Tittle: (I Can Read What's) In Your Head
Chapter: 2
Casts: Kim Jongin, Oh Sehun, Wu Yifan, and Choi Seungcheol
Author: kimjongkai-ssi (Rin)
Warning: typos, error!plot, slight!fantasy (is this kind of thing called fantasy? ouo)
.
.::HAPPY READING::.
.
Kesan pertama adalah hal yang penting. Dan kesan pertama dari Sehun lah yang membuat Jongin menutup diri dan berusaha menjauh dari namja Oh itu. Walaupun selama beberapa hari yang mereka lewati sebagai teman sekamar dorm terkesan baik-baik saja, Jongin masih mengingat dengan jelas bagaimana isi otak Sehun terhadapnya dihari pertama mereka bertemu.
Jongin menyadari jika Sehun semakin berusaha lebih setiap harinya untuk membuat mereka dekat. Namja itu pernah mengajak Jongin bermain truth or truth (mereka menamainya begitu karena tidak satu pun dare saat mereka bermain) saat senja hingga tengah malam, menanyainya hal-hal personal seperti makanan kesukaannya, warna favoritnya, dan, bahkan, arti namanya, sebaliknya Jongin hanya menanyai pertanyaan membosankan seperti nilai matematika dan asal sekolah Sehun.
"Buat apa kau menanyai nilai raporku?" selidik Sehun dengan wajah mengerut aneh waktu itu. Jongin menggigit bibir bawahnya dan hanya berani menatap lantai kamar dorm mereka. "Kalau tidak mau menjawab juga tidak apa-apa kok."
Selain itu, Sehun pernah memaksa Jongin menonton film horor, dan meskipun tidak berakhir baik, mereka akhirnya tahu jika menonton film horor harus dihapus dari daftar kegiatan mereka, selamanya. Jongin mengingatkan dirinya sendiri untuk tidak mempercayai Sehun jika ia berkata, "Ini tidak menyeramkan sama sekali. Karena itulah banyak orang berani menontonnya.", lain kali.
Dan sejak dua hari lalu, Sehun dan Jongin sepakat untuk menghabiskan waktu belajar bersama di malam hari. Itu merupakan usulan dari Sehun, dan Jongin merasa tidak punya alasan untuk menolaknya.
"Jongin? Kau perlu bantuan?" Sehun berujar tanpa mengalihkan matanya dari buku komiknya. Dia sudah selesai belajar beberapa saat yang lalu, meninggalkan Jongin yang masih berkutat dengan setumpuk buku pelajaran sendirian. Jongin tidak langsung menjawab, namja tan itu menimbang-nimbang haruskah ia menanyakan kesulitannya pada Oh Sehun, karena sekalipun mereka baru saling mengenal, Jongin cukup tahu jika meminta bantuan Sehun akan selalu diikuti oleh permintaan-permintaan anehnya sebagai imbalan.
Percayalah, namja itu sungguh menyebalkan. Beberapa hari lalu, Sehun bahkan meminta Jongin mentraktirnya pizza karena membangunkannya dengan tangisannya (Jongin bersumpah ia sudah memelankan suaranya, tetapi, yah, itu sepertinya belum cukup) dan terpaksa menemaninya sampai Jongin tertidur. Pembohong sekali, Jongin masih ingat jika ia sudah meminta Sehun menjauh waktu itu.
Tetapi.. kondisi Jongin sekarang sedang darurat. Ia tidak bisa mengharapkan orang lain selain Sehun saat ini. Jadi, dengan berat hati, Jongin meminta pertolongan Sehun.
"Uhm, sebenarnya aku mau minta bantuanmu. T-tapi jika kau tidak mau tidak apa-apa kok, aku mengerti kalau―"
Sehun mendengus keras. Jongin yang sedang terbata-bata dan canggung memang terlihat sangat manis juga menggemaskan, namun Sehun tetap lebih menyukai sesuatu yang to the point.
Jongin membenarkan posisi duduknya, dan menggigit bibir bawahnya.
"A-apa kau bisa mengajariku matematika?"
Sehun tidak menjawab, tetapi dia tersenyum. Sehun ingat jika ia memberi tahu Jongin jika nilai matematikanya selalu sempurna sejak sekolah dasar saat mereka bermain truth or truth. Namja itu berjalan kearah meja belajarnya dan mengambil buku-bukunya, meninggalkan Jongin mengerjapkan matanya. Jongin tidak percaya jika Sehun menyetujui permintaannya begitu saja.
"Kau tidak akan meminta hal aneh sebagai imbalan, kan?" Jongin hanya memastikan jika dirinya aman, karena jujur saja, mentratir pizza untuk Sehun memangkas uang jajannya untuk seminggu. Dan Jongin tidak ingin hal itu terulang lagi.
