Hi
Chapter two is here
Thx for the review and hope you guys can enjoy this story
Kuroshitsuji with all character and story © Yana Toboso
OC and Story Line in this fic © Me
Stay Close Happiness
15 tahun telah berlalu. Nicholas tumbuh tumbuh menjadi pria dewasa yang gagah dan tampan. Tubuh yang sudah lebih tinggi dari Iblis Tak Bernama. Wajah yang bersih dengan rahang yang kuat. Matanya sayu dan menunjukan ketenangan. Rambut coklat itu disisir begitu rapi. Gayanya yang kini khas seorang gentleman.
Ia sudah memiliki pekerjaan tetap di tempat percetakan dengan gaji yang dapat mencukupi kehidupan sehari-harinya bersama Iblis Tak Bernama. Ia juga sudah menyewa sebuah apartment kecil dengan uangnya sendiri. Takut-takut bila Iblis Tak Bernama akan membayar sewa tersebut dengan uang hasil curian lagi.
Iblis Tak Bernama sama sekali tidak mengubah wujudnya sama sekali. Tetap sama seperti saat pertama kali ia bertemu dengan Nicholas. Yang berbeda hanyalah pakaiannya yang terkesan lebih casual dan berwarna dengan blouse ungu dengan kerah yang berenda. Rok selutut dan tidak lupa boot hitamnya. Tentu saja Nicholas tidak memikirkan masalah wujud Iblis Tak Bernama yang tidak berubah. Karena ia sendiri sudah tahu siapa dia yang sebernarnya dan tidak merasa takut.
Dalam 15 tahun terakhir, Iblis Tak Bernama benar-benar mem-protect Nicholas dari apapun. Ia masih tetap membiarkan Nicholas bersama manusia-manusia yang lain. Tapi bila sudah berurusan dengan maut, shinigami, dan orang-orang jahat, Iblis Tak Bernama tidak akan pandang bulu. Walau begitu, kebiasaannya memakan roh manusia tidak bisa hilang begitu saja. Setidaknya sebulan sekali ia akan makan roh manusia tanpa diketahui oleh Nicholas.
"Lunam, kau hari ini mau melakukan apa? Berhubung aku hari ini libur," kata Nicholas memandang gadis yang kini lebih pendek darinya. Kebetulan hari itu adalah hari cutinya dari kerja. Dan cuaca cukup cerah berawan. Tidak ada tanda akan turun hujan dan juga tidak panas terik.
"Tidak melakukan apa-apa. Berjalan-jalan saja," jawab Iblis Tak Bernama datar. Keadaan di antara mereka berdua sudah sedikit berubah. Mulai dari gaya bicara Iblis Tak Bernama yang semakin datar dan Nicholas yang sudah tidak menggunakan embel 'Nona' ketika memanggilnya.
"Seperti biasanya ya," kata Nicholas dengan senyuman kecil di wajahnya. Iblis Tak Bernama menatapnya sebentar lalu membuang pandangannya ke tempat lain. Wajahnya seperti diukir sedemikian rupa sehingga tidak mencerminkan emosi. "Sifatmu akhir-akhir ini dingin sekali. Ada apa?" tanya Nicholas yang penasaran.
"Tidak ada. Lebih baik kau jalan yang benar kalau tidak mau menabrak tiang lampu di depanmu," Benar saja kata Iblis Tak Bernama. Nicholas yang tidak melihat tiang lampu itu langsung menabraknya. Nicholas terdiam dan memegangi wajahnya terutama hidungnya yang sangat sakit. Sementara Iblis Tak Bernama menatapnya sambil setengah menahan tawa yang berakhir jadi seringaian. "Benar'kan kataku," ucapnya lagi.
"Kenapa tidak bilang dari jauh lebih awal... malah sebelum aku menabraknya," ucap Nicholas menahan sakit. "Aaaagh..." ucapnya lagi. Hidungnya kini mulai mengeluarkan darah. Buru-buru Nicholas mengeluarkan sapu tangan dari dalam sakunya dan mengelap darah tersebut. Sementara itu, Iblis Tak Bernama mengamati langit yang cerah itu lalu mengamati sekelilingnya. Melihat Iblis Tak Bernama begitu gelisah, Nicholas bertanya, "Apakah ada shinigami di sekitar sini?"
