Tittle : Broke!

Cast : NamJin! Jeon Jungkook (5 tahun), Kim Taehyung (14 tahun), Minyoon! And others.

Genre : Family, Drama, Hurt/Comfort.

Rate : T

Author : Jeonel

Disclaimer : Mereka semua punya Tuhan, dan cerita ini punya saya.

Summary : Mempunyai keluarga yang harmonis dan penuh kasih sayang merupakan kebahagiaan tak terkira bagi seorang anak. Dan bagi orang tua kehadiran seorang anak merupakan amanah terbesar dari Tuhan kepada hamba yang telah dipercayai-Nya. Akan tetapi, sayangnya tidak semua keluarga bisa memenuhi harapan tersebut.

Happy Reading...

Chapter 2

"Astaga Kookie.." Seokjin berlari menghampiri anaknya yang menjerit menangis memanggil namanya. Memeluk dan menggendongnnya. Memberikan bisikan halus dan mengelus punggung si bungsu pelan.

"Appa kenapa membentak kookie? Tadi Appa juga membentak Eomma. Appa jahat!" Itu Taehyung yang berteriak.

"Yakkk! Kenapa kau membentak Appa!" Namjoon menatap tajam Taehyung. Dan Taehyung yang takut langsung beringsut kebelakang Eommanya.

"Kau boleh menyakitiku. Tapi jangan sekali-kali kau menyakiti anak-anakku. Pergilah sejauh mungkin. Jangan ganggu kami lagi. Dan mulai detik ini, kau bukan siapa-siapa kami lagi, joon!"

.

.

.

Di mulai malam itu. Namjoon tidak pernah datang lagi ke rumah. Tidak pernah datang menemui anak-anaknya. Tidak ada kabarnya. Tapi ia tidak bisa memungkiri hatinya, yang namanya seorang ayah tidak akan pernah melupakan darah dagingnya. Tapi semuanya akan lenyap dimakan oleh waktu. Ia tidak melupakan tapi Namjoon tidak punya waktu. Namjoon sibuk. Ia lebih memilih uang ketimbang yang lainya. Karena prinsipnya adalah time is money.

"Kookie, cepat makan sarapanmu. Eomma tidak ingin punya anak yang tidak disiplin, telat datang ke sekolah dan telat pulang ke rumah" Jin mengunyah makanan terakhirnya sambil melirik Taehyung yang menatap ibunya sendu.

"Kookie tidak lapar eomma" ucap Jungkook pelan. Jin berdecak pelan.

"Katakan itu pada perutmu, jika nanti siang meraung-raung kelaparan. Karena eomma nanti tidak pulang. Eomma ada syuting seharian full, kalo butuh sesuatu mintalah pada hyungmu" Jin berujar sembari membereskan piring-piring yang kotor. Jungkook mengangguk. Sebenarnya ia merasa pusing dan tidak ingin masuk sekolah. Tapi melihat ibunya yang pagi-pagi sudah membangunkan, memandikan dan memakaikannya seragam TK lengkapnya, Jungkook memurungkan niatnya. Jungkook memang masih anak-anak. Tapi Jungkook sudah paham dan mengerti akan keadaan. Ia paham benar apa yang ibunya lakukan jika ia bilang tidak ingin masuk sekolah. Jungkook tidak mau di cap anak yang malas oleh ibunya, karena Jungkook anak yang rajin. Jungkook tidak mau di cap anak yang nakal, dan kenyataanya ia anak yang baik.

"Taehyung cepat bantu adikmu memakai sepatu! Aisshh.. dia lamban sekali" Jin berteriak dari dalam mobil. Taehyung melakukan apa yang selalu diperintahkan ibunya. Taehyung anak penurut bukan? Taehyung selesai memakaikan sepatu Jungkook. Taehyung sedikit merasa aneh, biasanya Jungkook akan bercerita atau berceloteh panjang lebar kepadanya. Tapi saat sarapan tadi sampai sekarang adiknya menjadi pendiam dan terlihat sedikit murung. Taehyung menggandeng adiknya. Melirik ke bawah

"Apa kau baik-baik saja?" Jungkook mendongakkan kepalanya dan tersenyum tipis.

"Kookie baik-baik saja kok hyung" Jawab Jungkook mantap. Sudah dibilang, Jungkook itu anak yang cerdik. Ia tahu akan keadaan. Jungkook tidak mau membuat hyung kesayanganya khawatir. Meskipun mereka sering bertengkar dan tidak pernah akur, Jungkook tahu akan keadaan. Ini hanya pusing biasa yang sebentar lagi akan menghilang.