Sehun duduk bersila didepan Jongin. Dia menyusun beberapa buku tebal yang merupakan buku literatur matematika. Dan, sekali lagi, Jongin hanya bisa melongo. Mereka akan mempelajari bahan sebanyak itu malam ini? Bagaimana keadaan otak Jongin nanti?
"Kita mulai dengan aljabar, bagaimana?" tawar Sehun sambil membuka salah satu buku dan menunjukkan halamannya kepada Jongin. "Kau bisa menyelesaikan soal ini, tidak?"
Ada beberapa soal pilihan ganda di halaman yang Sehun tunjukkan. Dan, Jongin malu untuk mengakuinya, ia tidak tahu harus memulai darimana. Jongin memang siswa yang cukup pintar dan rajin, hanya saja jika berurusan dengan matematika, otaknya tiba-tiba kosong begitu saja.
Melihat sikap Jongin, Sehun tahu jika ia tidak bisa. Namja Oh itu menghela nafas kemudian mulai menjelaskan pelan-pelan, menanyai Jongin jika ia menjelaskan terlalu cepat atau apakah Jongin sudah memahami sebelum melanjutkan ke bagian selanjutnya.
Selama beberapa detik, Jongin hanya bisa memandangi tampang serius Sehun yang terlihat keren. Jongin bahkan mengulum senyum lebarnya ketika mendapati Sehun menjelaskan dengan bahasa simpel dan terkesan tidak buru-buru.
Sehun mendengus pelan melihat Jongin yang melamun memandangi dirinya. Ia kemudian menempelkan punggung tangannya didahi Jongin, sekedar memastikan jika namja itu baik-baik saja.
"Wajah melongo Jongin terlihat seperti orang yang sedang memberi blowj―"
Jongin langsung berjengit kaget, menjauhkan punggung tangan Sehun dari wajahnya. Dia menatap Sehun dengan gugup dan takut sebelum bergumam, "A-ah, mianhae. Aku melamun barusan."
Jongin tidak akan pernah memuji anak mesum macam Sehun lagi. Tidak akan.
.::.
"Jongin, apa aku tidak salah lihat? Kau mendapat nilai 80 untuk matematika?" Seungcheol bertanya entah untuk keberapa kalinya. Dan meskipun agak terganggu, Jongin menanggapinya dengan sebuah senyum kecil dan mengangguk.
Seungcheol menghela nafas, kemudian mengambil gelas jus jeruk milik Yifan dan menenggaknya hingga hanya tersisa seperempat. Yifan tentu saja protes, tetapi Seungcheol tidak menanggapinya sama sekali.
"You're so annoying, Seungcheol." ujar Yifan kemudian, diikuti oleh umpatan-umpatan berbahasa China yang tak dimengerti oleh Seungcheol maupun Jongin. "Memangnya aneh sekali jika Jongin bisa mendapat nilai tinggi untuk matematika, huh?"
Jongin tersenyum kecut melihat Seungcheol memutar matanya. "Tentu saja!" tukasnya dengan nada menyebalkan. Jari telunjuknya menoyor dahi Jongin, meskipun Jongin lebih tua beberapa bulan darinya, kemudian melanjutkan dengan, "Anak ini sungguh bodoh dalam hal matematika sejak lahir."
Makan siang bersama Seungcheol dan Yifan memang menjadi kebiasaan Jongin sejak awal masuk sekolah menengah. Seungcheol, yang merupakan adik sepupu Jongin, selalu masuk sekolah yang sama dengannya dan menemaninya. Dan Yifan adalah teman baik Seongcheol yang juga merupakan kapten tim basket sekolah. Selama ini mereka dapat bergaul dengan baik, walaupun Jongin yang pendiam berbanding terbalik dengan sifat terbuka dan cool Yifan dan Seungcheol.
"Tadi malam Sehun mengajariku." sahut Jongin pelan, setelah beberapa saat diam dan mendengarkan argumen tidak penting antara Seungcheol dan Yifan. Kedua namja itu langsung bungkam dan menatap Jongin seolah di dahinya tumbuh tiga mata atau sejenisnya, dan sungguh, rasanya risih sekali.
"Wow. Itu bagus." tanggap Yifan dengan nada tidak yakin. Seungcheol menatapnya dan Yifan hanya mengangkat bahunya. "Yeah, kurasa itu bagus. Kau bisa berteman baik dengannya, mungkin?" Seungcheol tersenyum kecil sambil menggaruk tengkuknya.
"Uhm, benarkah?"
"Ya, tentu saja." jawab Seungcheol, kali ini lebih meyakinkan dibanding sebelumnya, "Kau bisa belajar memulai pertemanan dengan orang asing, kan? Selama ini temanmu sedikit sekali. Aku jadi khawatir."