Iblis Tak Bernama tentu saja kaget mendengar pertanyaan Nicholas. Memang Nicholas terkadang membahas hal tersebut tapi tidak seterang-terangan di tempat umum. Iblis Tak Bernama tidak menjawab dan menatap sebuah kereta kuda di belakang Nicholas dan langsung menariknya ke pinggir sebelum kereta itu semakin oleng dan akhirnya terguling tak jauh dari mereka.
Banyak orang yang terkejut dengan kejadian tersebut. Kuda yang menarik kereta itu tiba-tiba kehilangan keseimbangan akibat roda kereta yang terlepas dan akhirnya terguling di aspal. Tidak ada pejalan kaki yang terluka. Sang Kusir sudah melompat duluan dari kereta meninggalkan penumpang yang tak terselamatkan.
"Hampir saja..." ucap Iblis Tak Bernama. Tapi segera saja ia mendorong Nicholas untuk masuk ke sebuah toko yang ada di samping mereka ketika laki-laki berjas hitam datang. Rambutnya berwarna hitam sehitam langit malam. Kacamata yang ia gunakan berbentuk oval dengan frame perak tipis yang hampir tak kelihatan. Beberapa manusia yang ada di sana pasti tidak akan menyadari shinigami tersebut.
'Bukan shinigami itu,' batin Iblis Tak Bernama segera menjemput Nicholas dan mengajaknya pergi. Walau matanya masih mengawasi shinigami yang sedang mengambil roh korban tersebut. Merasa dirinya diawasi dan mencium bau iblis, shinigami itu menatap kepergian Iblis Tak Bernama bersama seorang manusia di sebelahnya dengan tatapan dingin.
Keduanya duduk di sebuah bangku taman. Nicholas menghela napas lega dan berterima kasih kepada Iblis Tak Bernama karena ia sudah menyelamatkan nyawanya lagi. Ya lagi. Selama 15 tahun itu, tentu saja nyawa Nicholas sering sekali akan terenggut bila bukan karena Iblis Tak Bernama yang selalu menyelamatkannya. Dan sudah berkali-kali Iblis Tak Bernama mengacaukan Death List shinigami. Ia tahu itu adalah hal yang sangat fatal tapi selama ini ia sudah terbiasa melakukan hal fatal tersebut.
"Entah sejak kapan... aku benar-benar membenci bau shinigami," komentar singkat Iblis Tak Bernama. "Manusia memang lemah... mereka bahkan tidak bisa menghadapi kematiannya sendiri," lanjutnya.
"Kau tak perlu se-sensitive itu'kan? Bagaimana kalau kita makan di tempat biasa?" ajak Nicholas lembut.
"Aku tidak terlalu suka makan makanan manusia..." jawab Iblis Tak Bernama yang sepertinya tidak didengarkan oleh Nicholas yang malah menarik tangannya pergi. Tak butuh waktu lama ketika mereka sampai di sebuah restoran. Sebuah restoran cukup besar dan padat pengunjung. Bahkan untuk mendapatkan meja, Nicholas dan Iblis Tak Bernama harus berdesak-desakan dulu. Untuk penghematan Nicholas memesan makanan yang paling murah di tempat itu dan Iblis Tak Bernama hanya minum teh saja. "Kau tak pernah berubah..." komentar pelan Iblis Tak Bernama.
"Kau berubah banyak," balas Nicholas setengah mengejek Iblis Tak Bernama.
"Aku hanya menyocokan sifat dewasa untukmu. Tapi kau bersifat seperti anak kecil."
"Ya... mungkin karena hidup manusia itu singkat," kata Nicholas yang hampir saja membuat Iblis Tak Bernama tersedak teh-nya sendiri. Memang benar, bagi dirinya hidup manusia itu bagaikan hanya sejentik jari. Cepat lenyap. "Tapi jangan beranggapan bahwa aku akan meminta kontrak untuk memajangkan hidupku. Hahahaha!" lanjut Nicholas sambil tertawa. Tapi menurut Iblis Tak Bernama itu bukanlah lelucon.
