makanan." Nyonya Byun menyambut kedatangan mereka.
Keluarga Park tersenyum canggung melihatnya. Sedang Tuan Byun segera menghampiri istrinya, lalu merangkul pinggangnya kemudin.
"Ini istriku. Byun Eunhae. Dia sedang mengandung putra ke lima kami. Usia kandungannya sudah memasuki bulan ke tujuh." Tuan Byun memperkenalkan istrinya dengan antusias.
Keluarga Park di sana menatap terkejut kepada pasangan suami istri di depannya. Lima, dia bilang? Pasangan itu masih terlihat muda untuk memiliki anak sebanyak itu.
"Be-benarkah? Ah, selamat kalau begitu." Suara Tuan Park adalah yang pertama kali terdengar setelah keheningan yang terjadi beberapa saat lalu.
"Hahaha. Kalian pasti terkejut, bukan? tapi memang begitulah kenyataannya. Kami memang menikah muda saat itu." Tuan Byun tetawa melihat keterkejutan Keluarga Park.
"Ah, lebih baik kita segera duduk dan segera memulai sarapan kita. Ini sudah terlalu siang. Aku akan memanggil anak-anak sebentar." Nyonya Byun mencium pipi suaminya sebentar dan melangkah meninggalkan dapur.
Keluarga Park dan Tuan Byun pun duduk melingkari meja makan yang sudah di gabungkan itu. Mereka asik bercengkrama sembari menunggu Nyonya Byun memanggil anak-anaknya.
-
"Ayaaaaaah!" Panggilan khas anak anak terdengar dari arah pintu dapur.
Semua orang di ruangan itu menoleh dan mendapati seorang anak kecil yang sedang berlari menghampiri mereka. Lebih tepatnya menghampiri Tuan Byun.
"Oh, hwonie. Ugh, putra ayah yang tampan. Mana hyung dan ibu, hmm?" Tuan Byun mendudukan putranya ke pangkuan. Byun Baekhwon.
"Di cana. Yun yung, Ki yung, dan Je yung macih di belakang belcama ibu, ayah." Jawab bocah berusia 18 bulan itu menjawab pertanyaan ayahnya dengan logat cadelnya. Telunjuk mungilnya bahkan menunjuk ke arah pintu dapur.
"Oh, benarkah? Hwonie pasti sudah lapar sekali sampai meninggalkan hyung dan ibu?" Goda Tuan Byun.
"Ung," Baekhwon memberi anggukan sebagai jawaban.
Orang dewasa lainnya di ruangan itu hanya menatap tak mengerti interaksi ayah dan anak itu. Lebih tepatnya ke arah bayi di pangkuan Tuan Byun.
"hwonie, kenapa berlari seperti itu, sayang? Bagaimana jika tadi Hwonie terjatuh?" Suara Nyonya Byun dari arah pintu terdengar. Dengan seorang anak kecil yang berada di gendongannya.
"Astaga, sayang. Sudah ku katakan berhenti menggendong anak-anak seperti itu. Kau sedang hamil besar." Tuan Byun mendudukan Baekhwon di Baby Chair sebelum mengambil alih putra ketiganya dari gendongan istrinya.
"Baekjae sedang merajuk. Dia kembali mengganggu Baekie yang sedang menggambar sampai Baekie menangis. Karna itu aku menggendongnya." Nyonya Byun menjelaskan maksud dirinya.
"Begitu, hmm? Putra ayah yang nakal." Tuan Byun menciumi perut gembul putra ketiganya sampai bayi 3 tahun itu tertawa terpingkal di buatnya.
"Jae-ya duduk disini, oke. Ayah akan menyuapimu nanti." Tuan Byun mendudukan Baekjae di Baby Chair bersebrangan dengan Baekhwon.
" Sayang, duduklah." Lanjut Tuan Byun kepada istrinya yang masih saja berdiri.
Keluarga Park menatap terkejut sekaligus terharu melihat keluarga di depannya. Keharmonisan dan kasih sayang yang kental jelas sangat terlihat di dalamnya.
"Ayah, Hiks." Suara yang lain terdengar dari pintu dapur juga.
Semua orang disana mengalihkan pandangannya ke asal suara. Dan mendapati anak kecil yang menangis tersedu sedu dengan wajahnya yang merah. Anak kecil itu berlari menghampiri sang ayah yang langsung di sambut dengan pelukan.
"Ugh, ada apa dengan jagoan ayah yang satu ini, hmm? Kenapa menangis?" Tuan Byun mengecup gemas hidung merah putra keduanya.
"Baek-Baekie sedang meng-hiks-gambar. Ta-tapi Baekjae terus Hiks meng-gangguku. Aku kesal, ayah." Adu Baekie kepada ayahnya.