"E-eh?" Jongin merasakan sesuatu seolah tertahan di kerongkongannya. "Ya, kurasa mungkin kau benar." lanjutnya pelan.
Seungcheol mengangguk. Tetapi Yifan hanya menunduk, berpura-pura tidak mendengarnya. Dan Jongin benar-benar ingin tahu apa yang sedang ia pikirkan.
.::.
Sepulang sekolah, Jongin mendapat pesan dari Seungcheol jika namja itu harus mengikuti latihan sepak bola dan tidak bisa menemani Jongin kembali ke dorm seperti biasanya. Jongin bisa saja menghubungi Yifan, tetapi ia tidak ingin mengganggu. Lagipula Jongin pikir tidak akan masalah, meskipun ia tidak begitu yakin, karena ini pertama kalinya ia kembali ke dorm sendirian tanpa Seungcheol ataupun Yifan.
Jongin berada di koridor tempat loker para siswa ketika seseorang melempar batu kecil ke arahnya. Namja tan itu berbalik dan mendapati beberapa siswi disana. Untuk sepersekian detik, Jongin sempat berpikir jika ia salah memasuki koridor, tetapi kemudian, para siswi itu menghampirinya, dan Jongin bisa melihat jelas tulisan 'Loker Siswa' tertempel di dinding.
"Ada ap―"
Seorang siswi tiba-tiba saja memukul Jongin di bagian belakang kepalanya dengan tongkat baseball, membuat Jongin jatuh tersungkur, terduduk bersandar di lemari loker. Kemudian Jongin merasakan beberapa pukulan lain, ia hanya bisa mengerang kesakitan, dan mereka tidak menghiraukannya.
Jongin teringat dengan pukulan-pukulan menyakitkan dari pamannya ketika ia kecil. Keadaan Jongin hampir sama seperti sekarang. Dan Jongin masih bisa mengingat bagaimana waktu itu bibinya menatapnya dengan rasa bersalah dan air mata, sambil menahan sakit di tubuhnya sendiri yang penuh lebam. Sekarang bedanya, Jongin tidak menemukan seseorang yang menatapnya kasihan, mereka justru menertawakannya, mengatainya lemah dan tidak tahu diri.
"Kim Jongin bodoh!" pekik seorang siswa yang Jongin tidak tahu siapa. "Kami tahu kau berlagak polos agar bisa mengambil hati Yifan oppa dan Seungcheol oppa! Dasar jalang!" sahut siswi lain. "Aku tidak tahu bagaimana Sehun oppa bisa menghadapi orang menjijikkan sepertimu setiap hari."
Jongin merasakan air matanya mengalir tanpa bisa ditahan. Dibandingkan pukulan bertubi-tubi ditubuhnya, kata-kata para siswi itu lebih menyakiti Jongin. Ia tidak pernah bermaksud menganggu siapapun, tetapi kenapa mereka begitu membencinya? Apa mereka tidak bisa mengerti jika Jongin memang pemalu dan penakut sejak lahir?
Setelah beberapa saat, Jongin tidak tahu apa yang terjadi, namun semua pukulan itu menghilang begitu saja. Jongin membuka matanya, dan merasakan dunia seolah berputar. Pandangannya benar-benar buram, namun ia bisa melihat tubuh besar Yifan berdiri di depannya.
Yifan kemudian berjongkok dan meminta maaf padanya berulang kali. Jongin ingin mengatakan jika ia tidak berbuat salah dan tidak perlu meminta maaf, tetapi bibirnya sama sekali tidak bisa bergerak. Ia hanya bisa mengeluarkan suara rintihan kecil yang terdengar memilukan.
Yifan menggendong Jongin dengan panik, dan berlari cepat menuju ruang kesehatan. Jongin menyadari jika namja itu masih tetap berucap kata maaf berulang-ulang. Tubuh Jongin tidak merasakan apa-apa lagi, hanya saja, anehnya, ia bisa merasakan betapa nyamannya berada dipelukan Yifan seperti ini.
Rasanya.. nyaman dan aman.
Jongin tidak bisa menahan dirinya untuk tidak menyandarkan kepalanya lebih jauh ke dada bidang Yifan. Ia bisa merasakan detak jantung Yifan bertalu-talu, dan ia meletakkan telapak tangannya tepat dimana ia bisa merasakannya.
"Aku mohon, Jongin, bertahanlah. Maafkan aku."
Jongin tersenyum kecil. Kemudian ia merasakan dunia seakan berhenti dan menjadi hitam.
.::.
Keadaan disekitar Jongin benar-benar gelap, ia bahkan tidak bisa melihat ujung kakinya sendiri. Entah dimana Jongin sekarang. Namja itu mulai panik sendiri memikirkan kemungkinan jika ia dibuang atau tersesat atau semacamnya. Dan, entah dari mana, ia melihat sebuah cahaya redup di ujung lorong.