"Aku juga tidak bisa mengikat kontrak kau tahu," ucap Iblis Tak Bernama. Kedunya terdiam sejenak. "Aku memang menjelaskan bahwa aku ini iblis. Tapi sebenarnya... di dalam diriku terdapat sedikit darah manusia yang mengalir. Dan aku cukup berbeda dari iblis yang lain. Dan ini mungkin memalukan..." jelas Iblis Tak Bernama.
"Lunam... aku sudah bilang bahwa aku tidak peduli siapa kau yang sebenarnya. Menurutku, kau adalah keluargaku yang sangat baik," jawab Nicholas. "Lagi pula apa yang memalukan untukmu?" tanya Nicholas lagi sambil menyuapkan sesendok nasi kari ke dalam mulutnya.
"Seorang anak kecil memiliki kemampuan untuk menyembuhkan dirinya lebih cepat dari orang dewasa," kata Iblis Tak Bernama yang membuat Nicholas tak mengerti. "Ketika tubuhku terluka berat dan aku bisa saja mati... aku akan kembali seperti anak kecil lagi untuk mempercepat penyembuhan luka. Sayangnya aku tak akan bisa kembali ke wujud dewasa dan seluruh kekuatanku akan tersegel sampai aku selesai menyembuhkan tubuhku secara total. Sikat kata aku seperti anak manusia saja. Seluruh pikiran, kelakuan, sama seperti anak kecil."
"Pada saat itu kau akan sangat manis sekali," goda Nicholas.
"Kau mau kumakan?" ancam Iblis Tak Bernama dengan tatapan serius membunuh membuat Nicholas menggeleng kepalanya cepat dengan keringat dingin bercucuran."Habiskan makanmu dan kita pergi dari sini."
"Baik-baik~" jawab Nicholas mempercepat makannya.
'Aku tak mau kembali seperti itu... Anak kecil yang tak bisa melakukan apa-apa...!' batin Iblis Tak Bernama mengepalkan tangannya. Kembali mengingat masa lalunya yang begitu menakutkan. Bersama manusia-manusia yang jauh lebih bisa disebut sebagai iblis. Sepasang orang tua angkat yang hampir saja membunuhnya. Seorang pria yang menangkap anak kecil untuk diperbudak dan diperjual belikan. Iblis Tak Bernama tidak tahu siapa orang tua aslinya dan bagaimana ia bisa terlahirkan di dunia ini. Tercebak di dunia manusia yang kotor. Bahkan kepalanya selalu sakit memikirkan hal itu.
"Aku sudah selesai~" kata Nicholas membuyarkan seluruh pikirannya yang semula. "Habis ini kita mau ke mana? Mungkin nonton film atau..."
"Gadis itu ada di sini," potong Iblis Tak Bernama mengejutkan Nicholas. Lalu Iblis Tak Bernama menunjuk meja di belakang Nicholas tempat seorang gadis muda berpakaian gaun putih yang terdapat renda-renda pink. Rambutnya berwarna strawberry blonde dengan mata safir yang indah. Wajah Nicholas bersemu merah ketika matanya bertatapan dengan gadis itu.
"Ke-kenapa dia ada di sini?" kata Nicholas pelan.
"Dia anak perempuan pemiliki kantor percetakan tempat kau bekerja, bukan? Kau suka dengan dia?" kata Iblis Tak Bernama blak-blakkan membuat Nicholas semakin malu untuk mengakuinya. "Hidupnya tak akan lama..." lanjutnya lagi membuat Nicholas terkejut.
"Maksudmu apa?"
"Ada bau kematian membuntuti gadis itu... bau yang sama sebelum kakekmu meninggal dunia," jelas Iblis Tak Bernama dengan datarnya. Suasana kembali hening. Seakan keramaian pengunjung lain tidak bisa menembus keheningan di antara mereka.
"Kakek ya... sudah lama kita tidak berziarah ke makamnya. Bagaimana kalo kita ziarah setelah makan?" ajak Nicholas.
"Kau tak peduli dengan nyawa manusia yang kau sukai?" tanya Iblis Tak Bernama sedikit terkejut dengan jawaban yan diberikan oleh Nicholas.
"Bu-bukan begitu! Hanya saja kalau dibilang sekarang dia pasti akan menganggapku sebagai orang tidak waras. Dia itu tidak percaya dengan tahayul. Hantu dan sebagainya. Seorang wanita yang menggunakan akal sehat dan logika," jelas Nicholas setengah berbisik. Iblis Tak Bernama mendengarkannya dengan raut wajah sedikit ditekuk.