.

.

.

Taehyung memasuki sekolahnya dengan hati memanas. Bagaimana tidak? Saat kedua kakinya baru saja tiba di gerbang sekolah semua teman-teman(?)nya sudah berbisik-bisik dan membicarakanya layaknya sampah yang tidak ada gunanya.

"Coba lihat? Dia terlihat biasa-biasa saja saat orang tuanya bercerai. Seharusnya dia meraung dan menangis seperti anak TK yang tidak diberi permen.. hahahaha"

"Katanya orang tuanya bercerai, karena ibunya yang selingkuh"

"Iya pastilah.. ibunya kan seorang artis"

"Ibunya itu artis film porno"

"Aisshh menjijikan"

Buugh..

Cukup! Kesabaran Taehyung ada batasanya. Dan di titik ini, Taehyung sudah tidak lagi mempercayai adanya kesabaran. Taehyung rela jika dirinya yan dihina dan di injak-injak harga dirinya. Tapi jika orang tuanya yang dihina dan menjadi bahan nyinyiran sana sini ia tidak terima. Satu pukulan mendarat di pipi teman sekelasnya. Pukulan di balas dengan pukulan. Taehyung marah. Sangat marah. Hingga pelipis mata dan sudut bibirnya memar dan temannya yang sudah babak belur dan guru datang memarahi mereka kemudian membawanya ke ruang BK untuk dimintai keterangan dan alasan mengapa dirinya bertengkar di dalam kelas.

.

.

.

Seokjin tahu apa yang terjadi dengan anak-anaknya. Anak-ankanya pasti merindukan ayahnya. Termasuk dirinya. Tapi Seokjin bisa apa? Ia sudah bercerai dengan Namjoon, ia sudah tidak mempunyai hubungan apa-apa dengan namjoon selain menjadi ibu dari anak-anak namjoon. Seokjin tidak memberi tahu apa yang sebenarnya terjadi antara dirinya dengan Namjoon pada Jungkook putra bungsunya. Jungkook masih terlalu kecil untuk mengetahui semua hal yang terjadi tentang orang tuanya. Cukup Taehyung yang merasa terpukul atas perceraiannya dengan Namjoon. Menurutnya Taehyung anak yang baik. Ia bisa mengerti keadaan orang tuanya. Taehyung sudah bisa membantunya untuk menjaga dan merawat Jungkook saat ia syuting. Tapi Seokjin tidak tahu apa yang terjadi pada Taehyung saat beberapa menit yang lalu guru Taehyung meneleponnya dan mengatakan bahwa Taehyung ada masalah dan di bawa ke ruang BK.

Saat Seokjin memasuki ruang BK dengan wajah luar biasa capek, ia sedikit shok melihat wajah putranya yang memar sana-sini. Seokjin menghela nafas pelan kemudian tersenyum paksa pada guru bimbingan konseling anakanya.

"Ohh.. silahkan duduk Tuan Seokjin" Seokjin mengangguk dan tersenyum. Pak Jongin nama guru konseling Taehyung itu membalas senyuman Seokjin.

"Saya mohon maaf mungkin sudah mengganggu aktivitas anda. Tapi saya butuh penjelasan dari Taehyung yang bertengkar di dalam kelas dengan teman-temanya. Mungkin anda bisa membantu" Jelas Jongin sopan. Seokjin diam dan menatap Taehyung yang menunduk duduk disebelahnya.

"Sejak saya bawa ke sini Taehyung tidak bicara apapun. Dia hanya diam dan tidak memberi alasan mengapa ia berkelahi" tambah Jongin. Seokjin mengangguk paham. Kemudian ia tersenyum lagi,

"Saya akan membicarakan ini dengannya di rumah. Saya minta maaf atas perilaku anak saya yang tidak sopan" Seokjin berbicara dengan nada menahan amarah. Jongin mengangguk mengerti. Kemudian Seokjin mengundurkan diri bersama Taehyung yang masih enggan bicara.

Sampainya di rumah Seokjin duduk di sofa dengan Taehyung yang masih berdiri dan menunduk tidak berani menatap Seokjin yang amarahnya akan meledak.

"Eomma tidak mengajarimu berkelahi di sekolah. Mengapa kamu melakukannya?" Seokjin bicara dengan nada naik turun bertanda ia sangat marah. Taehyung mendongak menatap mata ibunya yang berapi-api.

"Bukan Taehyung yang memulainya eomma" Ucap Taehyung membela diri. Seokjin mengambil nafas panjang dan menghembuskanya perlahan.