Karena tidak ada pilihan lain, Jongin berjalan menuju ujung lorong tersebut, dan menghela nafas lega ketika mendapati cahaya disana semakin lama semakin terang. Jongin rasa ia sudah masuk ke dalam lorong itu terlalu jauh, akan tetapi ia belum menjangkau akhirnya.
Sayup-sayup telinganya menangkap suara ribut dan teriakan anak kecil. Tanpa berpikir dua kali, Jongin berlari ke arah asal suara.
Dan Jongin rasa jantungnya berhenti berdetak ketika menemukannya.
Disana, ia melihat seorang anak kecil yang diikat diatas bangku. Anak itu menangis kencang, badannya penuh luka, dan matanya juga membengkak. Dia terus berteriak meminta tolong, memohon kepada siapapun untuk menolong bibinya, yang sedang dipukuli oleh pamannya didepan matanya sendiri.
Anak itu dipaksa menonton, melihat bagaimana pamannya memukul dan menyiksa bibinya, bahkan hingga setelah bibinya pingsan.
Pria bertubuh besar itu melepaskan sebuah ikat pinggang dari pegangan tangannya, menjatuhkannya ke lantai selepas puas menggunakannya untuk memukuli istrinya. Wajahnya terlihat tidak menunjukkan ekspresi bersalah sama sekali, kemudian dia menghampiri anak kecil itu dengan sebuah senyum mengerikan.
"Ini semua salahmu. Kau terlihat begitu lemah, rapuh, dan disatu waktu juga.. menggairahkan." satu tamparan keras menghantam pelipis anak itu, membuat sudut bibirnya sobek dan pipinya memerah. "Kau membuatku merasakan hal yang tabu. Kau membuatku hancur, Kim Jongin."
Bibir pria itu menempel dibibir anak itu dan melumatnya dengan ganas, menggigit dan memaksa memasukkan lidahnya.
"Dan aku akan pastikan jika aku juga menghancurkan dirimu."
Jongin berteriak ketakutan. Setelah itu, ia merasa seolah sesuatu yang kuat menariknya dan membuatnya tenggelam. Ia tercekik dan tidak bisa bernafas.
Jongin berteriak sekali lagi, kali ini ia berusaha mengeluarkan suara yang lebih kencang. Namun tidak ada suara sama sekali, tidak ada sahutan ataupun suara yang keluar dari mulutnya sendiri.
Hingga akhirnya, Jongin bisa merasakan seseorang menggenggam tangannya dan memanggil namanya. Jongin mengenali suara itu. Dia Seongcheol.
"Ya, ini aku Jongin. Seongcheol disini. Kau akan baik-baik saja." suaranya sangat jelas ditelinga Jongin. Dan sekarang, akhirnya, dia bisa membuka matanya, dan langsung berhadapan dengan wajah pucat Seongcheol. "Syukurlah. Kau akan baik-baik saja, Jongin. Semuanya akan baik-baik saja."
Sehun menyodorkan segelas air putih ke arahnya, dan Jongin membuka mulutnya. Tenggorokan Jongin terasa perih, dengan meminum beberapa teguk membuatnya terasa lebih baik. Jongin menyadari jika ia berada di kamar dormnya. Mata Jongin bertemu pandang dengan Yifan, dan namja itu berdiri menghampirinya.
Yifan kemudian mengusap dahinya, tersenyum kecil dengan wajah kelelahan.
"Aku bersyukur kau baik-baik saja, Jongin."
Jongin berusaha tersenyum ke arah Yifan. Namja itu kemudian hanya sedikit mengangguk, dan menyingkir, memberi ruang untuk Sehun mengganti kompres di dahinya.
Telapak tangan Sehun terasa sungguh hangat. Begitu pula hati Jongin.
"Jongin bodoh, kau membuatku khawatir."
.
.
.::To be continued::.
.
.
Annyeong~! c:
Rin mau minta maaf buat super late updatenya. Laptop Rin rusak, dan semua filenya ilang huhu
Flashbacknya Jongin juga diselipin(?) sedikit disini hehe mudah-mudahan chingu ngga bosen ya sama ff ini soalnya alurnya biasaaaa banget kalo menurutku /sobs/ Rin juga nambahin Yifan dan Seungcheol (itu loh S . Coups, leadernya Seventeen) disini, semoga suka deh kkk
And.. Rin mau berterimakasih sebanyak-banyaknya buat chingu yang ngasih review (55 reviews, seriously? You're all the best lah c;), Rin udah baca reviewnya satu-satu, dan banyak yang ngasih masukan juga hehe makasih banyak pokoknya yaaa /kisses/
Keep review-ing, chingu-ya! ~\(^o^)/~