"Bagaimana kau bisa jatuh cinta pada manusia membosankan itu? Selera manusia memang aneh," komentar Iblis Tak Bernama yang hanya disugui cengiran oleh Nicholas. Tapi tiba-tiba bau kematian yang dicium oleh Iblis Tak Bernama semakin kuat. Bahkan ada disekitarnya. Tapi bukan hanya satu bau itu saja. Bau yang lain. Bau shinigami? Dan juga... bau gas?' batin Iblis Tak Bernama waspada. Tapi lalu ia segera menarik tangan Nicholas keluar dari gedung tersebut.
"A-ada apa Lunam?" tanya Nicholas sambil setengah berlari keluar dari restoran itu. Iblis Tak Bernama tidak menjawab apa-apa hanya terus menariknya keluar. Pelarian mereka sedikit terhambat dengan penuh sesaknya restoran tersebut. Jarak antara satu meja dan meja yang lain tak terlalu jauh.
"Hei! Mau ke mana kalian! Bayar dulu makanan kalian!" teriak sang pemilik restoran ketika melihat Iblis Tak Bernama dan Nicholas keluar dari sana. Tapi kemudian, sang pemiliki yang tidak menyadari tabung gas miliknya bocor dan menyalakan api kompor sehingga ledakan yang dasyat tidak dapat dihindari. Untungnya saja, Iblis Tak Bernama dan Nicholas sudah berada di luar restoran.
"Merunduk!" perintah Iblis Tak Bernama mendorong jatuh Nicholas dan menindihnya untuk melindungi dari serpihan kaca, api, dan panas. Nicholas cukup terkejut dengan hal tersebut. Hari ini memang adalah hari maut untuk mereka.
Dalam sekejab saja, restoran yang cukup besar itu sudah dilahap oleh api. Banyak teriakan orang-orang tersebar di mana-mana. Bahkan ada korban yang berlari di jalanan dengan tubuh terbakar. Suasana dalam sekejab berubah menjadi kekacauan yang parah. Banyak orang-orang yang berusaha untuk memadamkan api atau-pun menyelamatkan siapapun yang selamat. Dan tentu saja, gadis yang disukai oleh Nicholas sudah mati terpanggang hidup-hidup.
"Ini menjawab pertanyaanmu?" kata Iblis Tak Bernama mulai bangun dari posisinya yang menimpa tubuh Nicholas. Nicholas mengangguk ringan tanda 'iya' dan juga ikut bangun.
"Kau sendiri tak apa-apa Lunam?" tanya Nicholas ketika melihat pakaian yang menutupi punggung Iblis Tak Bernama terkoyak memperlihatkan kulit putih Iblis Tak Bernama yang melepuh dan terluka akibat terkena panas api yang menyembur keluar secara langsung tadi.
"Jangan pedulikan aku... ini bukalah masalah," jawab Iblis Tak Bernama. Ia kembali mencium bau shinigami. Shinigami yang sama ketika mengambil roh korban kecelakaan kereta kuda yang tadi dan juga bau shinigami yang amat dia kenal. Mata Iblis Tak Bernama segera menoleh ke dalam kobaran api yang berada di dalam restoran tersebut. Di tengah-tengahnya berdiri seorang pria yang sama seperti 15 tahun yang lalu. 'Adrianus Evan!' batin Iblis Tak Bernama cukup terkejut.
"Lunam?" panggil Nicholas ketika menyadari bahwa Iblis Tak Bernama terdiam cukup lama. "Kita harus segera pergi dari tempat ini..." lanjutnya lagi. Iblis Tak Bernama menatap wajah khawatir dari Nicholas dan mengangguk pelan lalu pergi bersamanya. Pulang ke apartemen mereka.
Sementara itu Adrianus yang sedang menjalani pekerjaannya menyeringai kecil ketika memikirkan Iblis Tak Bernama itu. Lalu datanglah shinigami yang satunya lagi dengan angkuh. Bahkan tak ragu ia menginjak mayat-mayat yang sudah gosong tergeletak mengenaskan di lantai bangunan yang semula adalah sebuah restoran.