Tuan Byun memeluk putra kedunya itu dan mengusap punggungnya menenangkan.
"Tak apa, Baekjae hanya belum mengerti. Sebagai Hyung, Baekie harus memberitahunya secara perlahan. Hmm?" Nasihat Tuan Byun. Baekie di pelukannya hanya mengangguk.
Semua orang dewasa disana tersenyum haru menatap perilaku ayah dan anak itu. Kecuali Chanyeol. Lelaki jangkung itu menatap tak berkedip kepada sosok mungil yang mulai mendudukan dirinya tepat di kursi kosong di depannya. Chanyeol menahan nafasnya karna terlalu bahagia. Darahnya berdesir. Jantungnya berdendang. Ugh, Chanyeol bahagia bukan main.
"Baekhyunaa, Kau bangun kesiangan lagi dan tidak membantu pekerjaan ibumu, nak? Setidaknya jagalah adik-adikmu, sayang." Tuan Byun berbicara kepada putra sulungnya disana.
"Maaf, ayah. Aku terlalu lelah semalam. Karna itu aku kesiangan."Jawab Baekhyun dengan suara pelan.
"Dan lagi. Tidak bisakah ayah berbicara nanti saja? Tidak di hadapan orang lain seperti ini. Ayah membuatku malu." Lanjut Baekhyun.
"Tak apa, nak. Kami tak keberatan mendengarnya. Itu hanya hal biasa. Kami mengerti jika anak remaja sepertimu pasti memiliki waktu yang melelahkan di luar sana. Putra kami Chanyeol juga seperti itu." Ujar Tuan Park.
"Dia sudah 20 tahun ini, Hyunseong-ah. Dia sudah bukan remaja lagi omong-omong." Ralat Tuan Byun.
"Ayah," Baekhyun menegur ayahnya.
"Oh, benarkah? Kukira dia masih 15 tahun. Hahaha." Balas Tuan Park.
Baekhyun hanya menunduk malu mendengarnya. Dua ayah disana kenapa malah menggodanya seperti itu?
Chanyeol masih memandang Baekhyun tanpa berkutik. Chanyeol sungguh terpesona melihatnya. Baekhyun di hadapannya sungguh indah. Chanyeol semakin bertekad ingin memilikinya.
Baekhyun yang sadar sedang di tatap sedalam itu oleh Lelaki di hadapannya tak berani balas menatapnya. Baekhyun malu. Jantungnya tiba-tiba berdetak tak menentu. Wajahnya pun memanas. Apa yang terjadi padaku? pikir Baekhyun.
"Akh." Semua mata beralih menatap Chanyeol yang tiba-tiba berteriak.
"Chanyeol? Ada apa?" Nyonya Byun bertanya khawatir pada putranya.
"Tidak, Ibu. Aku tak apa." Jawab Chanyeol.
Yoora di sampingnya hanya menahan tawa. Benar, Yooralah yang dengan jahil menginjak kaki Chanyeol sehingga Chanyeol memekik sakit. Yoora tau jika sedari tadi Chanyeol menatap tak berkedip lelaki mungil di depannya. Yoora tau adiknya terpesona. Ah, Yoora juga bisa menyimpulkan jika adiknya itu tengah jatuh hati pada lelaki mungil itu. Lagipula, Yoora akui lelaki mungil itu memang sangat manis. Apalagi ketika dirinya tengah memalu. Ugh, Yoora bisa jatuh hati juga lama-lama melihatnya. Hmm.
"Baiklah, kita lanjutkan lagi perkenalannya nanti. Sekarang kita mulai acara makannya. Selamat makan." Ucap Tuan Byun mempersilahkan.
Mereka pun mulai menyantap sarapan mereka. Tidak bisa di bilang sarapan sebenarnya. Karna jam yang sudah menunjukan hampir jam 11 siang.
-
Sarapan telah selesai. Saat ini dua keluarga itu tengah menyantap hidangan penutup sembari bercengkrama untuk saling mengenal satu sama lain.
"Kami pindah ke Bucheon karna pekerjaanku. Dan beruntung kami memiliki tetangga seperti kalian." Tuan Park berujar senang.
"Ah, jadi begitu. Hahaha. Kami juga senang memiliki tetangga seperti kalian." Balas Tuan Byun.
"Jadi, kalian benar-benar memiliki empat orang anak? dan semuanya lelaki?" Nyonya Park bertanya penasaran.
"Lima, Eonie. Kau lupa jika aku sedang mengandung, hmm. Dan ini juga lelaki." Ralat Nyonya Byun sembari menunjuk perut besarnya.
"Ah, benar. hahaha" Nyonya Park membenarkan.