"Eomma tidak tanya siapa yang memulainya. Eomma tanya mengapa kamu berkelahi? Apa kamu ingin menjadi preman? Kamu ingin menjadi jagoan? Astaga.. Taehyung! eomma pikir mendidikmu itu mudah, tapi eomma salah. Kamu itu seperti appamu yang tidak bisa menghargai dan berterima kasih kepada orang lain" Seokjin berdiri. Taehyung menangis.

"Tapi eomma.. hiks..hiks.. Tae..Tae"

"Apa ini balas budimu kepada orang tua yang membesarkan dan merawatmu? Pergilah ke kamar. Dan renungkan kesalahanmu" Seokjin pergi dan menangis. Dadanya terasa sesak menahan tangis di depan anaknya. Ia tidak kuat jika harus menangis di depan Taehyung. Setidaknya menahan tangis lebih baik daripada meraung dan menangis di depan anak-anaknya.

.

.

.

Bel istirahat pertama berbunyi. Jungkook, Zelo, Mingyu dan teman-temannya yang lain termasuk murid baru – Bambam- namanya ikut bermain bola sepak bersama. Mereka bermain bola di lapangan. Mereka bermain dengan meriah layaknya club-club bola seperti yang ada di Tv. Lari kesana- kemari. Tendang sana-sini. Dan saat Jungkook menendang bola ke gawang, bukanya mengarah ke gawang tapi bolanya terlempar ke kepala Bambam yang berdiri tidak jauh dari gawang. Dan alhasil, Bambam menjerit menangis karena merasa kepalanya panas dan cenat cenut. Jungkook dan teman-temannya yang lain merasa bersalah kemudian menghampiri Bambam yang terduduk dan masih terisak.

"Apa Bambam baik-baik saja?" Jungkook bertanya dengan raut khawatir. Sesekali Jungkook meringis karena ikut merasakan sakit yang diderita Bambam.

"Huwaaaaa.. Bambam tidak mau bermain sama Kookie. Kookie nakal.. Huwaaaa Kookie menendang hiks..bola ke wajah Bambam huwaaa...eommaaa.. appa huwaaaaa"

"Aku juga tidak mau main lagi sama Kookie, gara-gara Kookie.. Bambam sakit"

"Iya.. aku juga tidak mau. Ayo kita adukan ke bu guru"

"Kita jauh-jauh dari Kookie. Dan sekarang kita bawa Bambam ke Uks"

"Dahh Kookie. Sekarang kita bukan temanmu lagi. Kamunya sih nendang bolanya ke kencengen!"

"Huwaaaa eommaaa... huwaaaaaa mereka hiks..tidak mau temenan sama Kookie.. Appa huwaaa"

Yang namanya bermain bola sepak ya harus tanggung resiko ketendang bola. Jatuh. Keplesest. Menang. Kalah. Dan Capek. Namanya juga anak-anak mau bagaimanapun permainanya jika ada yang merasa dirugikan akan merasa tidak terima dan berakhir dengan tangisan. Usai acara tangis menangis, Kelas TK B sudah di perbolehkan untuk pulang yang sebelumnya di nasihati sang guru bahwa mereka harus tetap berteman. Tidak boleh ada yang tidak berteman. Yang namanya anak-anak itu penurut dan mudah dibujuk. Sebelum keluar kelas semua murid di ajari untuk saling memaafkan. Dan sekarang Jungkook sudah bisa tersenyum lagi karena teman-temanya tidak benar-benar meninggalkanya. Dasar bocah!

Jungkook menunggu ibunya di depan sekolahan. Ia tidak sendirian, masih ada Bambam yang berdiri jenuh mungkin menunggu jemputan seperti dirinya. Jungkook melihat jalan yang tidak begitu ramai. Matanya sedikit buram. Kepalanya terasa pusing. Ia menggeram pelan, kemudian menggelengkan kepalanya kuat-kuat.

"Ahhh kepala Kookie pusing" ucapnya pelan. Jungkook menengok ka arah Bambam yang sepertinya sudah di jemput duluan. Uh.. dia bakal sendirian. Bambam terlihat sangat senang saat di jemput appanya. Appa? Bukankah itu Kim Namjoon appa Kim Taehyung dan Kim Jungkook? Jungkook berjalan mendekat. Ia masih melihat oarng yang mirip appanya itu dengan Bambam saling berpelukan. Seseorang yang tinggi, putih, dan berlesung pipi. Iya, itu benar-benar Kim Namjoon appanya.

"Ap..appa?"

TBC..

Malang, 24 Januari 2017