"Adrianus... gadis yang itu?" katanya.
"Kau melihatnya juga? Iblis yang tak mempunyai nama itu... Yang telah mengacaukan death list selama lebih dari 20 tahun ini. Korbannya juga semakin banyak saja. Tidakah kau berpikir demikian Gilberth Joseph?" jelas Adrianus.
"Undertaker-sama sudah mendengar hal ini?" tanya Gilberth dengan wajah stoic tak beremosi. Adrianus tertawa pelan.
"Shinigami lagendaris seperti dia pasti akan lebih cepat mendengar kabar seperti ini."
"Lalu manusia itu..."
"Nicholas Ethan... kehilangan orang tua ketika masih kecil. Kemudian diasuh di sebuah panti asuhan tapi melarikan diri dan hidup sendirian di jalanan sebelum bertemu dengan seorang kakek tua yang mengadopsinya. Bekerja sebagai penjual koran lalu bertemu dengan iblis itu dan tinggal bersamanya setelah kematian sang kakek hingga sekarang. Ia bekerja di sebuah tempat percetakan. Seharusnya sudah meninggal hari ini karena kecelakaan kereta kuda tapi gagal, lalu lolos dari ledakan gas ini..." jelas Adrianus.
"Ya... aku seharusnya mengambil roh orang itu tadi pagi. Tapi ia terselamatkan dan iblis itu tidak mau melepaskannya sedikitpun. Tidak ada catatan dia mengikat kontrak dengan dia," ucap Gilberth melihat Adrianus membakar death list miliknya dalam kobaran api.
"Setengah iblis tidak bisa mengikat kontrak dengan manusia. Mereka hanya bisa makan dan panjang umur. Jauh lebih lemah dari kita dan iblis yang lain. Hanya segelintir mahluk rendah saja!" Adrianus berkata dalam nada kemarahan yang sudah tidak bisa dibendung lagi. "Kita beritahukan kejadian ini pada Undertaker-sama. Mungkin setelah ini... kita harus membunuhnya."
XXXX
Nicholas keluar dari kamar mandinya dan menatap tubuh Iblis Tak Bernama yang duduk di kursi. Dalam posisi seperti itu, Iblis Tak Bernama tertidur. Nicholas terseyum kecil melihat hal itu lalu mengambil sebuah selimut kecil dan menyelimuti tubuh Iblis Tak Bernama. Ia tak mau membangunkan Iblis Tak Bernama. Lagi pula, ini juga hal yang langka karena Iblis Tak Bernama jarang tidur dan hanya tidur bila ia benar-benar terlalu lelah.
Tapi selalu saja tidurnya yang lelap terganggu oleh sebuah mimpi buruk. Mimpi yang merupakan ingatannya di masa lalu.
Ia berdiri di balik pintu kayu itu. Seorang anak kecil berpakaian daster putih. Ia Menatap kedua orang dewasa yang sedang berbicara. Wajah mereka tertutup oleh bayangan dari api yang menyala di atas lilin. Yang seorang adalah pria dan seorang lagi adalah wanita.
"Kita sudah tidak bisa lagi memelihara anak itu! Kau tau sendiri siapa dia yang sebenarnya bukan!?" teriak pria itu dengan keras membuat Iblis Tak Bernama mundur sedikit dari pintu tapi akhirnya maju lagi untuk melihat lebih jelas. "Ini semua salahmu karena membawa anak itu ke rumah ini!"
"Kenapa kau menyalahkanku! Dia nampak normal seperti bayi yang lain saat pertama kali aku melihatnya! Tapi siapa tahu bahwa dia akan membunuh 3 orang anak tetangga! Usianya juga baru 3 tahun!" teriak yang wanita tidak mau disalahkan.
'Bukan salahku! Mereka yang memulainya...' batin Iblis Tak Bernama menggenggam erat pintu sambil berusaha menahan air mata. 'Mereka yang memulai duluan...' ucapnya lagi.
"Aku tidak mau melihat anak itu lagi! Kita buang saja dia!" kata pria itu lagi. "Atau tidak... kita bunuh dia saja! Di mana anak itu sekarang!" Pria itu segera bangkit dari kursi dan mengambil kapak yang terletak di sudut ruangan. Melihat hal itu Iblis Tak Bernama segera berlari menjauhi pintu dan bersembunyi di dalam lemari. "Di mana dia!"