"Baiklah. Biar ku perkenalkan putraku kepada kalian." Ujar Tuan Byun.
"Ini putra sulungku. Byun Baekhyun. Usianya genap 20 tahun. Dia tidak melanjutkan pendidikannya dan memilih sebagai penulis fiksi di internet."
"Ayah," Baekhyun menegur ayahnya yang sedikit berlebihan. Bibirnya yang mengerucut tak luput dari penglihatan Chanyeol.
"Hahaha, oke. Ini putra ke duaku. Byun Baekie. Bulan lalu dia baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke 5. Dan yang itu putra ke tigaku, Byun Baekjae. Usianya akan menginjak 3 tahun dua bulan lagi. Nah, yang itu putra ke empatku, Byun Baekhwon, 18 bulan. Dia baru belajar berbicara dan berjalan." Tuan Byun selesai memperkenalkan putra-putranya.
"Mereka sangat manis dan menggemaskan. Sungguh." Ujar Yoora.
"Kau ingin memiliki yang seperti mereka juga, Yoora-ya? Karna itu cepatlah menikah." Nyonya Byun menggoda Yoora.
Yoora memalu. Mereka larut dalam gelak tawa setelahnya. Yaa, kecuali Chanyeol yang hanya tersenyum. Mencoba mengabadikan tawa Baekhyun di dalam ingatannya. hmm.
"Tapi, kenapa selisih Baekhyun dengan Baekie sangant jauh? sedangkan Baekie dan adik-adiknya sangat dekat?" Tanya Yoora.
"Itu karna kecelakaan. Kami memiliki Baekhyun saat kami masih duduk di bangku menengah pertama. Hehehe." Jawab Tuan Byun. Sedang Nyonya Byun memerah malu mendengarnya.
Sungguh, kenapa mereka sangat sefrontal itu terhadap aib mereka?
Keluarga Park jelas terkejut mendengarnya. Ternyata begitu. pikir mereka bersamaan.
"Ah, pantas saja kalian masih sangat muda saat ini." Ujar Nyonya Park.
"Kami memang masih 35. Dan untuk putra kedua kami, kami memang menundanya. Saat itu kami harus melanjutkan pendidikan kami, dan aku juga harus mencari penghasilan setelahnya." Tuan Byun menjelaskan.
"Oh, lalu bagimana dengan Baekhyun?" Itu Chanyeol yang bertanya.
Orang dewasa disana serentak menatap ke arahnya. Bagaimana tidak. Chanyeol hanya terdiam sedari tadi. Dan baru mengeluarkan suaranya sekarang. Chanyeol yang di tatap sedemikian rupa menjadi salah tingkah dibuatnya. Sedang Baekhyun yang mendengarnya hanya menunduk dengan pipi merona.
"Hahaha. Kami di bantu oleh orang tua kami saat itu." Jawab Tuan Byun.
"Ah, tentu saja." Balas Tuan Park.
"Bagaimanapun kami sangat terharu melihat keluarga kalian. Kalian saling menyayangi dan sangat harmonis." Nyonya Park menambahkan.
Tuan dan Nyonya Byun hanya tersenyum mendengarnya.
"Ah, ngomong-ngomong. Terimakasih banyak untuk bantuanmu Daejung-ah. Juga terimakasih untuk makananya Eunhae-yaa. Masakanmu sangat enak." Ujar Tuan Park.
"Sudah menjelang sore, kami harus segera kembali. Sekali lagi terimakasih." Tambahnya.
"Tidak perlu sungkan, Hyunseong-ah. Sering-seringlah kemari." Balas Tuan Byun.
Setelahnya, keluarga Park pun pamit untuk pulang. Tuan Byun mengantar sampai depan pintu. Sebelum kepergian mereka, Chanyeol sempat memberi senyum kepada Baekhyun, yang di balas dengan senyum memalu oleh Baekhyun.
Seperginya mereka pun Baekhyun membantu ibunya membereskan dapur, dan menjaga adik-adiknya.
Huh, terkadang Baekhyun kesal sendiri di buatnya. Kenapa ayah dan ibunya tidak menyewa asisten rumah tangga saja untuk membantu pekerjaan rumah dan menjaga ketiga adiknya, empat mulai tahun depan. Baekhyun juga ingin punya waktu lebih sendiri. Oh, Tuhan.
Bersambung...
-
Aku mau ngucapin terimakasih banyak untuk SehunSapiens. Jujur aku gabakal ngeh kalo ternyata emang banyak banget kekeliruan antara Tuan Byun - Tuan Park, Nyonya Byun - Nyonya Park. Ugh calangeyoo :-*
Chapter ini udah aku edit ulang. Mohon maaf kalo masih ada kesalahan yaa.. :3 :3