"Seharusnya dia ada di sini. Apa dia kabur karena mendengar kita?" ucap sang wanita. "Suaramu terlalu keras hingga membuatnya takut dan kabur!"
"Sekarang kau menyalahkanku!?"
Iblis Tak Bernama mengitip sedikit dari balik celah lemari. Tapi tanpa sengaja gerakannya menimbulkan suara berdenyit dan akhirnya, persembunyiannya ketahuan. Langsung saja pria itu dengan amarah yang memuncak menarik rambut Iblis Tak Bernama dan menyeretnya di lantai.
"Lepaskan aku! Ampuni aku! Otou-san!" teriak Iblis Tak Bernama meronta kesakitan sambil menangis. "Kumohon! Aku tidak akan ulangi lagi! Aku akan jadi anak yang baik!" katanya lagi memohon terus. "Okaa-san! Okaa-san!" kini Iblis Tak Bernama berteriak kepada wanita itu untuk menolongnya. Tapi apa yang dilakukan wanita itu hanya menatapnya saja.
"Mati saja kau anak iblis!" teriak pria itu lalu berusaha untuk menebas kepala Iblis Tak Bernama.
"TIDAAAKKK!"
Iblis Tak Bernama terbangun dari mimpi buruknya. Keringat dingin bercucuran deras dari keningnya. Napasnya semakin lama semakin memburu tak bisa ia kontrol. Dengan tangan yang menggigil, ia memegangi kepalanya yang mulai sakit. Ingatan dan mimpi itu selalu saja berhasil membuat dirinya kacau dan seakan bisa menjadi gila karenanya.
Ketika ia sudah bisa menenangkan dirinya sendiri, ia baru menyadari bahwa hari sudah malam. Ia mengalihkan pandangannya ke seluruh ruangan. Hanya cahaya rembulan saja yang menerangi kamar apartemen kecil itu dan Nicholas yang sedang tertidur pulas menghadap dinding.
'Jika aku bisa membunuh diriku sendiri... pasti sudah kulakukan dari dulu...' pikir Iblis Tak Bernama sejenak. 'Tapi itu mustahil... dan aku harus terus hidup di dalam waktu yang membeku ini...'
Sementara itu di dunia Shinigami
Adrianus bersama Gilberth berjalan di koridor gedung yang semuanya berwarna putih dengan hiasan poster untuk cek mata di dinding. Walau hari sudah malam, kesibukan masih dapat terasa di sana. Banyak shinigami yang kerja lembur ataupun mendapat shift malam.
Tak butuh waktu lama untuk mereka sampai di ujung koridor di mana sebuah pintu putih dengan gagang emas berada. Adrinus mengetuk pelan pintu tersebut sebelum membukanya. Ruangan di balik pintu itu memang sangat luas dengan banyak rak-rak buku yang sebenarnya adalah cinematic record. Di tengahnya duduk seorang shinigami lagendaris dengan death scythe-nya terletak di sampingnya.
"Kami datang untuk memberikan informasi," kata Adrianus berdiri tak jauh dari meja kerja Undertaker. Mata hijau Undertaker menatap Adrianus dari sela kacamatanya. Undertaker yang awalnya sedang memeriksa beberapa kertas segera meletakan kertasnya di atas meja lalu menatap Adrianus dan Gilberth dengan tatapan serius.
"Aku sudah mengetahui semuanya..." kata Undertaker.
"Jadi?"
"Tapi aku masih belum mau mengambil tindakan sebelum melihatnya dengan mataku sendiri," kata Undertaker berdiri dari kursinya lalu mengambil death scythe-nya. Berjalan melewati Adrianus dan Gilberth tanpa suara. "Antarkan aku kepadanya... kalian tahu di mana dia bukan~?" lanjutnya.
"Baik! Undertaker-sama," jawab Gilberth dan Adrianus.
To Be Continue
Undertakernya masih blom beraksi
Sorry for typo and very late update. Karena urusan sekolah dan modem yang akan segera jatuh tempo... update hanya bisa dilakukan minimal paling lambat 1 minggu sekali atau lebih bila benar-benar tidak bisa. Laptop juga sedang error
Thank you for your visit and review please
